close
ilustrasi dbd
ilustrasi endemis DBD

Pekalongan Kota, Wartadesa. – Sembilan kelurahan di wilayah Kota Pekalongan endemis Demam Berdarah Dengeu (DBD). Wilayah tersebut dinyatakan endimis karena tiga tahun berturut-turut ditemukan penderita DBD. Demikian disampaikan Kepala Bidan Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, dokter Tuti Widayanti beberapa waktu lalu.

Dari data selama tiga tahun berturut-turut selalu ditemukan, yakni pada tahun 2015, 2016 dan tahun 2017, sehingga sembilan kelurahan yang dinyatakan sebagai endemis penyakit demam berdarah.

Kesembilan kelurahan tersebut meliputi, Podosugih, Medono, Sapuro Kebulen, Tirto, Pringlangu, Landungsari, Pabean, Yosorejo, dan Kertoharjo. “Wilayah-wilayah itu dikatakan endemis karena selama tiga tahun berturut-turut selalu ditemukan kasus demam berdarah,” ujar Tuti Widayanti.

Tuti menambahkan, hingga April 2018 ini ditemukan 15 kasus DBD di sembilan wilayah endemik.

Selain upaya melakukan fogging (penyemprotan) massal, masyarakat di daerah endemik harus terus menggalakkan program pemberantasan sarang nyamuk atau PSN, agar terbebas dari bahaya penyakit yang mematikan tersebut.

Namun Tuti kembali menegaskan, fogging hanya berfungsi untuk memutus rantai penyebaran DBD pada suatu lokasi di rentang waktu tertentu. Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa. Jika tidak disertai dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) oleh masyarakat setempat, maka dalam tempo satu minggu setelah fogging akan kembali muncul jentik-jentik nyamuk yang bisa menyebarkan penyakit DBD.

“Maka kesadaran masyarakat untuk melakukan PSN sangat diperlukan. Setidaknya, PSN dilakukan seminggu sekali agar tidak ada jentik nyamuk yang menularkan penyakit DBD,” tandas Tuti. (Eva Abdullah)

Tags : dbddemam berdarahendemis dbd