close

Opini

Opini

Pendidikan Berkualitas:Bukan Cuma Soal Nilai Rapor, tapi Soal Masa Depan Kita

Desain tanpa judul

Oleh Riyan Oktaviano 

 

Pendahuluan

Kalau kita ditanya apa modal paling penting buat bikin suatu negara jadi maju, jawabannya sudah pasti pendidikan. Lewat pendidikan, anak-anak muda diajari banyak hal biar nanti pas sudah gede bisa mandiri dan membangun daerahnya. Tapi, asal sekolah saja sebenarnya gak cukup. Sekolahnya juga harus punya kualitas yang bagus. Di zaman sekarang yang apa-apa sudah serba canggih, pendidikan berkualitas itu sudah jadi kebutuhan utama. Pendidikan yang bermutu itu bukan berarti sekolahnya harus punya gedung bertingkat yang mewah, ya. Tapi lebih ke bagaimana sekolah itu bisa bikin murid-muridnya jadi anak yang pintar, kreatif, dan punya akhlak yang baik.

Siapa di sini yang kalau hari Minggu rasanya cepat banget berlalu, tapi kalau hari Senin rasanya lama banget? Banyak murid yang malas berangkat sekolah karena merasa kelas itu tempat yang membosankan dan bikin stres. Padahal, ciri utama dari pendidikan berkualitas adalah suasana belajar yang menyenangkan. Belajar itu gak harus selalu tegang dan serius. Justru, anak-anak bakal lebih cepat pintar kalau mereka merasa senang dan menikmati setiap pelajaran di sekolah

Pembahasan

Sampai sekarang, masih banyak orang tua yang mengira kalau pendidikan berkualitas itu artinya anak harus dapat nilai seratus terus di sekolah. Padahal, arti kualitas yang sebenarnya gak cuma sebatas angka di atas kertas saja. Sekolah yang bagus itu harusnya bisa mengajari anak-anak cara berpikir yang kritis, bisa kerja sama, dan berani menyelesaikan masalah di kehidupan nyata. Jadi gak cuma disuruh menghafal isi buku saja buat bekal ujian. Selain bikin otak jadi pintar, sekolah juga wajib mendidik karakter atau sifat si anak. Percuma saja kan punya anak yang super genius tapi kelakuannya sombong, gak jujur, atau gak punya sopan santun sama orang lain.Tapi harus diakui, buat bikin semua sekolah jadi berkualitas itu tantangannya masih berat banget. Masalah utamanya adalah fasilitas yang gak rata.

Sekolah-sekolah di kota besar biasanya sudah punya komputer bagus dan internet yang cepat. Tapi kalau kita lihat sekolah di pelosok desa, masih banyak yang bangunannya rusak, kekurangan buku pelajaran, bahkan kekurangan guru. Selain itu, cara mengajar yang membosankan—di mana guru cuma bicara di depan kelas dan murid cuma disuruh mencatat sampai capek—juga masih sering terjadi. Cara belajar yang kaku kayak gini malah bikin anak-anak malas berangkat sekolah karena terasa menjenuhkan.Makanya, urusan ini harus diurus bareng-bareng. Pemerintah punya tugas buat memperbaiki bangunan sekolah di desa-desa dan kasih pelatihan buat para guru biar cara mengajarnya makin asyik. Guru di kelas juga harus kreatif, misal pakai video atau game biar murid-murid gak gampang bosan. Di sisi lain, orang tua di rumah juga jangan lepas tangan. Dukungan dari ayah dan ibu di rumah, seperti menemani anak belajar dan mengajari sopan santun, bakal jadi modal yang kuat banget buat perkembangan si anak di sekolah.

Metode belajar kuno yang bikin murid cuma duduk diam, dengerin guru ceramah berjam-jam, lalu mencatat sampai tangan pegal sudah gak cocok lagi buat zaman sekarang. Cara seperti itu malah bikin kreativitas anak jadi mati. Pendidikan yang berkualitas itu harusnya seru. Misalkan, pas pelajaran sejarah, murid-murid diajak bikin drama pendek tentang perjuangan pahlawan, atau pas pelajaran biologi, mereka diajak langsung ke taman buat mengamati tanaman. Metode belajar sambil praktik atau bermain game kelompok kayak gini bikin materi pelajaran menempel terus di otak.Biarpun kedengarannya asyik, mengubah metode belajar ini butuh kreativitas tinggi dari para guru. Guru gak boleh malas buat bikin inovasi baru di kelas. Tantangan lainnya adalah jumlah murid dalam satu kelas yang sering kali terlalu banyak, bisa sampai 40 anak. Hal ini bikin guru kesusahan buat memperhatikan muridnya satu per satu. Oleh karena itu, sekolah juga perlu mengatur ulang jumlah murid per kelas agar suasana belajar bisa lebih kondusif dan santai.

 

Kesimpulan

pendidikan berkualitas itu adalah investasi paling berharga buat masa depan kita semua. Kita gak boleh cuma fokus mengejar nilai angka di rapor saja, tapi lupa membangun sifat dan mental anak-anak kita. Memang butuh waktu yang lama dan biaya yang gak sedikit buat memperbaiki kualitas pendidikan di negara kita. Tapi kalau pemerintah, guru, dan orang tua bisa kompak bekerja sama, kita pasti bisa mencetak generasi muda yang cerdas, punya karakter mulia, dan siap bikin bangsa ini jadi lebih maju. sekolah itu harusnya jadi tempat yang bikin kangen, bukan tempat yang bikin pusing. Pendidikan berkualitas bisa terwujud kalau metode belajarnya diubah jadi lebih aktif, seru, dan melibatkan murid secara langsung. Ketika murid-murid berangkat sekolah dengan senyuman dan rasa penasaran yang tinggi, di situlah kualitas pendidikan kita sebenarnya sudah meningkat.

 

Penulis adalah Mahasiswa S1 Teknik mesin Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

PERAN MAHASISWA DALAM MENDUKUNG PROGRAM SDGS UNTUK INDONESIA EMAS 2045 PERTUMBUHAN EKONOMI DAN PEKERJAAN LAYAK

WhatsApp Image 2026-09-06 at 21.05.08

Oleh: Septia Ramadhani

 

PENDAHULUAN

Pertumbuhan ekonomi dan penciptaan pekerjaan layak merupakan dua pilar utama dalam Sustainable Development Goals poin ke-8: Decent Work and Economic Growth. Menurut data BPS 2025, tingkat pengangguran terbuka di Indonesia masih didominasi oleh lulusan SMA dan perguruan tinggi sebesar 5,32%. Angka ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara lulusan pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja. Di tengah tantangan tersebut, mahasiswa memiliki posisi strategis. Sebagai agent of change, agent of control, dan iron stock bangsa, mahasiswa tidak hanya dituntut menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta lapangan kerja. Perguruan tinggi, khususnya Fakultas Ilmu Kesehatan, diharapkan melahirkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga memiliki jiwa wirausaha dan kepedulian sosial. Essay ini akan membahas 3 hal:

  1. Konsep pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi,
  2. Tantangan ketenagakerjaan saat ini,
  3. Peran konkret mahasiswa khususnya mahasiswa keperawatan dalam mendorong keduanya.

PEMBAHASAN

Konsep Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Menurut ILO, Decent Work atau Pekerjaan Layak memiliki 4 pilar: Kesempatan kerja, Hak di tempat kerja, Jaminan sosial, dan Dialog sosial. Artinya pekerjaan layak bukan hanya soal gaji, tetapi juga soal keselamatan kerja, jam kerja manusiawi, tidak ada diskriminasi, dan adanya jaminan kesehatan. Sementara pertumbuhan ekonomi adalah peningkatan produksi barang dan jasa dalam suatu negara dalam periode tertentu. Pertumbuhan yang berkualitas adalah pertumbuhan yang inklusif, menciptakan lapangan kerja, dan mengurangi kemiskinan. Kedua hal ini saling terkait. Pertumbuhan ekonomi tanpa penciptaan kerja layak akan menimbulkan kesenjangan. Sebaliknya, pekerjaan layak akan meningkatkan daya beli masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi lebih lanjut.2. Tantangan Ketenagakerjaan di Indonesia Saat IniAda 3 tantangan besar yang dihadapi:

  • Pertama, Mismatch. Banyak lulusan perguruan tinggi yang kompetensinya tidak sesuai kebutuhan industri. Di bidang kesehatan misalnya, RS butuh perawat yang menguasai digital health dan homecare, sementara kurikulum masih fokus pada RS.Kedua, Gig Economy dan Kerja Tidak Layak. Munculnya pekerjaan berbasis aplikasi memang membuka peluang, tetapi sering tanpa jaminan BPJS, jam kerja tidak pasti, dan risiko tinggi. Hal ini bertentangan dengan prinsip pekerjaan layak.Ketiga, Dampak Perubahan Iklim dan Teknologi. Otomatisasi akan menggantikan beberapa pekerjaan rutin. Di sisi lain, muncul pekerjaan baru di sektor energi hijau dan kesehatan lingkungan. Mahasiswa yang tidak adaptif akan tertinggal.3. Peran Mahasiswa dalam Mendorong Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Sebagai generasi terdidik, mahasiswa memiliki 4 peran utama: A. Sebagai Inovator dan Wirausahawan Sosial

Mahasiswa harus keluar dari pola pikir “lulus = melamar kerja”. Di bidang keperawatan, peluang wirausaha sangat terbuka: klinik homecare, layanan perawatan luka, konsultan laktasi, bisnis alat kesehatan, hingga startup telemedicine.

Contoh: Mahasiswa FIKES bisa membuat program “Perawat Kunjung” Warungasem.Ini menciptakan lapangan kerja baru, membantu UMKM, dan menekan biaya rawat inap. Dengan begitu mahasiswa ikut mendorong pertumbuhan ekonomi mikro.B. Sebagai Agent of Control

Mahasiswa bertugas mengawasi agar kebijakan ketenagakerjaan berpihak pada rakyat. Misalnya mengawal UMR, menolak magang tanpa upah, dan menyuarakan pentingnya K3 bagi pekerja informal. Mahasiswa keperawatan bisa bersuara tentang kesehatan kerja bagi buruh pabrik dan petani yang rawan pestisida C. Sebagai Agent of Change Melalui Pengabdian

Melalui KKN dan pengabdian masyarakat, mahasiswa bisa meningkatkan produktivitas ekonomi desa. Contoh: edukasi PHBS untuk menekan angka sakit sehingga pekerja tidak banyak kehilangan hari kerja. Pelatihan pertolongan pertama di tempat kerja untuk UMKM. Edukasi stunting agar generasi penerus punya SDM yang sehat dan produktif untuk 20 tahun ke depan D. Sebagai Peningkatan Diri dan Peningkatan Kompetensi

Pekerjaan layak lahir dari SDM yang layak. Mahasiswa harus membekali diri dengan hard skill dan soft skill. Hard skill: sertifikasi BLS, ACLS, perawatan luka modern. Soft skill: komunikasi, kepemimpinan, literasi digital, dan literasi keuangan. Mahasiswa Muhammadiyah juga harus menguatkan nilai “berkemajuan” yaitu adaptif, kolaboratif, dan solutif sesuai semangat Sang Surya.4. Sinergi Pentahelix: Mahasiswa, Kampus, Pemerintah, Industri, Masyarakat

Mahasiswa tidak bisa bekerja sendiri. Kampus harus buka inkubator bisnis dan kurikulum MBKM yang magang di industri. Pemerintah memberi insentif pajak untuk startup mahasiswa. Industri membuka pintu magang berbayar. Masyarakat menjadi pasar dan mitra.

Selain meningkatkan kompetensi pribadi, mahasiswa juga perlu membangun budaya kolaborasi dan inovasi sejak berada di lingkungan kampus. Permasalahan ketenagakerjaan dan kesehatan tidak dapat diselesaikan oleh satu bidang saja. Mahasiswa keperawatan dapat berkolaborasi dengan mahasiswa ekonomi, teknologi, komunikasi, maupun kesehatan masyarakat untuk menciptakan program yang lebih inovatif. Misalnya, mahasiswa keperawatan dapat bekerja sama dengan mahasiswa teknologi untuk mengembangkan sistem pemantauan kesehatan pasien berbasis digital. Kolaborasi seperti ini dapat membuka peluang usaha baru sekaligus menciptakan pelayanan kesehatan yang lebih mudah dijangkau masyarakat.

