close

Opini

Opini

Menjaga Mobilitas, Menjaga Produktivitas: Peran Mahasiswa Fisioterapi dalam Menekan Angka Kecacatan Menuju Indonesia Emas 2045

WhatsApp Image 2026-09-06 at 19.44.01

Oleh: Alfira Ilma Dina

Pendahuluan

          Indonesia sedang berada di puncak jendela bonus demografi. Pada rentang 2030 hingga 2045, jumlah penduduk usia produktif (15–64 tahun) diprediksi mencapai lebih dari 68% dari total populasi. Ini adalah momen emas yang hanya datang sekali seabad. Namun, bonus demografi bukanlah jaminan otomatis menjadi negara maju. Ada satu “rem” besar yang kerap terlupakan: gangguan mobilitas dan kecacatan.

Berdasarkan data Riskesdas 2018, prevalensi cedera di Indonesia mencapai 8,2%, dengan sebagian besar terjadi pada kelompok usia produktif. Ditambah lagi, penyakit tidak menular seperti stroke dan osteoarthritis yang semakin muda penderitanya seringkali meninggalkan cacat fisik permanen. Jika tenaga kerja kita terbaring sakit atau kehilangan fungsi geraknya, bagaimana mungkin Indonesia bisa menjadi negara maju yang produktif?

Di sinilah peran mahasiswa Fisioterapi menjadi krusial. Kita tidak hanya bicara tentang pengobatan, tetapi tentang pencegahan dan rehabilitasi agar setiap individu mampu mempertahankan kapasitas fungsionalnya. Essay ini akan mengupas bagaimana mahasiswa Fisioterapi dapat menjadi garda terdepan dalam menekan angka kecacatan guna mendukung SDGs poin 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) menuju Indonesia Emas 2045.

Pembahasan  

  1. Permasalahan yang Terjadi: Gaya Hidup Sedentari dan Minimnya Deteksi Dini.

Permasalahan utama di Indonesia adalah paradigma kesehatan yang masih kuratif (mengobati saat sakit) daripada preventif (mencegah sebelum sakit). Banyak pekerja kantoran, pengemudi ojek online, hingga buruh pabrik yang mengabaikan keluhan nyeri punggung dan leher. Mereka menganggapnya sepele, padahal jika dibiarkan, nyeri tersebut bisa berkembang menjadi gangguan muskuloskeletal kronis yang menurunkan produktivitas hingga 30–40%.

Selain itu, akses terhadap layanan rehabilitasi di Indonesia masih sangat timpang. Menurut data Kemenkes, rasio tenaga fisioterapis terhadap penduduk masih sangat rendah, terutama di daerah pedesaan. Akibatnya, pasien pasca-stroke atau pasca-kecelakaan seringkali tidak mendapat penanganan dini, sehingga cacatnya menjadi permanen dan tidak bisa kembali bekerja.

  1. Kaitannya dengan SDGs dan Indonesia Emas 2045.

Permasalahan tingginya angka cedera dan kecacatan pada usia produktif ini secara langsung bertentangan dengan cita-cita besar SDGs poin 3, yaitu “Kehidupan Sehat dan Sejahtera” (Good Health and Well-being). Secara spesifik, target 3.4 dalam SDGs menekankan upaya menurunkan angka kematian dini akibat penyakit tidak menular serta meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup masyarakat melalui layanan rehabilitasi yang komprehensif. Fisioterapi adalah ujung tombak dari target ini, karena bertugas mengembalikan fungsi gerak, mengurangi rasa nyeri, dan mencegah kecacatan permanen pasca-stroke, pasca-kecelakaan, maupun akibat gangguan muskuloskeletal kronis.

Lebih jauh lagi, visi Indonesia Emas 2045 menuntut adanya sumber daya manusia yang unggul, kompetitif, dan berdaya saing global. Namun, keunggulan tersebut tidak mungkin tercapai jika generasi produktif kita rentan mengalami gangguan fungsi fisik. Sebuah negara maju tidak hanya diukur dari infrastruktur atau ekonominya, tetapi juga dari derajat kesehatan masyarakatnya. Jika angka kecacatan akibat kurangnya deteksi dini dan minimnya akses rehabilitasi masih tinggi, maka mimpi untuk melahirkan generasi emas yang sehat jasmani dan rohani akan sulit terwujud. Oleh karena itu, investasi di bidang rehabilitasi dan pencegahan sejak dini, yang menjadi ranah keilmuan fisioterapi, adalah salah satu kunci utama untuk memastikan bahwa penduduk Indonesia tidak hanya panjang umur, tetapi juga produktif dan mandiri di tahun 2045.

  1. Peran Mahasiswa Fisioterapi.

Mahasiswa Fisioterapi bukan sekadar calon terapis. Kami adalah agen perubahan yang dibekali ilmu anatomi, fisiologi olahraga, ergonomi, dan neurologi. Peran kami adalah:

  • Sebagai Edukator: Mengedukasi masyarakat tentang pentingnya postur tubuh yang benar saat bekerja dan bahaya gaya hidup diam (sedentari).
  • Sebagai Pelopor Screening: Melakukan deteksi dini risiko gangguan muskuloskeletal di lingkungan kampus, pabrik, dan pasar.
  • Sebagai Inovator: Menciptakan program latihan sederhana berbasis bukti ilmiah yang bisa dilakukan di rumah tanpa alat mahal.

 

Gagasan/Aksi Mahasiswa

  1. Program “Klinik Ergonomi Bergerak” di Lingkungan Kampus dan UMKM.

Mahasiswa dapat mengadakan jadwal rutin (misal sebulan sekali) untuk mengunjungi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) atau perkantoran di sekitar kampus. Di sana, mahasiswa memberikan edukasi singkat tentang posisi duduk, posisi angkat beban, dan peregangan sederhana selama 5 menit setiap jam kerja. Program ini murah dan hanya butuh alat ukur seperti goniometer (untuk mengukur sudut sendi) dan spanduk edukasi.

  1. Kampanye Digital “Gerak Sehat 30 Menit” di Media Sosial.

Manfaatkan tren TikTok, Instagram, dan YouTube untuk membuat konten video latihan peregangan untuk pekerja kantoran atau pengemudi online. Konten dikemas ringan, durasi 1-2 menit, dengan judul menarik seperti “Lepaskan Nyeri Punggung dalam 5 Gerakan”. Ini adalah bentuk pengabdian masyarakat berbasis teknologi yang menjangkau jutaan orang.

  1. Pembentukan Posbindu (Pos Pembinaan Terpadu) untuk Kesehatan Muskuloskeletal di Desa.

Bekerja sama dengan puskesmas dan pemerintah desa, mahasiswa dapat melatih kader kesehatan untuk melakukan skrining sederhana seperti Timed Up and Go Test (tes keseimbangan) untuk lansia, serta memberikan latihan keseimbangan untuk mencegah jatuh. Dengan demikian, peran mahasiswa tidak berhenti di kampus, tetapi menyentuh langsung akar rumput.

  1. Riset Sederhana tentang Keluhan Nyeri pada Mahasiswa/Pekerja.

Mahasiswa dapat melakukan penelitian kecil-kecilan (mini riset) untuk memetakan keluhan muskuloskeletal yang paling dominan. Data ini bisa dijadikan dasar usulan kebijakan kepada rektorat atau dinas tenaga kerja setempat.

Penutup

     Kecacatan bukanlah takdir, melainkan kondisi yang bisa dicegah dan dikelola. Mahasiswa Fisioterapi memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk membangun kesadaran bahwa mobilitas adalah modal dasar produktivitas. Indonesia Emas 2045 tidak akan mungkin terwujud jika bangsa ini dipenuhi oleh generasi produktif yang rentan nyeri dan cedera.

Oleh karena itu, saya mengajak seluruh mahasiswa, tidak hanya dari Fisioterapi, tetapi dari semua rumpun ilmu, untuk mulai bergerak dari sekarang. Jadikan kampus sebagai laboratorium perubahan. Lakukan hal kecil seperti mengingatkan teman duduk dengan tegak, menginisiasi senam pagi di kelas, atau sekadar membagikan konten sehat. Karena langkah kecil seorang mahasiswa hari ini adalah fondasi kokoh bagi Indonesia yang tangguh, produktif, dan berdaya saing di tahun 2045.

Referensi

Penulis adalah Mahasiswa Program Studi S1 Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

Gen Z Adalah Pemegang Ekonomi dan Teknologi Masa Depan

WhatsApp Image 2026-09-06 at 19.36.55

Oleh: Muhammad Ryan Gunawan

Pengenalan Penulis

Nama saya adalah Muhammad Ryan Gunawan, saya biasa dipanggil Ryan, dan saya merupakan anak pertama dari 2 bersaudara, saya lahir di Sukoharjo, namun saya berdomisili di Pekalongan, walaupun saya berdomisili Pekalongan tapi saya tetap lebih lama tinggal di Sukoharjo pada 7 tahun terakhir, saya berada di pondok pesantren selama 7 tahun dan itu membuat saya sedikit kaget dengan dunia perkuliahan, tapi dengan meneguhkan hati dan langkah saya ucapkan bismillah, semoga di dalam dunia perkuliahan ini dapat menjadi jembatan untuk menggapai cita cita saya.

​Pendahuluan

​Generasi Z (Gen Z), yang lahir dalam rentang pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2010-an, tumbuh dalam era lompatan teknologi digital yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sebagai generasi digital native, mereka tidak hanya menggunakan teknologi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadikan ekosistem digital sebagai tempat berinteraksi, belajar, dan membangun mata pencaharian. Fenomena ini menempatkan Gen Z pada posisi strategis sebagai calon pemegang kendali utama struktur ekonomi dan perkembangan teknologi global di masa depan. Dalam disiplin ilmu Informatika, keberadaan teknologi komputer dan sistem informasi bukan lagi sekadar infrastruktur teknis, melainkan fondasi utama pembentukan nilai-nilai ekonomi baru. Namun, transisi menuju era ekonomi berbasis teknologi ini tidak terjadi tanpa hambatan. Agar Gen Z mampu menjalankan perannya secara optimal, potensi digital yang mereka miliki harus diselaraskan dengan kesempatan kerja yang adil dan produktif. Oleh karena itu, esai ini bertujuan untuk menganalisis peran Gen Z dalam mengendalikan ekonomi dan teknologi masa depan, tantangan ketenagakerjaan yang dihadapi, serta kontribusi konkret mahasiswa Informatika dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals / SDGs).

​Pembahasan

​Meskipun Gen Z dikenal sangat adaptif terhadap teknologi, realitas lapangan kerja digital saat ini menunjukkan sejumlah permasalahan krusial. Salah satu masalah utama adalah jurang pemisah keterampilan digital (digital skill gap). Tingginya tingkat penggunaan media sosial dan aplikasi konsumtif tidak secara otomatis berkorelasi dengan pemahaman mendalam tentang logika pemrograman, analisis data, atau keamanan siber. Di samping itu, pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan otomatisasi mengancam hilangnya berbagai jenis pekerjaan konvensional tingkat pemula (entry-level). Fenomena lain yang memprihatinkan adalah maraknya gig economy—seperti pekerjaan lepas berbasis aplikasi—yang sering kali tidak menawarkan kepastian pendapatan, perlindungan hukum, maupun jaminan kesehatan. Akibatnya, sebagian besar Gen Z terjebak dalam kondisi kerja yang rentan dan tidak berkelanjutan.

​Permasalahan di atas berkaitan erat dengan SDGs Poin 8, yaitu Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (Decent Work and Economic Growth). Salah satu target utama dari SDGs Poin 8 adalah mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, menciptakan lapangan kerja yang produktif, serta memastikan pekerjaan yang layak bagi semua perempuan dan laki-laki, termasuk kaum muda. Ketimpangan keterampilan digital dan tidak adanya jaminan kerja pada ranah gig economy membatasi kemampuan Gen Z untuk berkontribusi secara penuh pada pertumbuhan ekonomi formal. Tanpa adanya intervensi, disrupsi teknologi berpotensi menciptakan ketimpangan ekonomi baru alih-alih kesejahteraan bersama.

