close

Lingkungan

Layanan PublikLingkunganSosial Budaya

Kelola air bersih, warga Pekiringan Ageng mampu sisihkan saldo puluhan juta

air bersih

Kajen, Wartadesa. – Potensi desa jika dikelola dengan baik dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi warganya. Seperti yang dilakukan oleh pemuda Desa Pekiringan Ageng, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan. Potensi desa berupa sumber air bersih di tengah hutan warga, saat ini mampu menghasilkan saldo sebesar Rp. 27 juta.

Muhammad Markus, salah seorang pemuda penggerak desa, sekaligus perangkat desa setempat mengungkapkan bahwa Desa Pekiringan Ageng mempunyai tipologi (teritorial desa) di daerah pegunungan dengan sumber daya alam yang beragam, seperti hutan lindung, hutan karet, tanaman musiman dan lain sebagainya.

Beragam dan melimpahnya sumber daya alam di Pekiringan Ageng, tersebut, terkendala dengan permasalahan kebutuhan dasar air bersih. Lanjut Markus saat wawancara, Kamis (01/08).

“Saat itu, sebelum tahun 2015, permasalahan pemenuhan air bersih bagi warga terkendala. Warga masih menggunakan sumber air bersih dengan mata air yang debitnya belum bisa dinikmati oleh seluruh warga,” ujar Markus.

Selain debit air pada mata air yang berada di hutan masyarakat yang naik turun, sesuai kondisi musim. Kendala lainnya adalah keterbatasan anggaran untuk membuat bak penampung air untuk kemudian disalurkan dengan pipa ke rumah warga.

“Ketika musim penghujan, debit air naik, sebaliknya saat musim kemarau debit air menyusut. Tentu hal ini menjadi permasalahan warga, mereka harus berebut air bersih untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Dan saat itu kita terkendala dengan anggaran untuk membuat bak penampung air dan sambungan saluran ke rumah warga,” lanjut Markus.

Pada tahun 2015, warga melakukan pemetaan swadaya, mereka menyusun potensi dan masalah yang ada di Desa Pekiringan Ageng. Warga menyimpulkan perlunya pembangunan sarana air bersih, yang kemudian dituangkan dalam RPJMDes (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa). Tutur pemuda jebolan STAIKAP Pekalongan ini.

“Pembangunan sarana air bersih dimulai sejak tahun 2015 hingga tahun 2017. Alhamdulillah setelah pembangunan selesai, pengelolaan air bersih kemudian dikelola oleh warga. Dan saat ini hasil dari pengelolaan air bersih sudah terkumpul saldo Rp. 27 juta,” tutur Markus.

Kini mata air tersebut sudah memiliki 135 sambungan rumah tangga dan fasilitas umum.

Keberhasilan tata kelola air bersih dari warga, untuk warga dan oleh warga ini menjadi kebanggaan bagi seluruh warga desa Pekiringan Ageng. Meski hingga saat ini lembaga pengelola yang bernama Prasarana Air Bersih belum dilembagakan berupa BumDes (Badan Usaha Milik Desa), para pemuda yang tergabung dalam pengelola Prasarana Air Bersih berharap pembentukan BumDes dapat dilakukan segera.  (Bono)

Terkait
Terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, dua anak meninggal

Tirto, Wartadesa. - Dua saudara sepupu terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, Senin (01/01) sekitar pukul 11.35 WIB. Kedua bucah Read more

Gudang oven pabrik kayu lapis di Karanganyar ludes terbakar

Karanganyar, Wartadesa. - Gudang Oven Kayu Lapis PT Duta Albasy di Jalan Raya Kulu Asri, Desa Kulu Kecamatan Karanganyar Kab. Read more

Rusak, Jalan Raya Ketitang-Sedayu dikeluhkan warga

Bojong, Wartadesa. - Kerusakan Jalan Raya Ketitang (Bojong) - Sedayu (Wonopronggo) dibeberapa titik dikeluhkan warga, musim penghujan menambah kondisi jalan Read more

Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

selengkapnya
Hukum & KriminalLingkungan

Tebang pohon tanpa ijin, tiga truk diamankan

penebangan kayu

Pemalang, Wartadesa. – Tiga truk pengangkut kayu 13 batang yang sudah dipotong berbagai ukuran diamankan Sat Reskrim Polres Pemalang lantaran melakukan penebangan tanpa ijin di pinggir jalan ruas Pemalang-Randudongkal, Sabtu (20/07).

Aksi penebangan pohon di sepanjang Jalan Di Panjaitan Pemalang – Randudongkal secara besar-besaran akhir ini dikeluhkan oleh Poros hijau Jawa Tengah yang menyikapi isu-isu tentang lingkungan hidup bersuara, yang diwakili oleh Korda Poros hijau Jawa Tengah yaitu Andi Rustono pada Selasa (23/07) lalu.

Kasat Reskrim Polres Pemalang, AKP Suhadi dalam konferensi pers Rabu (31/07) mengungkapkan bahwa penangkapan truk tersebut terjadi saat piket dan patroli rutin.  Saat menemukan ada penebangan kayu peneduh jalan yang ditebang di pinggir jalan DI. Panjaitan Desa Sewaka Kecamatan Pemalang Kabupaten Pemalang.

“kemudian piket Reskrim menanyakan apakah ada pelebaran jalan kepada petugas di lapangan, namun petugas lapangan tidak bisa menjawab,” terang Kasat Reskrim.

Saat diklarifikasi, lanjut Suhadi, ternyata ditemukan adanya indikasi penebangan pohon tanpa surat ijin yang sah. Piket Reskrim Polres Pemalang lalu mengamankan kendaraan pengangkut dan kayu yang sudah dipotong.

