close

Lingkungan

Layanan PublikLingkunganSosial Budaya

Krisis air bersih di Kota Santri berlanjut

dropping air bersih

Kajen, Wartadesa. – Musim kemarau panjang di wilayah Kota Santri membuat krisis air bersih berkepanjangan. Bulan Juli 2019 lalu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pekalongan mengungkapkan bahwa krisis air bersih mencapai 11 titik di Kota Santri. Hingga saat ini, luasan wilayah yang mengalami krisis air bersih bertambah.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pekalongan, Budi Raharjo mengatakan, sebanyak enam desa masuk dalam wilayah krisis air bersih, hingga September 2019. Ia mengatakan, enam desa tersebut meliputi Kelurahan/Kecamatan Sragi, Kecamatan Kesesi, Desa Pecakaran, Kecamatan Wonokerto, Desa Tanjungsari, Kecamatan Kajen, Desa Rowocacing, Kecamatan Kedungwuni, Kecamatan Wonopringgo dan Desa Legokgunung.

Budi Raharjo mengungkapkan bahwa beberapa desa sudah mengajukan permintaan bantuan air bersih. Menurutnya permintaan bantuan air bersih makin meningkat, seperti Kelurahan Sragi, Desa Kesesi, Desa Tanjungsari, Kecamatan Kajen, Desa Rowocacing, Kecamatan Kedungwuni, Desa Legokgunung dan Kecamatan Wonopringgo.

Untuk memenuhi permintaan bantuan air bersih, tambah Budi Raharjo, pihaknya telah mengirimkan 10 tangki air di Kelurahan Sragi, 17 tangki di Desa Kesesi, 6 tangki di Desa Pecakaran dan masing-masing  2 tangki di Desa Tanjungsari Kajen dan Desa Rowocacing Kedungwuni.

“Hingga Sabtu kemarin kami sudah dropping 37 tangki di lima desa, atau sekitar 185 ribu liter air. Ini belum termasuk dropping pada hari Minggu di Dukuh Gembyang, Kelurahan Sragi, dan di Dukuh Manggal, Desa Legokgunung, Kecamatan Wonopringgo,” ujar Budi Raharjo.

Sementara itu, pihak Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Pekalongan menyarankan agar warga yang membutuhkan bantuan air bersih untuk membuat surat pengajuan resmi melalui pihak pemerintah desa. Anjuran tersebut dikemukakan saat Warta Desa memposting permohonan dropping air bersih yang dikirimkan warga Desa Kesesi, dan diunggah di laman media sosial  Warta Desa.

Diberitakan Warta Desa pada Juli 2019 sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pekalongan mengungkapkan bahwa sebanyak 11 titik rawan kekurangan air pada musim kemarau tahun ini. Kesebelas titik rawan tersebut berada di Desa Kesesi, Ujungnegoro, Luraging, Pangkah, Kedungkebo, dan Pegandon.

Kepala BPBD setempat, Budi Rahardjo, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan pemetaan daerah rawan kekeringan untuk mengatisipasi dan melakukan dropping (penyaluran) air bersih. “Pemetaaan daerah rawan kekeringan ini untuk memudahkan pemkab melakukan antisipasi dan penyaluran air bersih pada warga yang berada di wilayah itu,”  ujarnya, Jum’at (12/07).

Menurut Budi Rahardjo, pihaknya telah berkoordinasi dengan PMI dan PDAM dalam antisipasi dampak kekeringan tersebut. “Secara lisan, kami sudah berkomunikasi dengan PMI dan PDAM karena rencananya rapat baru dilakukan minggu ini. Jika nanti ada permohonan bantuan droping air agar pihak terkait siap menyalurkan air bersih,”  tambahnya.

Budi Rahardjo mengatakan bahwa bagi warga yang mengalami kesulitan air bersih dapat mengajukan permohonan bantuan dropping air ke BPBD.  “Biasanya jika ada masyarakat yang membutuhkan air, mereka langsung menghubungi pemkab. Yang jelas, kita siap menyalurkan air bersih pada warga tanpa harus melalui prosedur yang ‘njlimet’ (sulit),” pungkasnya. (Eva Abdullah)

Terkait
Terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, dua anak meninggal

Tirto, Wartadesa. - Dua saudara sepupu terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, Senin (01/01) sekitar pukul 11.35 WIB. Kedua bucah Read more

Gudang oven pabrik kayu lapis di Karanganyar ludes terbakar

Karanganyar, Wartadesa. - Gudang Oven Kayu Lapis PT Duta Albasy di Jalan Raya Kulu Asri, Desa Kulu Kecamatan Karanganyar Kab. Read more

Rusak, Jalan Raya Ketitang-Sedayu dikeluhkan warga

Bojong, Wartadesa. - Kerusakan Jalan Raya Ketitang (Bojong) - Sedayu (Wonopronggo) dibeberapa titik dikeluhkan warga, musim penghujan menambah kondisi jalan Read more

Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

selengkapnya
Layanan PublikLingkunganSosial Budaya

Hati-hati, buaya tampak di Kali Comal

boyo comal

Pemalang, Wartadesa. – Warga seputaran Kali Comal dibuat geger lantaran muncul penampakan buaya di sekitar bantaran Kali Comal, Selasa (03/09) sekitar pukul 10.45 WIB. Meski sebelumnya warga beberapa kali melihat penampakan buaya tersebut, namun kali ini sang buaya agak lama menampakkan dirinya di bantaran kali Gang Mawar 1, 3 dan 4 Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang.

Saksi mata menuturkan bahwa buaya mucul di permukaan sekitar pukul 10.45 sampai dengan pukul 11.25 WIB. Ia menambahkan bahwa warga setempat sudah beberapa kali melihat munculnya buaya sejak beberapa hari sebelumnya.

Penampakan buaya yang lumayan lama ini tentu saja meresahkan warga. Kasus tersebut kemudian dilaporkan kepada pihak muspika setempat. Pihak Muspika Kecamatan Comal langsung mengecek ke lokasi munculnya buaya. Mereka menghimbau warga untuk  berhati hati dan untuk sementara menjauhi aktifitas di dekat bantaran kali Comal.

Hadir dalam penininjauan Fauzan Camat Comal, AKP Tarhim   Kapolsek Comal   dan Lettu Cba Supardi Danramil 04/Comal,  juga  Ahmad Najib  Kasi Trantib Kecamatan Comal, untuk segera mengambil tindakan.

“Kami Segera menindak lanjuti munculnya buaya tersebut supaya segera dilaksanakan penangkapan terhadap buaya tersebut dan dikoordinasikan dengan unsur terkait” Ujar Kapolsek Comal, AKP Tarhim, Selasa (03/09).

Fauzan, Camat Comal mengatakan bahwa pihaknya akan segera melaporkan kejadian tersebut ke Dinas Observasi dan Lingkungan Hidup agar segera ditindaklanjuti dan tidak makan korban.  (Eva Abdullah/Eky Diantara)

Terkait
Terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, dua anak meninggal

Tirto, Wartadesa. - Dua saudara sepupu terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, Senin (01/01) sekitar pukul 11.35 WIB. Kedua bucah Read more

Gudang oven pabrik kayu lapis di Karanganyar ludes terbakar

Karanganyar, Wartadesa. - Gudang Oven Kayu Lapis PT Duta Albasy di Jalan Raya Kulu Asri, Desa Kulu Kecamatan Karanganyar Kab. Read more

Rusak, Jalan Raya Ketitang-Sedayu dikeluhkan warga

Bojong, Wartadesa. - Kerusakan Jalan Raya Ketitang (Bojong) - Sedayu (Wonopronggo) dibeberapa titik dikeluhkan warga, musim penghujan menambah kondisi jalan Read more

Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

selengkapnya
EkonomiLingkungan

Melihat dari dekat warga Mendolo memanen madu hutan

memanen madu

Lebakbarang, Wartadesa. – Tidak ada yang tahu secara detil, sejak kapan kaum lelaki di Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang, Kabupaten Pekalongan memiliki kemampuan dan tradisi turun-temurun memanen madu hutan.

Menurut penuturan warga dari penelusuran Tim Swaraowa, praktik memanen madu hutan sudah dilakoni warga turun-temurun. Awalnya mereka memanen madu untuk dikonsumsi sendiri, kini bergeser menjadi tambahan penghasilan, diluar dari hasil pertanian.

Harga madu hutan yang cukup tinggi menjadikan komoditas ini mulai diburu warga. Mereka memanen madu dengan mengambil sarang madu saja dan meninggalkan bagian anakan lebah.

Namun ada pula praktik yang tidak memperhatikan keberlangsungan lebah madu, dua dekade terakhir, menurut penelurusan Swaraowa, ada beberapa warga yang memanen pulpa (anakan) lebah madu lantaran kaya protein. Dulu pupa/pulpa tak laku, kini dapat menghasilkan uang.

Satu sarang lebah madu dapat menghasilkan 20 kilogram madu. Hasil diskusi grup terfokus (focus group disscussion-FGD) warga Desa Mendolo dengan Swaraowa, diketahui bahwa  sedikitnya ada lebih dari 40 jenis tanaman sumber pakan bagi lebah hutan. Salah satu sumber pakan lebah yang cukup dominan adalah ‘kayu babi’ –sebutan warga setempat.  Jenis lainnya seperti kayu sapi, pakel (mangga), dan durian.

