close
Cerita Warga

Mbah Suto Sang Multi Talenta di Tengah Hutan

mbah suto

Oleh : Damar Senja Kelana

Kemelut
Hujan lebat mengguyur seluruh kampung. Angin berhembus cukup kencang mengibaskan daun-daun yang kuyub. Tak ada aktivitas manusia kecuali air mengalir dari genteng-genteng usang. Daaarr…….!!! Bukan petir. Tiba-tiba terdengar dari sebuah rumah di samping musala. Seperti suara pintu dibanting sekeras mungkin. Keluarlah sesosok laki-laki paruh baya dari rumah itu. Tak perduli hujan diterjang dengan raut wajah sangat marah. Suto, laki-laki itu biasa dipanggil oleh para tetangga. Kali ini sepertinya Suto sedang mengalami masalah dalam rumah tangga. Entah permasalahan apa yang membuat Suto pergi dari rumah.

Teriakan wanita juga terdengar, kelut-kemelut menyelimuti rumah yang terbuat dari kayu itu. Sang istri metenteng dan mencak-mencak di depan pintu. Kata-kata tak pantas dirudalkan ke arah Suto yang terus melaju.
Kaosnya mulai basah, sehingga jamur/tritipan kaos lusuh itu terlihat. Maklum kaos yang dipakainya telesan yang biasa dipakai berladang. Air juga mulai merembes di celananya yang compang-camping. Langkah Suto bertambah cepat, namun tak tahu arah dan tujuan.

Kemarahan kepada istrinya kali ini benar-benar memuncak, ia tak tahu harus bagaimana lagi mengatasinya. Selama ini dia sudah berusaha sabar menghadapi wanita yang sudah sepuluh tahun mendampingi. Dalam berumah tangga, sering sekali Suto dan istrinya cek-cok, bahkan untuk urusan yang sangat sepele.

Di ujung kampung terdapat pertigaan jalan. Arah kiri menuju hutan dan arah kanan menuju kampung sebelah. Langkahnya terhenti, pikirannya bingung harus berbelok kemana. Jika berbelok ke kanan, pasti akan ditertawakan oleh orang kampung sebelah. Karena dengan kondisi basah kuyub seperti ini. Namun, jika berbelok ke kiri akan sampai di hutan.

Hujan sedikit reda, namun hari semakin gelap ditambah kabut mulai turun. Dengan amarah yang masih membara, duduklah Suto di sebuah batu di bawah pohon asem. Tangannya memegang kepala, persis seperti orang habis kehilangan uang milyaran Rupiah. Dan berteriak.
“Aaaaahhh….”
Suto berteriak sekeras-kerasnya, meluapkan segala emosi di dadanya. Tangannya mengepal keras, namun tak ada sasaran untuk ditinju. Diulangnya teriakan berkali-kali, hingga perasaannya sedikit lega. Setelah puas berteriak, nafas terengah-engah, lalu berlahan mengaturnya. Menghirup nafas panjang dikeluarkan berlahan sehingga emosinya mulai
teredam.

Tetesan air membasahi pipi, sedangkan hujan sebenarnya sudah terhenti. Bukan air hujan, melainkan air mata. Dalam kegundahan hati, seorang laki-laki begundal pun takkan mampu membendungnya. Seperti halnya Suto yang lebih dikenal sebagai seorang berandalan di kampungnya.

Di pertigaan jalan dengan otak yang masih mendidih, tentunya pilihan sulit untuk menentukan pilihan belok kanan atau kiri. Batu yang ia duduki pun mestinya tak akan dapat memberinya petunjuk. Untung emosinya sudah mulai menurun, hingga Suto sedikit bisa berfikir jernih. Gelap mulai datang, meski dengan perasaan tak yakin, akhirnya Suto memilih untuk belok ke kiri menuju hutan.

