close
workshop media komunitas

Oleh: Buono

Pewarta warga saat ini menjadi trend. Banyak media mainstream yang merangkul pewarta warga dalam kanal jurnalisme warga. Meski sebenarnya mereka tidak bisa disebut sebagai media komunitas (dalam kanal tersebut) dalam berbagai alasan.

Eksistensi pewarta warga bagi media komunitas jelas mendapat tantangan baru. Tidak hanya pengelolaan organisasi, manajemen sumberdaya, modal hingga pengelolaan relasi komunitas. Tapi mereka dituntut untuk tetap bisa bertahan ditengah gempuran media mainstream yang menjual ‘jurnalisme warga’.

Ditengah-tengah arus merebaknya jurnalisme warga dalam portal media mainstream tersebut, Combine Resource Institution (CRI) Yogyakarta melakukukan kajian media komunitas dari beberapa wilayah di Lombok Timur, Lombok Barat NTB, Pekalongan Jawa Tengah dan Cirebon Jawa Barat, dalam sebuah workshop merancang keberlangsungan media komunitas di Yogyakarta, 12-14 Maret 2018.

Empat lembaga komunitas tersebut meliputi Speaker Kampung di Lombok Timur. Speaker Kampung berkonsentrasi pada tv komunitas yang menggunakan tv kabel sebagai media siaran warga dan portal warga berbasis website untuk memberikan akses informasi dua arah, dilaman speakerkampung.net.

Lembaga berikutnya, Primadona FM, radio komunitas di Lombok Utara. Radio komunitas ini sempat tidak aktif selama beberapa bulan karena tokoh utamanya meninggal beberapa waktu lalu. Sepeninggal Syairi, motor rakom Primadona FM, lembaga ini dilanjutkan oleh penggiat lainnya.

Selanjutnya, Jingga Media, lembaga komunitas yang menyasar pelajar di wilayah Cirebon dan sekitarnya dengan madingsekolah.net ini juga melahirkan penggiat muda yang aktif dalam Jingga Muda.

Warta Desa menjadi lembaga keempat yang mengikuti workshop. Lembaga komunitas yang berbasis di Pekalongan, jawa Tengah ini merupakan portal komunitas berbasis website. Media ini digawangi oleh penggiat radio komunitas di Kota Santri.

Dari berbagai diskusi dan obrolan, keempat media komunitas ini mempunyai kelebihan dan kekurangan. Ada yang kuat dalam support pendanaan untuk komunitasnya. Ada yang kuat dalam pengelolaan organisasi, dan lain-lain. Namun beberapa mencatat bahwa media komunitas masih lemah dalam menjamin keberlangsungan komunitas dibidang ekonomi, sumber daya manusia, manajemen dan menjalin relasi dengan komunitasnya.

Penggiat media komunitas menilai bahwa saat ini, secara ekonomi mereka bisa berjalan, itu karena adanya program dari lembaga donor maupun karena komitmen anggota komunitas dengan cara iuran warga. Namun hal tersebut tidak bisa menjamin bahwa lembaganya akan tetap bisa bertahan manakala sudah tidak ada program. Sementara iuran anggota komunitas tidak bisa menjadi prioritas mengingat sifatnya yang suka rela.

Dalam hal manajemen sumber daya manusia, media komunitas terkendala dengan tidak meratanya kemampuan para penggiatnya. Pembagian tugas pokok dan fungsi (tupoksi) masing-masing anggota dalam komunitas yang kadang tidak sesuai dengan kemampuan, keahliah dan pengetahuan. Juga mereka terkendala oleh luangnya waktu para penggiatnya. Media komunitas yang mengedepankan kerelawanan penggiatnya, terkadang susah menyamakan waktu luang dalam beberapa kegiatan.

Pengelolaan organisasi juga mendapat sorotan penting dalam workshop tersebut. Orang-orang yang berkecimpung dalam media komunitas terkadang masih bertumpu pada ‘ketokohan’ salah seorang atau beberapa penggiatnya. Sehingga ketika tokoh dalam komunitas tersebut tidak ada, anggota organisasi tidak bisa berjalan seperti sebelumnya. Anggota komunitas masih terpaku pada tokoh dalam pengambilan keputusan, bukan pada masing-masing tupoksi penggiatnya.

