close

Lingkungan

BencanaLingkungan

Cawet longsor akibat hujan deras

cawet

Pemalang, Wartadesa. – Hujan deras pada awal tahun 2020 membuat longsor terjadi di Desa Cawet, Kecamatan Watukumpul, Kabupaten Pemalang. Longsor memporak-porandakan talud depan rumah milik Subhan di Dukuh Kramat RT. 15/02. Rabu kemarin.

Keterangan dari Iptu M. Subagio, Kapolsek Watukumpul menyebut bahwa longsor terjadi saat hujan menggerus batu yang ditata tanpa semen yang dijadikan sandaran irigasi di jalan raya Cawet-Cikadu.

Usai longsor, belasan warga pada Kamis (02/01/2020) melakukan kerjabakti melakukan normalisasi saluran air dan mengevakuasi material longsoran batu.

Kepala desa setempat, Topik mengatakan bahwa pihaknya akan menggunakan anggaran dari pemerintah desa untuk memperbaiki talud tersebut secara permanen untuk mencegah longsor kembali terjadi. (Eva Abdullah)

selengkapnya
Hukum & KriminalKesehatanLayanan PublikLingkungan

Lagi! Limbah cair cucian jins dibuang ke kali

limbah1

Wonopringgo, Wartadesa. – Praktik “kotor” pengusaha cucian jins dengan membuang limbah cairnya langsung ke kali ditemukan kembali oleh warga Desa Pegaden Tengah, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan. Meski kali ini bukan pengusaha desa setempat, melainkan desa yang bersebelahan, dengan asal sumber limbah cair diatas aliran kali Desa Pegaden.

Rabu (18/12) malam, sehabis salat Isya tepatnya. Seorang warga Pegaden Tengah mencium aroma tidak sedap (kembali–setelah beberapa minggu aroma tersebut hilang dari sekitar mereka). Pemuda berinisial S ini kemudian turun ke kali yang melintas di tepi perkebunan tebu di desanya. Dengan senter seadanya, ia mencium bau tak sedap tersebut bersumber dari air yang mengalir. Iapun kemudian mengeluarkan ponselnya, merekam kondisi air yang kembali hitam dengan aroma tak sedap.

Beberapa warga lainnya kemudian mengecek sumber utama pembuangan limban cair cucian jins. Mereka mengambil sampel air yang kemudian dimasukkan ke dalam botol minuman kemasan, untuk dilakukan tes hari ini (Kamis, 19/12). Dengan menyusuri aliran sungai menuju ke arah Selatan. Beberapa pemuda Pegaden Tengah menyusuri sumber pembuang limbah cair cucian jins.

Baca: warga-segel-limbah-cucian-jins-boleh-dibuka-asal

dugaan-pencemaran-limban-cucian-jins-pegaden-tengah-diselidiki

limbah-cucian-jins-pegaden-tengah-disedot

Dugaan awal bahwa limbah sengaja dialirkan ke sungi oleh para pengusaha desa setempat yang sebelumnya disegel oleh warga, dan baru satu hari dibuka oleh Satpol PP Kabupaten Pekalongan tidak terbukti. Mereka menyusuri sungai makin ke Selatan. Dan ternyata, sumber limbah cucian jins yang langsung dibuang ke kali berasal dari salah satu pengusaha cucian jins Desa Rowokembu, Kecamatan Wonopringgo.

“Ternyata bukam dari ketiga loundry yang kemaren buka segel. (sumbernya) Dari loundry jeans Rowokembu pak… Ini juga masih kita selidiki juga.” Tutur Ahmad, salah seorang pemuda Pegaden dalam rombongan yang menyusuri kali Pegaden malam itu.

Meski sudah mengantongi nama, siapa yang membuang limbah cucian jins ke kali. Ahmad belum bersedia menyebut nama pengusaha tersebut. “Belum berani keluarkan nama pak. Besok saya akan konfirmasi dulu dengan anggota BPD (Pe)gaden dari dukuh Seputut,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, tiga usaha cucian jins di Desa Pegaden Tengah, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan akhirnya dibuka segelnya. Sebelumnya usaha tersebut disegel warga dalam sebuah aksi warga beberapa waktu silam. Pembukaan segel tersebut menurut Kepala Satpol PP Kabupaten Pekalongan karena sudah memenuhi persyaratan. Selasa (17/12).