 

Di samping itu, mahasiswa perlu memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan pekerjaan dan kesejahteraan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi tidak seharusnya hanya diukur dari banyaknya usaha atau meningkatnya pendapatan, tetapi juga dari kemampuan masyarakat memperoleh pekerjaan yang aman, manusiawi, dan berkelanjutan. Mahasiswa keperawatan dapat mengambil peran melalui edukasi kesehatan kerja, pendampingan kelompok masyarakat, serta pengembangan layanan kesehatan yang terjangkau. Dengan demikian, ilmu yang diperoleh di perguruan tinggi tidak berhenti pada kegiatan akademik, tetapi dapat diterapkan untuk memberikan manfaat nyata sekaligus mendukung terciptanya pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

PENUTUP

Mahasiswa adalah kunci dalam mewujudkan pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Peran ini tidak bisa ditunda sampai lulus. Mulai dari bangku kuliah, mahasiswa harus menumbuhkan mentalitas pencipta kerja, bukan sekadar pencari kerja. Bagi mahasiswa keperawatan, tantangan kesehatan masyarakat adalah ladang ekonomi baru. Dengan menggabungkan ilmu klinis, jiwa kewirausahaan, dan nilai kemanusiaan, kita bisa menciptakan pekerjaan yang tidak hanya layak secara materi, tetapi juga bermakna secara sosial. Sebagaimana lirik Sang Surya, mahasiswa harus menjadi cahaya yang menerangi. Cahaya itu adalah ide, inovasi, dan aksi nyata untuk bangsa. Jika setiap mahasiswa mengambil peran, maka Indonesia Emas 2045 bukan lagi mimpi, melainkan hasil kerja kita bersama. Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, mulai dari sekarang

 

Penulis adalah Mahasiswa S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan UMPP

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

Muda Bukan Berarti Aman : Peran Mahasiswa Keperawatan Dalam Mendorong Deteksi Dini Hipertensi Pada Generasi Muda Menuju Indonesia Emas 2045

WhatsApp Image 2026-09-06 at 20.55.48

Oleh: Syafa OktaFitriyah Chaerani

Muda Bukan Berarti Selalu Sehat , Ketika mendengar kata hipertensi, yang terbayang di pikiran kita biasanya adalah orang tua. Banyak anak muda merasa belum perlu memikirkan tekanan darah karena merasa masih kuat, masih aktif, dan jarang sakit. Saya sendiri juga sering mendengar anggapan bahwa hipertensi adalah penyakit orang tua. Padahal, usia muda bukan berarti seseorang bebas dari risiko tekanan darah tinggi.

Hal yang cukup mengkhawatirkan adalah hipertensi sering tidak menunjukkan gejala yang jelas. Seseorang dapat merasa baik-baik saja, tetap beraktivitas seperti biasa, tetapi ternyata memiliki tekanan darah yang tinggi. WHO menyebutkan bahwa banyak orang dengan hipertensi tidak merasakan gejala sehingga pemeriksaan tekanan darah menjadi cara penting untuk mengetahui kondisi tersebut (WHO, 2025).

Masalah hipertensi pada generasi muda juga bukan sekadar kekhawatiran. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah mencapai 10,7% pada kelompok usia 18–24 tahun. Angka ini menunjukkan bahwa hipertensi sudah dapat ditemukan pada kelompok usia muda, termasuk usia mahasiswa (Kementerian Kesehatan RI, 2024).

Sebagai mahasiswa D3 Keperawatan, menurut saya kondisi ini perlu menjadi perhatian. Generasi muda merupakan generasi yang nantinya akan menjadi bagian penting dalam pembangunan Indonesia. Indonesia Emas 2045 tentu membutuhkan generasi yang cerdas dan produktif, tetapi semua itu juga harus didukung dengan kondisi kesehatan yang baik. Oleh karena itu, menjaga kesehatan seharusnya tidak menunggu sampai usia tua atau sampai tubuh mulai mengalami keluhan.

 

Gaya Hidup Anak Muda dan Risiko Hipertensi, Kehidupan generasi muda saat ini tidak bisa dilepaskan dari perubahan gaya hidup. Aktivitas kuliah yang padat, kebiasaan duduk terlalu lama, kurang tidur, makanan cepat saji, minuman manis, serta kebiasaan kurang bergerak menjadi hal yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Makanan juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Saat ini makanan tinggi garam dan lemak sangat mudah ditemukan dan sering menjadi pilihan karena praktis. Padahal, kebiasaan tersebut apabila dilakukan terus-menerus dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan. WHO menjelaskan bahwa beberapa faktor risiko hipertensi yang dapat diubah antara lain pola makan yang tidak sehat, konsumsi garam berlebihan, kurang aktivitas fisik, penggunaan tembakau, serta kelebihan berat badan atau obesitas (WHO, 2025).

Sebuah penelitian nasional di Indonesia yang dilakukan oleh Sudikno dan rekan-rekan terhadap remaja usia 15–19 tahun menemukan prevalensi prehipertensi sebesar 16,8% dan hipertensi sebesar 2,6%. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa usia yang lebih tua dalam kelompok remaja dan obesitas berhubungan dengan meningkatnya risiko hipertensi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masalah tekanan darah sudah dapat muncul sejak masa remaja dan tidak seharusnya hanya menjadi perhatian pada usia dewasa atau lanjut usia (Sudikno et al., 2023).

Menurut saya, salah satu masalahnya adalah masih rendahnya kesadaran anak muda untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Banyak orang memeriksa tekanan darah hanya ketika merasa pusing atau tidak enak badan. Padahal, hipertensi tidak selalu memberikan tanda yang dapat dirasakan. Karena itu, menunggu munculnya keluhan bukanlah cara yang tepat untuk mengetahui kondisi Kesehatan.

 

Pentingnya Deteksi Dini, Deteksi dini merupakan salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan. Pemeriksaan tekanan darah tidak membutuhkan waktu yang lama, tetapi hasilnya dapat memberikan gambaran awal mengenai kondisi seseorang.

WHO menyatakan bahwa memeriksa tekanan darah merupakan cara utama untuk mengetahui apakah seseorang memiliki tekanan darah tinggi. Selain itu, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan tetap penting untuk menilai risiko dan kondisi kesehatan seseorang secara lebih menyeluruh (WHO, 2025).

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga terus mendorong pencegahan dan pengendalian hipertensi melalui perubahan gaya hidup dan pemeriksaan kesehatan. Salah satu pendekatan yang dikenal masyarakat adalah perilaku CERDIK, yaitu Cek kesehatan secara berkala, Menyingkirkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet sehat dengan kalori seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stres. Upaya sederhana tersebut dapat menjadi langkah awal untuk mencegah berbagai penyakit tidak menular, termasuk hipertensi.

Menurut saya, tantangan terbesar bukan hanya memberikan informasi tentang hipertensi, tetapi bagaimana membuat anak muda mau peduli terhadap kesehatannya. Informasi kesehatan sering kali dianggap membosankan jika disampaikan dengan cara yang terlalu formal. Karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan generasi muda.

 

Peran Mahasiswa Keperawatan, Sebagai Mahasiswa Keperawatan memiliki kesempatan untuk ikut berperan dalam meningkatkan kesadaran kesehatan masyarakat. Sebagai mahasiswa, tentu kami masih berada dalam proses belajar dan belum menggantikan peran tenaga kesehatan profesional. Namun, mahasiswa dapat ikut mengambil bagian melalui kegiatan promosi dan edukasi kesehatan sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki.

Peran tersebut dapat dimulai dari lingkungan yang paling dekat. Misalnya, mengajak keluarga atau teman untuk lebih peduli terhadap pemeriksaan kesehatan. Mahasiswa juga dapat membagikan informasi kesehatan yang benar melalui media sosial. Saat ini, banyak anak muda memperoleh informasi dari media sosial. Sayangnya, tidak semua informasi yang beredar dapat dipertanggungjawabkan.

Karena itu, mahasiswa Keperawatan dapat membantu menyebarkan informasi kesehatan yang lebih mudah dipahami dan berasal dari sumber yang terpercaya. Edukasi tidak harus selalu dilakukan dalam kegiatan besar. Poster sederhana, video pendek, atau diskusi kecil mengenai pentingnya mengetahui tekanan darah dapat menjadi langkah awal.

Menurut saya, peran mahasiswa bukan untuk memberikan diagnosis atau pengobatan secara mandiri. Mahasiswa lebih tepat berperan sebagai penggerak kesadaran kesehatan. Apabila seseorang memiliki hasil pemeriksaan yang memerlukan perhatian lebih lanjut, maka orang tersebut perlu diarahkan untuk melakukan pemeriksaan ke fasilitas pelayanan kesehatan atau tenaga kesehatan yang berwenang.

Sebagai bentuk kontribusi mahasiswa Keperawatan, saya menawarkan gagasan SADAR TEKANAN, yaitu gerakan untuk meningkatkan kepedulian generasi muda terhadap kesehatan tekanan darah melalui skrining sederhana, ajakan untuk peduli terhadap kesehatan, deteksi faktor risiko, mengarahkan individu yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut ke fasilitas pelayanan kesehatan, serta membiasakan gaya hidup sehat. Program ini dapat dilakukan melalui edukasi di kampus, sekolah, maupun masyarakat, serta didukung dengan kampanye melalui media sosial agar informasi tentang hipertensi lebih mudah dipahami oleh generasi muda. Kegiatan pemeriksaan tekanan darah juga dapat dilakukan melalui kerja sama dengan tenaga kesehatan atau fasilitas pelayanan kesehatan. Gagasan ini diharapkan dapat menjadi langkah sederhana dalam meningkatkan kesadaran generasi muda karena Indonesia Emas 2045 membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas dan produktif, tetapi juga sehat. Mahasiswa Keperawatan dapat ikut berperan melalui edukasi dan promosi kesehatan, sebab perubahan tidak selalu harus dimulai dari kegiatan yang besar. Kesadaran untuk menjaga kesehatan sejak usia muda, termasuk membiasakan pemeriksaan tekanan darah, merupakan salah satu bentuk persiapan untuk menciptakan generasi yang lebih sehat di masa depan.

Sebagai Penutup, Menjadi muda bukan berarti selalu aman dari risiko hipertensi. Berbagai kebiasaan sehari-hari, seperti kurang aktivitas fisik, pola makan yang tidak sehat, konsumsi garam berlebihan, dan kelebihan berat badan dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi.

Masalah hipertensi pada generasi muda perlu mendapatkan perhatian karena hipertensi sering tidak menunjukkan gejala. Oleh karena itu, deteksi dini dan perubahan gaya hidup menjadi langkah penting untuk dilakukan.

Melalui SDGs 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, mahasiswa Keperawatan dapat ikut berkontribusi melalui promosi kesehatan dan edukasi kepada masyarakat. Gagasan SADAR TEKANAN menjadi salah satu contoh bahwa mahasiswa dapat mengambil peran melalui langkah yang sederhana dan realistis.

Indonesia Emas 2045 membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga sehat. Karena itu, menjaga kesehatan sebaiknya tidak dimulai ketika penyakit sudah datang. Kesadaran perlu dimulai dari sekarang, dari usia muda, dan dari langkah sederhana. Sebab, pada akhirnya, muda bukan berarti selalu aman, tetapi muda adalah waktu terbaik untuk mulai peduli terhadap kesehatan.

 

Referensi

World Health Organization. (2025). Hypertension. World Health Organization. WHO (Hypertension Fact Sheet)

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Bahaya Hipertensi Mengintai Anak Muda Indonesia. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan. Kemenkes ( Bahaya Hipertensi Mengintai Anak Muda Indonesia)

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Bahaya Hipertensi, Upaya Pencegahan dan Pengendalian Hipertensi. Kemenkes ( Pencegahan dan Pengendalian Hipertensi)

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Hipertensi Penyakit Paling Banyak Diidap Masyarakat. Kemenkes ( Hipertensi dan Perilaku CERDIK)

Sudikno, S., Mubasyiroh, R., Rachmalina, R., Arfines, P. P., & Puspita, T. (2023). Prevalence and associated factors for prehypertension and hypertension among Indonesian adolescents: A cross-sectional community survey. BMJ Open, 13(3), e065056. https://doi.org/10.1136/bmjopen-2022-065056.