Dari kejadian di Desa Sewaka, selanjutnya Sat Reskrim melakukan pengembangan dan menemukan adanya penebangan kayu peneduh jalan di wilayah lain. “Di pinggir jalan ikut Desa Karangmoncol Kecamatan Randudongkal dan Desa Pegiringan Kecamatan Bantarbolang, pelaku menebang kayu peneduh jalan jenis sonokeling,” katanya.

Suhadi menambahkan, “Sementara hanya tiga tempat yang teridentifikasi, terbanyak di Desa Sewaka yang mencapai 35 pohon jenis mahoni dan trembesi di kanan dan kiri jalan,” ungkapnya.

Di Desa Sewaka, Kasat Reskrim mengungkapkan, hanya mengamankan 1 truk karena proses penebangan sudah berjalan selama tiga hari. “Ternyata penebangan sudah berjalan selama tiga hari sebelum kita amankan, sehingga sudah ada yang keluar,” ujarnya.

Sat Reskrim Polres Pemalang saat ini telah melakukan pengembangan untuk mengungkap siapa pelaku yang menyuruh untuk melakukan penebangan. “Proses masih berjalan, para pelaku sebentar lagi akan ditetapkan manakala minimal 2 alat bukti sudah kita temukan dalam pemeriksaan ini,” katanya.

Suhadi mengaku sudah mengantongi nama-nama pelaku. “Akan kita proses berdasarkan hukum yang berlaku, nama-nama sudah kita kantongi, mudah-mudahan minggu ini segera kita tingkatkan untuk menetapkan para pelaku menjadi tersangka,” tegasnya.

Akibat penebangan pohon tersebut, Kasat Reskrim mengungkapkan, kerugian akibat penebangan pohon di pinggir jalan ikut Desa Sewaka ditaksir mencapai kurang lebih 26,7 juta. “Untuk penebangan kayu jenis sonokeling di wilayah Kecamatan Bantarbolang dan Randudongkal, kerugian mencapai kurang lebih 60 juta,” pungkasnya.

Diberitakan Wartadesa sebelumnya, aksi penebangan pohon di sepanjang Jalan Di Panjaitan Pemalang – Randudongkal secara besar-besaran akhir ini membuat Poros hijau Jawa Tengah yang menyikapi isu-isu tentang lingkungan hidup bersuara, hal ini diwakili oleh Korda Poros hijau Jawa Tengah yaitu Andi Rustono.

Andi Rustono mengaku gerah melihat penebangan pohon di sepanjang ruas jalan tersebut. “Melihat penebangan pohon ini jujur saya gerah, karena jelas ini sudah menyalahi aturan terlebih setelah kami mengkonfirmasi ke pihak DPU Pemalang tidak pernah mengeluarkan surat ijin penebangan.” Ujarnya

Menurut Andi Rustono, penebangan pohon tersebut merupakan tindakan ilegal dan merusak lingkungan.  “Hal ini jelas penebangan secara ilegal dan sangat merusak, juga bisa masuk kategori pencurian,” lanjutnya.

Andi Rustono meminta pihak kepolisian menindak pelaku penebangan pohon tersebut. “Ssaya selaku Korda Poros hijau Jawa Tengah sangat berharap pihak-pihak terkait khusus nya Polres Pemalang segera menindak lanjuti permasalahan ini agar para pelaku ilegal logging ini dapat di proses sesuai hukum yang berlaku.” Pungkasnya. (Eva Abdullah, Eky Diantara)

Terkait
Ditinggal mancing, motor digasak pencuri

Pemalang, Wartadesa. - Naas bagi M. Saefudin Zuhri bin Muharil (28), seorang buruh konveksi warga Desa Kendaldoyong Kecamatan Petarukan Kabupaten Read more

Modus rampas HP korban dengan pura-pura minta nomor kontak

Pemalang, Wartadesa. - Hati-hatilah dengan orang yang meminta nomor HP atau ponsel Anda, bisa jadi itu hanya modus untuk melakukan Read more

Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

Gunakan gas bersubsidi, Hotel ini kena sidak

Pemalang, Wartadesa. - Hotel Panorama Randudongkal Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah kedapatan menggunakan tabung gas elpiji bersubsidi ukuran tiga kilogram, alias Read more

selengkapnya
Hukum & KriminalLingkungan

Poros Hijau Pemalang sayangkan penebangan pohon besar-besaran

poros hijau

Pemalang, Wartadesa. – Banyaknya Penebangan pohon di sepanjang Jalan Di Panjaitan Pemalang – Randudongkal secara besar-besaran akhir ini membuat Poros hijau Jawa Tengah yang menyikapi isu-isu tentang lingkungan hidup bersuara, hal ini diwakili oleh Korda Poros hijau Jawa Tengah yaitu Andi Rustono.

Andi Rustono mengaku gerah melihat penebangan pohon di sepanjang ruas jalan tersebut. “Melihat penebangan pohon ini jujur saya gerah, karena jelas ini sudah menyalahi aturan terlebih setelah kami mengkonfirmasi ke pihak DPU Pemalang tidak pernah mengeluarkan surat ijin penebangan.” Ujarnya

Menurut Andi Rustono, penebangan pohon tersebut merupakan tindakan ilegal dan merusak lingkungan.  “Hal ini jelas penebangan secara ilegal dan sangat merusak, juga bisa masuk kategori pencurian,” lanjutnya.

