close

Kesehatan

BencanaKesehatanLayanan Publik

Warga Tirto “Ngamuk” di Tengah Banjir: Tuntut Camat Mundur dan Kecam Pernyataan Wakil Bupati

template berita foto warta desa(7)

PEKALONGAN, WARTA DESA. – Suasana di halaman Kantor Kecamatan Tirto memanas hari ini, Senin (9/2/2026). Ratusan warga dari Desa Karangjompo, Tegaldowo, dan Mulyorejo nekat menerjang genangan air yang masih merendam wilayah tersebut untuk menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran.

Aksi ini dipicu oleh keputusasaan warga yang telah terjebak banjir selama lebih dari 23 hari tanpa penanganan yang memadai dari Pemerintah Kabupaten Pekalongan.

Statistik “Kaji” Wakil Bupati Picu Amarah

Kemarahan massa semakin tersulut menyusul pernyataan Wakil Bupati Pekalongan, Sukirman, di media massa yang menyebut bahwa bencana di Pekalongan Utara masih akan “dikaji”. Pernyataan ini dianggap sebagai penghinaan bagi warga yang tengah bertaruh nyawa di tengah banjir.

“Pernyataan bahwa bencana ini akan ‘dikaji’ itu artinya tidak ada perhatian serius. Pemerintah seolah enggan menetapkan status darurat bencana padahal nyawa warga sudah jadi taruhan!” tegas salah satu koordinator aksi di lokasi.

Kekecewaan warga semakin lengkap karena Bupati Fadia Arafiq dan Sekda memilih tidak hadir menemui massa, yang memicu tudingan bahwa pejabat daerah hanya peduli saat butuh suara di masa pemilihan.

7 Tuntutan Utama Massa Aksi

Dalam audiensi yang berlangsung emosional, warga menyampaikan poin-poin tuntutan yang harus segera dipenuhi oleh pemerintah:

  1. Pembangunan Rumah Pompa Permanen: Sebagai solusi jangka panjang banjir.

  2. Perbaikan Alat: Memastikan seluruh infrastruktur penyedot air berfungsi maksimal.

  3. Penguatan Tanggul Sengkarang: Memperbaiki titik-titik tanggul yang rawan jebol dan membahayakan pemukiman.

  4. Posko Darurat: Penyediaan posko kesehatan dan logistik yang layak bagi pengungsi.

  5. Bahan Bakar Pompa: Warga mengecam adanya mobil pompa yang mangkrak tidak jalan hanya karena tidak ada anggaran bahan bakar.

  6. Camat Tirto Mundur: Massa menuntut Camat Tirto meletakkan jabatan karena dinilai acuh tak acuh dan gagal berkomunikasi dengan warga selama bencana.

  7. Surat Pernyataan Kesepakatan: Warga menolak sekadar diskusi dan menuntut dokumen tertulis yang sah atas kesepakatan hari ini.

Duka yang Terabaikan

Warga mengingatkan bahwa kelalaian pemerintah telah memakan korban jiwa, yakni seorang lansia meninggal di pengungsian Dupantex dan seorang relawan yang gugur diduga karena kelelahan. Selain itu, sektor ekonomi batik dan konveksi dilaporkan rugi hingga miliaran rupiah, sementara pendidikan anak-anak lumpuh total.

Hingga siang ini, warga masih bertahan di lokasi dan mendesak agar ada hitam di atas putih terkait tuntutan mereka sebelum membubarkan diri. ***

Pewarta: Andi Purwandi

Editor: Buono

Terkait
Ratusan massa SPN gelar demo hari ini

Pekalongan Kota, Wartadesa - Empat ratus massa dari Serikat Pekerja Nasional (SPN) Kota dan Kabupaten Pekalongan, Senin (17/10)  menggelar demo Read more

Warga Karangjompo butuh penanganan rob segera

Rumah warga Karangjompo kec. Tirto - Pekalongan sudah bertahun-tahun tergenang rob. Mereka butuh penanganan segera Pemkab Read more

Jalan rusak, warga Pegandon demo

Warga Desa Pegandon menutut perbaikan jalan yang rusak akibat proyek jalan tol Pemalang-Batang, Senin (31/10). Foto: Tribratanewskajen Karangdadap, Wartadesa. - Read more

Kesal dampak pembangunan tol, warga blokir jalan

Sragi, Wartadesa. - Kesal akibat dampak pembangunan tol Pemalang - Batang, malam tadi, Jum'at (18/11) sekitar sekitar pukul 22.00 wib, Read more

selengkapnya
BencanaKesehatanLayanan Publik

Bupati Tak Muncul, Warga Tirto Kecewa Berat: “Kalau Mau Pilihan Saja Fotonya Dipajang”

template berita foto warta desa(6)

PEKALONGAN, Warta Desa – Suasana audiensi di Kantor Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, Senin (09/02/2026) berlangsung panas dan penuh emosi. Ratusan warga dari Desa Karangjompo, Tegaldowo, dan Mulyorejo yang telah 23 hari terendam banjir meluapkan kekecewaannya lantaran Bupati Pekalongan, Fadia Arafiq, dan Sekretaris Daerah (Sekda) tidak hadir menemui massa aksi.

Ketidakhadiran pimpinan daerah ini dinilai sebagai bentuk ketidakpedulian terhadap penderitaan warga yang wilayahnya kini berubah menjadi lautan air.

Kritik Pedas untuk DPRD dan Camat

Dalam audiensi yang terekam oleh pewarta Warta Desa, Andi Purwandi, salah seorang perwakilan warga Desa Mulyorejo menyampaikan orasi yang menggetarkan. Ia menyentil anggota DPRD Kabupaten Pekalongan yang dianggap hanya datang saat membutuhkan suara.

“Selama ini DPRD jarang ke Desa Mulyorejo. Hanya kalau mau pilihan (Pemilu) saja fotonya dikeluarkan. Tapi sampai sekarang belum pernah datang melihat kami yang jemur (kebanjiran),” cetus warga tersebut di hadapan pejabat kecamatan.

Kritik tajam juga diarahkan kepada Camat Tirto yang baru. Warga menilai sang Camat bersikap acuh tak acuh dan tidak pernah berkomunikasi atau turun langsung memantau kondisi warga yang terdampak banjir. Bahkan, warga secara terang-terangan meminta agar Camat tersebut mundur jika tidak mampu menjalankan tugasnya dengan baik.