Warga Mendolo biasanya memanen madu pada bulan Juli dan setelahnya. Warga nyaris tiap hari masuk hutan untuk mencari keberadaan sarang lebah. Mereka membentuk tim-tim kecil. Sebuah tim pemanen madu terdiri dari dua atau lebih anggota tim. Satu orang berperan sebagai pemanjat dan pengambil sarang, sedangkan sisanya menjadi asisten. Menyiapkan peralatan, dan membantu proses panen madu.

Alat-alat yang digunakan antara lain sige, upet, pisau/parang, karung, tali, ember, dan saringan. Sige adalah bambu yang digunakan untuk melakukan pemanjatan, terdiri dari dua bagian yaitu banthol (pengait), yang akan disambung dengan lonjoran (jumlahnya bisa lebih dari satu batang tergantung ketinggian sarang yang dipanjat).

Upet adalah bahan pembuat asap. Biasanya upet dibuat dari dedaunan yang diikat, kemudian dibakar di bagian ujungnya. Hasil pembakaran dedaunan yang masih agak basah ini menghasilkan asap untuk membuat lebah lebih tenang.

Pemanjat memotong bagian kepala sarang yang berisi madu. Bagian brood yang berisi telur, larva dan pupa dibiarkan. Harapannya sarang akan kembali terisi madu dan nantinya bisa dipanen kembali. Dengan cara seperti ini, pemanenan bisa dilakukan dua atau tiga kali untuk setiap sarang.

Teknik pemanenan ini relatif aman bagi keberlanjutan koloni-koloni lebah. Hasil panen dari tiap sarang sangat bervariasi. Bila beruntung bisa lebih dari 10 botol ukuran 650ml, dan kalau tidak beruntung bisa pulang dengan tangan hampa.

Musim puncak, panen madu di Desa Mendolo pada kisaran bulan Juli hingga Oktober. Di Desa Mendolo sendiri saat ini ada delapan  orang pengepul lokal, yang menampung hasil panen madu dari para pemanen.

Selain madu, produk turunan dari lebah madu adalah lilin lebah.  Lilin diekstrak dari sisa perasan sarang madu yang dipanaskan hingga mencair, kemudian disaring menggunakan kain. Lilin cair ini setelah dingin akan mengeras membentuk balok-balok lilin. Harga jual lilin mentah ini sekitar Rp. 50 ribu.

Produk lebah lain yang potensial namun belum termanfaatkan adalah beepollen (roti lebah). Beepollen dihasilkan oleh fermentasi serbuk sari bebungaan yang disimpan di sarang lebah.

Prakti memanen madu yang dilakukan oleh warga Desa Mendolo yang memperhatikan kelestarian alam, dengan meninggalkan pupa/pulpa/anakan lebah patut diapresiasi. Tak kalah pentingnya selain madu, peran lebah sebagai serangga penyerbuk ini tidak dapat digantikan oleh manusia dengan alat apapun, pollinasi. (Diolah dari sumber Swaraowa)

Terkait
Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

Gunakan gas bersubsidi, Hotel ini kena sidak

Pemalang, Wartadesa. - Hotel Panorama Randudongkal Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah kedapatan menggunakan tabung gas elpiji bersubsidi ukuran tiga kilogram, alias Read more

Harga lombok di pasar tradisional Pekalongan tembus 40 ribu

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Harga lombok atau cabai di Kota Pekalongan dan sekitarnya tembus higga Rp. 32 ribu perkilogram, bahkan Read more

Warga Gondang pertanyakan hasil pajak parkir pasar

Pemalang, Wartadesa. - 50 pemuda Desa Gondang Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah mempertanyakan hasil pajak parkir pasar desa. Mereka Read more

selengkapnya
Layanan PublikLingkungan

Pemkab Pekalongan hentikan pendirian sumur dalam

pamsimas

Kajen, Wartadesa. – Pemerintah Kota Santri bakal menghentikan penambahan sumur dalam baru di Kabupaten Pekalongan. Sumur dalam ditengarai sebagai penyebab merosotnya muka air tanah di Pekalongan. Berdasarkan hasil penelitian Institut Teknologi Bandung (ITB) Pekalongan mengalami penurunan tanah rata-rata 10-20 centimeter pertahun.

Kasubbid Infrastruktur Bapppeda dan Litbang Kabupaten Pekalongan, Ismail, Rabu (28/08) kemarin mengungkapkan bahwa penurunan muka tanah di Pekalongan terjadi lantaran eksploitasi air tanah dengan maraknya sumur bor.

“Penyebabnya adalah eksploitasi air tanah dalam dengan banyaknya sumur bor. Kemudian jenis tanah di wilayah pesisir, yakni tanah jenis aluvial,tanah jenis ini tergolong berusia muda karena terbentuk dari proses sedimentasi sungai selama ratusan tahun, sehingga strukturnya belum kuat atau matang,” ujar Ismail.

