close
balon tambat

Pekalongan Kota, Wartadesa. – Menindak lanjuti Peraturan Menteri Perhubungan terkait larangan menerbangkan balon udara, pihak Polres bersama Kodim dan Satpol PP Kota Pekalongan menggelar patroli di tempat-tempat warga biasa melepas balon udara.

“Kami dari Polres Pekalongan Kota sifatnya membantu Airnav untuk sosialisasi bahaya menerbangkan balon udara, bersama dengan Babhinkamtimbnas, Polsek terkait, Menteri Perhubungan juga,” tutur Wakapolres Pekalongan Kota, Kompol I Wayan Budi Subawa, Ahad (17/06).

Foto pelepasan balon udara di Kota Pekalongan pada jaman dulu. Foto: sumber kotapekalongan.com

Patroli yang dilakukan tersebut dilakukan sejak Sabtu kemarin. “Pada sabtu 16 Juni 2018, kami dari Polres Pekalongan Kota dan Kodim Pekalongan, Satpol PP, melaksanakan patroli terpadu, menyasar wilayah tempat masyarakat yang biasanya menerbangkan balon udara,” imbuh I Wayan Budi Subawa.

Menurut Budi, patroli yang dilakukan masih bersifat persuasif,  “Hasilnya masih sifatnya persuasif, memberikan sosialisasi bahaya apabila melepas balon udara,” lanjutnya.

Senada dengan pemerintah setempat, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan mengimbau kepada masyarakat khususnya warga nahdliyin Kota Pekalongan untuk tidak menerbangkan balon udara pada perayaan tradisi Syawalan.

Menurut Rais PCNU, KH Zakaria Ansor penerbangan balon udara membahayakan penerbangan. Disamping itu juga membahayakan lingkungan seperti kebakaran, “Melihat kondisi kawasan udara Pekalongan dan sekitarnya merupakan kawasan penerbangan padat, saya mengajak warga nahdliyin untuk tidak melakukan penerbangan balon,” ujarnya, Ahad (17/06).

Zakaria melanjutkan bahwa penerbangan balon oleh warga banyak segi madharatnya, sehingga dirinya mendukung panitia Syawalan yang bekerjasama dengan pihak ketiga, menggelar festival balon. “Saya mendukung festival balon udara, karena bisa mengurangi potensi gangguan penerbangan,” tandas Kiai Zakaria.

Pelarangan menerbangkan balon udara di Pekalongan, menjadi polemik panjang antara warga dengan pemerintah setempat. Warga mengeluhkan dan mengeluarkan uneg-unegnya untuk tetap menjaga tradisi “ngeburke balon” saat Syawalan dalam grub media sosial Pekalongan.

Himbauan pemerintah untuk tidak menerbangkan balon dilakukan oleh Pemkot Pekalongan sejak 2015 lalu. Dikutip dari laman resmi Pemerintah Kota Pekalongan bahwa meski Pemkot melarang pelepasan balon ke udara namun hal tersebut tidak menyurutkan warga untuk tetap melepas balon udara buatan mereka.

“Meskipun sudah ada imbauan dari Pemkot agar masyarakat tidak menerbangkan balon udara, karena dikhawatirkan bisa menngganggu penerbangan. Namun hal itu tampaknya tidak menyurutkan niat warga kota batik untuk kembali menerbangkan balon-balon terbuat dari plastik dan kertas tersebut. Bahkan banyak pula warga yang memasang rentengan petasan pada balon-balon itu.” Tulis pekalongankota.go.id.

Tradisi balon udara pada Syawalan di Pekalongan sudah dilakukan sejak ratusan tahun silam. Tradisi melepas balon udara awalnya dilakukan oleh warga Indo-Eropa yang menetap di Kota Pekalongan pada saat masa penjajanan Belanda. Sedang petasan yang mengikuti balon, dibawa oleh warga keturunan Tionghoa ketika merayakan hari raya. Kedua tradisi tersebut oleh warga Pekalongan dipadukan dan dilakukan secara turun-temurun hingga saat ini. (Eva Abdullah)

Tags : balon udaratradisi balon udara