Andi Rustono meminta pihak kepolisian menindak pelaku penebangan pohon tersebut. “Ssaya selaku Korda Poros hijau Jawa Tengah sangat berharap pihak-pihak terkait khusus nya Polres Pemalang segera menindak lanjuti permasalahan ini agar para pelaku ilegal logging ini dapat di proses sesuai hukum yang berlaku.” Pungkasnya. (Eky Diantara)

Terkait
Ditinggal mancing, motor digasak pencuri

Pemalang, Wartadesa. - Naas bagi M. Saefudin Zuhri bin Muharil (28), seorang buruh konveksi warga Desa Kendaldoyong Kecamatan Petarukan Kabupaten Read more

Modus rampas HP korban dengan pura-pura minta nomor kontak

Pemalang, Wartadesa. - Hati-hatilah dengan orang yang meminta nomor HP atau ponsel Anda, bisa jadi itu hanya modus untuk melakukan Read more

Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

Gunakan gas bersubsidi, Hotel ini kena sidak

Pemalang, Wartadesa. - Hotel Panorama Randudongkal Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah kedapatan menggunakan tabung gas elpiji bersubsidi ukuran tiga kilogram, alias Read more

selengkapnya
Lingkungan

Masalah sampah di kali Pekalongan, Pemkot siapkan kapal patroli

sampah kaliloji

Pekalongan Kota, Wartadesa. –  Karutmarutnya penanganan sampah dan limbah industri maupun rumah tangga yang menyesaki beberapa kali di Kota Pekalongan ditanggapi Walikota Pekalongan, M. Saelany Mahfudz. Menurutnya, pihaknya tengah menyiapkan perahu/kapal patroli sampah dan peraturan daerah untuk menjaga kali dari pencemaran.

Saelany mengatakan dalam safari subuh berjama’ah di mushola Baitul Makmur, Kelurahan Padukuhan Kraton, Kecamatan Pekalongan Utara, Sabtu (20/07) bahwa saat ini Pemkot hanya memiliki dua perahu untuk menyusuri dan memungut sampah dari kali.

Menurut orang nomor satu di Kota Batik tersebut, kebutuhan perahu patroli sampah diperkirakan mencapai 20 perahu. Namun lantaran keterbatasan anggaran dan sumber daya manusia untuk mengoperasikannya, pihaknya mengusulkan sebanyak 10 hingga 12 perahu patroli, dalam anggaran perubahan mendatang.

”Kebutuhan perahu untuk menjaga kebersihan sungai itu sendiri diperkirakan mencapai 20an perahu. Mengingat keterbatasan anggaran dan SDM, kita bayangkan mengusulkan 10 sampai dengan 12an perahu di anggaran perubahan untuk menyisir sungai dan patroli sampah,” Ujar Saelany.

Saelany menyebut pihaknya akan menyiapkan perangkat hukum terkait kebersihan lingkungan.  ”Pemkot mulai menyusun Peraturan Walikota (Perwal) tentang kebersihan lingkungan. Jadi jika membuang sampah sembarangan akan akan dikenai sanksi, aturan ini supaya dapat meningkatkan atau menggugah kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, ” tambahnya.

Selain itu, Saelany meminta warga untuk kembali menghidupkan budaya gotong-royong untuk membersihkan lingkungan.

Sebelumnya, Wartadesa menurunkan tulisan buruknya kali di Kota Pekalongan. Kali Loji penuh sampah rumah tangga dan limbah industri. Berkali-kali berbagai komunitas peduli membersihkan kali, tak butuh waktu lama, kali dipenuhi dengan sampah yang menggunung. Kenapa ini terjadi?

Tahun 2018 lalu, Pemerintah Kota Pekalongan berjanji akan serius menangani Kali Loji, saat itu Walikota, Saelany Mahfudz mengungkapkan keseriusannya menangani permasalahan Kali Loji. Ia berharap seluruh warga, baik komunitas maupun lainnya mendukung pemkot memperbaiki kondisi Kali Loji yang semakin keruh, kotor dan penuh sampah.

Beragam iven (event) digelar untuk mengenalkan Kali Loji sebagai wisata air di Kota Pekalongan dengan tujuan mengubah perilaku warga, menjaga kebersihan sungai. Namun lemahnya penegakan hukum dan kesadaran warga untuk tidak mengotori kali dengan limbah dan sampah, membuat Kali Loji tak berdaya.

Imam Nurhuda, penggiat Komunitas Sapu Lidi mengungkapkan bahwa masalah utama sampah di Kali Loji adalah antara penegakan hukum dan kesadaran warga terhadap lingkungan Kali Loji. Menurut pria yang biasa disapa Kang Hoed,  ketika penegakan hukum terhadap pembuang sampah dan limbah tidak dilaksanakan maka para pengrajin batik (tukang babar–Jawa.) akan selalu membuang limbah (cair) batiknya ke sungai.

“Yang pada akhirnya berdampak kepada warga masyarakat sekitar bantaran (kali), melihat sungai yang berwarna atau hitam pekat menjadi terangsang untuk ikut membuang sampah (rumah tangga/limbah padat) ke sungai. Maka persoalan sungai yang mendominasi Kali Loji yaitu limbah padat dan limbah cair tidak akan pernah bisa diatasi.” Ujarnya, Senin (05/07/2019).

Sebagai penggiat Komunitas Sapulidi, Kang Hoed menyayangkan persoalan sampah di Kali Loji yang tak kunjung selesai. “Komunitas Sapulidi sebagai bagian dari komunitas yang konsen terhadap konservasi lingkungan dan sungai sangat menyesalkan dan menyayangkan persoalan sampah di Kali Loji/sungai Kupang, sampai detik ini pun belum bisa diatasi.” Tuturnya.

Penanganan sampah di Kali Loji, lanjut Huda, bukan tidak dilakukan secara rutin, menurutnya pekerjaan Tim Patroli Sungai Loji (TPSL) dibawah naungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang setiap hari turun untuk melakukan pembersihan, pengangkatan dan pengakutan sampah di Kali Loji pun seperti sia-sia. Karena setiap waktu sampah akan terus datang memenuhi aliran sungai–akibat lemahnya kesadaran warga untuk tidak membuang sampah dan limbah di sungai.

