close
PolitikSosial Budaya

Menuju Pekalongan yang aaasssyiiikkk dan heppy

buono

Sebenarnya saya merasa belum pantas menyematkan kategori politik pada artikel saya ini. Artikel saya ini bukan analisis atas apa yang terjadi dalam hiruk-pikuk arena politik, bukan juga edukasi kepada yang lain agar lebih mengerti politik tetapi artikel saya hanya tulisan yang berisi keresahan, ketidaktahuan, tulisan ringan yang biasa-biasa saja.

Kalau artikel diibaratkan makanan maka artikel pakar/pengamat politik di Kabupaten Pekalongan adalah makanan utama, sedangkan saya adalah remah-remah dari makanan utamanya dan bisa di kategorikan cemilan penghilang rasa bosan dengan hiruk-pikuknya perpolitikan yang sedang berlangsung di Kabupaten Pekalongan.

Saya sangat jarang terlebih terlibat bahkan bisa dibilang cenderung tidak pernah melihat tontonan debat, bincang politik.

Saya sudah antipati dan tidak berniat terlibat bahkan pengamat sekalipun tapi kali ini saya sedikit tertarik dengan tema “Menuju Pekalongan yang aaasssyiiikkk dan heppy (jangan dibaca happy)

Karena berbeda atmosfir arah politiknya saya jadi ikutan pengen mengetahui secara pasti sosoknya, saya sering cekikikan kalau Balon Bupati Fiktif ini berbicara.

Ya Kang Buono namanya, celotehannya Kang Buono atau menertawakan apa yang sedang terjadi di arena politik bikin saya merasa terhibur… Saya malah jadi melihat dagelan dari bincang yang disajikan.

Menurut KBBI dagelan adalah lawakan, pertunjukkan jenaka. Saya mendapati itu di acara bincang bareng dengannya. Sangat menghibur lalu saya berpikir ternyata politik tidak sesulit yang saya kira dan mungkin ini titik saya meningkatkan level memahami politik yang tadinya jongkok jadi lebih mengerti dan tidak jongkok lagi.

Karena yang datang juga ada yang lain.

Saat membahas hoax yang meruncingkan suasana terutama di media sosial, juga pembahasan money politik baik dalam pelaksanaan Pilkades dan Pilkada yang sebenarnya merugikan karena berapapun yang mengikuti tetap dinyatakan sah hasil pemilunya, dan bahasan lain tentang politik saya pasti merengut mendengarkannya.

Walau isi perbincangan tidak ada perundungan, ujaran kebencian, saling menyalahkan tapi ketajaman perbincangan politik tetap ada. Jadi yang awalnya saya pikir dengan munculnya dagelan politik ala Kang Buono sebagai pelengkap panggung politik yang panas, serius, dan banyak lika-likunya tapi ternyata politik tetap politik walau kadang saya melihat kelucuan juga saat mendengar penjelasan para pakar politik tetapi kelucuan yang berbeda dari yang disajikan Kang Buono sang Balon Bupati Pekalongan nyentrik itu.

Tetiba saya jadi bertanya apa saya salah menyematkan dagelan politik, yang semula saya pikir dagelan politik yang sering ditampilkan oleh para pengamat juga timsesnya yang berhasil mengulur ketegangan yang terjadi di perhelatan Pilkades dan Pilkada Kabupaten Pekalongan resmi lewat guyonan-guyonannya tetapi ternyata dagelan politik terjadi justru di arena sungguhan yang akan mengusung pemilihan resmi menentukan para pemimpin-pemimpin di Kabupaten Pekalongan tercinta ini.

Ternyata saya tetap tidak mengerti dan memutuskan sekarang ini tetap jongkok saja dalam memahami politik, daripada kerutan didahi bertambah karena merengut kalau berusaha memahami politik.

Yuk kita sikapi bersama pesta demokrasi di Kabupaten Pekalongan… “Menuju Pekalongan yang aaasssyiiikkk dan Heppy” (*.*)

Opini oleh: Eky Diantara

Eky Diantara saat ini aktif di Relawan TIK Pemalang, mengelola laman media sosial Headlinenews Pemalang, turut mengelola laman Kabar Pemalang dan beberapa laman media sosial di Kabupaten Pemalang, sekaligus kontributor Warta Desa wilayah Pemalang.

Tags : balon bupati fiktifguyon politik