close

Kesehatan

KesehatanPendidikan

Transformasi Pengobatan Tradisional melalui Pendekatan Ilmiah dan Inovasi Teknologi

tri nova

Oleh : Tri Nova Lovena

Pengobatan tradisional telah dikenal dan digunakan oleh berbagai peradaban manusia sejak zaman dahulu. Praktik ini berkembang berdasarkan pengalaman empiris masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam, khususnya tanaman obat, untuk mengatasi berbagai gangguan kesehatan. Di Indonesia, pengobatan tradisional seperti jamu merupakan bagian dari identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun dan masih relevan hingga saat ini. Meskipun memiliki sejarah panjang dan kepercayaan yang kuat di masyarakat, pengobatan tradisional sering kali dipandang kurang ilmiah jika dibandingkan dengan pengobatan modern. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan bukti ilmiah, variasi komposisi bahan, serta kurangnya standarisasi dalam proses pengolahan dan penggunaan. Akibatnya, pengobatan tradisional sulit untuk diintegrasikan secara penuh ke dalam sistem kesehatan formal.

Di sisi lain, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan besar dalam dunia kesehatan. Berbagai inovasi teknologi memungkinkan penelitian dilakukan secara lebih mendalam, akurat, dan efisien. Oleh karena itu, transformasi pengobatan tradisional melalui pendekatan ilmiah dan inovasi teknologi menjadi langkah strategis untuk menjembatani kearifan lokal dengan tuntutan medis modern. Pengobatan tradisional merujuk pada sistem pengobatan yang menggunakan bahan alami, metode manual, serta pengetahuan lokal yang berkembang dalam suatu komunitas. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan pengobatan tradisional sebagai praktik kesehatan yang berbasis pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan yang berasal dari budaya setempat.

Karakteristik utama pengobatan tradisional adalah penggunaan bahan alam seperti tanaman, hewan, dan mineral. Selain itu, pendekatan pengobatan tradisional umumnya bersifat holistik, yaitu tidak hanya berfokus pada gejala penyakit, tetapi juga pada keseimbangan tubuh secara keseluruhan. Aspek fisik, mental, dan lingkungan sering kali menjadi bagian dari proses penyembuhan. Meskipun demikian, pengobatan tradisional memiliki kelemahan, antara lain kurangnya dokumentasi ilmiah, variasi dosis, serta potensi kontaminasi bahan. Oleh sebab itu, pengembangan pengobatan tradisional memerlukan pendekatan ilmiah agar dapat dipertanggungjawabkan secara medis dan diterima oleh masyarakat luas.

Pendekatan ilmiah merupakan metode sistematis yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan berdasarkan observasi, eksperimen, dan analisis data. Dalam konteks pengobatan tradisional, pendekatan ilmiah berfungsi untuk membuktikan klaim khasiat yang selama ini didasarkan pada pengalaman empiris. Penelitian ilmiah terhadap pengobatan tradisional dimulai dengan identifikasi bahan aktif yang terkandung dalam tanaman obat. Proses ini dilanjutkan dengan uji praklinis untuk mengetahui efek farmakologis dan tingkat toksisitas. Setelah itu, dilakukan uji klinis pada manusia untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya.

Pendekatan ilmiah juga memungkinkan penentuan dosis yang tepat serta identifikasi efek samping dan interaksi dengan obat modern. Dengan demikian, pengobatan tradisional dapat digunakan secara lebih aman dan rasional. Hasil penelitian ini menjadi dasar dalam pengembangan obat herbal terstandar yang memiliki kualitas dan khasiat yang konsisten. Inovasi teknologi memiliki peran yang sangat penting dalam mempercepat transformasi pengobatan tradisional. Teknologi modern tidak hanya mendukung proses penelitian, tetapi juga meningkatkan kualitas produksi dan distribusi produk herbal. Bioteknologi memungkinkan pengembangan tanaman obat melalui teknik kultur jaringan dan rekayasa genetika. Teknologi ini membantu menghasilkan bahan baku yang berkualitas tinggi dan konsisten, sekaligus menjaga kelestarian sumber daya alam. Selain itu, bioteknologi memungkinkan isolasi dan pemurnian senyawa aktif secara lebih efisien.

