close
sd kayupuring
SDN Kayupuring1 Petungkriyono

Petungkriyono, Wartadesa. –  Sebanyak 45 SD dengan siswa kurang dari 60 di Kota Santri, hal tersebut membuat Dindikbud Kabupaten Pekalongan berencana untuk melakukan merger (penggabungan/regrouping) SD yang jumlah siswanya tidak sesuai dengan Standar Pelayanan (SPM).

Sekretaris Dindikbud Kabupaten Pekalongan, Susanto Widoso, Selasa (23/07) mengungkapkan bahwa di Kota Megono terdapat SD dengan siswa baru hanya lima orang. “Ada SD yang kelas 1 cuma 5 siswa, kelas 2 cuma 8 siswa, kelas 3 ada 7 siswa, kelas 4 cuma 4 siswa, kelas 5 cuma 7 siswa, dan kelas 6 cuma 6 siswa, Padahal Standar minimal pelayanan (SPM) minimal 20 siswa maksimal 32 siswa,” ungkapnya.

Terkait hal tersebut, pihak Dindikbud akan menggelar public hearing (meminta masukan warga). “Rencananya mulai tanggal 29 juli sampai 7 agustus kita lakukan public hearing, sosialisasi, kemudian tahap selanjutnya menunggu hasil dan sampai keluarlah surat keputusan atau SK, jadi yang memutuskan ditutup atau tidak bukan dari kami tapi dari perijinan,” lanjut Susanto.

Setelah merger, lanjut Susanto, sekolah yang bergabung dengan jarak yang jauh akan dilakukan filial. “Jadi kalau dilakukan regrouping tapi 2 sekolah yang mau digabung jauh maka akan dilakukan filial yaitu gedung sekolahnya dua tapi administasinya tetap satu,” tambahnya.

Minimnya siswa di SD Kabupaten Pekalongan juga terjadi di Petungkriyono, minimnya murid tersebut bukan lantaran kecilnya minat warga bersekolah, melainkan karena sedikitnya jumlah anak usia SD di pedukuhan “Negeri Diatas Awan” tersebut.

Camat Petungkriyono Farid Abdul Hakim  mengungkapkan bahwa beberapa SDN diwilayahnya, satu kelas hanya diisi oleh dua sampai lima anak. “Contohnya di SDN Kayupuring 1 faktanya memang seperti itu. Yang muridnya di atas 100 anak hanya terdata di beberapa sekolah saja, seperti SD Tlogohendro 1 dan 2, dan SD Simego 1. Di beberapa desa yang lain satu kelas hanya dua anak, lima anak,”  ujarnya kemarin.

Farid menambahkan bahwa minat belajar anak-anak di Petungkriyono sangat tinggi, hanya kendalanya, minimnya anak usia sekolah.  “SMA Petungkriyono saja jumlahnya 125. Ini total dari kelas 1 hingga kelas 3. Kami pada saat kelulusan kemarin kepada adik-adik SMP itu menyampaikan untuk masuk ke SMA Petungkriyono karena pasti akan diterima. Termasuk belum lama ini masuk ke Kejar Paket A, B, dan C. Di sini sebenarnya animo untuk belajar tinggi tapi jumlah anaknya yang memang sedikit,” ujarnya.

Farid mengaku kaget mendengar SDN Kayupuring kekurangan murid, namun setelah dicek memang anak usia SD di desa tersebut minim.  “Saya sendiri kaget. Kayupuring kan dusun di tengah kotanya Kayupuring tapi muridnya hanya dua, lima, malah kelas tiga ada dua orang tok. Ya tetap diajar betul, dan lokalnya mencukupi banget. Bukan karena anaknya tidak mau sekolah tapi jumlah anak di dusun itu tidak ada,” pungkasnya. (Eva Abdullah)

Terkait
Pantai Depok, Nasibmu Kini

Meski sudah ada pemecah ombak, abrasi terus menggerus Pantai Depok Pekalongan (12/10)

[caption id="attachment_1311" align="aligncenter" width="1024"] Warga sekitar Mushola Pasar Kebo - Kajen merehab Mushola, Jum'at (14/10). Foto : Eva Abdullah/wartadesa Kajen, Read more

[Video] Pantai Siwalan Nasibmu Kini

https://youtu.be/-ifv0wgTxAM Pesisir pantai siwalan hingga wonokerto Kab. Pekalongan terus terkikis, Pemukiman warga terus terancam hilang. Sebagian rumah warga  sudah tidak Read more

Wartawan Warta Desa dilarang menerima suap atau sogokan dalam bentuk apapun, termasuk uang, barang, atau fasilitas, yang dapat mempengaruhi independensi pemberitaan. Jika menemukan hal tersebut, mohon difoto dan dilaporkan kepada redaksi dan pihak kepolisian

Tags : merger sdsdsekolah minim siswa