close
banjir pekalongan
Kondidi banjir di Pekalongan. Foto: Cipto Sumarno

Pekalongan, Wartadesa. – Banjir dan rob di Pekalongan –kota dan kabupaten– tengah merendam warga dua pekan terakhir ini. Bahkan di Clumprit, Degayu, Kota Pekalongan, dua bulan lebih, warga setempat belum sempat melihat daratan.

Keluh kesah warga Pekalongan, umumnya, dicurahkan dalam grup media sosial Facebook. Kami menelurusuri cuitan warga dalam beberapa hari terakhir dalam grup Opek (Orang Pekalongan) dan PEKALONGAN INFO. Berikut sedikit dokomentasi cuitan warga,

“Desa Clumprit Kel Degayu banjir sudah±2 bulan belum surut.” Tulis Hermanto Herman dalam grup PEKALONGAN INFO, Rabu (17/02).

Foto unggahan Hermanto Herman dalam grup Facebook PEKALONGAN INFO (17/02/2021)

Dalam grup yang sama, Endi Adzkhan menulis, “Mohon maaf sebelumnya kalo ada yg posting menanyakan daerah mana saja yg belum mendapat bantuan bencana banjir??? Saya jawab desa saya Boyongsari dan sekitarnya. Bantuan hanya berupa nasi bungkus 1 /rumah setiap harinya. Padahal banjir sdh terjadi sejak tgl 3 Februari 2021 sampai sekarang air belum surut malah setiap harinya tambah tinggi. Jika sudah terjadi hujan.

Kalo ada saudara² digrup ini yg berkenan memberi bantuan pangan atau yg lainnya yg sangat bermanfaat bagi warga di Pekalongan Utara. Tentunya kami disini sangat senang dan menerima nya dengan tangan terbuka… Terimakasih,”

Sementara itu, dalam grup Facebook Opek (Orang Pekalongan) beberapa warga memposting tulisan terkait perlunya segera menangani banjir dan rob yang telah menjadi bencana tahunan yang sudah berlangsung puluhan tahun lamanya.

Seperti ditulis oleh Slamet Jajuli dalam grup Opek, Permasalahan Banjir Di Kota Pekalongan sudah berlangsung hampir tiap tahun baik karena Rob maupun musim hujan. Jangan saling menyalahkan apalagi menyalahkan pemerintah. Yang terpenting dari masalah banjir sekarang adalah mengatasi permasalahan dampak banjir terlebih dahulu. Masyarakat yang terkena dampak banjir segera mungkin ditangani. Dengan segera bersama sama memberikan bantuan apa yang korban banjir butuhkan. Selesaikan dahulu korban banjir , korban yang jelas jelas sudah ada. Fakta banjir sudah ada , korban banjir sudah ada. Pertolongan kepada korban banjirlah yang harus ditangani secepat mungkin. Dampak kesehatan , ekonomi sosial bagi korban banjir ini perlu seger ditangani, jika sudah tertangani dengan baik oleh pihak pihak yang terkait barulah berpikir bagaimana ditahun tahun mendatang kota Pekalongan berbenah mencegah banjir. Upaya pencegahan banjir agar tidak terjadi lagi ini merupakan peran bersama dari masyarakat dan pemerintah untuk membuat aksi yang nyata agar wilayah Pekalongan terbebas dari banjir.
Untuk saat ini yang diperlukan ya pertolongan bagi korban banjir dulu. Demikian. Tulisnya, Kamis (18/02).

Mas Yoko, dalam grup yang sama meminta Pemkot Pekalongan untuk memprioritaskan penanganan banjir.

“Masalah banjir di pekalongan jadi PR utk pemimpin kota pekalongan sekarang terutama utk pemimpin kota pakalongan yg baru nanti,,harus diprioritaskan penangananya dr segi tehnis ataupun sosialisasi pada masyarakat agar ikut serta membantu masalah penanganan banjir wajib hukumnya,,walikota yg sekarang harus lebih baik dari yg dulu,,walikota yg akan datang harus lebih baik dari yg sekarang….jangan sampai malah tambah buruk dr yg walkota yg sebelumnya sebelumnya…..eman eman yakin….”