Perkembangan teknologi informasi, khususnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), memungkinkan analisis data penelitian dalam jumlah besar. AI dapat digunakan untuk memprediksi potensi khasiat suatu tanaman, interaksi antar senyawa, serta efektivitas pengobatan berdasarkan pola data yang kompleks. Teknologi farmasi modern memungkinkan pengolahan bahan herbal menjadi sediaan yang lebih praktis dan higienis, seperti kapsul, tablet, dan ekstrak. Teknologi nano dan enkapsulasi juga membantu meningkatkan daya serap senyawa aktif dalam tubuh, sehingga efektivitas pengobatan menjadi lebih optimal. Standarisasi dan regulasi merupakan aspek penting dalam transformasi pengobatan tradisional. Tanpa adanya standar yang jelas, kualitas dan keamanan produk tidak dapat dijamin. Oleh karena itu, diperlukan pedoman yang mengatur bahan baku, proses produksi, hingga distribusi.

Standarisasi bertujuan untuk memastikan bahwa setiap produk pengobatan tradisional memiliki kualitas yang konsisten. Regulasi juga berperan dalam melindungi konsumen dari produk yang tidak aman atau mengandung klaim berlebihan. Di Indonesia, pemerintah telah menetapkan berbagai kebijakan untuk mengatur pengembangan dan peredaran obat tradisional. Dengan adanya regulasi yang jelas, pengobatan tradisional dapat lebih mudah diterima oleh tenaga kesehatan dan masyarakat. Hal ini juga membuka peluang bagi pengobatan tradisional untuk bersaing di pasar global. Meskipun memiliki potensi besar, integrasi pengobatan tradisional dengan teknologi modern menghadapi berbagai tantangan. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan sumber daya, baik dari segi pendanaan maupun tenaga ahli. Penelitian ilmiah dan pengembangan teknologi membutuhkan investasi yang besar dan kerja sama lintas disiplin.

Selain itu, masih terdapat perbedaan paradigma antara praktisi pengobatan tradisional dan tenaga medis modern. Kurangnya komunikasi dan pemahaman sering kali menjadi hambatan dalam kolaborasi. Tantangan lainnya adalah perlindungan pengetahuan tradisional agar tidak disalahgunakan oleh pihak tertentu tanpa memberikan manfaat yang adil bagi masyarakat lokal. Di tengah berbagai tantangan, peluang pengembangan pengobatan tradisional berbasis ilmiah dan teknologi sangat terbuka lebar. Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat dan alami mendorong permintaan terhadap produk herbal yang berkualitas. Kolaborasi antara akademisi, industri, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan transformasi ini. Dengan dukungan riset dan teknologi, pengobatan tradisional dapat berkembang menjadi bagian dari sistem kesehatan yang holistik dan berkelanjutan. ***

Penulis adalah Mahasiswa Program Doktoral UAD

 

Terkait
PKS Kota Santri serahkan bantuan al-Quran

Kedungwuni, Waradesa. - Jajaran Pengurus Dewan Pimpinan Daerah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Pekalongan, Kamis (05/01) mendatangi komplek Ponpes Miftakhul Read more

Ratusan penjaga sekolah di Batang tuntut kesejahteraan

Batang, Wartadesa. - Kecilnya honor bagi penjaga sekolah di wilayah Batang, semetara tanggung jawab mereka yang besar, seperti harus bertanggung Read more

SMP Trensains gelar workshop guru profesional

Pekalongan Kota, Wartadesa. - SMP Trensain Pekalongan menggelar workshop (pelatihan) guru profesional yang diikuti oleh seluruh guru dan tamu undangan, Read more

Dua cucian jins di Pegaden Tengah ditutup Satpol PP

Wonopringgo, Wartadesa. - Dua tempat pencucian jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ditutup oleh Satpol PP, hari Read more

selengkapnya
KesehatanPendidikan

Mahasiswa UMPP Edukasi Pasien RSPAU Hardjolukito Mengenai Penggunaan Vitamin Herbal

template berita foto warta desa(5)

Yogyakarta, Warta Desa, 24 Januari 2026. – Kesadaran masyarakat terhadap penggunaan vitamin yang aman dan tepat terus menjadi perhatian serius di dunia kesehatan. Hal ini mendorong Amelia Septiani, seorang mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan, untuk menggelar kegiatan promosi kesehatan bertajuk “Apakah Vitamin Herbal Lebih Baik? Ayo Bahas!” kepada lima puluh orang pasien di RSPAU Hardjolukito Yogyakarta.

Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari Program Kerja Profesi Apoteker yang berlangsung mulai awal Desember 2025 hingga Januari 2026. Dalam sesi edukasi tersebut, Amelia membahas secara interaktif perbedaan antara vitamin herbal dan vitamin sintetis, mulai dari kandungan, manfaat, hingga risiko penggunaannya bagi tubuh. Ia menjelaskan bahwa meskipun vitamin herbal berasal dari bahan alami, bukan berarti jenis tersebut selalu lebih aman dibandingkan vitamin sintetis. Menurutnya, kedua jenis vitamin tersebut memiliki manfaat masing-masing, namun harus tetap digunakan sesuai indikasi dan kondisi kesehatan pasien karena konsumsi yang berlebihan justru dapat menimbulkan efek samping.

Antusiasme peserta terlihat jelas dengan adanya sepuluh orang pasien yang aktif mengajukan pertanyaan. Salah satu pertanyaan yang menarik perhatian adalah mengenai jenis vitamin herbal yang baik bagi penderita hipertensi. Menanggapi hal tersebut, Amelia menyampaikan bahwa beberapa bahan herbal seperti bawang putih, seledri, dan daun zaitun dikenal dapat membantu menjaga tekanan darah. Meski demikian, ia menekankan bahwa penggunaannya tetap harus dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan, terutama bagi pasien yang sudah rutin mengonsumsi obat-obatan medis.

Selain memberikan penyuluhan, Amelia juga memperoleh pengalaman klinis yang sangat berharga selama masa praktiknya. Salah satunya adalah melakukan kunjungan langsung kepada pasien dengan diagnosis penyakit ginjal kronis stadium lima yang disertai komplikasi diabetes. Pengalaman ini memberikan pemahaman mendalam bagi calon tenaga kesehatan tersebut mengenai pentingnya ketelitian dalam pemilihan obat dan suplemen yang aman bagi pasien dengan penyakit kronis.

Selama menjalani praktik di RSPAU Hardjolukito, Amelia berada di bawah bimbingan Florentina Galuh Ivanka dan Ayu, serta mendapatkan pendampingan akademik dari Ainun Muthoharoh. Kegiatan edukasi ini mendapat respons positif baik dari pasien maupun tenaga kesehatan setempat karena dinilai mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penggunaan vitamin secara rasional. Melalui aksi nyata ini, Amelia berharap masyarakat tidak lagi mengonsumsi vitamin hanya berdasarkan tren, tetapi lebih mengutamakan keamanan dan kecocokan dengan kondisi tubuh masing-masing. (Redaksi)

Terkait
PKS Kota Santri serahkan bantuan al-Quran

Kedungwuni, Waradesa. - Jajaran Pengurus Dewan Pimpinan Daerah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Pekalongan, Kamis (05/01) mendatangi komplek Ponpes Miftakhul Read more

Ratusan penjaga sekolah di Batang tuntut kesejahteraan

Batang, Wartadesa. - Kecilnya honor bagi penjaga sekolah di wilayah Batang, semetara tanggung jawab mereka yang besar, seperti harus bertanggung Read more

SMP Trensains gelar workshop guru profesional

Pekalongan Kota, Wartadesa. - SMP Trensain Pekalongan menggelar workshop (pelatihan) guru profesional yang diikuti oleh seluruh guru dan tamu undangan, Read more

Dua cucian jins di Pegaden Tengah ditutup Satpol PP

Wonopringgo, Wartadesa. - Dua tempat pencucian jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ditutup oleh Satpol PP, hari Read more

selengkapnya
KesehatanPendidikan

Mahasiswa UMPP Edukasi Pasien RSPAU Hardjolukito Tentang Bahaya Campur Obat dengan Makanan

template berita foto warta desa(4)

Yogyakarta, Warta Desa, 24 Januari 2026. – Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penggunaan obat yang benar kembali dilakukan oleh kalangan mahasiswa. Puspita Dias Primadani, seorang mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan, menggelar kegiatan promosi kesehatan kepada lima puluh orang pasien di RSPAU dr. Hardjolukito. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Praktik Kerja Profesi Apoteker yang ia jalani sejak awal Desember 2025 hingga Januari 2026.

Dalam edukasinya, Puspita mengangkat tema yang sangat dekat dengan kebiasaan sehari-hari masyarakat, yaitu mengenai interaksi antara obat dengan makanan dan minuman. Di hadapan puluhan pasien, ia menjelaskan bahwa obat tidak selalu aman jika dikonsumsi bersamaan dengan makanan tertentu. Ia menekankan agar pasien menghindari meminum obat bersama dengan pisang, susu, atau teh, karena ketiga bahan tersebut dapat mengganggu proses penyerapan obat di dalam tubuh sehingga khasiatnya menjadi tidak maksimal.