 

Penulis adalahMahasiswa D3 Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

PERAN MAHASISWA FARMASI DALAM MEWUJUDKAN SDGs KEHIDUPAN SEHAT DAN SEJAHTERA UNTUK INDONESIA EMAS 2045

WhatsApp Image 2026-09-06 at 20.58.44

Oleh: Aisyah Putri Ramadhani

A.      PENDAHULUAN

 Indonesia Emas 2045 adalah cita-cita bangsa untuk menjadi negara maju, berdaulat, adil, dan makmur pada usia ke-100 tahun kemerdekaan. Fondasi utama pencapaian tersebut adalah terjaminnya kesehatan dan kesejahteraan seluruh masyarakat, sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) Kehidupan Sehat dan Sejahtera : “Memastikan kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan semua orang di segala usia” (Bappenas, 2017).

Namun, masih terdapat permasalahan nyata: ketimpangan akses pelayanan kesehatan antara wilayah perkotaan dan pedesaan, kurangnya pemahaman masyarakat tentang penggunaan obat yang benar, serta tingginya angka penyakit yang sebenarnya dapat dicegah. Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya peningkatan kesehatan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan tenaga medis, melainkan seluruh elemen masyarakat, termasuk mahasiswa. Sebagai calon tenaga kesehatan, mahasiswa Farmasi memegang peran strategis untuk berkontribusi nyata dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat menuju 2045.

B.      PEMBAHASAAN 

  1. Permasalahan yang Terjadi

Saat ini, masih banyak permasalahan kesehatan yang dihadapi masyarakat Indonesia. Pertama, kesenjangan akses pelayanan kesehatan. Daerah-daerah terpencil masih kekurangan tenaga kesehatan dan ketersediaan obat yang lengkap serta terjangkau. Kedua, kurangnya pemahaman tentang penggunaan obat secara rasional. Banyak masyarakat membeli obat tanpa resep, menggunakan antibiotik secara sembarangan, serta tidak memahami cara penyimpanan dan masa kadaluarsa obat — hal ini dapat menyebabkan resistensi obat dan efek samping berbahaya. Ketiga, rendahnya kesadaran pencegahan penyakit. Masih banyak masyarakat yang berobat setelah sakit berat, padahal banyak penyakit dapat dicegah melalui pola hidup bersih dan sehat serta imunisasi lengkap.

  1. Kaitan dengan SDGs

Permasalahan di atas berkaitan erat dengan SDGs Kehidupan Sehat dan Sejahtera, yang menargetkan pengurangan angka kematian ibu dan bayi, pengendalian penyakit menular dan tidak menular, serta menjamin akses obat dan vaksin yang terjangkau bagi semua orang (Kemenkes RI, 2021). Jika permasalahan kesehatan tidak segera diselesaikan, target SDGs tidak akan tercapai, dan cita-cita Indonesia Emas 2045 akan semakin sulit diwujudkan.

  1. Alasan Permasalahan Harus Diselesaikan

Kesehatan adalah modal utama pembangunan bangsa. Tanpa masyarakat yang sehat, pertumbuhan ekonomi, kemajuan pendidikan, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia tidak akan berjalan optimal. Permasalahan kesehatan yang dibiarkan akan menambah beban negara, menurunkan produktivitas masyarakat, dan memperlebar kesenjangan sosial. Oleh karena itu, permasalahan ini harus segera diselesaikan — bukan hanya oleh pemerintah, tetapi seluruh elemen bangsa, termasuk mahasiswa.

  1. Peran Mahasiswa Farmasi

Mahasiswa Farmasi memiliki peran strategis dalam mengatasi permasalahan tersebut:

  • Sebagai Edukator Kesehatan: Memberikan penyuluhan tentang cara memilih, menyimpan, dan menggunakan obat dengan benar, serta pentingnya imunisasi dan pola hidup sehat melalui kegiatan pengabdian masyarakat maupun media sosial.
  • Sebagai Mitra Pelayanan Kesehatan: Membantu pemerataan akses obat dan informasi obat, terutama di daerah terpencil, melalui kerjasama dengan puskesmas dan organisasi kemahasiswaan.
  • Sebagai Peneliti dan Inovator: Mengembangkan produk kesehatan berbasis bahan alam Indonesia yang aman, efektif, dan terjangkau, serta meneliti pengelolaan limbah obat yang ramah lingkungan.
  • Sebagai Agen Perubahan: Menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan kesehatan dan masyarakat, menyebarkan informasi yang benar dan mudah dipahami untuk mengubah perilaku masyarakat menuju gaya hidup yang lebih sehat.

C. GAGASAN / AKSI MAHASISWA

Sebagai mahasiswa Farmasi, saya memiliki gagasan dan rencana aksi yang dapat diimplementasikan:

Pertama, melalui kegiatan pendidikan dan pengabdian masyarakat, saya berencana membentuk kelompok kecil mahasiswa untuk rutin mengadakan penyuluhan kesehatan di desa-desa sekitar kampus. Materi meliputi cara membaca etiket obat, dosis yang tepat, masa kadaluarsa, serta cara menyimpan obat. Kegiatan ini dapat bekerja sama dengan organisasi mahasiswa dan pihak desa agar berjalan berkelanjutan.

Kedua, melalui inovasi sederhana, saya ingin mengembangkan produk kesehatan berbasis tanaman obat lokal seperti jahe, kunyit, dan temulawak menjadi produk yang praktis, higienis, dan terjangkau. Hal ini tidak hanya membantu masyarakat mendapatkan alternatif pengobatan yang aman, tetapi juga melestarikan kekayaan alam Indonesia.

Ketiga, melalui kampanye di media sosial, saya akan membuat konten edukasi kesehatan yang sederhana dan menarik agar informasi kesehatan yang benar dapat tersebar luas dan menjangkau masyarakat yang lebih luas.

Keempat, melalui pengabdian sosial, saya ingin berpartisipasi dalam kegiatan bakti sosial pembagian obat dan pemeriksaan kesehatan gratis di daerah-daerah terpencil untuk membantu masyarakat yang kurang mampu mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang layak.

D. PENUTUP

SDGs Nomor 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera merupakan fondasi yang tidak dapat diabaikan dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045. Kesehatan masyarakat adalah kunci kemajuan bangsa. Permasalahan kesehatan seperti ketimpangan akses pelayanan, kurangnya pemahaman penggunaan obat, serta rendahnya kesadaran pencegahan penyakit memerlukan perhatian dan tindakan nyata dari seluruh elemen bangsa.

Mahasiswa, khususnya mahasiswa Farmasi, memiliki tanggung jawab dan kemampuan untuk berkontribusi. Melalui peran sebagai edukator, mitra pelayanan, peneliti, dan agen perubahan, mahasiswa dapat memberikan dampak nyata bagi kesehatan masyarakat. Gagasan aksi melalui pendidikan, inovasi, kampanye, dan pengabdian masyarakat adalah langkah konkret yang dapat dilakukan mulai dari sekarang.

Oleh karena itu, saya mengajak seluruh mahasiswa dan generasi muda untuk tidak hanya berdiam diri menunggu perubahan, tetapi turun langsung berkontribusi. Setiap langkah kecil yang kita lakukan hari ini adalah investasi besar bagi kesehatan bangsa di masa depan. Mari kita bersama-sama mewujudkan Indonesia yang sehat, sejahtera, dan jaya pada tahun 2045.

E.  REFERENSI

  1. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional / Bappenas. (2017). Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Indonesia. Jakarta: Bappenas RI.
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2020–2024. Jakarta: Kemenkes RI.
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2010). Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 739 Tahun 2010 tentang Penggunaan Obat Secara Rasional. Jakarta: Kemenkes RI.
  4. United Nations. (2015). Transforming Our World: The 2030 Agenda for Sustainable Development. New York: UN General Assembly.
  5. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Visi Indonesia Emas 2045: Peran Generasi Muda dalam Pembangunan Bangsa. Jakarta: Kemendikbudristek.

 

Penulis adalah Mahasiswa Program Studi: S1 Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas: Univeritas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

 

 

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

EKONOMI TUMBUH, KERJA LAYAK JANGAN TERTINGGAL

WhatsApp Image 2026-09-06 at 20.50.51

Oleh: Ibnu Hajar

Pendahuluan

Indonesia sedang menghadapi paradoks yang penting untuk diperhatikan menjelang Indonesia Emas 2045. Di satu sisi, ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan. Pada periode yang sama, jumlah penduduk bekerja pada Mei 2026 mencapai 148,19 juta orang dan tingkat pengangguran terbuka (TPT) berada pada 4,65 persen. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa perekonomian dan pasar kerja Indonesia tetap bergerak positif.

Namun pertanyaan yang lebih penting bukan hanya berapa banyak pekerjaan yang tercipta, melainkan pekerjaan seperti apa yang tersedia. Pada Februari 2026, pekerja informal mencapai 87,74 juta orang, sementara pekerja formal 59,93 juta orang. Artinya, sekitar enam dari sepuluh penduduk yang bekerja berada dalam kegiatan informal. BPS juga mencatat rata-rata upah buruh pada Mei 2026 sebesar Rp3,39 juta per bulan. Data tersebut tidak otomatis berarti seluruh pekerja telah menikmati pekerjaan yang aman, produktif, berpenghasilan layak, dan memiliki perlindungan yang memadai.

Kondisi ini membuat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) ke-8, yaitu Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan

Ekonomi, menjadi sangat relevan. Pertumbuhan ekonomi seharusnya tidak berhenti pada kenaikan angka Produk Domestik Bruto, tetapi mampu diterjemahkan menjadi kesempatan kerja produktif dan pekerjaan yang layak bagi masyarakat. Di sini mahasiswa, khususnya mahasiswa Manajemen, memiliki ruang untuk berkontribusi.

Pembahasan

Pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan layak sebenarnya saling berkaitan, tetapi keduanya tidak selalu bergerak pada kualitas yang sama. Ekonomi dapat tumbuh karena konsumsi, investasi, ekspor, produktivitas, atau ekspansi sektor tertentu. Akan tetapi, jika pertumbuhan tersebut lebih banyak menghasilkan pekerjaan berupah rendah, tidak stabil, atau minim perlindungan, maka manfaat pertumbuhan belum sepenuhnya dirasakan pekerja. Dengan kata lain, ukuran keberhasilan pembangunan tidak cukup hanya melihat banyaknya orang yang bekerja: namun kualitas pekerjaan juga harus diperhitungkan.

Persoalan ini semakin kompleks karena dunia kerja sedang berubah. Digitalisasi, otomatisasi, dan kecerdasan buatan (AI) membuat perusahaan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus mengubah jenis keterampilan yang dibutuhkan. ILO menyoroti bahwa perkembangan AI dapat mengubah tempat kerja dan dapat menimbulkan risiko ketimpangan apabila teknologi digunakan dengan data atau sistem yang bias. Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya mempersiapkan diri agar diterima bekerja. Mereka juga perlu memahami bagaimana teknologi, produktivitas, dan keputusan manajemen dapat memengaruhi kualitas pekerjaan.

Bagi mahasiswa manajemen, persoalan pekerjaan layak dapat dilihat dari cara organisasi mengelola manusia dan sumber daya. Perusahaan membutuhkan produktivitas agar mampu bertahan dan berkembang, tetapi produktivitas tidak seharusnya dicapai dengan mengorbankan kesejahteraan pekerja. Manajemen yang baik justru mencari titik temu antara efisiensi perusahaan, pengembangan kompetensi, sistem penghargaan yang adil, lingkungan kerja yang sehat, dan keberlanjutan usaha. Pendekatan seperti ini sejalan dengan semangat SDG 8 yang mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan serta pekerjaan yang produktif dan layak untuk semua.

Masalah lain yang tidak kalah penting adalah kesenjangan antara dunia Pendidikan dan dunia kerja. Gelar akademik merupakan modal penting, tetapi belum tentu cukup apabila tidak diikuti kemampuan memecahkan masalah, berkomunikasi, bekerja sama, menggunakan teknologi, dan memahami kebutuhan bisnis. Karena itu, kampus harus menjadi tempat mahasiswa membangun kompetensi yang benar-benar relevan dengan perubahan pasar kerja. Mahasiswa juga tidak boleh hanya menunggu perusahaan menciptakan pekerjaan; mereka dapat ikut menciptakan nilai dan kesempatan kerja melalui kewirausahaan serta pengembangan UMKM.