Dampak Ekonomi Miliaran dan Pendidikan Lumpuh

Selain masalah kesehatan, warga memaparkan dampak ekonomi yang sangat masif. Sektor industri rumah tangga yang menjadi napas ekonomi warga Tirto kini mati total.

  • Ekonomi: Kerugian pengusaha batik dan konveksi ditaksir mencapai miliaran rupiah karena produksi terhenti selama 22-23 hari.

  • Pendidikan: Anak-anak sekolah sudah tidak bisa belajar di gedung sekolah selama lebih dari tiga minggu.

  • Kesehatan: Banyak lansia dan anak-anak yang mulai jatuh sakit, termasuk cucu salah satu orator yang dikabarkan sudah sakit selama satu minggu akibat lingkungan yang kotor dan lembap.

Tuntut Perbaikan Tanggul dan Status Darurat

Warga mendesak pemerintah segera memperbaiki tanggul di sisi utara Pantura arah Desa Mulyorejo yang kondisinya kritis. Debit air yang deras dikhawatirkan akan menjebol tanggul dan memperparah bencana.

“Kalau memang Bupati atau ASN tidak percaya, suruh tidur di sana satu malam saja. Biar mereka menyaksikan dan menikmati sendiri kehidupan kami di tengah banjir,” tantang warga dengan nada emosional.

Hingga berita ini diturunkan, massa masih menuntut kepastian langkah konkret dari pemerintah kabupaten, termasuk penetapan Status Darurat Bencana agar penanganan bisa dilakukan secara menyeluruh dan memadai, mengingat sebelumnya telah jatuh korban jiwa baik dari kalangan lansia di pengungsian maupun relawan. ***

Pewarta: Andi Purwandi

Editor: Buono

Terkait
Ratusan massa SPN gelar demo hari ini

Pekalongan Kota, Wartadesa - Empat ratus massa dari Serikat Pekerja Nasional (SPN) Kota dan Kabupaten Pekalongan, Senin (17/10)  menggelar demo Read more

Warga Karangjompo butuh penanganan rob segera

Rumah warga Karangjompo kec. Tirto - Pekalongan sudah bertahun-tahun tergenang rob. Mereka butuh penanganan segera Pemkab Read more

Jalan rusak, warga Pegandon demo

Warga Desa Pegandon menutut perbaikan jalan yang rusak akibat proyek jalan tol Pemalang-Batang, Senin (31/10). Foto: Tribratanewskajen Karangdadap, Wartadesa. - Read more

Kesal dampak pembangunan tol, warga blokir jalan

Sragi, Wartadesa. - Kesal akibat dampak pembangunan tol Pemalang - Batang, malam tadi, Jum'at (18/11) sekitar sekitar pukul 22.00 wib, Read more

selengkapnya
KesehatanLayanan Publik

Warga Keluhkan Dugaan Pungutan Imunisasi Bayi Rp100 Ribu di Wilayah Puskesmas Doro 1, Begini Klarifikasi Kapus

template berita foto warta desa(4)

DORO, WARTA DESA. – Program imunisasi dasar nasional yang seharusnya dapat diakses secara gratis oleh masyarakat, kini menjadi tanda tanya bagi salah seorang warga di wilayah Doro. Seorang narasumber yang merupakan orang tua bayi melaporkan adanya tarikan biaya sebesar Rp100.000 saat sang anak menerima vaksin BCG dari tenaga kesehatan.

Berdasarkan keterangan narasumber, kejadian ini bermula saat ia hendak melakukan imunisasi Hepatitis B (HB 0) untuk anaknya di Puskesmas Doro 1. Namun, pihak Puskesmas menyatakan bahwa stok vaksin tersebut sedang kosong dan mengarahkan warga untuk menghubungi bidan desa.

“Waktu di lokasi lama (Wopi), semua vaksin gratis tanpa syarat. Tapi di sini, saat ke Puskesmas Doro 1 dibilang HB 0 tidak ada, lalu disuruh hubungi bidan desa,” ujar narasumber yang enggan disebutkan identitasnya.

Kondisi semakin membingungkan saat pelaksanaan vaksin BCG pada tanggal 29 Januari lalu. Karena bidan desa yang bersangkutan sedang cuti, pelayanan diberikan oleh bidan pengganti yang datang langsung ke rumah warga. Setelah proses vaksinasi selesai, narasumber menanyakan perihal biaya administratif atau transportasi, dan secara mengejutkan diminta membayar sebesar Rp100.000.

“Saat saya tanya berapa, bidannya menjawab 100 ribu rupiah. Saya bingung, apakah sekarang vaksin memang bayar? Ataukah itu uang ganti bensin? Padahal setahu saya ini program pemerintah,” tambahnya.

Menanggapi keluhan dan permintaan informasi tersebut, Kepala Puskesmas Doro 1 memberikan klarifikasi resmi mengenai prosedur dan status biaya pelayanan imunisasi tersebut. Pihak Puskesmas menegaskan bahwa pada dasarnya seluruh imunisasi dasar merupakan program pemerintah yang diberikan secara gratis di fasilitas kesehatan seperti Posyandu atau Puskesmas.

Terkait adanya pungutan sebesar Rp100.000, Kepala Puskesmas menjelaskan bahwa biaya tersebut kemungkinan merupakan biaya transportasi untuk bidan yang melakukan kunjungan di luar jam kerja. Hal tersebut dinyatakan sebagai kesepakatan pribadi antara bidan dengan keluarga pasien yang dikunjungi, mengingat Puskesmas sendiri tidak memiliki aturan resmi mengenai tarif transport kunjungan petugas ke rumah atau homecare untuk pemberian vaksin.

Mengenai kendala ketersediaan stok vaksin yang sempat dialami warga, manajemen Puskesmas menerangkan bahwa ketersediaan vaksin sangat bergantung pada distribusi atau dropping dari Dinas Kesehatan sesuai dengan jumlah sasaran dan ketersediaan di bagian farmasi. Jika stok di Puskesmas kosong, informasi tersebut akan disampaikan kepada masyarakat melalui bidan yang bertugas di Posyandu.