Ismail tidak menepis bahwa di Kota Santri, sumur dalam (sumur bor) terbanyak dari PDAM Kota Pekalongan yang berada di Kabupaten Pekalongan dan sumur bor Program Pamsimas. Diketahui, program Pamsimas ini dilakukan di banyak desa/kelurahan di Kabupaten Pekalongan.

“Regenerasi air dalam ini tidak mudah, lama ngisinya lagi, maka growong. Selain tadi tanah baru dan growong, sehingga terjadi penurunan tanah.Guna menekan laju penurunan tanah pemkab akan menghentikan (moratorium) pembangunan sumur dalam baru, sehingga ke depannya jumlah sumur dalam tidak terus bertambah,” lanjut Ismail.

Ismail menyebut bahwa kewenangan penghentian pendirian sumur dalam, saat ini berada di ESDM Provinsi Jawa Tengah. Jika Kota Santri ingin menutup ijin pendirian sumur dalam baru, berarti pihaknya harus menyediakan sumur permukaan berupa waduk untuk warga pesisir.

“Saya berkali-kali soundingkan agar Kabupaten Pekalongan dibantu untuk didibangunkan waduk atau bendungan yang besar,karena ketika musim penghujan yaitu bulan november sampai april debit air disungai luar biasa dan terbuang begitu saja ke laut,sedangkan mei sampai november sangat minim,untuk irigasi saja kekurangan apalagi untuk air minum,”ungkapnya.

Namun, menurut Ismail, untuk membangun waduk, Kabupaten Pekalongan tehambat oleh kondisi keuangan.  “Namun,kondisi fiskal kita kurang memungkinkan karena mungkin butuh bertriliyun-triliyun.Kalau sumur resapan kurang begitu ngefek sebetulnya karena sumur resapan hanya beberapa meter, untuk mengisi air dalam harus meresapnya dihulu kalau ada waduk dihulu bisa meresap.ada beberapa ahli mengatakan bahwa kalau sumur resapan dipesisir kurang begitu ngefek karena tanahnya saja sudah jenuh,” tandas Ismail. (Eva Abdullah/Redaksi)

Berita terkait:

Jika tidak segera diatasi Pekalongan akan alami krisis air bawah

Pembangunan tanggul raksasa jadi solusi sementara tanggulangi rob

 

Terkait
Rusak, Jalan Raya Ketitang-Sedayu dikeluhkan warga

Bojong, Wartadesa. - Kerusakan Jalan Raya Ketitang (Bojong) - Sedayu (Wonopronggo) dibeberapa titik dikeluhkan warga, musim penghujan menambah kondisi jalan Read more

Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

Ombudsman apresiasi Polres Batang bentuk tim khusus tangani kasus pembunuhan Haniyah

Batang, Wartadesa. - Polres Batang Jawa Tengah menegaskan komitmennya untuk menangani kasus pembunuhan yang menewaskan Haniyah (35), warga Desa Gapuro Read more

Warga Gondang pertanyakan hasil pajak parkir pasar

Pemalang, Wartadesa. - 50 pemuda Desa Gondang Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah mempertanyakan hasil pajak parkir pasar desa. Mereka Read more

selengkapnya
BencanaLingkunganSosial Budaya

Hutan pinus Gumelem Petungkriyono terbakar

kebakaran petung

Petungkriyono, Wartadesa. – Hutan pinus di petak 29 M RPH Gumelem BKPH Doro, KPH Pekalongan Timur di Desa Gumelem, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan seluas 1,70 hektar, terbakar kemarin, Senin (19/08) pukul 10.30 WIB.

Musim kemarau membuat api yang diduga berasal dari putung rokok yang dibuang warga, membuat semak yang terbakar merangsek ke pepohonan pinus hingga menyebabkan kebakaran hutan. “Api dengan cepat merambat ke pohon akibat tiupan angin, hingga hutan pinus ini yang diperkirakan 1,70 hektare mengalami kebakaran,” ujar Iptu Akrom, Kasubbag Humas Polres Pekalongan, Selasa (20/08).

Warga bersama-sama anggota Polsek Petungkriyono dibantu anggota Koramil setempat langsung saja melakukan pemadaman api di lahan yang terbakar. Syukur, api dapat dipadamkan sekitar pukul 12.38 WIB. Akibat kejadian tersebut kerugian material mencapai Rp. 6,3 jutaan, “diperkirakan kerugian mencapai Rp. 6.375 ribu,” lanjut Akrom.

