close

Opini

Opini

Refleksi Akhir Tahun: Muhasabah dan Ikhtiar dalam Perspektif Islam

IMG-20260109-WA0003

Oleh: Dr. Risdiani, S.Ag., M.Si.

Pergantian tahun merupakan momentum yang tepat untuk melakukan muhasabah, yakni introspeksi diri atas perjalanan hidup yang telah dilalui. Dalam perspektif Islam, waktu adalah amanah yang sangat berharga. Setiap detik yang berlalu tidak hanya menandai bertambahnya usia, tetapi juga mendekatkan manusia pada saat pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Refleksi akhir tahun seharusnya tidak berhenti pada evaluasi pencapaian duniawi, melainkan juga menyentuh dimensi spiritual dan moral. Allah Swt. Berfirman:

“Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran” (QS. Al-‘Ashr: 1–3).

Ayat ini menegaskan bahwa waktu akan kehilangan maknanya jika tidak diisi dengan iman dan amal. Tahun yang telah berlalu menjadi cermin untuk menilai sejauh mana keimanan terjaga, amal kebaikan diperbanyak, dan kontribusi kepada sesama terus ditingkatkan.
Sepanjang perjalanan satu tahun, berbagai tantangan, perubahan, dan keterbatasan tentu dihadapi. Tidak semua rencana berjalan sesuai harapan. Dalam Islam, kondisi tersebut dipahami sebagai bagian dari ujian kehidupan. Ujian bukan untuk melemahkan, tetapi untuk menguatkan keimanan dan melatih kesabaran. Rasulullah saw. Bersabda:
“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati” (HR. Tirmidzi).

Hadis ini mengajarkan bahwa keberhasilan sejati terletak pada kemampuan belajar dari kesalahan dan memperbaiki diri. Dalam konteks kehidupan modern yang serba cepat, muhasabah menjadi semakin penting agar manusia tidak terjebak dalam rutinitas tanpa makna. Aktivitas yang padat, target yang berlapis, dan tuntutan profesional sering kali membuat orientasi akhir terlupakan. Islam mengingatkan bahwa kualitas amal lebih utama daripada kuantitas aktivitas. Setiap langkah perlu dilandasi kesadaran bahwa hidup bukan sekadar tentang pencapaian, tetapi tentang kebermanfaatan dan keikhlasan dalam berbuat.

Refleksi akhir tahun juga mengajak kita untuk menumbuhkan rasa syukur. Syukur bukan hanya diucapkan, tetapi diwujudkan melalui kesungguhan dalam menjalankan amanah. Setiap peran, pekerjaan, dan tanggung jawab yang diemban sejatinya adalah ladang ibadah jika dilandasi niat yang lurus. Dengan bersyukur, manusia diajarkan untuk tidak larut dalam keluhan, melainkan fokus pada peluang kebaikan yang masih terbuka. Menatap tahun yang baru, Islam mendorong umatnya untuk memperbarui niat (tajdid an-niyyah), memperkuat ikhtiar, dan memperdalam ketawakalannya. Harapan harus disertai doa, dan usaha harus dibingkai dengan kejujuran serta keistiqamahan. Semoga tahun mendatang menjadi waktu yang lebih berkah, produktif, dan bermakna, di mana setiap langkah tidak hanya bernilai keberhasilan dunia, tetapi juga bernilai ibadah di sisi Allah Swt., serta membawa maslahat luas bagi umat dan peradaban manusia seluruhnya, sebagai wujud tanggung jawab moral, spiritual, dan sosial sepanjang perjalanan hidup. ***

Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

Menguatkan Solidaritas Kemanusiaan di Hari Imigran Internasional

IMG-20251218-WA0007

Oleh : Hadwitya Handayani Kusumawardhani, S.Kom, M.Kom

Setiap tanggal 18 Desember, dunia memperingati Hari Imigran Internasional, sebuah momentum penting untuk merefleksikan perjalanan jutaan manusia yang berpindah lintas negara demi keamanan, pekerjaan, atau kehidupan yang lebih layak. Peringatan ini ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2000 sebagai pengakuan atas kontribusi besar para imigran, sekaligus sebagai seruan untuk melindungi hak-hak dasar mereka.

Migrasi: Fenomena Global yang Tak Terelakkan

Dalam dua dekade terakhir, mobilitas manusia meningkat pesat. Perubahan iklim, ketimpangan ekonomi, konflik bersenjata, dan dinamika sosial-politik menjadi faktor pendorong perpindahan populasi antarnegara. Migrasi bukan hanya urusan negara yang dituju, namun fenomena global yang saling terhubung layaknya arus ekonomi, teknologi, dan budaya.

Selain dikenal sebagai negara pengirim pekerja migran, Indonesia juga menjadi salah satu tujuan bagi imigran dan pengungsi dari berbagai negara. Kehadiran mereka membawa dinamika sosial, tantangan kebijakan, namun juga peluang kolaborasi antarbangsa.

Kontribusi Imigran bagi Dunia

Tidak dapat dipungkiri, imigran berperan besar dalam berbagai sektor. Mereka mengisi kekurangan tenaga kerja, memperkaya keragaman budaya, serta berkontribusi pada perekonomian negara tempat mereka bermukim. Di banyak negara maju, sektor pertanian, kesehatan, dan logistik bahkan bergantung pada tenaga migran.

Pada bidang budaya, imigran membawa pengetahuan, seni, kuliner, dan cara pandang baru yang ikut membentuk masyarakat yang lebih inklusif dan dinamis. Keanekaragaman ini adalah modal sosial yang tak ternilai dalam dunia global saat ini.

Masih Ada Tantangan

Meski kontribusinya besar, jutaan imigran masih menghadapi diskriminasi, eksploitasi, serta risiko kekerasan—khususnya mereka yang berpindah secara terpaksa, seperti pengungsi dan pencari suaka. Banyak yang harus menempuh perjalanan penuh bahaya, hidup tanpa jaminan kesehatan, pendidikan, ataupun status hukum yang jelas.

Hari Imigran Internasional mengingatkan kita bahwa imigran bukan statistik, melainkan manusia yang memiliki mimpi, keluarga, dan hak yang sama seperti warga negara lainnya.

Seruan untuk Perlindungan dan Kemanusiaan

Sebagai bangsa yang menjunjung nilai kemanusiaan, Indonesia memiliki peran penting dalam memastikan perlindungan hak-hak dasar para imigran. Pendekatan humanis yang ditunjukkan oleh banyak komunitas lokal dan lembaga sosial menjadi bukti bahwa solidaritas dapat tumbuh di tengah keterbatasan.

Momentum ini menjadi ajakan bagi pemerintah, masyarakat sipil, media, dan dunia pendidikan untuk:

  • Meningkatkan pemahaman publik mengenai isu migrasi.
  • Menolak segala bentuk diskriminasi terhadap imigran.
  • Memperkuat kebijakan perlindungan dan integrasi sosial.
  • Mengapresiasi kontribusi para imigran dalam kehidupan berbangsa.

Penutup

Hari Imigran Internasional bukan sekadar peringatan simbolik. Ini adalah pengingat bahwa dunia terdiri atas jutaan perjalanan manusia yang saling terhubung. Dengan memperkuat semangat solidaritas dan kemanusiaan, kita membangun masyarakat yang lebih adil, inklusif, dan bermartabat bagi semua, tanpa memandang dari mana seseorang berasal. ***

 

Penulis adalah Dosen UMPP

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

Optimalisasi Peran Aisyiyah dalam Pengembangan Kurikulum PAUD Berbasis Teknologi pada Era Digital

penulis

Oleh: Dr. Cholisa Rosanti, M.Si

Aisyiyah sebagai organisasi perempuan Muhammadiyah memiliki peran strategis dalam memajukan pendidikan anak usia dini (PAUD) di Indonesia. Dalam era teknologi yang berkembang pesat, Aisyiyah dituntut untuk melakukan inovasi kurikulum agar mampu menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual. Perkembangan digital yang demikian cepat membawa tantangan sekaligus peluang bagi pendidikan anak usia dini, terutama dalam proses pembelajaran yang menuntut kreativitas, adaptasi, dan pemanfaatan teknologi secara bijak.