Pihak Puskesmas juga menyarankan jika pasien menghendaki imunisasi sesuai jadwal di tengah kekosongan stok, warga dapat dirujuk ke praktek dokter spesialis anak. Dengan adanya klarifikasi ini, diharapkan masyarakat mendapatkan kepastian hukum bahwa vaksin program pemerintah tetap gratis jika diakses melalui prosedur resmi di fasilitas kesehatan pemerintah, sementara layanan kunjungan rumah bersifat kesepakatan personal antara petugas dan warga. (Andi Purwandi)

Terkait
Gathering Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia

Bekasi, Wartadesa. – Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia (PMGI) yang berdiri pada tahun 2016 yang lalu, menyelenggarakan Gathering dan Silaturrahim perdana Read more

Sejak Ramadhan lalu warga Gunungsari Pemalang kekurangan Air

Pemalang, Wartadesa. - Warga Desa Gunungsari Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sejak bulan Ramadhan lalu kekurangan air bersih. Biasanya Read more

Sejumlah orang tua tolak vaksinasi Rubella

Pekalongan Kota, Wartadesa. -  Setidaknya 15 orang tua siswa di beberapa SD di wilayah Kota Pekalongan menolak anaknya diimunisasi Measles Read more

Kasus HIV/AIDS di Kota Santri capai 40

Kajen, Wartadesa. - Kasus HIV/AIDS di Kota Santri sejak Januari hingga Juni 2017, meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya. Komisi Penanggulangan Read more

selengkapnya
KesehatanPendidikan

Mahasiswa Apoteker UMPP Perdalam Ilmu Kolaborasi di RSUD KRMT Wongsonegoro Semarang

template berita foto warta desa(1)

Semarang, Warta Desa, 28 Januari 2026 – Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Apoteker (PKPA) Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP) baru saja menyelesaikan praktik lapangan yang berfokus pada kerja sama antar tenaga kesehatan. Kegiatan yang dikenal dengan istilah Interprofessional Collaboration (IPC) ini dilaksanakan di Rumah Sakit Daerah KRMT Wongsonegoro, Semarang. Dalam kegiatan tersebut, para calon apoteker ini berkesempatan belajar langsung bersama dr. Wim Khairu Taqwim, Sp.B, untuk memahami bagaimana berbagai profesi di rumah sakit bekerja bersama demi kesembuhan pasien.

Pembelajaran kolaborasi ini dirancang agar mahasiswa tidak hanya terpaku pada peran apoteker saja, tetapi juga memahami keterkaitan tugas mereka dengan profesi dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Melalui diskusi intensif, mahasiswa diajak melihat bagaimana pelayanan medis yang aman dan efektif sangat bergantung pada komunikasi yang baik antarpetugas. dr. Wim Khairu Taqwim menjelaskan secara detail peran dokter bedah mulai dari diagnosis hingga tindakan medis, sembari menekankan bahwa setiap keputusan klinis harus diambil secara terpadu demi keselamatan pasien.

Selama berada di rumah sakit, para mahasiswa PKPA UMPP ditantang untuk membahas berbagai kasus nyata yang sering ditemui di lapangan. Mereka belajar cara memberikan rekomendasi obat yang tepat, mencegah terjadinya kesalahan pemberian obat, serta mendukung efektivitas pengobatan melalui perspektif farmasi. Pengalaman praktik langsung ini menjadi sangat berharga karena memberikan gambaran nyata yang tidak mungkin didapatkan hanya dengan membaca teori di dalam ruang kelas kampus.

Selain mengasah kemampuan teknis, kegiatan ini juga melatih mental para mahasiswa untuk berani menyampaikan pendapat secara profesional dan menghargai batas kewenangan profesi lain. Hal ini menjadi bekal krusial bagi mereka sebelum terjun sepenuhnya ke dunia kerja sebagai apoteker klinis yang andal dalam tim medis. Dengan adanya praktik di RSUD KRMT Wongsonegoro ini, UMPP membuktikan komitmennya dalam mencetak tenaga kesehatan yang kompeten dan siap memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat luas. ***

Pewarta: Davina Zafa

Editor: Buono

Terkait
Generasi Baru Pemimpin Mahasiswa UMPP Resmi Dilantik, Siap Membawa Perubahan Positif

Pekalongan, Warta Desa, - Gedung Rektorat Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP) menjadi saksi dimulainya babak baru kepemimpinan mahasiswa pada Rabu, 14 Read more

Dalami Kolaborasi Antarprofesi, Mahasiswa Apoteker UMPP Belajar Bareng Dokter Spesialis di RSUD Kartini

PEKALONGAN, WARTA DESA – Sejumlah peserta Program Pendidikan Profesi Apoteker (PKPA) Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP) mengikuti kegiatan Interprofessional Collaboration Read more

Longsor Terjang Dukuh Siranti Watukumpul, Dua Warga Dilaporkan Hilang

PEMALANG, WARTA DESA. – Kabar duka menyelimuti wilayah selatan Kabupaten Pemalang. Bencana tanah longsor berskala besar menerjang pemukiman warga di Dukuh Read more

Dosen UMPP Raih Beasiswa Doktor dan Suarakan Aspirasi dalam Sarasehan Lurah BPI di UGM

Yogyakarta, Warta Desa, 25 Januari 2026. - Prestasi membanggakan datang dari civitas akademika Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP). Ainun Muthoharoh, dosen Read more

selengkapnya
KesehatanPendidikan

METFORMIN ATAU GLIMEPIRID? MENIMBANG EFEKTIVITAS DAN NILAI BIAYA TERAPI DIABETES

foto

Oleh: Rizky Indah Pratiwi

Diabetes melitus tipe 2 merupakan salah satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia. Prevalensinya terus meningkat seiring perubahan gaya hidup, urbanisasi, dan penuaan populasi. Di tengah beban penyakit yang tinggi, persoalan terapi diabetes tidak hanya menyangkut efektivitas klinis, tetapi juga efisiensi biaya dan dampaknya terhadap kualitas hidup pasien. Dalam konteks inilah perbandingan antara dua obat antidiabetik oral yang paling sering digunakan—metformin dan glimepirid—menjadi relevan untuk dibahas melalui pendekatan cost-utility analysis (CUA).

Metformin selama ini direkomendasikan sebagai terapi lini pertama diabetes tipe 2. Obat ini bekerja dengan meningkatkan sensitivitas insulin dan menurunkan produksi glukosa di hati. Di sisi lain, glimepirid, golongan sulfonilurea, bekerja dengan merangsang sekresi insulin dari pankreas. Keduanya efektif menurunkan kadar glukosa darah, tetapi memiliki profil manfaat, risiko, dan biaya yang berbeda. Perbedaan inilah yang menentukan nilai utilitas terapi bagi pasien dan sistem kesehatan.

