close

Bencana

BencanaLayanan Publik

Tragedi di Pengungsian Dupantex, IMM Pekalongan Desak Pemda Benahi Total Penanganan Banjir

template berita foto warta desa(8)

PEKALONGAN, Warta Desa – Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pekalongan melayangkan desakan keras kepada Pemerintah Kabupaten Pekalongan untuk melakukan pembenahan total dalam penanganan bencana. Hal ini menyusul peristiwa memilukan meninggalnya seorang warga lanjut usia (lansia) di posko pengungsian Dupantex, Kecamatan Tirto.

Peristiwa ini menjadi sorotan tajam di tengah kondisi banjir yang telah merendam wilayah Pekalongan sejak 17 Januari 2026 dan hingga kini—memasuki hari ke-23—belum sepenuhnya surut.

Alarm Lemahnya Mitigasi

Ketua PC IMM Pekalongan, Muhammad Haidar, menilai tragedi meninggalnya warga di pengungsian merupakan alarm serius atas lemahnya mitigasi bencana dan perlindungan terhadap kelompok rentan.

“Korban jiwa di pengungsian menunjukkan bahwa penanganan banjir tidak bisa lagi sekadar respons darurat. Harus ada langkah struktural, ilmiah, dan berkelanjutan,” tegas Haidar saat memberikan keterangan pada Senin (9/2/2026).

IMM menyoroti kondisi pengungsian yang terbatas, layanan kesehatan yang belum optimal, serta lamanya masa tanggap darurat yang justru memperparah penderitaan masyarakat terdampak.

Dorong Inovasi Teknologi dan Solusi Struktural

IMM Pekalongan mendesak pemerintah daerah agar tidak hanya memberikan bantuan logistik, tetapi mulai berani menggunakan inovasi kebijakan berbasis sains dan teknologi. Beberapa poin langkah konkret yang diusulkan antara lain:

  1. Modifikasi Cuaca: Mengelola awan saat curah hujan ekstrem bekerja sama dengan BMKG dan lembaga riset.

  2. Infrastruktur Terpadu: Pembangunan kolam retensi dan sistem drainase yang terintegrasi.

  3. Normalisasi Sungai: Dilakukan secara berkelanjutan di wilayah rawan.

  4. Tata Ruang: Penataan ruang yang berbasis pada mitigasi bencana.

  5. Peringatan Dini (EWS): Sistem yang terintegrasi hingga tingkat desa.

Menurut IMM, teknologi modifikasi cuaca merupakan solusi taktis jangka pendek untuk mengurangi beban hujan, sementara pembenahan tata kelola lingkungan adalah harga mati untuk solusi jangka panjang.

Standar Pengungsian Harus Manusiawi

Selain masalah teknis, Haidar menekankan pentingnya peningkatan standar pengungsian yang lebih manusiawi. Terutama bagi lansia, anak-anak, dan kelompok rentan lainnya dengan menjamin ketersediaan sanitasi, layanan kesehatan siaga, dan distribusi logistik yang merata.

“Tragedi Dupantex harus menjadi titik balik. Pemerintah tidak bisa lagi bekerja dengan pola lama. Dibutuhkan roadmap penanggulangan banjir yang jelas, terukur, dan berani memanfaatkan teknologi,” pungkas Haidar.

IMM Pekalongan menyatakan komitmennya untuk terus mengawal kebijakan ini serta terlibat aktif dalam gerakan kemanusiaan dan advokasi publik agar bencana tahunan ini tidak terus berulang tanpa solusi nyata.

Pewarta: Nanang Fahrudin

Editor: Buono

Terkait
59 rumah tersapu angin puting beliung di Bojongnangka Pemalang

Pemalang, Wartadesa. -  59 rumah di Desa Bojongnangka Kec/Kab. Pemalang, Jawa Tengah rusak ringan hingga parah akibat tersapu angin puting Read more

Gudang oven pabrik kayu lapis di Karanganyar ludes terbakar

Karanganyar, Wartadesa. - Gudang Oven Kayu Lapis PT Duta Albasy di Jalan Raya Kulu Asri, Desa Kulu Kecamatan Karanganyar Kab. Read more

Rusak, Jalan Raya Ketitang-Sedayu dikeluhkan warga

Bojong, Wartadesa. - Kerusakan Jalan Raya Ketitang (Bojong) - Sedayu (Wonopronggo) dibeberapa titik dikeluhkan warga, musim penghujan menambah kondisi jalan Read more

Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

selengkapnya
BencanaKesehatanLayanan Publik

Warga Tirto “Ngamuk” di Tengah Banjir: Tuntut Camat Mundur dan Kecam Pernyataan Wakil Bupati

template berita foto warta desa(7)

PEKALONGAN, WARTA DESA. – Suasana di halaman Kantor Kecamatan Tirto memanas hari ini, Senin (9/2/2026). Ratusan warga dari Desa Karangjompo, Tegaldowo, dan Mulyorejo nekat menerjang genangan air yang masih merendam wilayah tersebut untuk menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran.

Aksi ini dipicu oleh keputusasaan warga yang telah terjebak banjir selama lebih dari 23 hari tanpa penanganan yang memadai dari Pemerintah Kabupaten Pekalongan.