Kurangnya kesadaran warga maupun industri yang membuang sampah dan limbah, menambah permasalahan yang ingin ditangani. Menurut Huda, berapapun personel yang diterjunkan untuk menangani sampah dan limbah, tidak mampu mengembalikan Kali Loji seperti dahulu, yang bersih.

“Bahkan ketika dilakukan tambahan personil dari teman-teman relawan untuk membantu pekerjaan TPSL, pun tidak banyak membantu, karena hanya mengobati luka sementara waktu, tapi nanti pada hari berikutnya luka atau penyakit itu akan datang lagi dan lagi.” Ujar Huda.

Untuk mengobati penyakit Kali Loji yang masuk “stadium empat”, menurut Imam Nurhuda, dibutuhkan keseriusan dan totalitas dari Pemerintah Kota Pekalongan untuk menangani sampah Kali Loji. “Pemkot seharusnya tidak selalu membebankan (penanganan sampah dan limbah di Kali Loji) kepada salah satu dinas saja. Bila perlu walikota turut turun tangan memimpin langsung  Tim Penanganan Sampah Kali Loji,” ujarnya.

Penanganan sampah dan limbah yang ditawarkan Komunitas Sapulidi, menurut Huda, bisa dilakukan dengan beberapa cara, yaitu penanganan teknis dan pendekatan kebijakan. Selain itu diperlukan pula sebuah riset/kajian, pemetaan dan pendekataan kepada masyarakat. Juga perlu berperannya institusi keagamaan untuk ikut memberikan himbauan moral melalui ulama, kyai ataupun ustad pada moment khutbah Jum’at, pengajian, dan lain lain.

“Penanganan teknis adalah kegiatan teknis yang rutin dilakukan oleh TPSL untuk mengatasi sampah sungai langsung dilapangan. Dan bisa dibantu relawan bila kuwalahan atau kekurangan tenaga.” Ujar Huda.

Huda menambahkan,  pendekatan kebijakan adalah upaya penanganan sampah sungai dengan menggunakan instrumen hukum yang sudah ada seperti Perda, Perwal (Peraturan Walikota) dan lain lain.

Riset atau kajian, pemetaan dan pendekatan kepada warga adalah upaya yang perlu dilakukan untuk mengetahui penyebab atau akar permasalahan yang menyebabkan warga membuang sampah ke sungai. Juga pemetaan wilayah dimana saja sumber atau titik-titik sampah itu muncul atau disebabkan. Lanjut Huda.

“Pendekatan menggunakan metode RRA, PRA atau PAR ( RRA–Rapid Rural Appraisal, PRA–Participation Rural Apraisal adalah metode penelitian dengan pendekatan pemberdayaan warga-red.) memungkinkan untuk bisa memberikan gambaran baik secara kuantitatif maupun kualitatif sampah sungai kota pekalongan.” Ujar Imam Nurhuda.

Huda mengatakan bahwa rencana kajian dan pemetaan serta pendekatan ke warga ini (pendekatan diatas-red.) akan dilakukan antara Komunitas Sapulidi dan Dinas Lingkungan Hidup dalam upaya penataan lingkungan bantaran sungai Kali Loji di wilayah kelurahan Bendankergon dan Kauman. Semoga upaya yang akan dilakukan ini bisa membuahkan hasil dan bisa direplikasi atau dicontoh kelurahan-kelurahan lain dalam penataan lingkungan dan sampah di wilayah masing-masing.

Tidak kalah penting, lanjut Huda, juga perlunya dukungan dari kalangan tokoh agama islam seperti ulama, kyai dan ustad atau tokoh-tokoh dari agama lain, dalam rangka memberikan himbauan dan nasehat kepada masyarakat luas tentang pentingnya kebersihan dan menjaga lingkungan.

Komunitas Sapulidi berharap agar Kali Loji atau sungai Kupang kembali bersih, sehat dan bermanfaat bagi ekosistem sungai maupun warga Pekalongan khususnya, dan masyarakat luas pada umumnya. Pungkas Huda. (Eva Abdullah, Bono)

Terkait
Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

Dua cucian jins di Pegaden Tengah ditutup Satpol PP

Wonopringgo, Wartadesa. - Dua tempat pencucian jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ditutup oleh Satpol PP, hari Read more

Nasib galian C Pododadi Karanganyar ditentukan Senin depan

Wiradesa, Wartadesa. - Paska unjuk rasa yang dilakukan oleh warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongam, Kamis (11/01) kemarin dan Read more

Laut pasang, Pantaisari terendam

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Kondisi laut pasang (rob) yang tinggi merendam jalan WR Supratman depan Tempat Pelelangan Ikan (TPI/PPNP) hingga Read more

selengkapnya
Layanan PublikLingkunganSosial Budaya

Desa-desa di Pekalongan ini rawan air bersih

kekeringan

Kajen, Wartadesa. – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pekalongan mengungkapkan bahwa sebanyak 11 titik rawan kekurangan air pada musim kemarau tahun ini. Kesebelas titik rawan tersebut berada di Desa Kesesi, Ujungnegoro, Luraging, Pangkah, Kedungkebo, dan Pegandon.

Kepala BPBD setempat, Budi Rahardjo, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan pemetaan daerah rawan kekeringan untuk mengatisipasi dan melakukan dropping (penyaluran) air bersih. “Pemetaaan daerah rawan kekeringan ini untuk memudahkan pemkab melakukan antisipasi dan penyaluran air bersih pada warga yang berada di wilayah itu,”  ujarnya, Jum’at (12/07) dikutip dari Antara Jateng.

