close

Lingkungan

BencanaBerita DesaLingkungan

Gunung Slamet Terluka, “Emak Bergerak” Adisana Kembali Turun ke Jalan Menuju Tegal

template berita foto warta desa

BUMIAYU, WARTA DESA – Semangat pantang menyerah kembali ditunjukkan oleh kelompok “Emak Bergerak” dari Desa Adisana, Kabupaten Brebes. Hari ini, Senin (2/2/2026), sebanyak 17 ibu rumah tangga berangkat melakukan perjalanan moral menuju Desa Bojong, Kabupaten Tegal, sebagai bentuk protes atas kerusakan alam di Gunung Slamet yang kian parah.

Dengan modal swadaya (urunan) untuk menyewa mobil bak terbuka, para emak ini berangkat dari Gang Badrun, Desa Adisana, sekitar pukul 09.00 WIB. Mereka membawa misi penting: memasang spanduk peringatan di wilayah Bojong demi mengingatkan publik akan ancaman nyata banjir bandang yang terus mengintai pemukiman mereka.

Perjalanan Moral demi Anak Cucu

Aksi ini merupakan kelanjutan dari aksi jalan kaki yang sebelumnya digelar pada Jumat (30/1/2026) lalu. Kerusakan hutan di lereng Gunung Slamet akibat eksploitasi dan penebangan liar dinilai menjadi biang keladi banjir yang kerap merendam Desa Adisana, Dukuhturi, hingga Kalierang.

“Kami melangkah dengan keyakinan dan harapan. Insyaallah Semestakung, semesta pasti mendukung niat baik kami,” ujar Ibu Dewi Namara, Koordinator Lapangan Emak Bergerak, dengan nada optimis.

Dua Tuntutan Utama

Dalam aksi kali ini, kelompok Emak Bergerak membawa dua tuntutan konkret yang ditujukan kepada pemangku kebijakan:

  1. Pembangunan Tanggul Darurat: Mendesak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS/BBWSDA) untuk segera merealisasikan pembangunan tanggul di Kali Keruh dan Kali Erang Pagenjahan. Beloknya aliran Sungai Keruh akibat ketiadaan tanggul permanen dituding sebagai penyebab utama banjir bandang yang telah memakan korban jiwa.

  2. Tindak Tegas Perusak Hutan: Meminta aparat penegak hukum untuk menindak tanpa pandang bulu para pelaku perusakan hutan di Gunung Slamet yang memicu bencana ekologis.

Suara dari Lereng Gunung

Perjalanan dari Brebes menuju Tegal ini bukan sekadar seremoni pemasangan spanduk, melainkan sebuah seruan bagi seluruh ibu di wilayah lereng Gunung Slamet—termasuk Purbalingga, Pemalang, dan Banyumas—untuk bersatu menjaga alam.

Para emak ini menegaskan bahwa mereka tidak akan tinggal diam melihat hutan digunduli oleh tangan-tangan serakah yang hanya mementingkan keuntungan pribadi namun menyengsarakan rakyat kecil. Suara mereka adalah suara perlindungan bagi masa depan generasi mendatang agar tidak lagi dihantui ketakutan setiap kali hujan lebat turun. ***

Laporan: Hendi Yetus / Redaksi

Terkait
Sejak Ramadhan lalu warga Gunungsari Pemalang kekurangan Air

Pemalang, Wartadesa. - Warga Desa Gunungsari Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sejak bulan Ramadhan lalu kekurangan air bersih. Biasanya Read more

Kekurangan air bersih, droping air ke Pulosari dan Belik akan ditambah

Pemalang, Wartadesa. - Kekurangan air bersih di wilayah Kecamatan Polosari akibat debit air Gunung Slamet yang terus mengecil ditanggapi oleh Read more

Kabupaten Pekalongan raih Adipura, setelah penantian panjang

Jakarta, Wartadesa. - Kabupaten Pekalongan dinobatkan sebagai penerima penghargaan Adipura Tahun 2017. Penghargaan tersebut diberikan kepada daerah paling bersih tingkat Read more

Anggaran pembangunan tanggul rob dialihkan untuk exit tol Pekalongan

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Penanganan rob itu bukan hanya membangun tanggul saja, namun juga pembangunan lainnya. Kasihan, masyarakat sudah menderita Read more

selengkapnya
Lingkungan

Waspada Banjir Bandang: Tim Destana Gentinggunung Temukan 4 Titik Longsor di Lereng Gunung Prau

template berita foto warta desa

SUKOREJO – Pemerintah Desa Gentinggunung bersama Tim Desa Tangguh Bencana (Destana) dan Bhabinkamtibmas Polsek Sukorejo melakukan aksi cepat tanggap dengan menggelar asesmen lapangan di lereng Gunung Prau, Sabtu (31/1/2026). Peninjauan ini dilakukan di area atas Desa Gentinggunung, tepatnya di bawah aliran Kali Terong, guna memetakan potensi ancaman bencana bagi warga di bawah lereng.

Hasil Temuan Lapangan

Berdasarkan laporan yang diterima dari pegiat lingkungan pada 29 Januari lalu, tim menemukan sedikitnya empat titik longsoran dengan kondisi yang bervariasi:

  • Longsoran Lama: Beberapa titik teridentifikasi merupakan jejak longsoran yang sudah terjadi sejak kurang lebih dua tahun lalu.

  • Longsoran Baru: Titik lainnya merupakan longsoran segar yang dipicu oleh tingginya intensitas hujan belakangan ini.

