Pemalang, Wartadesa. – Enam Anak Buah Kapal (ABK) kapal Minahasa yang berlayar dari pelabuhan Muara Angke Jakarta Utara menuju Kalimantan, hilang karena kapal karam dihantam ombak besar. Ahad (16/7).
Kapal Minahasa yang membawa 12 ABK tersebut tenggelam, enam orang dinyatakan hilang dan enam lainnya berhasil selamat.
Sebuah kapal nelayan yang membawa sejumlah nelayan dari Kota Tegal dan Pemalang terbalik di perairan Sulawesi. Akibatnya, enam orang dinyatakan hilang dan 6 lainnya berhasil selamat.
Korban ABK kapal Minahasa yang tenggelam, tercatat dari Tegal dan Pemalang, yakni, Vian Iswanto (22), warga RT 9 RW 11 Kelurahan Mintaragen, Yus, Toni, Dodo, dan Sukarno warga Kelurahan Panggung dan Warno berhasil selamat.
Sementara Yusuf Alinanda (33), Eko Iryono Kurniawan (27), dan Ageng Pambudi, warga Kota Tegal serta tiga orang yang diduga warga Pemalang belum diketahui nasibnya.
Menurut Warno (41), salah satu korban selamat, tidak lama setelah terhenti, tiba tiba muncul angin kencang disertai gelombang tinggi. Terjangan gelombang ini menyebabkan 12 ABK jatuh ke laut.
“Saat terjangan pertama semua ABK bisa kembali naik ke kapal. Tapi tidak lama kemudian diterjang ombak yang lebih besar kapal langsung terbalik,” ungkap Warno, Ahad (23/7), seperti dikutip dari detik.
Setelah terjangan kedua, tambah Warno, hanya enam orang yang bisa berkumpul. Mereka bertahan dengan serpihan badan kapal. Selama berada di tengah laut, mereka kerap jatuh saat ombak kembali menerjang.
“Kami dari jam 10 siang setelah kejadian, baru diketemukan pada jam 5 pagi menjelang matahari terbit. Kami tidak makan tidak minum,” tambah Warno.
Diceritakan pula, sebelum kapal tenggelam, kapten kapal sempat memberi kabar mengenai kecelakaan tersebut. Sehingga enam orang ini bisa selamat.
Usai ditolong, mereka kemudian diantar ke pelabuhan Tegal setelah menempung perjalanan selama dua hari satu malam. Menurutnya, kapal tenggelam di perairan utara Jawa, bukan di daerah Masalembo. Sebab jaraknya sekitar 24 jam perjalanan dari Muara Angke dengan kecepatan 2,1 knot.
“Kalau dari Masalembo, perjalanan ke Tegal mungkin bisa mencapai lima hari,” kata dia.
Sementara itu, Triswanto, orangtua Eko Iryono Kurniawan, salah satu dari 6 ABK yang saat ini masih dinyatakan hilang berharap agar pemerintah dan pemilik kapal terus berupaya melakukan pencarian. Pihak keluarga ABK menyayangkan sikap dari pemilik kapal motor Minahasa yang terkesan lepas tangan dengan tidak bertanggung jawab.
“Sampai saat ini pemilik kapal belum memberitahu perihal peristiwa tenggelamnya kapal motor Minahasa,” kata Triswanto. (WD, detik)