Menurut Budi Rahardjo, pihaknya telah berkoordinasi dengan PMI dan PDAM dalam antisipasi dampak kekeringan tersebut. “Secara lisan, kami sudah berkomunikasi dengan PMI dan PDAM karena rencananya rapat baru dilakukan minggu ini. Jika nanti ada permohonan bantuan droping air agar pihak terkait siap menyalurkan air bersih,”  tambahnya.

Budi Rahardjo mengatakan bahwa bagi warga yang mengalami kesulitan air bersih dapat mengajukan permohonan bantuan dropping air ke BPBD.  “Biasanya jika ada masyarakat yang membutuhkan air, mereka langsung menghubungi pemkab. Yang jelas, kita siap menyalurkan air bersih pada warga tanpa harus melalui prosedur yang ‘njlimet’ (sulit),” pungkasnya. (Sumber: Antara)

Berita Terkait:

Lima desa di Pekalongan krisis air, 27 desa lainnya beresiko kekeringan

Dua Kelurahan kekeringan, Kota Pekalongan darurat bencana kekeringan

 

Terkait
Terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, dua anak meninggal

Tirto, Wartadesa. - Dua saudara sepupu terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, Senin (01/01) sekitar pukul 11.35 WIB. Kedua bucah Read more

Gudang oven pabrik kayu lapis di Karanganyar ludes terbakar

Karanganyar, Wartadesa. - Gudang Oven Kayu Lapis PT Duta Albasy di Jalan Raya Kulu Asri, Desa Kulu Kecamatan Karanganyar Kab. Read more

Rusak, Jalan Raya Ketitang-Sedayu dikeluhkan warga

Bojong, Wartadesa. - Kerusakan Jalan Raya Ketitang (Bojong) - Sedayu (Wonopronggo) dibeberapa titik dikeluhkan warga, musim penghujan menambah kondisi jalan Read more

Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

selengkapnya
Layanan PublikLingkunganSosial Budaya

Penegakan hukum dan kesadaran lemah, Kali Loji penuh sampah dan limbah

sampah kaliloji

Pekalongan Kota, Wartadesa. – Kali Loji penuh sampah rumah tangga dan limbah industri. Berkali-kali berbagai komunitas peduli membersihkan kali, tak butuh waktu lama, kali dipenuhi dengan sampah yang menggunung. Kenapa ini terjadi?

Tahun 2018 lalu, Pemerintah Kota Pekalongan berjanji akan serius menangani Kali Loji, saat itu Walikota, Saelany Mahfudz mengungkapkan keseriusannya menangani permasalahan Kali Loji. Ia berharap seluruh warga, baik komunitas maupun lainnya mendukung pemkot memperbaiki kondisi Kali Loji yang semakin keruh, kotor dan penuh sampah.

Beragam iven (event) digelar untuk mengenalkan Kali Loji sebagai wisata air di Kota Pekalongan dengan tujuan mengubah perilaku warga, menjaga kebersihan sungai. Namun lemahnya penegakan hukum dan kesadaran warga untuk tidak mengotori kali dengan limbah dan sampah, membuat Kali Loji tak berdaya.

Imam Nurhuda, penggiat Komunitas Sapu Lidi mengungkapkan bahwa masalah utama sampah di Kali Loji adalah antara penegakan hukum dan kesadaran warga terhadap lingkungan Kali Loji. Menurut pria yang biasa disapa Kang Hoed,  ketika penegakan hukum terhadap pembuang sampah dan limbah tidak dilaksanakan maka para pengrajin batik (tukang babar–Jawa.) akan selalu membuang limbah (cair) batiknya ke sungai.

“Yang pada akhirnya berdampak kepada warga masyarakat sekitar bantaran (kali), melihat sungai yang berwarna atau hitam pekat menjadi terangsang untuk ikut membuang sampah (rumah tangga/limbah padat) ke sungai. Maka persoalan sungai yang mendominasi Kali Loji yaitu limbah padat dan limbah cair tidak akan pernah bisa diatasi.” Ujarnya, Senin (05/07/2019).

Sebagai penggiat Komunitas Sapulidi, Kang Hoed menyayangkan persoalan sampah di Kali Loji yang tak kunjung selesai. “Komunitas Sapulidi sebagai bagian dari komunitas yang konsen terhadap konservasi lingkungan dan sungai sangat menyesalkan dan menyayangkan persoalan sampah di Kali Loji/sungai Kupang, sampai detik ini pun belum bisa diatasi.” Tuturnya.

Penanganan sampah di Kali Loji, lanjut Huda, bukan tidak dilakukan secara rutin, menurutnya pekerjaan Tim Patroli Sungai Loji (TPSL) dibawah naungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang setiap hari turun untuk melakukan pembersihan, pengangkatan dan pengakutan sampah di Kali Loji pun seperti sia-sia. Karena setiap waktu sampah akan terus datang memenuhi aliran sungai–akibat lemahnya kesadaran warga untuk tidak membuang sampah dan limbah di sungai.

Kurangnya kesadaran warga maupun industri yang membuang sampah dan limbah, menambah permasalahan yang ingin ditangani. Menurut Huda, berapapun personel yang diterjunkan untuk menangani sampah dan limbah, tidak mampu mengembalikan Kali Loji seperti dahulu, yang bersih.

“Bahkan ketika dilakukan tambahan personil dari teman-teman relawan untuk membantu pekerjaan TPSL, pun tidak banyak membantu, karena hanya mengobati luka sementara waktu, tapi nanti pada hari berikutnya luka atau penyakit itu akan datang lagi dan lagi.” Ujar Huda.