Dalam praktik klinis, efektivitas sering kali menjadi fokus utama. Namun, efektivitas semata tidak cukup. Terapi yang efektif tetapi mahal atau menurunkan kualitas hidup pasien akan membebani sistem kesehatan, terutama dalam skema pembiayaan publik seperti BPJS Kesehatan. Di sinilah CUA menjadi alat penting karena tidak hanya menghitung biaya dan hasil klinis, tetapi juga mengaitkannya dengan kualitas hidup pasien, biasanya dalam satuan quality-adjusted life years (QALYs).Metformin memiliki sejumlah keunggulan dalam perspektif utilitas. Selain efektif menurunkan HbA1c, metformin relatif aman, tidak menyebabkan kenaikan berat badan, dan memiliki risiko hipoglikemia yang rendah. Efek samping yang paling sering muncul bersifat gastrointestinal dan umumnya dapat ditoleransi. Dari sisi biaya, metformin termasuk obat generik dengan harga terjangkau, sehingga memberikan nilai ekonomi yang baik bagi pasien maupun sistem kesehatan.

Sebaliknya, glimepirid juga efektif menurunkan kadar glukosa darah, bahkan dalam beberapa kasus menunjukkan penurunan yang lebih cepat. Namun, risiko hipoglikemia dan peningkatan berat badan menjadi catatan penting. Hipoglikemia bukan hanya persoalan klinis, tetapi juga berdampak langsung pada kualitas hidup pasien, produktivitas kerja, dan potensi biaya tambahan akibat kunjungan medis atau rawat inap. Dalam kerangka CUA, faktor-faktor ini dapat menurunkan nilai utilitas glimepirid meskipun biaya obatnya relatif rendah.

Perbandingan biaya antara metformin dan glimepirid sering kali tampak sederhana jika hanya melihat harga obat. Namun, analisis yang lebih komprehensif menunjukkan bahwa biaya terapi diabetes mencakup lebih dari sekadar obat. Biaya pemeriksaan laboratorium, penanganan efek samping, komplikasi jangka panjang, hingga kehilangan produktivitas akibat gangguan kesehatan harus diperhitungkan. Dari sudut pandang ini, terapi yang menurunkan risiko komplikasi dan mempertahankan kualitas hidup pasien memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Pendekatan CUA membantu pembuat kebijakan dan tenaga kesehatan mengambil keputusan yang lebih rasional. Dalam banyak studi, metformin menunjukkan rasio biaya-utilitas yang lebih baik dibandingkan sulfonilurea, terutama ketika mempertimbangkan outcome jangka panjang. Hal ini menjelaskan mengapa metformin tetap menjadi tulang punggung terapi diabetes tipe 2 di berbagai pedoman klinis internasional. Namun, penting dicatat bahwa CUA bukan alat untuk menyeragamkan terapi. Setiap pasien memiliki kondisi klinis, toleransi obat, dan kebutuhan yang berbeda. Pada pasien tertentu, glimepirid tetap memiliki tempat, terutama jika metformin tidak ditoleransi atau kontraindikasi. Di sinilah peran klinisi menjadi krusial dalam menyeimbangkan bukti ilmiah, preferensi pasien, dan keterbatasan sumber daya. Dalam konteks sistem kesehatan nasional, diskusi tentang metformin dan glimepirid juga berkaitan erat dengan keberlanjutan pembiayaan. Diabetes adalah penyakit kronis yang memerlukan terapi jangka panjang. Tanpa strategi pemilihan obat yang berbasis nilai, beban biaya akan terus meningkat dan berpotensi mengganggu stabilitas sistem kesehatan. Oleh karena itu, integrasi hasil CUA ke dalam kebijakan formularium dan panduan terapi menjadi langkah yang semakin penting.

Pada akhirnya, pertanyaan “metformin atau glimepirid?” bukan sekadar soal mana yang lebih kuat menurunkan gula darah. Pertanyaan yang lebih penting adalah: terapi mana yang memberikan manfaat paling besar dengan biaya yang paling rasional, sekaligus menjaga kualitas hidup pasien. Dalam era keterbatasan sumber daya, pendekatan berbasis cost-utility bukan pilihan, melainkan kebutuhan. Dengan menimbang efektivitas, risiko, dan nilai biaya secara seimbang, pengelolaan diabetes dapat menjadi lebih adil, berkelanjutan, dan berpihak pada kepentingan pasien. ***

Penulis adalah Mahasiswi Program Doktor Ilmu Farmasi Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta

 

Terkait

[caption id="attachment_1326" align="alignnone" width="800"] Pelantikan Pimpinan Ranting IPNU IPPNU Pecakaran, Wonokerto - Pekalongan berlangsung khidmad. (14/10) Foto : Wahidatul Maghfiroh/wartadesa. Read more

SDN Tangkilkulon raih juara 1 lomba MAPSI

Kedungwuni, Wartadesa. - SD Negeri Tangkilkulon, Kecamatan Kedungwuni - Pekalongan meraih juara pertama dalam lomba  Mata Pelajaran Agama Islam dan Read more

IPNU IPPNU Wonokerto bentengi diri dengan Densus Aswaja

PAC IPPNU Wonokerto menggelar kegiatan Densus Aswaja di Masjid Hidayatullah, desa Semut (15/10). Foto Wahidatul Maghfiroh/wartadesa Read more

selengkapnya
KesehatanPendidikan

Dalami Kolaborasi Antarprofesi, Mahasiswa Apoteker UMPP Belajar Bareng Dokter Spesialis di RSUD Kartini

template berita foto warta desa(5)

PEKALONGAN, WARTA DESA – Sejumlah peserta Program Pendidikan Profesi Apoteker (PKPA) Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP) mengikuti kegiatan Interprofessional Collaboration (IPC) langsung di RSUD Kartini. Dalam kegiatan ini, para mahasiswa berkesempatan mendalami praktik pelayanan kesehatan berbasis kolaborasi bersama dokter Spesialis Penyakit Dalam sebagai bagian dari pembelajaran lapangan untuk memperkuat pemahaman terhadap praktik pelayanan kesehatan. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dilatih mengembangkan kompetensi farmasi klinis dengan melibatkan berbagai perspektif tenaga kesehatan guna menganalisis permasalahan secara komprehensif, efisien, dan berorientasi pada keselamatan pasien.