Material berupa tanah dan batang pohon terlihat menutupi aliran air serta jalur hutan. Para pemerhati lingkungan dari grup Garda Prau mengungkapkan bahwa karakteristik tebing di kawasan tersebut cukup labil karena didominasi lapisan humus tebal yang tidak terikat kuat ke lapisan tanah padas. Kondisi ini diperparah dengan berkurangnya daya serap air di hulu pasca-kebakaran hutan beberapa tahun silam.

Ancaman Bendungan Alami dan Banjir Bandang

Tim asesmen menekankan bahwa tumpukan material yang menyumbat aliran sungai tidak boleh dianggap remeh. Akumulasi material tersebut berisiko membentuk bendungan alami.

“Jika bendungan material tersebut jebol saat debit air meningkat, hal ini bisa berakibat fatal dengan memicu terjadinya banjir bandang yang mengancam keselamatan warga di area bawah lereng,” tulis laporan tim di lapangan.

Harapan dan Langkah Mitigasi

Kehadiran Bhabinkamtibmas Polsek Sukorejo dalam kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat koordinasi keamanan serta memberikan imbauan langsung kepada masyarakat. Warga diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di sekitar aliran Kali Terong ketika hujan lebat turun.

Saat ini, warga sangat mengharapkan adanya tindakan nyata dari pemerintah daerah untuk segera mengurai material longsoran tersebut. Mitigasi dini dianggap sebagai harga mati guna meminimalisir potensi bencana yang dapat merusak sendi kehidupan masyarakat di sepanjang aliran sungai. ***

Pewarta: Andi Gunawan

Editor: Buono

Terkait
Bandar Udara Kesesi ada sejak jaman Belanda

Kesesi- Kabar akan adanya Bandar Udara di Desa Sukorejo Kecamatan Kesesi Kabupatan Pekalongan menjadi buah bibir warga Kota Santri    Read more

Kabupaten Pekalongan raih Adipura, setelah penantian panjang

Jakarta, Wartadesa. - Kabupaten Pekalongan dinobatkan sebagai penerima penghargaan Adipura Tahun 2017. Penghargaan tersebut diberikan kepada daerah paling bersih tingkat Read more

Ribuan warga Pekalongan tumpah ruah, meriahkan pawai Adipura

Kajen, Wartadesa. - Ribuan warga Kota Santri tumpah ruah memenuhi sepanjang jalan sekitar Kajen. Mereka tampak antusias melihat arak-arakan (pawai) Read more

Dua Kelurahan kekeringan, Kota Pekalongan darurat bencana kekeringan

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Pemerintah Kota Pekalongan menetapkan darurat bencana kekeringan mulai 1 Juli hingga 31 Oktober 2017. Penetapan tersebut Read more

selengkapnya
BencanaLingkungan

BNPB Gelar Operasi Modifikasi Cuaca Guna Redam Bencana Hidrometeorologi di Lereng Gunung Slamet

template berita foto warta desa(4)
  • Empat Kabupaten Terdampak Kerusakan Parah

JAWA TENGAH, WARTA DESA. – Sebagai langkah cepat dalam menangani rangkaian bencana hidrometeorologi yang meluas, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk wilayah Jawa Tengah melalui Bandara Internasional Ahmad Yani, Semarang. Langkah strategis ini mencakup penaburan bahan semai NaCl (natrium klorida) dan CaO (kalsium oksida) untuk mereduksi curah hujan berlebih di wilayah hulu, sekaligus meminimalkan risiko banjir bandang susulan serta mempercepat proses penanganan darurat di wilayah terdampak lereng Gunung Slamet.

Rangkaian bencana yang dipicu oleh curah hujan ekstrem ini telah melanda empat kabupaten, yakni Purbalingga, Pemalang, Brebes, dan Tegal, yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa serta kerusakan infrastruktur yang signifikan. Di Kabupaten Purbalingga, banjir bandang menerjang Kecamatan Rembang dan Karangreja yang mengakibatkan satu orang meninggal dunia dan terputusnya akses jembatan Kali Bambangan, sementara di Kabupaten Pemalang, banjir bandang serupa juga merenggut satu nyawa dan memaksa ratusan warga di Kecamatan Pulosari untuk mengungsi ke lokasi yang lebih aman.

Dampak serius juga dilaporkan terjadi di wilayah Kabupaten Brebes, di mana hujan lebat memicu tanah longsor yang menghanyutkan sembilan unit rumah serta menutup jaringan listrik dan akses jalan provinsi. Sementara itu, di kawasan wisata Guci Kabupaten Tegal, banjir bandang kembali melanda aliran Sungai Gung yang menyebabkan kerusakan pada sarana wisata seperti Jembatan Jedor dan area Pancuran 13, sehingga memaksa pihak berwenang menutup sementara seluruh aktivitas wisata di lokasi tersebut guna menjamin keselamatan pengunjung.

Melalui hasil kaji cepat dan analisis forensik, BNPB mengidentifikasi bahwa karakteristik lereng Gunung Slamet yang curam menjadi faktor utama cepatnya respons hidrologi yang memicu aliran muatan sedimen tinggi saat hujan ekstrem melanda. Oleh karena itu, selain menjalankan operasi modifikasi cuaca, BNPB bersama pemerintah daerah tengah mengupayakan penguatan pengelolaan daerah aliran sungai secara terpadu, termasuk rencana pemasangan jembatan Bailey untuk memulihkan aksesibilitas wilayah yang terisolasi.