Adapun tiga lokasi usaha cucian jins yang dibuka segelnya, dan diperbolehkan beroperasi kembali adalah usaha cucian jins milik Makmur, Sutikno dan Abdul Karim. Sebelum pembukaan segel, petugas yang datang  Kasat Pol PP Kab. Pekalongan Risnoto, Kasat Intelkam Polres Pekalongan AKP Susilo Kalis Rubiyono, S.H., Camat Wonopringgo diwakili Topo Harjanto, Danramil Wonopringgo Kapten Sunarto, Kapolsek Wonopringgo Iptu Akhmat Fauzi, Dinas Perkim dan LH Zahlul Khafizin, dan ketiga pengusaha, mendengarkan pembacaan berita acara surat perintah pembukaan segel.

Dalam berita acara telah dimuat diantaranya Surat Perintah Kepala Katuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran Kabupaten Pekalongan Nomor : 800/533/2019 tanggal 16 desember 2019 perihal pembukaan segel usaha laundry di Desa Pegadentengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan. Dasar pertimbangan surat perizinan usaha sudah lengkap, sudah memiliki bak penampungan limbah dan siap untuk menyedot, berita acara peninjauan bak tampung oleh Dinas perkim LH dan Pemerintah Desa serta masyarakat dan surat pernyataan yang dibuat pemilik usaha yang disaksikan oleh para pihak.

Pembukaan segel menurut petugas dalam rangka dilakukannya uji coba IPAL di masing-masing pengusaha guna menentukan atau mengetahui kelayakan IPAL yang dimiliki oleh para pengusaha. Pembukaan segel cucian jins di Desa Pegadentengah dilaksanakan secara simbolis di tempat usaha Makmur.

Diberitakan sebelumnya, warga menolak pembukaan segel usaha cucian jins  pada saat ujicoba sampel limbah yang akan diproses pada Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Ahmad, warga setempat saat dikonfirmasi Warta Desa, Ahad (15/12) mengatakan bahwa penolakan warga terhadap pembukaan segel pembuangan limbah cucian jins oleh warga, sebelum ada kesepakatan tertulis bahwa para pengusaha tidak akan mengalirkan limbahnya ke sungai.

“Poin (point)  intinya adalah rasa ketidakpercayaan warga kepada para pengusaha (tidak mengalirkan limbah ke sungai), karena pengalaman selama puluhan tahun warga selalu dibohongi (limbah tidak dialirkan ke sungai … tetapi tetap saja dialirkan ke sungai … utamanya pada malam dinihari,” ujarnya melalui sambungan telepon.

Ahmad menambahkan, sebelumnya berkali-kali para pengusaha berjanji tidak akan mengalirkan air limbah cucian jins ke sungai, tetapi masih saja mengalirkannya ke sungi.

Diketahui pada Kamis (12/12) perwakilan warga menyampaikan keberatan warga terhadap pembukaan segel saluran pembuangan limbah cucian jins Desa Pegaden Tengah dengan mendatangi kantor Camat Wonopringgo. Warga meminta camat setempat menandatangani pernyataan menolak membuka segel. Namun pihak kecamatan menolak menandatangani karena ingin berkoordinasi terlebih dahulu dengan pihak Satpol PP Kabupaten Pekalongan dan dinas terkait.

“Terkait pembukaan segel yang dikabarkan akan dibuka hari ini (Kamis),  perwakilan warga datang ke kecamatan meminta untuk menandatangani surat penolakan pembukaan segel cucian jins. Secara terbuka camat menolak terlebih dahulu untuk menandatangani surat penolakan tersebut dikarenakan camat ingin mengkoordinasikan surat penolakan tersebut terlebih dahulu kepada pihak satpol PP yang mempunyai wewenang dalam pembukaan segel,” lanjut Ahmad.

Ahmad menambahkan, jika untuk melakukan uji sampel limbah pada IPAL pengusaha cucian jins, warga meminta agar saluran yang disegel warga tidak dibuka. “Kalo cuman uji coba pembukaan IPAL dan juga mencari win solution (solusi bersama) dengan mendatangkan air limbah dari usaha cucian jins yang lain kemudian diproses di IPAL. Apabila sudah memenuhi syarat sesuai ketentuan yang berlaku maka warga dapat menyetejui pembukaan segel tersebut.” Tuturnya.

Warga juga meminta jika nantinya ada  pengusaha yang tetap melanggar, dengan membuang limbah tanpa diolah IPAL, usaha tersebut langsung di tutup oleh dinas atau instansi terkait.