Gagasan/ Aksi Mahasiswa

Menurut saya, kontribusi mahasiswa Manajemen dapat diwujudkan melalui gerakan sederhana tetapi terukur yang saya sebut “Kampus Naik Kelas, Kerja Naik Kualitas”. Gagasannya adalah menjadikan mahasiswa sebagai pendamping bagi usaha mikro dan kecil di sekitar kampus untuk memperbaiki praktik Manajemen dan kualitas pekerjaan. Pendampingan tidak diarahkan untuk menggantikan peran pemilik usaha, tetapi membantu mereka membangun sistem usaha yang lebih produktif dan berkelanjutan.

Tahap pertama adalah pemetaan masalah. Mahasiswa dapat melakukan observasi sederhana mengenai pembagian kerja, pencatatan keuangan, jam kerja, sistem upah, kebutuhan keterampilan, pemasaran, dan penggunaan teknologi pada UMKM mitra. Tahap kedua adalah pendampingan, misalnya membuat pembagian tugas yang lebih jelas, pencatatan keuangan digital sederhana, standar operasional kerja, penghitungan harga pokok dan produktivitas, serta pelatihan pemasaran digital. Tahap ketiga adalah pengembangan tenaga kerja melalui pelatihan keterampilan dan sesuai kebutuhan usaha. Tahap terakhir adalah evaluasi dengan indikator sederhana seperti peningkatan produktivitas, omzet, kualitas layanan, keteraturan administrasi, dan perbaikan praktik kerja.

Gagasan ini penting karena UMKM bukan hanya tempat menghasilkan barang dan jasa, tetapi juga bagian dari ekosistem penciptaan lapangan kerja. Mahasiswa dapat menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di kelas dengan persoalan nyata. Organisasi mahasiswa, dosen, pelaku usaha, dan pemerintah daerah juga dapat dilibatkan agar program tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat. Bahkan, kampus dapat menjadikan kegiatan tersebut sebagai bentuk pengabdian masyarakat dan laboratorium praktik manajemen.

Pada saat yang sama, mahasiswa perlu membangun kualitas dirinya sendiri. Menguasai teknologi dan AI harus diimbangi kemampuan berpikir kritis, etika, komunikasi, kepemimpinan, dan kemampuan memahami manusia. Teknologi seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan produktivitas, bukan alasan untuk mengabaikan manusia. Dengan kompetensi tersebut, mahasiswa dapat menjadi tenaga kerja yang adaptif sekaligus calon manajer dan wirausahawan yang mampu menciptakan pekerjaan berkualitas.

Penutup

Indonesia Emas 2045 tidak cukup dibangun dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Indonesia membutuhkan pertumbuhan yang mampu menciptakan pekerjaan produktif, memberikan penghidupan yang layak, memperluas kesempatan, dan meningkatkan kualitas manusia. Data terbaru menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia tetap tumbuh dan jumlah pekerjaan meningkat, tetapi dominasi pekerjaan informal menunjukkan bahwa tantangan kualitas pekerjaan masih besar. Karena itu, pencapaian SDG 8 harus dipandang sebagai upaya memastikan pertumbuhan ekonomi benar-benar diterjemahkan menjadi kesejahteraan manusia.

Mahasiswa tidak harus menunggu lulus untuk berkontribusi. Dari kampus, mahasiswa manajemen dapat mulai dengan memperbaiki kompetensi diri, membantu UMKM membangun sistem usaha yang lebih baik, mendorong penggunaan teknologi secara bertanggung jawab, serta menciptakan gagasan kewirausahaan yang membuka kesempatan kerja. Pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi yang kita perjuangkan harus memiliki wajah manusia: produktif, adil, inklusif, dan layak.

Referensi

Badan Pusat Statistik. (2026, 5 Agustus). Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,65 persen; rata-rata upah buruh sebesar 3,39 juta rupiah. BPS.

Badan Pusat Statistik. (2026, 5 Agustus). Ekonomi Indonesia Triwulan II-2026 Tumbuh 5,29 Persen (Y-on-Y). BPS.

Badan Pusat Statistik. (2026, 26 Juni). Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia Februari 2026. BPS.

Badan Pusat Statistik. (2026, 30 April). Indikator Pekerjaan Layak di Indonesia 2025. BPS.

International Labour Organization. (2025, 20 November). AI for equality at work in Indonesia: Harnessing technology to create fair, inclusive and decent workplaces. ILO.

 

Penulis adalah Mahasiswa Program Studi S1 Manajemen, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

PERAN MAHASISWA DALAM PENGENDALIAN BANJIR ROB DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN PERKOTAAN PEKLONGAN MELALUI “SMART FLOOD & ROB MONITORING SYSTEM”

WhatsApp Image 2026-09-06 at 20.43.12

Oleh: Rafa Ifaqoh

A.Pendahuluan

Banjir rob di wilayah Pekalongan mempengaruhi berbagai aspek yang terdapat di wilayah pesisir Pekalongan. Banjir rob jika tidak ada penanganan yang signifikan dari pihak Pemerintah baik Pemerintah Pusat, Provinsi maupun Daerah maka pemukiman kumuh akibat banjir rob di wilayah pesisir pekalongan akan semakin besar dan meluas ke wilayah lain karena air laut yang setiap tahun semakin naik ke wilayah daratan akan menyebabkan banjir rob yang berasal dari bibir pantai. banjir rob juga akan menimbulkan Kerusakan di berbagai sektor dan menyebankan kerugian yang perkirakan mencapai triliyun an rupiah. Tujuan penanganan banjir rob adalah untuk meningkatkan daya dukung infrastruktur dan pelayanan transportasi wilayah pekalongan.

Pekalongan termasuk daerah yang relatif datar, yaitu dengan kemiringan lahan rata – rata antara 0 – 5%. Kondisi ini secara topografis akan menyulitkan pengaturan saluran drainase, karena persentase kemiringan lahan relatif kecil. Akibatnya di beberapa kawasan Kota Pekalongan sering mengalami gangguan genangan banjir, sementara di sisi utara wilayah Kota Pekalongan, yang berbatasan dengan kawasan pesisir pantai mengalami bencana rob dengan frekuensi dan luasan genangan yang meningkat. Oleh karena itu penanganan Rob di Pekalongan sangatlah diperlukan untuk mengantisipasi bencana Rob yang setiap tahun melanda Pekalongan. Salah satu upaya penanganan bencana Rob adalah dengan “Smart Flood and Rob Monioring System”. Smart flood and monitoring system adalah sistem teknologi cerdas berbasis Internet of Things (IoT) untuk memantau ketinggian air secara real-time dan memberikan peringatan dini bencana banjir. Essai ini bertujuan untuk membahas peran mahasiswa dalam pengendalian banjir rob dan pengelolaan lingkungan perkotaan pekalongan melalui Smart Flood and Rob Monitoring System.

 

B.Pembahasan

  • Banjir Rob sebagai Permasalahan Wilayah Pesisir
  1. Definisi Banjir Rob

Banjir rob adalah  banjir yang terjadi di daerah pesisir yang disebabkan karena permukaan air laut lebih tinggi daripada daratan di pesisir pantai.

  1. Faktor Pemicu dan Karakteristik Banjir Rob
  • Penyebab Rob Pasang Normal (Astronomis): Terjadi karena gaya tarik gravitasi bulan dan matahari, terutama saat fase bulan purnama atau bulan baru.
  • Badai (Storm Surge): Terjadi akibat dorongan angin kencang atau badai tropis di laut yang menaikkan gelombang air laut jauh lebih tinggi dari batas normal ke daratan.
  • Penurunan Muka Tanah (Land Subsidence): Diperparah oleh amblesnya permukaan daratan akibat pengambilan air tanah berlebihan atau beban bangunan, membuat air pasang semakin mudah menggenangi wilayah pesisir.
  • Perubahan Iklim (Sea Level Rise): Pemanasan global mencairkan es kutub sehingga volume air laut meningkat dan memperluas cakupan serta frekuensi banjir rob.

 

 

  1. Penyebab terjadinya banjir
  • Penyebab Terjadinya Banjir
  1. Pasang Air Laut (Tidal Flooding): Gaya gravitasi bulan dan matahari menyebabkan air laut naik. Kondisi ini meningkat saat bulan purnama atau fase perigee (jarak terdekat bulan ke bumi) (Iskandar, dk.. 2020).
  2. Perubahan Iklim dan Pemanasan Global: Peningkatan suhu bumi mencairkan es di kutub sehingga volume air laut global naik (Iskandar, dk.. 2020).
  3. Gelombang Ekstrem: Dorongan angin kencang atau gelombang tinggi dari laut lepas mempercepat air meluap ke daratan pesisir.

 

  • Faktor Aktivitas Manusia
  1. Hilangnya Sabuk Hijau (Mangrove): Penggundulan hutan mangrove menghilangkan pelindung alami yang meredam hantaman gelombang dan pasang air laut.
  2. Alih Fungsi Lahan dan Pembangunan: Reklamasi pantai serta pembangunan di dataran rendah pesisir mempersempit daerah resapan dan mengubah aliran air.
  3. Dampak Banjir Rob
  • Kerusakan Infrastruktur dan Lingkungan
  • Kerusakan bangunan: Jalan raya, jembatan, dan rumah warga rusak akibat tergenang air asin yang bersifat korosif. Banjir rob yang berlangsung berulang dapat menggenangi permukiman, fasilitas publik, serta infrastruktur dan menimbulkan kerusakan. Penelitian di Pekalongan menunjukkan bahwa penurunan muka tanah dan banjir pesisir telah berdampak pada infrastruktur serta menyebabkan kerusakan pada kawasan permukiman dan fasilitas lainnya (Yuwana dkk., 2026)
  • Kerusakan ekosistem: Abrasi menggerus garis pantai dan merusak vegetasi seperti hutan mangrove.
  • Penurunan kualitas tanah: Genangan terus-menerus mempercepat amblesnya permukaan tanah di wilayah pesisir
  • Dampak Sosial dan Ekonomi
  • Ancaman kesehatan: Warga rentan terserang penyakit kulit (gatal-gatal), diare, dan infeksi saluran pernapasan akibat lingkungan yang kotor.
  • Kelangkaan air bersih: Sumur warga tercampur oleh air laut yang asin sehingga sulit dikonsumsi.

2.) Kondisi Geografis dan Karteristik Wilayah Kota Pekalongan

 

  1. Wilayah Kota Pekalongan

Dilihat dari letak geografisnya, Kota Pekalongan berada di kawasan pesisir utara Jawa Tengah dan berbatasan langsung dengan Laut Jawa di sebelah utara. Di bagian selatan, Kota Pekalongan berbatasan dengan Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Batang. Sementara itu, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Pekalongan dan sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Batang. Kota Pekalongan memiliki luas wilayah sekitar 45,25 km² yang secara administratif terbagi atas empat kecamatan dan 27 kelurahan.

  1. Karakteristik Daratan Kota Pekalongan

Kondisi geografis Kota Pekalongan menunjukkan bahwa wilayah ini termasuk kawasan dataran rendah pesisir. Berdasarkan dokumen pemerintah daerah yang mengacu pada data BPS, ketinggian wilayah Kota Pekalongan berada sekitar 0–6 meter di atas permukaan laut. Permukaan wilayahnya juga cenderung datar dengan tingkat kemiringan sekitar 0–8%. Kondisi tersebut menyebabkan beberapa wilayah di Pekalongan, khususnya kawasan pesisir, memiliki tingkat kerentanan terhadap genangan air akibat pasang laut atau banjir rob.

Salah satu wilayah yang memiliki karakteristik tersebut adalah Kecamatan Pekalongan Utara. Kecamatan ini berada di kawasan dataran rendah pantai utara dengan ketinggian sekitar satu meter di atas permukaan laut serta berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menghadapi risiko banjir rob di wilayah Pekalongan.

4.) Smart Flood & Rob Monitoring System

Smart Flood & Rob Monitoring System merupakan sebuah gagasan yang memanfaatkan teknologi untuk membantu melakukan pemantauan terhadap banjir dan banjir rob di kawasan perkotaan Pekalongan. Sistem ini dirancang agar informasi mengenai kondisi serta ketinggian air dapat diperoleh dengan lebih cepat dan kemudian disampaikan kepada masyarakat maupun pihak-pihak yang membutuhkan informasi tersebut. Dalam pengembangannya, sistem dapat memanfaatkan berbagai teknologi yang telah tersedia, seperti Internet of Things (IoT), sensor, sistem informasi geografis, serta platform digital.