Statistik “Kaji” Wakil Bupati Picu Amarah

Kemarahan massa semakin tersulut menyusul pernyataan Wakil Bupati Pekalongan, Sukirman, di media massa yang menyebut bahwa bencana di Pekalongan Utara masih akan “dikaji”. Pernyataan ini dianggap sebagai penghinaan bagi warga yang tengah bertaruh nyawa di tengah banjir.

“Pernyataan bahwa bencana ini akan ‘dikaji’ itu artinya tidak ada perhatian serius. Pemerintah seolah enggan menetapkan status darurat bencana padahal nyawa warga sudah jadi taruhan!” tegas salah satu koordinator aksi di lokasi.

Kekecewaan warga semakin lengkap karena Bupati Fadia Arafiq dan Sekda memilih tidak hadir menemui massa, yang memicu tudingan bahwa pejabat daerah hanya peduli saat butuh suara di masa pemilihan.

7 Tuntutan Utama Massa Aksi

Dalam audiensi yang berlangsung emosional, warga menyampaikan poin-poin tuntutan yang harus segera dipenuhi oleh pemerintah:

  1. Pembangunan Rumah Pompa Permanen: Sebagai solusi jangka panjang banjir.

  2. Perbaikan Alat: Memastikan seluruh infrastruktur penyedot air berfungsi maksimal.

  3. Penguatan Tanggul Sengkarang: Memperbaiki titik-titik tanggul yang rawan jebol dan membahayakan pemukiman.

  4. Posko Darurat: Penyediaan posko kesehatan dan logistik yang layak bagi pengungsi.

  5. Bahan Bakar Pompa: Warga mengecam adanya mobil pompa yang mangkrak tidak jalan hanya karena tidak ada anggaran bahan bakar.

  6. Camat Tirto Mundur: Massa menuntut Camat Tirto meletakkan jabatan karena dinilai acuh tak acuh dan gagal berkomunikasi dengan warga selama bencana.

  7. Surat Pernyataan Kesepakatan: Warga menolak sekadar diskusi dan menuntut dokumen tertulis yang sah atas kesepakatan hari ini.

Duka yang Terabaikan

Warga mengingatkan bahwa kelalaian pemerintah telah memakan korban jiwa, yakni seorang lansia meninggal di pengungsian Dupantex dan seorang relawan yang gugur diduga karena kelelahan. Selain itu, sektor ekonomi batik dan konveksi dilaporkan rugi hingga miliaran rupiah, sementara pendidikan anak-anak lumpuh total.

Hingga siang ini, warga masih bertahan di lokasi dan mendesak agar ada hitam di atas putih terkait tuntutan mereka sebelum membubarkan diri. ***

Pewarta: Andi Purwandi

Editor: Buono

Terkait
59 rumah tersapu angin puting beliung di Bojongnangka Pemalang

Pemalang, Wartadesa. -  59 rumah di Desa Bojongnangka Kec/Kab. Pemalang, Jawa Tengah rusak ringan hingga parah akibat tersapu angin puting Read more

Gudang oven pabrik kayu lapis di Karanganyar ludes terbakar

Karanganyar, Wartadesa. - Gudang Oven Kayu Lapis PT Duta Albasy di Jalan Raya Kulu Asri, Desa Kulu Kecamatan Karanganyar Kab. Read more

Rusak, Jalan Raya Ketitang-Sedayu dikeluhkan warga

Bojong, Wartadesa. - Kerusakan Jalan Raya Ketitang (Bojong) - Sedayu (Wonopronggo) dibeberapa titik dikeluhkan warga, musim penghujan menambah kondisi jalan Read more

Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

selengkapnya
BencanaKesehatanLayanan Publik

Bupati Tak Muncul, Warga Tirto Kecewa Berat: “Kalau Mau Pilihan Saja Fotonya Dipajang”

template berita foto warta desa(6)

PEKALONGAN, Warta Desa – Suasana audiensi di Kantor Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, Senin (09/02/2026) berlangsung panas dan penuh emosi. Ratusan warga dari Desa Karangjompo, Tegaldowo, dan Mulyorejo yang telah 23 hari terendam banjir meluapkan kekecewaannya lantaran Bupati Pekalongan, Fadia Arafiq, dan Sekretaris Daerah (Sekda) tidak hadir menemui massa aksi.

Ketidakhadiran pimpinan daerah ini dinilai sebagai bentuk ketidakpedulian terhadap penderitaan warga yang wilayahnya kini berubah menjadi lautan air.

Kritik Pedas untuk DPRD dan Camat

Dalam audiensi yang terekam oleh pewarta Warta Desa, Andi Purwandi, salah seorang perwakilan warga Desa Mulyorejo menyampaikan orasi yang menggetarkan. Ia menyentil anggota DPRD Kabupaten Pekalongan yang dianggap hanya datang saat membutuhkan suara.

“Selama ini DPRD jarang ke Desa Mulyorejo. Hanya kalau mau pilihan (Pemilu) saja fotonya dikeluarkan. Tapi sampai sekarang belum pernah datang melihat kami yang jemur (kebanjiran),” cetus warga tersebut di hadapan pejabat kecamatan.

Kritik tajam juga diarahkan kepada Camat Tirto yang baru. Warga menilai sang Camat bersikap acuh tak acuh dan tidak pernah berkomunikasi atau turun langsung memantau kondisi warga yang terdampak banjir. Bahkan, warga secara terang-terangan meminta agar Camat tersebut mundur jika tidak mampu menjalankan tugasnya dengan baik.