Narasumber kegiatan, Rizqi Aulia Rachim, menekankan bahwa penerapan IPC memiliki peran krusial dalam menjaga keselamatan pasien di rumah sakit. Menurutnya, kolaborasi yang efektif antarprofesi dapat menghasilkan perawatan yang lebih optimal, menurunkan risiko medication error, serta menciptakan komunikasi yang terbuka dan saling menghargai peran masing-masing tenaga medis. Ia menjelaskan bahwa kolaborasi yang baik sangat penting karena dapat menghasilkan sistem perawatan yang jauh lebih efisien bagi pasien.

Kegiatan ini juga memberikan pengalaman praktik langsung bagi mahasiswa sebagai calon apoteker dalam menjalankan peran klinis mereka. Mahasiswa belajar memberikan rekomendasi pengobatan berbasis bukti kepada dokter agar terapi yang diberikan lebih sinergis. Selain itu, mereka mendalami peran apoteker dalam memberikan konseling serta edukasi kepada pasien terkait pengobatan yang dijalani demi meningkatkan kepatuhan terapi. Melalui pengalaman kolaborasi lintas profesi di RSUD Kartini ini, mahasiswa PKPA UMPP diharapkan semakin siap menjadi apoteker yang kompeten, komunikatif, dan profesional di dunia kerja.

(Davina Zafa)

Terkait

[caption id="attachment_1326" align="alignnone" width="800"] Pelantikan Pimpinan Ranting IPNU IPPNU Pecakaran, Wonokerto - Pekalongan berlangsung khidmad. (14/10) Foto : Wahidatul Maghfiroh/wartadesa. Read more

SDN Tangkilkulon raih juara 1 lomba MAPSI

Kedungwuni, Wartadesa. - SD Negeri Tangkilkulon, Kecamatan Kedungwuni - Pekalongan meraih juara pertama dalam lomba  Mata Pelajaran Agama Islam dan Read more

IPNU IPPNU Wonokerto bentengi diri dengan Densus Aswaja

PAC IPPNU Wonokerto menggelar kegiatan Densus Aswaja di Masjid Hidayatullah, desa Semut (15/10). Foto Wahidatul Maghfiroh/wartadesa Read more

selengkapnya
KesehatanOpini

EKSPLORASI BAHAN ALAM DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT ILMU: KELOR, PEGAGAN, DAN JINTAN HITAM

kelor pegagan jintan

Oleh: Apt. Fajrul Fhalaq Baso.,S.Farm.,M.Farm

Beberapa tahun terakhir, minat masyarakat terhadap bahan alam sebagai penunjang kesehatan terus meningkat. Di tengah tantangan penyakit kronis, tingginya biaya layanan kesehatan, serta kesadaran akan pentingnya keberlanjutan lingkungan, bahan alam kembali dipandang sebagai alternatif yang menjanjikan. Namun, pemanfaatan bahan alam tidak cukup hanya dilandasi oleh tradisi atau tren, tetapi memerlukan kerangka berpikir yang kokoh agar tidak terjebak pada klaim berlebihan. Di sinilah perspektif filsafat ilmu menjadi relevan.

Filsafat ilmu membantu kita memahami bagaimana pengetahuan tentang bahan alam dibangun, divalidasi, dan dimanfaatkan. Tiga pilar utamanya yakni ontologi, epistemologi, dan aksiologi yang menjadi lensa penting untuk menilai secara utuh eksplorasi bahan alam dalam konteks kesehatan. Melalui pendekatan ini, Daun kelor, herba pegagan, dan jintan hitam tidak hanya dipahami sebagai tanaman obat, tetapi sebagai objek ilmiah yang harus dikaji secara rasional dan bertanggung jawab.

Dari Aspek ontologi, pertanyaan mendasar yang diajukan adalah: Apa hakikat bahan alam dalam konteks kesehatan? Daun kelor, herba pegagan, dan jintan hitam bukan sekadar tumbuhan, melainkan entitas biologis yang mengandung senyawa aktif dengan potensi farmakologis. Dalam ilmu farmasi, keberadaan senyawa bioaktif mempunyai aktivitas sebagai antioksidan, antiinflamasi, dan imunomodulator menjadi dasar untuk menilai potensi terapeutiknya. Pendekatan ontologis menempatkan bahan alam sebagai bagian dari sistem biologis yang kompleks, bukan sebagai “obat ajaib” yang berdiri sendiri. Ontologi juga mengingatkan bahwa bahan alam memiliki keterbatasan. Kandungan senyawa aktif dapat bervariasi tergantung varietas, lingkungan tumbuh, dan proses pengolahan. Kesadaran ini penting agar masyarakat tidak memandang bahan alam secara simplistis, melainkan sebagai objek ilmiah yang memerlukan pemahaman mendalam.

Aspek epistemologi kemudian menjawab pertanyaan: Bagaimana pengetahuan tentang bahan alam diperoleh dan diuji kebenarannya? Dalam konteks kesehatan modern, pengetahuan tidak lagi cukup bersandar pada pengalaman turun-temurun, tetapi harus diperkuat melalui penelitian ilmiah yang sistematis, mulai dari riset dasar, uji laboratorium/uji praklinik, produksi hingga uji klinik. Banyak penelitian mutakhir telah mengkaji potensi daun kelor dalam pengendalian penyakit metabolik, herba pegagan dalam kesehatan saraf dan penyembuhan luka, serta jintan hitam dalam modulasi sistem imun. Namun, epistemologi juga mengajarkan sikap kritis. Tidak semua hasil penelitian dapat langsung digeneralisasi. Perbedaan metode, dosis, dan populasi penelitian menuntut kehati-hatian dalam menarik kesimpulan. Di sinilah peran tenaga kefarmasian menjadi strategis, yaitu menerjemahkan hasil riset menjadi informasi yang akurat, rasional, dan mudah dipahami masyarakat. Epistemologi yang baik mencegah terjadinya disinformasi kesehatan yang sering muncul dalam promosi produk herbal.