Sistem ini bekerja dengan menempatkan sensor di sejumlah lokasi yang memiliki risiko tinggi terhadap banjir rob. Sensor tersebut digunakan untuk mengukur perubahan ketinggian air secara berkala. Data hasil pengukuran selanjutnya dikirimkan ke sistem digital melalui jaringan internet. Data tersebut kemudian dapat ditampilkan melalui website atau aplikasi sehingga masyarakat dapat mengetahui kondisi air pada setiap titik pemantauan tanpa perlu melihatnya secara langsung di lokasi.

Agar mudah digunakan, informasi yang disediakan oleh sistem dapat disajikan dalam bentuk yang sederhana dan mudah dipahami. Kondisi suatu wilayah, misalnya, dapat dibagi ke dalam beberapa kategori seperti aman, waspada, dan siaga berdasarkan batas ketinggian air yang telah ditentukan. Jika ketinggian air meningkat dan melewati batas yang ditetapkan, sistem dapat mengirimkan notifikasi atau peringatan kepada pengguna. Informasi tersebut dapat membantu masyarakat mengetahui perkembangan kondisi wilayah dan meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya banjir rob.

Selain digunakan untuk memantau ketinggian air, sistem juga dapat dilengkapi dengan peta digital yang menunjukkan titik-titik pemantauan serta wilayah yang mengalami genangan. Melalui peta tersebut, masyarakat dapat mengetahui lokasi yang sedang terdampak maupun wilayah yang memiliki risiko lebih besar. Data hasil pemantauan juga dapat disimpan dan dikumpulkan secara berkala sehingga dapat digunakan untuk mengetahui pola terjadinya banjir rob dari waktu ke waktu.

Pengembangan Smart Flood & Rob Monitoring System tidak harus dimulai dengan menciptakan teknologi yang benar-benar baru. Teknologi yang telah diterapkan di daerah lain dapat dijadikan sebagai bahan acuan dan kemudian disesuaikan dengan kebutuhan Kota Pekalongan. Salah satu contoh yang dapat dijadikan referensi adalah Tide-Eye, yaitu sistem pemantauan dan mitigasi banjir pasang yang dikembangkan melalui kerja sama Telkom University dengan University of Wollongong Australia. Sistem tersebut memanfaatkan IoT, drone, dan kecerdasan buatan untuk membantu memantau banjir pasang dan telah diterapkan di beberapa wilayah, termasuk Pekalongan, Semarang, dan Demak (Telkom University, 2023, 2024).

Untuk wilayah Pekalongan, sistem tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut dengan mempertimbangkan kondisi wilayah dan kebutuhan masyarakat setempat. Informasi yang diperoleh dari sistem tidak hanya dapat digunakan sebagai peringatan ketika banjir rob terjadi, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan penelitian dan evaluasi terhadap kondisi lingkungan perkotaan. Data yang dikumpulkan secara berkala dapat membantu dalam menganalisis perubahan kondisi wilayah, pola genangan, serta lokasi yang sering mengalami dampak banjir rob.

Dengan demikian, Smart Flood & Rob Monitoring System dapat menjadi sarana untuk melakukan pemantauan, menyebarkan informasi, sekaligus membantu meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi banjir rob. Pemanfaatan teknologi ini diharapkan dapat membuat masyarakat memperoleh informasi mengenai kondisi rob dengan lebih cepat serta mendukung pengelolaan lingkungan perkotaan Pekalongan yang lebih terarah dan berdasarkan data.

C. Gagasan atau Aksi Mahasiswa

Permasalahan banjir rob yang terjadi di wilayah pesisir menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi sangat diperlukan untuk membantu proses pemantauan dan mitigasi bencana. Salah satu contoh pemanfaatan teknologi tersebut adalah Tide-Eye, yaitu sistem manajemen untuk memantau dan memitigasi banjir pasang yang dikembangkan oleh Telkom University bersama University of Wollongong Australia. Sistem ini memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT), drone, dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) untuk memantau ketinggian air laut serta kondisi banjir rob. Penerapan teknologi tersebut telah dilakukan di beberapa wilayah Jawa Tengah, seperti Pekalongan, Semarang, dan Demak (Telkom University, 2023, 2024).

Penerapan teknologi tersebut dapat menjadi referensi bagi mahasiswa untuk mengembangkan sistem pemantauan rob yang lebih mudah digunakan dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat Pekalongan. Melalui gagasan Smart Flood & Rob Monitoring System, mahasiswa dapat berkontribusi dalam mengembangkan sistem yang menggabungkan pemantauan ketinggian air, pemetaan wilayah yang terdampak, penyebaran informasi, serta pemberian peringatan dini kepada masyarakat. Gagasan tersebut tidak berarti harus menciptakan teknologi yang benar-benar baru, tetapi dapat dilakukan dengan mengembangkan dan memanfaatkan teknologi yang telah tersedia agar dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan perkotaan Pekalongan.

Dalam penerapannya, mahasiswa dapat terlebih dahulu melakukan pemetaan pada wilayah yang sering mengalami rob untuk menentukan lokasi yang membutuhkan pemantauan. Data dari berbagai titik tersebut dapat diperoleh melalui sensor maupun sumber data yang telah tersedia. Selanjutnya, data dapat disajikan dalam bentuk peta digital sehingga masyarakat lebih mudah mengetahui kondisi wilayahnya. Sebagai contoh, Kota Semarang telah memiliki SIGAB yang menyediakan informasi mengenai lokasi genangan banjir secara real time. Selain itu, terdapat pula sistem PantauBanjir yang menampilkan kondisi beberapa stasiun pemantauan dengan kategori aman, siaga, dan awas.

Dengan melihat penerapan sistem tersebut, mahasiswa dapat mengembangkan sistem yang tidak hanya menyajikan informasi tentang ketinggian air, tetapi juga memberikan gambaran kondisi wilayah dengan kategori yang sederhana, seperti aman, waspada, dan siaga. Ketika ketinggian air telah mencapai batas tertentu, sistem dapat mengirimkan peringatan kepada masyarakat melalui aplikasi atau website. Informasi yang diberikan secara cepat tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat mengetahui kondisi wilayahnya dan meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi kemungkinan terjadinya rob.

Aksi mahasiswa juga dapat diwujudkan melalui penelitian dan pengumpulan data secara langsung di lapangan. Mahasiswa dapat mengamati lokasi yang sering mengalami genangan, mendokumentasikan kondisi lingkungan, serta mencatat informasi mengenai ketinggian dan durasi genangan. Data yang diperoleh selanjutnya dapat diolah dan dianalisis untuk mengetahui pola terjadinya rob serta menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan kebutuhan sistem pemantauan.

Pengembangan sistem juga dapat dilakukan melalui kerja sama antarbidang. Mahasiswa yang memiliki kemampuan dalam bidang teknologi dapat berperan dalam pembuatan sistem dan pengolahan data, sedangkan mahasiswa yang memiliki pengetahuan mengenai lingkungan dapat membantu menganalisis kondisi wilayah. Selain itu, mahasiswa dapat bekerja sama dengan masyarakat dan pemerintah daerah agar sistem yang dikembangkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya bertindak sebagai pengembang teknologi, tetapi juga dapat menjadi penghubung antara teknologi, masyarakat, dan upaya pengelolaan lingkungan.

Di samping mengembangkan sistem pemantauan, mahasiswa juga dapat melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pemantauan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi banjir rob. Edukasi dapat diberikan dengan menjelaskan cara menggunakan dan memahami informasi yang tersedia dalam sistem, mengenali setiap tingkat peringatan, serta meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan, termasuk kebersihan saluran air dan kondisi kawasan sekitar agar tidak memperparah genangan.

Dengan adanya gagasan tersebut, Smart Flood & Rob Monitoring System dapat menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam membantu menghadapi permasalahan banjir rob di Pekalongan. Gagasan ini memadukan pemanfaatan teknologi, penelitian, edukasi, dan kerja sama untuk membangun sistem pemantauan yang dapat membantu masyarakat menghadapi rob. Oleh karena itu, peran mahasiswa tidak hanya terbatas pada menciptakan atau mengembangkan teknologi, tetapi juga memastikan teknologi tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat serta mendukung pengelolaan lingkungan perkotaan secara berkelanjutan.

D. Penutup

Banjir rob menjadi salah satu persoalan lingkungan yang perlu mendapat perhatian khusus di Kota Pekalongan. Posisi Pekalongan yang berada di kawasan pesisir, ditambah kondisi wilayah yang memiliki daratan rendah dan cenderung datar, membuat kota ini cukup rentan terhadap banjir rob. Kerentanan tersebut juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti penurunan permukaan tanah dan meningkatnya permukaan air laut. Dampak rob tidak hanya menyebabkan munculnya genangan, tetapi juga dapat menghambat kegiatan masyarakat, menimbulkan kerusakan pada infrastruktur, serta memberikan pengaruh terhadap kondisi lingkungan dan perekonomian masyarakat.

Penggunaan teknologi dapat menjadi salah satu langkah yang dilakukan untuk mendukung pemantauan serta meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap banjir rob. Smart Flood & Rob Monitoring System dapat dikembangkan dengan menggabungkan beberapa teknologi, seperti sensor, Internet of Things (IoT), sistem informasi geografis, dan platform digital. Sistem tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengetahui perubahan ketinggian air, memberikan gambaran kondisi wilayah melalui peta digital, menyampaikan peringatan dini, serta menyimpan data yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan penelitian dan pengelolaan lingkungan.

Mahasiswa dapat mengambil peran dalam penerapan gagasan tersebut melalui berbagai bentuk kontribusi, seperti pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, penelitian, edukasi, serta kerja sama dengan berbagai pihak. Mahasiswa dapat melakukan pemetaan daerah yang rawan terkena rob, mengembangkan maupun meningkatkan sistem pemantauan, mengumpulkan dan menganalisis data, memberikan pemahaman kepada masyarakat, serta menjalin kerja sama dengan pemerintah dan pihak terkait. Oleh sebab itu, mahasiswa tidak hanya berperan dalam menghasilkan gagasan, tetapi juga dapat ikut terlibat dalam proses pelaksanaan dan pengembangan solusi.

Pada akhirnya, Smart Flood & Rob Monitoring System dapat menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam mendukung upaya menghadapi banjir rob di Pekalongan. Meskipun teknologi bukan merupakan satu-satunya cara untuk menyelesaikan permasalahan rob, keberadaannya dapat membantu masyarakat memperoleh informasi dengan lebih cepat dan meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kondisi banjir. Dengan adanya sinergi antara mahasiswa, masyarakat, pemerintah, dan pihak-pihak terkait, pengendalian banjir rob serta pengelolaan lingkungan perkotaan Pekalongan dapat dilakukan dengan lebih terencana, berkelanjutan, dan didukung oleh data.

E.Referensi

Bapperida Kota Pekalongan. (2020). Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kota Pekalongan Tahun 2020. Pemerintah Kota Pekalongan.

Bapperida Kota Pekalongan. (2023). Laporan akhir riset bersama. Pemerintah Kota Pekalongan.

BPBD Provinsi Jawa Tengah. (2022, May 31). (Update) Banjir/rob di Kota Pekalongan. BPBD Provinsi Jawa Tengah.

Dinas Lingkungan Hidup Kota Pekalongan. (2025). Dokumen informasi kinerja pengelolaan lingkungan hidup daerah (DIKPLHD) Kota Pekalongan tahun 2025. Pemerintah Kota Pekalongan. Dokumen DIKPLHD Kota Pekalongan Tahun 2025.

Handoko, E. Y., Anjasmara, I. M., Kurniawan, A., Maulida, P., Khomsin, De Silva Nusantara, C. A., Khairunnisa, S., Kholiq, M. A., Sarsito, D. A., & Heliani, L. S. (2026). Integrated geodetic satellite observations for coastal flooding risk modeling: A case study of land subsidence and sea level rise in Pekalongan, Indonesia. Journal of Physics: Conference Series, 3238(1), 012037. https://doi.org/10.1088/1742-6596/3238/1/012037

Pemerintah Kota Pekalongan. (2020, 8 Februari). MCK adaptif, pilot project sanitasi daerah rob. Protokol dan Komunikasi Pimpinan Kota Pekalongan. Sumber resmi Pemerintah Kota Pekalongan

Pemerintah Kota Pekalongan. (2026, January 18). Kapolres Pekalongan Kota bersama Dandim 0710/Pekalongan tinjau langsung lokasi terdampak banjir, pastikan keamanan warga dan layanan publik tetap berjalan. Pemerintah Kota Pekalongan).