Dampak Ekonomi Miliaran dan Pendidikan Lumpuh

Selain masalah kesehatan, warga memaparkan dampak ekonomi yang sangat masif. Sektor industri rumah tangga yang menjadi napas ekonomi warga Tirto kini mati total.

  • Ekonomi: Kerugian pengusaha batik dan konveksi ditaksir mencapai miliaran rupiah karena produksi terhenti selama 22-23 hari.

  • Pendidikan: Anak-anak sekolah sudah tidak bisa belajar di gedung sekolah selama lebih dari tiga minggu.

  • Kesehatan: Banyak lansia dan anak-anak yang mulai jatuh sakit, termasuk cucu salah satu orator yang dikabarkan sudah sakit selama satu minggu akibat lingkungan yang kotor dan lembap.

Tuntut Perbaikan Tanggul dan Status Darurat

Warga mendesak pemerintah segera memperbaiki tanggul di sisi utara Pantura arah Desa Mulyorejo yang kondisinya kritis. Debit air yang deras dikhawatirkan akan menjebol tanggul dan memperparah bencana.

“Kalau memang Bupati atau ASN tidak percaya, suruh tidur di sana satu malam saja. Biar mereka menyaksikan dan menikmati sendiri kehidupan kami di tengah banjir,” tantang warga dengan nada emosional.

Hingga berita ini diturunkan, massa masih menuntut kepastian langkah konkret dari pemerintah kabupaten, termasuk penetapan Status Darurat Bencana agar penanganan bisa dilakukan secara menyeluruh dan memadai, mengingat sebelumnya telah jatuh korban jiwa baik dari kalangan lansia di pengungsian maupun relawan. ***

Pewarta: Andi Purwandi

Editor: Buono

Terkait
59 rumah tersapu angin puting beliung di Bojongnangka Pemalang

Pemalang, Wartadesa. -  59 rumah di Desa Bojongnangka Kec/Kab. Pemalang, Jawa Tengah rusak ringan hingga parah akibat tersapu angin puting Read more

Gudang oven pabrik kayu lapis di Karanganyar ludes terbakar

Karanganyar, Wartadesa. - Gudang Oven Kayu Lapis PT Duta Albasy di Jalan Raya Kulu Asri, Desa Kulu Kecamatan Karanganyar Kab. Read more

Rusak, Jalan Raya Ketitang-Sedayu dikeluhkan warga

Bojong, Wartadesa. - Kerusakan Jalan Raya Ketitang (Bojong) - Sedayu (Wonopronggo) dibeberapa titik dikeluhkan warga, musim penghujan menambah kondisi jalan Read more

Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

selengkapnya
BencanaBerita Desa

Waspada! Longsor Batu Terjang Pemukiman Desa Bubak Pekalongan, Polisi Siaga di Lokasi

template berita foto warta desa

PEKALONGAN, Warta Desa.  – Kepanikan melanda warga Desa Bubak, Kecamatan Kandangserang, Kabupaten Pekalongan pada malam hari setelah material batu besar dan tanah longsor menerjang kawasan pemukiman. Peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba ini mengakibatkan akses jalan setapak di sekitar rumah penduduk tertutup total oleh material longsoran.

Longsoran tersebut diduga kuat terjadi akibat kondisi tanah yang labil setelah wilayah tersebut diguyur hujan dengan intensitas tinggi. Dalam suasana gelap dan medan yang licin, material berupa batu berukuran besar tampak berserakan sangat dekat dengan dinding rumah warga, sehingga meningkatkan risiko bagi keselamatan penduduk setempat.

Merespons kejadian tersebut, petugas kepolisian bersama warga segera melakukan peninjauan di lokasi untuk memastikan situasi tetap terkendali. Dalam koordinasi di lapangan, anggota kepolisian memberikan instruksi kepada warga untuk tetap waspada terhadap potensi longsor susulan, mengingat cuaca yang masih belum menentu. Petugas juga memeriksa titik-titik rawan guna memetakan potensi bahaya yang lebih luas.

Hingga saat ini, belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa maupun total kerugian materiil akibat bencana tersebut. Penanganan awal difokuskan pada pengamanan area dan pemantauan pergerakan tanah, sementara pembersihan material menggunakan alat berat masih dikoordinasikan lebih lanjut dengan pihak terkait.

“Warga yang tinggal di daerah rawan longsor, terutama yang berdekatan dengan tebing, diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra saat hujan turun dengan intensitas tinggi,” ujar petugas di lapangan.

Warga yang bermukim di daerah perbukitan dan tebing diimbau untuk selalu waspada, terutama saat hujan lebat turun dalam durasi yang lama. Pihak berwenang diharapkan segera melakukan langkah mitigasi dan pembersihan material agar akses transportasi warga Desa Bubak dapat kembali normal. ***

Pewarta: Andi Purwandi

Editor: Buono

Terkait
59 rumah tersapu angin puting beliung di Bojongnangka Pemalang

Pemalang, Wartadesa. -  59 rumah di Desa Bojongnangka Kec/Kab. Pemalang, Jawa Tengah rusak ringan hingga parah akibat tersapu angin puting Read more

Gudang oven pabrik kayu lapis di Karanganyar ludes terbakar

Karanganyar, Wartadesa. - Gudang Oven Kayu Lapis PT Duta Albasy di Jalan Raya Kulu Asri, Desa Kulu Kecamatan Karanganyar Kab. Read more