Akrom menambahkan, pihaknya menghimbau agar masyarakat tidak membakar hutan guna untuk membuka lahan ataupun tidak membuang sisa puntung rokok disembarang tempat, khususnya pada saat dikebun atau diladang. Dan apabila membakar sampah, setelah dibakar untuk ditunggui dan jangan langsung pergi meninggalkan lokasi. (Eva Abdullah)

Terkait
59 rumah tersapu angin puting beliung di Bojongnangka Pemalang

Pemalang, Wartadesa. -  59 rumah di Desa Bojongnangka Kec/Kab. Pemalang, Jawa Tengah rusak ringan hingga parah akibat tersapu angin puting Read more

Terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, dua anak meninggal

Tirto, Wartadesa. - Dua saudara sepupu terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, Senin (01/01) sekitar pukul 11.35 WIB. Kedua bucah Read more

Gudang oven pabrik kayu lapis di Karanganyar ludes terbakar

Karanganyar, Wartadesa. - Gudang Oven Kayu Lapis PT Duta Albasy di Jalan Raya Kulu Asri, Desa Kulu Kecamatan Karanganyar Kab. Read more

Rusak, Jalan Raya Ketitang-Sedayu dikeluhkan warga

Bojong, Wartadesa. - Kerusakan Jalan Raya Ketitang (Bojong) - Sedayu (Wonopronggo) dibeberapa titik dikeluhkan warga, musim penghujan menambah kondisi jalan Read more

selengkapnya
BencanaLayanan PublikLingkunganSeni BudayaSosial Budaya

Sinden asal Hongaria meriahkan peringatan HUT RI ditengah banjir rob

sinden

Tirto, Wartadesa. – Sinden Agnes Serfozo asal Hongaria bersama Ki Dalang Wiwit Sri Kuncoro memeriahkan HUT RI Ke-74 di Desa Jeruksari, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan dalam pagelaran wayang santri bertajuk Semar Tambak, Sabtu (17/08) malam di balai desa setempat.

Gelaran acara yang dimulai sehabis sholat Isya tersebut merupakan kerjasama Pemerintah Desa Jeruksari bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pekalongan dalam sosialisasi sadar bencana melalui budaya.

Agnes Serfozo menjadi daya tarik tersendiri bagi warga sekitar. Ribuan warga berduyun-duyun mendatangi lokasi wayang santri. Termasuk bagi Sastro (65), warga Jeruksari, ia mengungkapkan bahwa selama ini ia hanya menonton sinden Agnes Serfoyo melalui keping DVD. “Ya … selama ini saya hanya menonton lewat video, sekarang bisa langsung melihat dengan mata secara langsung,” tuturnya, Ahad (18/08).

Menurut Sastro, sosialisasi yang dilakukan dengan cara gelar budaya, menarik bagi warga. “Hampir semua warga keluar mas … untuk menonton, bahkan warga desa disekitar juga ikut berbondong-bondong menonton acara,” lanjutnya.

Ki Dalang Wiwit Sri Kuncoro menyentil kondisi rob di Pekalongan yang berlangsung lebih dari lima tahun, dalam pementasannya. Ia mengungkapkan bahwa kondisi rob di wilayah Jeruksari dan sekitarnya merupakan bencana yang merenggut nilai-nilai sosial, ekonomi warga. Banyak kehidupan sosial dan ekonomi warga yang tercerabut ketika rob semakin lama menggenangi warga Jeruksari.

Dengan pagelaran wayang santri bertajuk Semar Tambak, Ki Wiwit berharap warga tanggap akan bencana alam disekelilingnya, diharapkan warga bersama pemerintah bahu-membahu mengatasi rob yang makin ‘menggila’ di wilayah tersebut.

Lakon pewayangan Semar Tambak, menceritakan kisah Semar yang berada di Dukuh Klampisireng, pada suatu hari sedang duduk di pendapa dihadap Gareng, Petruk dan Bagong. Dalam pertemuan itu dibicarakan mengenai kesejahteraan rakyat Klampisireng, yang akhir-akhir ini terus merosot. Maka Semar mempunyai ide untuk membangun dam atau bendungan untuk mengairi sawah dan lahan pertanian penduduk. Untuk itu Semar mengutus Petruk pergi ke Amarta guna meminta dukungan moral maupun pembiayaan.

Setelah tiba di Amarta, Petruk melaporkan apa yang direncanakan Kyai Semar dan para Pandawa mendukung rencana itu serta memberikan dukungan dana. Sementara Prabu Suyudana yang dihadap Patih Sengkuni, Karna, Drona dan Kartamarma, mendengar rencana Semar akan membangun bendungan di Klampisireng merasa khawatir, sebab bilamana rakyat Klampisireng makmur berarti akan menambah kekuatan Pandawa dan kelak dalam perang Baratayuda akan menambah barisan perang pihak Pandawa.