Penjelasan tersebut memancing antusiasme peserta yang hadir, terbukti dengan adanya sepuluh pasien yang aktif mengajukan pertanyaan dalam sesi diskusi. Salah satu pasien sempat menanyakan apakah obat gula darah boleh diminum bersamaan dengan buah pisang. Menanggapi hal itu, Puspita menjelaskan bahwa pisang memiliki kandungan kalium dan serat tinggi yang dapat memengaruhi kerja obat tertentu, terutama bagi pasien diabetes atau gangguan ginjal. Ia menyarankan agar masyarakat selalu mengutamakan air putih saat minum obat dan memberikan jeda waktu satu hingga dua jam jika ingin mengonsumsi makanan.

Selain memberikan penyuluhan, Puspita juga mendapatkan pengalaman klinis yang mendalam selama masa praktiknya. Ia terlibat langsung dalam pemantauan pasien rawat inap yang memiliki diagnosis gagal ginjal stadium lima pascaoperasi batu ginjal. Dalam kasus tersebut, ia belajar melakukan pemantauan terapi dan berdiskusi mengenai penggunaan obat yang aman bagi pasien dengan penurunan fungsi ginjal, terutama saat pasien mengeluhkan gejala sulit tidur serta mual.

Selama menjalani praktik di RSPAU Hardjolukito, Puspita mendapatkan arahan dan bimbingan langsung dari Florentika Ivanka dan Ayu selaku pembimbing lapangan, serta Ainun Muthoharoh sebagai pembimbing akademik. Baginya, pengalaman ini membuktikan bahwa peran tenaga farmasi sangat krusial dalam menjamin keselamatan pasien melalui edukasi-edukasi sederhana yang berdampak besar. Kegiatan ini ditutup dengan harapan agar masyarakat semakin sadar bahwa cara minum obat yang tepat adalah kunci utama dalam proses penyembuhan. (Redaksi)

Terkait
PKS Kota Santri serahkan bantuan al-Quran

Kedungwuni, Waradesa. - Jajaran Pengurus Dewan Pimpinan Daerah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Pekalongan, Kamis (05/01) mendatangi komplek Ponpes Miftakhul Read more

Ratusan penjaga sekolah di Batang tuntut kesejahteraan

Batang, Wartadesa. - Kecilnya honor bagi penjaga sekolah di wilayah Batang, semetara tanggung jawab mereka yang besar, seperti harus bertanggung Read more

SMP Trensains gelar workshop guru profesional

Pekalongan Kota, Wartadesa. - SMP Trensain Pekalongan menggelar workshop (pelatihan) guru profesional yang diikuti oleh seluruh guru dan tamu undangan, Read more

Dua cucian jins di Pegaden Tengah ditutup Satpol PP

Wonopringgo, Wartadesa. - Dua tempat pencucian jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ditutup oleh Satpol PP, hari Read more

selengkapnya
KesehatanPendidikan

Mahasiswa UMPP Berikan Edukasi Kontrasepsi bagi Pasien di RSPAU Hardjolukito

template berita foto warta desa(3)

Yogyakarta, Warta Desa, 24 Januari 2026.  — Komitmen Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan dalam mencetak tenaga kesehatan yang kompeten dan berempati kembali ditunjukkan melalui aksi nyata mahasiswanya. Dewi Rismiyati, seorang mahasiswa Program Studi Profesi Apoteker dari universitas tersebut, melaksanakan kegiatan promosi kesehatan kepada lima puluh orang pasien di RSPAU Hardjolukito dengan mengangkat tema penting mengenai pengenalan berbagai macam kontrasepsi.

Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka Praktik Kerja Profesi Apoteker yang berlangsung pada periode Desember 2025 hingga Januari 2026. Melalui promosi kesehatan ini, Dewi memberikan edukasi mendalam mengenai berbagai jenis kontrasepsi, sekaligus menjelaskan bagaimana cara memilih dan menggunakan metode yang sesuai dengan kebutuhan, kondisi kesehatan, serta gaya hidup masing-masing pasien.