​Menyelesaikan permasalahan ini merupakan hal yang sangat mendesak. Bonus demografi yang dialami banyak negara, termasuk Indonesia, akan menjadi sia-sia jika angkatan kerja muda tidak dibekali keterampilan teknologi yang relevan dengan kebutuhan industri. Jika Gen Z hanya diposisikan sebagai konsumen teknologi dan tenaga kerja murah dalam pasar digital yang tidak teregulasi, maka target pertumbuhan ekonomi berkelanjutan tidak akan tercapai. Sebaliknya, apabila Gen Z dibekali keahlian teknis bernilai tinggi, mereka dapat mentransformasi lanskap ekonomi melalui inovasi, efisiensi sistem, dan pembentukan lapangan kerja baru berbasis teknologi.

​Sebagai bagian dari Gen Z yang menempuh pendidikan tinggi di bidang Informatika, mahasiswa memiliki peran unik dan strategis. Mahasiswa Informatika bertindak sebagai jembatan antara teori ilmu komputer teoritis dan penerapannya dalam kehidupan nyata. Lebih dari sekadar calon pekerja, mahasiswa Informatika adalah agent of change yang memegang kapasitas teknis untuk merancang solusi lunak (software solutions) yang relevan dengan tantangan sosial-ekonomi. Dengan pemahaman mendalam mengenai arsitektur perangkat lunak, manajemen basis data, dan algoritma, mahasiswa Informatika berpotensi menciptakan ekosistem digital yang adil dan inklusif.

​Gagasan

​Sebagai bentuk aksi nyata dalam mendukung SDGs Poin 8 dan memperkuat posisi Gen Z di panggung ekonomi digital, gagasan yang ditawarkan adalah pengembangan sebuah platform digital berbasis sumber terbuka (open-source) bernama “InkluSKILL”. Platform ini dirancang dan dikembangkan oleh mahasiswa Informatika untuk menyelesaikan dua masalah utama: skill gap dan ketidakpastian kerja layak.

​Secara teknis, platform ini memiliki tiga fitur utama:

  1. ​Modul Pembelajaran Keterampilan Komputer Terapan: Menyediakan jalur pembelajaran (learning path) gratis yang berfokus pada keahlian Informatika berorientasi industri, seperti web development, data science, dan cybersecurity fundamentals.
  2. ​Sistem Pencocokan Kerja Berbasis AI yang Transparan: Menggunakan algoritma pencocokan kompetensi yang mengedepankan prinsip kesetaraan, memastikan para pekerja muda mendapatkan proyek atau pekerjaan sesuai standar upah layak dan perlindungan hak kerja.
  3. ​Inkubasi Inovasi UMKM Digital: Mengintegrasikan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal dengan mahasiswa serta talenta muda Informatika untuk memodernisasi sistem operasional UMKM melalui pemanfaatan perangkat lunak (Software-as-a-Service sederhana).

​Aksi mahasiswa dimulai dari skala kampus melalui pembentukan komunitas pengembang (developer circle) yang membina pemuda di sekitar lingkungan perguruan tinggi, sebelum akhirnya menskalakan platform ini melalui kerja sama dengan pihak pemerintah lokal dan industri.

​Penutup

​Generasi Z memiliki potensi tak terbatas untuk menjadi pemegang kendali ekonomi dan teknologi di masa depan. Walupun demikian, potensi ini terhalang oleh tantangan berupa digital skill gap, disrupsi otomatisasi, dan ketiadaan jaminan kerja layak pada sektor digital. Melalui kerangka SDGs Poin 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), permasalahan ini harus ditangani secara sistematis. Mahasiswa Informatika, melalui penguasaan teknologi dan kepedulian sosial, memegang peran kunci dalam menghadirkan solusi konkret. Inisiatif seperti platform “InkluSKILL” membuktikan bahwa penguasaan teknologi di tangan generasi muda dapat dioptimalkan tidak hanya untuk profitabilitas, tetapi juga untuk menciptakan lapangan kerja yang layak, inklusif, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

​Referensi

  • ​International Labour Organization. (2022). Global Employment Trends for Youth 2022: Investing in transforming futures for young people. Geneva: ILO.
  • ​United Nations. (2015). Transforming our world: The 2030 Agenda for Sustainable Development. Resolution adopted by the General Assembly on 25 September 2015 (A/RES/70/1).
  • ​Schwab, K. (2016). The Fourth Industrial Revolution. Geneva: World Economic Forum.
  • ​World Bank. (2021). Beyond Unicorns: Harnessing Digital Technologies for Inclusion in Indonesia. Washington, DC: World Bank.

Penulis adalah Mahasiswa Prodi  S1 Informatika  Fakultas  Teknik dan Ilmu Komputer UMPP

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

Dari Kampus untuk Masyarakat: Peran Mahasiswa Keperawatan dalam Mewujudkan SDG 3

Salwa Himmatul Ulya.jpg

Oleh: Salwa Himmatul Ulya

 

Pendahuluan

Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang sangat menentukan kualitas hidup. Masyarakat yang sehat memiliki kesempatan lebih besar untuk belajar, bekerja, beraktivitas, dan berkontribusi dalam pembangunan. Namun, masalah kesehatan masih menjadi tantangan di Indonesia. Persoalan seperti stunting, kekurangan gizi, kesehatan ibu dan anak, serta ketimpangan akses pelayanan kesehatan menunjukkan bahwa pembangunan kesehatan tidak cukup hanya berfokus pada pengobatan. Upaya promotif dan preventif, peningkatan kualitas pelayanan, serta keterlibatan masyarakat juga diperlukan.

Salah satu tujuan pembangunan global yang secara langsung membahas persoalan tersebut adalah Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 3 atau Good Health and Well-being. SDG 3 bertujuan menjamin kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan bagi semua orang pada segala usia. Tujuan ini berkaitan dengan berbagai aspek, seperti pencegahan penyakit, kesehatan ibu dan anak, akses pelayanan kesehatan, serta peningkatan kualitas hidup. Dalam mencapai tujuan tersebut, mahasiswa sebagai generasi muda dan calon tenaga kesehatan memiliki peluang untuk ikut mengambil bagian melalui pendidikan, kegiatan sosial, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

 

Pembahasan

Permasalahan kesehatan perlu diperhatikan karena dampaknya dapat berlangsung dalam jangka panjang. Salah satu contohnya adalah masalah kesehatan ibu dan anak. Penelitian Prasetyo et al. (2025) menggunakan data dari 38 provinsi di Indonesia tahun 2024 dan menunjukkan adanya hubungan antara kondisi kesehatan serta status gizi ibu dengan kunjungan antenatal pertama. Kekurangan energi kronis menjadi salah satu kondisi yang berkaitan dengan rendahnya pemanfaatan kunjungan antenatal. Padahal, pemeriksaan antenatal dapat menjadi langkah awal untuk mendeteksi risiko kehamilan, memberikan dukungan gizi, imunisasi, dan edukasi kesehatan.

Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kesehatan ibu sejak masa kehamilan merupakan bagian penting dalam mendukung SDG 3.

Masalah kesehatan masyarakat juga tidak dapat dilepaskan dari kualitas pelayanan. Pelayanan yang baik bukan hanya tentang tersedianya fasilitas dan tenaga kesehatan, tetapi juga tentang bagaimana pasien diperlakukan. Hidayat, Mimanda, dan Maikel (2025) menunjukkan bahwa responsiveness, yang mencakup dukungan emosional, komunikasi efektif, dan sikap menghargai pasien, berkaitan dengan kepuasan pasien. Bagi keperawatan, temuan ini penting karena perawat merupakan tenaga kesehatan yang sering berinteraksi langsung dengan pasien. Komunikasi yang jelas dan empatik dapat membantu pasien memahami kondisi serta mengikuti anjuran kesehatan.

Selain pelayanan, kebijakan dan kondisi sosial juga memengaruhi pencapaian kesehatan. Meher dan Zaluchu (2024) membahas bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan kesehatan masyarakat, termasuk stunting dan masalah kesehatan ibu serta anak. Permasalahan tersebut membutuhkan kebijakan yang tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga didukung perencanaan dan pelaksanaan yang menyeluruh. Artinya, penyelesaian masalah kesehatan memerlukan kerja sama antara pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, dan generasi muda.

Hubungan antara keperawatan dan SDG 3 juga terlihat dalam perkembangan penelitian. Holmberg dan Ahlstrom (2025) memetakan publikasi penelitian keperawatan mengenai SDGs dan menemukan bahwa SDG 3 menjadi salah satu tujuan yang banyak mendapat perhatian dalam penelitian keperawatan. Namun, penelitian yang secara khusus menghubungkan keperawatan dengan SDGs masih terbatas. Karena itu, mahasiswa keperawatan tidak hanya perlu belajar keterampilan klinis, tetapi juga memahami persoalan kesehatan masyarakat dan mampu melihat bagaimana ilmu keperawatan dapat memberikan kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan.

Hal tersebut juga sejalan dengan Upvall dan Luzincourt (2019) yang membahas pentingnya memasukkan SDGs dalam pendidikan keperawatan. Menurut mereka, mahasiswa keperawatan dapat belajar menjadi bagian dari masyarakat dan bekerja sama dengan komunitas untuk membantu mengatasi berbagai masalah kesehatan. Dari sini, saya melihat bahwa pembelajaran di kampus sebenarnya tidak hanya berguna untuk menghadapi dunia kerja, tetapi juga bisa menjadi bekal untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Menurut saya, permasalahan tersebut penting diselesaikan karena kesehatan tidak hanya menentukan kondisi seseorang pada saat ini, tetapi juga memengaruhi masa depan keluarga dan masyarakat. Ketika masyarakat memiliki akses pelayanan kesehatan yang baik dan pengetahuan yang cukup, risiko masalah kesehatan dapat dikurangi.

Sebaliknya, kurangnya pengetahuan, keterlambatan mencari pertolongan, dan keterbatasan akses dapat membuat masalah kesehatan menjadi lebih berat. Oleh karena itu, mahasiswa dapat menjadi penghubung antara pengetahuan yang diperoleh di kampus dan kebutuhan masyarakat.

 

Gagasan/Aksi Mahasiswa

Salah satu gagasan yang realistis adalah membuat program edukasi kesehatan berbasis mahasiswa dengan nama “Kampus Sehat, Masyarakat Sehat”. Program ini dapat dilakukan melalui kegiatan organisasi mahasiswa, pengabdian masyarakat, atau kerja sama dengan puskesmas dan lingkungan sekitar kampus. Kegiatannya tidak harus besar. Mahasiswa dapat memulai dari penyuluhan singkat mengenai pola hidup bersih dan sehat, gizi seimbang, pencegahan stunting, kesehatan ibu dan anak, kesehatan mental, serta pentingnya memanfaatkan fasilitas kesehatan.

Program tersebut juga dapat memanfaatkan media digital agar jangkauannya lebih luas. Mahasiswa dapat membuat poster, infografis, video pendek, atau konten edukasi berdasarkan sumber kesehatan yang terpercaya. Informasi yang disampaikan harus menggunakan bahasa sederhana agar mudah dipahami masyarakat. Selain itu, mahasiswa dapat melakukan survei sederhana sebelum dan sesudah edukasi untuk mengetahui apakah pengetahuan peserta mengalami peningkatan. Hasil kegiatan dapat didokumentasikan dan dikembangkan menjadi penelitian mahasiswa.

Sebagai mahasiswa keperawatan, kegiatan tersebut juga harus disesuaikan dengan kompetensi dan tetap berada dalam batas kewenangan mahasiswa. Mahasiswa tidak menggantikan tenaga kesehatan profesional, tetapi membantu menyebarkan informasi kesehatan, meningkatkan kesadaran, dan mengarahkan masyarakat kepada pelayanan kesehatan ketika ditemukan masalah yang membutuhkan pemeriksaan. Dengan demikian, aksi mahasiswa menjadi realistis, aman, dan dapat dilakukan secara berkelanjutan.

