PEKALONGAN, WARTA DESA. – Suasana khidmat sekaligus antusias menyelimuti kawasan Doro, Kabupaten Pekalongan, pada gelaran Pengajian Ahad Pagi di Masjid Transit Hj. Mutimah Dahlan. Ribuan peserta dari berbagai penjuru Kabupaten Pekalongan dan sekitarnya tampak memadati area masjid hingga meluber ke halaman untuk mendengarkan tausiyah dari tokoh inspiratif asal Sragen, Ki Kusnadi Ikhwani.
Ki Kusnadi, yang merupakan Ketua Takmir Masjid Al Falah Sragen—sebuah masjid yang dikenal luas karena manajemennya yang progresif—hadir memberikan materi yang segar namun sarat makna mengenai cara mengelola jamaah dan menghidupkan semangat berkontribusi di rumah Allah.
Strategi “Makan-Makan” untuk Menggaet Jamaah
Dalam penyampaiannya, Ki Kusnadi menekankan pentingnya pendekatan yang menggembirakan jamaah, salah satunya melalui makan bersama. Beliau menceritakan pengalaman di Masjid Raya Al Falah saat penutupan Ramadhan lalu.
“Kami undang Bupati dan Kepala Dinas hadir di penutupan Ramadhan. Kami siapkan nasi kebuli dan kambing guling untuk seribu jamaah. Semuanya disajikan di nampan agar suasana kekeluargaan terasa,” ujar Ki Kusnadi disambut tawa dan decak kagum jamaah.
Uniknya, Ki Kusnadi memiliki cara diplomatis untuk mengajak tokoh penting berdonasi. Setelah acara makan selesai, ia mengumumkan bahwa biaya konsumsi sebesar Rp18 juta belum dibayar. Strategi “kejujuran” ini rupanya mengetuk hati Bupati Sragen yang langsung maju ke depan dan melunasi seluruh biaya tersebut secara spontan.
Memuliakan Imam dan Hafiz Quran
Tak hanya soal perut, Ki Kusnadi juga membagikan kisah bagaimana ia “mengikat” imam muda dan hafiz Quran agar betah mengabdi di masjid. Ia menceritakan kisah Ustadz Mufti Al-Habib yang berasal dari Lombok.
Agar sang imam tidak kembali ke kampung halaman, pihak takmir berinisiatif:
-
Mencarikan Jodoh: Menjodohkan dengan warga lokal.
-
Memberikan Fasilitas: Iuran takmir untuk membelikan sepeda motor dan rumah sebagai tempat tinggal.
-
Memberangkatkan Umroh: Mengetuk hati Kapolres setempat untuk memberikan amal jariyah berupa biaya umroh sebesar Rp25 juta bagi sang imam.
Mengajak Kontribusi, Bukan Meminta
Prinsip utama yang ditekankan Ki Kusnadi adalah “mengajak untuk berkontribusi,” bukan sekadar meminta sumbangan. Baginya, fasilitas masjid—seperti karpet yang nyaman—harus diutamakan demi kenyamanan jamaah, terutama mereka yang sudah lanjut usia.
“Bukannya saya itu menodong, tapi mengajak untuk berikan yang terbaik. Saat ini bahkan karpet di Al Falah belum lunas, tapi kami pasang yang paling bagus agar jamaah sepuh (tua) merasa nyaman saat sujud,” pungkasnya.
Acara yang berlangsung hingga menjelang siang ini ditutup dengan doa bersama. Kehadiran Ki Kusnadi diharapkan mampu memberikan inspirasi bagi pengelola masjid di wilayah Pekalongan agar lebih inovatif dalam melayani jamaah dan memakmurkan tempat ibadah. (Isa Anshori)













