close
Lingkungan

Pembangunan tanggul raksasa jadi solusi sementara tanggulangi rob

pekalogan tenggelam

Kajen, Wartadesa. – Penganggulangan rob di wilayah pesisir Kabupaten dan Kota Pekalongan dinilai oleh Heri Andreas, Peneliti Feodesi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai solusi sementara. Padahal berdasarkan riset Instansi Patnership Kemitraan Tata Kelola Pemerintahan, penurunan tanah di Pekalongan sampai 25-34 sentimeter atau hampir 1/2 meter pertahun.

“Penahan tanggul itu sifatnya sementara dan berjangka menengah, karena jika air sudah pasang dan bisa mencapai puncak tanggul, maka air juga akan masuk ke permukaan,” ujar Heri dalam Seminar Sosialisasi UU APBN 2019 dengan tema Kebijakan Anggaran untuk Penanggulangan Rob dan Banjir di Kota dan Kabupaten Pekalongan digelar di Auditorium Adaro Lt. 8 Gedung F Unikal, Senin (5/8/2019).

Heri mengungkap data dari ITB, penurunan permukaan tanah di wilayah Pantura Pekalongan  rata-rata 1-25 centimeter per tahun. Faktor yang mempengaruhi yaitu banyaknya pengambilan air tanah yang berlebihan.

“Pengambilan air tanah yang berlebihan juga merupakan faktor yang mempercepat penurunan permukaan tanah. Sehingga jika kita bisa menghentikan pengambilan air tanah, itu juga bisa memperlampat atau mengatasi penurunan air tanah,” lanjut Heri.

Sementara itu, data dari  riset Instansi Patnership Kemitraan Tata Kelola Pemerintahan, terungkap bahwa penurunan tanah di Pekalongan sampai 25-34 sentimeter atau hampir 1/2 mtr. pertahun. Ditambah lagi banyaknya pengeboran sumur tanah yang dikerjakan beberapa pengerajin batik menyebabkan efek banjir rob makin kronis tiap-tiap tahunnya.

Kepala Progran Studi (Kaprodi) Batik Kampus Pekalongan (Unikal) Mutadi, menjelaskan bila pengeboran tidak di stop makin lama Kota Pekalongan akan terbenam. “Bila penduduk Kota Pekalongan selalu lakukan pengeboran sama juga membunuh diri pribadi, sebab pembuatan sumur bor percepat penurunan muka tanah,” tuturnya, Jumat (8/2/2019).

Menurut Mutadi, proses produksi batik rumahan sebanyak 10 sampai 20 kodi dapat habiskan air bersih 60 liter satu hari cuma untuk proses pewarnaan. “Untuk proses pelorotan lilin dalam satu hari dapat habiskan 140 liter air, rata-rata untuk industri batik sekala rumahan pada sebuah minggu dapat habiskan seputar 450 liter air bersih,” katanya.

Tingginya penggunaan air bersih pada produksi batik ini lantaran proses pelorotan lilin (malam) tidak bisa menggunakan air payau.  “Proses pewarnaan serta pelorotan lilin memang tidak dapat memakai air payau, sebab hasil pada akhirnya baik warna serta struktur kain akan berlainan. Akan tetapi, bila eksploitasi air tanah tidak dibatasi Pekalongan punya potensi terbenam,” lanjut Mutadi.

Data dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pekalongan, diberitakan Wartadesa sebelumnya mencatat, hingga saat ini ada 144 titik air dalam yang digunakan oleh dunia usaha seperti  perhotelan, supermarket dan usaha pencucian mobil. Hingga DLH setempat mengajukan moratorium penggunaan air tanah ke Gubernur Jawa Tengah.

‘’Kami berencana membuat danau-danau kecil. Di kelurahan kami harapkan ada satu danau kecil,’’ ujar Purwanti, Kepala DLH Kota Pekalongan. Menurutnya, danau-danau tersebut sebagai pengganti penggunaan air tanah, sehingga nantinya sumur-sumur pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat) akan mengambil air dari danau-danau tersebut (saat ini Pamsimas masih menggunakan sumber air dalam–pemicu turunnya permukaan tanah).

Dalam Seminar Sosialisasi UU APBN 2019 tersebut, Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi mengatakan bahwa ia bersama Wakil Bupati, Arini Antono (Arini Harimurti) mendapat pesan khusus dari Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo untuk mengatasi rob.

“Saya bersama Ibu Arini setelah dilantik mendapatkan pesan khusus dari Pak Ganjar untuk mengurangi angka kemiskinan dan mengatasi rob. Jadi Rob memang akan menjadi perhatian khusus buat Pemkab Pekalongan,” tutur Asip.

Asip mengungkapkan bahwa pihaknya, sebelumnya  sudah bekerjasama dengan Belanda untuk membuat tanggul darurat yang berada di Mulyorejo. Dengan pola yang sederhana dan dibikin sendiri dengan anggaran APBD dana tak terduga senilai Rp 2 miliar. “Alhamdulillah setelah kita buat tanggul sendiri di Mulyorejo, bisa mengurangi rob di tiga desa yaitu Tegaldowo, Mulyorejo dan Karangjompo,” ujarnya. (Bono, Eva Abdullah)

Terkait
Bencana ekologis di Pekalongan perlu penanganan serius dan terintegrasi

Air masih saja merendam wilayah Jeruksari, karangjompo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, meski pemerintah daerah telah mengoperasikan 11 pompa  untuk menyedot Read more

Swadaya, warga Simonet bikin tanggul antisipasi genangan rob

Wonokerto, Wartadesa. - Warga Dusun Simonet, Desa Semut, Wonokerto, Pekalongan secara swadaya membangun tanggul darurat. Mereka bergotong-royong dengan material dan Read more

Waspada! Banjir dan rob saat musim penghujan

Pekalongan, WartaDesa. - Perkiraan musim penghujan yang jatuh pada pertengahan bulan ini membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pekalongan Read more

Bakal ada wisata pantai termegah di Kota Pekalongan

Pekalongan, Wartadesa. - Bakal hadirnya obyek wisata baru di Kota Pekalongan, yakni, wisata laut terbesar di Indonesia dalam waktu dekat Read more

Tags : pekalongan tenggelamRob