close
Lingkungan

Menyingkap Tabir Sungai Blukar: Antara Pesona Ikonik dan Ancaman Banjir yang Kian Akrab

template berita foto warta desa

KENDAL, WARTA DESA.  – Bagi warga Kabupaten Kendal, nama Sungai Blukar bukan sekadar deretan air yang mengalir menuju Laut Jawa. Ia adalah urat nadi kehidupan, penyuplai tunggal bagi kemegahan Curugsewu yang menjadi ikon wisata kebanggaan daerah. Namun, belakangan ini, “sang naga air” dari Gunung Prau ini mulai menunjukkan sisi gelapnya. Ia tak lagi hanya membawa kesejukan, tapi juga kecemasan.

Akhir-akhir ini, Sungai Blukar seolah kehilangan kesabaran. Luapannya makin sering menyapa pemukiman warga dan merendam lahan pertanian di sepanjang alirannya, mulai dari hulu hingga muaranya di pesisir Kecamatan Kangkung. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi pada sungai purba ini?

Warisan Geologi: Karakter “Beringas” Sejak Lahir

Secara historis dan geologis, Sungai Blukar memang ditakdirkan memiliki karakter yang kuat dan responsif. Berhulu di Gunung Prau yang merupakan penyangga Dataran Tinggi Dieng, sungai ini membelah medan dengan gradien atau kemiringan yang cukup curam.

Struktur penyusun di bagian hulu didominasi oleh batuan vulkanik seperti Andesit, Breksi, dan Lava lapuk. Ciri khas batuan vulkanik yang lapuk adalah sifat tanahnya yang gembur namun mudah longsor saat diguyur hujan deras. Secara alami, tanah di sekitar hulu Blukar memiliki tingkat runoff atau limpasan permukaan yang tinggi.

Masuk ke bagian tengah, sungai ini melintasi zona kapur dan sedimen tua yang sangat mudah tererosi. Dalam kacamata geologi, Blukar adalah sistem sungai stadium dewasa dengan material batu-batu besar yang membulat. Keberadaan batu-batu besar ini menjadi bukti otentik bahwa sejak ribuan tahun lalu, Blukar adalah sungai dengan energi aliran yang dahsyat, mampu menyeret material masif saat banjir melanda.

Ketika Hutan Tak Lagi Menjadi “Spons”

Jika karakter alaminya memang responsif, mengapa frekuensi luapannya kini jauh lebih sering dibanding dua atau tiga dekade lalu? Jawabannya ada pada perubahan wajah lahan.

Dahulu, hutan lebat di lereng Gunung Prau berfungsi sebagai “spons” raksasa yang menyerap air hujan (infiltrasi). Namun kini, pemandangan itu mulai memudar. Terjadi perambahan hutan dan perubahan vegetasi alami secara masif. Tanaman keras berakar dalam yang berfungsi mengikat tanah, justru diganti dengan tanaman pertanian semusim demi keuntungan jangka pendek.

Pengerasan permukaan akibat pembangunan jalan dan pembukaan lahan membuat air hujan tak lagi sempat meresap ke dalam tanah. Begitu jatuh ke bumi, air langsung meluncur menuju badan sungai. Akibatnya, debit air sungai bisa melonjak drastis dalam waktu yang sangat singkat.

“Dulu kalau hujan seharian, air sungai naik perlahan. Sekarang, hujan dua jam saja airnya sudah sampai ke bibir tanggul,” ungkap salah satu warga pinggiran sungai.

Penyakit Kronis: Sedimentasi dan Sampah

Masalah tak berhenti di hulu. Energi aliran yang tinggi membawa serta “oleh-oleh” dari atas: batu andesit besar, kapur lapuk, pasir, hingga lumpur pekat. Ditambah lagi dengan perilaku buruk pembuangan sampah ke aliran sungai.

Kombinasi erosi lahan dan sampah ini menyebabkan sedimentasi akut. Dasar sungai mengalami pendangkalan hebat. Ruang yang seharusnya diisi oleh air, kini dipenuhi oleh material sedimen. Akibatnya, kapasitas tampung sungai berkurang drastis. Ibarat sebuah gelas yang diisi pasir hingga setengahnya, maka sedikit saja air ditambahkan, ia akan meluap keluar.

Perubahan Iklim yang Ekstrem

Faktor manusia diperparah oleh fenomena alam global. Pola hujan di Pulau Jawa kini berubah menjadi lebih ekstrem. Hujan dengan intensitas sangat tinggi kini sering turun dalam durasi yang singkat. Bagi sungai tipe vulkanik seperti Blukar, pola hujan seperti ini adalah “resep sempurna” untuk memicu banjir bandang atau luapan cepat yang merusak.

Kesimpulan: Mitigasi atau Membiarkan?

Jika ditarik benang merah, seringnya Sungai Blukar meluap saat ini adalah hasil perkawinan antara karakter geologi alami dengan tekanan aktivitas manusia.

Pembiaran terhadap deforestasi di kawasan hulu dan tengah terlihat begitu gamblang. Penebangan pohon secara terang-terangan dan penggantian tanaman keras menjadi tanaman sayur di lereng curam seolah menjadi pemandangan biasa.

Kini, pertanyaannya kembali kepada kita semua: Apakah masyarakat dan pemerintah akan terus menganggap kondisi ini sebagai “suratan takdir” yang biasa saja? Ataukah akan ada langkah mitigasi nyata untuk mengembalikan fungsi hutan dan mengeruk sedimentasi yang ada?

Tanpa tindakan tegas untuk menghentikan perusakan di hulu, Sungai Blukar akan terus mengirimkan “pesan” berupa banjir yang kian parah. Curugsewu mungkin masih akan tetap indah, namun masyarakat di sepanjang aliran Blukar harus bersiap hidup dalam bayang-bayang luapan air yang tak lagi ramah. ***

Pewarta: Andi Gunawan

Editor: Buono

Terkait
Pasien miskin yang dipulangkan RSUD Soewondo akhirnya meninggal

Kendal, Wartadesa. - Toha (60),  pasien miskin, pemegang Kartu Indonesia Sehat, warga Rt. 05 Rw. 03 Dusun Wonokerto, Desa Sendangdawung Read more

Kabupaten Pekalongan raih Adipura, setelah penantian panjang

Jakarta, Wartadesa. - Kabupaten Pekalongan dinobatkan sebagai penerima penghargaan Adipura Tahun 2017. Penghargaan tersebut diberikan kepada daerah paling bersih tingkat Read more

Ribuan warga Pekalongan tumpah ruah, meriahkan pawai Adipura

Kajen, Wartadesa. - Ribuan warga Kota Santri tumpah ruah memenuhi sepanjang jalan sekitar Kajen. Mereka tampak antusias melihat arak-arakan (pawai) Read more

Dua Kelurahan kekeringan, Kota Pekalongan darurat bencana kekeringan

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Pemerintah Kota Pekalongan menetapkan darurat bencana kekeringan mulai 1 Juli hingga 31 Oktober 2017. Penetapan tersebut Read more

Wartawan Warta Desa dilarang menerima suap atau sogokan dalam bentuk apapun, termasuk uang, barang, atau fasilitas, yang dapat mempengaruhi independensi pemberitaan. Jika menemukan hal tersebut, mohon difoto dan dilaporkan kepada redaksi dan pihak kepolisian

Tags : kali blukarKendal