Longsor, ruas jalan Lebakbarang-Karanganyar tertutup batu

Lebakbarang, Wartadesa. - Akibat hujan yang mengguyur wilayah Lebakbarang, ruas jalan Lebakbarang-Karanganyar, terjadi longsor yang menutup ruas jalan di dua Read more

Akses jalan Lebakbarang-Karanganyar sudah bisa dilalui

Lebakbarang, Wartadesa. - Kerjabakti atau gotong-royong antara warga, pihak Koramil, Polsek Lebakbarang dan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Pekalongan membuahkan Read more

selengkapnya
BencanaBerita Desa

Suara Gemuruh Tebing Wadas Kebo Longsor Gegerkan Warga Kandangserang

template berita foto warta desa(3)

KANDANGSERANG, WARTA DESA – Warga Kecamatan Kandangserang, Kabupaten Pekalongan, sempat dilanda kepanikan hebat pada Rabu malam (4/2/2026). Suara gemuruh misterius yang menggelegar sekitar pukul 20.30 WIB membuat masyarakat berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.

Kerasnya suara tersebut dilaporkan terdengar hingga ke wilayah pinggiran Kecamatan Paninggaran, tepatnya di Desa Binangun dan sekitarnya. Kejadian ini menambah ketegangan warga, mengingat hanya berselang dua hari sebelumnya, wilayah tersebut sempat digegerkan oleh peristiwa penemuan warga hanyut dalam kondisi meninggal dunia di Dukuh Harjosari.

Sumber Suara Terungkap

Setelah sempat menjadi tanda tanya besar semalaman, kepastian penyebab suara tersebut akhirnya terungkap pada Kamis (5/2/2026) pagi. Berdasarkan hasil penelusuran di lapangan, sumber suara berasal dari Tebing Wadas Kebo yang mengalami longsor.

Material berupa bongkahan batu besar dan tanah yang runtuh dari ketinggian menimbulkan dentuman keras yang merambat hingga ke desa-desa tetangga.

“Suaranya sangat keras, warga takut terjadi apa-apa jadi langsung keluar rumah. Apalagi sebelumnya baru ada kejadian orang hanyut,” ujar salah satu warga setempat.

Kondisi Terkini dan Imbauan

Pihak berwenang mengonfirmasi bahwa dalam peristiwa longsornya Tebing Wadas Kebo ini:

  • Korban Jiwa: Nihil (Tidak ada).

  • Kerusakan Rumah: Tidak ada laporan kerusakan bangunan warga.

  • Lokasi: Material longsor jatuh jauh dari pemukiman penduduk.

Meskipun tidak ada kerusakan materiel, masyarakat diimbau untuk tetap meningkatkan kewaspadaan. Mengingat cuaca yang tidak menentu, potensi longsor susulan di area tebing masih mungkin terjadi, terutama saat hujan turun dengan intensitas tinggi dalam durasi lama. ***

Pewarta: Andi Purwandi

Terkait
59 rumah tersapu angin puting beliung di Bojongnangka Pemalang

Pemalang, Wartadesa. -  59 rumah di Desa Bojongnangka Kec/Kab. Pemalang, Jawa Tengah rusak ringan hingga parah akibat tersapu angin puting Read more

Gudang oven pabrik kayu lapis di Karanganyar ludes terbakar

Karanganyar, Wartadesa. - Gudang Oven Kayu Lapis PT Duta Albasy di Jalan Raya Kulu Asri, Desa Kulu Kecamatan Karanganyar Kab. Read more

Longsor, ruas jalan Lebakbarang-Karanganyar tertutup batu

Lebakbarang, Wartadesa. - Akibat hujan yang mengguyur wilayah Lebakbarang, ruas jalan Lebakbarang-Karanganyar, terjadi longsor yang menutup ruas jalan di dua Read more

Akses jalan Lebakbarang-Karanganyar sudah bisa dilalui

Lebakbarang, Wartadesa. - Kerjabakti atau gotong-royong antara warga, pihak Koramil, Polsek Lebakbarang dan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Pekalongan membuahkan Read more

selengkapnya
BencanaBerita DesaLingkungan

Kemandirian dan Gotong Royong Desa Gentinggunung dalam Menghadapi Ancaman Banjir Bandang Pasca Longsor Lereng Gunung Prau

template berita foto warta desa

Sukorejo, Warta Desa, – Kawasan perbukitan yang hijau di lereng Gunung Prau, tepatnya di wilayah administrasi Desa Gentinggunung, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal, kini sedang berada dalam kewaspadaan tinggi pasca terjangan cuaca ekstrem yang memicu bencana alam pada akhir Januari 2026 ini. Hujan deras dengan intensitas yang sangat tinggi disertai hembusan angin kencang dilaporkan telah mengguyur seluruh wilayah Kecamatan Sukorejo tanpa henti sejak siang hari, mulai pukul 13.00 WIB, hingga memasuki waktu malam. Puncak dari tekanan cuaca ekstrem tersebut terjadi pada hari Jumat, tanggal 23 Januari 2026, sekitar pukul 18.15 WIB, di mana tebing-tebing curam yang berada di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Terong tidak lagi mampu menahan beban air dan akhirnya luruh dalam bentuk tanah longsor. Berdasarkan hasil tinjauan lapangan dan laporan resmi dari warga setempat, teridentifikasi sedikitnya ada empat titik longsoran besar yang terjadi secara bersamaan di lereng gunung tersebut.