Pemerintah Kota Pekalongan. (2026, January 18). Kapolres Pekalongan Kota bersama Dandim 0710/Pekalongan tinjau langsung lokasi terdampak banjir, pastikan keamanan warga dan layanan publik tetap berjalan. Pemerintah Kota Pekalongan

Pemerintah Kota Pekalongan. (n.d.). Sejarah singkat Kota Pekalongan. Pemerintah Kota Pekalongan.

Sugiharto Sh., & Safitri, M. (2021). Status Kesehatan Korban Banjir Rob di Desa Jeruksari Kabupaten Pekalongan. JPKM: Jurnal Profesi Kesehatan Masyarakat, 2(1), 87–92. https://doi.org/10.47575/jpkm.v2i1.211

Telkom University. (2023, October 31). Tide-Eye: Sistem manajemen monitoring dan mitigasi banjir, kolaborasi Telkom University dan University of Wollongong Australia. Telkom University.

Telkom University. (2024, October 3). Inovasi Tide-Eye resmi diluncurkan: Solusi baru hadapi ancaman banjir rob di wilayah pesisir. Telkom University. Sumber resmi Telkom University

Iskandar, S. A., Helmi, M., Muslim, M., Widada, S., & Rochaddi, B. (2020). Analisis geospasial area genangan banjir rob dan dampaknya pada penggunaan lahan tahun 2020–2025 di Kota Pekalongan Provinsi Jawa Tengah. Indonesian Journal of Oceanography, 2(3), 271–282. https://doi.org/10.14710/ijoce.v2i3.8668

Yuwana, D. A., Muslim, D., Iskandarsyah, T. Y. W., Sagala, S., Hermawan, W., Wirabuana, T., & Insan, A. (2026). Integrated analysis of land subsidence from alluvium formation based on conventional deep pipe monitoring (CDPM) and geotechnical parameters in Pekalongan and surrounding areas, Indonesia. Indonesian Journal on Geoscience, 13(1), 129–142. https://doi.org/10.17014/ijog.13.1.129-142

 

Penulis adalah Mahasiswa S1 Informatika Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer UMPP 

Terkait
Meriahnya perayaaan HUT 112 Kota Pekalongan

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Perayaan HUT Ke-112 Kota Pekalongan berlangsung meriah. Ribuan warga tumplek-blek (tumpah ruah) memadati beberapa ruas jalan Read more

Lewat sini, jika alami macet di Kota Pekalongan

Pekalongan Kota, Wartadesa. -  Menghadapi arus mudik Idul Fitri 2018, Dinas Perhubungan telah menyiapkan rekayasa lalu lintas untuk mengantisipasi terjadinya Read more

Seribu kado Ramadhan untuk korban banjir rob dibagikan

Wiradesa, Wartadesa. - Pos Pelayanan (Pos Yan) Muhammadiyah Bencana Banjir Rob yang didirikan oleh Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Cabang Pencongan Read more

Korban banjir rob butuh pakaian layak

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Banjir rob di Kelurahan Pasirsari hingga wilayah Boyongsari di Kecamatan Pekalongan Utara paska lebaran 2018 ini Read more

selengkapnya
Opini

KEHIDUPAN SEHAT DAN SEJAHTERA

WhatsApp Image 2026-09-06 at 20.35.13

Oleh: Shevina Bethari Nugrahani

 

Pendahuluan

Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang sangat menentukan kualitas kehidupan. Pelayanan kesehatan memiliki peranan penting karena menjadi sarana bagi masyarakat untuk memperoleh upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau, bermutu, aman, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat menjadi salah satu dasar dalam menciptakan kehidupan yang sehat dan sejahtera.

Hal tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ke-3, yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being). SDG 3 bertujuan memastikan kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan bagi semua orang pada segala usia. Dalam konteks Indonesia, pelayanan kesehatan menjadi bagian penting dari upaya mencapai tujuan tersebut karena kualitas kesehatan masyarakat sangat dipengaruhi oleh akses, pemerataan, mutu pelayanan, tenaga kesehatan, fasilitas, pembiayaan, serta kesadaran masyarakat.

Indonesia saat ini terus melakukan transformasi sistem kesehatan. Kementerian Kesehatan menempatkan transformasi layanan primer sebagai salah satu pilar utama, dengan penekanan pada penguatan upaya promotif dan preventif, peningkatan skrining, edukasi penduduk, serta peningkatan kapasitas pelayanan kesehatan primer. Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya berfokus pada pengobatan ketika seseorang telah sakit, tetapi juga pada upaya menjaga masyarakat agar tetap sehat.

Pembahasan

Salah satu permasalahan dalam pelayanan kesehatan adalah belum meratanya akses terhadap layanan yang berkualitas. Kondisi geografis Indonesia yang luas menyebabkan kebutuhan pelayanan kesehatan di setiap daerah dapat berbeda. Masyarakat di wilayah yang jauh dari pusat pelayanan dapat menghadapi kendala jarak, transportasi, ketersediaan tenaga kesehatan, fasilitas, maupun informasi. Karena itu, peningkatan kualitas pelayanan harus berjalan bersama dengan pemerataan akses agar manfaat pembangunan kesehatan dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat.

Selain persoalan akses, pelayanan kesehatan juga menghadapi tantangan dalam meningkatkan kualitas layanan dan mengutamakan pencegahan. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa transformasi layanan primer diarahkan untuk memperkuat aktivitas promotif dan preventif, memperbaiki skrining kesehatan, serta meningkatkan kapasitas layanan primer. Pendekatan tersebut penting karena pelayanan kesehatan yang baik seharusnya tidak hanya menunggu masyarakat datang ketika sakit, tetapi juga aktif membantu masyarakat mencegah penyakit dan menjaga kesehatan.

Permasalahan pelayanan kesehatan memiliki hubungan yang erat dengan SDG 3. Akses terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas merupakan bagian penting dari upaya mewujudkan kehidupan sehat dan sejahtera. Penguatan Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Posyandu, kegiatan skrining, edukasi kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat merupakan contoh langkah yang dapat mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Kementerian Kesehatan juga mengembangkan Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer (ILP) dengan pendekatan berdasarkan siklus hidup dan penguatan jejaring pelayanan hingga tingkat desa dan dusun.

Penyelesaian masalah pelayanan kesehatan penting dilakukan karena kesehatan berhubungan langsung dengan kualitas sumber daya manusia. Pelayanan yang terlambat atau sulit dijangkau dapat membuat masalah kesehatan menjadi lebih berat dan pada akhirnya meningkatkan beban individu, keluarga, serta sistem kesehatan. Sebaliknya, pelayanan yang mudah diakses dan berorientasi pada pencegahan dapat membantu masyarakat memperoleh penanganan lebih awal dan meningkatkan kesadaran untuk menjaga kesehatan.

Mahasiswa dapat mengambil peran dalam mendukung peningkatan pelayanan kesehatan tanpa menggantikan tugas tenaga kesehatan. Mahasiswa dapat berperan sebagai penggerak edukasi, penyebar informasi kesehatan yang benar, relawan kegiatan masyarakat, peneliti, maupun pengembang inovasi. Peran tersebut dapat dilakukan melalui organisasi mahasiswa, kegiatan pengabdian kepada masyarakat, kerja sama dengan Puskesmas, Posyandu, sekolah, dan komunitas.

Gagasan/Aksi Mahasiswa

Salah satu gagasan yang realistis adalah membuat program “Mahasiswa Peduli Pelayanan Kesehatan”. Program ini dapat dilakukan dengan bekerja sama dengan Puskesmas atau tenaga kesehatan setempat. Mahasiswa dapat membantu menyelenggarakan edukasi mengenai cara memanfaatkan fasilitas kesehatan, pentingnya pemeriksaan kesehatan, pencegahan penyakit, serta cara memilih informasi kesehatan yang dapat dipercaya.

Program tersebut juga dapat memanfaatkan media digital. Mahasiswa dapat membuat konten edukasi yang sederhana dan mudah dipahami mengenai alur pelayanan kesehatan, manfaat skrining, jadwal kegiatan kesehatan masyarakat, dan informasi mengenai layanan yang tersedia di lingkungan sekitar. Konten harus menggunakan sumber resmi dan tidak memberikan diagnosis atau saran medis secara sembarangan. Dengan demikian, mahasiswa dapat membantu meningkatkan literasi kesehatan masyarakat sekaligus memperkuat hubungan antara masyarakat dan fasilitas pelayanan kesehatan.

Selain edukasi, mahasiswa dapat melakukan pemetaan sederhana mengenai kebutuhan informasi pelayanan kesehatan di lingkungan sekitar melalui survei atau wawancara yang dilakukan dengan izin dan pendampingan pihak terkait. Hasilnya dapat digunakan sebagai bahan untuk menentukan bentuk edukasi yang paling dibutuhkan. Kegiatan seperti ini dapat menjadi contoh kontribusi mahasiswa yang realistis karena menggabungkan pendidikan, teknologi, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Penutup

Pelayanan kesehatan merupakan bagian penting dalam mewujudkan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Tantangan seperti pemerataan akses, kualitas pelayanan, penguatan pencegahan, serta literasi kesehatan perlu diselesaikan secara bersama-sama. Transformasi layanan primer yang dilakukan pemerintah menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan perlu semakin dekat dengan masyarakat dan tidak hanya berorientasi pada pengobatan, tetapi juga pada pencegahan serta peningkatan kualitas hidup.

Mahasiswa sebagai generasi muda memiliki kesempatan untuk ikut mengambil bagian melalui edukasi, pengabdian masyarakat, penelitian, pemanfaatan teknologi, dan kerja sama dengan tenaga kesehatan. Kontribusi tersebut dapat dimulai dari lingkungan kampus dan masyarakat sekitar melalui kegiatan yang sederhana, terukur, dan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.

Indonesia Emas 2045 membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya berpendidikan dan produktif, tetapi juga sehat dan memiliki kesadaran terhadap pentingnya pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, mahasiswa perlu mengambil peran sebagai generasi yang peduli terhadap kesehatan masyarakat. Dengan langkah nyata dari lingkungan terdekat, mahasiswa dapat ikut mendorong terciptanya pelayanan kesehatan yang lebih mudah diakses, berkualitas, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Referensi

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Program Supporting Essential Health Actions and Transformation (SEHAT).

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Layanan Primer Berdasarkan Siklus Hidup Ujung Tombak Layanan.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Transformasi Layanan Primer.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer untuk Tingkatkan Kesehatan Masyarakat.

 

Penulis adalah Mahasiswa Prodi  D3 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan UMPP

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

PERAN MAHASISWA KEPERAWATAN DALAM MENDUKUNG SDGs KEHIDUPAN SEHAT DAN SEJAHTERA MENUJU INDONESIA EMAS 2045

WhatsApp Image 2026-09-06 at 20.09.31

Oleh: Soraya Qothrunnada

 

A. PENDAHULUAN

Indonesia Emas 2045 merupakan cita-cita besar yang ingin dicapai Indonesia saat memasuki 100 tahun kemerdekaan. Untuk mewujudkannya, Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas dan memiliki kemampuan yang baik, tetapi juga sehat. Kesehatan menjadi salah satu bagian penting dalam
kehidupan karena masyarakat yang sehat dapat belajar, bekerja, dan menjalankan aktivitas sehari-hari dengan lebih baik.

Hal tersebut sesuai dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 3 yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Tujuan SDG 3 adalah menjamin kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat pada semua usia. Di dalamnya terdapat berbagai target, contohnya meningkatkan kesehatan ibu dan anak, mencegah penyakit, memperhatikan kesehatan mental, memperluas akses pelayanan kesehatan, serta meningkatkan jumlah dan kualitas tenaga kesehatan.

Menjaga kesehatan juga tidak hanya dilakukan ketika seseorang sudah sakit. Pencegahan dan kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan sejak dini sangat penting. Masyarakat perlu memiliki pengetahuan mengenai pola hidup sehat, pemeriksaan kesehatan, pencegahan penyakit, serta pentingnya mendapatkan informasi kesehatan dari sumber yang dapat dipercaya.

