close
rob jeruksari
Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi mengunjungi korban rob di wilayah Pantai Utara Jawa, Selasa (22/05)

Tirto, Wartadesa. – Tahun 2018 sebagai puncak rob di Kabupaten Pekalongan. Ribuan rumah terendam banjir di wilayah langganan rob, seperti Desa Karangjompo, Jeruksari, Mulyorejo, Tegaldowo. Semuanya berada di Kecamatan Tirto. Adapun di Kecamatan Wonokerto meliputi, Desa Api-Api, Jambean, Tratebang, serta Wonokerto.

Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi mengungkapkan bahwa tahun ini merupakan puncak rob di Kabupaten Pekalongan, demikian disampaikan saat mengunjungi  Desa Jeruksari, yang merupakan wilayah terparah terkena rob. Selasa (22/05).

“Tahun 2018 ini merupakan puncak dari rob yang terjadi sejak tahun 2008. Ketinggian signifikan dan angin besar. Banyak yang mengungsi dan kami langsung memberikan bantuan, baik air bersih, kesehatan, selimut, peralatan sekolah untuk anak-anak, logistik dan dapur umum,” ujar Asip.

“Selasa siang ini kami melakukan pantauan rob di beberapa lokasi, Wonokerto Wetan, Pecakaran dan Jeruksari. Sebagai titik rob di Kabupaten Pekalongan. Tapi yang paling parah adalah di Jeruksari ini, hampir semua penduduk tergenang rob cukup tinggi, hampir satu meter,” lanjut Asip.

Asip mengungkapkan bahwa pihaknya langsung melakukan respon cepat untuk melakukan pembangunan bendung darurat di Jeruksari. Karena  tanggul laut dari APBN, progresnya baru di Kota Pekalongan, dan belum masuk Kabupaten Pekalongan.

“Selain itu kami siapkan, logistik dan tas khusus untuk para pelajar agar buku-buku tidak terkena air. Kami juga akan melakukan penanganan khusus yaitu membendung muara sembari menunggu tanggul raksasa rampung dibangun,” kata Asip.

Hingga saat ini, tanggul raksasa penahan banjir rob  baru berjalan sekitar 5 persen, membuat Pemkab bergerak cepat guna menangani permasalahan yang melanda masyarakat di Jeruksari. Hari ini (Rabu, 23/05) akan dilakukan pembendungan muara.

“Rabu (23/5) akan kami mulai membendung muara sebagai tindakan emergensi untuk mengatasi banjir rob,” timpal Asip.

Sementara Kepala Desa Jeruksari Kuswanto menambahkan, bahwa hampir seluruh penduduk tergenang, dan rob paling parah ini sudah terjadi sejak 17 hari berturut-turut.  “Yang dibutuhkan warga sekarang ini adalah pangan karena mereka kesulitan memasak, dapur dan semua peralatan tenggelam oleh air rob. Jadi untuk dapur umum sangat dibutuhkan, agar lebih membantu warga, apalagi saat buka puasa dan sahur,” tambah Kuswanto.

Kuswanto menambahkan bahwa sekitar dua ribu KK terdampak rob dan 200 orang mengungsi. “Ada sekitar 2139 kepala keluarga di Jeruksari semuanya terdampak rob dan banjir, sedangkan yang berada di pengungsian berjumlah 200 orang,” lanjutnya.

Menurut Kuswanto, banjir rob di wilayahnya sudah terjadi sejak tahun 2008 lalu, “Banjir rob di Jeruksari sudah terjadi sejak 2008, namun dampak terparah terjadi di 2018 ini. Karena ketinggian air naik secara signifikan ditambah angin kencang,” tuturnya.

Nur Hayati, salah seorang warga setempat mengungkapkan bahwa banjir rob semakin tinggi ketika siang hari, “Ya keadaan seperti ini, semakin hari semakin parah, siang hari biasanya air semakin tinggi,” ujarnya. (Eva Abdullah)

 

 

Tags : jeruksariRobrob pekalongan

Leave a Response