Batang, Wartadesa. – Meski sebelumnya pihak Pertamina MOR 4 Rayon 1 Jateng DIY membantah pasokan gas melon di wilayah Batang berkurang, namun Dinas Perdagangan Kabupaten Batang mengungkapkan bahwa kelangkaan gas melon di Batang dikarenakan pasokan gas tersebut berkurang 4,7 persen. Demikian terungkap saat Disperindagkop Batang melakukan operasi pasar di tiga Wilayah Batang, Kamis (30/11).
Baca: Gas melon langka, Pertamina bantah kurangi pasokan
Dwi Wahyuni, Kabid Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Disperindagkop Kabupaten Batang mengungkapkan bahwa pihaknya menggelar operasi pasar gas ukuran tiga kilogram di Karangasem Selatan, Kalisalak dan Pasekaran. Operasi pasar tersebut dilakukan karena kuota tabung gas di Kabupaten Batang dikurangi 4,7 persen.
Menurut Dwi Wahyuni, ada pengurangan sekitar 255 ribu tabung atau sekitar 4,7 persen tabung gas melon, karena memang subsidi dari pusat dikurangi. Tuturnya. Dia melanjutkan, makanya pihanya menggelar operasi pasar tersebut.
Sebelumnya, Pertamina membantah pihaknya mengurangi pasokan gas elpiji ukuran tiga kilogram. PT Pertamina Pemasaran Regional Jawa Tengah dan DIY membantah adanya pengurangan alokasi pasokan elpiji berisi tiga kilogram di Kabupaten Batang. “Tidak ada pengurangan alokasi elpiji bersubsidi itu, bahkan saat ini ada kuota tambahan untuk Kabupaten Batang,” kata Sales Executif LPG Pertamina MOR 4 Rayon 1 Jateng dan DIY Bima Kusuma Aji, Ahad (26/11), seperti dikutip dari Warta Ekonomi.
Bima mengaku bahwa pasokan gas melon di Batang mencapai 440 ribu tabung perbulan. “Jadi, tidak ada pengurangan sedikitpun alokasi elpiji, bahkan justru kami tambah,” katanya.
Kelangkaan gas melon di Batang, menurut Bima, dikarenakan masih adanya para pengusaha yang menggunakan gas yang diperuntukkan bagi warga miskin tersebut. “Pada praktiknya, elpiji bersubsidi tersebut masih sering digunakan oleh bidang usaha dan peternakan yang membutuhkan banyak pasokan barang yang mudah terbakar itu. Masih banyak ditemukan para pengusaha yang menggunakan LPG bersubsidi,” katanya. (Eva Abdullah, Tribun, Warta Ekonomi)