Menurut saya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari banyaknya peserta, tetapi juga dari keberlanjutan kegiatan dan perubahan pengetahuan atau perilaku. Program dapat dilakukan secara berkala, misalnya satu kali setiap bulan, dengan tema kesehatan yang berbeda. Mahasiswa juga dapat bekerja sama dengan organisasi kampus, dosen, puskesmas, dan masyarakat setempat. Kolaborasi tersebut membuat kegiatan lebih terarah sekaligus memberi pengalaman bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu yang dipelaja

SDG 3 merupakan tujuan pembangunan yang sangat penting karena kesehatan menjadi dasar bagi manusia untuk menjalani kehidupan yang produktif dan sejahtera. Berbagai masalah seperti gizi buruk, stunting, kesehatan ibu dan anak, serta kualitas pelayanan menunjukkan bahwa pencapaian kehidupan sehat dan sejahtera membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Penelitian juga menunjukkan pentingnya pelayanan yang responsif, perhatian terhadap kesehatan ibu, serta kontribusi keperawatan dalam pencapaian SDGs.

Mahasiswa keperawatan tidak harus menunggu menjadi tenaga kesehatan profesional untuk mulai berkontribusi. Dari lingkungan kampus, mahasiswa dapat menjadi agen perubahan melalui edukasi, organisasi, penelitian, teknologi, dan pengabdian kepada masyarakat. Langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat membantu meningkatkan kesadaran kesehatan masyarakat.

Oleh karena itu, menurut saya, ilmu yang diperoleh di kampus seharusnya tidak hanya digunakan untuk mendapatkan nilai atau gelar, tetapi juga sebagai sarana untuk memberikan manfaat. Dengan keterlibatan generasi muda sejak sekarang, pencapaian SDG 3 dapat didukung dan menjadi bagian dari upaya mewujudkan masyarakat yang sehat menuju Indonesia Emas 2045.

 

Daftar Referensi

Hidayat, D. H. Z., Mimanda, Y., & Maikel, M. P. (2025). The impact of responsiveness on patient satisfaction: Ensuring healthy lives and well-being through Sustainable Development Goal 3. The Journal of Indonesia Sustainable Development Planning, 6(1), 21–30. https://doi.org/10.46456/jisdep.v6i1.640

Holmberg, C., & Ahlstrom, L. (2025). Nursing research on the United Nations Sustainable Development Goals—A bibliometric analysis. Journal of Advanced Nursing, 81(12), 8256–8265. https://doi.org/10.1111/jan.16953

Meher, C., & Zaluchu, F. (2024). Public health policy and political contestation in Indonesia. Journal of Public Health in Africa, 15(1), 646. https://doi.org/10.4102/jphia.v15i1.646

Prasetyo, A., Hariastuti, I., Sugiharti, S., Wijayanti, U. T., Wahyudianto, H., Fuada, N., Tjandrarini, D. H., Kusrini, I., Widodo, Y., Rachmawati, R., Salimar, & Setyawati, B. (2025). Nutritional and health factors influencing first antenatal visit among pregnant women in Indonesia. Frontiers in Public Health, 13, 1715230. https://doi.org/10.3389/fpubh.2025.1715230

Upvall, M. J., & Luzincourt, G. (2019). Global citizens, healthy communities: Integrating the sustainable development goals into the nursing curriculum. Nursing Outlook, 67(6), 649–657. https://doi.org/10.1016/j.outlook.2019.04.004

Kementerian PPN/Bappenas. (2025). Indonesia Voluntary National Review 2025. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas.

World Health Organization. (2024). Indonesia: Health SDG Profile 2024. World Health Organization.

World Health Organization. (2025). Global Nutrition Targets 2030: Stunting Brief. World Health Organization.

World Health Organization. (n.d.). Targets of Sustainable Development Goal 3. World Health Organization.

 

Penulis adalah Mahasiswa Program Studi D3 Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

 

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

Mewujudkan Pendidikan Berkualitas untuk Indonesia Emas 21025: Peran Mahasiswa di Ruang Belajar dan Masa Depan

WhatsApp Image 2026-09-06 at 18.05.19(1)

OLEH:  MUHAMMAD BRILIAN ARYA CENDRATAMA

Pendidikan merupakan fondasi kunci di saat membangun masa depan negara. Di saat pendidikan, bukan cuma mendapat pengetahuan. Akan tetapi, seseorang jua membentuk personalitasnya, kemampuannya, kecakapan berpikir, dan siap di masa depan menghadapi perubahan. Oleh karena itu, pendidikan berkualitas mengembalakan jua di saat mewujudkan Indonesia Emas 2045, Indonesia maju, mandiri, adil, dan berdaya saing.

Penekanan terhadap pendidikan Berkualitas diwujudkan pula di Sustainable Development Goal tujuan ke-4, SDG 4. Tujuan pendidikan kini menekan kualitas pendidikan Berkualitas, merata, dan inklusif serta peluang belajarnya sepanjang hidup.

Di sain tujuan, pemerintah Indonesia memperkuat pula aspirasi agar seluruh anak menyelesaikan pendidikan dasar maupun menengah yang merata, bebas, unik, dan menghentikan prestasi belajar di muka umum, berdampak, dan relevansin[sdgs.bappenas.go]

Meskipun keterbatasan, Indonesia menghadapi beragam perkara pendidikan. Masih tak seluruh pelajar diwujudkan akses belajar. Partisipasi belajar sebagian pelajar melestarikan diwujudkan kendala fasilitas, akses internet, buku, pendampingan belajar, dan lingkungan pendidikan. Akan tetapi, pendidikan melestarikan diwujudkan diakui pula pengaruhnya diarauhkan agar tak menerminasi pada angka pendidikan tetap pula mengalirkan literasi, numerasi, personalitas, kreativitas, keterampilan digital, dan kepedulian sosial.

Dai kondisi keterbatasan, peran mahasiswa jauh diwujudkan. Mahasiswa bukan cuma pelajar di kampus, walaupun pula seseorang di tengah masyarakat diwujudkan ilmu, energi, kreativitas, dan keteramailan sehingga agen perubahan. Dengan kontribusi nyata, mahasiswa mampu memperluas akses belajar sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan di kawasa sekitarnya.

Pendidikan Berkualitas dan Persoalannya

Pendidikan Berkualitas tak boleh dirumuskan lewat kuantitas sekolah maupun angka partisipasi pendidikan. Pendidikan Berkualitas jua mengembalaikan kemampuannya memperbesar pelajar menghenti angka mampu memperoleh pengetahuan dan keteramailan yang bermakna di kehidupan. Mereka meniadakan keperluan mampu baca, hitung, memecahkan soa, komunikasi, bekerja sama, dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Satu dari tantangan yang mesti dipertimbangkan adalah kualitas pendidikan di kawasan kota dan kabuk. Partisipasi belajar di sekolah di kawasan tertentu mampu memperbesar akses laboratorium, perpustakaan, perangkat teknologi, dan akses internet. Di kawasan terbatas sebaliknya, keterbatasan fasilitas dan pendidik. Kebedaan itu mampu memengaruhi akses pelajar pelajardi melestarikan menemukan eksposur belajar yang optimal.

Tantangan jua diwujudkan diwujudkan perkembangan teknologi. Internet mengembalaikaan sumber pengetahuan bahkan luas. Tak mesti pelajar diwujudkan akses perangkat maupun kecepatan internet. Akan tetapi, kemampuan memakai teknologi bijak tak semestnya diwujudkan keteramailan seluruh pelajar. Mereka perlu dilatih literasi teknologis, mampu mencari informasi, membedakan antara pemberitaan kacau maupun nyata, menghindari data pribadi, dan memakai media sosial bijak.

Pendidikan mengembalaikan pula diwujudkan inklusif. Tiap anak, bau anak kurang mampu, anak kawasan terbatas, dan tukang cacat mesti menghenti pendidikan layak. Penekanan itulah diwujudkan di SDG 4 mengembalaikan pendidikan inklusif maupun akses belajar seluruh[sdgs.jakarta.go]

Mahasiswa, Seuoran di Tengah Masyarakat

Di tengah peran intelektual, mahasiswa mesti peran. Peran jua tiada semesti program besar. Tindakan seadainya dirancang konsisten, mampu, maupun menyesuaikan keperluan masyarakat, mampu memberi manfaat.

Pertama, pelajar mampu peran pelajar. Mahasiswa mesti merancang kegaiatan belajar tambahan di desa, rumah baca, panti asuhan, maupun lingkungan kampus. Pertemuan belajar tambahan mampu menghenti tukang baca, baca hitung, Inggris, komputer maupun pembelajaran kriatif. Kegaiatan belajar jua mampu membantu peserta di sain peran, walaupun pula melatih mahasiswa bicara dan memahami perkara pendidikan diwujudkan langsung.

Kedua, pelajar mampu menghenti gerakan literasi. Gerakan literasi mampu diwujudkan melalui pemberian buku, pempelas, kelas menulis, diskusi maupun propaganda membaca. Literasi tiada semesti menentukan menentukan kemampuana baca buku diwujudkan teks, melainkan mampu menentukan menentukan informasi menentukan keputusan. Membaca maupun diskusi mampu membantu generasi kini jua jadi kritis di sain tidak tergoda informasi kacau.

Ketiga, pelajar mampu memperbaiki literasi teknologis. Banyak pelajar pergi ke internet tiap hari. Tak mesti pelajar paham memakai teknologi belajar. Mahasiswa mesti ajaran menemukan sumber kredibel, maupun memperbaiki teknik memakai app pendidikan, menemukan presentasi, etik komunikasi, maupun melindungi akaun teknologis. Dengan demikian, teknologi tidak cuma buat lelaki mampu belajar mengembalaikan jadi sasaran pengambailan diri.

Keempat, pelajar mampu mengembalakan pendampingan belajar. Pelajar mesti mampu menemukan media belajar sederhana, contoh film belajar, infografis, games kartu, modul digital, maupun podcast. Media belajar jua tiada semesti dirancang sesuai usai dan kebutuhan peserta belajar. Metode menarik mampu membantu peserta belajar memaham materi belajar tak mesti membosankan.

Kelima, pelajar mesti rancang penelitian maupun penelitian belajar. Melalui penelitian sederhana, pelajar mampu mengembalaikan perkara pendidikan di suatu wilayah. Misalnya, kurang minat baca, keterbatasan fasilitas, maupun kesulitan belajar tertentu. Keakuratan penelitian jua mesti dipakai rancang program tepat sasaran. Penelitian belajar perlu ditekani konsisten sehingga tak hilang sesudah semesti.

Pikiran Tindakan: Seorang Pelajar Satu Ruang Belajar

Salah satu pikiran adalah tindakan pelajar “seorang pelajar, masuk ruang belajar. Program mengembalakan seorang pelajar mencabut menemukan mampu bantu beberapa pelajar di lingkungan tinggalan. Mampu bantu pelajar maupun melalui teknologis menetapkan jadwal konsisten.

Program mengembalakan diwujudkan melalui tiap tahapan. Pertama, pelajar rancang perencanaan kebutuhan menentukan perpatesan berkomunikasi di sain sekolah, perangkat desa, bau, maupun tukang setempat. Kedua, pelajar rancang materi mampu bantu pelajar sesuai kebutuhan. Contoh, menemukan baca, baca hitung, kebahasaan, komputer, maupun keteramailan belajar. Ketiga, pelajar mengembalakan kegaiatan rutin mampu metode menarik, tiada membebani peserta belajar.

Agar program berjalan, pelajar mesti bekerja sama dengan organisasi pelajar, sekolah, pemerintah, keluarga, komunitas literasi, maupun dosen. Bekerja sama mengembalaikan menyediakan loka, buku, perangkat belajar, sekaligus penilaian kegaiatan. Program jua mampu memanfaatkan perpustakaan universitas maupun loka umum belajar bersama.

Keberhasilan program tak cuma dilihat pelajar, melainkan perubahan. Penilaian program mengembalakan penujakan literasi buku, penujakan penembakan, keaktifan menemukan, maupun meningkatkan minat belajar di peserta belajar. Dengan penilaian, pelajar mampu perbaiki metode mampu bantu, menetapkan program mampu benar benar bermafaat.

Penutup

Pendidikan Berkualitas tak semesti tanggung jawab. Pemerintah, sekolah, keluarga, universitas, masyarakat, maupun pelajar mesti berperan sesuai kemampuan. Pelajar melestarikan posisi kunci sebagai mampu menghentikan perkaaan akademik sesuai kebutuhan masyarakat.

