Pekalongan, Rabu, 28 Mei 2025. – Rencana aksi protes pemuda Desa Werdi, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan, yang sedianya digelar pada Selasa (28/5) pukul 13.00 WIB, resmi dibatalkan. Aksi tersebut semula dirancang sebagai bentuk kekecewaan terhadap belum adanya perbaikan jalan rusak yang berstatus sebagai jalan kabupaten, bukan jalan desa.
Dalam rencana awal, pemuda setempat akan melakukan aksi simbolik dengan menanam pohon pisang di kubangan jalan, menyebar eceng gondok, hingga memancing ikan di jalan berlubang sebagai sindiran terhadap kondisi infrastruktur yang memprihatinkan dan telah menyebabkan banyak kecelakaan warga.
Namun, sebelum aksi dimulai, sekitar pukul 11.30 WIB hingga 13.00 WIB, digelar audiensi di Balai Desa Werdi yang dihadiri berbagai pihak. Tampak hadir Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pekalongan Sumar Rosul, Pj Sekda Edy Herijanto, Kepala DPU Taru Murdiaso, Kapolsek Wiradesa Iptu Maman Sugiarto, perwakilan Koramil Wiradesa, Kepala Desa Werdi Ratono, serta puluhan perwakilan warga.
Gunanto, perwakilan pemuda Desa Werdi, menyampaikan bahwa aksi dibatalkan karena aspirasi sudah tersampaikan dan direspons cepat oleh pemerintah. “Sebelum masyarakat sempat berkumpul, Pemkab Pekalongan langsung melakukan mediasi yang membuahkan hasil,” ujarnya.
Kepala Desa Werdi, Ratono, menjelaskan bahwa dalam mediasi tersebut disepakati bahwa jalan Werdi–Rowoyoso akan dibeton pada bulan Juli 2025. “Sambil menunggu proses pengecoran, jalan sementara akan ditimbun menggunakan sirtu oleh Pak Sunah Rosul secara pribadi,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa sejak pandemi Covid-19, jalan Gili Tengah di wilayahnya memang belum pernah tersentuh pembangunan dari Pemkab.
Warga Desa Werdi menyambut baik hasil pertemuan tersebut. “Kami hanya ingin akses jalan yang layak dan aman. Semoga janji perbaikan ini benar-benar direalisasikan, bukan hanya sekadar janji politik,” ujar salah satu warga.
Dengan komitmen dari Pemkab dan pembatalan aksi, masyarakat Desa Werdi kini berharap segera ada perubahan nyata terhadap kondisi jalan yang selama ini menjadi keluhan utama. (Rohadi)