Kementerian Kesehatan juga terus memperkuat layanan kesehatan primer
dengan mengutamakan kegiatan promotif dan preventif. Kegiatan tersebut dapat berupa edukasi kesehatan, imunisasi, skrining, serta penguatan pelayanan di Puskesmas, Posyandu, dan melalui kunjungan rumah.
Dalam hal ini, mahasiswa keperawatan dapat ikut mengambil bagian. Walaupun masih dalam tahap belajar, mahasiswa keperawatan dapat mulai berkontribusi melalui edukasi, kegiatan sosial, dan pengabdian kepada masyarakat sesuai kemampuan serta arahan tenaga kesehatan.

B. PEMBAHASAN

1. Permasalahan yang Terjadi

Salah satu permasalahan kesehatan yang masih perlu diperhatikan adalah kurangnya kesadaran sebagian masyarakat dalam melakukan pencegahan penyakit. Banyak orang lebih memperhatikan kesehatan ketika sudah merasakan sakit. Padahal, menjaga kesehatan sebaiknya dilakukan sejak awal agar berbagai masalah kesehatan dapat dicegah.
Kebiasaan sehari-hari juga dapat memengaruhi kesehatan. Kurangnya aktivitas fisik, kurang memperhatikan kebersihan, pola makan yang kurang baik, serta kurangnya pemeriksaan kesehatan merupakan beberapa hal yang perlu diperhatikan. Selain itu, perkembangan media sosial membuat masyarakat semakin mudah mendapatkan informasi mengenai kesehatan. Namun, tidak semua informasi yang beredar dapat dipastikan kebenarannya.
Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat membutuhkan informasi kesehatan yang mudah dipahami dan berasal dari sumber yang benar. Edukasi kesehatan menjadi salah satu cara yang dapat dilakukan untuk membantu masyarakat lebih memahami pentingnya menjaga kesehatan dan mencegah penyakit.

2. Kaitan dengan SDGs

Permasalahan tersebut memiliki hubungan yang erat dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Untuk mencapai kehidupan yang sehat, masyarakat tidak hanya membutuhkan pengobatan ketika sakit, tetapi juga membutuhkan pengetahuan dan upaya pencegahan agar tetap sehat.

Transformasi layanan primer yang dilakukan Kementerian Kesehatan juga berfokus pada kegiatan promotif dan preventif. Kegiatan tersebut dilakukan melalui edukasi masyarakat, pencegahan penyakit, skrining, serta peningkatan pelayanan di Puskesmas, Posyandu, dan kunjungan rumah. Hal ini berkaitan dengan bidang keperawatan. Perawat tidak hanya berperan dalam merawat pasien yang sedang sakit, tetapi juga dapat terlibat dalam pendidikan kesehatan dan upaya pencegahan penyakit. Oleh karena itu, mahasiswa keperawatan perlu memahami bahwa ilmu yang dipelajari nantinya dapat digunakan untuk membantu meningkatkan kesehatan masyarakat.

3. Alasan Permasalahan Harus Diselesaikan

Masalah kesehatan perlu diperhatikan sejak sekarang karena kesehatan masyarakat akan berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia di masa depan. Masyarakat yang memiliki pengetahuan dan kesadaran kesehatan yang baik akan lebih mampu menjaga dirinya sendiri serta mencegah berbagai masalah kesehatan.

Hal tersebut penting dalam mempersiapkan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. Penguatan layanan kesehatan primer menjadi salah satu bagian dari upaya menciptakan masyarakat yang lebih sehat. Pendekatan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga menjaga masyarakat agar tetap sehat melalui kegiatan promotif dan preventif. Oleh karena itu, meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kesehatan merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah, tenaga kesehatan, lembaga pendidikan, mahasiswa, dan masyarakat perlu bekerja sama untuk
mewujudkannya.

4. Peran Mahasiswa Keperawatan

Mahasiswa keperawatan dapat mengambil peran melalui berbagai kegiatan sederhana yang tetap memberikan manfaat. Salah satunya adalah memberikan edukasi kesehatan kepada orang-orang di sekitar. Edukasi dapat membahas kebersihan diri, pola hidup sehat, pencegahan penyakit, pentingnya pemeriksaan kesehatan, serta cara mendapatkan informasi kesehatan yang benar.

Mahasiswa juga dapat ikut dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat, seperti membantu memberikan edukasi di lingkungan sekitar, sekolah, Posyandu, atau kegiatan kesehatan lainnya dengan pendampingan dan arahan tenaga kesehatan. Selain itu, mahasiswa dapat memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan informasi kesehatan yang benar dan mudah dipahami. Contohnya dengan membuat poster, video pendek, atau infografis. Sebelum dibagikan, informasi tersebut perlu diperiksa terlebih dahulu agar berasal dari sumber yang dapat dipercaya.

C. GAGASAN/AKSI MAHASISWA

Salah satu gagasan yang dapat dilakukan mahasiswa keperawatan adalah
membuat kegiatan “Mahasiswa Keperawatan Peduli Kesehatan” . Kegiatan ini dapat dilakukan secara sederhana di lingkungan kampus maupun masyarakat.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa dapat memberikan edukasi kesehatan dengan bahasa yang mudah dimengerti. Materinya dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, seperti pola hidup sehat, kebersihan diri, pencegahan penyakit, pentingnya pemeriksaan kesehatan, dan cara memilih informasi kesehatan yang benar.

Selain kegiatan secara langsung, mahasiswa juga dapat membuat konten edukasi melalui media sosial. Contohnya berupa video singkat mengenai kebiasaan hidup sehat atau poster tentang pentingnya menjaga kesehatan.
Mahasiswa juga dapat ikut membantu kegiatan Posyandu atau kegiatan kesehatan masyarakat lainnya. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dapat menambah pengalaman sekaligus membantu meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai kesehatan.

D. PENUTUP

SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera merupakan salah satu tujuan penting dalam mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045. Masyarakat yang sehat merupakan salah satu modal utama untuk menciptakan sumber dayamanusia yang berkualitas dan produktif.

Mahasiswa keperawatan sebagai calon tenaga kesehatan memiliki kesempatan untuk ikut berkontribusi dalam mewujudkan tujuan tersebut. Kontribusi tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Memberikan edukasi kesehatan, menyebarkan informasi yang benar, membiasakan diri menjaga kesehatan, dan ikut dalam kegiatan masyarakat merupakan beberapa langkah yang dapat
dilakukan.

Oleh karena itu, mahasiswa dan generasi muda perlu mulai peduli terhadap kesehatan diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Indonesia Emas 2045 tidak hanya membutuhkan generasi yang cerdas, tetapi juga generasi yang sehat.

E. REFERENSI

Bappenas. (2023). Peta Jalan SDGs Indonesia 2023–2030. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Transformasi Layanan Primer
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Transformasi Layanan Primer Difokuskan Jaga Masyarakat Tetap Sehat.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Revitalisasi Pedoman Kerja Puskesmas.

 

Penulis adalah Mahasiswa S1 Keperawatan Fakultas IlmubKesehatan UMPP

 

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

PERAN MAHASISWA DALAM MENDUKUNG KEHIDUPAN SEHAT DAN SEJAHTERA

202603040005.jpg

OLEH: SALWA HAFIZAH PUTRI

 

PENDAHULUAN

Kesehatan merupakan salah satu aspek terpenting dalam kehidupan manusia. Tanpa tubuh dan kondisi mental yang sehat, seseorang akan mengalami kesulitan dalam belajar, bekerja, bersosialisasi, serta mengembangkan potensi dirinya. Oleh karena itu, Kesehatan tidak hanya dimaknai sebagai keadaan bebas dari penyakit, tetapi juga mencakup kesejahteraan fisik, mental, dan sosial.

Dalam Sustainable Development Goals (SDGs), kehidupan sehat dan Sejahtera menjadi tujuan ketiga, yaitu SDG 3 : Good Health and Well-Being. Tujuan ini berupaya menjamin kehidupan yang sehat serta meningkatkan kesejahteraan bagi seluruh Masyarakat dari segala usia. Permasalahan Kesehatan masih menjadi tantangan yang perlu diperhatikan, mulai dari penyakit menular dan tidak menular, kurangnya aktivitas fisik, pola makan yang tidak sehat, hingga meningkatnya masalah Kesehatan mental.

Mahasiswa sebagai generasi muda memiliki peran penting dalam mewujudkan kehidupan yang sehat dan Sejahtera. Mahasiswa tidak hanya bertanggung jawab terhadap kesehatan dirinya sendiri, tetapi juga dapat menjadi agen perubahan yang mengajak lingkungan sekitar untuk menerapkan pola hidup sehat. Dengan pengetahuan, kreativitas, dan pemanfaatan teknologi, mahasiswa dapat berkontribusi dalam mendukung tercapainya SDG 3 serta mewujudkan Indonesia yang lebih sehat menuju Indonesia Emas 2045

PEMBAHASAN

Salah satu permasalahan yang berkaitan dengan Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-Being) adalah masih rendahnya kesadaran Masyarakat, khususnya generasi muda, dalam menerapkan pola hidup sehat. Banyak mahasiswa memiliki aktivitas yang padat sehingga sering mengabaikan Kesehatan. Kebiasaan seperti begadang, kurang berolahraga, mengonsumsi makanan cepat saji, kurang minum air putih, serta terlalu lama menggunakan gadget menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Selain masalah Kesehatan fisik, Kesehatan mental juga menjadi bagian persoalan penting. Mahasiswa sering menghadapi tekanan dari tugas kuliah, ujian, organisasi, nasalah ekonomi, maupun persoalan pribadi. Jika tidak dikelola dengan baik, tekanan tersebut dapat menyebabkan setres dan menurunkan semangat serta produktivitas mahasiswa. Masih adanya stigma terhadap masalah Kesehatan mental juga membuat Sebagian orang enggan mencari bantuan atau bercerita kepada orang lain.

Permasalahan tersebut berkaitan erat dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, bertujuan menjamin kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan bagi semua orang di segala usia. Jika masalah kesehatan fisik dan mental tidak di tangani dengan baik, hal tersebut dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia dan menjadi hambatan dalam pembangunan.

Bagi mahasiswa, masalah ini penting untuk diperhatikan karena mahasiswa merupakan bagian dari generasi yang akan berperan dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Generasi yang sehat secara fisik dan mental akan lebih produktif, kreatif, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi Masyarakat dan negara. Oleh karena itu, mahasiswa perlu mulai menerapkan gaya hidup sehat serta mengajak lingkungan sekitarnya untuk lebih peduli terhadap kesehatan dan kesejahteraan.

GAGASAN INOVATIF DAN AKSI MAHASISWA

Sebagai mahasiswa S1 Informatika dapat menciptakan sebuah inovasi berbasis teknologi “HealthTech” yaitu platform digital atau aplikasi sederhana yang membantu mahasiswa menerapkan pola hidup sehat dan menjaga kesehatan mental.

Aplikasi ini dapat memiliki beberapa fitur, seperti:

  1. Pengingat minum air putih agar mahasiswa tidak lupa memenuhi kebutuhan cairan.
  2. Pengingat olahraga dan istirahat, terutama bagi mahasiswa yang terlalu lama didepan laptop.
  3. Pencatatan aktivitas harian, seperti jumlah Langkah, waktu tidur, dan aktivitas olahraga.
  4. Mood Tracker, untuk membantu pengguna mencatat dan memantau kondisi emosinya.
  5. Informasi Kesehatan, yang berisi edukasi tentang pola hidup sehat dan Kesehatan mental dari sumber terpercaya.
  6. Challenge hidup sehat, misalnya tantangan berjalan kaki, istirahat yang cukup, atau olahraga selama 30 hari.

Melalui inovasi ini, sebagai mahasiswa informatika dapat memanfaatkan kemampuan dalam pemrograman, pengembangan aplikasi, desain antarmuka, dan teknologi digital untuk memberikan Solusi terhadap Kesehatan.

Aksi nyata sebagai mahasiswa, seperti :

  1. Membuat konten edukasi Kesehatan berbasis digital, seperti infografis, website, atau media sosial yang membahas pentingnya Kesehatan fisik dan mental.
  2. Mengadakan kampanye “Sehat di Era digital” di lingkungan kampus menggunakan teknologi secara sehat dan seimbang.
  3. Bekerja sama dengan organisasi mahasiswa dan tenaga Kesehatan untuk mengembangkan aplikasi atau program yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa.
  4. Menerapkan pola hidup sehat dengan menjaga makanan, olahraga, tidur, dan kebersihan diri.