Untuk mengobati penyakit Kali Loji yang masuk “stadium empat”, menurut Imam Nurhuda, dibutuhkan keseriusan dan totalitas dari Pemerintah Kota Pekalongan untuk menangani sampah Kali Loji. “Pemkot seharusnya tidak selalu membebankan (penanganan sampah dan limbah di Kali Loji) kepada salah satu dinas saja. Bila perlu walikota turut turun tangan memimpin langsung  Tim Penanganan Sampah Kali Loji,” ujarnya.

Penanganan sampah dan limbah yang ditawarkan Komunitas Sapulidi, menurut Huda, bisa dilakukan dengan beberapa cara, yaitu penanganan teknis dan pendekatan kebijakan. Selain itu diperlukan pula sebuah riset/kajian, pemetaan dan pendekataan kepada masyarakat. Juga perlu berperannya institusi keagamaan untuk ikut memberikan himbauan moral melalui ulama, kyai ataupun ustad pada moment khutbah Jum’at, pengajian, dan lain lain.

“Penanganan teknis adalah kegiatan teknis yang rutin dilakukan oleh TPSL untuk mengatasi sampah sungai langsung dilapangan. Dan bisa dibantu relawan bila kuwalahan atau kekurangan tenaga.” Ujar Huda.

Huda menambahkan,  pendekatan kebijakan adalah upaya penanganan sampah sungai dengan menggunakan instrumen hukum yang sudah ada seperti Perda, Perwal (Peraturan Walikota) dan lain lain.

Riset atau kajian, pemetaan dan pendekatan kepada warga adalah upaya yang perlu dilakukan untuk mengetahui penyebab atau akar permasalahan yang menyebabkan warga membuang sampah ke sungai. Juga pemetaan wilayah dimana saja sumber atau titik-titik sampah itu muncul atau disebabkan. Lanjut Huda.

“Pendekatan menggunakan metode RRA, PRA atau PAR ( RRA–Rapid Rural Appraisal, PRA–Participation Rural Apraisal adalah metode penelitian dengan pendekatan pemberdayaan warga-red.) memungkinkan untuk bisa memberikan gambaran baik secara kuantitatif maupun kualitatif sampah sungai kota pekalongan.” Ujar Imam Nurhuda.

Huda mengatakan bahwa rencana kajian dan pemetaan serta pendekatan ke warga ini (pendekatan diatas-red.) akan dilakukan antara Komunitas Sapulidi dan Dinas Lingkungan Hidup dalam upaya penataan lingkungan bantaran sungai Kali Loji di wilayah kelurahan Bendankergon dan Kauman. Semoga upaya yang akan dilakukan ini bisa membuahkan hasil dan bisa direplikasi atau dicontoh kelurahan-kelurahan lain dalam penataan lingkungan dan sampah di wilayah masing-masing.

Tidak kalah penting, lanjut Huda, juga perlunya dukungan dari kalangan tokoh agama islam seperti ulama, kyai dan ustad atau tokoh-tokoh dari agama lain, dalam rangka memberikan himbauan dan nasehat kepada masyarakat luas tentang pentingnya kebersihan dan menjaga lingkungan.

Komunitas Sapulidi berharap agar Kali Loji atau sungai Kupang kembali bersih, sehat dan bermanfaat bagi ekosistem sungai maupun warga Pekalongan khususnya, dan masyarakat luas pada umumnya. Pungkas Huda. (Bono)

Terkait
Terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, dua anak meninggal

Tirto, Wartadesa. - Dua saudara sepupu terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, Senin (01/01) sekitar pukul 11.35 WIB. Kedua bucah Read more

Gudang oven pabrik kayu lapis di Karanganyar ludes terbakar

Karanganyar, Wartadesa. - Gudang Oven Kayu Lapis PT Duta Albasy di Jalan Raya Kulu Asri, Desa Kulu Kecamatan Karanganyar Kab. Read more

Rusak, Jalan Raya Ketitang-Sedayu dikeluhkan warga

Bojong, Wartadesa. - Kerusakan Jalan Raya Ketitang (Bojong) - Sedayu (Wonopronggo) dibeberapa titik dikeluhkan warga, musim penghujan menambah kondisi jalan Read more

Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

selengkapnya
Layanan PublikLingkunganSosial Budaya

Petani Desa Klayeran terancam gagal panen

gagal panen

Pemalang, Wartadesa. – Ratusan petani di Desa Klayeran, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, terancam gagal panen, akibat sawah mereka mengalami kekeringan. Air irigrasi yang biasanya sampai ke sawah milik petani Klayeran, kini tak sampai, akibat debit airnya menyusut, dampak dari musim kemarau.

Karsadi (35), petani setempat mengaku kesulitan mengairi sawahnya yang hampir panen. Menurutnya kesulitan air yang dialami para petani sudah terjadi sealama bertahun-tahun, tiap musim tanam kedua.

“Air irigrasi tidak sampai disini kalau musim kemarau, ini sudah berlangsung bertahun-tahun, biasanya tiap musim tanam kedua,” ujarnya, Rabu kemarin.

Karsadi berharap agar pihak pemerintah membantu kesulitan warga mengairi sawah mereka agar terhindar dari puso alias gagal panen.

Menanggapi keluhan petani Desa Klayeran, Wiharnyo, kepala desa setempat mengungkapkan bahwa lebih dari 150 HA sawah warga di blok Jatiteken selalu kekurangan air, tiap tahunnya.

Menurut Wiharnyo, pihaknya sudah melakukan pengerukan saluran irigrasi, agar air bisa mengalir ke sawah warga, namun upaya tersebut sia-sia lantaran debit air bendungan Sokowati menurun drastis saat musim kemarau.

“Kami sudah berupaya dengan mengeruk saluran irigrasi, namun karena debit air bendungan Sokowati turun, air tidak sampai ke blok Jatiteken,” ujar Wiharnyo.