Pemerintah melalui BNPB terus mengimbau masyarakat yang bermukim di sepanjang alur sungai lereng Gunung Slamet untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana susulan. Kepatuhan terhadap sistem peringatan dini dan arahan petugas di lapangan menjadi faktor krusial dalam mengurangi risiko dampak bencana, mengingat kondisi cuaca di sebagian besar wilayah terdampak saat ini terpantau masih sering mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. (Redaksi)

Terkait
Kecelakaan, bakul klepon meninggal akibat jalan tergenang air

Tirto, Wartadesa. - Malang bagi Karyatun (50), bakul (penjual-red) klepon dan gethuk, warga Desa Curug Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan, motor Read more

Banjir, belum ada bantuan logistik ke desa Pasirsari

Pekalongan, Wartadesa. - Hujan yang mengguyur Kabupaten dan Pekalongan Jum'at (16/12) mengakibatkan banjir hampir seluruh wilayah pantai utara Pekalongan. Di Read more

Pendaki asal Lebaksiu Tegal tersambar petir di Gunung Slamet

Purbalingga, Wartadesa. - Dua pendaki Gunung Slamet dilaporkan tersambar petir. Demikian disampaikan Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Purbalingga, Read more

Warga sekitar kali Bremi butuh dukungan pemkot bersihkan enceng gondok

Pekalongan Barat, Wartadesa. - Kondisi kali Bremi Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan sungguh memprihatinkan. Seluruh permukaan dipenuhi dengan tumbuhan enceng Read more

selengkapnya
Lingkungan

Aktivis Save Gunung Slamet Desak Pemerintah Tindak Tegas Pembukaan Lahan Liar

template berita foto warta desa(6)

Banyumas, Warta Desa, 24 Januari 2026. — Kondisi kelestarian lingkungan di kawasan Gunung Slamet kini tengah menjadi sorotan tajam. Budi Tartanto, seorang aktivis dari gerakan Save Gunung Slamet, menyampaikan peringatan keras mengenai kerusakan alam yang terjadi di ketinggian 2300 meter di atas permukaan laut. Ia menyoroti maraknya pembukaan lahan hutan lindung yang dialihfungsikan menjadi area perkebunan sayur-sayuran secara liar.

Menurut Budi, situasi di titik ketinggian tersebut sudah sangat memprihatinkan dan membabi buta. Ia menegaskan bahwa kerusakan ini tidak bisa lagi dikaitkan dengan faktor cuaca atau curah hujan semata, melainkan murni akibat ulah manusia yang merusak hutan. Ia mendesak pemerintah untuk segera hadir dan mengambil langkah nyata dengan mengerahkan aparat serta seluruh komponen negara guna mengamankan kawasan hutan lindung dari aktivitas yang ia sebut sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab.

Dalam pernyataannya, Budi menekankan bahwa persoalan ini bukan lagi sekadar masalah urusan perut atau ekonomi rakyat kecil, melainkan tindakan perusakan lingkungan yang sangat parah. Ia menuntut agar seluruh aktivitas pertanian di zona lindung segera dihentikan dan para pelakunya ditarik keluar dari kawasan hutan, apa pun risikonya, demi menjaga keselamatan ekosistem gunung terbesar di Jawa Tengah tersebut.

Selain masalah pembukaan lahan, aktivis lingkungan ini juga menyuarakan penolakan keras terhadap proyek panas bumi atau geotermal yang ada di kawasan Gunung Slamet. Ia meminta agar proyek tersebut segera dihentikan karena dianggap mengancam keberlangsungan hidup rakyat. Budi memberikan sindiran tajam bahwa keberhasilan energi listrik dari panas bumi tidak akan ada artinya jika sumber mata air rakyat menjadi hilang dan rusak.

Peringatan ini disampaikan sebagai upaya pencegahan sebelum bencana besar terjadi. Ia merujuk pada musibah banjir bandang yang terjadi di wilayah lain, seperti di Sumatra, sebagai gambaran nyata jika hutan lindung di hulu tidak lagi mampu menyangga air. Melalui gerakan Save Gunung Slamet, masyarakat dan pecinta alam diharapkan bersatu untuk mencegah terjadinya bencana banjir bandang yang lebih besar di masa depan dengan cara menjaga keutuhan hutan lindung dari hulu hingga hilir. (Redaksi)

Terkait
Pendaki asal Lebaksiu Tegal tersambar petir di Gunung Slamet

Purbalingga, Wartadesa. - Dua pendaki Gunung Slamet dilaporkan tersambar petir. Demikian disampaikan Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Purbalingga, Read more

Kabupaten Pekalongan raih Adipura, setelah penantian panjang

Jakarta, Wartadesa. - Kabupaten Pekalongan dinobatkan sebagai penerima penghargaan Adipura Tahun 2017. Penghargaan tersebut diberikan kepada daerah paling bersih tingkat Read more

Ribuan warga Pekalongan tumpah ruah, meriahkan pawai Adipura

Kajen, Wartadesa. - Ribuan warga Kota Santri tumpah ruah memenuhi sepanjang jalan sekitar Kajen. Mereka tampak antusias melihat arak-arakan (pawai) Read more