PENUTUP

 Kehidupan sehat dan Sejahtera merupakan hal penting untuk mendukung aktivitas dan masa depan generasi muda. Masalah Kesehatan fisik maupun mental perlu diperhatikan sejak dini dengan menerapkan pola hidup sehat, seperti menjaga pola makan, berolahraga, cukup istirahat, dan mengurangi penggunaan gadget secara berlebihan.

Sebagai mahasiswa S1 Informatika, kita dapat berkontribusi melalui teknologi, misalnya dengan membuat aplikasi sederhana untuk mengingatkan pengguna agar minum air, beristirahat, dan berolahraga. Selain itu, mahasiswa juga dapat menyebarkan informasi tentang pentingnya hidup sehat melalui media digital.

Dengan dimulai dari kebiasaan kecil dan memanfaatkan teknologi secara positif, mahasiswa dapat ikut mendukung terwujudnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-Being) serta menciptakan generasi yang sehat dan produktif.

 

Referensi :

[1] Word Health Organization (2024) aktivitas fisik secara rutin memberikan manfaat bagi Kesehatan fisik dan mental serta dapat membantu meningkatkan kesejahteraan. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/human-rights-and-health?

[2] United Nations. (2015). Sustainable Development Goals: Goal 3 – Good Health and Well-Being. https://sdgs.un.org/goals/goal3

[3] Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (2024). Depok, 6 Agustus  2024. Mahasiswa sering menghadapi tekanan akademik dan berbagai tuntutan kehidupan sehingga Kesehatan mental perlu mendapatkan perhatian. https://kemkes.go.id/id/menjaga-mental-health-mahasiswa-baru

 

Penulis adalah Mahasiswa S1 Prodi Informatika Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer UMPP

 

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

Air Bersih, Sanitasi Layak, Masa Depan Cerah: Peran Mahasiswa

WhatsApp Image 2026-09-06 at 19.58.55

Oleh: Farah Naila Amani

PENDAHULUAN

 Air bersih dan sanitasi layak merupakan hak dasar manusia yang sangat esensial bagi kelangsungan hidup, kualitas kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat. Kendati demikian, hingga saat ini, Indonesia masih menghadapi kendala serius dalam mewujudkan akses universal terhadap air minum yang aman dan sanitasi yang layak bagi seluruh penduduknya.

Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Kementerian Pekerjaan Umum pada bulan Maret 2025, tercatat sekitar 28 juta warga negara Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam mengakses air minum yang layak setiap harinya. Di mana hampir 10% dari total populasi di Indonesia belum memiliki akses terhadap pasokan air bersih yang memadai.

Krisis kekeringan berskala luas yang melanda pada tahun 2026 menjadikan situasi semakin memprihatinkan. Fenomena ini berdampak pada 13 provinsi. Sebagai contoh, sebanyak 61.504 kepala keluarga di Provinsi Jawa Barat menghadapi kesulitan dalam memperoleh air bersih akibat mengeringnya sumur-sumur warga. Lebih lanjut, pasca terjadinya bencana banjir di Aceh Tamiang pada akhir tahun 2025, sebanyak 76% warga masih terjebak dalam krisis air bersih dan sanitasi hingga bulan Februari 2026.

Permasalahan serupa juga terjadi di wilayah pesisir, di mana persoalan sanitasi menjadi aspek yang sangat krusial. Berdasarkan hasil audit sosial, diketahui bahwa 41% rumah tangga di area pesisir masih belum memiliki akses terhadap sanitasi yang aman.

Kondisi tersebut semakin menegaskan urgensi pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 6, yakni Air Bersih dan Sanitasi Layak, di Indonesia. Target ini berfokus pada penyediaan serta pengelolaan air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan bagi seluruh penduduk pada tahun 2030.

PEMBAHASAN

 2.1. Kompleksitas Permasalahan Akses Air Bersih dan Sanitasi

Saat ini, Indonesia dihadapkan pada sejumlah permasalahan kritis terkait infrastruktur dan aksesibilitas air bersih serta sanitasi yang layak:

  1. Krisis Akses Air Bersih yang Meluas Kurang lebih 28 juta penduduk Indonesia masih kesulitan memperoleh akses air minum yang layak setiap hari, yang berarti hampir 1 dari 10 orang belum terpenuhi hak dasar atas air bersih. Situasi ini diperburuk oleh bencana kekeringan pada tahun 2026 yang melanda 13 provinsi. Dalam musibah tersebut, tercatat 741 kepala keluarga mengalami krisis air secara umum, serta 61.504 KK di Jawa Barat kekurangan air akibat sumur yang kering.
  2. Ketimpangan Akses Antarwilayah yang Signifikan Data perbandingan ketersediaan akses memperlihatkan kesenjangan yang mencolok,  berikut adalah tabel representasi persentase ketersediaan air minum layak:

Tabel 1. Persentase Ketersediaan Akses Air Minum Layak di Indonesia

Kategori / Wilayah Persentase Akses (%)
DKI Jakarta 99,96%
Papua Pegunungan 30,64%
Kawasan Perkotaan 96,56%
Kawasan Perdesaan 87,06%
  1. Dampak Bencana Terhadap Akses Air dan Sanitasi Bencana alam berkontribusi besar pada kerusakan infrastruktur air. Pascabanjir bandang di Aceh Tamiang, 76% masyarakat kesulitan mendapat air bersih dan akses toilet yang layak hingga Februari 2026. Di Padang, rusaknya Bendungan Batang Kuranji turut menyebabkan gangguan besar dalam pasokan air bersih bagi area terdampak.
  2. Krisis Sanitasi di Daerah Pesisir Area pesisir kerap terlupakan dalam pembangunan sanitasi. Data menunjukkan 41% rumah tangga di kawasan ini belum memiliki sanitasi yang aman, dan baru 20% yang terkoneksi dengan perpipaan air bersih.
  3. Infrastruktur yang Tidak Merata dan Rentan Mayoritas daerah masih bergantung pada sumber air konvensional yang sangat rentan terhadap perubahan iklim dan cuaca ekstrem (kekeringan).

 

2.2. Keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs)

Krisis air bersih dan sanitasi memiliki hubungan langsung dengan SDGs, yang mencakup target-target krusial:

  • Mewujudkan akses universal dan setara terhadap air minum yang aman, terjangkau, dan berkelanjutan bagi seluruh manusia pada tahun 2030.
  • Mewujudkan akses yang memadai dan merata terhadap sanitasi dan higiene, serta mengakhiri praktik buang air besar sembarangan.

 

2.3. Signifikansi Penyelesaian Masalah

Penyelesaian isu krisis air dan sanitasi membawa implikasi luas pada berbagai sektor esensial, antara lain:

  • Dampak Kesehatan Masyarakat: Ketiadaan sanitasi yang memadai dan konsumsi air yang tidak bersih menjadi pemicu utama munculnya penyakit menular, seperti diare, kolera, tipus, hingga permasalahan stunting pada anak.
  • Dampak Ekonomi: Defisit pasokan air bersih memberikan efek domino yang negatif pada kegiatan perekonomian, khususnya pada sektor krusial seperti pertanian, industri manufaktur, dan sektor UMKM.
  • Dampak Pendidikan: Sekolah-sekolah di zona terdampak kekeringan sering kali terpaksa ditutup sementara waktu.
  • Dampak Sosial dan Keadilan: Kesenjangan ketersediaan air adalah cerminan dari ketidakadilan struktural yang mengakar.
  • Dampak Lingkungan: Buruknya sistem sanitasi mengakibatkan terjadinya pencemaran berat pada sumber air, aliran sungai, hingga kawasan laut, yang pada akhirnya akan merusak ekosistem serta keanekaragaman hayati secara permanen.

 

Tabel 2. Rangkuman Dampak Krisis Air Berdasarkan Wilayah (2025-2026)

Lokasi Wilayah Dampak Spesifik Periode Pendataan
13 Provinsi di Indonesia Ratusan ribu jiwa kekurangan air akibat krisis kekeringan meluas 2026
Jawa Barat 61.504 kepala keluarga terdampak krisis air akibat sumur kering 2026
Aceh Tamiang 76% warga mengalami krisis sanitasi (jamban/WC) dan air bersih pascabanjir Akhir 2025 – Februari 2026
Area Pesisir 41% rumah tangga tanpa sanitasi aman, 80% tidak terhubung perpipaan air bersih Berdasarkan Audit Sosial

 

 2.4. Peran Strategis Mahasiswa

Mahasiswa, khususnya dari disiplin ilmu program studi Informatika, dituntut untuk memegang peran krusial dalam mengakselerasi pencapaian SDGs Tujuan 6. Peran tersebut dapat diwujudkan melalui tiga aspek:

  1. Sebagai Pelopor Inovasi Teknologi: Berbekal kompetensi di bidang teknologi informasi, mahasiswa mampu merancang dan mengembangkan solusi digital berbasis komputasi data, yang berfungsi untuk memonitor, memprediksi, sekaligus mengelola mitigasi krisis air.
  2. Sebagai Peneliti dan Analis Data: Mahasiswa dapat terjun melakukan riset lapangan, agregasi data, serta analisis komprehensif terkait pola krisis ketersediaan air guna menyusun rekomendasi berbasis bukti (evidence-based policy) bagi para pembuat kebijakan.
  3. Sebagai Relawan dan Edukator: Mahasiswa dapat menginisiasi dan berpartisipasi aktif dalam program pengabdian masyarakat guna mengedukasi warga tentang vitalnya sanitasi, praktik higiene yang benar, serta langkah-langkah penghematan air.

 

GAGASAN INOVATIF MAHASISWA

 Sebagai mahasiswa S1 Informatika yang peka terhadap eskalasi krisis air bersih dan sanitasi di tanah air, penulis merumuskan sebuah gagasan inovatif berupa “Platform Edukasi Sanitasi dan Higiene Digital”. Platform ini dirancang sebagai aplikasi atau situs web yang bersifat interaktif, dengan tujuan utama meningkatkan literasi dan kesadaran masyarakat luas, serta lingkungan institusi pendidikan (sekolah), mengenai betapa pentingnya sanitasi, higiene, dan upaya konservasi sumber daya air.

Untuk mengoptimalkan fungsionalitasnya, platform digital ini akan mengintegrasikan beberapa fitur unggulan, di antaranya:

  • Konten Multimedia Edukatif: Menyajikan materi yang dikemas secara modern melalui video, animasi, dan infografis yang mudah dipahami.
  • Gamifikasi dan Kuis Interaktif: Mengimplementasikan elemen permainan dan evaluasi ringan agar proses penyerapan informasi (pembelajaran) berjalan lebih menyenangkan dan efektif.
  • Ruang Diskusi Interaktif: Menyediakan forum tanya jawab dan diskusi guna memfasilitasi interaksi yang produktif antar pengguna platform.
  • Modul Khusus Institusi Pendidikan: Mengakomodasi materi ajar terstruktur yang secara langsung dapat diakses, dipelajari, dan dimanfaatkan oleh tenaga pendidik (guru) dan siswa di sekolah.

 

PENUTUP

 Melalui sinergi inovasi, kolaborasi berkelanjutan, dan dedikasi yang konsisten, mahasiswa informatika memiliki kapasitas untuk menciptakan disrupsi positif yang berdampak luas. Langkah tersebut dapat direalisasikan dalam berbagai spektrum, mulai dari kampanye kesadaran masif di media sosial, inisiasi program pendidikan di tengah masyarakat, hingga fase pengembangan prototipe teknologi tepat guna berbasis digital. Hal yang paling esensial adalah mengambil langkah awal dari saat ini, dari ruang lingkup terkecil, dan dengan memanfaatkan kapasitas keilmuan yang dimiliki.

Tanggung jawab tersebut tentu turut bersandar di pundak generasi muda yang nantinya akan memegang tongkat estafet peradaban dalam melestarikan planet ini.

REFERENSI

 

Penulisa adalah Mahasiswa S1 Prodi Informatika Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer UMPP

 

Terkait
Kemarau, warga Pulosari kekurangan air bersih

Pemalang, Wartadesa. - Musim kemarau di Pemalang membuat sebagian warga Desa Pulosari kekurangan air bersih. Kondisi tersebut terjadi setiap musim Read more

Kelola air bersih, warga Pekiringan Ageng mampu sisihkan saldo puluhan juta

Kajen, Wartadesa. - Potensi desa jika dikelola dengan baik dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi warganya. Seperti yang dilakukan oleh pemuda Read more

Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

selengkapnya