Dalam kesepakatan sebelumnya saat pertemuan antara Dinas Perkim dan LH dengan warga, bahwa  uji coba harus menggunakan limbah yang bersumber dari usaha itu sendiri dan Satpol PP bersedia untuk menutup langsung apabila ada pengusaha yang melanggar.

Saat ini pembukaan segel saluran limbah cucian jins ditunda terlebih dahulu menunggu kesepakatan warga Pegaden Tengah dengan pengusaha. “Rencananya akan ada pertemuan lagi pada hari Rabu (18/12) untuk membuat kesepakatan bersama antara warga dengan pengusaha cucian jins,” pungkas Ahmad. (Eva Abdullah)

selengkapnya
Layanan PublikLingkungan

Segel limbah cucian jins Pegaden dibuka dengan pengamanan Polisi

buka segel

Wonopringgo, Wartadesa. – Tiga usaha cucian jins di Desa Pegaden Tengah, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan akhirnya dibuka segelnya. Sebelumnya usaha tersebut disegel warga dalam sebuah aksi warga beberapa waktu silam. Pembukaan segel tersebut menurut Kepala Satpol PP Kabupaten Pekalongan karena sudah memenuhi persyaratan. Selasa (17/12).

Adapun tiga lokasi usaha cucian jins yang dibuka segelnya, dan diperbolehkan beroperasi kembali adalah usaha cucian jins milik Makmur, Sutikno dan Abdul Karim. Sebelum pembukaan segel, petugas yang datang  Kasat Pol PP Kab. Pekalongan Risnoto, Kasat Intelkam Polres Pekalongan AKP Susilo Kalis Rubiyono, S.H., Camat Wonopringgo diwakili Topo Harjanto, Danramil Wonopringgo Kapten Sunarto, Kapolsek Wonopringgo Iptu Akhmat Fauzi, Dinas Perkim dan LH Zahlul Khafizin, dan ketiga pengusaha, mendengarkan pembacaan berita acara surat perintah pembukaan segel.

Dalam berita acara telah dimuat diantaranya Surat Perintah Kepala Katuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran Kabupaten Pekalongan Nomor : 800/533/2019 tanggal 16 desember 2019 perihal pembukaan segel usaha laundry di Desa Pegadentengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan. Dasar pertimbangan surat perizinan usaha sudah lengkap, sudah memiliki bak penampungan limbah dan siap untuk menyedot, berita acara peninjauan bak tampung oleh Dinas perkim LH dan Pemerintah Desa serta masyarakat dan surat pernyataan yang dibuat pemilik usaha yang disaksikan oleh para pihak.

Pembukaan segel menurut petugas dalam rangka dilakukannya uji coba IPAL di masing-masing pengusaha guna menentukan atau mengetahui kelayakan IPAL yang dimiliki oleh para pengusaha. Pembukaan segel cucian jins di Desa Pegadentengah dilaksanakan secara simbolis di tempat usaha Makmur.

Diberitakan sebelumnya, warga menolak pembukaan segel usaha cucian jins  pada saat ujicoba sampel limbah yang akan diproses pada Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Ahmad, warga setempat saat dikonfirmasi Warta Desa, Ahad (15/12) mengatakan bahwa penolakan warga terhadap pembukaan segel pembuangan limbah cucian jins oleh warga, sebelum ada kesepakatan tertulis bahwa para pengusaha tidak akan mengalirkan limbahnya ke sungai.

“Poin (point)  intinya adalah rasa ketidakpercayaan warga kepada para pengusaha (tidak mengalirkan limbah ke sungai), karena pengalaman selama puluhan tahun warga selalu dibohongi (limbah tidak dialirkan ke sungai … tetapi tetap saja dialirkan ke sungai … utamanya pada malam dinihari,” ujarnya melalui sambungan telepon.

Ahmad menambahkan, sebelumnya berkali-kali para pengusaha berjanji tidak akan mengalirkan air limbah cucian jins ke sungai, tetapi masih saja mengalirkannya ke sungi.

Diketahui pada Kamis (12/12) perwakilan warga menyampaikan keberatan warga terhadap pembukaan segel saluran pembuangan limbah cucian jins Desa Pegaden Tengah dengan mendatangi kantor Camat Wonopringgo. Warga meminta camat setempat menandatangani pernyataan menolak membuka segel. Namun pihak kecamatan menolak menandatangani karena ingin berkoordinasi terlebih dahulu dengan pihak Satpol PP Kabupaten Pekalongan dan dinas terkait.