Dua Kelurahan kekeringan, Kota Pekalongan darurat bencana kekeringan

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Pemerintah Kota Pekalongan menetapkan darurat bencana kekeringan mulai 1 Juli hingga 31 Oktober 2017. Penetapan tersebut Read more

selengkapnya
Layanan PublikLingkungan

Menyingkap Tabir Bencana: Dari Gundulnya Hulu hingga Amblesnya Hilir Kabupaten Pekalongan

Gemini_Generated_Image_2hw41x2hw41x2hw4

PEKALONGAN, WARTA DESA – Kabupaten Pekalongan kini bukan lagi sekadar menghadapi “siklus hujan tahunan”. Wilayah ini sedang berada dalam cengkeraman krisis ekologis sistemik yang menghubungkan kerusakan di puncak gunung hingga tenggelamnya pesisir pantai. Banjir  di hulu dan rob abadi di hilir adalah dua ujung dari satu benang merah yang sama: kegagalan tata ruang dan pengelolaan lingkungan yang tidak tuntas.

1. Hulu yang Bocor: Komoditas Mengalahkan Konservasi

Kerusakan bermula dari wilayah atas. Data menunjukkan alih fungsi hutan lindung menjadi lahan pertanian hortikulturaDoro, Petungkriyono, Paninggaran telah mencapai angka yang mengkhawatirkan.

  • Ekspansi Pertanian: Hingga periode 2024/2025, tercatat sekitar 4.505,54 hektare kawasan lindung telah berubah menjadi kebun sayur seperti kentang dan kubis.

  • Hutan yang Menyusut: Terjadi penurunan tutupan hutan lahan kering primer sebesar 10,7% dalam dua dekade terakhir.

  • Dampak Nyata: Tanpa akar pohon keras, tanah di kemiringan 25-30% kehilangan daya ikat. Saat hujan lebat, air tidak lagi meresap (infiltrasi) melainkan menjadi aliran permukaan (run-off) yang membawa lumpur dan material kayu sisa pembukaan lahan (land clearing) langsung ke pemukiman di bawahnya.

2. Hilir yang Ambles: Ancaman Senyap di Bawah Tanah

Di saat wilayah hulu mengirimkan air bah, wilayah hilir (Tirto, Wiradesa, Wonokerto) justru perlahan tenggelam karena tanahnya yang terus merosot.

  • Kecepatan Penurunan: Laju penurunan muka tanah (land subsidence) di Pekalongan mencapai 6–10 cm per tahun, bahkan di titik tertentu menembus 20–40 cm per tahun.

  • Penyebab Utama: Selain faktor geologis tanah alluvial yang muda, ekstraksi air tanah melalui sumur dalam secara masif oleh industri dan pemukiman menjadi penyebab utama non-alami. Kosongnya lapisan akuifer menyebabkan tanah di atasnya ambles untuk mengisi kekosongan tersebut.

  • Prediksi 2030: Jika tren ini berlanjut, diprediksi 7.389 hektare lahan di Pekalongan akan tenggelam secara permanen pada tahun 2030.

3. Sengkarut Drainase dan Penanganan “Setengah Hati”

Upaya fisik yang dilakukan pemerintah seringkali dinilai warga sebagai solusi tambal sulam.

  • Tanggul yang Tak Cukup: Pembangunan tanggul sepanjang 7,2 km senilai Rp464 miliar memang menahan laut, namun tidak menyelesaikan masalah air yang terjebak di dalam daratan.

  • Ketergantungan Pompa: Dengan kondisi tanah yang sudah di bawah permukaan laut, drainase gravitasi sudah mati. Penanganan kini bergantung 100% pada mesin pompa, yang sering terkendala biaya operasional, perawatan, hingga kapasitas yang tidak sebanding dengan debit air.

  • Drainase Parsial: Pembangunan saluran air antar desa yang tidak terintegrasi seringkali justru memindahkan banjir dari satu titik ke titik lain yang lebih rendah (seperti daerah Wiradesa dan Kadipaten).

Langkah Konkret: Apa yang Harus Dilakukan Pemda Pekalongan?

Untuk memutus rantai bencana ini, Pemerintah Kabupaten Pekalongan tidak bisa lagi hanya mengandalkan proyek fisik di hilir. Diperlukan langkah radikal:

A. Penyelamatan Hulu (Stop Kebocoran Air):

  1. Moratorium Alih Fungsi Lahan: Menghentikan pemberian izin pembukaan lahan baru di atas ketinggian 1.000 mdpl.

  2. Mandat Agroforestri: Mewajibkan petani sayur di wilayah curam untuk menanam pohon keras (seperti kopi atau tanaman buah) di sela-sela tanaman sayur dengan rasio minimal 40% tutupan pohon.

  3. Rehabilitasi DAS: Percepatan normalisasi sungai dan penanaman kembali daerah aliran sungai (DAS) dari hulu ke hilir untuk mengurangi sedimentasi lumpur yang menyumbat drainase.

B. Penyelamatan Hilir (Stop Penurunan Tanah):

  1. Audit dan Pembatasan Sumur Dalam: Melakukan audit besar-besaran terhadap penggunaan sumur dalam oleh industri tekstil/batik. Industri wajib beralih menggunakan air permukaan (PDAM) atau sistem daur ulang air limbah.

  2. Perluasan Jaringan PDAM: Mempercepat jangkauan air bersih perpipaan ke seluruh warga pesisir agar mereka berhenti menyedot air tanah secara mandiri.

  3. Pajak Air Tanah yang Tinggi: Menerapkan disinsentif berupa pajak tinggi bagi penggunaan air tanah di zona merah penurunan tanah.

