close
FeminisiaSosial Budaya

Perempuan di Kabupaten Pekalongan lebih banyak ajukan cerai, mengapa?

ilustrasi cerai
Ilustrasi. Foto: Female

Kajen, Wartadesa. – Kasus gugatan perceraian di Kabupaten Pekalongan lebih didominasi oleh aduan dari pihak perempuan. Pengadilan Agama Kota Santri selama tahun 2018 mencatat dari 2.256 kasus perceraian, 1.391 diajukan pihak perempuan sedang sisanya 465 diajukan pihak laki-laki.

Menurut Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Kajen, Aris Setyawan, penyebab gugatan perceraian adalah pertengkaran sebanyak 836 kasus, faktor ekonomi sebanyak 646 kasus dan meninggalkan pasangan sebanyak 307 kasus.

“Penyebab kasus perceraian pada tahun 2018 adalah karena perselisihan dan pertengkaran terus menerus yaitu sebanyak 839, kedua faktor ekonomi 646, meninggalkan salah satu pihak 307, kekerasan 1 kasus, cacat badan 1 kasus, dan judi 1 kasus,” ujar Aris kemarin.

Menurut Aris perbandingan permohonan cerai dari pihak perempuan masih mendominasi dari tahun ke tahun. Itu artinya, perempuan lebih banyak meminta cerai dibanding laki-laki.

Pihak Pengadilan Agama selalalu mengupayakan perdamaian terhadap kedua belah pihak sejak sidang pertama hingga pembacaan putusan pengadilan. Jika mediasi berhasil, maka perkara bisa dicabut. Namun sayangnya, sebagian besar perkara yang dimediasi itu gagal untuk rujuk, dan telah mencapai putusan cerai. Tutur Aris.

Perceraian Beban Berat bagi Anak

Perceraian orang tua akan berakibat pada anak. Mereka akan merasa ketakutan menghadapi apa yang akan terjadi dalam hidupnya ketika orang tua mereka bercerai.

Menurut Komisioner Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Rita Pranawi dalam sebuah diskusi yang dihelat Konde Institute (konde.co) Sabtu 28 Mei 2016 lalu, dalam setiap perceraian, orang tua wajib mempertimbangkan perasaan anak.  Anak korban perceraian akan cenderung merasa bingung, takut dan malu.

“Sejumlah kasus misalnya, anak harus memilih antara ayah atau ibunya. Setelah itu, ia tertutup aksesnya untuk bertemu satu diantaranya. Ada yang seminggu tinggal di ibu lalu seminggu kemudian diambil ayahnya dalam suasana pertengkaran yang hebat. Bahkan ada yang dipaksa pindah sekolah karena diambil oleh orangtuanya secara paksa. Ini menunjukkan bahwa selain mereka dipisahkan dengan salah satu orangtuanya, hak pendidikan anak juga jadi terabaikan. Anak-anak tidak pernah ditanya, apa maunya dan tidak pernah diterangkan apa maksud dari semua ini?” ujar Rita Paranawati dikutip dari konde.co.

Menurut Rita, orang tua yang bercerai perlu menjelaskan kepada anak secara baik-baik, mengapa mereka bercerai. “Anak harus dilibatkan dalam seluruh putusan-putusan orangtua. Apalagi perceraian dimana masyarakat Indonesia masih menganggap tabu. Anak sering ditanya tetangga atau temannya, mengapa orangtuamu bercerai? Tak jarang mereka kemudian dikucilkan karena perceraian ini. Jangan sampai anak-anak terombang-ambing jiwanya.” Lanjutnya.

Selain berimplikasi  (berdampak) terhadap anak, perceraian selalu berimplikasi pada perempuan. Menurut psikolog Universitas Indonesia, Kristi Poerwandari, banyak perempuan yang bingung selepas bercerai dengan pasangannya.

“Banyak single mother kemudian mengalami ini. Hidup yang tiba-tiba berubah ini yang kemudian harus disesuaikan secara cepat, karena ia mesti bekerja sambil menenangkan anaknya yang tiba-tiba melihat ayahnya tidak ada di rumah. Banyak perempuan yang mengalami jatuh bangun dalam kondisi ini. Luka batinya banyak dan kemudian menjadi emosi terhadap dirinya sendiri dan anaknya.” papar Kristi.

Menurut Kristi, perempuan cenderung merasa bersalah selepas perceraian. “Banyak perempuan yang kemudian didera perasaan bersalah. Apa yang salah dengan dirinya sampai pasangannya melakukan tindakan itu? ia ingin bicara dengan orang lain namun takut salah, jangan-jangan malah tidak didukung karena perceraian memang banyak yang masih menganggap tabu,” ujar Kristi Poerwandari.

Proses perceraian bisa berjalan secara mudah, namun yang paling sulit dilakukan adalah menjelaskan kepada anak-anak mengapa salah satu diantara pasangan harus meninggalkan rumah. Selain mereka harus kehilangan salah satu oran tua, banyak kasus perpisahan menjadi penyebab anak berpisah dari saudaranya.

Perpisahan jelas  sama sekali tidak mengenakkan, namun dengan selalu melibatkan anak dan orangtua yang bertoleransi, perceraian bisa dilakukan secara baik-baik. (WD, diolah dengan sumber dari konde)

Tags : ceraicerai mengapaPekalonganperempuan