Terkait dengan perlindungan data pribadi inilah, ICT Watch bekerjasama dengan Innovation for Change (I4C) – East Asia, Tactical Technology Collective (Tactical Tech), dan Open Culture Foundation (OCF) menggelar “Digital Privacy and Safety Training” bagi para aktivis lokal di 4 (empat) negara di Asia Tenggara, yaitu: Malaysia, Indonesia, Thailand dan Filipina.
Di Indonesia, kegiatan ini digelar di Harris Hotel, Tebet, Jakarta Selatan, pada 6-8 Septermber 2017 lalu dengan mengundang penggiat media dan organisasi sosial dari berbagai wilayah. Sebagai penggiat yang memanfaatkan internet sebagai media untuk berbagai aktivitasnya, baik berupa sosialisasi, edukasi, advokasi, komunikasi maupun promosi. Kegiatan ini sangat penting, mengingat setiap peserta dibekali dengan pengetahuan dasar seputar internet dan langkah-langkah pengamanan saiber (cyberscurity).
Alat Bantu
Beberapa pengetahuan dasar yang dapat kita praktikkan untuk pengamanan saiber bagi penggiat media, aktivis lembaga sosial maupun pribadi dapat dimulai dengan langkah-langkah sebagai berikut.
Pertama, dengan membatasi jejak digital. Melalui komputer, ponsel, dan perangkat digital lainnya, kita meninggalkan ratusan jejak digital (juga disebut jejak data ) setiap hari. Informasi tentang kita yang dibuat, disimpan, dan dikumpulkan melalui internet.
Bila jejak digital disatukan akan tercipta cerita tentang kita atau profil kita. Hal tersebut menjadi bayangan digital kita. Tentunya jejak digital ini akan memberi gambaran orang lain tentang kehidupan kita dan orang-orang sekeliling kita. Namun, ketika data digital tersebut berada di luar sana (baca: internet) tak satupun dari kita dapat mengontrolnya.
Untuk membatasi jejak digital kita, dapat dilakukan dengan ‘tidak menampilkan (meng-hide)’ keberadaan lokasi kita di internet, dengan jalan menggunakan browser (perambah web) yang tidak menampilkan keberadaan IP (internet protokol) kita sebenarnya.