Gubuk
Suara serangga malam mulai terdengar, dari jangkrik hingga kodok mengorek. Terkadang juga terdengar suara burung Hantu Celepuk Gunung yang seolah-oleh selalu membuntuti. Burung yang memiliki nama latin Otus spilocephalus dikenal juga dengan nama Mountain Scops Owl. Merupakan spesies burung hantu berukuran kecil yang hidup di daerah hutan pegunungan.

Jalan tanah yang licin dan berair tak menjadi halangan Suto terus berjalan. Tujuannya hanya satu, menenangkan diri dari apa yang terjadi di rumahnya. Langkah demi langkah, menit demi menit, tak terasa sudah berapa lama berjalan dan berapa jauh yang ia tempuh.Hawa dingin mulai terasa, ditambah pakain yang basah.

Suto merupakan warga yang hidup di desa daerah pegunungan, sehingga bukan begitu masalah dengan suhu udara rendah. Perut mulai keroncongan, sepulang dari ladang ia tak sempat makan, keburu bertengkar dengan istrinya. Pertengkaran yang sebenarnya sudah sangat bosan dirasakan. Tetapi kali ini sepertinya telah mengusik harga diri.

Putih suram-suram bergelantungan di pohon, besarnya setelapak tangan. Terlihat begitu memenuhi pohon yang tangkainya meliuk-liuk terkena angin. Suto teringat, sepertinya itu adalah pohon jambu biji. Yang putih-putih itu adalah plastik, digunakan untuk membungkus buah jambu supaya tidak dimakan lalat buah. Buah ini pernah menjanjikan harapan manis kepada para petani. Namun apa daya hukum pasar berkata lain, ketika produksi melimpah dan permintaan pasar sepi, harga pasti akan jatuh.

Perih perut tak tertahan lagi, jambu biji itu menjadi sasaran Suto. Bulat terbungkus plastik, kebanyakan buah nampak sudah mulai matang. Pohon yang tidak terlalu tinggi, memudahkannya memetik tanpa harus memanjat. Dilahabnya sebuah jambu matang, kulitnya kuning kehijauan dagingnya merah dan ditengahnya banyak biji-biji. Habis satu, nambah lagi entah berapa banyak yang ia makan, terpenting perutnya terisi.

Pohon jambu hanya sebatang itu adalah milik tetangga, sepertinya ditamam hanya untuk tombo pengin bukan untuk penghasilan. Memetik buah di kebun orang lain, merupakan perbuatan yang bisa dikatakan mencuri atau ngutil dalam istilah Jawa. Dalam pikiran Suto, seberapa lah nilainya sebuah jambu, hal biasa ia lakukan tanpa merasa berdosa.

Energi mulai terisi, tubuh mulai bangkit, tapi tujuan tak tahu. Mulai melangkah kembali dengan Kaki beralaskan sandal jepit usang bermerk burung. Jalan tanah menanjak, ditengahnya bekas roda sepeda motor membentuk seperti parit kecil. Air mengalir di parit selebar ban motor karena sehabis hujan. Setelah beberapa menit berjalan, di samping kanan jalan ada sebuah gubuk beratapkan plastik mulsa. Pagarnya anyaman bambu, tapi hanya separuh.
Dihampirinya gubuk itu, ada bangku terbuat dari bambu ukurannya sekitar satu setengah meter. Duduklah Suto, ternyata bangku sudah reot dimakan waktu.

Pikirannya masih melayang dan kalut, tak dihiraukannya baju dan celana basah. Dalam saku celananya terasa mengganjal, dirogohnya dengan tangan kanan keriput karena kedinginan. “Untung gowo lintingan” (untung membawa lintingan). Ternyata dalam sakunya adalah plastik bungkus permen mint, berisi tembakau, cengkeh, kertas sigaret dan korek.

Inilah barang yang selalu dibawa kemanapun ia pergi. Dua lembar kertas sigaret diambil dari slopnya, ditambah tembakau lalu cengkeh digelintir hingga menjadi bentuk kerucut panjang. Korek gas merah siap membakar pangkal kerucut yang ujung lancipnya sudah di bibir Suto.