C. Reformasi Drainase (Sistem Terpadu):

  1. Masterplan Drainase Makro: Membuat sistem drainase yang terhubung antar kecamatan, bukan proyek sepotong-sepotong per desa.

  2. Penyediaan “Kolam Retensi” dan Polder: Menyiapkan lahan luas sebagai waduk penampung air hujan sementara sebelum dibuang ke laut melalui pompa kapasitas besar.

  3. Ketegasan Tata Ruang: Menindak tegas bangunan (pabrik/perumahan) yang menempati jalur hijau atau menutup saluran drainase alami (sawah).

Kesimpulan: Banjir Pekalongan adalah peringatan keras bahwa alam tidak lagi mampu menanggung beban eksploitasi manusia. Jika pemerintah tetap menangani rob secara “setengah hati” tanpa menyentuh akar masalah di hulu dan ekstraksi air tanah, maka triliunan rupiah untuk tanggul hanya akan menjadi monumen yang akhirnya ikut tenggelam. (Redaksi)

Laporan ini disusun berdasarkan pengolahan data lapangan dan analisis krisis ekologis wilayah Pekalongan.

Terkait
Pantai Depok, Nasibmu Kini

Meski sudah ada pemecah ombak, abrasi terus menggerus Pantai Depok Pekalongan (12/10)

Rutin, Polsek Sragi beri pengamanan di sekolah

Polsek Sragi membantu mengatur lalu lintas di depan SMA Negeri 1 Sragi, Jum'at (14/10). Foto : Read more

[Video] Pantai Siwalan Nasibmu Kini

https://youtu.be/-ifv0wgTxAM Pesisir pantai siwalan hingga wonokerto Kab. Pekalongan terus terkikis, Pemukiman warga terus terancam hilang. Sebagian rumah warga  sudah tidak Read more

SDN Tangkilkulon raih juara 1 lomba MAPSI

Kedungwuni, Wartadesa. - SD Negeri Tangkilkulon, Kecamatan Kedungwuni - Pekalongan meraih juara pertama dalam lomba  Mata Pelajaran Agama Islam dan Read more

selengkapnya
Lingkungan

Alih Fungsi Lahan Lereng Slamet: Ancaman di Balik Suburnya Kebun Sayur Pulosari

template berita foto warta desa

PEMALANG, WARTA DESA – Peristiwa banjir yang membawa material lumpur dan kayu di wilayah Kabupaten Pemalang belakangan ini menjadi sinyal merah bagi kelestarian ekosistem di lereng Gunung Slamet. Berdasarkan analisis data lima tahun terakhir, aktivitas alih fungsi hutan lindung menjadi perkebunan sayur ditengarai menjadi pemicu utama menurunnya daya dukung lingkungan di wilayah hulu.

Data menunjukkan bahwa degradasi hutan di lereng Slamet telah mencapai angka yang mengkhawatirkan. Perubahan ini tidak hanya terlihat secara visual di lapangan, namun juga terekam dalam angka luasan lahan yang terus menyusut.

Tabel Perubahan Tutupan Lahan di Lereng Slamet (Wilayah Pemalang)

Kategori Lahan Kondisi Sebelumnya Estimasi Periode 2021–2026 Tren Perubahan
Hutan Lahan Kering Primer Dominan (Hutan Lindung) Penurunan kumulatif 10,7% Menyusut drastis
Lahan Pertanian Sayur Terbatas pada kaki gunung Mencapai 4.505,54 Hektare Ekspansi ke hulu
Ketinggian Garis Tanam Di bawah 1.500 mdpl Menembus > 2.000 mdpl Naik ke zona lindung
Perambahan Ilegal Minimal Estimasi 200 Hektare Meningkat di titik terjal

Kebutuhan ekonomi mendorong petani menanam komoditas hortikultura seperti kentang, kubis, dan wortel hingga jauh melampaui batas aman vegetasi. Fenomena ini paling masif ditemukan di Kecamatan Pulosari, mencakup Desa Clekatakan, Batursari, Nyalembeng, dan Gunungsari.

Secara teknis, hilangnya akar pohon keras membuat struktur tanah di kemiringan 25 hingga 30 persen menjadi sangat labil. Tanaman sayuran yang hanya memiliki akar pendek tidak mampu menahan beban tanah saat diguyur hujan lebat. Kondisi inilah yang memicu munculnya aliran permukaan yang tinggi, mengangkut material tanah serta sisa-sisa tebangan kayu dari pembukaan lahan menuju pemukiman di wilayah bawah.

Dampak dari perubahan bentang alam ini sudah mulai dirasakan langsung oleh masyarakat. Selain ancaman banjir bandang, terjadi penurunan debit pada ratusan titik mata air yang menjadi sumber kehidupan warga Pemalang. Kerusakan hutan di wilayah hulu menyebabkan air hujan tidak lagi meresap ke dalam tanah, melainkan langsung meluncur ke hilir membawa material yang merusak.