Melalui pelajar pelajar, gerakan literasi, penguatan literasi teknologis, inovasi menemukan, penelitian, maupun penelitian belajar, pelajar mampu membantu mewujudkan SDG 4. Kontrubusi mampu kecil, biarkan pelajar dikau belajar, diwujudkan konsekuen, maupun keterlibatan pula, mampu dampak luar biasa. Indonesia Emas 2045 tak cuma butuh generasi cerdas di sain pendidikan, melainkan generasi mampu personalitas, kreatif, maupun adaptif, maupun tukang, mampu memperbaiki perkaaan. Oleh karena itu, pelajar UMPP mesti berani di tengah masyarakat karika pelajar dan mampu agen bantu. Dari satu buku, ruang belajar kecil, maupun ruang belajar, perubahan mampu mengembalaikan pendidikan Berkualitas mampu disempar.

Satu pelajar, satu ruang belajar, satu agen peran indonesia emas 2045.

 

Daftar Pustaka

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. “Pendidikan Berkualitas: SDG 4.” SDGs Indonesia, 2023.[sdgs.bappenas.go]

UNESCO. World Education Statistics 2024. UNESCO Institute for Statistics, 2024.[unesco]

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. “Pendidikan Berkualitas untuk Semua: SDG 4.” Portal SDGs Jakarta.[sdgs.jakarta.go]

United Nations Statistics Division. The Sustainable Development Goals Extended Report 2024: Goal 4. 2024.[unstats.un]

 

Penulis adalah Mahasiswa Prodi Penjas Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan Pendahuluan

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

Akuntansi untuk UMKM: Peran Mahasiswa dalam Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

IMG_20260717_133015

Oleh: Farizka Aulia Ramadhani

Indonesia memiliki banyak pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menjalankan usaha dari skala kecil hingga berkembang menjadi usaha yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Keberadaan UMKM tidak hanya menjadi sumber penghasilan bagi pemilik usaha, tetapi juga memiliki peran dalam menggerakkan perekonomian masyarakat. Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah pelaku UMKM di Indonesia mencapai sekitar 66 juta usaha. Kontribusinya mencapai sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan mampu menyerap hampir 97 persen dari total tenaga kerja. Angka tersebut menunjukkan bahwa UMKM bukan sekadar usaha kecil yang berdiri sendiri, tetapi memiliki peran besar dalam perekonomian Indonesia.

Namun, di balik besarnya potensi tersebut, masih terdapat berbagai tantangan yang dihadapi pelaku UMKM. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa industri mikro dan kecil masih menghadapi beberapa kendala, seperti keterbatasan akses dan modal, kualitas sumber daya manusia dan manajemen, serta aspek legalitas. Salah satu bagian dari pengelolaan usaha yang menurut saya perlu mendapat perhatian adalah pengelolaan keuangan.

Bagi sebagian pelaku UMKM, pencatatan keuangan masih dianggap sebagai sesuatu yang rumit dan hanya diperlukan oleh perusahaan besar. Akibatnya, pemasukan dan pengeluaran usaha sering kali tidak dicatat secara teratur atau bahkan bercampur dengan keuangan pribadi. Padahal, pencatatan sederhana dapat membantu pelaku usaha mengetahui kondisi keuangannya, menghitung keuntungan, mengendalikan pengeluaran, serta menentukan langkah pengembangan usaha. Penelitian mengenai pendampingan UMKM juga menunjukkan bahwa belum teraturnya pembukuan dapat membuat pelaku usaha kesulitan mengetahui kondisi keuangan dan laba usahanya secara akurat.

Menurut saya, persoalannya bukan semata-mata karena pelaku UMKM tidak mau melakukan pencatatan. Bisa jadi mereka belum mengetahui bahwa pencatatan dapat memberikan manfaat langsung bagi usaha yang dijalankan. Ketika seseorang menjalankan usaha sekaligus harus melayani pelanggan, membeli bahan, mengurus produksi, dan melakukan pemasaran, mencatat transaksi terkadang menjadi kegiatan yang dianggap bisa dilakukan nanti. Sayangnya, “nanti” tersebut dapat membuat transaksi terlupakan dan kondisi keuangan usaha menjadi sulit diketahui dengan jelas.

Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya dilihat dari bertambahnya jumlah usaha. UMKM juga perlu memiliki kemampuan untuk mempertahankan dan mengembangkan usahanya secara berkelanjutan. Dalam konteks inilah Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 8, yaitu “Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi”, menjadi relevan. SDG 8 tidak hanya berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kesempatan kerja yang produktif, pekerjaan yang layak, perlindungan serta pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah. Dengan demikian, memperkuat kemampuan UMKM dalam mengelola usaha dapat menjadi salah satu langkah kecil untuk mendukung tujuan tersebut.

Sebagai mahasiswa Akuntansi, saya menyadari bahwa ilmu yang dipelajari tidak seharusnya berhenti untuk diri sendiri. Pengetahuan mengenai pencatatan transaksi, laporan keuangan, pengelolaan biaya, hingga analisis keuangan dapat diterapkan untuk membantu masyarakat, khususnya pelaku UMKM. Mahasiswa dapat menjadi penghubung antara pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata di lingkungan sekitar.

Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan mahasiswa adalah memberikan edukasi dan pendampingan mengenai pencatatan keuangan dasar. Pendampingan tidak harus menggunakan sistem yang rumit. Mahasiswa dapat mengenalkan pencatatan pemasukan dan pengeluaran harian, membantu memisahkan keuangan pribadi dan usaha, serta mengajarkan cara menghitung keuntungan secara sederhana. Dengan memahami catatan keuangan tersebut, pelaku UMKM tidak hanya mengetahui berapa uang yang diperoleh, tetapi juga dapat melihat apakah usahanya benar-benar menghasilkan keuntungan.

Bagi saya, peran mahasiswa seharusnya tidak berhenti pada mengajarkan “cara mencatat”. Hal yang lebih penting adalah membantu pelaku UMKM memahami di balik angka-angka tersebut. Misalnya, ketika penjualan meningkat, pemilik usaha perlu mengetahui apakah keuntungan juga meningkat atau justru biaya yang dikeluarkan semakin besar. Begitu pula ketika harga bahan baku naik, catatan keuangan dapat menjadi dasar untuk menentukan apakah harga jual perlu disesuaikan atau biaya lainnya dapat dikurangi. Dengan begitu, catatan keuangan tidak hanya menjadi kumpulan angka, tetapi dapat digunakan sebagai dasar dalam mengambil keputusan.

Peran tersebut juga dapat dikembangkan melalui pemanfaatan teknologi. Pencatatan yang sebelumnya dilakukan dalam buku dapat dikembangkan menggunakan spreadsheet sederhana atau aplikasi pencatatan keuangan yang mudah digunakan. OJK sendiri mendorong pelaku UMKM untuk beradaptasi dengan teknologi, termasuk penggunaan pencatatan keuangan digital. Namun, menurut saya, digitalisasi tidak berarti setiap UMKM harus langsung menggunakan sistem yang rumit. Teknologi justru seharusnya membuat pencatatan menjadi lebih mudah dan sesuai dengan kemampuan penggunanya.

Gagasan tersebut juga didukung oleh berbagai kegiatan pendampingan. Salah satu kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa menunjukkan bahwa UMKM yang sebelumnya belum melakukan pencatatan keuangan dengan baik dapat diberikan pelatihan mengenai pencatatan sederhana dan penggunaan aplikasi keuangan. Kegiatan lain juga menunjukkan bahwa pendampingan dalam penyusunan laporan keuangan dapat membantu pelaku UMKM memahami kondisi keuangan usahanya dengan lebih baik. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki kesempatan untuk menerapkan ilmu akuntansi secara langsung di masyarakat.

Menurut saya, pendampingan keuangan akan lebih bermanfaat apabila dilakukan secara berkelanjutan. Mahasiswa tidak cukup hanya datang sekali untuk memberikan materi, kemudian meninggalkan pelaku usaha. Program dapat dilakukan secara bertahap, dimulai dari mengenali permasalahan UMKM, membuat sistem pencatatan yang sesuai dengan kebutuhan, memberikan pelatihan, kemudian melakukan evaluasi. Setelah itu, mahasiswa dapat membantu melihat apakah pencatatan sudah dilakukan secara rutin dan apakah informasi tersebut sudah dimanfaatkan dalam mengambil keputusan usaha. Tujuannya bukan membuat UMKM bergantung kepada mahasiswa, melainkan membantu mereka sampai mampu melakukan pencatatan secara mandiri.

Selain memberikan manfaat bagi UMKM, kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar memahami persoalan ekonomi di masyarakat. Mahasiswa dapat melihat bahwa ilmu akuntansi yang selama ini dipelajari melalui buku dan perkuliahan ternyata memiliki manfaat yang nyata. Dari kegiatan tersebut, mahasiswa juga dapat belajar berkomunikasi dengan masyarakat, memahami kebutuhan orang lain, serta mencari solusi yang sederhana yang dapat diterapkan.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju Indonesia Emas 2045 membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat memiliki perannya masing-masing. Mahasiswa sebagai generasi yang akan menjadi bagian penting dari pembangunan Indonesia juga tidak boleh hanya menjadi penonton. Melalui pengetahuan, kreativitas, teknologi, dan kepedulian terhadap masyarakat, mahasiswa dapat memberikan kontribusi meskipun dimulai dari langkah yang sederhana.

Pada akhirnya, sebuah catatan keuangan mungkin terlihat seperti kumpulan angka yang sederhana. Namun, apabila digunakan dengan baik, catatan tersebut dapat menjadi dasar bagi pelaku UMKM untuk memahami usahanya, memperbaiki pengelolaan keuangan, dan merencanakan masa depan usahanya. Dari langkah sederhana itulah dapat terbentuk UMKM yang lebih tertata, mandiri, dan berkelanjutan.

Karena itu, menjadi mahasiswa Akuntansi bukan hanya tentang belajar menghitung angka, tetapi juga tentang bagaimana menjadikan angka tersebut memiliki manfaat bagi masyarakat. Dari catatan keuangan yang sederhana, kita dapat ikut menumbuhkan usaha, membuka peluang ekonomi, dan bersama-sama melangkah menuju pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan pada 2045.

Daftar Pustaka

Al Ya’qubi, A. ‘A., dkk. (2025). UMKM Melek Keuangan: Solusi Pencatatan Keuangan Sederhana dengan Kledo. Journal of Community Empowerment, 4(2).

Badan Pusat Statistik. (2025). Profil Industri Mikro dan Kecil 2024. Badan Pusat Statistik.

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. (2025). Voluntary national review Indonesia 2025: Achieving SDG 8—Decent work and economic growth in Indonesia. Kementerian PPN/Bappenas.

Otoritas Jasa Keuangan. (2025). Siaran Pers: OJK Dorong Literasi Keuangan Digital bagi Pelaku UMKM.

Noviyanti, N., Anawati, S., Islami, A. Y., Dewi, N. F., & Syafiq, W. (2025). Pendampingan UMKM Ketoprak Bang Darji dalam Penyusunan Laporan Keuangan Berbasis Standar Akuntansi. Eastasouth Journal of Impactive Community Services, 3(03), 177–184.

 

Penulis adalah  S1 Akutansi  Fakultas Ekonomika dan Bisnis  Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Terkait
Sewa mencekik, pedagang UMKM terancam tak bisa jualan di rest area tol Batang

Batang, Wartadesa. - Harga sewa kios di rest area tol Batang mencekik pedagang UMKM, akibatnya cita-cita Bupati Batang, Wihaji untuk Read more

Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

selengkapnya
Opini

Digitalisasi Pembukuan UMKM Sekitar Kampus: Langkah Kecil Mahasiswa Akuntansi Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Lokal

44022

Oleh: Aninda Dwi Safira

Indonesia saat ini masih mempersiapkan diri menuju visi Indonesia Emas 2045, yaitu cita-cita untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara maju dengan sumber daya manusia yang berkualitas dan ekonomi yang kuat. Pencapaian visi tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat, termasuk mahasiswa. Mahasiswa memiliki pengetahuan dan kompetensi yang dapat diterapkan untuk membantu menyelesaikan persoalan nyata di lingkungan sekitarnya.