Peristiwa alam ini membawa dampak kerugian material yang signifikan bagi keberlangsungan hidup masyarakat di dua desa sekaligus, yakni Desa Gentinggunung dan Desa Tamanrejo. Dalam dokumen laporan kejadian bencana dengan nomor resmi 360/070/1/2026 yang diterbitkan oleh Pemerintah Desa Gentinggunung, dirincikan bahwa infrastruktur vital berupa jalur distribusi air bersih mengalami kerusakan parah. Sebanyak tiga rol pipa air bersih utama milik Desa Gentinggunung hancur tertimbun material, sementara instalasi air bersih yang melayani warga Desa Tamanrejo juga dilaporkan putus total. Estimasi total kerugian yang harus ditanggung akibat kerusakan aset-aset fisik ini diprediksi mencapai angka Rp150.000.000,- (seratus lima puluh juta rupiah). Meskipun kerugian harta benda tergolong besar, pihak pemerintah desa menyatakan rasa syukur karena dalam musibah ini dilaporkan nihil korban jiwa maupun luka-luka.

Namun, ancaman yang jauh lebih besar kini justru sedang mengintai di masa depan apabila penanganan pasca bencana tidak dilakukan secara cepat dan tepat. Tanah longsor tersebut membawa ribuan meter kubik material berupa batu-batu besar dan pepohonan kayu yang tumbang, yang saat ini menumpuk dan menyumbat total aliran air di sungai Terong. Penumpukan material ini menciptakan sebuah bendungan alami yang sangat rapuh dan berbahaya. Jika dibiarkan, tumpukan kayu dan batu tersebut dikhawatirkan akan memicu terjadinya bencana banjir bandang yang jauh lebih destruktif apabila volume air sungai kembali meningkat secara mendadak. Kesadaran akan risiko sistemik ini menjadi landasan kuat bagi Pemerintah Desa Gentinggunung untuk segera mengambil langkah-langkah darurat yang bersifat preventif dan mobilisasi massa.

Menanggapi situasi kritis tersebut, Kepala Desa Gentinggunung, Rudi Darmawan, bergerak cepat dengan menyelenggarakan rapat koordinasi penting pada hari Senin, 2 Februari 2026. Pertemuan strategis yang diadakan di Balai Desa Gentinggunung ini dihadiri oleh berbagai elemen pemangku kepentingan, mulai dari Camat Sukorejo, perwakilan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kendal, hingga personel Babinkamtibmas. Selain unsur pemerintahan, keterlibatan aktif dari organisasi kepemudaan Karangtaruna, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), serta para Relawan Siaga Bencana Desa Gentinggunung menunjukkan adanya sinergi yang kuat dalam menghadapi krisis ini. Forum tersebut secara khusus membahas penyusunan rencana tindak lanjut yang fokus pada pembersihan material longsor dari aliran sungai secepat mungkin.

Dalam rapat koordinasi tersebut, tercapai sebuah kesepakatan besar untuk melaksanakan aksi nyata berupa kerja bakti massal yang akan digelar pada hari Kamis, tanggal 5 Februari 2026. Kegiatan pembersihan sungai secara besar-besaran ini dijadwalkan dimulai sejak pukul 07.00 WIB dengan melibatkan ratusan orang yang terdiri dari perangkat desa, tim relawan, petugas BPBD, aparat keamanan, hingga warga masyarakat luas yang secara sukarela ingin membantu. Tantangan utama dalam aksi ini adalah banyaknya batang pohon kayu yang berukuran sangat besar dan saling mengunci di dasar sungai, sehingga pembersihan secara manual dengan tangan kosong dianggap tidak mungkin dilakukan dalam waktu singkat. Oleh karena itu, Pemerintah Desa Gentinggunung telah menginventarisir kebutuhan peralatan teknis dan menyimpulkan bahwa diperlukan dukungan sedikitnya 30 unit mesin pemotong kayu atau senso beserta tenaga operator ahli untuk turun ke lapangan.

Langkah birokrasi juga terus ditempuh oleh Rudi Darmawan demi memastikan aksi penyelamatan sungai ini mendapatkan dukungan logistik dan keamanan yang memadai. Sebuah surat laporan resmi telah dilayangkan langsung kepada Bupati Kendal, dengan tembusan yang mencakup berbagai instansi terkait seperti Satpol Damkar Kabupaten Kendal, Kantor Kesbangpol, hingga Ketua Cabang PMI Kabupaten Kendal. Melalui koordinasi lintas sektoral ini, diharapkan kebutuhan akan akomodasi bagi para tenaga sukarelawan dan kelengkapan alat berat tambahan dapat segera terpenuhi. Pemerintah desa menegaskan bahwa transparansi laporan dan akurasi data kerugian sangat penting agar bantuan yang turun nantinya tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan riil di titik-titik longsor lereng Gunung Prau tersebut.