Meskipun pemerintah telah menetapkan Pulosari sebagai sentra agribisnis, tantangan besar kini ada pada penerapan sistem agroforestri atau tumpang sari. Tanaman keras harus kembali ditanam di sela-sela kebun sayur untuk mengembalikan fungsi ikat tanah. Rehabilitasi lahan kritis di tujuh kecamatan rawan, termasuk Moga dan Belik, mendesak untuk segera dipercepat demi mencegah bencana yang lebih besar di masa mendatang. (Redaksi)

Terkait
Kecelakaan, bakul klepon meninggal akibat jalan tergenang air

Tirto, Wartadesa. - Malang bagi Karyatun (50), bakul (penjual-red) klepon dan gethuk, warga Desa Curug Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan, motor Read more

Banjir, belum ada bantuan logistik ke desa Pasirsari

Pekalongan, Wartadesa. - Hujan yang mengguyur Kabupaten dan Pekalongan Jum'at (16/12) mengakibatkan banjir hampir seluruh wilayah pantai utara Pekalongan. Di Read more

Pendaki asal Lebaksiu Tegal tersambar petir di Gunung Slamet

Purbalingga, Wartadesa. - Dua pendaki Gunung Slamet dilaporkan tersambar petir. Demikian disampaikan Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Purbalingga, Read more

Warga sekitar kali Bremi butuh dukungan pemkot bersihkan enceng gondok

Pekalongan Barat, Wartadesa. - Kondisi kali Bremi Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan sungguh memprihatinkan. Seluruh permukaan dipenuhi dengan tumbuhan enceng Read more

selengkapnya
LingkunganPendidikan

Siswa MI NU 45 Trimulyo “Hijaukan” Lereng Gunung Prau: Tanam Harapan Lewat Bibit Produktif

template berita foto warta desa(3)

GENTINGGUNUNG, WARTA DESA. – Semangat pelestarian alam terpancar dari raut wajah siswa-siswi kelas V MI NU 45 Trimulyo. Pada Rabu (21/01/2026), mereka sukses merampungkan tahap pertama agenda penanaman pohon di lereng Gunung Prau. Menariknya, aksi ini juga diperkuat oleh kehadiran perwakilan siswa dari MI Al Islam Gentinggunung sebagai bentuk sinergi dan solidaritas antar-madrasah dalam menjaga kelestarian lingkungan desa.

Gebrakan Madrasah Adiwiyata Mandiri

Sebagai sekolah yang telah meraih predikat Madrasah Adiwiyata Mandiri, MI NU 45 Trimulyo melakukan langkah berani. Jika biasanya kegiatan reboisasi gunung didominasi oleh siswa tingkat menengah atas, madrasah ini mendobrak tradisi dengan memboyong siswa kelas dasar untuk terjun langsung ke medan lereng gunung. Kehadiran rekan-rekan dari MI Al Islam Gentinggunung turut menambah energi positif dalam misi konservasi di lahan kritis tersebut.

Kegiatan ini merupakan implementasi nyata dari Kurikulum Berbasis Cinta. Kepala MI NU 45 Trimulyo, M. Nur Yasin, menegaskan bahwa tugas guru mencakup penguatan karakter dan adab terhadap alam. Ia menyampaikan bahwa cinta terhadap alam yang direalisasikan dengan menanam pohon adalah langkah paling tepat saat ini karena kondisi alam yang semakin memprihatinkan, sehingga dibutuhkan kader peduli lingkungan sebanyak-banyaknya.

Ekologi Berjalan Selaras dengan Ekonomi

Lokasi penanaman difokuskan pada lahan milik masyarakat di Gentinggunung yang sebelumnya didominasi tanaman semusim seperti tembakau, jagung, dan sayuran. Kini, lahan tersebut mulai diperkaya dengan tanaman tegakan yang lebih produktif. Ratusan bibit pohon yang ditanam terdiri dari varietas alpukat, nangka, jeruk, hingga kopi yang dikenal memiliki nilai ekonomi tinggi.

Pemilihan jenis pohon produktif ini bertujuan agar manfaat ekologi dan ekonomi berjalan beriringan. Dengan beralih ke tanaman tegakan, alam diharapkan kembali hijau dan risiko bencana berkurang, sementara masyarakat tepi hutan mendapatkan sumber penghasilan baru sehingga tidak lagi bergantung sepenuhnya pada komoditi tanaman semusim.

Sinergi Komunitas untuk Konservasi

Keberhasilan aksi reboisasi ini merupakan hasil kolaborasi lintas sektor yang melibatkan perwakilan MI Al Islam Gentinggunung, Garda Prau Indonesia, Karang Taruna, Pemuda Ansor, Destana, hingga petani lokal. Sinergi ini membuktikan bahwa kesadaran kolektif untuk menjaga gunung sudah mulai tumbuh kuat di tingkat akar rumput.

Masyarakat mulai menyadari bahwa pelestarian Gunung Prau yang vegetasinya tergolong rapat tidak harus selalu dilakukan dengan menanam di dalam wilayah hutan. Dengan menjaga hutan dari perambahan serta memperkaya lahan milik pribadi dengan tanaman keras, alam akan mampu melakukan pemulihan atau suksesi mandiri secara alami.

