GENTINGGUNUNG, WARTA DESA. – Semangat pelestarian alam terpancar dari raut wajah siswa-siswi kelas V MI NU 45 Trimulyo. Pada Rabu (21/01/2026), mereka sukses merampungkan tahap pertama agenda penanaman pohon di lereng Gunung Prau. Menariknya, aksi ini juga diperkuat oleh kehadiran perwakilan siswa dari MI Al Islam Gentinggunung sebagai bentuk sinergi dan solidaritas antar-madrasah dalam menjaga kelestarian lingkungan desa.
Gebrakan Madrasah Adiwiyata Mandiri
Sebagai sekolah yang telah meraih predikat Madrasah Adiwiyata Mandiri, MI NU 45 Trimulyo melakukan langkah berani. Jika biasanya kegiatan reboisasi gunung didominasi oleh siswa tingkat menengah atas, madrasah ini mendobrak tradisi dengan memboyong siswa kelas dasar untuk terjun langsung ke medan lereng gunung. Kehadiran rekan-rekan dari MI Al Islam Gentinggunung turut menambah energi positif dalam misi konservasi di lahan kritis tersebut.
Kegiatan ini merupakan implementasi nyata dari Kurikulum Berbasis Cinta. Kepala MI NU 45 Trimulyo, M. Nur Yasin, menegaskan bahwa tugas guru mencakup penguatan karakter dan adab terhadap alam. Ia menyampaikan bahwa cinta terhadap alam yang direalisasikan dengan menanam pohon adalah langkah paling tepat saat ini karena kondisi alam yang semakin memprihatinkan, sehingga dibutuhkan kader peduli lingkungan sebanyak-banyaknya.
Ekologi Berjalan Selaras dengan Ekonomi
Lokasi penanaman difokuskan pada lahan milik masyarakat di Gentinggunung yang sebelumnya didominasi tanaman semusim seperti tembakau, jagung, dan sayuran. Kini, lahan tersebut mulai diperkaya dengan tanaman tegakan yang lebih produktif. Ratusan bibit pohon yang ditanam terdiri dari varietas alpukat, nangka, jeruk, hingga kopi yang dikenal memiliki nilai ekonomi tinggi.
Pemilihan jenis pohon produktif ini bertujuan agar manfaat ekologi dan ekonomi berjalan beriringan. Dengan beralih ke tanaman tegakan, alam diharapkan kembali hijau dan risiko bencana berkurang, sementara masyarakat tepi hutan mendapatkan sumber penghasilan baru sehingga tidak lagi bergantung sepenuhnya pada komoditi tanaman semusim.
Sinergi Komunitas untuk Konservasi
Keberhasilan aksi reboisasi ini merupakan hasil kolaborasi lintas sektor yang melibatkan perwakilan MI Al Islam Gentinggunung, Garda Prau Indonesia, Karang Taruna, Pemuda Ansor, Destana, hingga petani lokal. Sinergi ini membuktikan bahwa kesadaran kolektif untuk menjaga gunung sudah mulai tumbuh kuat di tingkat akar rumput.
Masyarakat mulai menyadari bahwa pelestarian Gunung Prau yang vegetasinya tergolong rapat tidak harus selalu dilakukan dengan menanam di dalam wilayah hutan. Dengan menjaga hutan dari perambahan serta memperkaya lahan milik pribadi dengan tanaman keras, alam akan mampu melakukan pemulihan atau suksesi mandiri secara alami.
Apa Selanjutnya? Aksi hijau ini masih akan berlanjut pada tahap kedua yang dijadwalkan pada 29 Januari 2026 mendatang dengan melibatkan siswa-siswi kelas VI. Melalui semangat kebersamaan ini, MI NU 45 Trimulyo optimis dapat melangkah menuju predikat Adiwiyata tingkat ASEAN dan menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain untuk terus berinovasi dalam melestarikan bumi. ***
(Andi Gunawan/Warta Desa)










