Talun, Warta Desa, 24 Januari 2026. — Situasi di Desa Krompeng, Kecamatan Talun, Kabupaten Pekalongan kian mengkhawatirkan. Setelah sebelumnya longsor merusak permukiman warga, kini akses utama Jembatan Krompeng terpaksa ditutup total bagi kendaraan roda empat atau lebih. Hal ini menyusul terjadinya longsor pada sisi timur sebelah utara jembatan pada Sabtu, 24 Januari 2026, sekitar pukul 15.50 WIB.
Kondisi jembatan saat ini sangat mengkhawatirkan dengan adanya potensi longsor susulan yang lebih parah. Curah hujan yang terus-menerus turun dengan intensitas tinggi di wilayah Desa Krompeng menjadi penyebab utama labilnya struktur tanah di sekitar jembatan. Demi keselamatan pengguna jalan, pihak berwenang mengimbau agar kendaraan roda empat atau lebih tidak melintasi jembatan ini dan mencari jalur alternatif.
Kejadian pada jembatan ini menambah deretan musibah yang melanda desa tersebut dalam dua hari terakhir. Sebelumnya, pada Jumat siang, tebing Sungai Kupang di Dukuh Krajan juga mengalami longsor setinggi 10 meter. Peristiwa yang sempat terekam kamera warga tersebut merusak enam rumah dan memaksa 17 jiwa dari enam kepala keluarga untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Salah satu warga yang terdampak, Yasin, menuturkan bahwa kerusakan bangunan terjadi sangat cepat dengan suara gemeretak pada dinding rumah yang diikuti gemuruh dari arah sungai. Kini, dinding rumah para korban mengalami retakan lebar antara 6 hingga 10 sentimeter dan lantai ambles sedalam 10 sentimeter. Jarak rumah yang hanya 20 meter dari bibir tebing membuat risiko keselamatan sangat tinggi jika hujan kembali mengguyur.
Kepala Desa Krompeng, Nasrudin, menyatakan bahwa sterilisasi lokasi terus dilakukan, baik di permukiman warga maupun di titik longsor jembatan. Garis polisi telah dipasang untuk mencegah warga mendekati area yang membahayakan. Saat ini, perangkat desa bersama petugas terkait terus berjaga untuk memantau pergerakan tanah susulan.
Masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai serta para pengguna jalan dihimbau untuk selalu waspada dan mematuhi arahan petugas di lapangan. Curah hujan yang masih sangat tinggi di wilayah Pekalongan menuntut kewaspadaan ekstra guna mengantisipasi jatuhnya korban jiwa akibat bencana alam ini. (Redaksi)