Apa Selanjutnya? Aksi hijau ini masih akan berlanjut pada tahap kedua yang dijadwalkan pada 29 Januari 2026 mendatang dengan melibatkan siswa-siswi kelas VI. Melalui semangat kebersamaan ini, MI NU 45 Trimulyo optimis dapat melangkah menuju predikat Adiwiyata tingkat ASEAN dan menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain untuk terus berinovasi dalam melestarikan bumi. ***

(Andi Gunawan/Warta Desa)

Terkait

[caption id="attachment_1326" align="alignnone" width="800"] Pelantikan Pimpinan Ranting IPNU IPPNU Pecakaran, Wonokerto - Pekalongan berlangsung khidmad. (14/10) Foto : Wahidatul Maghfiroh/wartadesa. Read more

SDN Tangkilkulon raih juara 1 lomba MAPSI

Kedungwuni, Wartadesa. - SD Negeri Tangkilkulon, Kecamatan Kedungwuni - Pekalongan meraih juara pertama dalam lomba  Mata Pelajaran Agama Islam dan Read more

IPNU IPPNU Wonokerto bentengi diri dengan Densus Aswaja

PAC IPPNU Wonokerto menggelar kegiatan Densus Aswaja di Masjid Hidayatullah, desa Semut (15/10). Foto Wahidatul Maghfiroh/wartadesa Read more

selengkapnya
Lingkungan

Diduga Jarah Batu Kali Sungai, Proyek PLTMH di Desa Kambangan Diprotes Warga Batang

IMG-20260106-WA0000

Warta Desa, Batang — 5 Januari 2026 -Proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro (PLTMH) di Dukuh Kemloko, Desa Kambangan, Kabupaten Batang, menuai penolakan warga. Proyek tersebut diduga mengambil material batu kali langsung dari aliran sungai tanpa kejelasan izin resmi, sehingga dinilai berpotensi melanggar hukum dan merusak lingkungan.

Investigasi awak media di lapangan menemukan aktivitas pengambilan batu di sekitar sungai. Warga mempertanyakan status hukum batu kali di sungai tersebut, apakah boleh dimanfaatkan untuk kepentingan proyek tanpa izin tambang resmi dan persetujuan masyarakat.

Penolakan warga sempat memuncak ketika sejumlah warga membentangkan spanduk protes di lokasi proyek. Spanduk tersebut bertuliskan:

“Batu kali tidak untuk diperjualbelikan di PT manapun tanpa izin atau tambang resmi.”

Setyanto, warga Desa Kambangan, menegaskan warga menolak keras pengambilan batu dari sungai karena berpotensi merusak ekosistem dan aliran air.

“Kami mempertanyakan status batu yang ada di kali itu. Jangan seenaknya pihak PT mengambil batu dari sungai. Itu bisa merusak alam dan aliran air, dan sampai sekarang kami tidak pernah melihat izin resminya,” ujar Setyanto kepada awak media.

Menurut warga, batu yang berada di dasar sungai merupakan bagian dari ekosistem alam yang menjaga kestabilan aliran air. Jika diambil tanpa kajian lingkungan dan izin resmi, dampaknya dikhawatirkan akan dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar.

Hal senada disampaikan A, warga Desa Kambangan lainnya. Ia meminta aparat penegak hukum dan instansi terkait tidak menutup mata.

“Kalau memang legal, silakan tunjukkan izinnya ke publik. Tapi kalau tidak ada, ini jangan dibiarkan. Proyek jangan sampai berjalan dengan mengorbankan lingkungan dan hak warga,” ujar A.

Warga menilai, apabila benar pengambilan batu kali dilakukan tanpa izin tambang dan izin lingkungan, maka aktivitas tersebut berpotensi melanggar Undang-Undang Pertambangan dan Undang-Undang Lingkungan Hidup, serta dapat dikategorikan sebagai penambangan ilegal di wilayah sungai.

Hingga berita ini diturunkan, pihak perusahaan pelaksana proyek PLTMH belum memberikan keterangan resmi, meskipun awak media telah berupaya melakukan konfirmasi.

Sebagai bentuk komitmen terhadap prinsip keberimbangan dan profesionalisme jurnalistik, awak media. Sibay Group Komunika, membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada pihak perusahaan maupun instansi terkait atas pemberitaan ini, sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Media akan terus memantau perkembangan dan menyampaikan informasi lanjutan kepada publik secara berimbang dan bertanggung jawab. (Rohadi)

Terkait
Mengisi ronda dengan catur dan jimpitan

Reban. Batang. Wartadesa - Menjaga kemamanan lingkungan di pos kamling (keamanan lingkungan) kadang menjenukan. Nah, warga Reban Kabupaten Batang mempunyai Read more

Rame di media sosial, obyek wisata Kembanglangit jadi rujukan liburan

Blado, Wartadesa. - Banyaknya pengguna media sosial yang mem-posting keindahan alam Kembanglangit-park menjadikan tempat wisata ini ramai dikunjungi pelancong. Utamanya Read more

Bus wisata yang ditumpangi warga Batang masuk jurang

Purbalingga, Wartadesa. - Naas, bus pariwisata Metropolitan E 7599 V yang membawa 64 warga Batang yang hendak berwisata ke objek Read more

Hidup sebatangkara, kakek ini makan seadanya

Batang, Wartadesa. - Tinggal sebatangkara, di rawa-rawa sebelah timur Mencawak, Sigandu Kabupaten Batang dengan gubuk berdinding terpal, itulah kondisi kakek Ra'adi Read more

selengkapnya
Layanan PublikLingkunganSosial Budaya

BKPH Karanganyar Tanggap Cepat Longsor di Jalan Penghubung ke Lebakbarang, Pekalongan

IMG-20260105-WA0011

WARTA DESA, KABUPATEN PEKALONGAN – BKPH Karanganyar bersama jajarannya segera bertindak menyikapi terjadinya longsor di jalan raya Karanganyar, jalur penting menuju Kecamatan Lebakbarang, pada hari ini. Peristiwa disebabkan hujan lebat, yang membuat tanah dan batuan menutupi sebagian badan jalan.

