close
Kesehatan

Jumlah Gay di Kota Santri memprihatinkan

ilustrasi gay
Ilustrasi

Kajen, Wartadesa. – Jumlah kaum lesbian gay biseksual dan transgender (LGBT) di Kota Santri mengalami kenaikan cukup pesat. Bahkan perilaku seks menyimpang di kota yang terkenal dengan sego megononya tersebut sudah masuk tahap memprihatinkan.

M. Iqbal Masruri, pengelola program  KPA Kabupaten Pekalongan mengungkapkan bahwa data dari Kemenkes tahun 2012, tercatat 4.046 gay di Kabupaten Pekalongan. Jumlah pelaku perilaku seks menyimpang ini memprihatinkan, “Di Kabupaten Pekalongan, berdasarkan estimasi dari Kemenkes 2012, jumlah pria gay diperkirakan mencapai 4.046 jiwa. Jumlah tersebut kemungkinan berkembang pesat,” ujarnya seperti diberitakan radartegal.com.

Menurut Iqbal ada komunitas di media sosial facebook yang menampung gay, bahkan tak sedikit yang melakukan tukar-menukar pasangan dan tawar menawar melalui forum grup di fb tersebut.

Informasi yang didapatkan, grup komunitas gay Pekalongan pengikutnya mencapai lebih dari 1.500 orang. Dalam grup terbuka itu, mereka tak risih untuk tawar menawar dan janjian dengan sesama jenis. Usia anggota di grub antara 17 hingga 30an tahun.

Faktor penyebab, lanjut Iqbal, kaum Sodom ini karena faktor lingkungan yang mempengaruhi orientasi seks, namun ada juga karena penyebab lain, yakni masalah psikologis. “Faktor lain bisa diakibatkan karena trauma psikologis, seperti dikhianati atau disakiti pasangannya, yang pada akhirnya membuat orang tersebut menemukan kenyamanan dengan sesama jenis,” ujar Iqbal.

Menurutnya, kelainan psikologis bisa menular. Seseorang yang dalam kondisi psikologis tidak stabil bisa tertular. “Tapi butuh proses atau jalan yang panjang. Sehingga kita perlu memahami diri kita sebagaimana manusia yang diciptakan Tuhan dengan dua jenis, yakni laki-laki dan perempuan,” imbuhnya menjelaskan

Perilaku seks menyimpang sesama jenis yang dilakukan kaum gay sendiri cukup berisiko terhadap penularan virus HIV. Berdasarkan data Dinkes Pekalongan, 4 persen dari total kasus HIV/Aids yang berhasil ditemukan di Kota Santri adalah kaum gay atau seks sesama jenis.

“Dari 2005 sampai Februari 2018, terdapat 283 pengidap Aids yang ditemukan Dinkes Kabupaten Pekalongan, di antaranya 145 pengidap HIV, dan 138 lainnya sudah masuk fase Aids. 4 persen dari total kasus adalah mereka yang memiliki kelainan seks sesama jenis,” terang Iqbal.

Pihaknya terus berupaya melakukan sosialisasi ke masyarakat terkait penyimpangan-penyimpangan atau perilaku seks yang berisiko mengakibatkan terjangkit HIV. Mulai dari bahaya gonta-ganti pasangan, penyalahgunaan narkoba, dan seks sesama jenis.

“Kita berusaha terus mengedukasi masyarakat, tentang bahaya-bahaya seks berisiko dan penyalahgunaan narkoba terhadap dampak Aids,” pungkasnya. (sumber: Indopos)

Terkait
Gathering Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia

Bekasi, Wartadesa. – Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia (PMGI) yang berdiri pada tahun 2016 yang lalu, menyelenggarakan Gathering dan Silaturrahim perdana Read more

Sejak Ramadhan lalu warga Gunungsari Pemalang kekurangan Air

Pemalang, Wartadesa. - Warga Desa Gunungsari Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sejak bulan Ramadhan lalu kekurangan air bersih. Biasanya Read more

Sejumlah orang tua tolak vaksinasi Rubella

Pekalongan Kota, Wartadesa. -  Setidaknya 15 orang tua siswa di beberapa SD di wilayah Kota Pekalongan menolak anaknya diimunisasi Measles Read more

Kasus HIV/AIDS di Kota Santri capai 40

Kajen, Wartadesa. - Kasus HIV/AIDS di Kota Santri sejak Januari hingga Juni 2017, meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya. Komisi Penanggulangan Read more

Wartawan Warta Desa dilarang menerima suap atau sogokan dalam bentuk apapun, termasuk uang, barang, atau fasilitas, yang dapat mempengaruhi independensi pemberitaan. Jika menemukan hal tersebut, mohon difoto dan dilaporkan kepada redaksi dan pihak kepolisian

Tags : gaylgbt