“Terkait pembukaan segel yang dikabarkan akan dibuka hari ini (Kamis),  perwakilan warga datang ke kecamatan meminta untuk menandatangani surat penolakan pembukaan segel cucian jins. Secara terbuka camat menolak terlebih dahulu untuk menandatangani surat penolakan tersebut dikarenakan camat ingin mengkoordinasikan surat penolakan tersebut terlebih dahulu kepada pihak satpol PP yang mempunyai wewenang dalam pembukaan segel,” lanjut Ahmad.

Ahmad menambahkan, jika untuk melakukan uji sampel limbah pada IPAL pengusaha cucian jins, warga meminta agar saluran yang disegel warga tidak dibuka. “Kalo cuman uji coba pembukaan IPAL dan juga mencari win solution (solusi bersama) dengan mendatangkan air limbah dari usaha cucian jins yang lain kemudian diproses di IPAL. Apabila sudah memenuhi syarat sesuai ketentuan yang berlaku maka warga dapat menyetejui pembukaan segel tersebut.” Tuturnya.

Warga juga meminta jika nantinya ada  pengusaha yang tetap melanggar, dengan membuang limbah tanpa diolah IPAL, usaha tersebut langsung di tutup oleh dinas atau instansi terkait.

Dalam kesepakatan sebelumnya saat pertemuan antara Dinas Perkim dan LH dengan warga, bahwa  uji coba harus menggunakan limbah yang bersumber dari usaha itu sendiri dan Satpol PP bersedia untuk menutup langsung apabila ada pengusaha yang melanggar.

Saat ini pembukaan segel saluran limbah cucian jins ditunda terlebih dahulu menunggu kesepakatan warga Pegaden Tengah dengan pengusaha. “Rencananya akan ada pertemuan lagi pada hari Rabu (18/12) untuk membuat kesepakatan bersama antara warga dengan pengusaha cucian jins,” pungkas Ahmad. (Eva Abdullah)

selengkapnya
Hukum & KriminalLayanan PublikLingkunganSosial Budaya

8 Masalah di Kota Santri jadi sorotan FPB

fpb

Kajen, Wartadesa. – Delapan masalah krusial yang ada di Kabupaten Pekalongan mendapat sorotan dari Forum Pekalongan Bangkit (FPB) dalam hearing (dengar pendapat) bersama wakil rakyat di Ruang Komisi C DPRD, Kajen, Senin (16/12). Poin-poin yang menjadi sorotan saat dengar pendapat tersebut meliputi progres (capaian) pembagunan Pasar Kedungwuni, kasus dugaan korupsi dana Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT/Rastra–beras sejahtera), dan maraknya toko modern yang beroperasi meski belum mendapatkan ijin lengkap.

Selain itu, dengar pendapat juga menyoroti permasalahan limbah cucian jins, batik dan tekstil, tata kelola perijinan galian C, kebijakan transparansi APBD, pembangunan RSUD Kraton yang gagal lelang dan permasalahan yang muncul paska pelaksanaa Pilkades serentak di Kota Santri.

Ketua FPB, M Subkhi, pria yang akrab disapa Usup ini mengungkapkan kepada Warta Desa bahwa terkait pembangunan fisik Pasar Kedungwuni, pihaknya berharap agar penyelesaian pembangunan fisik, dan kontruksi bangunan pasar diharapkan tepat waktu, mutu dan sesuai prosedur.

“Terkait capaian pembangunan Pasar Kedungwuni, untuk menjadi pertimbangan dan kehati-hatian karena banyak temuan dari berbagai lembaga audit, penegak hukum, lembaga swadaya masyarakat maupun masyarakat langsung yang seringkali menemukan kegiatan proyek fisik konstruksi kurang / tidak tepat waktu, mutu dan prosedur yang disebabkan atau diawali dari schedule / jadwal pelaksanaan yang tidak sesuai rencana. Bahkan temuan tersebut menyertakan potensi penyimpangan,” ujar Usup.

Menurut Usup, potensi penyimpangan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti, proyek dinyatakan selesai dan dibayar 100% namun sejatinya belum selesai sepenuhnya; proyek dinyatakan selesai dan dibayar 100% namun sejatinya masih terdapat pekerjaan yang diselesaikan melewati masa kontrak; proyek dinyatakan selesai 100% namun sejatinya terdapat berbagai penurunan mutu konstruksi; proyek dinyatakan tidak selesai 100% namun tidak dilakukan prosedur pemutusan kontrak yang sesuai, dimana perusahaan penyedia jasa harus dicantumkan dalam daftar hitam dan jaminan pelaksanaannya harus dicairkan dan disetorkan kepada negara.