Aspek ketiga, aksiologi, berbicara tentang nilai dan tujuan dari pemanfaatan bahan alam. Untuk apa pengetahuan ini digunakan, dan siapa yang diuntungkan? Dalam perspektif kesehatan berkelanjutan, eksplorasi daun kelor, herba pegagan, dan jintan hitam seharusnya diarahkan pada kemaslahatan publik, bukan semata kepentingan komersial. Pemanfaatan yang tepat dapat mendukung upaya promotif dan preventif, mengurangi ketergantungan pada obat impor, serta memperkuat sistem kesehatan berbasis komunitas. Aksiologi juga berkaitan dengan etika. Penggunaan bahan alam harus mempertimbangkan aspek keamanan, keadilan akses, dan kelestarian lingkungan. Eksploitasi berlebihan tanpa memperhatikan keberlanjutan justru akan merugikan generasi mendatang. Dalam hal ini, prinsip kehati-hatian dan tanggung jawab sosial menjadi nilai yang tidak terpisahkan dari praktik farmasi bahan alam.

Dari sudut pandang farmasi, integrasi ketiga aspek filsafat ilmu tersebut sangat penting. Farmasi tidak hanya berbicara tentang formulasi dan khasiat, tetapi juga tentang rasionalitas penggunaan obat. Bahan alam yang dieksplorasi tanpa kerangka ontologi, epistemologi, dan aksiologi yang jelas berisiko menimbulkan kesalahan penggunaan dan harapan yang tidak realistis di masyarakat. Lebih jauh, pendekatan filsafat ilmu membantu menjembatani ilmu pengetahuan dan kebutuhan nyata masyarakat. Tanaman kelor yang mudah dibudidayakan, pegagan yang tumbuh luas, serta jintan hitam yang telah lama dikenal lintas budaya, memiliki potensi besar jika dikembangkan dengan pendekatan ilmiah yang beretika. Pemanfaatannya dapat menjadi bagian dari strategi kesehatan berkelanjutan yang mengedepankan pencegahan, kemandirian, dan pemberdayaan.

Pada akhirnya, eksplorasi bahan alam bukan sekadar persoalan “alami” atau “modern”, akan tetapi ini adalah persoalan cara berpikir. Filsafat ilmu mengajarkan bahwa ilmu yang baik adalah ilmu yang memahami hakikat objeknya, menggunakan metode yang dapat dipertanggungjawabkan, serta diarahkan untuk kemanfaatan manusia. Dalam kerangka inilah kelor, pegagan, dan jintan hitam menemukan maknanya, bukan hanya sebagai tanaman obat, tetapi sebagai bagian dari ikhtiar ilmiah menuju kesehatan yang berkelanjutan dan bermartabat. ***

Penulis adalah Mahasiswa Doktor Ilmu Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Dosen D-III Farmasi STIKes Salewangang Maros

Terkait
Gathering Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia

Bekasi, Wartadesa. – Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia (PMGI) yang berdiri pada tahun 2016 yang lalu, menyelenggarakan Gathering dan Silaturrahim perdana Read more

Sejak Ramadhan lalu warga Gunungsari Pemalang kekurangan Air

Pemalang, Wartadesa. - Warga Desa Gunungsari Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sejak bulan Ramadhan lalu kekurangan air bersih. Biasanya Read more

Sejumlah orang tua tolak vaksinasi Rubella

Pekalongan Kota, Wartadesa. -  Setidaknya 15 orang tua siswa di beberapa SD di wilayah Kota Pekalongan menolak anaknya diimunisasi Measles Read more

Kasus HIV/AIDS di Kota Santri capai 40

Kajen, Wartadesa. - Kasus HIV/AIDS di Kota Santri sejak Januari hingga Juni 2017, meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya. Komisi Penanggulangan Read more

selengkapnya
KesehatanPendidikan

Transformasi Pengobatan Tradisional melalui Pendekatan Ilmiah dan Inovasi Teknologi

tri nova

Oleh : Tri Nova Lovena

Pengobatan tradisional telah dikenal dan digunakan oleh berbagai peradaban manusia sejak zaman dahulu. Praktik ini berkembang berdasarkan pengalaman empiris masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam, khususnya tanaman obat, untuk mengatasi berbagai gangguan kesehatan. Di Indonesia, pengobatan tradisional seperti jamu merupakan bagian dari identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun dan masih relevan hingga saat ini. Meskipun memiliki sejarah panjang dan kepercayaan yang kuat di masyarakat, pengobatan tradisional sering kali dipandang kurang ilmiah jika dibandingkan dengan pengobatan modern. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan bukti ilmiah, variasi komposisi bahan, serta kurangnya standarisasi dalam proses pengolahan dan penggunaan. Akibatnya, pengobatan tradisional sulit untuk diintegrasikan secara penuh ke dalam sistem kesehatan formal.

Di sisi lain, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan besar dalam dunia kesehatan. Berbagai inovasi teknologi memungkinkan penelitian dilakukan secara lebih mendalam, akurat, dan efisien. Oleh karena itu, transformasi pengobatan tradisional melalui pendekatan ilmiah dan inovasi teknologi menjadi langkah strategis untuk menjembatani kearifan lokal dengan tuntutan medis modern. Pengobatan tradisional merujuk pada sistem pengobatan yang menggunakan bahan alami, metode manual, serta pengetahuan lokal yang berkembang dalam suatu komunitas. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan pengobatan tradisional sebagai praktik kesehatan yang berbasis pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan yang berasal dari budaya setempat.

Karakteristik utama pengobatan tradisional adalah penggunaan bahan alam seperti tanaman, hewan, dan mineral. Selain itu, pendekatan pengobatan tradisional umumnya bersifat holistik, yaitu tidak hanya berfokus pada gejala penyakit, tetapi juga pada keseimbangan tubuh secara keseluruhan. Aspek fisik, mental, dan lingkungan sering kali menjadi bagian dari proses penyembuhan. Meskipun demikian, pengobatan tradisional memiliki kelemahan, antara lain kurangnya dokumentasi ilmiah, variasi dosis, serta potensi kontaminasi bahan. Oleh sebab itu, pengembangan pengobatan tradisional memerlukan pendekatan ilmiah agar dapat dipertanggungjawabkan secara medis dan diterima oleh masyarakat luas.

Pendekatan ilmiah merupakan metode sistematis yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan berdasarkan observasi, eksperimen, dan analisis data. Dalam konteks pengobatan tradisional, pendekatan ilmiah berfungsi untuk membuktikan klaim khasiat yang selama ini didasarkan pada pengalaman empiris. Penelitian ilmiah terhadap pengobatan tradisional dimulai dengan identifikasi bahan aktif yang terkandung dalam tanaman obat. Proses ini dilanjutkan dengan uji praklinis untuk mengetahui efek farmakologis dan tingkat toksisitas. Setelah itu, dilakukan uji klinis pada manusia untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya.