Dalam konteks pengembangan kurikulum, Aisyiyah memiliki keunggulan karena menekankan integrasi nilai-nilai Islam dalam seluruh proses pembelajaran. Kurikulum PAUD Aisyiyah dirancang tidak hanya untuk mengembangkan aspek kognitif, motorik, dan bahasa, tetapi juga pembentukan akhlak sejak dini. Pada era teknologi, integrasi nilai Islam menjadi pedoman penting agar anak tidak hanya berinteraksi dengan teknologi secara mekanis, tetapi tetap memahami batasan etika, adab, dan moral yang sesuai ajaran Islam.

Aisyiyah telah menerapkan berbagai inovasi yang relevan dengan perkembangan teknologi, seperti penggunaan media pembelajaran digital, aplikasi literasi dini, serta penyediaan pelatihan guru terkait literasi digital. Guru-guru PAUD Aisyiyah dibekali kemampuan untuk memanfaatkan teknologi bukan sebagai pengganti interaksi manusia, tetapi sebagai alat bantu untuk memperkaya proses pembelajaran. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pendidikan Islam yang menekankan keseimbangan antara perkembangan akal, jiwa, dan perilaku.

Selain itu, Aisyiyah melakukan penguatan kerja sama dengan berbagai lembaga berbasis teknologi untuk memperluas akses materi digital yang aman dan ramah anak. Hal ini penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif serta memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan. Aisyiyah juga menekankan keterlibatan orang tua dalam mengawasi penggunaan teknologi di rumah, sehingga kesinambungan pendidikan antara sekolah dan keluarga dapat terjaga.

Dengan berbagai upaya tersebut, Aisyiyah berhasil menempatkan diri sebagai pelopor pendidikan anak usia dini yang adaptif, religius, dan responsif terhadap tantangan zaman. Pengembangan kurikulum berbasis teknologi yang terarah dan berlandaskan nilai-nilai Islam menjadi kunci untuk membangun generasi emas yang berkarakter dan siap menghadapi masa depan.

Referensi

  1. Aisyiyah. (2020). Pedoman Kurikulum PAUD Aisyiyah. Pimpinan Pusat Aisyiyah.
  2. Kemendikbud RI. (2022). Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini Berbasis Teknologi. Jakarta.
  3. Nuryanto, A. (2021). “Integrasi Teknologi dalam Pembelajaran PAUD.” Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 10(2), 145–160.
  4. PP Muhammadiyah. (2019). Pendidikan Holistik dalam Perspektif Islam.
  5. UNESCO. (2023). Early Childhood Digital Learning Framework. Paris: UNESCO Publishing.
  6. Suyadi. (2020). Pendidikan Islam Anak Usia Dini di Era Digital. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

 

 

Penulis adalah: Dosen AIK Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Terkait
Pelatihan dasar tingkatkan kompetensi guru PAUD

Kajen, Warta Desa - Pendidik Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) se-Kabupaten Pekalongan diberi pelatihan selama tujuh hari.  Pelatihan yang berorientasi pada teknis Read more

Longsor hantam PAUD Angrek Wulan Curugmuncar Petungkriyono

Petungrkiyono, Wartadesa. - Hujan deras yang terjadi di Desa Curugmuncar Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan sejak Ahad siang (26/2) menjebabkan talud Read more

Tiga ribu warga Muhammadiyah dan Aisyiyah padati rumah pohon Widuri

Pemalang, Wartadesa. - Lebih dari tiga ribu warga Muhammadiyah dan Aisyiyan Kabupaten Pemalang menghadiri acara pengajian silaturahim dalam rangka memperingati Read more

Guru PAUD merasa dilecehkan oleh Oknum Pengawasnya

Bojong, Wartadesa. - Etika  dalam berbicara sudah barang tentu sangat penting , jika asal bicara bisa jadi menyingung perasaan yang Read more

selengkapnya
Opini

INTEGRASI NILAI ISLAM DAN SAINS DALAM EKSPLORASI KELOR, PEGAGAN, DAN JINTAN HITAM UNTUK KESEHATAN BERKELANJUTAN

ainun

Oleh: Apt. Fajrul Fhalaq Baso.,S.Farm.,M.Farm

Di tengah meningkatnya beban penyakit kronis, ketergantungan terhadap obat sintetik impor, serta krisis lingkungan global, dunia kesehatan dihadapkan pada tantangan besar: Bagaimana menyediakan layanan kesehatan yang efektif, aman, terjangkau, dan berkelanjutan. Dalam konteks ini, Eksplorasi bahan alam kembali mendapat perhatian serius. Namun, eksplorasi tersebut tidak cukup hanya berbasis sains modern; ia memerlukan landasan nilai yang kuat agar tidak terjebak pada eksploitasi semata. Di sinilah integrasi nilai Islam dan sains menemukan relevansinya.

Islam sejak awal memposisikan ilmu pengetahuan sebagai bagian dari ibadah. Perintah Iqra’ tidak hanya dimaknai sebagai membaca teks, tetapi juga membaca alam sebagai ayat Kauniyah. Alam bukan sekadar objek pemanfaatan, melainkan amanah yang harus dikelola secara bijaksana. Prinsip Khalifah fil ardh menegaskan tanggung jawab manusia untuk menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian. Nilai-nilai ini sejalan dengan konsep kesehatan berkelanjutan yang kini menjadi agenda global.

Dalam sejarah peradaban Islam, integrasi antara nilai spiritual dan sains bukanlah hal baru. Ilmuwan Muslim seperti Ibnu Sina, Al-Razi, dan Ibnu al-Baitar telah mengembangkan ilmu kedokteran dan farmakologi berbasis bahan alam dengan pendekatan empiris yang maju pada masanya. Mereka tidak memisahkan etika dari ilmu, serta menempatkan kemaslahatan manusia sebagai tujuan utama. Spirit inilah yang seharusnya dihidupkan kembali dalam pengembangan bahan alam di era modern.

Indonesia sebagai negara dengan keanekaragaman hayati yang tinggi memiliki potensi besar dalam pengembangan obat berbasis bahan alam. Di antara sekian banyak tanaman obat, Kelor (Moringa oleifera), Pegagan (Centella asiatica), dan Jintan hitam (Nigella sativa) merupakan contoh bahan alam yang tidak hanya dikenal secara empiris, tetapi juga memiliki dasar ilmiah yang semakin kuat. Ketiganya mencerminkan bagaimana kearifan lokal, nilai keislaman, dan sains modern dapat disinergikan.

Kelor dikenal luas sebagai “miracle tree” karena kandungan nutrisinya yang sangat kaya. Daun kelor mengandung protein, vitamin, mineral, serta senyawa antioksidan yang berperan dalam pencegahan penyakit degeneratif. Dalam perspektif farmasi, berbagai penelitian menunjukkan potensi kelor sebagai antiinflamasi, antidiabetik, dan imunomodulator. Pemanfaatan kelor yang berkelanjutan bukan hanya mendukung kesehatan masyarakat, tetapi juga ketahanan pangan dan kemandirian kesehatan, terutama di wilayah pedesaan.

Pegagan, yang sejak lama digunakan dalam pengobatan tradisional, kini banyak diteliti dalam konteks neuroprotektif, penyembuhan luka, serta peningkatan fungsi kognitif. Senyawa aktif seperti asiatikosida telah dibuktikan memiliki aktivitas farmakologis yang menjanjikan. Dalam konteks kesehatan mental dan penuaan populasi, pegagan menawarkan alternatif berbasis alam yang relatif aman jika digunakan secara rasional dan berbasis bukti. Hal ini sejalan dengan prinsip Islam tentang menjaga akal (hifz al-‘aql) sebagai bagian dari tujuan utama syariat.