Semangat gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Desa Gentinggunung kini sedang diuji melalui rencana pembersihan sungai Terong ini. Melalui pemberitahuan resmi dan seruan partisipasi publik, warga diharapkan dapat bahu-membahu menyukseskan agenda hari Kamis mendatang demi mengamankan jalur air dan mencegah terjadinya bencana yang lebih buruk. Keberhasilan dalam membersihkan sumbatan sungai ini bukan hanya soal memulihkan kondisi alam, tetapi juga tentang menjaga harga diri dan keselamatan bersama sebagai masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana. Dengan sinergi antara pemerintah, relawan, dan warga, Desa Gentinggunung bertekad untuk membuktikan bahwa kesiapsiagaan dan ketegasan dalam bertindak adalah kunci utama dalam menghadapi tantangan alam yang kian tak menentu.***

Pewarta: Andi Gunawan

Editor: Buono

Terkait
59 rumah tersapu angin puting beliung di Bojongnangka Pemalang

Pemalang, Wartadesa. -  59 rumah di Desa Bojongnangka Kec/Kab. Pemalang, Jawa Tengah rusak ringan hingga parah akibat tersapu angin puting Read more

Gudang oven pabrik kayu lapis di Karanganyar ludes terbakar

Karanganyar, Wartadesa. - Gudang Oven Kayu Lapis PT Duta Albasy di Jalan Raya Kulu Asri, Desa Kulu Kecamatan Karanganyar Kab. Read more

Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

Longsor, ruas jalan Lebakbarang-Karanganyar tertutup batu

Lebakbarang, Wartadesa. - Akibat hujan yang mengguyur wilayah Lebakbarang, ruas jalan Lebakbarang-Karanganyar, terjadi longsor yang menutup ruas jalan di dua Read more

selengkapnya
BencanaBerita DesaHukum & KriminalLingkungan

Emak Bergerak Kembali Turun ke Jalan: Perjalanan Moral dari Brebes ke Tegal Demi Menyelamatkan Gunung Slamet

Selection_018

BUMIAYU, WARTA DESA, 2 Februari 2026 – Semangat membara kembali ditunjukkan oleh sekelompok ibu rumah tangga yang menamakan diri mereka “Emak Bergerak”. Hari ini, Senin (2/2), sebanyak 17 emak tangguh dari Desa Adisana, Kabupaten Brebes, kembali melancarkan aksi nyata demi membela kehidupan dan masa depan anak cucu mereka dari ancaman bencana ekologis.

Sekitar pukul 10.00 WIB, massa berkumpul di Gang Badrun, Desa Adisana, Kecamatan Bumiayu. Dengan niat tulus dan modal swadaya (urunan) untuk menyewa sebuah mobil bak terbuka, mereka memulai perjalanan menuju Desa Bojong, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal.

Misi Penyelamatan Alam yang Terluka

Aksi ini bukan sekadar seremoni biasa, melainkan kelanjutan dari keprihatinan mendalam atas kerusakan alam di Gunung Slamet. Kerusakan hutan di hulu dinilai menjadi penyebab utama banjir bandang yang kerap menghantam Desa Adisana, Dukuhturi, Kalierang, dan wilayah sekitarnya.

Sambil membentangkan spanduk berisi pesan penyelamatan lingkungan yang akan dipasang di Desa Bojong, para ibu ini membawa pesan moral yang kuat: hutan yang digunduli dan eksploitasi berlebihan adalah ancaman nyata bagi nyawa warga.

“Kami melangkah dengan keyakinan dan harapan. Insyaallah Semestakung—Semesta pasti mendukung niat baik kami,” ujar Ibu Dewi Namara, Koordinator Lapangan Emak Bergerak, dengan penuh optimisme.

Dua Tuntutan Tegas

Dalam aksinya kali ini, Emak Bergerak menyuarakan dua poin krusial yang ditujukan kepada pemerintah dan aparat:

  1. Pembangunan Tanggul Mendesak: Mendesak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS/BBWSDA) untuk segera merealisasikan pembangunan tanggul di Kali Keruh dan Kali Erang Pagenjahan. Kondisi aliran Sungai Keruh yang berbelok saat ini menjadi pemicu utama banjir bandang yang telah menelan korban jiwa di Desa Kalierang.

  2. Penegakan Hukum Tanpa Kompromi: Meminta tindakan tegas dari aparat penegak hukum terhadap para pelaku perusakan hutan di Gunung Slamet yang menjadi akar masalah bencana.

Inspirasi dari Lereng Gunung

Aksi ini membuktikan bahwa keberanian melindungi alam tidak mengenal batas usia. Dari Adisana hingga Bojong, suara para ibu ini adalah suara perlindungan bagi keluarga dan generasi mendatang.

Gerakan ini diharapkan menjadi pemantik bagi para ibu di seluruh lereng Gunung Slamet—mulai dari Brebes, Tegal, Purbalingga, Pemalang, hingga Banyumas—untuk bersatu melawan keserakahan manusia yang merusak hutan dan menyebabkan kesengsaraan bagi rakyat kecil.

Langkah kecil dari Desa Adisana hari ini adalah pengingat keras bagi para pemangku kebijakan bahwa gunung yang terluka tidak akan pernah diam, dan para ibu tidak akan berhenti bergerak hingga kelestarian alam kembali pulih. ***

Laporan: Hendri Yetus (HY)

Editor: Buono

Terkait
Gunung Slamet Terluka, “Emak Bergerak” Adisana Kembali Turun ke Jalan Menuju Tegal

BUMIAYU, WARTA DESA – Semangat pantang menyerah kembali ditunjukkan oleh kelompok "Emak Bergerak" dari Desa Adisana, Kabupaten Brebes. Hari ini, Read more

selengkapnya
BencanaBerita DesaLingkungan

Gunung Slamet Terluka, “Emak Bergerak” Adisana Kembali Turun ke Jalan Menuju Tegal

template berita foto warta desa

BUMIAYU, WARTA DESA – Semangat pantang menyerah kembali ditunjukkan oleh kelompok “Emak Bergerak” dari Desa Adisana, Kabupaten Brebes. Hari ini, Senin (2/2/2026), sebanyak 17 ibu rumah tangga berangkat melakukan perjalanan moral menuju Desa Bojong, Kabupaten Tegal, sebagai bentuk protes atas kerusakan alam di Gunung Slamet yang kian parah.