Sementara, Arief Rachman mencoba menganalisis program dan kebijakan Pemkot Pekalongan dalam menangani banjir, dari segi warga–ia menyebutnya dari kacamata awam–,

“Saya Coba melakukan analisa awam terhadap situasi Kota Pekalongan saat ini. Banjir yang terjadi akhir akhir ini disebabkan oleh curah hujan tinggi. Berdasar data BMKG stasiun klimatologi semarang bahwa curah hujan berkisar 300-500mm. Hal ini lebih tinggi 40-80% dibandingkan curah hujan di periode tahun 2020. Peningkatan ini terjadi juga dipengaruhi fenomena iklim global la nina yang sudah terjadi sejak periode oktober 2020. Yang patut disayangkan adalah antisipasi terhadap dampak yang terjadi akibat fenomena ini. Pada akhirnya air bah tidak terbendung dan menimbulkan dampak luas serta waktu yang panjang hingga hari ini. Saya mencatat hal yang memperburuk bencana banjir ini: – jumlah titik resapan yang minim. Kota Pekalongan tidak memiliki titik resapan seperti danau. Bahkan program biopori juga tidak berjalan semestinya. Saat ini Semua jalan termasuk jalan kampung didominasi dengan aspal atau beton. Rumah sudah diplester dan tidak ada tanah yang mampu meresap air. – penurunan permukaan tanah Air yang harusnya mencari tempat yang lebih rendah saat ini berhenti di pemukiman yang mana permukaan tanah pemukiman sudah lebih rendah dibandingkan permukaan laut. Salah satu yang menyebabkan penurunan muka tanah adalah penyedotan air dalam tanah baik oleh industri maupun oleh masyarakat (misal: pamsimas) – drainase yang buruk. Selama ini Pemkot memprioritaskan pembangunan peninggian jalan beton/aspal dibandingkan pembangunan drainase yang baik. Bisa kita lihat di lingkunan kita sendiri banyak saluran air yang mampet oleh sampah dan tanah. Saya mencatat ada dua got besar yaitu di bawah sepanjang jalan teratai dan jalan wahid hasyim yang saat ini sudah tidak berfungsi. Entah got besar lainnya. Sungai juga sudah lama tidak dikeruk. Pendangkalan sungai memperburuk bencana ini. – sistem komunikasi bencana Di hulu sudah ada beberapa bendungan dimana menjadi alat kontrol terhadap volume air. Sayangnya komunikasi peningkatan volume air tidak tersampaikan dengan baik kepada masyarakat terutama di hilir yaitu kota pekalongan. Termasuk memberikan edukasi kepada masyarakt terkait prosedur tanggap bencana. Perlu dilakukan pembenahan sesegera dan seserius mungkin yang dikomando pemkot dengan melibatkan tokoh masyarakat (ulama dsb), elemen akademisi serta masyarakat (melalui organisasi kemasyarakatan dan LSM). Jika tidak maka prediksi kota pekalongan akan tenggelam sudah di depan mata. Monggo yang mau menanggapi, tetap jaga kesopanan dalam menyanpaikan pendapat ya. Maturnuwun. 🙏🙏🙏”

Demikian beberapa cuitan warga yang dituangkan dalam media sosial. Semoga ada langkah kongkrit dari stakeholder (para pengambil kebijakan) di Pekalongan untuk mengatasi bencana tahunan tersebut.

Penulis Buono

Terkait
Penggiat komunitas sepakat suarakan warga

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Beragam penggiat komunitas di Kota dan Kabupaten Pekalongan sepakat untuk terus menyuarakan suara akar rumput. Kesepakatan Read more

Aaf prioritaskan penanganan banjir dan rob, Agung benahi infrastruktur

Program 100 hari Pekalongan, Wartadesa. - Afzan Arslan Djunaid (Aaf)-Salahudin, Walikota dan Wakil Walikota Pekalongan memasukkan penanganan banjir dan rob Read more

WarungMu gratis hari ini dibuka

Kajen, Wartadesa. - Pimpinan Daerah Muhammadiyah dan Aisyiyah Kabupaten Pekalongan hari ini, Jum'at (26/02) akan membuka warung gratis untuk dhuafa, Read more

3.700 warga Kabupaten Pekalongan dan 2.351 warga Kota Pekalongan masih bertahan di pengungsian

Pekalongan, Wartadesa. - Sedikitnya 3.700 warga terdampak banjir di Kabupaten Pekalongan dan 2.351 warga Kota Pekalongan masih bertahan di beberapa Read more

Tags : banjir pekalonganberita pekalongansuara warga