PEMALANG, WARTA DESA – Peristiwa banjir yang membawa material lumpur dan kayu di wilayah Kabupaten Pemalang belakangan ini menjadi sinyal merah bagi kelestarian ekosistem di lereng Gunung Slamet. Berdasarkan analisis data lima tahun terakhir, aktivitas alih fungsi hutan lindung menjadi perkebunan sayur ditengarai menjadi pemicu utama menurunnya daya dukung lingkungan di wilayah hulu.
Data menunjukkan bahwa degradasi hutan di lereng Slamet telah mencapai angka yang mengkhawatirkan. Perubahan ini tidak hanya terlihat secara visual di lapangan, namun juga terekam dalam angka luasan lahan yang terus menyusut.
Tabel Perubahan Tutupan Lahan di Lereng Slamet (Wilayah Pemalang)
Kebutuhan ekonomi mendorong petani menanam komoditas hortikultura seperti kentang, kubis, dan wortel hingga jauh melampaui batas aman vegetasi. Fenomena ini paling masif ditemukan di Kecamatan Pulosari, mencakup Desa Clekatakan, Batursari, Nyalembeng, dan Gunungsari.
Secara teknis, hilangnya akar pohon keras membuat struktur tanah di kemiringan 25 hingga 30 persen menjadi sangat labil. Tanaman sayuran yang hanya memiliki akar pendek tidak mampu menahan beban tanah saat diguyur hujan lebat. Kondisi inilah yang memicu munculnya aliran permukaan yang tinggi, mengangkut material tanah serta sisa-sisa tebangan kayu dari pembukaan lahan menuju pemukiman di wilayah bawah.
Dampak dari perubahan bentang alam ini sudah mulai dirasakan langsung oleh masyarakat. Selain ancaman banjir bandang, terjadi penurunan debit pada ratusan titik mata air yang menjadi sumber kehidupan warga Pemalang. Kerusakan hutan di wilayah hulu menyebabkan air hujan tidak lagi meresap ke dalam tanah, melainkan langsung meluncur ke hilir membawa material yang merusak.
Meskipun pemerintah telah menetapkan Pulosari sebagai sentra agribisnis, tantangan besar kini ada pada penerapan sistem agroforestri atau tumpang sari. Tanaman keras harus kembali ditanam di sela-sela kebun sayur untuk mengembalikan fungsi ikat tanah. Rehabilitasi lahan kritis di tujuh kecamatan rawan, termasuk Moga dan Belik, mendesak untuk segera dipercepat demi mencegah bencana yang lebih besar di masa mendatang. (Redaksi)















