close
Bencana

Tangani rob, Pemkot dan Pemkab Pekalongan jalin kerjasama dengan Dewan Air Belanda

penanganan rob
Jamuan makan malam delegasi Dewan Air Belanda bersama Bupati dan Walikota Pekalongan, Rabu (02/05)

Pekalongan, Wartadesa. – Untuk penanganan bencana rob, Pemerintah Kota dan Kabupaten Pekalongan menggandeng Dewan Air Belanda  (Dutch Water Authority), Rotterdam. Terkait kerjasama tersebut, delegasi dari DWA Belanda hadir di Pekalongan untuk melakukan kajian dan grub diskusi terbatas. Rabu (02/05).

DWA akan untuk melakukan rekayasa teknik dan rekayasa sosial sehingga pembangunan dan pengelolaan tanggul rob dapat memberikan manfaat yang optimal.

Bupati Pekalongan Asip Kholhihi,  menyampaikan pihaknya sudah membuat roadmap (peta jalan) penanganan banjir rob. Yang pertama dengan membangun tanggul melintang di Desa Mulyorejo. Yang fungsinya telah berhasil mengurangi permasalahan banjir rob yang ada di tiga desa, Mulyorejo, Tegaldowo, Karangjompo  diwilayah Kecamatan Tirto.

Kedua, tanggul melintang yang akan dibangun Balai Besar Wilyah Sungai (BBWS) Pemali Juwana dan yang ketiga menyiapkan sistem drainase lingkungan yang terhubung dengan sistem tanggul BBWS.” Kita berencana juga akan mengirimkan ASN/PNS untuk dapat belajar ke Dewan Air Belanda (DWA),” terang Bupati saat menghadiri jamuan makan malam, menyambut tamu dari Dewan Air Belanda (Dutch Water Authority), Rotterdam, di   Rumah Dinas Walikota Pekalongan. (04/05)

Fer Kelis, perwakilan DWA menyatakan bahwa pihaknya akan melakukakan kegiatan workshop penanganan banjir rob di Kabupaten dan Kota Pekalongan, pada tanggal 2 dan 3 Mei. “ Kami mempunyai pengalaman ratusan tahun dalam fight (menangani) air pasang. Dan itu yg akan dibagikan selama workshop dua hari ke depan,”terangnya.

Sementara itu, dalam grub diskusi terbatas yang digelar hari ini di Hotel Dafam Pekalongan, terungkap bahwa berdasarkan data dari Bappeda Kota Pekalongan, erosi pantai Kota Pekalongan mencapai satu meter pertahun. Lokasi terparah terdampak rob berada di Pantai Sari Kelurahan Panjang Wetan.

Menurut Fer Kallis,  untuk mengatasi dampak rob tersebut, bisa dilakukan dengan teknologi yang digunakan oleh Belanda.  “Kawasan pesisir Kota Pekalongan hampir sama dengan negara Belanda, jadi kemungkinan konstruksi penahan air laut Belanda bisa adopsi di Kota Pekalongan,” ujarnya.

Fer Kallis menambahkan, dengan menggunakan teknologi Belanda, akan dapat menekan biaya yang digunakan untuk penanganan rob.  “Penahan rob rumit dan memakan biaya terlalu banyak, kalau di negara kami cukup sederhana namun efektif dengan beberapa kolam penampung air di depan tanggul dan satu tembok agar air tidak masuk garis pantai kami rasa bisa mengatasi permasalahan rob 25 tahun kedepan,” paparnya.

Fer Kallis melanjutkan, dengan anggaran Rp. 517 miliar tanggul akan bisa dimaksimalkan,  “Tanggul juga bisa dimaksimalkan kemampuan untuk menahan air, karena bisa ditinggikan lagi mengikuti perkembangan kondisi lingkungan,” timpalnya. (Eva Abdullah)

Tags : rob pekalongan

Leave a Response