Meskipun demikian, arus lalu lintas tetap dapat berjalan satu sisi dengan sistem bergantian. Menurut Catur, Asisten Perhutani (ASPER) BKPH Karanganyar RPH Pekalongan Timur, lokasi longsor berada di petak 28 D, wilayah RPH Rogoselo. “Saat ini jalan masih dapat dilalui, namun kami menunggu alat berat dari dinas terkait untuk pembersihan material longsoran,” ujarnya.

Sejak kejadian, pihak BKPH langsung melakukan pengamanan awal dengan memberikan peringatan dan mengatur lalu lintas agar tetap aman. Catur juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, mengurangi kecepatan, dan mematuhi arahan petugas, mengingat cuaca yang tidak menentu dan potensi longsor susulan.

BKPH Karanganyar berharap alat berat segera tiba, sehingga proses penanganan berjalan cepat dan akses jalan kembali normal serta aman untuk masyarakat. (Rohadi)

Terkait
Pantai Depok, Nasibmu Kini

Meski sudah ada pemecah ombak, abrasi terus menggerus Pantai Depok Pekalongan (12/10)

Rusak, warga rehab Mushola “Pasar Kebo”

Warga sekitar Mushola Pasar Kebo - Kajen merehab Mushola, Jum'at (14/10). Foto : Eva Abdullah/wartadesa Kajen, Read more

[Video] Pantai Siwalan Nasibmu Kini

https://youtu.be/-ifv0wgTxAM Pesisir pantai siwalan hingga wonokerto Kab. Pekalongan terus terkikis, Pemukiman warga terus terancam hilang. Sebagian rumah warga  sudah tidak Read more

Meneruskan estafet kepemimpinan rating IPPNU Pecakaran

Pelantikan Pimpinan Ranting IPNU IPPNU Pecakaran, Wonokerto - Pekalongan berlangsung khidmad. (14/10) Foto : Wahidatul Maghfiroh/wartadesa. Read more

selengkapnya
Jalan-jalanLingkungan

Pantai Wonokerto Mulai Tercemar Sampah, Pengelola Dinilai Kurang Tegas

IMG-20260104-WA0004

Warta Desa, Wonokerto, 2 Januari 2025 — Pantai Wonokerto, salah satu destinasi wisata andalan di Kabupaten Pekalongan, mulai menunjukkan persoalan serius terkait kebersihan lingkungan. Pantai yang selama ini dikenal dengan panorama alamnya yang indah kini terlihat tercemar oleh sampah yang ditinggalkan pengunjung di sejumlah titik kawasan wisata.

Berdasarkan pantauan di lapangan, sampah plastik, sisa makanan, hingga botol minuman tampak berserakan di area pantai. Kondisi ini menimbulkan keprihatinan

Salah satu pengunjung yang peduli, mengingat Pantai Wonokerto merupakan salah satu pilihan hiburan alternatif yang ramai dikunjungi, terutama pada akhir pekan dan hari libur.

Minimnya kesadaran pengunjung untuk menjaga kebersihan dinilai menjadi faktor utama permasalahan tersebut. Namun demikian, pengelolaan pantai juga disorot karena terkesan melakukan pembiaran tanpa adanya tindakan tegas atau pengawasan yang maksimal.

“Jika tidak segera ditangani, kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan ini akan terus berlanjut dan merusak ekosistem pantai,” ujar salah satu pengunjung.

Persoalan ini tidak dapat dianggap remeh. Sampah yang mencemari pantai dan laut berpotensi merusak lingkungan, mengancam biota laut, serta menurunkan daya tarik wisata Pantai Wonokerto ke depannya.

Di sisi lain, berbagai komunitas dan relawan peduli lingkungan terus bergerak mengampanyekan laut bersih dan pantai indah. Namun upaya tersebut dinilai belum cukup tanpa dukungan nyata dari pengelola wisata dan dinas terkait.

Masyarakat berharap adanya langkah konkret, seperti penambahan tempat sampah, papan imbauan, pengawasan rutin, serta sanksi tegas bagi pengunjung yang melanggar. Sinergi antara pengelola, pemerintah, dan pengunjung dinilai penting agar Pantai Wonokerto tetap terjaga kebersihannya dan dapat dinikmati secara berkelanjutan. (Andi Purwandi) 

Terkait
[Video] Pantai Siwalan Nasibmu Kini

https://youtu.be/-ifv0wgTxAM Pesisir pantai siwalan hingga wonokerto Kab. Pekalongan terus terkikis, Pemukiman warga terus terancam hilang. Sebagian rumah warga  sudah tidak Read more

Menikmati golden sunrise di bukit Pawuluhan Kandangserang

Wartadesa. - Satu lagi tempat wisata di Kabupaten Pekalongan yang menarik untuk dikunjungi yaitu bukit Pawuluhan Kecamatan Kandangserang Kabupaten Pekalongan Read more

Rame di media sosial, obyek wisata Kembanglangit jadi rujukan liburan

Blado, Wartadesa. - Banyaknya pengguna media sosial yang mem-posting keindahan alam Kembanglangit-park menjadikan tempat wisata ini ramai dikunjungi pelancong. Utamanya Read more

Tak Kalah Kekinian, Muda-mudi Gelar Tahun Barunan di Desa

Wartadesa - Semarak menyambut datangnya pergantian baru bukan acap kali membuat kaum muda memutar otak untuk meramaikanya, berbagai pandangan rencana Read more

selengkapnya