Pekalongan Kota, Wartadesa. – Walikota Pekalongan, Achmad Alf Arslan Djunaid, meminta warganya menghentikan tradisi melepas balon udara saat lebaran maupun syawalan, yang sudah menjadi tradisi warga Pekalongan sejak puluhan tahun lalu.
Dulu balon yang dilepas adalah balon-balon kecil hingga mencapai ribuan balon yang menghiasi angkasa untuk menambah semarak kegembiraan lebaran. Namun akhir-akhir ini, tak hanya di Pekalongan, balon udara nitrogen ukuran raksasa banyak diterbangkan oleh warga di banyak tempat. Bahkan tak jarang balon-balon raksasa itu dilepas dengan disertai rangkaian ratusan petasan agar meledak di udara.
Baca: Menerbangkan balon udara akan didenda setengah milyar
Pria yang akrab disapa Alek tersebut meminta warga menghentikan tradisi pelepasan balon saat Idul Fitri dan Syawalan karena pertimbangan keamanan. “Apalagi kalau ditambahi dengan ekor petasan. Itu sangat membahayakan. Iya kalau jatuhnya di lahan kosong, kalau di pemukiman, jalur listrik, itu sangat membahayakan. Kita telah memberikan perintah hingga tingkat RT dan RW agar tidak lagi warga menerbangkan balon udara,” ujarnya, Rabu (28/6).
Alek meminta warganya untuk mengembangkan tradisi ‘lupis’, kue yang dibuat dari ketan ini sudah menjadi tradisi di Krapyak sejak sebelum kemerdekaan. Warga membuat lupis sebagai wujud syukur dan gembira menyambut lebaran.
“Tradisi lebaran dan syawalan di Kota Pekalongan dengan silaturahmi dan kue lapis. Tidak perlu balon udara dan petasan. Bahkan kue lapis festival raksasa biasanya selalu diadakan di Kota Pekalongan setiap Syawalan. Pada Syawalan nanti juga akan digelar,” tambah Alek. (WD)