Upaya pembangunan tersebut sejalan dengan Sustaiable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Salah satu tujuan yang sesuai dengan pembangunan ekonomi adalah SDG 8: Pekerjaan Layak dan Petumbuhan Ekonomi. Tujuan ini mendorong terciptanya pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, meningkatkan produktivitas, serta kesempatan kerja yang layak. Laporan Voluntary National Review Indonesia 2025 menunjukkan bahwa perkembangan pencapaian SDG 8 di Indonesia hingga 2024 berada pada tren positif, ditandai dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen dan perbaikan pada sejumlah indikator produktivitas dan ketenagakerjaan (Bappenas, 2025).

Dalam mendukung pertumbuhan ekonomi tersebut, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memiliki posisi yang sangat penting. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat bahwa UMKM mencakup sekitar 99% dari total unit usaha di Indonesia, berkontribusi hingga 60,51% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), serta menyerap hampir 97% tenaga kerja nasional (Kemenko Perekonomian, 2024). Data tersebut menunjukkan bahwa penguatan UMKM merupakan bagian penting dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.

Namun, perkembangan UMKM tidak selalu berjalan tanpa hambatan. Salah satu hambatan yang masih dihadapi sebagian pelaku usaha adalah pengelolaan keuangan. Masih ada beberapa UMKM yang belum melakukan pencatatan transaksi secara teratur, seperti mencampurkan keuangan pribadi dengan keuangan usaha, atau belum memanfaatkan teknologi secara optimal. Kondisi ini dapat menyulitkan pemilik usaha dalam mengetahui keuntungan, mengontrol pengeluaran, dan mengambil keputusan berdasarkan informasi keuangan.

Masalah ini dapat menjadi ruang konstribusi bagi mahasiswa akuntansi. Melalui kompetensi yang dipelajari di kampus, mahasiswa dapat membantu UMKM melakukan digitalisasi pembukuan sederhana. Digitalisasi tidak harus menggunakan aplikasi yang mahal. Spreadsheet dan template pencatatan sederhana dapat menjadi langkah awal yang mudah diterapkan.

UMKM menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk di sekitar lingkungan kampus. Berbagai usaha makanan, minuman, perdagangan jasa, dan usaha rumahan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi juga menciptakan peluang kerja dan sumber pendapatan.

Supaya usaha dapat berkembang, pelaku UMKM tidak hanya membutuhkan kemampuan menjual produk, tetapi juga kemampuan mengelola keuangan. Pembukuan membantu mencatat pemasukan, pengeluaran, dan transaksi usaha. Informasi tersebut dapat digunakan untuk mengetahui keuntungan, mengontrol biaya, serta memahami kondisi keuangan usaha.

Badan Pusat Statistik dalam Profil Industri Mikro dan Kecil 2024 menjelaskan bahwa usaha mikro dan kecil masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk keterbatasan kualitas sumber daya manusia dan kemampuan manajerial (BPS, 2025). Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan pengelolaan usaha masih menjadi kebutuhan penting.

Di sisi lain, perkembangan teknologi membuka peluang bagi UMKM untuk meningkatkan kualitas pengelolaannya. Pemerintah pada tahun 2024 menargetkan 30 juta pelaku UMKM mengadopsi teknologi digital, setelah sebelumnya sekitar 27 juta UMKM telah masuk ke dalam ekosistem digital (Kementerian Komunikasi dan Digital, 2024).

Digitalisasi UMKM tidak seharusnya hanya dipahami sebagai pemasaran melalui media sosial. Bank Indonesia juga menekankan pentingnya digitalisasi dalam aspek pencatatan keuangan dan pembiayaan UMKM (Bank Indonesia, 2024). Oleh karena itu, digitalisasi pembukuan dapat menjadi langkah sederhana untuk mendukung pengelolaan usaha yang lebih baik.

Digitalisasi pembukuan dapat dimulai dengan sistem yang sederhana. Mahasiswa dapat membantu UMKM membuat format pencatatan menggunakan spreadsheet yang memuat tanggal transaksi, keterangan, pemasukan, pengeluaran, dan saldo. Data tersebut kemudian dapat digunakan untuk membuat rekap penjualan dan laporan laba-rugi sederhana. Adanya digitalisasi bukan sekedar memindahkan catatan dari buku ke perangkat digital. Tetapi pencatatan yang teratur juga dapat membantu pelaku usaha memperoleh informasi keuangan yang lebih jelas dan mudah ditelusuri.

Berikut alur hubungannya dengan SDG 8, yaitu:

Pecatatan digital yang teratur – informasi keuangan lebih jelas – pengambilan keputusn lebih terukur – efisisensi dan produktivitas meningkat – peluang pengembangan usaha semakin terbuka – pertumbuhan ekonomi lokal.

Namun, digitalisasi hanya sebagai alat pendukung dan bukan sebagai jaminan bahwa UMKM akan langsung berkembang. Keberhasilan usaha juga dipegaruhi oleh kualitas produk, pemasaran, modal, kondisi pasar, dan kemampuan manajemen. Oleh karena itu, solusi yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan pelaku usaha.

Mahasiswa Akuntansi memiliki peran penting dalam gagasan ini. Yang pertama, mahasiswa dapat menjadi educator dengan memberikan pemahaman dasar mengenai pemasukan, pengeluaran, laba/rugi, dan arus kas dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami.

Yang kedua, mahasiswa bisa menjadi pendamping digitalisasi. Mahasiswa dapat membantu membuat membuatkan template pembukuan sesuai dengan kebutuhan usaha serta mengajarkan cara memasukkan transaksi dan membaca hasil pencatatannya.

Yang ketiga, mahasiswa dapat menjadi penghubung antara teknologi dan masyarakat. Mahasiswa memiliki akses dengan pengetahuan akuntansi dan teknologi, sedangkan pelaku UMKM memahami kondisi nyata usahanya. Kolaborasi keduanya dapat menghasilkan solusi yang lebih tepat.

Program pendampingan dapat dilakukan melalui lima tahap, yaitu identifikasi kebutuhan, perancangan sistem, edukasi, pendampingan, dan evaluasi.

Mahasiswa lebih dulu melakukan observasi mengenai kebiasaan pencatatan dan kendala yang dihadapi UMKM. Selanjutnya, mahasiswa merancang sistem pembukuan yang sederhana, murah, dan mudah digunakan, setelah itu, pelaku UMKM diberikan pelatihan singkat mengenai cara mencatat transaksi dan memahami hasil pencatatannya.

Pendampingan perlu dilakukan pada tahap awal agar pelaku usaha dapat menyesuaikan diri dengan sistem yang digunakan. Evaluasi kemudian dilakukan untuk mengetahui apakah pencatatan menjadi lebih teratur dan apakah informasi keuangan mulai digunakan dalam pengambilan keputusan.

Tantangan utama program ini adalah perbedaan kemampuan literasi digital dan konsistensi pelaku usaha dalam mencatat transaksi. Oleh karena itu, sistem yang dibuat tidak boleh terlalu kompleks. Tujuan pendampingan bukan membuat UMKM bergantung kepada mahasiswa, melainkan membantu mereka agar mampu menggunakan sistem secara mandiri. Mendukung pencapaian SDGs tidak selalu harus dimulai melalui kebijakan besar. Bagi mahasiswa, kontribusi dapat dimulai dari lingkungan terdekat dan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

UMKM merupakan penggerak penting ekonomi Indonesia, tetapi sebagian pelaku usaha masih menghadapi kendala dalam pengelolaan keuangan. Mahasiswa akuntansi memiliki kompetensi yang relevan untuk membantu menjawab persoalan tersebut melalui edukasi dan pendampingan digitalisasi pembukuan sederhana.

Melalui peran sebagai edukator, pendamping, dan penghubung antara ilmu akuntansi dengan teknologi, mahasiswa dapat membantu memperkuat pengelolaan UMKM. Ketika UMKM semakin mampu mengelola usahanya, produktivitas dan peluang pertumbuhan ekonomi lokal juga dapat meningkat.

Dengan demikian, mahasiswa – UMKM – ekonomi lokal – pertumbuhan ekonomi – SDG 8 – Indonesia Emas 2045 bukan sekadar rangkaian konsep. Membantu satu UMKM mencatat keuangannya dengan lebih baik memang merupakan langkah kecil. Namun, apabila dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan, langkah tersebut dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju ekonomi Indonesia yang lebih produktif, inklusif, dan berkelanjutan.

Daftar Pustaka

Badan Pusat Statistik. (2025). Profil Industri Mikro dan Kecil 2024. Badan Pusat Statistik.

Bank Indonesia. (2024). Opsi Inovatif Kembangkan UMKM Melalui Pembiayaan Digital. Bank Indonesia.

Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia. (2024). Tahun 2024 Indonesia Targetkan 30 Juta Pelaku UMKM Adopsi Teknologi Digital. Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia. (2024). Pemerintah Dukung Bentuk Kolaborasi Baru agar UMKM Indonesia Jadi Bagian Rantai Pasok Industri Global. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia.

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. (2025). Voluntary national review Indonesia 2025: Achieving SDG 8—Decent work and economic growth in Indonesia. Kementerian PPN/Bappenas.

 

Penulis adalah Mahasiswa  S1 Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis  Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

FISIOTERAPIS MUDA SEBAGAI UJUNG TOMBAK PEMULIHAN FUNGSI GERAK MENUJU GENERASI EMAS 2045

WhatsApp Image 2026-09-06 at 18.30.23

Oleh: Arini Khairunnisa

 

Indonesia Emas 2045 adalah cita-cita besar bangsa yang hanya dapat diwujudkan oleh generasi yang sehat, produktif, dan mampu bergerak bebas tanpa hambatan fisik. Namun, di balik optimisme itu, data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa stroke masih menjadi penyebab utama kecacatan dan kematian di Indonesia, yakni sebesar 11,2% dari total kecacatan dan 18,5% dari total kematian nasional. Di sisi lain, Riset Kesehatan Dasar juga mencatat bahwa proporsi penduduk Indonesia usia di atas 10 tahun yang kurang beraktivitas fisik terus meningkat, dari 26,1% pada 2013 menjadi 33,5% pada 2018, sebuah tren yang memperbesar risiko gangguan muskuloskeletal dan penyakit tidak menular penyebab keterbatasan gerak. Di sisi lain, jumlah lansia yang membutuhkan pemulihan fungsi gerak juga terus bertambah seiring transisi demografi menuju masyarakat menua, sebagaimana tergambar dalam proyeksi penduduk jangka panjang Badan Pusat Statistik.

Persoalan ini berkaitan erat dengan Sustainable Development Goals (SDGs) ketiga, yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera, yang menargetkan setiap individu memperoleh akses layanan kesehatan yang layak, termasuk layanan rehabilitasi fisik. Sayangnya, akses terhadap fisioterapi di Indonesia masih timpang, karena layanan ini masih terpusat di kota besar sementara masyarakat di desa dan daerah terpencil kesulitan menjangkaunya. Di titik inilah mahasiswa fisioterapi, sebagai calon tenaga kesehatan profesional, memiliki peran strategis untuk hadir lebih awal sebagai agen perubahan.

World Health Organization bahkan telah menegaskan pentingnya rehabilitasi melalui inisiatif Rehabilitation 2030, yang menyoroti bahwa satu dari tiga orang di dunia berpotensi membutuhkan layanan rehabilitasi, namun ketersediaan tenaga dan fasilitasnya masih jauh dari mencukupi, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. World Physiotherapy, organisasi global fisioterapi, juga mencatat adanya kekurangan tenaga rehabilitasi yang kritis di berbagai belahan dunia akibat populasi yang menua dan meningkatnya penyakit kronis. Kondisi ini menegaskan bahwa upaya pemulihan fungsi gerak bukan lagi persoalan yang dapat ditunda, melainkan kebutuhan mendesak yang harus dijawab bersama, termasuk oleh generasi muda yang masih berstatus mahasiswa.