Hubungan relasi antara media komunitas dengan komunitas yang diwakilinya terkadang kurang berjalan baik. Beberapa media komunitas solid menyuarakan suara warga dalam komunitasnya, namun terkadang lembaga ini jarang berkumpul dengan warga-komunitasnya. Selain itu, para penggiat media komunitas kurang bisa berkomunikasi baik dengan pengambil kebijakan (baca: Pemda). Pemerintah Daerah di beberapa wilayah, kurang bersinergi dengan media komunitas.

Meski ada media komunitas yang intens bekerjasama dengan Pemda, media komunitas dituntut untuk tetap berpihak pada warga. Bukan menjadi corong atau humas Pemda. Faktanya, media komunitas sering terjebak dalam ‘ewuh pakewuh’ sehingga tidak lagi kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada warga.

Selain itu, keterbatasan para penggiat media komunitas dalam mengakses program lembaga donor, menjadi kendala tersendiri. Keterbatasan akses dan pengetahuan penggiat dalam menyusun proposal pendanaan kegiatan menjadi pemicu kegagalan keberlangsungan media komunitas.

Solusi

Ferdhi Fahrudin Putra dan Idha Saraswati dari Combine Resource Istitution (CRI) merangkum permasalahan-permasalahan yang dihadapi penggiat media komunitas dalam menjamin keberlangsungan-hidupnya. Hasil diskusi para penggiat komunitas dan CRI kemudian disimpulkan, beberapa langkah yang harus diperhatikan, diantaranya:

Pertama, pengembangan ekonomi dalam bentuk kewirausahaan sosial (social enterpreneurship). Media komunitas diharapkan mengembangkan bisnis sosial berbasis komunitas. Membangun usaha yang melibatkan anggota komunitas dengan mempertimbangkan potensi sumber daya manusia, sumber daya alam dan potensi menonjol lainnya yang ada dikomunitasnya.

Kewirausahaan sosial ini bisa menjadi solusi pendanaan bagi media komunitas, juga berfungsi sebagai pemberdayaan warga. Meski demikian, media komunitas masih tetap bisa menggali pendanaan lewat iklan, donatur, maupun iuran anggota.

Kedua, dalam pengelolaan organisasi dan sumber daya manusia, media komunitas perlu melakukan pelatihan penguatan kapasitas anggota komunitas. Pendelegasian tugas dan tanggung jawab kegiatan kepada anggota baru, dan kaderisasi maupun perekrutan pengurus komunitas.

Terakhir, dalam menjalin relasi antara pengurus organisasi komunitas dengan anggota komunitasnya, warga, Pemda maupun lembaga lain, media komunitas perlu melakukan kegiatan bersama. Kolaborasi antara penggiat media komunitas, warga, Pemda dan lembaga lain bisa dalam bentuk jumpa fans (radio), jambore komunitas maupun kegiatan lainnya.

Sebagai penutup kegiatan workshop, masing-masing penggiat komunitas merancang program untuk lembaganya. Evaluasi dan pendampingan akan dilakukan secara rutin oleh CRI kepada empat media komunitas di masing-masing wilayah untuk memastikan bahwa masing-masing lembaga mempunyai progres dalam menjalankan program merancang keberlangsungan media komunitas. (*)

Penulis merupakan penggiat media komunitas Suara Komunitas (http://suarakomunitas.net) dan Warta Desa (https://www.wartadesa.net)

Terkait
Bijak dengan membaca efektif

Semarang - Wartadesa. Masih ingatkah Anda dengan pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah? Kita pasti pernah menjumpai bacaan sepanjang 3-5 paragraf Read more

Selamat Datang Rombongan Besar

Oleh : RUDI WIDIANTO Presiden Republik Indonesia, Ir. H Joko Widodo atau yang akrab dipanggil dengan Presiden Jokowi beserta ibu negara Read more

Mengapa geliat wisata Pekalongan sepi? Berikut hasil survey pandangan mahasiswa

Beberapa tahun belakangan ini muncul  obyek wisata baru di Kabupaten Pekalongan yang dikelola oleh warga secara mandiri. Namun belum mampu Read more

LIBERALISASI LAYANAN PENDIDIKAN*)

Tahun ajaran baru menjadi momok sebagian orang tua yang akan menyekolahkan anak pada jenjang pendidikan berikutnya. Mau tidak mau mereka Read more

Wartawan Warta Desa dilarang menerima suap atau sogokan dalam bentuk apapun, termasuk uang, barang, atau fasilitas, yang dapat mempengaruhi independensi pemberitaan. Jika menemukan hal tersebut, mohon difoto dan dilaporkan kepada redaksi dan pihak kepolisian

Tags : media komunitasmerancang keberlangsungan media komunitas