Sementara itu, jintan hitam memiliki posisi unik dalam tradisi Islam, dikenal melalui hadis sebagai tanaman dengan potensi penyembuhan berbagai penyakit. Namun, pendekatan ilmiah diperlukan agar pemanfaatannya tidak berhenti pada keyakinan semata. Penelitian modern menunjukkan bahwa thymoquinone, senyawa utama dalam jintan hitam, memiliki aktivitas antioksidan, antiinflamasi, dan imunomodulator. Integrasi nilai Islam dan sains menuntut agar keyakinan religius diperkuat dengan evidence based, sehingga penggunaan jintan hitam menjadi rasional, aman, dan bertanggung jawab.

Dari sudut pandang farmasi, tantangan utama dalam pengembangan bahan alam adalah standarisasi, keamanan, efektivitas, dan keberlanjutan. Tanpa pendekatan ilmiah yang sistematis, bahan alam berisiko digunakan secara tidak tepat, bahkan menimbulkan efek yang merugikan. Di sinilah peran tenaga kefarmasian menjadi strategis: menjembatani pengetahuan tradisional, nilai religius, dan ilmu berbasis bukti. Pendekatan ini sejalan dengan etika Islam yang menolak praktik berlebihan (israf) dan mendorong kemanfaatan yang berkeadilan.

Kesehatan berkelanjutan tidak hanya berbicara tentang penyembuhan penyakit, tetapi juga tentang pencegahan, pemberdayaan masyarakat, dan kelestarian lingkungan. Pengembangan kelor, pegagan, dan jintan hitam secara bertanggung jawab dapat menjadi bagian dari solusi kesehatan komunitas, sekaligus mendukung ekonomi lokal. Jika dikelola dengan prinsip keadilan dan amanah, eksplorasi bahan alam dapat menjadi instrumen kesejahteraan, bukan sekadar komoditas pasar.

Pada akhirnya, integrasi nilai Islam dan sains dalam eksplorasi bahan alam bukanlah upaya romantisasi masa lalu, melainkan langkah strategis menghadapi masa depan. Kesehatan yang berkelanjutan membutuhkan ilmu yang berpijak pada etika, serta iman yang mendorong pencarian ilmu. Ketika sains berjalan tanpa nilai, ia berisiko kehilangan arah; ketika nilai berjalan tanpa sains, ia berisiko kehilangan daya guna. Sinergi keduanya adalah kunci. Dengan menjadikan kelor, pegagan, dan jintan hitam sebagai contoh, kita diajak untuk melihat bahwa solusi kesehatan tidak selalu harus mahal dan bergantung pada luar negeri. Alam telah menyediakan potensi, Islam telah memberikan nilai, dan sains menawarkan metode. Tugas kita adalah menyatukannya demi kesehatan manusia dan keberlanjutan kehidupan. ***

 

Penulis adalah : Mahasiswa Doktor Ilmu Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta dan Dosen D-III Farmasi STIKes Salewangang Maros

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

Perintah Iqra’ sebagai Gerak Spiritual: Telaah Makna dalam Tradisi Tafsir ‘Irfani

Screenshot_20251217_154601

Oleh: Dr. Cholisa Rosanti , M.Si

Artikel ini mengkaji makna perintah Iqra’ dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 melalui pendekatan tafsir ’irfani (tasawuf intuitif). Tradisi ’irfani memandang Iqra’ bukan sekadar aktivitas membaca teks, tetapi gerak spiritual menuju penyaksian hakikat Ilahi. Dengan menelaah pemikiran tokoh-tokoh sufi seperti Ibn ‘Arabi, al-Ghazali, dan Jalaluddin Rumi, artikel ini menunjukkan bahwa Iqra’ merupakan proses penyucian hati, pembacaan diri, dan pengenalan realitas metafisik. Artikel ini juga menegaskan bahwa perintah Iqra’ adalah fondasi epistemologi spiritual Islam yang menyatukan akal, intuisi, dan ketersingkapan batin.

Perintah Iqra’ dalam Surah Al-‘Alaq merupakan wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad saw. Ayat tersebut bukan sekadar instruksi intelektual, tetapi perintah pembentukan kesadaran spiritual. Dalam tradisi tafsir ‘irfani, yang menekankan penyucian jiwa dan pengalaman batin, Iqra’ dipahami sebagai gerak spiritual manusia menuju ma’rifat. Tradisi irfani menegaskan bahwa bacaan sejati bukan hanya membaca teks Al-Qur’an, tetapi membaca tanda-tanda Tuhan pada diri manusia dan alam semesta. Karena itu, perintah Iqra’ menjadi simbol transformasi spiritual dalam Is

Tafsir ‘irfani merupakan pendekatan penafsiran Al-Qur’an yang berakar pada tradisi tasawuf dan epistemologi intuitif dalam Islam. Berbeda dengan tafsir bil-ma’tsur yang bertumpu pada riwayat dan tafsir bil-ra’yi yang bertumpu pada analisis rasional, tafsir ‘irfani menekankan aspek penyaksian batin (kasyf) dan penyucian jiwa sebagai syarat terkuat untuk memahami makna terdalam ayat. Para sufi meyakini bahwa Al-Qur’an memiliki lapisan-lapisan makna: zahir (eksoteris), isyarat, dan batin (esoteris). Tafsir ‘irfani bergerak pada level batin ini, bukan untuk menggantikan tafsir zahir, tetapi untuk menyingkap kedalaman spiritual yang tidak dapat dicapai oleh pendekatan tekstual semata.

Para tokoh sufi seperti al-Ghazali, Ibn ‘Arabi, Al-Qushayri, dan Rumi menegaskan bahwa hati (qalb) merupakan pusat kognisi spiritual. Untuk memahami Al-Qur’an secara mendalam, seseorang harus menjalani proses penyucian diri melalui dzikir, muraqabah, mujahadah, dan tazkiyah al-nafs. Dalam pandangan irfani, hati yang bersih menjadi cermin bagi cahaya Ilahi. Maka, interaksi dengan wahyu bukan sekadar proses intelektual, tetapi proses transformatif yang menghubungkan manusia dengan realitas Ilahi. Dari fondasi inilah, tafsir ‘irfani memberikan penekanan bahwa Iqra’ adalah panggilan batin untuk membuka kesadaran rohani dan bukan sekadar aktivitas membaca secara literal.

Perintah Iqra’ pada Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dipandang oleh tradisi irfani sebagai momen spiritual pertama dalam proses pembentukan kenabian. Ayat “Iqra’ bismi Rabbika alladzi khalaq” tidak hanya mengandung instruksi membaca, tetapi juga perintah mengorientasikan seluruh proses pengetahuan kepada Tuhan sebagai sumber wujud. Dalam tafsir irfani, Iqra’ merupakan gerak kesadaran (harakah ruhaniyyah) dari diri manusia menuju kesadaran ketuhanan. Artinya, membaca bukan sekadar aktivitas akal, tetapi perjalanan spiritual yang menuntut kehadiran hati dan keterhubungan dengan Sang Pencipta.

Para sufi memaknai Iqra’ sebagai membaca diri (muhasabah) dan membaca semesta sebagai kitab terbuka. Ibn ‘Arabi berpendapat bahwa seluruh ciptaan adalah ayat-ayat eksistensial yang menyingkap sifat-sifat Tuhan. Dengan demikian, Iqra’ mengandung perintah untuk menyadari jejak-jejak Ilahi dalam segala sesuatu. Al-Ghazali menambahkan bahwa Iqra’ hanya dapat mencapai makna batinnya ketika dilakukan dengan hati yang suci; oleh karena itu, proses membaca dalam perspektif irfani adalah bagian dari tazkiyah al-nafs. Ayat-ayat berikutnya yang menyebut tentang pena (al-qalam) dipahami sebagai simbol pengetahuan Ilahi yang terus mengalir kepada manusia yang hatinya siap menerima cahaya.

