Kajen, Wartadesa. – Musim kemarau dan akibat pencemaran limbah cair menyebabkan hampir seluruh wilayah di Kabupaten Pekalongan mengalami krisis air bersih. Hanya satu kecamatan, yakni Kecamatan Talun yang bebas dari krisis air bersih.
Menurut Kabid Fisik dan Prasarana Bappeda Kabupaten Pekalongan, Yudhi Himawan, sebanyak 98 desa mengalami ancaman krisis air bersih dikarenakan beberapa faktor. Di antaranya, sumber air bersih sulit dan air tanah tidak layak konsumsi. Kerusakan air tanah ini bisa ditimbulkan oleh beberapa penyebab, seperti pencemaran limbah rumah tangga dan industri. Kamis (31/8)
Baca: Kekeringan, Rowoyoso butuh air bersih
Kemaru, warga Luragung kesulitan air bersih
27 Desa di Pekalongan alami kekeringan
Yudhi Himawan mengatakan bahwa kondisi air tanah yang tidak layak sebagian besar berada di wilayah perkotaan. Akibatnya 241.583 jiwa penduduk Kota Santri yang tersebar di beberapa wilayah terancam krisis air bersih. Ancaman ini tersebar di 98 desa di 18 kecamatan di Kota Santri.
Yudhi Himawan menambahkan, penanganan krisis air bersih yang sudah dilakukan yakni melalui program Pamsimas.Dimana setiap titiknya mampu memenuhi kebutuhan air bersih untuk sekitar 200 jiwa. Program Pamsimas ini dalam kurun waktu tersebut 12 desa didanai dari APBN dan sisanya dari APBD.
Pada tahun 2018, Yudhi menargetkan akan membangun Pamsimas di 25 desa. 20 dari APBN dan 5 dari APBD. Selain itu, tambah Yudhi, pihaknya juga memiliki program Petanglong PDAM yang mampu memenuhi 16 ribu pelanggan. (WD)