Suasana kegiatan tersebut berlangsung sangat komunikatif dan interaktif. Tercatat sekitar sepuluh pasien aktif mengajukan pertanyaan, yang menunjukkan antusiasme tinggi terhadap materi yang disampaikan. Salah satu pertanyaan yang menarik perhatian adalah mengenai efek samping jangka panjang dari kontrasepsi non-hormonal. Menanggapi hal tersebut, Dewi menjelaskan bahwa metode non-hormonal umumnya memiliki dampak sistemik yang lebih minimal, namun tetap memerlukan pemantauan dan konsultasi rutin dengan tenaga kesehatan guna memastikan keamanan serta kenyamanan penggunanya.

Dalam sesi edukasi tersebut, Dewi menekankan bahwa setiap metode kontrasepsi memiliki kelebihan dan keterbatasan masing-masing. Menurutnya, hal yang paling utama adalah pemilihan yang tepat dan penggunaan yang benar sesuai dengan kondisi fisik setiap pasien. Selain memberikan edukasi, Dewi Rismiyati juga memperoleh pengalaman berharga lainnya selama menjalani praktik di RSPAU Hardjolukito, termasuk saat melakukan kunjungan langsung kepada pasien penyakit kanker yang mengalami penurunan kesadaran. Pengalaman ini memberikan pembelajaran mendalam mengenai peran tenaga farmasi yang tidak hanya fokus pada informasi obat, tetapi juga harus menjunjung tinggi empati dan kerja sama tim.

Selama pelaksanaan praktik kerja ini, Dewi mendapatkan bimbingan langsung dari para pembimbing yaitu Ivanka dan Ayu, serta mendapatkan pendampingan akademik dari Ainun Muthoharoh. Dukungan serta arahan dari para pembimbing tersebut menjadi bekal penting dalam mengasah kompetensi profesional dan sikap humanis sebagai calon apoteker. Melalui kegiatan ini, Dewi berharap edukasi yang diberikan dapat meningkatkan pemahaman pasien tentang kesehatan reproduksi serta mendorong penggunaan kontrasepsi yang aman dan tepat sebagai wujud kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung kualitas pelayanan kesehatan di masyarakat. (Redaksi)

Terkait
PKS Kota Santri serahkan bantuan al-Quran

Kedungwuni, Waradesa. - Jajaran Pengurus Dewan Pimpinan Daerah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Pekalongan, Kamis (05/01) mendatangi komplek Ponpes Miftakhul Read more

Ratusan penjaga sekolah di Batang tuntut kesejahteraan

Batang, Wartadesa. - Kecilnya honor bagi penjaga sekolah di wilayah Batang, semetara tanggung jawab mereka yang besar, seperti harus bertanggung Read more

SMP Trensains gelar workshop guru profesional

Pekalongan Kota, Wartadesa. - SMP Trensain Pekalongan menggelar workshop (pelatihan) guru profesional yang diikuti oleh seluruh guru dan tamu undangan, Read more

Dua cucian jins di Pegaden Tengah ditutup Satpol PP

Wonopringgo, Wartadesa. - Dua tempat pencucian jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ditutup oleh Satpol PP, hari Read more

selengkapnya
KesehatanPendidikan

Mahasiswa UMPP Ajak Pasien RS Hardjolukito Tak Takut Minum Obat

template berita foto warta desa(2)

Yogyakarta, Warta Desa, 24 Januari 2026. — Komitmen Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan dalam mencetak tenaga kesehatan profesional kembali ditunjukkan melalui kiprah mahasiswanya di dunia nyata. Aditya Nurhamidah, mahasiswa universitas tersebut yang tengah menjalani Praktek Kerja Profesi Apoteker, aktif memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat selama praktik di Rumah Sakit Hardjolukito Yogyakarta.

Dalam salah satu kegiatan edukatifnya, Aditya menyampaikan pesan kepada lima puluh pasien dengan tema Ayo Jangan Takut Minum Obat. Edukasi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman pasien mengenai pentingnya kepatuhan minum obat serta meluruskan berbagai anggapan keliru yang masih sering ditemui di masyarakat. Aditya menjelaskan bahwa masih banyak pasien yang ragu mengonsumsi obat karena takut efek samping atau merasa sudah sembuh. Melalui edukasi ini, ia ingin menumbuhkan kesadaran bahwa obat yang diminum sesuai aturan justru sangat membantu proses penyembuhan.