Gangguan fungsi gerak bukan sekadar persoalan medis individu, melainkan ancaman terhadap produktivitas bangsa secara luas. Seseorang yang mengalami kelumpuhan pascastroke, cedera tulang belakang, atau keterbatasan gerak akibat penyakit kronis akan kehilangan kemandirian dan kesempatan berkontribusi secara ekonomi maupun sosial. Jika dibiarkan tanpa penanganan rehabilitasi yang tepat, jumlah penyandang disabilitas fungsional berpotensi terus bertambah dan menjadi beban ganda bagi keluarga maupun sistem kesehatan nasional menjelang tahun 2045, saat Indonesia diproyeksikan menikmati puncak bonus demografi.

Pentingnya penyelesaian masalah ini tidak lepas dari kaitannya dengan beberapa target SDGs sekaligus. Selain SDG 3 tentang kesehatan, upaya pemulihan fungsi gerak juga menyentuh SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui edukasi kesehatan gerak sejak dini, serta SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan) karena pemerataan akses fisioterapi akan mengurangi ketimpangan layanan kesehatan antara kota dan desa. Tanpa keseriusan menangani isu ini, cita-cita generasi emas yang sehat dan produktif akan sulit tercapai.

Di sinilah peran mahasiswa fisioterapi menjadi penting. Sebagai generasi muda yang dibekali ilmu tentang anatomi, biomekanik, dan modalitas terapi, mahasiswa fisioterapi tidak perlu menunggu lulus untuk mulai memberi manfaat. Melalui organisasi kemahasiswaan, kegiatan pengabdian masyarakat, dan pemanfaatan teknologi, mahasiswa dapat menjadi ujung tombak yang menjembatani kesenjangan akses layanan pemulihan fungsi gerak, sekaligus menanamkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga fungsi gerak sejak dini.

Persoalan ini semakin mendesak jika dikaitkan dengan pola hidup generasi muda masa kini. Kebiasaan duduk berjam-jam di depan layar gawai dan minimnya aktivitas fisik membuat gangguan muskuloskeletal seperti nyeri punggung dan leher kini banyak dialami bahkan oleh usia produktif dan pelajar. Jika generasi yang diharapkan menjadi tulang punggung Indonesia Emas 2045 justru mengalami gangguan gerak sejak usia muda, maka target bonus demografi yang produktif akan sulit terwujud. Oleh karena itu, intervensi preventif berbasis edukasi jauh lebih efektif dibandingkan menunggu masalah muncul terlebih dahulu.

Selain aspek fisik, gangguan fungsi gerak yang tidak tertangani juga membawa dampak psikologis dan sosial yang tidak kalah serius. Individu yang kehilangan kemampuan bergerak secara mandiri rentan mengalami penurunan rasa percaya diri hingga ketergantungan penuh pada keluarga. Padahal, keberhasilan Indonesia Emas 2045 tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kualitas hidup setiap warganya, termasuk mereka yang pernah mengalami keterbatasan gerak. Hal ini menunjukkan bahwa peran fisioterapi tidak sekadar memulihkan fungsi fisik, tetapi juga mengembalikan martabat dan kemandirian seseorang untuk kembali berperan aktif di tengah masyarakat.

Pertama, mahasiswa fisioterapi dapat menginisiasi program edukasi dan skrining gerak sederhana bertajuk “Gerak Sehat Desa” yang dilaksanakan melalui kegiatan pengabdian masyarakat maupun Kuliah Kerja Nyata. Program ini berfokus pada deteksi dini gangguan postur, keseimbangan pada lansia, serta edukasi latihan peregangan bagi pekerja dan pelajar yang banyak duduk, sehingga masalah muskuloskeletal dapat dicegah sebelum menjadi kronis.

Kedua, mahasiswa dapat memanfaatkan teknologi digital melalui rintisan layanan telerehabilitasi sederhana, misalnya video panduan latihan pemulihan pascacedera atau pascastroke ringan yang disebarkan melalui media sosial dan kanal edukasi kampus. Inovasi semacam ini menjadi solusi realistis bagi masyarakat di daerah dengan akses fisioterapis yang masih terbatas, sekaligus melatih mahasiswa untuk berpikir inovatif dan berbasis bukti ilmiah.

Ketiga, organisasi mahasiswa fisioterapi dapat menjalin kolaborasi lintas program studi kesehatan untuk membangun pos rehabilitasi komunitas berbasis kewirausahaan sosial, yang tidak hanya memberi layanan gerak dasar bagi masyarakat prasejahtera, tetapi juga menjadi wadah penelitian mahasiswa untuk mengembangkan metode terapi yang lebih efektif dan terjangkau. Ketiga langkah ini realistis untuk dijalankan mahasiswa karena tidak memerlukan kewenangan klinis penuh, namun tetap memberi dampak nyata bagi pemulihan fungsi gerak masyarakat.

Keempat, mahasiswa dapat mengembangkan inovasi alat bantu gerak sederhana dan terjangkau melalui ajang kompetisi karya ilmiah maupun program kreativitas mahasiswa. Inovasi semacam ini melatih mahasiswa fisioterapi untuk berpikir kritis dan solutif, sekaligus membuka peluang kewirausahaan di bidang kesehatan yang mendukung kemandirian ekonomi generasi muda.

Kelima, mahasiswa juga dapat aktif menjadi kader kesehatan gerak di lingkungan kampus dan sekitarnya, misalnya dengan menginisiasi kelas peregangan rutin bagi civitas akademika maupun pelatihan kader kesehatan di tingkat desa yang dapat meneruskan edukasi secara mandiri setelah program mahasiswa berakhir. Dengan pendekatan ini, dampak yang dihasilkan tidak berhenti ketika kegiatan pengabdian selesai, melainkan terus berkelanjutan karena masyarakat telah dibekali pengetahuan dan keterampilan dasar untuk menjaga fungsi gerak secara mandiri.

Pemulihan fungsi gerak adalah fondasi penting bagi terwujudnya generasi yang sehat, mandiri, dan produktif menuju Indonesia Emas 2045. Mahasiswa fisioterapi, dengan bekal keilmuan dan semangat pengabdian, memiliki peluang besar untuk menjadi ujung tombak perubahan tersebut melalui edukasi, inovasi teknologi, dan aksi nyata di tengah masyarakat.

Perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten. Satu sesi edukasi peregangan di desa atau satu video panduan latihan yang dibagikan secara daring dapat menjadi fondasi bagi terciptanya masyarakat yang lebih sadar akan pentingnya menjaga fungsi gerak. Oleh karena itu, mari jadikan bangku kuliah bukan sekadar tempat menimba ilmu, melainkan juga ruang untuk berkarya nyata bagi bangsa. Sudah saatnya generasi muda, khususnya mahasiswa bidang kesehatan, tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut mengambil bagian aktif dalam mewujudkan target SDGs demi masa depan bangsa yang sehat, produktif, dan bergerak bebas tanpa hambatan menuju Indonesia Emas 2045.

Referensi

Kementerian Kesehatan RI. (2024). Cegah Stroke dengan Aktivitas Fisik. Diakses dari https://www.kemkes.go.id/id/cegah-stroke-dengan-aktivitas-fisik

Kementerian Kesehatan RI. (2019). Kurang Aktivitas Fisik Berpotensi Alami Penyakit Tidak Menular. Diakses dari https://kemkes.go.id/id/kurang-aktivitas-fisik-berpotensi-alami-penyakit-tidak-menular

World Health Organization. (2017). Rehabilitation 2030 Initiative. Diakses dari https://www.who.int/initiatives/rehabilitation-2030

Kementerian PPN/Bappenas. (2023). Keputusan Menteri PPN/Kepala Bappenas Nomor 118/M.PPN/HK/08/2023 tentang Peta Jalan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/SDGs Tahun 2023-2030. Diakses dari https://jdih.bappenas.go.id/peraturan/countviewer/3368/2023kepmenppn118.pdf

Badan Pusat Statistik. (2023). Proyeksi Penduduk Indonesia 2020-2050 Hasil Sensus Penduduk 2020. Diakses dari https://www.bps.go.id/id/publication/2023/05/16/fad83131cd3bb9be3bb2a657/proyeksi-pendudukindonesia-2020-2050-hasil-sensus-penduduk-2020.html

World Physiotherapy. Workforce. Diakses dari https://world.physio/advocacy/workforce

 

Penulis adalah Mahasiswa Program Studi S1 Fisioterapi  Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

Mahasiswa Keperawatan sebagai Agen Perubahan dalam Pencegahan Anemia Remaja Menuju Indonesia Emas 2045

WhatsApp Image 2026-09-06 at 18.32.53

Oleh: Nabila Putri Laura

 

Pendahuluan

Indonesia memiliki cita-cita menjadi negara maju melalui terwujudnya Indonesia Emas 2045. Untuk mencapai tujuan tersebut, pembangunan sumber daya manusia menjadi salah satu hal yang penting. Generasi muda yang sehat, berpendidikan, dan produktif merupakan modal utama dalam pembangunanr bangsa. Namun, masih terdapat berbagai permasalahan kesehatan yang dapat menghambat kualitas generasi muda, salah satunya adalah anemia pada remaja.

Anemia merupakan kondisi ketika tubuh mengalami kekurangan sel darah merah atau hemoglobin sehingga kemampuan darah dalam membawa oksigen menjadi berkurang. Remaja putri menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapatkan perhatian karena mengalami menstruasi setiap bulan sehingga memiliki risiko kehilangan zat besi. Selain itu, pola makan yang kurang seimbang dan kurangnya pengetahuan mengenai kebutuhan gizi dapat meningkatkan risiko terjadinya anemia.

Permasalahan tersebut berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-3 yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being). Oleh karena itu, mahasiswa sebagai bagian dari generasi muda memiliki kesempatan untuk ikut berkontribusi dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pencegahan anemia.

Pembahasan

Anemia menjadi salah satu masalah kesehatan utama pada remaja dinegara berkembang, termasuk Indonesia. Data dari World Health Organization menunjukkan bahwa anemia adalah masalah kesehatan global yang mempengaruhi sekitar 40-88% remaja dunia (WHO., 2022). Pada remaja putri (rematri) dinegara berkembang, prevalensi anemia mencapai 53,7%, yang merupakan proporsi yang signifikan dan mengkhawatirkan dalam konteks kesehatan remaja. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan (2024) mencatat prevalensi anemia pada remaja sekitar 20-30%. Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap tingginya angka ini meliputi pola makan yang tidak seimbang, defisiensizatbesi, serta kondisi kesehatan tertentu yang memperparah risiko anemia diusia remaja (Dewi, Sandra S., Hartono, W., & Susanti, R., 2021).

Permasalahan anemia pada remaja tidak hanya berdampak terhadap kondisi kesehatan saat ini, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap kesehatan pada masa mendatang. Remaja putri merupakan calon ibu sehingga kondisi kesehatan sejak remaja perlu diperhatikan. Penelitian Pibriyanti dkk. (2024) secara khusus menganalisis hubungan pengetahuan, sikap, dan kepatuhan mengonsumsi TTD dengan kejadian anemia pada remaja putri.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah anemia adalah meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja melalui edukasi kesehatan. Penelitian Nurbaiti, Santoso, dan Supriyadi (2025) menunjukkan bahwa model edukasi yang diberikan kepada remaja putri efektif meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan dalam mengonsumsi TTD. Hasil tersebut menunjukkan bahwa edukasi yang dilakukan secara terarah dapat menjadi salah satu strategi untuk mendukung pencegahan anemia pada remaja.

Di era digital, masyarakat dapat memperoleh informasi kesehatan dengan sangat mudah. Namun, tidak semua informasi yang beredar dapat dipercaya. Mahasiswa kebidanan dapat membantu dengan menyebarkan informasi berdasarkan sumber yang kredibel serta mengajak masyarakat untuk tidak mudah mempercayai informasi kesehatan yang belum terverifikasi. Dengan cara tersebut, mahasiswa dapat ikut membangun masyarakat yang lebih kritis terhadap informasi kesehatan.