Dengan modal swadaya (urunan) untuk menyewa mobil bak terbuka, para emak ini berangkat dari Gang Badrun, Desa Adisana, sekitar pukul 09.00 WIB. Mereka membawa misi penting: memasang spanduk peringatan di wilayah Bojong demi mengingatkan publik akan ancaman nyata banjir bandang yang terus mengintai pemukiman mereka.

Perjalanan Moral demi Anak Cucu

Aksi ini merupakan kelanjutan dari aksi jalan kaki yang sebelumnya digelar pada Jumat (30/1/2026) lalu. Kerusakan hutan di lereng Gunung Slamet akibat eksploitasi dan penebangan liar dinilai menjadi biang keladi banjir yang kerap merendam Desa Adisana, Dukuhturi, hingga Kalierang.

“Kami melangkah dengan keyakinan dan harapan. Insyaallah Semestakung, semesta pasti mendukung niat baik kami,” ujar Ibu Dewi Namara, Koordinator Lapangan Emak Bergerak, dengan nada optimis.

Dua Tuntutan Utama

Dalam aksi kali ini, kelompok Emak Bergerak membawa dua tuntutan konkret yang ditujukan kepada pemangku kebijakan:

  1. Pembangunan Tanggul Darurat: Mendesak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS/BBWSDA) untuk segera merealisasikan pembangunan tanggul di Kali Keruh dan Kali Erang Pagenjahan. Beloknya aliran Sungai Keruh akibat ketiadaan tanggul permanen dituding sebagai penyebab utama banjir bandang yang telah memakan korban jiwa.

  2. Tindak Tegas Perusak Hutan: Meminta aparat penegak hukum untuk menindak tanpa pandang bulu para pelaku perusakan hutan di Gunung Slamet yang memicu bencana ekologis.

Suara dari Lereng Gunung

Perjalanan dari Brebes menuju Tegal ini bukan sekadar seremoni pemasangan spanduk, melainkan sebuah seruan bagi seluruh ibu di wilayah lereng Gunung Slamet—termasuk Purbalingga, Pemalang, dan Banyumas—untuk bersatu menjaga alam.

Para emak ini menegaskan bahwa mereka tidak akan tinggal diam melihat hutan digunduli oleh tangan-tangan serakah yang hanya mementingkan keuntungan pribadi namun menyengsarakan rakyat kecil. Suara mereka adalah suara perlindungan bagi masa depan generasi mendatang agar tidak lagi dihantui ketakutan setiap kali hujan lebat turun. ***

Laporan: Hendi Yetus / Redaksi

Terkait
59 rumah tersapu angin puting beliung di Bojongnangka Pemalang

Pemalang, Wartadesa. -  59 rumah di Desa Bojongnangka Kec/Kab. Pemalang, Jawa Tengah rusak ringan hingga parah akibat tersapu angin puting Read more

Gudang oven pabrik kayu lapis di Karanganyar ludes terbakar

Karanganyar, Wartadesa. - Gudang Oven Kayu Lapis PT Duta Albasy di Jalan Raya Kulu Asri, Desa Kulu Kecamatan Karanganyar Kab. Read more

Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

Longsor, ruas jalan Lebakbarang-Karanganyar tertutup batu

Lebakbarang, Wartadesa. - Akibat hujan yang mengguyur wilayah Lebakbarang, ruas jalan Lebakbarang-Karanganyar, terjadi longsor yang menutup ruas jalan di dua Read more

selengkapnya
Bencana

LAZISMU KL Wiradesa Salurkan Bantuan ke Empat Titik Pengungsian

template berita foto warta desa

WIRADESA, WARTA DESA. – Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (LAZISMU) Kantor Layanan (KL) Wiradesa menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada warga terdampak bencana di empat titik pengungsian pada Senin (26/1/2026). Bantuan ini merupakan hasil donasi masyarakat yang dihimpun melalui lembaga tersebut sebagai bentuk aksi cepat tanggap.

Pentasarufan bantuan dilakukan secara merata di Posyan PCM Wonokerto, Balai Kelurahan Mayangan Kecamatan Wiradesa, Karang Jompo Kecamatan Tirto, dan Tegaldowo Kecamatan Tirto. Adapun bantuan yang disalurkan mencakup kebutuhan mendesak bagi para pengungsi, mulai dari minuman, roti dan makanan ringan untuk anak-anak, minyak angin, hingga obat-obatan dasar.

Distribusi Langsung ke Lokasi

Proses distribusi dilakukan dengan mendatangi langsung setiap lokasi pengungsian guna memastikan bantuan diterima secara tepat sasaran. Kegiatan ini didampingi oleh unsur Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Wiradesa.