Aditya menjalani praktik kerja di Rumah Sakit Hardjolukito Yogyakarta selama periode 1 Desember 2025 hingga 24 Januari 2026. Selama masa praktik tersebut, ia mendapatkan pengalaman langsung di berbagai bidang pelayanan kefarmasian, mulai dari kunjungan ke pasien, penyelarasan data obat, pencampuran antibiotik, pemberian informasi obat kepada pasien, hingga peracikan obat steril dan non-steril.

Seluruh kegiatan praktik kerja ini dilaksanakan dengan bimbingan dari Florentina Galuh Ivanka dan Ayu yang secara aktif mendampingi mahasiswa dalam penerapan ilmu kefarmasian di lingkungan rumah sakit. Sementara itu, dari sisi akademik, Aditya mendapatkan arahan dari pembimbing akademik Ainun Muthoharoh guna memastikan kompetensi profesi tercapai sesuai standar yang berlaku.

Kegiatan edukasi yang dilakukan mahasiswa ini mendapat respons positif dari para pasien. Selain membantu meningkatkan pemahaman tentang penggunaan obat, kegiatan tersebut juga memperkuat peran tenaga farmasi sebagai bagian dari tenaga kesehatan yang tidak hanya bertugas menyiapkan obat, tetapi juga berperan sebagai pendidik dan pendamping pasien.

Melalui program praktik kerja profesi ini, pihak universitas terus mendorong mahasiswanya untuk terjun langsung ke masyarakat dan dunia pelayanan kesehatan. Kehadiran mahasiswa seperti Aditya Nurhamidah menjadi bukti nyata komitmen dalam melahirkan tenaga kesehatan yang kompeten, humanis, dan berorientasi pada keselamatan pasien. (Redaksi)

Terkait
PKS Kota Santri serahkan bantuan al-Quran

Kedungwuni, Waradesa. - Jajaran Pengurus Dewan Pimpinan Daerah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Pekalongan, Kamis (05/01) mendatangi komplek Ponpes Miftakhul Read more

Ratusan penjaga sekolah di Batang tuntut kesejahteraan

Batang, Wartadesa. - Kecilnya honor bagi penjaga sekolah di wilayah Batang, semetara tanggung jawab mereka yang besar, seperti harus bertanggung Read more

SMP Trensains gelar workshop guru profesional

Pekalongan Kota, Wartadesa. - SMP Trensain Pekalongan menggelar workshop (pelatihan) guru profesional yang diikuti oleh seluruh guru dan tamu undangan, Read more

Dua cucian jins di Pegaden Tengah ditutup Satpol PP

Wonopringgo, Wartadesa. - Dua tempat pencucian jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ditutup oleh Satpol PP, hari Read more

selengkapnya
KesehatanOpini

PENGEMBANGAN MODEL KONSELING KEFARMASIAN BERBASIS MOTIVATIONAL INTERVIEWING DAN BEHAVIORAL CHANGE TERHADAP LUARAN KLINIK DAN HUMANISTIK PASIEN HIV/AIDS

dokkes

Oleh: Ipan Supriatna

Pasien HIV/AIDS merupakan kelompok dengan kebutuhan pelayanan kesehatan yang kompleks, tidak hanya dari aspek klinik tetapi juga aspek psikologis, sosial, dan kualitas hidup. Terapi antiretroviral (ARV) yang harus dikonsumsi seumur hidup menuntut tingkat kepatuhan yang tinggi agar dapat menekan viral load, meningkatkan jumlah CD4, serta mencegah terjadinya resistensi obat. Namun, dalam praktiknya, berbagai hambatan seperti efek samping obat, kelelahan terapi, stigma sosial, dan kurangnya pemahaman pasien sering kali menyebabkan ketidakpatuhan terhadap pengobatan.

Dalam konteks tersebut, peran apoteker tidak lagi terbatas pada penyediaan obat, melainkan berkembang sebagai tenaga kesehatan yang memiliki peran strategis dalam memberikan konseling kefarmasian yang berfokus pada pasien (patient-centered care). Konseling kefarmasian yang efektif diharapkan mampu meningkatkan pemahaman pasien terhadap terapinya, membangun motivasi internal, serta mendorong perubahan perilaku yang berkelanjutan dalam menjalani pengobatan ARV.

Salah satu pendekatan komunikasi yang dinilai efektif dalam meningkatkan motivasi dan kepatuhan pasien adalah Motivational Interviewing (MI). MI merupakan pendekatan konseling kolaboratif yang berfokus pada eksplorasi dan penguatan motivasi intrinsik individu untuk berubah. Pendekatan ini menekankan empati, refleksi, serta penghargaan terhadap otonomi pasien, sehingga sangat relevan diterapkan pada pasien HIV/AIDS yang sering mengalami konflik internal, ambivalensi, dan tekanan psikososial.