Wiharnyo menambahkan, pihaknya saat ini sedang berupaya membuat sumur bor dengan kedalaman 60 meter untuk digunakan mengairi sawah petani. “Kita anggarkan dengan gotong-royong (patungan) para petani,” ujarnya. (Eky Diantara)

Terkait
Terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, dua anak meninggal

Tirto, Wartadesa. - Dua saudara sepupu terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, Senin (01/01) sekitar pukul 11.35 WIB. Kedua bucah Read more

Gudang oven pabrik kayu lapis di Karanganyar ludes terbakar

Karanganyar, Wartadesa. - Gudang Oven Kayu Lapis PT Duta Albasy di Jalan Raya Kulu Asri, Desa Kulu Kecamatan Karanganyar Kab. Read more

Rusak, Jalan Raya Ketitang-Sedayu dikeluhkan warga

Bojong, Wartadesa. - Kerusakan Jalan Raya Ketitang (Bojong) - Sedayu (Wonopronggo) dibeberapa titik dikeluhkan warga, musim penghujan menambah kondisi jalan Read more

Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

selengkapnya
KesehatanLayanan PublikLingkunganSosial Budaya

Lagi, Pulosari alami krisis air bersih

droping air bersih

Pemalang, Wartadesa. – Musim kemarau, lagi-lagi,  membuat warga di Kecamatan Pulosari kembali mengalami krisis air bersih. Warga Desa Siremeng, Kecamatan Pulosari, Kabupten Pemalang turut mengalami krisis air tersebut. Warga yang mengandalkan air bersih dari sumber air Pesamoan, kini harus antri seharian di penampungan air, lantaran debit air menyusut.

Warga mengaku sudah satu bulan ini mereka kesulitan mendapatkan air bersih. Untuk keperluan mandi,  mencuci, masak dan minum, warga harus antri selama sehari untuk mendapatkan dua pikulan air. “Saya ambil dari mata air Pesamoan, tapi harus antri seharian untuk mendapatkan dua pikulan air,” ujar Murtini, warga Dukuh Siremeng Kidul. Kamis (27/06)

‎Lamanya mengantri untuk mendapatkan air bersih membuat warga terpaksa harus membeli pedagang air bersih keliling dengan harga Rp. 4 ribu per pikul air (2 jerigen).  “Kalau pas antrean banyak sedangkan persedian air di rumah habis ya harus beli. Harga satu pikul air Rp 4.000. Dalam sehari membutuhkan lima pikul,” ungkap Sodiah, warga Siremeng lainnya.

Sodiah berharap ada bantuan air bersih yang rutin didistribusikan ke desanya sehingga dia tidak perlu membeli air selama musim kemarau. “Butuh sekali bantuan air bersih karena sumber air yang ada sudah berkurang airnya, bahkan mengering,” ungkapnya.

Diberitakan Wartadesa sebelumnya, kemarau di Pemalang membuat sebagian warga Desa Pulosari kekurangan air bersih. Kondisi tersebut terjadi setiap musim kemarau datang. Untuk membantu warga yang membutuhkan air bersih, Polsek Pulosari memberikan bantuan air bersih di Dukuh Karangpoh, Desa Pulosari, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Sabtu (22/06).

Menurut Kapolsek Pulosari, AKP Trisno, pengiriman bantuan air tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap warga yang mengalami kesulitan saat kemarau datang sekaligus dalam rangka Hari Bhayangkara ke 73 yang jatuh pada tanggal 1 Juli mendatang.

“Bantuan air bersih yang diberikan terhadap masyarakat akan terus dilakukan dan tidak berbatas waktu,” tutur Trisno.

Trisno menambahkan bahwa pihaknya akan terus intens membagikan air bersih bagi wialayah yang membutuhkan.  “Kami terus intens dalam membagikan air bersih ini, ke wilayah yang betul-betul membutuhkan. Giat ini juga bentuk silaturahmi. Kami juga bisa bersentuhan langsung dengan masyarakat agar kami dapat mendengarkan langsung apa yang menjadi kebutuhan mereka. Intinya, Polri selalu ada bersama masyarakat,” Pungkasnya. (Eva Abdullah)

Terkait
Terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, dua anak meninggal

Tirto, Wartadesa. - Dua saudara sepupu terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, Senin (01/01) sekitar pukul 11.35 WIB. Kedua bucah Read more

Gudang oven pabrik kayu lapis di Karanganyar ludes terbakar

Karanganyar, Wartadesa. - Gudang Oven Kayu Lapis PT Duta Albasy di Jalan Raya Kulu Asri, Desa Kulu Kecamatan Karanganyar Kab. Read more

Rusak, Jalan Raya Ketitang-Sedayu dikeluhkan warga

Bojong, Wartadesa. - Kerusakan Jalan Raya Ketitang (Bojong) - Sedayu (Wonopronggo) dibeberapa titik dikeluhkan warga, musim penghujan menambah kondisi jalan Read more

Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

selengkapnya
BencanaLayanan PublikLingkungan

Pekalongan kembali terendam rob

rob pekalongan

Pekalongan Kota, Wartadesa. – Banjir rob di Kota Pekalongan kembali merendam hampir seluruh kawasan di Kecamatan Pekalongan Utara, Selasa (14/05). Banjir rob mulai menggenangi permukiman warga sejak siang menjelang sore.

Rob cukup besar akibat air laut meluap ke permukiman warga dengan ketinggian 10 hingga 30 centimeter. Selain itu, ketinggian air juga disebabkan oleh tanggul laut di pesisir Pantai Utara Kota Pekalongan yang tidak mampu menahan terjangan gelombang laut.