Dalam perspektif irfani, perintah Iqra’ menjadi dasar bagi konsep pendidikan yang menyatukan aspek intelektual dan spiritual. Pendidikan tidak hanya dipahami sebagai transmisi ilmu pengetahuan, tetapi sebagai proses membentuk manusia menjadi pribadi yang sadar akan kehadiran Tuhan dalam seluruh aktivitasnya. Dengan demikian, Iqra’ berfungsi sebagai fondasi epistemologis pendidikan Islam yang holistik: ia mengarahkan manusia untuk membaca secara kritis, mendalam, dan dengan kesadaran ketuhanan.

Pendidikan spiritual Islam yang terinspirasi dari Iqra’ bertumpu pada tiga pilar. Pertama, integrasi akal dan hati, yakni bahwa pencarian ilmu tidak boleh hanya bertumpu pada rasio tetapi harus disempurnakan dengan intuisi dan penyucian jiwa. Kedua, orientasi tauhid, yaitu bahwa pengetahuan harus mengarah pada penguatan hubungan manusia dengan Allah dan bukan sekadar peningkatan kemampuan duniawi. Ketiga, transformasi moral, karena membaca secara spiritual akan menghasilkan perilaku yang lebih etis, sabar, bersyukur, dan penuh kasih.

Perintah Iqra’ dalam Surah Al-‘Alaq merupakan gerak spiritual yang membawa manusia pada kesadaran Ilahi. Dalam tafsir irfani, Iqra’ tidak hanya dimaknai sebagai membaca teks, tetapi membaca diri, membaca alam, dan membaca tanda-tanda Tuhan. Perintah ini adalah langkah awal bagi perjalanan penyucian jiwa dan pencapaian ma’rifatullah. Dengan demikian, Iqra’ merupakan fondasi epistemologi spiritual Islam yang menyatukan akal, hati, dan intuisi. Ia adalah gerak menuju kedalaman makna, menuju Tuhan. ***

 

Penulis adalah Dosen AIK Prodi Ekonomi Syariah UMPP

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

Menjaga Tanah, Menjaga Pangan: Refleksi Hari Tanah Sedunia

IMG-20251205-WA0004

Oleh: Towijaya*

Setiap 5 Desember, dunia memperingati Hari Tanah Sedunia. Bagi sebagian orang, peringatan ini mungkin terdengar abstrak. Namun bagi negara seperti Indonesia—yang pangan, ekonomi, dan kehidupannya sangat bergantung pada tanah—momen ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah peringatan bahwa keberadaan pangan di meja makan ditentukan oleh sesuatu yang sering kita lupakan yaitu kesehatan tanah.

Fakta bahwa 95 persen pangan dunia tumbuh dari tanah. Tanah bukan hanya media fisik, melainkan ekosistem hidup yang kompleks, dihuni miliaran mikroorganisme yang memastikan tanaman dapat tumbuh. Ketika tanah sehat, pertanian dapat berjalan berkelanjutan tanpa bergantung pada input kimia berlebih. Ketika tanah rusak, seluruh mata rantai pangan ikut runtuh.

Kini dunia menghadapi kenyataan pahit: sepertiga tanah subur telah terdegradasi. Dalam konteks Indonesia, degradasi tanah dipicu oleh erosi, penggunaan pupuk kimia yang tak terkendali, pencemaran, dan alih fungsi lahan yang terus meluas. Lahan sawah kita menyusut setiap tahun, sementara kebutuhan pangan meningkat seiring pertumbuhan penduduk.

Ironisnya, tanah—sumber kehidupan—adalah elemen paling terabaikan dalam diskusi ketahanan pangan. Pemerintah sering memprioritaskan perbaikan irigasi, distribusi pupuk, atau stabilisasi harga pangan. Semua itu penting, tetapi tanpa tanah yang sehat, upaya tersebut seperti menambal perahu bocor dengan pita perekat.

Kesehatan tanah menentukan tiga hal utama: produktivitas, ketahanan terhadap iklim ekstrem, dan keamanan pangan. Tanah yang kaya bahan organik mampu menyimpan air lebih baik dan menjadi benteng alami terhadap banjir maupun kekeringan. Tanah yang terawat juga berperan sebagai penyaring polutan sehingga pangan yang dihasilkan aman dikonsumsi.

Apa yang harus dilakukan Indonesia?

Pertama, memperkuat regenerasi tanah. Pertanian regeneratif—menggunakan pupuk organik, rotasi tanaman, agroforestri, dan tanaman penutup tanah—terbukti meningkatkan hasil panen sekaligus menurunkan biaya produksi. Ini bukan teknologi rumit, melainkan kembali ke prinsip dasar merawat tanah.

Kedua, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. Pupuk memang menaikkan hasil dalam jangka pendek, tetapi penggunaan berlebihan membunuh mikroorganisme bermanfaat dan menurunkan kesuburan jangka panjang. Pemerintah daerah sampai desa perlu mendorong produksi kompos lokal dan biofertilizer.

Ketiga, memperkuat peran kampus dan riset tanah. Banyak inovasi pertanian presisi, biologi tanah, hingga pemetaan kesuburan lahir di kampus, tetapi adopsinya oleh petani masih rendah. Kolaborasi perguruan tinggi—petani—pemerintah harus diperkuat.

Keempat, memperbaiki kebijakan perlindungan tanah. Lahan pertanian produktif tidak boleh terus-menerus dikonversi. Setiap hektare sawah yang hilang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk dipulihkan.

Hari Tanah Sedunia mengingatkan kita bahwa ketahanan pangan bukan hanya persoalan produksi, tetapi tentang keberlanjutan. Tanpa tanah sehat, Indonesia akan menghadapi tantangan pangan yang lebih besar, terutama dalam era perubahan iklim.

Menjaga tanah adalah menjaga hidup. Dan menjaga tanah dimulai dari kesadaran kolektif bahwa tanah bukan sekadar sumber daya, melainkan warisan yang harus kita lindungi !.***

 

Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Pekanangan Pekalongan (UMPP) 

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

Kampus Menjadi Pusat Penguatan Gerakan Relawan pada IVY 2025: Untuk Pembangunan Ekonomi dan Sosial Internasional

IMG-20251205-WA0004

Oleh: Towijaya*

Dunia pendidikan, terutama perguruan tinggi, memiliki peran strategis dalam meningkatkan jumlah dan kualitas relawan di Indonesia pada peringatan International Volunteer Year (IVY) 2025. Dalam ekosistem kerelawanan nasional, kampus disebut sebagai salah satu pilar kunci yang mampu melahirkan generasi relawan terlatih sekaligus memperkuat ketahanan sosial masyarakat, baik nasional maupun internasional.

Selama ini, relawan banyak dikenal lewat kegiatan kemanusiaan atau tanggap bencana. Namun  kampus dapat mendorong partisipasi relawan secara lebih sistematis melalui pendidikan karakter, penelitian dan pengabdian masyarakat, serta pembangunan kapasitas mahasiswa.

Perguruan tinggi memiliki sumber daya intelektual dan organisasi yang kuat. Jika dikelola secara terintegrasi, kampus dapat menjadi pusat produksi relawan yang kompeten dan berkelanjutan dengan kualitas relawan tingkat internasional dengan pembekalan bahasa yang baik.

Kampus sebagai Inkubasi Relawan Muda

Dalam sebuah kajian, kampus memiliki tiga keunggulan utama sebagai inkubator relawan muda:

  1. Populasi usia produktif yang besar, dengan lebih dari 10 juta mahasiswa secara nasional aktif saat ini.
  2. Struktur organisasi yang teratur, mulai dari UKM, BEM, hingga Pusat Studi.
  3. Kapasitas pendidikan dan riset yang dapat dihubungkan langsung dengan isu sosial, lingkungan, hingga kemanusiaan.

Banyak perguruan tinggi telah menjalankan kuliah KKN atau community service, namun kontribusinya dinilai masih bisa diperluas. Penulis merekomendasikan agar program pengabdian masyarakat tidak hanya bersifat proyek jangka pendek, tetapi terhubung dengan kebutuhan komunitas dan keberlanjutan relawan di daerah.