Pendekatan ilmiah juga memungkinkan penentuan dosis yang tepat serta identifikasi efek samping dan interaksi dengan obat modern. Dengan demikian, pengobatan tradisional dapat digunakan secara lebih aman dan rasional. Hasil penelitian ini menjadi dasar dalam pengembangan obat herbal terstandar yang memiliki kualitas dan khasiat yang konsisten. Inovasi teknologi memiliki peran yang sangat penting dalam mempercepat transformasi pengobatan tradisional. Teknologi modern tidak hanya mendukung proses penelitian, tetapi juga meningkatkan kualitas produksi dan distribusi produk herbal. Bioteknologi memungkinkan pengembangan tanaman obat melalui teknik kultur jaringan dan rekayasa genetika. Teknologi ini membantu menghasilkan bahan baku yang berkualitas tinggi dan konsisten, sekaligus menjaga kelestarian sumber daya alam. Selain itu, bioteknologi memungkinkan isolasi dan pemurnian senyawa aktif secara lebih efisien.

Perkembangan teknologi informasi, khususnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), memungkinkan analisis data penelitian dalam jumlah besar. AI dapat digunakan untuk memprediksi potensi khasiat suatu tanaman, interaksi antar senyawa, serta efektivitas pengobatan berdasarkan pola data yang kompleks. Teknologi farmasi modern memungkinkan pengolahan bahan herbal menjadi sediaan yang lebih praktis dan higienis, seperti kapsul, tablet, dan ekstrak. Teknologi nano dan enkapsulasi juga membantu meningkatkan daya serap senyawa aktif dalam tubuh, sehingga efektivitas pengobatan menjadi lebih optimal. Standarisasi dan regulasi merupakan aspek penting dalam transformasi pengobatan tradisional. Tanpa adanya standar yang jelas, kualitas dan keamanan produk tidak dapat dijamin. Oleh karena itu, diperlukan pedoman yang mengatur bahan baku, proses produksi, hingga distribusi.

Standarisasi bertujuan untuk memastikan bahwa setiap produk pengobatan tradisional memiliki kualitas yang konsisten. Regulasi juga berperan dalam melindungi konsumen dari produk yang tidak aman atau mengandung klaim berlebihan. Di Indonesia, pemerintah telah menetapkan berbagai kebijakan untuk mengatur pengembangan dan peredaran obat tradisional. Dengan adanya regulasi yang jelas, pengobatan tradisional dapat lebih mudah diterima oleh tenaga kesehatan dan masyarakat. Hal ini juga membuka peluang bagi pengobatan tradisional untuk bersaing di pasar global. Meskipun memiliki potensi besar, integrasi pengobatan tradisional dengan teknologi modern menghadapi berbagai tantangan. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan sumber daya, baik dari segi pendanaan maupun tenaga ahli. Penelitian ilmiah dan pengembangan teknologi membutuhkan investasi yang besar dan kerja sama lintas disiplin.

Selain itu, masih terdapat perbedaan paradigma antara praktisi pengobatan tradisional dan tenaga medis modern. Kurangnya komunikasi dan pemahaman sering kali menjadi hambatan dalam kolaborasi. Tantangan lainnya adalah perlindungan pengetahuan tradisional agar tidak disalahgunakan oleh pihak tertentu tanpa memberikan manfaat yang adil bagi masyarakat lokal. Di tengah berbagai tantangan, peluang pengembangan pengobatan tradisional berbasis ilmiah dan teknologi sangat terbuka lebar. Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat dan alami mendorong permintaan terhadap produk herbal yang berkualitas. Kolaborasi antara akademisi, industri, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan transformasi ini. Dengan dukungan riset dan teknologi, pengobatan tradisional dapat berkembang menjadi bagian dari sistem kesehatan yang holistik dan berkelanjutan. ***

Penulis adalah Mahasiswa Program Doktoral UAD

 

Terkait

[caption id="attachment_1326" align="alignnone" width="800"] Pelantikan Pimpinan Ranting IPNU IPPNU Pecakaran, Wonokerto - Pekalongan berlangsung khidmad. (14/10) Foto : Wahidatul Maghfiroh/wartadesa. Read more

SDN Tangkilkulon raih juara 1 lomba MAPSI

Kedungwuni, Wartadesa. - SD Negeri Tangkilkulon, Kecamatan Kedungwuni - Pekalongan meraih juara pertama dalam lomba  Mata Pelajaran Agama Islam dan Read more

IPNU IPPNU Wonokerto bentengi diri dengan Densus Aswaja

PAC IPPNU Wonokerto menggelar kegiatan Densus Aswaja di Masjid Hidayatullah, desa Semut (15/10). Foto Wahidatul Maghfiroh/wartadesa Read more

selengkapnya
KesehatanPendidikan

Mahasiswa UMPP Edukasi Pasien RSPAU Hardjolukito Mengenai Penggunaan Vitamin Herbal

template berita foto warta desa(5)

Yogyakarta, Warta Desa, 24 Januari 2026. – Kesadaran masyarakat terhadap penggunaan vitamin yang aman dan tepat terus menjadi perhatian serius di dunia kesehatan. Hal ini mendorong Amelia Septiani, seorang mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan, untuk menggelar kegiatan promosi kesehatan bertajuk “Apakah Vitamin Herbal Lebih Baik? Ayo Bahas!” kepada lima puluh orang pasien di RSPAU Hardjolukito Yogyakarta.

Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari Program Kerja Profesi Apoteker yang berlangsung mulai awal Desember 2025 hingga Januari 2026. Dalam sesi edukasi tersebut, Amelia membahas secara interaktif perbedaan antara vitamin herbal dan vitamin sintetis, mulai dari kandungan, manfaat, hingga risiko penggunaannya bagi tubuh. Ia menjelaskan bahwa meskipun vitamin herbal berasal dari bahan alami, bukan berarti jenis tersebut selalu lebih aman dibandingkan vitamin sintetis. Menurutnya, kedua jenis vitamin tersebut memiliki manfaat masing-masing, namun harus tetap digunakan sesuai indikasi dan kondisi kesehatan pasien karena konsumsi yang berlebihan justru dapat menimbulkan efek samping.