Permasalahan tersebut berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-3 yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being). Oleh karena itu, mahasiswa keperawatan sebagai bagian dari generasi muda dan calon tenaga kesehatan dapat ikut berkontribusi dalam meningkatkan pengetahuan serta kesadaran masyarakat mengenai pencegahan anemia. Peran tersebut dapat dilakukan melalui edukasi kesehatan, kampanye di media sosial, kegiatan di sekolah, maupun kerja sama dengan tenaga kesehatan dan masyarakat.

Gagasan dan Aksi Mahasiswa

Salah satu gagasan yang dapat dilakukan adalah membentuk gerakan “Remaja Bebas Anemia” yang dilaksanakan melalui kegiatan edukasi dan kampanye kesehatan. Mahasiswa keperawatan dapat menjadi penggerak dengan membuat konten edukasi mengenai anemia dan menyebarkannya melalui media sosial. Kegiatan juga dapat dilanjutkan dengan edukasi secara langsung di sekolah atau lingkungan masyarakat.

Mahasiswa dapat mengajak remaja untuk lebih memperhatikan pola makan dengan mengonsumsi makanan bergizi dan sumber zat besi. Selain itu, mahasiswa dapat bekerja sama dengan tenaga kesehatan untuk memberikan informasi mengenai pemeriksaan kesehatan dan program yang ditujukan untuk remaja putri, termasuk pentingnya konsumsi tablet tambah darah sesuai petunjuk.

Gerakan tersebut tidak membutuhkan biaya besar dan dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Mahasiswa dapat memanfaatkan organisasi kampus sebagai wadah untuk mengembangkan kegiatan, kemudian memperluas kegiatan melalui kerja sama dengan sekolah dan fasilitas pelayanan kesehatan. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya belajar mengenai kesehatan di dalam kelas, tetapi juga dapat menerapkan ilmu keperawatan yang dimiliki untuk memberikan manfaat kepada Masyarakat.

Penutup

Pencegahan anemia pada remaja merupakan salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mempersiapkan generasi muda yang sehat dan produktif. Sebagai mahasiswa keperawatan, terdapat kesempatan untuk berperan dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja mengenai pentingnya menjaga kesehatan sejak dini.

Melalui edukasi, pemanfaatan media sosial, kegiatan sosial, serta kerja sama dengan berbagai pihak, mahasiswa keperawatan dapat menjadi agen perubahan dalam mendukung tercapainya SDGs, khususnya tujuan ke-3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Kontribusi tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi apabila dilakukan secara konsisten dan melibatkan lebih banyak generasi muda, dapat memberikan dampak yang lebih luas dalam mempersiapkan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

Referensi

Kusumaningrum, dkk. (2025). Edukasi pentingnya konsumsi tablet tambah darah pada remaja putri di SMK Muhammadiyah Kartasura. Jurnal SOLMA.

Nurbaiti, Santoso, dan Supriyadi. (2025). Model edukasi meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan konsumsi tablet tambah darah pada remaja putri. Jurnal Sains Kebidanan.

Pibriyanti, dkk. (2024). Pengetahuan, sikap, dan kepatuhan mengonsumsi tablet tambah darah sebagai faktor risiko kejadian anemia remaja putri. Nutri-Sains.

Yahena, dkk. (2024). Pengaruh penyuluhan terhadap tingkat pengetahuan tentang tablet tambah darah dan praktik minum tablet tambah darah pada remaja putri. Jurnal Gizi Aisyah.

 

Penulis adalah Mahasiswa Program Studi D3 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

Mahasiswa Farmasi dan Gerakan “Pintar Menggunakan Obat” Kunci Wujudkan Indonesia Sehat 2045

magic_edit#TUFIVWEtWjR3bTgjMSM4OGM3OGVlMmMzNDhjZjMyYzhjNmM2ODU1YmZhOTJkZCMxOTIwIyNUUkFOU0ZPUk1BVElPTl9SRVFVRVNU

OLEH: TORESTY EURORA P. H

Indonesia Emas 2045 bukan sekadar slogan atau harapan ideal, melainkan mandat besar yang menuntut sumber daya manusia yang unggul, sehat, dan berkarakter.  Namun fondasi menuju bangsa emas tidak akan kuat bila kesehatan masyarakat masih lemah.  Tujuan ketiga dalam agenda pembangunan berkelanjutan global Sustainable Development Goals (SDGs) yaitu; “Kehidupan Sehat dan Sejahtera” (Good Health and Well-being) adalah keharusan wajib untuk mencapai semua tujuan lainnya.  Sayangnya, di lapangan, tingkat literasi kesehatan masyarakat Indonesia tentang pemahaman dan penggunaan obat sangat memprihatinkan.  Kementerian Kesehatan RI melaporkan bahwa indeks literasi kesehatan masyarakat Indonesia pada tahun 2023 hanya 32,3 persen.  Artinya masih banyak orang yang belum bisa memahami informasi kesehatan secara baik, termasuk informasi tentang penggunaan obat yang benar dan aman.

Ini adalah salah satu fenomena yang sering kita amati dalam kehidupan sehari-hari dan dalam banyak laporan media yaitu sikap kurang peduli masyarakat terhadap penggunaan obat-obatan. Ada banyak orang yang masih memandang obat-obatan sebagai barang biasa bukan sebagai zat kimia yang bisa menimbulkan banyak perubahan pada tubuh.  Sangat umum kita temui orang tua atau kaum muda membeli obat-obatan seperti antibiotik dari apotek atau toko tanpa resep dari dokter hanya karena mereka berpikir itu adalah hal yang “biasa” atau untuk cepat sembuh dari gejala flu biasa. Namun dari sudut pandang medis antibiotik tidak akan memberikan manfaat apapun untuk infeksi virus. Statistik dari GLASS, Organisasi Kesehatan Dunia menunjukkan bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki tingkat resistensi antimikroba yang tinggi dengan resistensi antibiotik di beberapa rumah sakit mencapai lebih dari 50% pada beberapa jenis antibiotik.

Apa yang membuat masalah ini sangat penting dan membutuhkan perhatian segera?Jika dibiarkan berkembang hingga Indonesia Emas 2045 maka akan menimbulkan kerugian besar bagi rakyat. Penggunaan obat-obatan secara berlebihan terutama penyalahgunaan antibiotik akan menyebabkan resistensi antimikroba. Dengan resistensi antimikroba infeksi bakteri yang mudah diobati akan menjadi sulit untuk ditangani dan mahal untuk diobati.  Resistensi antimikroba dapat mengakibatkan kerugian ekonomi tahunan hingga 3,4 triliun dolar Amerika untuk seluruh dunia pada tahun 2030 menurut laporan Bank Dunia.  Di sisi lain penggunaan narkotika keras tanpa pengawasan apoteker dan dokter akan menempatkan pasien pada risiko efek samping seperti kerusakan hati dan kerusakan ginjal.  Kasus gagal ginjal akibat overdosis obat penghilang rasa sakit tanpa rekomendasi dokter sudah dilaporkan di banyak rumah sakit di Indonesia.  Negara yang memiliki kesehatan buruk akibat penyalahgunaan obat tentu akan menghambat produktivitas nasional.  Indonesia Emas 2045 didasarkan pada bonus demografi tetapi bonus demografi akan menjadi bencana demografi jika generasi mudanya sakit karena tingkat literasi kesehatan yang rendah.

Sebagai mahasiswa S1 Farmasi di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pekajang Pekalongan (UMPP) saya mengerti bahwa pengetahuan yang saya dapatkan di kampus tidak perlu hanya terbatas di dalam ruang kelas atau laboratorium.  Ada kewajiban moral dan sosial yang ilmu farmasi harus dikembalikan kepada masyarakat.  Dari nilai Al-Islam dan Muhammadiyah menjaga kesehatan seseorang adalah bagian dari melindungi tubuh yang diamanatkan seperti yang dikatakan Nabi Muhammad (SAW),”Orang yang kuat dalam iman lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang yang lemah dalam iman. “(HR. Muslim).  Berbagi pengetahuan demi kebaikan umat manusia adalah ibadah dan mahasiswa farmasi memainkan peran strategis dalam menjadi garis depan dalam mendidik masyarakat tentang penggunaan obat yang rasional berdasarkan target SDG 3.  Kompetensi yang saya miliki dari farmakologi, farmakokinetika hingga konseling farmasi adalah aset yang sangat berharga yang bisa diubah menjadi kampanye pendidikan yang luas.

Mulai dari masalah ini ditemukanlah kebutuhan akan sebuah program pendidikan berbasis masyarakat yang dapat mendidik masyarakat luas dengan biaya rendah namun berdampak tinggi pada isu literasi kesehatan. Oleh karena itu telah diputuskan untuk meluncurkan sebuah program pendidikan berbasis masyarakat dengan nama “Penggunaan Obat yang Pintar” (PINTAR OBAT).  Program ini akan mencakup metode digital untuk menjangkau masyarakat dan program pengangkutan masyarakat.  Mengenai metode digital untuk menjangkau masyarakat luas telah diputuskan untuk memanfaatkan platform media sosial seperti Instagram, TikTok dan YouTube yang lebih dekat dengan kaum muda.  Konten pendidikan akan diproduksi dalam bentuk Infogravis Kreatif, Video berdurasi 60 detik dan Thread diskusi tentang mitos dan kenyataan tentang penggunaan obat,membaca label kemasan, Obat Bebas dan Resep serta bahaya membeli Obat Resep tanpa Resep.

Ini akan dilakukan dengan membuat dan menampilkan poster edukasi di lingkungan kampus UMPP,apotek mitra dan pusat kesehatan di Pekalongan.  Informasi yang akan dicantumkan pada poster tersebut adalah seperti “5 Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Mengonsumsi Obat Anda” dan “Kenali Logo Obat: Bunga Biru, Lingkaran Hijau dan Lingkaran Merah”.  Selain itu saya akan meluncurkan program “Konselor Teman” di lingkungan mahasiswa UMPP dimana mahasiswa farmasi akan sukarela memberikan pembicaraan edukasi tentang penggunaan obat-obatan dasar kepada teman-teman mereka dari fakultas yang berbeda serta kepada masyarakat sekitar asrama.  Program ini akan dilakukan secara berkala setidaknya sekali dalam sebulan dengan kerjasama Dewan Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan dan pusat kesehatan setempat.  Dampak dari program ini cukup signifikan.  Di dalam kampus program ini ditujukan kepada mahasiswa UMPP agar menciptakan lingkungan sehat di kampus.  Di luar kampus program ini ditujukan kepada masyarakat setempat dan melalui siaran media sosial diharapkan program ini dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Saat kita menuju Indonesia Emas 2045 masalah kesehatan akan semakin rumit karena kemajuan teknologi serta perubahan gaya hidup masyarakat. Namun dengan kerja sama dan kesadaran masalah tersebut bisa diatasi dengan sukses. Esai ini bisa dianggap sebagai upaya pertama tetapi tindakan konkret harus datang dari lapangan. Mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton di tengah masalah kesehatan masyarakat. Melalui program “Penggunaan Obat Cerdas” saya ingin menyerukan kepada semua mahasiswa untuk memainkan peran berdasarkan bidang studi mereka. Mari kita ubah Indonesia menjadi sebuah negara yang cerdas dan sehat baik secara fisik maupun perbuatan.

Referensi: Kementerian Kesehatan RI.  (2023).  Pedoman Nasional Penggunaan Obat Rasional.  Jakarta: Kemenkes RI.  World Health Organization (WHO).  (2024).  Antimicrobial Resistance: Global Report on Surveillance.  Geneva: WHO Press.  Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).  (2015).  Transforming our world: the 2030 Agenda for Sustainable Development.  New York: UN Publishing.

 

Penulis adalah Mahasiswa S1 Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

 

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

Membangun Masa Depan dari Pekerjaan Layak

WhatsApp Image 2026-09-06 at 17.53.32(1)

Oleh : Adriyan Febri Lesmna Putra

Pendahuluan

 Sebagaimana memasuki fase kehidupan dunia perkuliahan, setiap mahasiswa mulai berpikir mengenai masa depan dan dunia kerja setelah selesai menempuh pendidikan. Apakah bidang studi yang di tempuh cocok atau sesuai kebutuhan dunia kerja? Apa keterampilan/kemampuan yang perlu dikuasai agar mampu bersaing dalam dunia kerja? Apa lapangan kerja yang ada mampu menyerap lulusan setiap tahun lulusan perguruan tinggi? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini terlebih penting keterkaitan dunia kerja yang selalu terus berubah akibat kecanggihan teknologi, digitalisasi, dan kecerdasan buatan.