Ketua LAZISMU KL Wiradesa, Slamet Fahrudin, menegaskan bahwa aksi ini adalah wujud nyata kepedulian masyarakat terhadap sesama. “Alhamdulillah, hari ini kami telah menyalurkan bantuan kebutuhan dasar. Ini adalah amanah dari para donatur yang kami salurkan secepat mungkin sesuai kebutuhan di lapangan,” jelas Slamet Fahrudin.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Kantor LAZISMU KL Wiradesa, Mustaqim, menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada para donatur. Menurutnya, partisipasi masyarakat dalam gerakan filantropi menjadi kekuatan utama dalam merespons krisis sosial dan bencana.

Dukungan Moril bagi Penyintas

Ketua PCA Wiradesa, Ummu Hanik, yang turut mendampingi proses penyaluran, menyebutkan bahwa bantuan disambut hangat oleh warga, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. “Kehadiran tim menjadi bentuk dukungan moril bagi para penyintas yang tengah menghadapi situasi sulit,” ungkap Ummu Hanik.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program respons kebencanaan berkelanjutan dari LAZISMU KL Wiradesa. Ke depan, lembaga ini berkomitmen untuk terus menggalang solidaritas guna membantu pemulihan kondisi warga, baik melalui bantuan logistik, layanan kesehatan, maupun pendampingan sosial. (Rossi)

Terkait
59 rumah tersapu angin puting beliung di Bojongnangka Pemalang

Pemalang, Wartadesa. -  59 rumah di Desa Bojongnangka Kec/Kab. Pemalang, Jawa Tengah rusak ringan hingga parah akibat tersapu angin puting Read more

Gudang oven pabrik kayu lapis di Karanganyar ludes terbakar

Karanganyar, Wartadesa. - Gudang Oven Kayu Lapis PT Duta Albasy di Jalan Raya Kulu Asri, Desa Kulu Kecamatan Karanganyar Kab. Read more

Longsor, ruas jalan Lebakbarang-Karanganyar tertutup batu

Lebakbarang, Wartadesa. - Akibat hujan yang mengguyur wilayah Lebakbarang, ruas jalan Lebakbarang-Karanganyar, terjadi longsor yang menutup ruas jalan di dua Read more

Akses jalan Lebakbarang-Karanganyar sudah bisa dilalui

Lebakbarang, Wartadesa. - Kerjabakti atau gotong-royong antara warga, pihak Koramil, Polsek Lebakbarang dan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Pekalongan membuahkan Read more

selengkapnya
Bencana

Aisyiyah Pemalang Dirikan Dapur Umum untuk Warga Terdampak Bencana di Pulosari

template berita foto warta desa(1)

Pemalang, Warta Desa. – Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kabupaten Pemalang melalui Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) resmi mendirikan dapur umum sebagai bentuk kepedulian terhadap warga yang terdampak bencana alam. Aksi kemanusiaan ini dilakukan berkolaborasi dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pemalang.

Ketua PDA Pemalang, Maesaroh, menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada seluruh relawan yang terlibat. Secara khusus, ia memuji dedikasi tim Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) wilayah selatan—meliputi Belik, Randudongkal, Warungpring, Watukumpul, dan Pulosari—yang telah bekerja keras secara bergantian mulai dari memasak, mengemas, hingga mendistribusikan makanan.

“Alhamdulillah, dengan semangat kebersamaan dan gotong royong, dapur umum Aisyiyah dapat terus beroperasi. Makanan siap saji telah dibagikan kepada warga terdampak di Desa Penakir, Kecamatan Pulosari, dan Desa Sima,” ujar Maesaroh.

Fokus pada Kebutuhan Dasar Penyintas

Maesaroh menambahkan bahwa peran relawan sangat krusial dalam memastikan kebutuhan dasar para penyintas, terutama konsumsi harian, tetap terpenuhi selama masa tanggap darurat bencana.

Selain memberikan bantuan tenaga, Maesaroh juga mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Pemalang, khususnya keluarga besar Aisyiyah dan Muhammadiyah, untuk turut meringankan beban para korban dengan menyalurkan donasi melalui Lazismu Pemalang.

“Kami mengajak seluruh warga untuk berdonasi melalui Lazismu Pemalang serta bersama-sama memanjatkan doa agar Kabupaten Pemalang segera pulih dan kondisi masyarakat kembali membaik,” pungkasnya.

Kegiatan dapur umum ini menjadi bukti nyata komitmen Aisyiyah dan Muhammadiyah dalam menjalankan aksi kemanusiaan serta memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat di tengah situasi sulit. (Redaksi)


Terkait
59 rumah tersapu angin puting beliung di Bojongnangka Pemalang

Pemalang, Wartadesa. -  59 rumah di Desa Bojongnangka Kec/Kab. Pemalang, Jawa Tengah rusak ringan hingga parah akibat tersapu angin puting Read more

Gudang oven pabrik kayu lapis di Karanganyar ludes terbakar

Karanganyar, Wartadesa. - Gudang Oven Kayu Lapis PT Duta Albasy di Jalan Raya Kulu Asri, Desa Kulu Kecamatan Karanganyar Kab. Read more

Longsor, ruas jalan Lebakbarang-Karanganyar tertutup batu

Lebakbarang, Wartadesa. - Akibat hujan yang mengguyur wilayah Lebakbarang, ruas jalan Lebakbarang-Karanganyar, terjadi longsor yang menutup ruas jalan di dua Read more

Akses jalan Lebakbarang-Karanganyar sudah bisa dilalui

Lebakbarang, Wartadesa. - Kerjabakti atau gotong-royong antara warga, pihak Koramil, Polsek Lebakbarang dan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Pekalongan membuahkan Read more

selengkapnya