Digitalisasi dan Standarisasi Pelatihan

Digitalisasi manajemen relawan kampus sangat diperlukan, seperti platform pemetaan minat, pelatihan daring, dan distribusi relawan ke sektor yang membutuhkan. Sistem ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi sekaligus membuka peluang kolaborasi antara kampus, pemerintah daerah, dan lembaga sosial.

Di sisi lain, standarisasi pelatihan menjadi perhatian penting, Kampus harus memastikan relawan memiliki kompetensi dasar- mulai dari komunikasi publik, literasi digital, hingga penanganan bencana.

Beberapa universitas telah memulai langkah ini, seperti membuka volunteer center, memasukkan kerelawanan dalam student development, atau menjalin kemitraan dengan BNPB, PMI, dan lembaga filantropi.

Integrasi Kerelawanan ke Kebijakan Kampus

Agar relawan kampus benar-benar berdampak, kerelawanan harus menjadi bagian dari kebijakan institusi, bukan sekadar aktivitas mahasiswa. Integrasi tersebut dapat dilakukan melalui:

  • Pengakuan SKS untuk aktivitas kerelawanan
  • Kurikulum berbasis service-learning
  • Penguatan riset dan publikasi terkait pemberdayaan komunitas
  • Insentif bagi dosen pembina kegiatan sosial

Langkah ini dapat meningkatkan jumlah relawan terlatih secara signifikan dalam dua tahun ke depan.

Jawa Tengah Menyongsong IVY 2025

Dengan IVY 2025 semakin dekat, kampus dipandang memiliki peluang besar untuk menjadi pusat gerakan kerelawanan nasional. Selain menghasilkan relawan, kampus juga mampu memperluas jejaring sosial, mendorong inovasi pengabdian masyarakat, dan menguatkan modal sosial bangsa.

Jika setiap kampus mampu menyiapkan sistem kerelawanan yang terstruktur, Indonesia tidak hanya siap menghadapi IVY 2025, tetapi juga memiliki fondasi kuat untuk ketahanan sosial jangka panjang.

Dengan jumlah kisaran 700 ribu mahasiswa aktif di Jawa Tengah, kampus memiliki modal sosial yang sangat kuat untuk memperkuat pembangunan daerah. Relawan mahasiswa selama ini telah banyak terlibat dalam penanganan bencana di wilayah rawan seperti Semarang, Kudus, Klaten, Pati, Banyumas dan Pekalongan. Namun kontribusi ini dinilai masih dapat ditingkatkan melalui sistem pelatihan dan koordinasi yang lebih terstruktur.

Relawan mahasiswa sangat cepat turun ke lapangan saat banjir, tanah longsor, atau erupsi merapi. Tetapi mereka membutuhkan standar pelatihan yang seragam agar dapat bekerja lebih aman dan efektif.

Penulis merekomendasikan pembentukan Jawa Tengah Volunteer Center berbasis kampus, integrasi relawan ke dalam KKN tematik kebencanaan, serta penyusunan platform digital untuk memetakan kebutuhan relawan di tingkat kabupaten/kota.

Sejumlah kampus seperti UNDIP, UNS, Unnes, UIN Walisongo, dan banyak Universitas Muhammadiyah disebut telah memiliki unit kerelawanan aktif, namun dinilai perlu memperluas kemitraan dengan BPBD Jateng, PMI, dan organisasi kebencanaan lokal.

Jawa Tengah memiliki tantangan bencana yang tinggi, keterlibatan kampus dapat menjadi faktor penentu penguatan kesiapsiagaan masyarakat. Dari Jawa Tengah ini dapat menjadi role model untuk mewujudkan pembangunan ekonomi dan sosial internasional. Contoh nyata Pembangunan Internasional adalah SAVE PALESTINE !.***

Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP) 

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

Kontribusi Islam pada Kemajuan Ilmu Pengetahuan dalam Pengembangan Aplikasi Mobile Pemantauan Terapi Obat Diabetes Melitus oleh Apoteker

IMG-20251205-WA0001

Oleh: Ainun Muthoharoh*

Melalui ilmu, seorang muslim dapat  meningkatkan pengetahuannya tentang Allah, membantu mengembangkan masyarakat Islam dan merealisasikan tujuan-tujuannya secara efektif, membimbing orang lain dalam melakukan pengabdian kepada Allah, dan dapat memecahkan berbagai masalah masyarakat manusia.

Dalam Islam ditegaskan bahwa orang muslim harus menuntut ilmu yang berguna dan melarang mencari ilmu yang bahayanya lebih besar dari manfaatnya. Agama Islam memberi tekanan yang sangat besar kepada masalah ilmu. Kata al-‘ilm dalam Al-Qur’an muncul sebanyak 780 kali. QS Az-Zumar: 9 yang artinya “Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”. Hal ini diartikan bahwa tidak sama antara orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu.

Menurut Imam Abu Rajab al-Hambali yaitu “ilmu yang bermanfaat adalah yang dipelajari dengan seksama dari Al-Quran dan Sunnah Rasulullah, serta berusaha memahami kandungan maknanya”. Ilmu tersebut masuk (dan menetap) ke dalam relung hati, yang kemudian melahirkan rasa tenang, takut, tunduk, merendahkan dan mengakui kelemahan diri di hadapan Allah Ta’ala. Untuk itu setiap muslim wajib mempelajari ilmu untuk sebagai upaya mendukung kebutuhan dalam kehidupannya.

Salah satu bentuk kontribusi tersebut tampak dalam pengembangan aplikasi mobile untuk pemantauan terapi obat diabetes melitus oleh apoteker. Pasien diabetes membutuhkan pemantauan ketat terhadap penggunaan obat, gaya hidup, dan kontrol gula darah. Sehingga, inovasi teknologi digital sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup pasien yang lebih baik. Prinsip-prinsip ilmiah yang berkembang pada masa peradaban Islam seperti evidence-based practice, observasi klinis, dan pencatatan medis sistematis menjadi landasan filosofis bagi pendekatan teknologi kesehatan saat ini.

Aplikasi mobile pemantauan terapi diabetes yang dikembangkan apoteker merupakan wujud modern dari semangat intelektual seorang muslim dengan menggabungkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kepedulian kemanusiaan. Aplikasi memuat fitur pengingat minum obat, pencatatan kadar gula darah, edukasi obat, deteksi interaksi obat, dan konsultasi langsung dengan apoteker. Melalui aplikasi, pasien diharapkan dapat lebih patuh, terkontrol, dan teredukasi dalam menjalani terapi. Pada saat yang sama, apoteker dapat memantau data pasien secara real-time untuk mengambil keputusan klinis yang lebih tepat.

Melalui pemanfaatan teknologi, spirit keilmuan dan kemanusiaan yang pernah diwujudkan oleh para ilmuwan muslim terdahulu dapat terus hidup, memberi manfaat, mencegah mudarat, dan membawa kemajuan bagi kesehatan masyarakat. Dengan demikian, kontribusi Islam terhadap ilmu pengetahuan bukan hanya sejarah, tetapi terus berkembang hingga hari ini. Aplikasi mobile pemantauan terapi obat diabetes adalah salah satu bukti nyata bahwa nilai-nilai itu tetap relevan dan produktif. Beberapa contoh pemanfaatan teknologi digital yang berkaitan dengan diabetes, seperti aplikasi Nutri Diabetic Care, e-Diary DM, Teman DM, DM Calendar App dan Salam Sehat dapat meningkatkan self-care, self efficacy, dan kepatuhan terhadap pengobatan dan diet dapat meningkatkan kesadaran (awareness) dalam pengelolaan penyakit diabetes melitus. ***

 

Referensi:

 

Soelaiman, Darwis A. (2019). Filsafat Ilmu Pengetahuan Perspektif Barat dan Islam. Bandar Publishing.