Maryono (42), warga Krapyak menyebut bahwa rob di wilayahnya mencapai ketinggian lutut orang dewasa, “Ketinggian air saat ini mencapai lutut mas … terutama di Krapyak Gang 3A,” ujarnya kemarin. Meski demikian, lanjut Maryono, warga belum melakukan pengungsian meski banjir rob menggenang.

Pantauan di lapangan, banjir rob merendam permukiman di wilayah Pasirsari,  Kramatsari, Kandangpanjang, Sorogenen, Klego, Krapyak, Pabean, Panjangwetan dan Pantaisari.

Rob telah dirasakan warga hampir selama lima tahun, hal demikian membuat warga mempertanyakan keseriusan pemerintah setempat dalam penanggulangan banjir tersebut. Maryono berharap Pemkot Pekalongan lebih memprioritaskan penganganan rob demi menyelamatkan kehidupan warga di wilayah Pekalongan Utara.

“Kami berharap agar penanganan rob ini lebih serius, dilakukan secara lebih cepat untuk menyelamatkan ekonomi warga, lanjutnya.

Sebelumnya, pada akhir April 2019, banjir rob sempat menggenangi sebagian besar wilayah Kecamatan Pekalongan Utara selama lima hari. Pembangunan tanggul penahan rob yang belum selesai, dituding sebagai pemicu mengapa rob kerap merendam wilayah tersebut. (WD)

Terkait
59 rumah tersapu angin puting beliung di Bojongnangka Pemalang

Pemalang, Wartadesa. -  59 rumah di Desa Bojongnangka Kec/Kab. Pemalang, Jawa Tengah rusak ringan hingga parah akibat tersapu angin puting Read more

Gudang oven pabrik kayu lapis di Karanganyar ludes terbakar

Karanganyar, Wartadesa. - Gudang Oven Kayu Lapis PT Duta Albasy di Jalan Raya Kulu Asri, Desa Kulu Kecamatan Karanganyar Kab. Read more

Rusak, Jalan Raya Ketitang-Sedayu dikeluhkan warga

Bojong, Wartadesa. - Kerusakan Jalan Raya Ketitang (Bojong) - Sedayu (Wonopronggo) dibeberapa titik dikeluhkan warga, musim penghujan menambah kondisi jalan Read more

Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

selengkapnya
Layanan PublikLingkungan

Sudah diajukan perbaikan oleh Pemdes sejak 2016, jalan Plakaran masih rusak parah

jalan rusak pemalang

Pemalang, Wartadesa. –  Kondisi jalan kabupaten yang melintas di Desa Plakaran, Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang sangat memprihatinkan.  Kerusakan jalan sangat parah, hampir seperti kali asat, menurut warga. Bagaimana tidak, hampir seluruh permukaan jalan tidak tampak aspal, yang terlihat hanya bebatauan atau makakam, lantaran aspalnya sudah terkelupas.

Warga sempat memposting kondisi ruas jalan tersebut pada laman media sosial twitter dan dijawab oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, bahwa pemdes hendanya mengusulkan ke pihak pemkab. “Kadesnya usul ke Pemkab … gampang kan?” tulis Ganjar (05/05).

Jawaban Ganjar Pranowo dalam postingan warga di Twitter (05/05)

Menurut Pemdes Plakaran Kecamatan Moga, Nur Laela, kerusakan jalan paling parah dari Balai Desa Plakaran ke Dusun II dan III. “Jalan yang rusak adalah jalur dari Balai Desa Plakaran ke Dusun II dan III, terlebih jalan menurun lumayan terjal.” Ujarnya.

Selain itu, kerusakan jalan juga terjadi pada ruas yang melewati Desa Mandi Raja ke Desa Plakaran. Informasi yang didapatkan dari Pemdes Plakaran, pihak Pemerintah Desa Plakaran telah mengajukan perbaikan jalan pada 2016, namun perbaikan jalan kurang dari separuh yang direalisasikan.

“Pihak desa (pemdes) sudah mengajukan perbaikan dari tahun 2016, dari Volume 6,4 KM baru turun dan diperbaiki 2,4 KM, sisanya masih rusak parah.” Lanjutnya.

Pemerintah  dan warga Desa Plakaran sangat menyayangkan respon dari Pemkab Pemalang yang lamban memperbaiki fasilitas layanan publik tersebut. “Kalo bisa diperbaiki dengan dana desa (DD) sudah diperbaiki, tetapi aturannya Dana Desa tidak boleh untuk memperbaiki jalan kabupaten yang sudah menjadi kewenangan kabupaten.” Tambahnya.

Pemdes Plakaran berharap agar Pemkab Pemalang segera memperbaiki ruas jalan tersebut untuk meningkatkan produtivitas warga. “Diharapkan pihak Pemkab dalam hal ini DPU Kabupaten Pemalang dan dinas terkait segera memperbaiki (ruas jalan tersebut), kasihan warga kami, aktivitas dan kesehariannya terganggu karena jalan yang rusak.” Pungkasnya. (Eky Diantara)

Terkait
Rusak, Jalan Raya Ketitang-Sedayu dikeluhkan warga

Bojong, Wartadesa. - Kerusakan Jalan Raya Ketitang (Bojong) - Sedayu (Wonopronggo) dibeberapa titik dikeluhkan warga, musim penghujan menambah kondisi jalan Read more

Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

Ombudsman apresiasi Polres Batang bentuk tim khusus tangani kasus pembunuhan Haniyah

Batang, Wartadesa. - Polres Batang Jawa Tengah menegaskan komitmennya untuk menangani kasus pembunuhan yang menewaskan Haniyah (35), warga Desa Gapuro Read more

Warga Gondang pertanyakan hasil pajak parkir pasar

Pemalang, Wartadesa. - 50 pemuda Desa Gondang Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah mempertanyakan hasil pajak parkir pasar desa. Mereka Read more

selengkapnya