“Potensi tersebut  pada umumnya termonitor pada masa mendekati akhir kontrak yaitu akhir bulan desember pada setiap tahun anggaran.” lanjut Usup.

Masih menurut Usup, FPB secara khusus pada tahun 2019   menyoroti proyek-proyek fisik dengan nilai signifikan, yaitu Proyek Pembangunan Jembatan Kalikeruh dengan nilai sekitar 16 milyard rupiah, proyek pembangunan Pasar Kedungwuni senilai 28 milyar  rupiah lebih dan proyek pembangunan RSUD Kesesi senilai 9 milyar  rupiah.

“Ketiga proyek ini baik dari nilai anggaran, nilai manfaat maupun proses konstruksinya sangat strategis untuk diberi perhatian khusus. Namun demikian kami juga memiliki perhatian terhadap proyek-proyek lain yang tidak kalah penting, seperti proyek tribun timur stadion gemek kedungwuni, pembangunan pasar wiradesa, pembangunan gedung kominfo serta proyek-proyek lainnya.” Ucap Usup.

Sebagai LSM, lanjut Usup, pihaknya merasa tergugah untuk memberikan himbauan dengan tujuan demi kepentingan umum dan mencegah terjadinya berbagai potensi penyimpangan di kabupaten Pekalongan agar tercipta harmoni dalam tata kelola hubungan pemerintah daerah dan masyarakat.

selengkapnya
Layanan PublikLingkungan

Warga: Segel limbah cucian jins boleh dibuka asal?

segel warga dibuka

Wonopringgo, Wartadesa. – Penolakan terhadap pembukaan segel pembuangan limbah cucian jins Desa Pegaden Tengah, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan kembali menguat pada saat ujicoba sampel limbah yang akan diproses pada Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Ahmad, warga setempat saat dikonfirmasi Warta Desa, Ahad (15/12) mengatakan bahwa penolakan warga terhadap pembukaan segel pembuangan limbah cucian jins oleh warga, sebelum ada kesepakatan tertulis bahwa para pengusaha tidak akan mengalirkan limbahnya ke sungai.

“Poin (point)  intinya adalah rasa ketidakpercayaan warga kepada para pengusaha (tidak mengalirkan limbah ke sungai), karena pengalaman selama puluhan tahun warga selalu dibohongi (limbah tidak dialirkan ke sungai … tetapi tetap saja dialirkan ke sungai … utamanya pada malam dinihari,” ujarnya melalui sambungan telepon.

Ahmad menambahkan, sebelumnya berkali-kali para pengusaha berjanji tidak akan mengalirkan air limbah cucian jins ke sungai, tetapi masih saja mengalirkannya ke sungi.

Diketahui pada Kamis (12/12) perwakilan warga menyampaikan keberatan warga terhadap pembukaan segel saluran pembuangan limbah cucian jins Desa Pegaden Tengah dengan mendatangi kantor Camat Wonopringgo. Warga meminta camat setempat menandatangani pernyataan menolak membuka segel. Namun pihak kecamatan menolak menandatangani karena ingin berkoordinasi terlebih dahulu dengan pihak Satpol PP Kabupaten Pekalongan dan dinas terkait.

“Terkait pembukaan segel yang dikabarkan akan dibuka hari ini (Kamis),  perwakilan warga datang ke kecamatan meminta untuk menandatangani surat penolakan pembukaan segel cucian jins. Secara terbuka camat menolak terlebih dahulu untuk menandatangani surat penolakan tersebut dikarenakan camat ingin mengkoordinasikan surat penolakan tersebut terlebih dahulu kepada pihak satpol PP yang mempunyai wewenang dalam pembukaan segel,” lanjut Ahmad.

Ahmad menambahkan, jika untuk melakukan uji sampel limbah pada IPAL pengusaha cucian jins, warga meminta agar saluran yang disegel warga tidak dibuka. “Kalo cuman uji coba pembukaan IPAL dan juga mencari win solution (solusi bersama) dengan mendatangkan air limbah dari usaha cucian jins yang lain kemudian diproses di IPAL. Apabila sudah memenuhi syarat sesuai ketentuan yang berlaku maka warga dapat menyetejui pembukaan segel tersebut.” Tuturnya.

Warga juga meminta jika nantinya ada  pengusaha yang tetap melanggar, dengan membuang limbah tanpa diolah IPAL, usaha tersebut langsung di tutup oleh dinas atau instansi terkait.