Untuk itu ia memerintahkan Karna dan Kurawa agar mengacau serta menggagalkan rencana Semar itu. Niat Kurawa itu mendapat perlawanan rakyat Klampisireng yang dipimpin Petruk serta dibantu Pandawa. Walaupun mendapat gangguan dan rintangan dari pihak Kurawa akhirnya bendungan terwujud dan akan meningkatkan kesejahteraan penduduk Klampisireng. (Eva Abdullah)

Terkait
59 rumah tersapu angin puting beliung di Bojongnangka Pemalang

Pemalang, Wartadesa. -  59 rumah di Desa Bojongnangka Kec/Kab. Pemalang, Jawa Tengah rusak ringan hingga parah akibat tersapu angin puting Read more

Terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, dua anak meninggal

Tirto, Wartadesa. - Dua saudara sepupu terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, Senin (01/01) sekitar pukul 11.35 WIB. Kedua bucah Read more

Gudang oven pabrik kayu lapis di Karanganyar ludes terbakar

Karanganyar, Wartadesa. - Gudang Oven Kayu Lapis PT Duta Albasy di Jalan Raya Kulu Asri, Desa Kulu Kecamatan Karanganyar Kab. Read more

Rusak, Jalan Raya Ketitang-Sedayu dikeluhkan warga

Bojong, Wartadesa. - Kerusakan Jalan Raya Ketitang (Bojong) - Sedayu (Wonopronggo) dibeberapa titik dikeluhkan warga, musim penghujan menambah kondisi jalan Read more

selengkapnya
LingkunganPendidikanSosial Budaya

Pengolahan limbah dengan biopori untuk suburkan tanah

biopori

Pemalang, Wartadesa. -Biopori (lubang resapan air pada tanah) dapat dimanfaatkan untuk mengolah limbah maupun sampah yang bermanfaat bagi kesuburan tanah. Terkait hal tersebut, Tim II KKN Undip Semarang berbagi pengetahuan pembuatan biopori kepada warga Kelurahan Paduraksa, Kecamatan/Kabupaten Pemalang, beberapa waktu lalu.

Program ini dilakukan dengan penyuluhan yang diadakan bersama masyarakat yang menjelaskan mengenai sampah di masyarakat, cara memilah sampah di rumah serta dampak yang ditimbulkan akibat sampah.

Diketahui, biopori ini merupakan cara untuk mengurangi dampak sampah yang ada di rumah tangga. Pengolahan sampah organik berupa biopori menjadi salah satu inovasi yang dapat dilakukan untuk mengurangi sampah yang ada di rumah selain itu dengan biopori dapat menjadi media untuk mmbuat pupuk kompos dengan mudah dan dapat sebagai resapan air di rumah.

Pelatihan dilakukan pada saat pertemuan PKK di Kelurahan Paduraksa, dengan melalukan praktek secara langsung kepada masyarakat diharapkan mampu menerapkannya di rumah masing masing.

Dengan pelatihan tersebut, masyarakat diharapkan mampu melakukan pengolahan sampah dengan sendiri sehingga jumlah sampah sisa rumah tangga yang dibuang akan semakin berkurang bahkan tidak ada sama sekali. (Tim II KKN Undip)

Terkait
Terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, dua anak meninggal

Tirto, Wartadesa. - Dua saudara sepupu terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, Senin (01/01) sekitar pukul 11.35 WIB. Kedua bucah Read more

Gudang oven pabrik kayu lapis di Karanganyar ludes terbakar

Karanganyar, Wartadesa. - Gudang Oven Kayu Lapis PT Duta Albasy di Jalan Raya Kulu Asri, Desa Kulu Kecamatan Karanganyar Kab. Read more

Rusak, Jalan Raya Ketitang-Sedayu dikeluhkan warga

Bojong, Wartadesa. - Kerusakan Jalan Raya Ketitang (Bojong) - Sedayu (Wonopronggo) dibeberapa titik dikeluhkan warga, musim penghujan menambah kondisi jalan Read more

Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

selengkapnya
LingkunganPendidikanSosial Budaya

Kreasi lampu matahari dari botol bekas minuman

lampu botol

Pemalang, Wartadesa. – Ayo hemat listrik! Bonus demografi wilayah Indonesia yang berada di garis katulistiwa mempunyai keuntungan tersendiri bagi penyediaan penerangan rumah tangga tanpa listrik. Pengetahuan tentang pembuatan lampu rumah tangga tanpa listrik dengan menggunakan botol bekas minuman diperkenalkan oleh Tim II KKN Undip Semarang, belum lama ini.

Tim II KKN Undip Semarang membuat inovasi lampu matahari kepada masyarakat di Kelurahan Paduraksa, Kecamatan/Kabupaten Pemalang,  yang merupakan pengetahuan baru bagi masyarakat, lampu ini tidak dialiri listrik tapi memanfaatkan pendar cahaya matahari.

