Bojong, Wartadesa. – Dampak buruk pembangunan jalan tol ruas Pemalang-Batang semakin dirasakan oleh warga. Meski berkali-kali warga melakukan aksi turun jalan untuk menuntut perbaikan jalan rusak dan dampak lainnya kepada warga, namun selesai aksi, jalan hanya ditambal patah-patah, tidak menyeluruh. Akibatnya jalan masih saja rusak, berlubang dalam dan berlumpur ketika diguyur hujan.
Penampakan pagi ini, Kamis (01/02) di jalan raya Bojong-Wiradesa, akibat hujan deras sejak semalam hingga pagi tadi, terjadi kemacetan total pada kedua arah ruas jalan tersebut. Jalan yang rusak, berlubang dan penuh dengan kubangan lumpur menjadikan ruas jalan tersebut macet parah. Bahkan dilakukan rekayasa jalan berupa buka-tutup pengguna jalan, agar kemacetan tidak semakin parah.
Bahkan, kemacetan parah tidak hanya terjadi pagi ini saja, sehari sebelumnya, akun media sosial Kecamatan Bojong mengunggah foto kemacetan ruas jalan Bojong-Wiradesa, Rabu (31/01) sore. “Macet di jalan raya bojong lor, buka tutup karena jalan sebagian rusak parah #hatihatisoreini,” tulis akun tersebut.
Menurut Sakdullah, warga Wiradesa, warga mesti melakukan aksi besar-besaran agar pelaksana jalan tol tahu kepedihan warga, “Mari demo besar-besaran biar pelaksana tol tahu kepedihan masyarakat yang mereka tidak tahu atau tidak mau tahu,” tulisnya.
Warga Bojong, Zaki, pun merasakan dampak buruk pembangunan tol berkepanjangan, utamanya bagi warga yang mempunyai usaha di sepanjang jalan tersebut, “Polusi udara,..kotor berdebu…Tembok do retak-retak opo meneh yo akeh pokoe. Sengsoro wes pokoe,.” tulisnya.
Sementara itu, Didiek Harahap, warga Ketitang berharap agar pihak terkait memperhatikan kebutuhan warga, “Bapak Bupati Asip Kholbihi pipun niki….
Bapak Gubernur Ganjar Pranowo pipun niki…
Bapak Presiden Jokowi pipun niki….
Yang punya gawe Waskita Karya, tolong diperhatikan kebutuhan masyarakat. Masyarkat butuh akses transportasi yang lancar untuk beraktifitas.
Slogan #Jalan_Halus_Rejeki_Mulus tdk bisa terwujud di wilayah Kecamatan Bojong.
#Jalan_Rusak_Rejeki_???????” Tulisnya. (Eva Abdullah)