Dalam kesepakatan sebelumnya saat pertemuan antara Dinas Perkim dan LH dengan warga, bahwa  uji coba harus menggunakan limbah yang bersumber dari usaha itu sendiri dan Satpol PP bersedia untuk menutup langsung apabila ada pengusaha yang melanggar.

Saat ini pembukaan segel saluran limbah cucian jins ditunda terlebih dahulu menunggu kesepakatan warga Pegaden Tengah dengan pengusaha. “Rencananya akan ada pertemuan lagi pada hari Rabu (18/12) untuk membuat kesepakatan bersama antara warga dengan pengusaha cucian jins,” pungkas Ahmad. (Eva Abdullah)

Terkait:

 

Limbah cucian jins di Pegaden Tengah disedot

Dugaan pencemaran limban cucian jins Pegaden Tengah diselidiki

 

 

selengkapnya
Layanan PublikLingkungan

Warga Coprayan tutup paksa pipa pembuang limbah cucian jins

tutup limbah

Buaran, Wartadesa. – Ratusan warga Desa Coprayan, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan memenuhi janjinya untuk menutup paksa saluran limbah cair cucian jins yang dibuang langsung tanpa diolah oleh pengusaha di Kelurahan Sapugarut, Jum’at (13/12). Sesuai kesepakatan sebelumnya, seluruh pengusaha cucian jins sepakat tidak membuang limbah cair sebelum diolah. Kesepakatan tersebut tertuang setelah aksi demo yang digelar warga Coprayan di Kantor Kelurahan Sapugarut pekan  lalu.

Keterangan dari Serka Sumarno, Babinsa Koramil 09/Buaran menyebutkan bahwa sekitar 100 orang warga Coprayan menuju ke sawah dan menutup pipa saluran pembuangan limbah cucian jins dengan memotong dan menutup lubang dengan penutup pipa.

Aksi dengan Korlap Tohiri dan Saiful Rohman tersebut mendapat pengamanan dari Babinsa Koramil setempat. Sumarno menambahkan bahwa pihanya menghimbau agar aksi warga dilakukan secara tertib, aman dan tidak memicu anarkisme.

 

Diberitakan Warta Desa sebelumnya, puluhan warga Desa Coprayan melakukan aksi unjukrasa menolak limbah cucian jins yang mengalir ke desanya. Mereka melakukan aksi di Balai Kelurahan Sapugarut, Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan, Senin (02/12).

Aksi demo dilakukan setelah tiga kali kesepakatan antara warga Desa Coprayan dengan pengusaha cucian jins Sapugarut tidak dijalankan.

Perwakilan warga akan menutup saluran limbah cucian jins dalam waktu satu pekan kedepan bila tuntutan mereka tidak dipenuhi. (Eva Abdullah)

selengkapnya
Lingkungan

Pengusaha di deadline 3 bulan untuk bangun IPAL

kaliloji

Pekalongan Kota, Wartadesa. – Pengusaha yang menghasilkan limbah di Kota Pekalongan ditenggat selama tiga bulan untuk membangun Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL), jika tidak, tahun 2020 mereka akan berhadapan dengan pihak kepolisian.  Demikian terangkum dalam kerjasama (MoU) antara Pemkot Pekalongan dengan pihak kepolisian. DLH akan menggandeng Bhabinkamtibmas untuk mengawasi dan menertibkan pihak-pihak yang melakukan pecemaran dan membuang limbah tanpa diolah, mulai tahun depan.

Purwanti, DLK Kota Pekalongan menyebut bahwa  pihaknya selama dua tahun terakhir ini telah melakukan pembinaan kepada pengusaha, namun saat disidak oleh tim Polda Jateng hingga saat ini pembuangan limbah tanpa diolah masih kerap terjadi, hingga pihaknya menggandeng pihak kepolisian melalui Bhabinkamtibmas untuk melakukan pengawasan dan penindakan.

Purwanti menambahkan, limbah yang mencemari sungai di Kota Pekalongan mayoritas berasal dari industri kecil rumahan. Adapun dari total limbah yang dihasilkan setiap hari, IPAL yang ada di Kota Pekalongan baru bisa menampung 50 persennya. Sedangkan sisanya terbuang begitu saja ke sungai. Sehingga, pihaknya mendorong agar para pelaku usaha dapat membuat IPAL komunal di lingkungannya masing-masing.