Alat dan bahan yang digunakan hanyalah dari botol air mineral bekas, air, pemutih pakaian dan seng bekas.
Beberapa rumah di wilayah Kelurahan Paduraksa yang memiliki pencahayaan kurang, dibantu  TIM II KKN UNDIP dipasang lampu matahari dirumah warga, ada juga yang dipasang di gudang rumah. Menarik bukan? (Syakinah)

Terkait
Terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, dua anak meninggal

Tirto, Wartadesa. - Dua saudara sepupu terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, Senin (01/01) sekitar pukul 11.35 WIB. Kedua bucah Read more

Gudang oven pabrik kayu lapis di Karanganyar ludes terbakar

Karanganyar, Wartadesa. - Gudang Oven Kayu Lapis PT Duta Albasy di Jalan Raya Kulu Asri, Desa Kulu Kecamatan Karanganyar Kab. Read more

Rusak, Jalan Raya Ketitang-Sedayu dikeluhkan warga

Bojong, Wartadesa. - Kerusakan Jalan Raya Ketitang (Bojong) - Sedayu (Wonopronggo) dibeberapa titik dikeluhkan warga, musim penghujan menambah kondisi jalan Read more

Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

selengkapnya
KesehatanLingkunganSosial Budaya

Limbah plastik dan kaos kaki diubah jadi ecobrick

ecobrick

Pemalang, Wartadesa. – Tim II Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang menggelar pelatihan pengolahan limbah plastik dan limbah kaos kaki menjadi Ecobrick (bata ramah lingkungan) kepada warga Kelurahan Paduraksa, Kecamatan/Kabupaten Pemalang, beberapa waktu lalu.

Menurut Gunawan Silalahi, mahasiswa KKN Undip Semarang,  program ini (pelatihan ecobrick) menjelaskan dampak dari limbah plastik dan pemanfaatan limbah kaos kaki yang ada di Kelurahan Paduraksa. Karena Paduraksa Merukakan sentra Kaos Kaki, sehingga memiliki banyak limbah.

Pelatihan diawali dari pengenalan sampah dan bahaya sampah bagi tubuh manusia dan lingkungan, pemahaman dari konsep 3R (reduce, reuse, recycle).

Ecobrick sendiri merupakan pengolahan limbah yang dapat digunakan sebagai barang serbaguna, seperti bangku, meja, bahkan gapura dan panggung pertunjukan pun dapat dibuat melalui metode Ecobrick.

Dengan pelatihan ini diharapkan dapat membuat masyarakat Paduraksa dapat sadar terhadap bahaya sampah plastik bagi lingkungan. Sehingga masyarakat harusnya dapat peduli dan dituntut dapat mengelola sampah dengan bijaksana mengingat keadaan lingkungan yang semakin memburuk.

Pengelolahan diawali dengan membedakan sampah organik dan non organik, mengurangi sampah plastik dan memanfaatkan sampah plastik menjadi barang yang memiliki nilai guna seperti Ecobrick maupun metode lainnya yang efisien. (Tim II KKN Undip Kelurahan Paduraksa)

Terkait
Terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, dua anak meninggal

Tirto, Wartadesa. - Dua saudara sepupu terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, Senin (01/01) sekitar pukul 11.35 WIB. Kedua bucah Read more

Gudang oven pabrik kayu lapis di Karanganyar ludes terbakar

Karanganyar, Wartadesa. - Gudang Oven Kayu Lapis PT Duta Albasy di Jalan Raya Kulu Asri, Desa Kulu Kecamatan Karanganyar Kab. Read more

Rusak, Jalan Raya Ketitang-Sedayu dikeluhkan warga

Bojong, Wartadesa. - Kerusakan Jalan Raya Ketitang (Bojong) - Sedayu (Wonopronggo) dibeberapa titik dikeluhkan warga, musim penghujan menambah kondisi jalan Read more

Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

selengkapnya
Lingkungan

Pembangunan tanggul raksasa jadi solusi sementara tanggulangi rob

pekalogan tenggelam

Kajen, Wartadesa. – Penganggulangan rob di wilayah pesisir Kabupaten dan Kota Pekalongan dinilai oleh Heri Andreas, Peneliti Feodesi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai solusi sementara. Padahal berdasarkan riset Instansi Patnership Kemitraan Tata Kelola Pemerintahan, penurunan tanah di Pekalongan sampai 25-34 sentimeter atau hampir 1/2 meter pertahun.

“Penahan tanggul itu sifatnya sementara dan berjangka menengah, karena jika air sudah pasang dan bisa mencapai puncak tanggul, maka air juga akan masuk ke permukaan,” ujar Heri dalam Seminar Sosialisasi UU APBN 2019 dengan tema Kebijakan Anggaran untuk Penanggulangan Rob dan Banjir di Kota dan Kabupaten Pekalongan digelar di Auditorium Adaro Lt. 8 Gedung F Unikal, Senin (5/8/2019).

