Saudi Arabia, Wartadesa. – Perjalanan Muchammad Khamim Setiawan, biasa disapa Aim, yang berjalan kaki selama setahun sepanjang sembilan ribu kilometer dari Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah hingga Makkah, Saudi Arabia untuk menunaikan haji, mendapat perhatian dari warga Saudi. Perjalanan unik ini diliput oleh Saudi Gazette, sebuah media berbahasa Inggris, terbit sejak 1978 dan bermarkas di Jeddah.
Menurut Saudi Gazette, perjalanan yang dilakukan oleh Aim merupakan perjalanan yang penuh keberanian. Perjalanan tersebut membutuhkan keberanian dan keyakinan yang teguh, mengingat sepanjang perjalanan penuh dengan bahaya, namun kaya akan spiritualisme.
Menurut Syaufani Solichin (74) yang menceritakan bagaimana tekad anakknya dalam menjalankan ibadah haji ke Tanah Suci Mekkah dengan berjalan kaki, “Kapan pun dia menginginkan sesuatu, dia akan berusaha dengan sepenuh hati untuk mendapatkannya sendiri, tidak ada yang bisa menghentikannya. Dia adalah orang yang memiliki keyakinan kuat,” kata Syaufani Solichin ketika diwawancarai Saudi Gazette.
Untuk petualangan spiritual ini, “Aim”, begitulah teman dan keluarganya memanggilnya, membawa tas ransel, satu salinan Alquran, beberapa kemeja, dua pasang celana dan sepatu, selusin pasang kaus kaki , beberapa pakaian dalam, kantong tidur dan tenda, sebuah obor portable sebuah ponsel pintar, bendera mini Indonesia, GPS dan uang tunai sebesar Rp. 3 juta (sekitar SR850).
Mengenakan T-shirt bertuliskan “Saya dalam perjalanan ke Makkah dengan berjalan kaki dan menaruh kepercayaan penuh pada Tuhan,” di punggungnya, Setiawan memulai perjalanannya yang berani dari kampung halamannya di Kabupaten Pekalongan, di Jawa Tengah, pada pukul 10 malam. pada 28 Agustus 2016.
Awalnya, keluarganya meragukan kemampuannya untuk mencapai tujuan mimpinya karena harus menempuh jarak jauh lebih dari 9 ribu kilometer. Dia bahkan didesak untuk membatalkan rencananya, tapi mereka gagal membujuk Aim untuk membatalkan perjalanannya.
Ayah Aim, Syaufani, saat itu, dipanggil oleh kantor Kementrian Agama RI Kab. Pekalongan untuk menandatangani beberapa surat pernyataan yang menyatakan tidak keberatan atas keinginan anaknya untuk memulai petualangan spiritualnya.
Dengan berpuasa hampir sepanjang siang hari selama perjalanan, Setiawan lebih memilih untuk bepergian pada malam hari dengan bantuan lampu dan memanfaatkan siang hari untuk beristirahat di masjid, bangunan umum, rumah penduduk setempat, atau bahkan di dalam hutan di beberapa negara yang dilaluinya. .
Aim mampu menempuh jarak 50 km saat dalam keadaan prima. Namun, saat ia merasakan sakit di lututnya, ia hanya bisa berjalan 10 sampai 15 km sehari.
Setiawan jatuh sakit dua kali dalam perjalanannya, yaitu saat dia berada di Malaysia dan India. Dia tidak mengonsumsi suplemen khusus untuk mempertahankan stamina tubuhnya, tapi hanya mengkonsumsi makanan halal dan mengandalkan madu dicampur air untuk mengembangkan kekebalan tubuhnya terhadap cuaca buruk.