Selain MI, konsep Behavioral Change atau perubahan perilaku juga menjadi landasan penting dalam pengembangan model konseling kefarmasian. Perubahan perilaku kesehatan tidak terjadi secara instan, melainkan melalui tahapan yang melibatkan kesadaran, niat, tindakan, dan pemeliharaan perilaku. Dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip perubahan perilaku ke dalam konseling kefarmasian, apoteker dapat membantu pasien HIV/AIDS untuk secara bertahap membangun perilaku patuh minum obat, menjaga pola hidup sehat, serta berkomitmen terhadap terapi jangka panjang.

Pengembangan model konseling kefarmasian berbasis Motivational Interviewing dan Behavioral Change dilakukan melalui pendekatan sistematis yang mencakup identifikasi kebutuhan pasien, perumusan struktur sesi konseling, serta penentuan indikator luaran klinik dan humanistik. Model ini dirancang agar mudah diterapkan oleh apoteker di fasilitas pelayanan kesehatan, baik di rumah sakit maupun layanan kesehatan primer, dengan tetap memperhatikan karakteristik pasien HIV/AIDS.

Luaran klinik yang menjadi fokus dalam pengembangan model ini meliputi tingkat kepatuhan penggunaan ARV, perubahan nilai CD4, penekanan viral load, serta pengurangan kejadian efek samping obat yang tidak terkelola dengan baik. Sementara itu, luaran humanistik mencakup kualitas hidup pasien, tingkat kepuasan terhadap pelayanan kefarmasian, kepercayaan diri dalam menjalani terapi, serta penurunan beban psikologis terkait penyakit dan pengobatan.

Integrasi pendekatan MI dan Behavioral Change dalam konseling kefarmasian diharapkan mampu menciptakan hubungan terapeutik yang lebih kuat antara apoteker dan pasien. Melalui komunikasi yang empatik, reflektif, dan berorientasi pada tujuan pasien, apoteker dapat membantu pasien HIV/AIDS menemukan makna personal dari pengobatan yang dijalani, sehingga kepatuhan tidak lagi dipandang sebagai kewajiban, melainkan sebagai kebutuhan yang disadari.

Pengembangan model konseling ini tidak hanya berkontribusi terhadap peningkatan luaran klinik pasien HIV/AIDS, tetapi juga memperkuat peran apoteker sebagai tenaga kesehatan yang berorientasi pada pelayanan holistik. Dengan pendekatan yang terstruktur dan berbasis bukti, model ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam praktik konseling kefarmasian serta mendukung peningkatan mutu pelayanan farmasi klinik di Indonesia.

Kesimpulan

Pengembangan model konseling kefarmasian berbasis Motivational Interviewing dan Behavioral Change memiliki potensi besar dalam meningkatkan luaran klinik dan humanistik pasien HIV/AIDS. Pendekatan ini memungkinkan apoteker untuk berperan aktif dalam membangun motivasi, mengatasi hambatan kepatuhan, serta mendorong perubahan perilaku pasien secara berkelanjutan. Melalui konseling yang empatik, terstruktur, dan berfokus pada pasien, model ini diharapkan dapat meningkatkan keberhasilan terapi ARV, kualitas hidup pasien, serta mutu pelayanan kefarmasian secara keseluruhan. Model konseling ini juga berpeluang menjadi dasar pengembangan intervensi kefarmasian yang lebih inovatif dan kontekstual dalam penatalaksanaan HIV/AIDS. ***

Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Farmasi, Program Studi Doktoral Farmasi Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta

Terkait
Dua cucian jins di Pegaden Tengah ditutup Satpol PP

Wonopringgo, Wartadesa. - Dua tempat pencucian jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ditutup oleh Satpol PP, hari Read more

Puskesmas tak jadi naik 400 persen, ditunda Bupati Pekalongan

Kajen, Wartadesa. - Kenaikan tarif pelayanan Puskesmas di Kabupaten Pekalongan sebesar 400 persen sejak tanggal 1 Februari 2018, mulai hari Read more

Masuk 10 besar wilayah rawan narkoba Jateng, Saelany akan bentuk BNNK

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Tingginya kasus pelanggaran kasus narkoba di Kota Pekalongan, membuat wilayah ini masuk dalam 10 besar wilayah Read more