Heri mengungkap data dari ITB, penurunan permukaan tanah di wilayah Pantura Pekalongan  rata-rata 1-25 centimeter per tahun. Faktor yang mempengaruhi yaitu banyaknya pengambilan air tanah yang berlebihan.

“Pengambilan air tanah yang berlebihan juga merupakan faktor yang mempercepat penurunan permukaan tanah. Sehingga jika kita bisa menghentikan pengambilan air tanah, itu juga bisa memperlampat atau mengatasi penurunan air tanah,” lanjut Heri.

Sementara itu, data dari  riset Instansi Patnership Kemitraan Tata Kelola Pemerintahan, terungkap bahwa penurunan tanah di Pekalongan sampai 25-34 sentimeter atau hampir 1/2 mtr. pertahun. Ditambah lagi banyaknya pengeboran sumur tanah yang dikerjakan beberapa pengerajin batik menyebabkan efek banjir rob makin kronis tiap-tiap tahunnya.

Kepala Progran Studi (Kaprodi) Batik Kampus Pekalongan (Unikal) Mutadi, menjelaskan bila pengeboran tidak di stop makin lama Kota Pekalongan akan terbenam. “Bila penduduk Kota Pekalongan selalu lakukan pengeboran sama juga membunuh diri pribadi, sebab pembuatan sumur bor percepat penurunan muka tanah,” tuturnya, Jumat (8/2/2019).

Menurut Mutadi, proses produksi batik rumahan sebanyak 10 sampai 20 kodi dapat habiskan air bersih 60 liter satu hari cuma untuk proses pewarnaan. “Untuk proses pelorotan lilin dalam satu hari dapat habiskan 140 liter air, rata-rata untuk industri batik sekala rumahan pada sebuah minggu dapat habiskan seputar 450 liter air bersih,” katanya.

Tingginya penggunaan air bersih pada produksi batik ini lantaran proses pelorotan lilin (malam) tidak bisa menggunakan air payau.  “Proses pewarnaan serta pelorotan lilin memang tidak dapat memakai air payau, sebab hasil pada akhirnya baik warna serta struktur kain akan berlainan. Akan tetapi, bila eksploitasi air tanah tidak dibatasi Pekalongan punya potensi terbenam,” lanjut Mutadi.

Data dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pekalongan, diberitakan Wartadesa sebelumnya mencatat, hingga saat ini ada 144 titik air dalam yang digunakan oleh dunia usaha seperti  perhotelan, supermarket dan usaha pencucian mobil. Hingga DLH setempat mengajukan moratorium penggunaan air tanah ke Gubernur Jawa Tengah.

‘’Kami berencana membuat danau-danau kecil. Di kelurahan kami harapkan ada satu danau kecil,’’ ujar Purwanti, Kepala DLH Kota Pekalongan. Menurutnya, danau-danau tersebut sebagai pengganti penggunaan air tanah, sehingga nantinya sumur-sumur pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat) akan mengambil air dari danau-danau tersebut (saat ini Pamsimas masih menggunakan sumber air dalam–pemicu turunnya permukaan tanah).

Dalam Seminar Sosialisasi UU APBN 2019 tersebut, Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi mengatakan bahwa ia bersama Wakil Bupati, Arini Antono (Arini Harimurti) mendapat pesan khusus dari Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo untuk mengatasi rob.

“Saya bersama Ibu Arini setelah dilantik mendapatkan pesan khusus dari Pak Ganjar untuk mengurangi angka kemiskinan dan mengatasi rob. Jadi Rob memang akan menjadi perhatian khusus buat Pemkab Pekalongan,” tutur Asip.

Asip mengungkapkan bahwa pihaknya, sebelumnya  sudah bekerjasama dengan Belanda untuk membuat tanggul darurat yang berada di Mulyorejo. Dengan pola yang sederhana dan dibikin sendiri dengan anggaran APBD dana tak terduga senilai Rp 2 miliar. “Alhamdulillah setelah kita buat tanggul sendiri di Mulyorejo, bisa mengurangi rob di tiga desa yaitu Tegaldowo, Mulyorejo dan Karangjompo,” ujarnya. (Bono, Eva Abdullah)

Terkait
Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

Dua cucian jins di Pegaden Tengah ditutup Satpol PP

Wonopringgo, Wartadesa. - Dua tempat pencucian jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ditutup oleh Satpol PP, hari Read more

Nasib galian C Pododadi Karanganyar ditentukan Senin depan

Wiradesa, Wartadesa. - Paska unjuk rasa yang dilakukan oleh warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongam, Kamis (11/01) kemarin dan Read more

Laut pasang, Pantaisari terendam

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Kondisi laut pasang (rob) yang tinggi merendam jalan WR Supratman depan Tempat Pelelangan Ikan (TPI/PPNP) hingga Read more

selengkapnya