Perekonomian Indonesia menunjukkan trend perkembangan yang relatif positif. Menurut data Badan Pusat Statistik, perekonomian Indonesia tercatat tumbuh 5,11 persen selama tahun 2025 (Badan Pusat Statistik, 2026a). Pada bulan Februari 2026, tercatat ada 147,67 juta orang penduduk yang bekerja, sementara Tingkat Pengangguran Terbuka di level 4,68 persen (Badan Pusat Statistik, 2026b). Dari data tersebut, menunjukkan perekonomian Indonesia dan penyerapan tenaga kerja Indonesia berpolarisasi positif. Namun, keterkaitan permasalahan ketenagakerjaan tetap memerlukan perhatian serius.

Permasalahan dunia kerja tidak hanya terbatas di angka pengangguran. Namun, permasalahan dunia kerja terkait kualitas pekerjaan. Bagian masyarakat tetap menghuni lapangan pekerjaan informal dengan pendapatan yang tidak selalu menjamin kestabilan, sementara perlindungan sosial terbatas dan kemampuan seseorgon di dunia kerja jauh lebih terbatas. Disisi lain, ketimpangan kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia kerja tetap jadi tantangan. Seseorgon mungkin lulus tetapi belum tentu mampu bercakap-cakap, memakai teknologi digital, bercolaborasi, kreatif dan menyelesaikan permasalahan.

Hal ini menunjukkan kebutuhan SDGs Tujan 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Tujuan ini bukan sekadar memerhatikan pertumbuhan ekonomi, tetapi  memastikan pekerjaan layak yang produktif, aman, adil, inclusive sekaligus kesempatan setara yang ada bagi semua orang. United Nations (2015) menguraikan tujuan ke 8 digerakkan mengimbuh pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, kesempatan kerja produktif, sekaligus pekerjaan layak yang ada bagi semua orang.

Pekerjaan Layak di Tengah Perubahan

Pertumbuhan ekonomi bukan hanya diukur di angka. Pertumbuhan ekonomi mesti menghasilkan kesejahteraan masyarakat, lapangan kerja, kenaikkan pendapatan, keseimbangan kesenjangan, serta perlindungan bagi pekerja. Pertumbuhan ekonomi tanpa peningkatan kualitas pekerjaan justru berisiko menggabungkan kesejahteraan yang tidak merata.

Pekerjaan layak meliputi pekerjaan produktif, pekerjaan yang memberi pendapatan adil, perluasan keamanan di tempat kerja, perlindungan sosial, sekaligus kesempatan adil bagi setiap orang. International Labour Organization (2025) menguraikan pekeraan layak terkait kemampuan memperoleh pekeraan produktif, hak pekerja, perlindungan sosial, dialog sosial.

Dengan demikian, pekeraan layak bukan pekeraan sekarang aja. Pekerjaan layak diartikan pekerjaan yang memungkinkan seseorgon memenuhi kebutuhan hidup, merencanakan masa depan, mengasah kemampuan, sekaligus diayomi adil. Pekeraan tiada keastian, kepuasan pendapatan, dan perlindungan sosial, seseorgon justru tetap dalam kondisi rentan walaupun bekerja.

Kementerian PPN/Bappenas (2020) memutuskan pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi jadi bagian penting pembangunan ekonomi inklusif dan berkelanjutan. Artinya, pembangunan dihindari hanya menekan peningkatan produksi dan investasi, tetapi perlu memperhatikan kualitas tenaga kerja, pemerataan kesempatan kerja, perlindungan pekerja sekaligus perekonomian yang tumbuh berkelanjutan. Pertumbuhan teknologi jauh lebih menawarkan peluang sekaligus tantangan.

Kecerdasan buatan mampu menunjang pekerjaan manusia mengolah data, menelorkan desain, merancang strategi pasaran, sekaligus meningkatkan produktivitas. Namun, teknologi jauh lebih mengurangi kebutuhan pekerjaan rutin. Maka, mahasiswa bukan sekadar melangkaukan di belakang raihan angka dan ijazah. Mahasiswa mesti mempunyai kapasitas berupaya terus belajar, beradaptasi di tengah pertumbuhan teknologi.

Kemampuan teknis tentu diwajibkan, tetapi bukan solo berdiri sendiri. Dunia kerja butuh kemampuan berpikir kritis, bercakap-cakap, kreatif, berkolaborasi, kedisiplinan, sekaligus integritas. Mahasiswa mampu menggabungkan kompetensi sesuai bidang studi sekaligus keterampilan teknologi digital mampu diwujudkan kepeluangan melebih besar diwujudkan pekerjaan layak. Konsepsuanya, mahasiswa yang gak berupaya  memperbaharui keterampilan justru bepat riskan mengalami kesusahan mengekor pertumbuhan kebutuhan dunia kerja.

Tantangan aniaya, kesenjangan akses. Tidasemua orang memperoleh kesempatan serupa diwujudkan pendidikan berkualitas, pelatihan, peralatan teknologi, jaringan. Pelaku usaha mikro, kecil, menengah selaga mengalami rintangan memanfaatkan teknologi digital, menangkat mutu produk, sekaligus melebarkan pasaran. Jika dibiarkan, pertumbuhan perekonomi justru memperlebar kesenjangan di antarabagian yang punya akses dan di antarabagian yang jadi tertinggal.

Peran Mahasiswa

 Mahasiswa diwajibkan posisi kusam, karena merupakan calon tenaga kerja profesional sekaligus bagian masyarakat. Mahasiswa tidak mesti jadi penerima pasif pertumbuhan perekonomian, sekaligus perlu ikut menyelesaikan permasalahan sosial sekaligus tenaga kerja.

Pertama, peningkatan kompetensi diri. Menempuh pendidikan, mahasiswa mampu

mengikuti pelatihan, sertifikasi, seminarya, pratik kerja, kompetisi, kegiatan organisasi, proyek berduet. Beragam kegiatan memudah kan mahasiswa menautkan teori di ruang kuliah sama kebutuhan realita dunia kerja.

Mahasiswa perlu membentuk portofolio. Portofolio mampu berupa proyek, tulisan, desain, penelitian sederhana, pendataan kegiatan organisasi, kegiatan sosial, hasil kerja lainta. Portofolio penting karna memperlihatkan kemampuan realita seseorgon, bukan mampu berlelakuan pendidikan asal. Dengan portofolio realita, mahasiswa bepat mampu bepat menghadapi proses rekrutmen pekerjaan sekaligus persaingan kerja.

Kedua, memanfaatkan teknologi digital beralasan. Kecerdasan buatan mampu dimanfaatkan menelorkan ide, mampu menolong analyse data, mampu menelorkan tata bahasa, mampu menangkat produktivitas kerja. Namun, pemanfaatannya mesti disertai pemeriksaan, pemahaman, sekaligus memperlihatkan gagasan sendiri. Mahasiswa tidak boleh memutuskan teknologi jadi sarana mejiplak sekaligus menggantikan proses berpikir.

Ketiga, memperbahi jiwa kewirausahan. Tidasemua mahasiswa mesti jadi wirausaha, tapi setiap mahasiswa perlu punya keberanian melihat peluang sekaligus menyelesaikan masalah. Usaha sederhana, misalnya melepak produk lokal, menyediakan jasa desain, mengelola media sosial, sekaligus menelorkan makanan inovatif mampu jadi upaya awal. Jika digerakkan bagus, usaha mahasiswa jastu tidak cuma mengalikan pendapatan, tetapi bepat potensial mengalikan lapangan kerja bagi seseorgon.

Gagsan Aksi Mahasiswa

 Sebagaimana mahasisiswa UMPP, satu aksi realistis mahasiswa mampu memutuskan membangun Program Pendampingan UMKM Berbasis Mahasiswa lingkungan kampus sekaligus sekitar. Program bepat dilaksanakan melalui organisasi mahasiswa sekaligus kelompok lintas program studi dengan melibatkan dosen, alumni, pemerintah desa, sekaligus pelaku usaha.

Pendampingan dilaksanakan melewati rancangan sederhana:

  • Membantu UMKM menciptakan identitas merek, katalog
  • Mengenalkan pemanfaatan media sosial, platform penjualan
  • Memudah kan penelorkan foto produk lebih
  • Mengajarkan pencatata pemasukan pengeluaran
  • Mendampingi evaluasi harga, kemasan, kualitas produk, pelayan
  • Membantu UMKM memahami strategi promosi digital sesuai target

Program melindungkan manfaat 2 pihak. Pelaku UMKM memperoleh dukungan

menangkat produktivitas sekaligus melebarkan pasar, sekaligus mahasiswa diperoleh pendirian menerapkan ilmu menyelesaikan persoalan ekonomi masyarakat. Gagsan terkait SDGs Tujuan 8 mengundang produktivitas, kewirausahan, inovasi, sekaligus memperkuat usaha mikro, kecil, menegah (United Nations, 2015).

Melengkapi pendampingan UMKM, mahasiswa mampu membentuk Komunitas

Persiapan Kerja lingkungan kampus. Komunitas mampu melaksanakan kelas susunan curriculum vitae, simulasi wawancara kerja, pelatihan keterampilan digital, diskusi profesi, sekaligus memperbagian informasi terkait magang, pelatihan, sertifikasi.

Kegiatan bepat mampu menolong mahasiswa persiapan diri mampu bepat terpandu sekaligus diwujudkan memasuk dunia kerja. Mahasiswa perlu membangun budaya kerja menekan kejujuran, tanggug jawab, disiplin, sekaligus respect sesama. Pekerjaan layak bukan tugas muncul pemerintah sekaligus perusahaan. Tenaga kerja calon pun perlu punya sikap profesional. Di masa depan, kala jadi pimpinan, wirausaha, sekaligus pelaku kebijakan, mahasiswa mesti membentuk lingkungan pekerjaan aman, adil, inklusi, sekaligus respect hak pekerja.

Penutup

Pekerjaan layak sekaligus pertumbuhan ekonomi jadi dua hal sambung-melambung. Pertumbuhan ekonimi perlu mengalikan pekerjaan produktif, aman, sekaligus bermartabat. Sebaliknya pekerjaan layak mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mengurangi kesengang, sekaligus memperkuat perekonomian nasional. Olehnya, SDGs Tujuan 8 memiliki hubungan ramping keterkaitan cita-cita wujudkan Indonesia Emas 2045.

Mahasiswa UMPP mampu mengambil peran melalui peningkatan kompetensi diri, memanfaatkan teknologi digital beralasan, pengembangan kewirausahan, pendampingan UMKM, sekaligus kegiatan pengabdian masyarakat. Peran mesti dimulai sederhana, tetapi bakal memberikan dampak lebih apabila diwujudkan konsekuent sekaligus berkelanjutan.

Referensi

 Badan Pusat Statistik. 2026a. Ekonomi Indonesia Tahun 2025 Tumbuh 5,11 Persen. Siaran Pers Nomor 14/02/Th. XXIX, 5 Februari 2026. Jakarta: Badan Pusat Statistik Republik Indonesia.

Badan Pusat Statistik. 2026b. Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia Februari 2026.

Berita Resmi Statistik, 5 Mei 2026. Jakarta: Badan Pusat Statistik Republik Indonesia.

International Labour Organization. 2025. Decent Work: The ILO’s Approach to Productive Employment, Rights at Work, Social Protection, and Social Dialogue. Geneva: International Labour Office.

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. 2020. Metadata Edisi II Pilar Pembangunan Ekonomi: Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals. Jakarta: Kementerian PPN/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.

United Nations. 2015. Transforming Our World: The 2030 Agenda for Sustainable Development. Resolution Adopted by the General Assembly on 25 September 2015. New York: United Nations.

United Nations Department of Economic and Social Affairs. 2023. The Sustainable

Development Goals Report: Goal 8—Decent Work and Economic Growth. New York: United Nations Department of Economic and Social Affairs.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Prodi S1 Manajemen Universitas: Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya