close
Pendidikan

Meski kertas kerja proyek dan peralatan terendam banjir, mahasiswa asal Malaysia ini tidak kapok kembali ke Pekalongan

mahasiswa malaysia
Belasan mahasisa UMK Malaysia bertolak ke Kualalumpur

Jakarta, Wartadesa. – Belasan mahasiswa Universiti Malaysia Kelantan (UMK) yang minggu lalu terdampak banjir di Pekalongan saat mengikuti pelatihan dalam teknologi pewarnaan batik di Zahir Batik sejak September 2018 lalu, mereka tidak kapok untuk kembali melanjutkan kursus singkatnya, meski sempat kehilangan peralantan senilai RM 2.000 dan kertas kerja proyek tahun terakhir (bahan skripsi).

Dua belas mahasiswa UMK yang terdiri dari 10 mahasiswi dan dua orang mahasiswa melakukan kursus singkat teknologi pewarnaan batik sejak September lalu. Rumah tempat mereka menginap, pekan lalu (27/01) terendam banjir. Banjir yang masuk dengan cepat membuat mereka tidak sempat menyelelamatkan paspor, ponsel, dan laptop mereka. Mereka hanya sempat menyelamatkan beberapa potong pakaian saja.

Mohd Aeree Abu Bakar (24) mahasiwa UMK tingkat akhir, mengungkapkan kepada harian Bernama Malaysia, saat banjir Ahad (27/01) pada pukul 22.00 WIB; awalnya air masuk ke penginapan (hostel) mereka setinggi mata kaki. Namun satu jam berikutnya air dengan cepat mencapai pinggang orang dewasa.

“Dalam waktu kurang dari satu jam, air banjir naik dari pergelangan kaki kita ke pinggang. Barang-barang pribadi kami termasuk kertas kerja untuk semester terakhir hancur dan kami benar-benar kecewa dan kesal, ”kata Aeree.

Dua belas mahasiswa asal UMK tersebut kemudian mengarungi air setinggi pinggang orang dewasa untuk mengungsi ke sebuah madrasah sebelum dihubungi oleh dosen UMK pada pukul 05.00 WIB pagi, tanggal 28 Januari 2019.

Dengan menyewa sebuah van, keduabelas mahasiswa tersebut menuju Jakarta dengan perjalanan selama delapan jam. “Kami tinggal di Malaysia Hall, Jakarta selama dua hari dan diberi makanan dan pakaian oleh petugas Kedutaan Besar Malaysia serta berbagai agen Malaysia lainnya di sana,” tambahnya.

Hari ini, Ahad (03/02) mahasiswa UMK tersebut tiba di bandara Kualalumpur dan akan diterima oleh Menteri Luar Negeri Datuk Saifuddin Abdullah dan wakil rektor UMK (Alumni dan Kemahasiswaan), Prof Dr Zaliman Sauli di aula kedatangan di klia2.

Mohd Aeree menambahkan setelah menyelesaikan semester pertama, mereka semua kembali ke Malaysia bulan lalu sebelum kembali ke Pekalongan pada 26 Januari untuk memulai semester kedua hingga Mei.

Pekalongan dipilih oleh kedua belas mahasiswa UMK lantaran Pekalongan diakui oleh Unesco sebagai Kota Batik Dunia. Aeree mengatakan dia belum menetapkan tanggal untuk kembali ke Pekalongan untuk menyelesaikan semester kedua. (Sumber: Bernama)

Tags : banjir pekalonganmalaysia

Leave a Response