Lintingan dihisap, asap dikeluarkan lewat hidung hingga mengebul. Terus berkali-kali, hingga karyanya itu habis terbakar. Pikiran terus terbayang kejadian tadi sore di rumah. Untuk pulang kembali ke istrinya, rasanya sudah muak sekali.

Malam semakin larut, diulangnya berkali-kali memproduksi dan membakar lintingan sampai tembakau hampir habis. Matanya semakin sepat, akhirnya Suto terlelap di banggu gubuk reot itu.


Hutan Lindung
Matahari muncul dari balik gunung Korib, warnanya merah seperti mata dewa. Burung0burung berkicau dengan riang, menyambut pagi penuh kebahagiaan. Kicauan paling santer terdengar burung Cekakak Jawa. Cekakak Jawa adalah spesies burung anggota marga Halcyon dari suku Halcyonidae. Burung ini merupakan burung pemakan serangga yang memiliki habitat di lahan terbuka, terutama dekat air bersih, tersebar sampai ketinggian 1.000 m dpl.
(Wikipedia)

Satu jam kemudian sinar matahari mulai terang dan hangat. Aktifitas masyarakat untuk mencari rizki dimulai. Para petani biasanya pergi ke ladang pagi – pagi buta, dan sampai ladang ketika matahari sudah agak tinggi. Jarak dari kampung ke ladang cukup jauh, sehingga membutuhkan waktu satu jam atau lebih jika berjalan kaki.

Suto masih terbuai dengan mimpinya di gubuk itu, kemungkinan besar adalah mimpi buruk. Karena kekacauan dalam pikirannya, pasti akan berpengaruh dalam alam bawah sadarnya. “Bangun kang!!” Pemilik ladang membangunkan Suto, ia kaget kok ada orang yang tidur di gubuknya. Nampaknya ia mengenal orang yang berbaring di bangku itu. Dari pakaian dan sosoknya ia sangat hafal.

“Kang Suto.. bangun kang!!” Berkali-kali Suto di bangunkan oleh petani yang bernama Madi, namun tak bergeming.
Sebenarya Madi tak ingin membangunkan Suto, tapi ada alat-alat berladang ia letakkan di bawah bangku. Sehingga mau tak mau harus membangunkannya. Alat-alat ladangnya memang biasa ia simpan di bawah bangku. Pinggir bangku tertutup rapat, hanya atas yang bisa dibuka untuk memasukkan dan mengeluarkan barang-barang. Ini cukup efektif sebagai kamuflase sehingga orang yang berniat mencuri tidak mengetahuinya.

Bersambung

Penulis adalah aktivis Garda Prau, tinggal di Kendal, Jawa Tengah.

Terkait
Warga Genting Gunung Prau tolak pemanfaatan mata air yang tidak kantongi PKS

Kendal, WartaDesa. - Warga Desa Genting Gunung, di lereng Gunung Prau, Sukorejo, Kendal menolak pemanfaatan mata air di wilayah Gunung Read more

Tiga remaja pendaki Gunung Prau dievakuasi, satu dalam kondisi lemas

BATANG, WARTADESA. - Tim relawan Bagana (Banser Tanggap Bencana) berhasil mengevakuasi tiga remaja asal Kecamtan Tersono, Batang yang berniat mendaki Read more

Masif Perusakan Hutan Gunung Prau, Warga Tulis Surat Terbuka

  • Kondisi Hutan Lindung Gunung Prau Kendal akibat alih fungsi tanaman semusim. Foto: An Rondi, Aktivis Lingkungan setempat
MASIFNYA perusakan hutan lindung Gunung Prau  oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung-jawab. Membuat An Rondi, salah seorang warga yang Read more

Keterusan Tinggal Di Hutan Lindung Gunung Prau, Mbah Suro Minta Waktu Pindah

SELASA kemarin (28/12/2021) petugas dari Perhutani RPH Kenjuran BKPH Candiroto KPH Kedu Utara diampingi oleh Kepala Desa Blumah, Kecamatan Plantungan, Read more

Tags : gunung praumbah Suto