Maiisyah, P. A., Ikawati, Z., & Zainal, Z. A. (2021). Smartphone Application for Diabetes in Indonesia: A Narrative Review. Research Journal of Pharmacy and Technology, 14(7), 3955–3960. https://doi.org/10.52711/0974-360X.2021.00686

 

Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP), Mahasiswa Program Studi Ilmu Farmasi Program Doktor UAD

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

“Embun Pagi Sebelum Cahaya” Panggilan Hati Relawan Kemanusiaan dalam Penanggulangan Bencana Alam di Indonesia

septiandi

Oleh: R.Kurniawan Dwi Septiady 

Abstrak

Peran vital relawan bencana di Indonesia, mengibaratkan mereka sebagai “embun pagi sebelum cahaya” yang hadir memberikan pertolongan pertama sebelum bantuan formal tiba. Dengan fokus pada bencana alam seperti banjir, tanah longsor, dan laka air, studi ini mengeksplorasi motivasi altruistik (panggilan hati) yang mendorong para relawan untuk bertindak demi kemanusiaan, bahkan dalam situasi paling berbahaya. Data kualitatif dan studi kasus seperti Tsunami Aceh 2004 dan bencana Sibolga (referensi umum untuk bencana di Sumatera) menyoroti kontribusi krusial mereka dalam fase tanggap darurat, mulai dari evakuasi, penyediaan kebutuhan dasar, hingga pendampingan psikososial. Temuan menunjukkan bahwa kerelawanan bencana merupakan modal sosial yang tak ternilai, namun memerlukan peningkatan kapasitas, koordinasi, dan perlindungan hukum untuk optimalisasi peran.

Kata Kunci: Relawan Bencana, Kemanusiaan, Altruisme, Tanggap Darurat, Modal Sosial, Aceh, Sibolga.

Pendahuluan

Indonesia, yang berada di jalur Cincin Api Pasifik, merupakan negara dengan tingkat risiko bencana alam yang tinggi (BNPB, 2020). Frekuensi dan intensitas bencana seperti gempa bumi, tsunami, banjir, dan longsor, menuntut sistem penanggulangan bencana yang kuat. Meskipun peran pemerintah sentral, relawan atau sukarelawan telah terbukti menjadi ujung tombak (BNPB, 2020) yang pertama kali tiba di lokasi, seringkali mendahului tim resmi. Analogi “embun pagi sebelum cahaya” menggambarkan kehadiran relawan yang murni dan tulus, datang dalam kegelapan dan kekacauan awal bencana, memberikan harapan dan pertolongan pertama yang menenangkan sebelum organisasi formal dan bantuan besar lainnya tiba. Fenomena ini didorong oleh panggilan hati dan nilai-nilai kemanusiaan yang mendalam (Utomo & Minza, 2016).

 Definisi dan Prinsip Relawan Bencana

Relawan Penanggulangan Bencana didefinisikan sebagai seseorang atau sekelompok orang yang memiliki kemampuan dan kepedulian untuk bekerja secara sukarela dan ikhlas dalam upaya penanggulangan bencana (BPBD DIY, n.d.; Peraturan Kepala BNPB No. 17 Tahun 2011). Prinsip kerja relawan mencakup Cepat dan Tepat, Prioritas, Koordinasi, Akuntabilitas, dan Non-diskriminasi. Relawan merupakan modal sosial dan aset berharga dalam sistem penanggulangan bencana (BNPB, 2020). Termasuk unsur dari elemen kemahasiswaan dan kepemudaan aktif dalam kegiatan relawan tanggap bencana seperti ,KSR, Resimen Mahasiwa ( MENWA) Pencinta Alam ( Mapala) yang siap dimobilisasi kapan saja jika terjadi bencana

Altruisme dan Panggilan Kemanusiaan

Motivasi utama relawan sering kali berakar pada sikap altruistik, yaitu tindakan menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan, didorong oleh hati nurani yang ikhlas (Utomo & Minza, 2016). Dalam perspektif keagamaan, kerelawanan dipandang sebagai bagian dari ibadah dan dakwah kemanusiaan (Sahniur, 2021). Ungkapan bahwa “relawan tidak dibayar bukan karena mereka tak layak untuk dibayar, tetapi karena mereka tak ternilai” (Sahniur, 2021) menggarisbawahi nilai non-material dari pengabdian mereka. Namun seringkali dalam keaadaan pasca bencana para relawan terkadang menanggung cercaan dari masyarakat korban bencana dikarenakan kepanikan korban dan trauma pasca bencana akibat keterbatasan sarana maupun tenaga yang relawan miliki.dan dimasa tenang tiada peristiwa bencana terkadang mendapat cibiran sebagai orang yang kurang kerjaan.

Peran Relawan dalam Siklus Bencana

Peran relawan mencakup tiga fase utama (BPBD Balikpapan, n.d.): Pra Bencana: Sosialisasi, mitigasi, penyiapan logistik, dan simulasi. Tanggap Darurat: Pencarian dan Penyelamatan (SAR), Evakuasi, Dapur Umum, Layanan Kesehatan, dan Pendampingan Psikososial. Pasca Bencana: Pengumpulan data kerusakan, rehabilitasi, dan rekonstruksi.

Panggilan Hati dalam Aksi Nyata Refleksi Kasus: Bencana Sumatera Kontribusi Relawan dalam Bencana Hidrometeorologi Aceh (2024-2025)

Kasus Tsunami Aceh 2004 menjadi titik balik sejarah kerelawanan di Indonesia. Ribuan relawan domestik dan internasional berjibaku menolong, mengevakuasi korban, dan menyediakan bantuan di tengah kehancuran total (Kemenag Aceh, 2013). Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa pada momen genting, rasa persaudaraan dan kemanusiaan melampaui sekat-sekat SARA dan nasionalisme. Demikian pula dalam konteks bencana hidrometeorologi (banjir, longsor, laka air) yang sering melanda wilayah seperti Sibolga (Sumatera Utara) dan daerah lain di Sumatera. Relawan lokal, seringkali dari komunitas atau organisasi seperti PMI, SAR, atau mahasiswa, menjadi garda terdepan dalam operasi evakuasi menggunakan perahu karet dan penyiapan pos pengungsian darurat (Antara News, 2025; PMI, n.d.). Kehadiran mereka yang cepat dan tanpa pamrih adalah perwujudan nyata dari “embun pagi” yang hadir menenangkan. Meskipun Tsunami 2004 merupakan kasus mega-bencana yang mengubah paradigma, bencana alam di Aceh dalam beberapa tahun terakhir, khususnya pada tahun 2024 dan 2025 (yang didominasi oleh banjir dan longsor di lebih dari 18 kabupaten/kota) (Acehprov, 2025), memberikan konteks yang lebih kontemporer mengenai peran relawan. Bencana-bencana ini, yang sering kali terjadi di daerah terisolasi seperti Gayo Lues dan Aceh Tenggara (Metro TV, 2025), menggarisbawahi urgensi kehadiran “embun pagi sebelum cahaya.”

Peran Kunci Relawan pada Fase Tanggap Darurat

Pada fase tanggap darurat, peran relawan sangat krusial, di antaranya: SAR dan Evakuasi: Melakukan penyelamatan awal di zona bahaya, seringkali mempertaruhkan nyawa, sebelum tim terlatih tiba. Prinsip Aman Diri, Aman Korban, Aman Lingkungan menjadi pedoman utama (Ramadhan, 2022). Distribusi Bantuan: Mengelola dan mendistribusikan logistik dasar (makanan, selimut, hygiene kit) di lokasi yang sulit dijangkau. Dukungan Psikososial: Memberikan pendampingan emosional kepada korban, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan perempuan.

