close
kisah reza

Tirto, Wartadesa. – Nama lengkap bocah berusia delapan tahun itu Azizatun Reza. Ia biasa disapa Resa, tinggal di sepetak kamar bersama ibunya, Ida Fatmawati (42) di rumah saudaranya Desa Samborejo Rt. 13/05, Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan. Reza dan ibunya terpaksa menumpang di rumah saudaranya, lantaran belum memiliki rumah sendiri.

Reza menderita cerebal palsy sejak lahir ( Cerebral palsy atau lumpuh otak adalah penyakit yang menyebabkan gangguan pada gerakan dan koordinasi tubuh). Diusianya yang sudah delapan tahun, Reza belum bisa berjalan, ataupun melakukan aktivitas seperti anak-anak seumurannya.

Ibunya, Ida Fatmawati selalu mengendong Reza  kemanapun ibunya pergi, begitupun disaat ibunya bekerja Reza selalu menemani. Bahkan ketika harus kontrol ke rumah sakit dengan jarak yang lumayan jauh, sang ibu harus berjalan kaki sambil menggendong Reza, karena tak ada uang untuk membayar ojek ataupun angkutan umum.

Ayah Reza meninggal satu tahun yang lalu dalam sebuah kecelakaan. Kini Ibu Reza berjuang sendiri dengan bekerja sebagai buruh nyolet (mewarnai kain batik) dengan penghasilan yang tak menentu.

Tak bisa dibayangkan begitu berat ujian yang harus mereka lalui. Hingga malu rasanya diri ini apabila masih sering mengeluh.

Dari kisah mereka, aku mendapatkan guru kehidupan yang membuatku sadar akan arti rasa yyukur yang selama ini terabaikan.  Ampuni hamba ya  Robb…. (Haria Sulistiyaningsing)

 

Haria Sulistiyaningsih adalah penggiat penyakit gagal jantung bawaan, tinggal di Desa Tangkil Kulon, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan. Ia aktif di komunitas tersebut di wilayah Pemalang, Pekalongan dan Batang.

Editor: Buono

Tags : kisah rezaPekalonganpenyakit jantung bawaanTirto