Antusiasme peserta terlihat jelas dengan adanya sepuluh orang pasien yang aktif mengajukan pertanyaan. Salah satu pertanyaan yang menarik perhatian adalah mengenai jenis vitamin herbal yang baik bagi penderita hipertensi. Menanggapi hal tersebut, Amelia menyampaikan bahwa beberapa bahan herbal seperti bawang putih, seledri, dan daun zaitun dikenal dapat membantu menjaga tekanan darah. Meski demikian, ia menekankan bahwa penggunaannya tetap harus dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan, terutama bagi pasien yang sudah rutin mengonsumsi obat-obatan medis.

Selain memberikan penyuluhan, Amelia juga memperoleh pengalaman klinis yang sangat berharga selama masa praktiknya. Salah satunya adalah melakukan kunjungan langsung kepada pasien dengan diagnosis penyakit ginjal kronis stadium lima yang disertai komplikasi diabetes. Pengalaman ini memberikan pemahaman mendalam bagi calon tenaga kesehatan tersebut mengenai pentingnya ketelitian dalam pemilihan obat dan suplemen yang aman bagi pasien dengan penyakit kronis.

Selama menjalani praktik di RSPAU Hardjolukito, Amelia berada di bawah bimbingan Florentina Galuh Ivanka dan Ayu, serta mendapatkan pendampingan akademik dari Ainun Muthoharoh. Kegiatan edukasi ini mendapat respons positif baik dari pasien maupun tenaga kesehatan setempat karena dinilai mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penggunaan vitamin secara rasional. Melalui aksi nyata ini, Amelia berharap masyarakat tidak lagi mengonsumsi vitamin hanya berdasarkan tren, tetapi lebih mengutamakan keamanan dan kecocokan dengan kondisi tubuh masing-masing. (Redaksi)

Terkait

[caption id="attachment_1326" align="alignnone" width="800"] Pelantikan Pimpinan Ranting IPNU IPPNU Pecakaran, Wonokerto - Pekalongan berlangsung khidmad. (14/10) Foto : Wahidatul Maghfiroh/wartadesa. Read more

SDN Tangkilkulon raih juara 1 lomba MAPSI

Kedungwuni, Wartadesa. - SD Negeri Tangkilkulon, Kecamatan Kedungwuni - Pekalongan meraih juara pertama dalam lomba  Mata Pelajaran Agama Islam dan Read more

IPNU IPPNU Wonokerto bentengi diri dengan Densus Aswaja

PAC IPPNU Wonokerto menggelar kegiatan Densus Aswaja di Masjid Hidayatullah, desa Semut (15/10). Foto Wahidatul Maghfiroh/wartadesa Read more

selengkapnya
KesehatanPendidikan

Mahasiswa UMPP Edukasi Pasien RSPAU Hardjolukito Tentang Bahaya Campur Obat dengan Makanan

template berita foto warta desa(4)

Yogyakarta, Warta Desa, 24 Januari 2026. – Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penggunaan obat yang benar kembali dilakukan oleh kalangan mahasiswa. Puspita Dias Primadani, seorang mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan, menggelar kegiatan promosi kesehatan kepada lima puluh orang pasien di RSPAU dr. Hardjolukito. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Praktik Kerja Profesi Apoteker yang ia jalani sejak awal Desember 2025 hingga Januari 2026.

Dalam edukasinya, Puspita mengangkat tema yang sangat dekat dengan kebiasaan sehari-hari masyarakat, yaitu mengenai interaksi antara obat dengan makanan dan minuman. Di hadapan puluhan pasien, ia menjelaskan bahwa obat tidak selalu aman jika dikonsumsi bersamaan dengan makanan tertentu. Ia menekankan agar pasien menghindari meminum obat bersama dengan pisang, susu, atau teh, karena ketiga bahan tersebut dapat mengganggu proses penyerapan obat di dalam tubuh sehingga khasiatnya menjadi tidak maksimal.

Penjelasan tersebut memancing antusiasme peserta yang hadir, terbukti dengan adanya sepuluh pasien yang aktif mengajukan pertanyaan dalam sesi diskusi. Salah satu pasien sempat menanyakan apakah obat gula darah boleh diminum bersamaan dengan buah pisang. Menanggapi hal itu, Puspita menjelaskan bahwa pisang memiliki kandungan kalium dan serat tinggi yang dapat memengaruhi kerja obat tertentu, terutama bagi pasien diabetes atau gangguan ginjal. Ia menyarankan agar masyarakat selalu mengutamakan air putih saat minum obat dan memberikan jeda waktu satu hingga dua jam jika ingin mengonsumsi makanan.

Selain memberikan penyuluhan, Puspita juga mendapatkan pengalaman klinis yang mendalam selama masa praktiknya. Ia terlibat langsung dalam pemantauan pasien rawat inap yang memiliki diagnosis gagal ginjal stadium lima pascaoperasi batu ginjal. Dalam kasus tersebut, ia belajar melakukan pemantauan terapi dan berdiskusi mengenai penggunaan obat yang aman bagi pasien dengan penurunan fungsi ginjal, terutama saat pasien mengeluhkan gejala sulit tidur serta mual.

Selama menjalani praktik di RSPAU Hardjolukito, Puspita mendapatkan arahan dan bimbingan langsung dari Florentika Ivanka dan Ayu selaku pembimbing lapangan, serta Ainun Muthoharoh sebagai pembimbing akademik. Baginya, pengalaman ini membuktikan bahwa peran tenaga farmasi sangat krusial dalam menjamin keselamatan pasien melalui edukasi-edukasi sederhana yang berdampak besar. Kegiatan ini ditutup dengan harapan agar masyarakat semakin sadar bahwa cara minum obat yang tepat adalah kunci utama dalam proses penyembuhan. (Redaksi)

Terkait

[caption id="attachment_1326" align="alignnone" width="800"] Pelantikan Pimpinan Ranting IPNU IPPNU Pecakaran, Wonokerto - Pekalongan berlangsung khidmad. (14/10) Foto : Wahidatul Maghfiroh/wartadesa. Read more

SDN Tangkilkulon raih juara 1 lomba MAPSI

Kedungwuni, Wartadesa. - SD Negeri Tangkilkulon, Kecamatan Kedungwuni - Pekalongan meraih juara pertama dalam lomba  Mata Pelajaran Agama Islam dan Read more

IPNU IPPNU Wonokerto bentengi diri dengan Densus Aswaja

PAC IPPNU Wonokerto menggelar kegiatan Densus Aswaja di Masjid Hidayatullah, desa Semut (15/10). Foto Wahidatul Maghfiroh/wartadesa Read more

selengkapnya