Kedungwuni, Wartadesa. – Setelah Ahad lalu (19/3) perwakilan warga Ambokembang mendatangi lokasi poyek pembangunan jalan tol ruas Pemalang-Batang menuntut pihak kontraktor tol memperhatikan dampak keselamatn warga. Hari ini, Kamis (23/3) warga kembali menggelar audiensi dengan perwakilan PT Waskita, SMJ, Dirgantara dan LMA menuntut kompensasi dampak debu tol.
[button type=”3d” color=”” target=”” link=”https://www.wartadesa.net/fpkm-masyarakat-jangan-dibiarkan-berjuang-sendiri/”]Baca: FPKM: Masyarakat Jangan Dibiarkan Berjuang Sendiri[/button]
Audiensi yang digelar di Aula Balaidesa Ambokembang dihadiri oleh puluhan perwakilan warga, Muspika dan perwakilan dari PT Waskita, SMJ, Dirgantara dan LMA.
M Saim, perwakilan warga mengungkapkan bahwa pembangunan proyek tol menimbulkan debu dan ceceran tanah yang menyebabkan jalan licin sehingga sering menimbulkan kecelakaan lalu-lintas.
Saim juga meminta agar dibuatkan akses jalan raya di tepi tol, supaya warga tidak memutar jauh. Terkait dengan debu yang ditimbulkan oleh pembangunan tol, warga menuntut kompensasi timbulnya polusi debu tol tersebut.
Menanggapi permintaan warga, rekanan proyek tol menyetujui permintaan warga dan berjanji akan menyirami jalan secara rutin, sehinga tidak menimbulkan polusi debu.
Sementara itu warga tetap mengancam apabila kesepakatan pada pertemuan hari ini tidak dilaksanakan oleh kontraktor tol, warga akan menggelar aksi lebih besar lagi.
Sebelumnya, warga Desa Ambokembang Kecamatan Kedungwuni Kabupaten Pekalongan menggelar aksi demo terkait dengan dampak pembangunan jalan tol ruas Pemalang-Batang. Demo yang digelar hari Ahad, (19/3) lalu menuntut PT Dirgantara selaku pelaksana proyek pengurukan tanah tol memperhatikan dampak buruk keselamatan warga.
Adi Atma menuturkan demo yang hanya dilakukan oleh warga tanpa didampingi pemerintah desa setempat menuntut keselamatan warga pengguna jalan raya Ambokembang yang sering menjadi korban kecelakaan jalan akibat jalan licin disebabkan oleh ceceran material tanah urugan yang terkena hujan karena tidak segera dibersihkan.
Selain itu, warga juga menuntut PT Dirgantara bertanggung-jawab terhadap dampak buruk kesehatan warga yang menderita penyakit batuk, liver dan sakit mata akibat terkena debu tanah urugan jalan tol.
Pedagang dan toko yang berada disekeliling proyek tol di Desa Ambokembang juga merasakan dampak buruk pembangunan jalan tol yang dinilai kurang memperhatikan ‘kemanan kerja’. Banyak pemilik toko dan warung yang memilih untuk tutup karena imbas debu yang menempel pada makanan para pedagang. Akibatnya pembeli tidak mau membeli dagangan mereka karena terkontaminasi debu. Pembeli khawatir dengan debu yang bercampur dengan makanan akan berdampak buruk bagi kesehatan mereka.
Warga juga menuntut pihak kontraktor menertibkan dump-truck yang hilir-mudik ke area pembangunan tol. Ulah sopir dump-truck yang sering ngebut, dianggap meresahkan karena simpang siur mobil besar alias truk di jalan hingga warga susah dan takut untuk menyebrang ke masjid. (WD, Eva Abdullah)