Peran Relawan dalam Isolasi dan Aksesibilitas

Dalam kasus banjir dan longsor terbaru di Aceh, tantangan utamanya adalah terputusnya akses darat (misalnya, jalur Sumatera Utara-Aceh Tamiang dan Banda Aceh-Lhokseumawe) (Metro TV, 2025). Kondisi ini secara signifikan meningkatkan ketergantungan pada relawan lokal dan tim yang dilengkapi dengan keahlian khusus: Akses dan Asesmen Cepat (24 Jam Pertama): Tim relawan pendahulu (misalnya, dari universitas atau NGO) berperan vital dalam melakukan assessment cepat dalam 24 jam pertama. Mereka menggunakan jaringan lokal untuk memetakan kebutuhan mendesak dan melaporkan kondisi medan (UNS, 2025), menjadi mata dan telinga bagi bantuan formal yang terhambat. Operasi Logistik Darurat: Relawan, termasuk dari PMI dan komunitas, bekerja sama dengan Polri dan lembaga lain untuk menyalurkan bantuan logistik melalui jalur alternatif, bahkan menggunakan kapal atau akses udara terbatas (CNN Indonesia, 2025; Antara News, 2025). Mereka adalah penentu supply chain kemanusiaan di wilayah terisolasi. Keahlian Teknis: Bencana hidrometeorologi sering kali merusak sumber air bersih. Dalam kasus terbaru, relawan dikerahkan dengan keahlian pengolahan air untuk memastikan ketersediaan sanitasi dasar di pos pengungsian (Antara News, 2025). Ini menunjukkan evolusi peran relawan dari sekadar tenaga fisik menjadi penyedia keahlian teknis spesifik. Pendataan dan Koordinasi: Pentingnya pendataan relawan ke dalam Desk Relawan Penanganan Bencana (Acehprov, 2025) menunjukkan upaya pemerintah untuk mengintegrasikan aksi “panggilan hati” ini ke dalam sistem penanggulangan bencana yang terorganisir. Keterlibatan relawan dalam bencana banjir dan longsor terbaru di Aceh menegaskan kembali bahwa nilai-nilai altruisme dan kemanusiaan tidak hanya terwujud dalam bencana berskala besar, tetapi juga dalam menghadapi ancaman bencana berulang yang menuntut kesiapsiagaan komunitas dan kecepatan respons dari garda terdepan.

Tantangan dan Optimalisasi

Meskipun peran krusial, relawan menghadapi tantangan, termasuk risiko keselamatan, kelelahan, dan kurangnya sertifikasi atau pelatihan yang memadai (Dewaniar, 2020; IPDN, n.d.). Untuk mengoptimalkan peran, diperlukan. Peningkatan Kapasitas: Pelatihan dan sertifikasi yang terstruktur mengenai manajemen bencana, SAR, dan Basic Life Support (BLS) (JOSWAE, 2022). Sistem Koordinasi yang Jelas: Integrasi yang kuat dalam satu pola sistem koordinasi antara relawan dengan BPBD dan instansi lain (Universitas Esa Unggul, 2024). Perlindungan Hukum: Jaminan perlindungan dan pengakuan resmi bagi relawan dalam melaksanakan tugas kemanusiaan (BPBD DIY, n.d.). pernah kedapatan relawan bencana merapi yang sempat ditangkap karena membawa pisau survival yang merupakan bekal relawan gunung untuk melakukan aktivitasnya dihutan. Tentunya hal semacam ini tidak boleh terulang lagi dimasa depan.

Simpulan

Relawan bencana, yang diibaratkan sebagai “embun pagi sebelum cahaya”, adalah pilar utama dalam penanggulangan bencana di Indonesia. Motivasi altruistik yang berakar pada panggilan hati demi kemanusiaan menjadikan mereka kekuatan tak ternilai dalam menghadapi chaos pasca-bencana. Kasus-kasus seperti Tsunami Aceh dan bencana-bencana di Sumatera membuktikan bahwa kesediaan mereka untuk berkorban adalah manifestasi nyata dari solidaritas bangsa. Untuk menjamin keberlanjutan dan keefektifan, pemerintah dan organisasi terkait harus terus berinvestasi dalam peningkatan kapasitas, koordinasi, dan kesejahteraan para pahlawan kemanusiaan ini.

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka (Referensi)

Antara News. (2025). Ratusan personel Basarnas perbantuan mulai berlabuh di Aceh dan Sumut.

BNPB. (2020). Relawan Sebagai Ujung Tombak Penanggulangan Bencana.

BPBD Balikpapan. (n.d.). Relawan Kencana.

BPBD DIY. (n.d.). Relawan Penanggulangan Bencana.

Dewaniar, E. (2020). PARA PENGIBAR KEMANUSIAAN (ANALISIS FENOMENOLOGI INTERPRETATIF TENTANG PENGALAMAN MENJADI RELAWAN BENCANA LAKI-LAKI). Jurnal Empati, 8(4), 148-161.

IPDN. (n.d.). Optimalisasi Relawan Penanggulangan Bencana dalam Pengurangan Risiko Bencana Banjir di Kabupaten Kudus Provinsi Jawa Tengah.

Kemenag Aceh. (2013). Kisah Relawan PMI Tsunami Aceh.

Ramadhan, N. A. (2022). Pengalaman Menjadi Relawan Tanggap Bencana. Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Sahniur, A. (2021). Relawan dalam Perspektif Islam (Studi: Aksi Cepat Tanggap Cabang Sumatera Utara). Al-Hikmah: Jurnal Studi Keislaman, 2(2).

Universitas Esa Unggul. (2024). SOSIALISASI PERAN RELAWAN PENANGGULANGAN BENCANA (STUDI KASUS PADA GEMPA CIANJUR 2022).

Utomo, M. H., & Minza, W. M. (2016). Perilaku Menolong Relawan Spontan Bencana Alam.

JOSWAE. (2022). PENDAMPINGAN MAHASISWA RELAWAN SIAGA BENCANA PADA FASE PREPAREDNESS.

 

Penulis adalah Dosen & Pembina Resimen Mahasiswa UMPP

Terkait
Penyelenggaraan transportasi darat harus perhatikan amdal

Wiradesa, Wartadesa. - Pemerintah Kabupaten Pekalongan, hari ini, Selasa (29/11) mensosialisasikan dua perda Tahun 2016 di Aula Kecamatan Wiradesa. Perda Read more

Longsor Kandangserang, ratusan warga terisolir

Kandangserang, Wartadesa. -  Ratusan warga Desa Klasem Kecamatan Kandangserang Kabupaten Pekalongan kini hidup dalam kondisi khawatir saat hujan deras, pasalnya Read more

Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

selengkapnya
Opini

Redefinisi Profesi Guru di Era Disrupsi Pada Momentum Hari Guru Nasional

septiandi

Oleh: R.Kurniawan Dwi Septiady*

Abstrak

Hari Guru Nasional (HGN) di Indonesia, yang diperingati setiap tanggal 25 November, bukan hanya momen perayaan, tetapi juga waktu refleksi kritis terhadap peran dan redefinisi profesi guru di tengah perubahan global yang cepat dan disrupsi teknologi. Artikel ini membahas pergeseran paradigma profesi guru dari sekadar penyampai informasi menjadi fasilitator pembelajaran, desainer pengalaman belajar, dan agen perubahan sosial. Redefinisi ini menuntut transformasi kompetensi, mulai dari penguasaan pedagogi digital, literasi multikultural, hingga kemampuan coaching dan pendampingan personal. Diperlukan kebijakan yang mendukung pengembangan profesional berkelanjutan, otonomi guru, dan pengakuan yang lebih komprehensif terhadap kontribusi guru dalam membentuk masa depan bangsa.

Profesi guru telah lama dihormati sebagai pilar utama dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) suatu negara.Di Jepang pasca kekalahanya pada Perang Dunia II Guru sangat penting bagi Kekaisaran Jepang karena mereka dianggap sebagai pilar utama dalam pembangunan kembali negara pasca-Perang Dunia II, terutama untuk membentuk kembali mentalitas dan nilai-nilai masyarakat. Di Indonesia, Hari Guru Nasional menjadi pengingat akan dedikasi para pendidik. Namun, era disrupsi yang ditandai dengan revolusi industri 4.0 dan Society 5.0 telah menghadirkan tantangan eksistensial bagi profesi ini. Akses tak terbatas terhadap informasi melalui internet menipiskan peran guru sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Oleh karena itu, diperlukan upaya sistematis untuk merefleksikan dan mendefinisikan kembali esensi profesi guru agar tetap relevan di abad ke-21. Redefinisi ini melampaui perubahan administratif; ia menuntut transformasi epistemologis dan praksis pedagogis.