Selain itu DLH juga sudah menyiapkan sanksi bagi pembuang sampah sembarangan. Melalui Perwal yang dalam waktu dekat akan ditetapkan, pembuang sampah sembarangan akan dikenai sanksi kerja bakti membersihkan sampah maupun denda mulai dari yang terkecil sebesar Rp25 ribu hingga yang terbesar Rp300 ribu.

Sementara itu, Komisi D DPRD Kota Pekalongan meminta kepada DLH agar pengusaha yang tidak membuat IPAL agar usahanya ditutup. (Eva Abdullah)

selengkapnya
KesehatanLayanan PublikLingkungan

Catat! Industri di Kota Santri tidak boleh mencemari sungai

sampel air

Kajen, Wartadesa. – Sebagai kota batik, jins dan tekstile, Bupati Pekalogan, Asip Kholbihi mendeklarasikan industri di Kota Santri tidak boleh mencemari sungai. Sudah mahfum bila kondisi sungai di Pekalongan saat ini tidak dalam kondisi baik-baik saja. Industri batik printing, tekstil dan cucian jins disinyalir menyumbang pencemaran sungai–setidaknya selama ini.

Puncak dari kekecewan warga akan pencemaran sungai, dilakukan oleh warga Desa Pegaden Tengah, beberapa waktu lalu. Hingga akhirnya, beberapa industri cucian jins ditutup sampai mereka membuat IPAL atau meminta DLH untuk mengangkut limbah mereka. Dan, Kamis (24/10) pihak DLH melakukan pengecekan kadar air limbah yang ada di sungai Pegaden Tengah.

Kanit reskrim Polsek Wonopringgo Bripka Pipin Setio dan Kanit II Reskrim Polres Pekalongan bekerja sama dengan KLH Provinsi Jawa Tengah melakukan pengecekan pembuangan air limbah jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan.

Warga setempat berharap agar hasil pengecean tersebut diumumkan melalui surat resmi ke Kepala Desa dan disampaikan ke warga Pegaden Tengah.

Pencemaran kali di Pekalongan, tidak hanya terjadi di Pegaden Tengah saja. Hampir di seluruh sentra industri jins, batik printing dan tekstil terjadi hal serupa. Hanya saja, hingga saat ini warga belum menyuarakan keluhan mereka.

Komitmen Bupati Pekalongan yang diungkapkan dalam Kick-off Meeting (pertemuan) dan Focus Group Discussion (FGD–grup diskusi terfokus) Kajian Dampak dan Risiko Iklim Kota dan Kabupaten Pekalongan, di Hotel Santika Pekalongan, Kamis (24/10) terkait gerakan “Kaline Resik Rejekine Apik” patut diapresiasi dan dipantau warga dalam implementasinya.

“Kami sedang melakukan gerakan yang sudah mendapat apresiasi dari banyak pihak yaitu “Kaline Resik Rejekine Apik”. Program bersih-bersih sungai kita ini sudah dimulai sejak dulu. Termasuk untuk mencegah banjir, rob. Kami juga memoratorium pengadaan sumur dalam tanah. Saya membaca betul hasil penelitian DR. Andreas dari ITB bahwa salah satu penyebab rob adalah terlalu banyaknya sumber air dalam atau air bawah tanah (ABT) yang kita manfaatkan,” kata Asip.

Asip menambahkan bahwa pihaknya tahun ini mendeklarasikan bahwa seluruh produk industri tidak boleh mencemari sungai. Ia mengaku telah mengumpulkan 120 pengusaha pencucian jins agar mengolah limbahnya dengan IPAL. “Sebanyak 120 pemilik wash jeans sudah kami kumpulkan dan kami sudah punya solusinya bagaimana mengolah limbah. Pertama yang akan kita tertibkan adalah IPAL komunal maupun IPAL yang dimiliki sendiri oleh industri,” jelasnya.

Asip juga mengungkapkan bahwa pihaknya mempunyai 1,5 ribu hektar lahan yang disiapkan untuk kawasan industri. Kawasan tersebut disiapkan agar pembangunan yang dilakukan sesuai dengan tata ruang wilayah. Gong perang terhadap pencemaran sungai, sampah dan pembangunan berbasis pro-iklim telang dicanangkan. Tentu warga berharap hal tersebut diimplementasikan secara nyata. (Buono)

selengkapnya
Lingkungan

Hutan di Dukuh Plumbon terbakar

kebakaran hutan

Paninggaran, Wartadesa. – Kebakaran melalap hutan pinus petak 76 A, Blok Sidengkeng, RPH Winduaji, BKPH Paninggaran, KPH Pekalongan di Dukuh Plumbon, Desa Winduaji, Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan, Selasa (22/10).

