close
EkonomiLingkungan

Melihat dari dekat warga Mendolo memanen madu hutan

memanen madu
kredit foto: Swaraowa

Lebakbarang, Wartadesa. – Tidak ada yang tahu secara detil, sejak kapan kaum lelaki di Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang, Kabupaten Pekalongan memiliki kemampuan dan tradisi turun-temurun memanen madu hutan.

Menurut penuturan warga dari penelusuran Tim Swaraowa, praktik memanen madu hutan sudah dilakoni warga turun-temurun. Awalnya mereka memanen madu untuk dikonsumsi sendiri, kini bergeser menjadi tambahan penghasilan, diluar dari hasil pertanian.

Harga madu hutan yang cukup tinggi menjadikan komoditas ini mulai diburu warga. Mereka memanen madu dengan mengambil sarang madu saja dan meninggalkan bagian anakan lebah.

Namun ada pula praktik yang tidak memperhatikan keberlangsungan lebah madu, dua dekade terakhir, menurut penelurusan Swaraowa, ada beberapa warga yang memanen pulpa (anakan) lebah madu lantaran kaya protein. Dulu pupa/pulpa tak laku, kini dapat menghasilkan uang.

Satu sarang lebah madu dapat menghasilkan 20 kilogram madu. Hasil diskusi grup terfokus (focus group disscussion-FGD) warga Desa Mendolo dengan Swaraowa, diketahui bahwa  sedikitnya ada lebih dari 40 jenis tanaman sumber pakan bagi lebah hutan. Salah satu sumber pakan lebah yang cukup dominan adalah ‘kayu babi’ –sebutan warga setempat.  Jenis lainnya seperti kayu sapi, pakel (mangga), dan durian.

Warga Mendolo biasanya memanen madu pada bulan Juli dan setelahnya. Warga nyaris tiap hari masuk hutan untuk mencari keberadaan sarang lebah. Mereka membentuk tim-tim kecil. Sebuah tim pemanen madu terdiri dari dua atau lebih anggota tim. Satu orang berperan sebagai pemanjat dan pengambil sarang, sedangkan sisanya menjadi asisten. Menyiapkan peralatan, dan membantu proses panen madu.

Alat-alat yang digunakan antara lain sige, upet, pisau/parang, karung, tali, ember, dan saringan. Sige adalah bambu yang digunakan untuk melakukan pemanjatan, terdiri dari dua bagian yaitu banthol (pengait), yang akan disambung dengan lonjoran (jumlahnya bisa lebih dari satu batang tergantung ketinggian sarang yang dipanjat).

Upet adalah bahan pembuat asap. Biasanya upet dibuat dari dedaunan yang diikat, kemudian dibakar di bagian ujungnya. Hasil pembakaran dedaunan yang masih agak basah ini menghasilkan asap untuk membuat lebah lebih tenang.

Pemanjat memotong bagian kepala sarang yang berisi madu. Bagian brood yang berisi telur, larva dan pupa dibiarkan. Harapannya sarang akan kembali terisi madu dan nantinya bisa dipanen kembali. Dengan cara seperti ini, pemanenan bisa dilakukan dua atau tiga kali untuk setiap sarang.

Teknik pemanenan ini relatif aman bagi keberlanjutan koloni-koloni lebah. Hasil panen dari tiap sarang sangat bervariasi. Bila beruntung bisa lebih dari 10 botol ukuran 650ml, dan kalau tidak beruntung bisa pulang dengan tangan hampa.

Musim puncak, panen madu di Desa Mendolo pada kisaran bulan Juli hingga Oktober. Di Desa Mendolo sendiri saat ini ada delapan  orang pengepul lokal, yang menampung hasil panen madu dari para pemanen.

Selain madu, produk turunan dari lebah madu adalah lilin lebah.  Lilin diekstrak dari sisa perasan sarang madu yang dipanaskan hingga mencair, kemudian disaring menggunakan kain. Lilin cair ini setelah dingin akan mengeras membentuk balok-balok lilin. Harga jual lilin mentah ini sekitar Rp. 50 ribu.

Produk lebah lain yang potensial namun belum termanfaatkan adalah beepollen (roti lebah). Beepollen dihasilkan oleh fermentasi serbuk sari bebungaan yang disimpan di sarang lebah.

Prakti memanen madu yang dilakukan oleh warga Desa Mendolo yang memperhatikan kelestarian alam, dengan meninggalkan pupa/pulpa/anakan lebah patut diapresiasi. Tak kalah pentingnya selain madu, peran lebah sebagai serangga penyerbuk ini tidak dapat digantikan oleh manusia dengan alat apapun, pollinasi. (Diolah dari sumber Swaraowa)

Tags : lebah madumemanen madumendolo