Pergeseran Paradigma Profesi Guru

Redefinisi profesi guru berpusat pada pergeseran peran utama dari “Sage on the Stage” menjadi “Guide on the Side” (King, 1993). Peran baru ini mencakup beberapa aspek kunci: Guru sebagai Desainer Pembelajaran (Learning Designer) Di tengah kurikulum yang dinamis, guru dituntut tidak hanya mengimplementasikan tetapi juga merancang pengalaman belajar yang personalized dan bermakna. Ini melibatkan integrasi teknologi pendidikan (EdTech) dan metode pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered).

“Peran guru telah berubah dari sekadar memberikan pengetahuan menjadi menciptakan lingkungan di mana siswa dapat membangun pengetahuan mereka sendiri, berkolaborasi, dan memecahkan masalah kompleks yang relevan dengan dunia nyata.” (Fullan & Quinn, 2016, hlm. 45) Peran ini menghadapi tantangan Internal dari dalam pemikiran guru itu sendiri terkadang bagi guru yang belum menghayati kesadaran Jiwa Profesi tang dijalani terjebak dalam stuasi psikologis Ego Superioritas Komleks bahkan Megalomania, dimana perasaan sebagai sumber belajar bermanifestasi kedalam pemahaman diri selalu benar, merasa paling hebat dan menjadi cemburu terhadap capaian murid yang melampauinya . Padahal pada hakikat profesi ini justru jika murid melampaui capaian sang guru menandakan guru tersebut telah berhasil meletakan pondasi pengetahuan bagi siswanya. Dalam praktik mengajar penulis pernah mengajar selama lima tahun dalam 3 level pendidikan yang berbeda SMP dilevel pendidikan dasar, SMK di level pendidikan menengan dan politeknik di level pendidikan tinggi, yang selanjutnya sejak 2011 penulis hanya berfokus dipendidikan tinggi saja, selama pengalaman mengajar tersebut penulis mendapatkan pemahaman ibarat penambang dan pengrajin permata, kita hamya menemukan ,memoles, dan membuang retakan retakan kecil dari permata tersebut , Namun Kilau dan kualitas permata tersebut akan menjadi berharga tinggi setelah berada dilingkungan yang tepat sesuai kualitas permata itu sendiri. Ketika batu permata tersebut sangat berkualitas istimewa maka keberadaanya menjadi sangat berharga sehingga digunakan sebagai penghias mahkota siatas kepalaseorang raja.

Guru sebagai Agen Perubahan Sosial (Agent of Change)

Guru memiliki tanggung jawab moral untuk menanamkan nilai-nilai karakter, literasi multikultural, dan global citizenship. Mereka adalah prototipe pembelajar seumur hidup yang mendorong siswa untuk menjadi warga negara yang kritis dan adaptif.sebagai seorang pembelajar yang menjadi role mode bagi masyarakat maka Guru tidak bisa melepaskan diri dari etiket yang disndanya meski atas dasar profesionalitas versus kehidupan pribadi ( Privacy) maraknya kasus perelingkuhan ASN yang didominasi oleh profesi guru juga merupakan fakta yang kontra produktif terhadap peran sebagai agen perubahan masyarakat, salah satunya ditujukan oleh maraknya pemberitaan peningkatan kasus gusat cerai disejumlah daerah setelah proses penyerahan SK PPPK.

Guru sebagai Coach dan Fasilitator Refleksi

Dalam konteks Kurikulum Merdeka di Indonesia, peran guru sebagai fasilitator dan coach menjadi sentral. Guru membantu siswa mengidentifikasi potensi mereka, mengembangkan keterampilan metakognitif, dan melakukan refleksi atas proses belajar mereka.dalam pengalaman penulis sebagai jurnalis lokal, pernah mejadi mentor dari siswa yang diajar dilembaga sebelum siswa tersebut lulus wisuda mereka mampu berkembang menjadi jurnalis yang baik meski tidak linear jenjang pendidikanya dengan profesi yang digeluti mereka , bahkan keduanya mampu melampaui capaian metor mereka dengan menjadi jurnalis profesional di media nasional.

Kompetensi Guru di Abad ke-21

Redefinisi peran menuntut pembaruan kompetensi. Selain empat kompetensi inti (pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial), guru kini harus menguasai Kompetensi Digital dan Literasi Data, Kemampuan mengintegrasikan teknologi secara efektif dan menggunakan data pembelajaran untuk pengambilan keputusan pedagogis.Kedua Kompetensi Social and Emotional Learning (SEL). Kemampuan untuk mengelola emosi diri dan orang lain, serta mengajarkan empati dan keterampilan sosial kepada siswa.Ketiga Kompetensi Adaptif dan Growth Mindset.  Kesediaan untuk terus belajar dan beradaptasi dengan inovasi pedagogis baru, melihat tantangan sebagai peluang pengembangan.

Implikasi Kebijakan pada Hari Guru Nasional

Peringatan Hari Guru Nasional harus menjadi momentum untuk menggalakkan kebijakan yang mendukung redefinisi ini:

  1. Pengembangan Profesional Berkelanjutan (PPB): PPB harus bergeser dari pelatihan yang bersifat one-shot menjadi komunitas belajar profesional (Professional Learning Communities/PLC) yang berkelanjutan dan berbasis kebutuhan sekolah.
  2. Otonomi dan Akuntabilitas: Guru perlu diberikan otonomi pedagogis yang lebih besar dalam mendesain kurikulum, diikuti dengan sistem akuntabilitas yang jelas dan mendukung perbaikan berkelanjutan.
  3. Kesejahteraan dan Pengakuan: Peningkatan kesejahteraan finansial harus diiringi dengan pengakuan non-finansial terhadap peran guru sebagai inovator dan pemimpin di sekolah.

Akhir

Redefinisi profesi guru adalah suatu keniscayaan di era disrupsi. Profesi ini bertransformasi dari penyampai konten menjadi arsitek pembelajaran masa depan. Hari Guru Nasional harus dimanfaatkan sebagai katalis untuk mendorong transformasi ini melalui peningkatan kompetensi digital, penguatan peran sebagai coach, dan dukungan kebijakan yang holistik. Keberhasilan sistem pendidikan Indonesia di masa depan akan sangat bergantung pada seberapa cepat dan efektif para guru menginternalisasi dan mengaktualisasikan peran baru ini.

 

Daftar Referensi

  • Fullan, M., & Quinn, J. (2016). Coherence: The Right Drivers in Action for Schools, Districts, and Systems. Corwin Press.
  • King, A. (1993). From Sage on the Stage to Guide on the Side. College Teaching, 41(1), 30-35.
  • Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 35 Tahun 2018 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.
  • OECD. (2019). TALIS 2018 Results (Volume I): Teachers and School Leaders as Lifelong Learners. OECD Publishing.

 

Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP)

Terkait
Pensiunan guru diduga jadi korban pembunuhan

Kesesi, Wartadesa. - Sumarti  (60), pensiunan guru yang tinggal di desa Sidosari rt 04/02 Kec. Kesesi Kab. Pekalongan, diduga menjadi korban Read more

Jalan sehat warnai peringatan HUT PGRI Kesesi

Kesesi, Wartadesa. - Memperingati ulang tahunnya ke-71, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI)  Kecamatan Kesesi menggelar jalan sehat. Kegiatan yang digelar Read more

HUT PGRI, ajang silaturahmi

Kajen.wartadesa - Pagi ini alun-alun Kajen kabupaten Pekalongan tampak meriah. Guru se Kota Santri, tumpah ruah memenuhi alun-alun mengikuti jalan sehat Read more

714 guru swasta yang mengabdi di sekolah negeri dapat tunjangan Rp. 500 ribu

Bupati: Yang mengabdi di sekolah swasta sedang dikaji Kajen, Wartadesa. - Sebanyak 714 guru non PNS (wiyata bakti) yang mengabdi Read more

selengkapnya