Kebakaran terjadi petang hari, usai warga menjalankan sholat Maghrib, melihat hutan terbakar, salah seorang warga setempat melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Paninggaran. Aiptu Muhirwan dan Brigadir Andika Mahendra Pranggoni langsung menuju lokasi kebakaran.

Keterangan dari pihak kepolisian, kebakaran diduga akibat api dari tunggak pohon yang sebelumnya terbakar pada Jum’at (18/10) lalu.

Pemadaman api dilakukan oleh personil Polsek Paninggaran, Koramil Paninggaran, karyawan Perhutani serta warga sekitar hutan melalui tiga jalur, yaitu jalur arah Timur, jalur arah Barat dan jalur arah Selatan dengan skat bakar. Alat-alat yg digunakan antara lain gebyok, cangkul, sabit, parang, tongkat kayu dan bambu. (humas_pngrn)

selengkapnya
Lingkungan

Jurang jadi tempat pembuangan sampah warga

sampah

Paninggaran, Wartadesa. – Membuang sampah seenaknya masih sering kita jumpai di berbagai belahan kampung di Kota Santri. Seperti didapati oleh kontributor Warta Desa, Ilmie Yovanka di Dusun Mandelun, Desa Lambanggelun, Kecamatan Paninggaran Kabupaten Pekalongan, Rabu (16/10) kemarin.

Warga dusun setempat selama enam tahun terakhir membuang sampah di lokasi kawasan hutan pinus milik Perhutani. Banyaknya sampah warga yang dibuang di tempat tersebut, hingga meluber ke pinggir jalan. Padahal tempat tersebut bukan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah.

Saat kontributor Warta Desa mendekati lokasi pembuangan sampah, bau menyengat dan merusak estetika pemandangan lokasi sekitar yang hijau dan asri.

Keterangan dari warga setempat yang tidak bersedia disebut namanya, ia mengungkapkan bahwa, tidak melulu   warga Mandelun (yang membuang sampah disitu) tetapi juga pengguna jalan yang lewat beberapa kali terlihat membuang sampah di lokasi tersebut. Tempat pembuangan sampah ini sebenarnya adalah sebuah jurang dengan kedalaman sekitar 15 meter.

Dari pantauan kontributor Warta Desa, setelah enam tahun, kini gundukan sampah sudah hampir setara dengan tinggi jalan, menandakan jika gundukan sampah ini sudah setinggi kurang lebih 15 meter. Sangat disayangkan memang karena dibawah pembuangan sampah tersebut terdapat sumber mata air yang dimanfaatkan oleh penduduk untuk keperluan sehari-hari.

Menurut keterangan Muninggar, salah satu warga pengguna sarana air bersih yang juga ketua Rt 4 Dukuh Mandelun mengatakan dirinya pernah beberapa kali menyampaikan permasalahan sampah ini kepada Kadus Mandelun namun belum ada tindak lanjut.

Kadus Mandelun Sulastri, saat dihubungi kontributor Wartadesa mengatakan pihaknya juga sudah mengimbau kepada masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan seperti di sungai maupun di area hutan pinus milik perhutani tersebut, namun pihaknya juga mengaku kebingungan jika tidak ada alternatif tempat pembuangan sampah bagi masyarakat.

Sulastri menambahkan, dirinya akan mengusahakan untuk menyampaikan hal ini kepada kepala desa yang baru nanti mengingat sekarang posisi kepala desa masih kosong.

Hal yang sama juga disampaikan warga lain yang memanfaatkan air bersih dibawah tempat pembuangan sampah tersebut, Sanusi, mengatakan bahwa sebenarnya sudah berupaya mencegah masyarakat membuang sampah di area tersebut dengan membuat pagar bambu, namun rupanya hal tersebut tidak membuat masyarakat menjadi berhenti membuang sampah diarea tersebut. Bahkan kini pagar bambu yang ada dipinggir jalan tersebut telah hilang dicabut oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Jika hal ini dibiarkan, tentu akan berdampak terhadap kesehatan penduduk karena rembesan air dari sampah akan mengalir ke sumber mata air tersebut. Diperlukan kepedulian semua pihak, terutama pihak Pemerintah Desa Lambanggelun agar dapat menuntaskan masalah sampah ini.  (Ilmie Yovanka)

selengkapnya