Pekalongan ‘darurat’ gizi buruk

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Kota Pekalongan 'darurat' gizi buruk, setidaknya 13 balita di Kota Batik menderita gizi buruk dengan penyakit Read more

selengkapnya
KesehatanOpini

Potensi Hair Tonic Herbal Berbasis Ekstrak Daun Jambu Biji dan Daun Kelor: Dari Karakterisasi Ekstrak hingga Uji Klinis

ft

Oleh: Reski Mulia

Kebutuhan masyarakat akan produk perawatan rambut yang aman, alami, dan efektif terus meningkat seiring dengan meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan dan efek samping bahan kimia sintetis. Salah satu solusi yang kini banyak dikembangkan adalah hair tonic berbasis bahan herbal, yang memanfaatkan kekayaan hayati Indonesia. Dua tanaman yang memiliki potensi besar dalam perawatan rambut adalah daun jambu biji (Psidium guajava L.) dan daun kelor (Moringa oleifera).

Daun jambu biji dikenal kaya akan senyawa flavonoid, tanin, dan antioksidan yang berperan dalam menghambat kerontokan rambut serta menjaga kesehatan kulit kepala. Sementara itu, daun kelor mengandung vitamin, mineral, asam amino esensial, dan senyawa bioaktif yang mampu menutrisi akar rambut, merangsang pertumbuhan rambut, serta meningkatkan kekuatan helai rambut. Kombinasi kedua ekstrak ini berpotensi menghasilkan sediaan hair tonic herbal yang efektif dan aman digunakan secara jangka panjang.

Tahap awal pengembangan hair tonic herbal ini diawali dengan proses karakterisasi ekstrak, meliputi penentuan sifat fisik dan kimia ekstrak, uji kandungan senyawa aktif, serta aktivitas antioksidan. Karakterisasi ini bertujuan untuk memastikan kualitas, konsistensi, dan potensi biologis ekstrak daun jambu biji dan daun kelor sebagai bahan aktif utama.

Selanjutnya dilakukan optimasi formula, yaitu penentuan komposisi terbaik antara ekstrak, pelarut, serta bahan pendukung lainnya agar diperoleh sediaan hair tonic yang stabil, nyaman digunakan, dan memiliki daya serap yang baik pada kulit kepala. Optimasi ini juga mempertimbangkan aspek organoleptik seperti warna, aroma, dan tekstur agar produk dapat diterima dengan baik oleh konsumen.

Aspek stabilitas sediaan menjadi tahapan penting berikutnya, untuk memastikan bahwa hair tonic tetap aman dan efektif selama masa penyimpanan. Uji stabilitas dilakukan dengan berbagai kondisi suhu dan waktu, guna menilai perubahan fisik, kimia, serta mikrobiologis dari produk.

Sebagai tahap akhir, dilakukan uji klinis untuk mengevaluasi keamanan dan efektivitas hair tonic herbal pada relawan. Uji ini meliputi pengamatan terhadap penurunan kerontokan rambut, peningkatan pertumbuhan rambut, serta kemungkinan timbulnya iritasi atau reaksi alergi pada kulit kepala. Hasil uji klinis diharapkan dapat memberikan bukti ilmiah bahwa hair tonic herbal berbasis ekstrak daun jambu biji dan daun kelor layak digunakan sebagai alternatif perawatan rambut yang aman dan berbasis bahan alam.

Pengembangan hair tonic herbal ini tidak hanya membuka peluang inovasi produk kosmetik berbasis bahan alam, tetapi juga mendukung pemanfaatan tanaman lokal bernilai tinggi. Dengan pendekatan ilmiah yang komprehensif mulai dari karakterisasi ekstrak, optimasi formula, uji stabilitas, hingga uji klinis, hair tonic herbal ini diharapkan dapat menjadi solusi alami dalam menjaga kesehatan dan keindahan rambut masyarakat Indonesia.

Kesimpulan

Hair tonic herbal berbasis ekstrak daun jambu biji dan daun kelor memiliki potensi besar sebagai produk perawatan rambut alami yang aman dan efektif. Melalui tahapan karakterisasi ekstrak, optimasi formula, uji stabilitas, dan uji klinis, penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi kedua tanaman tersebut mengandung senyawa bioaktif yang mampu mendukung kesehatan kulit kepala, mengurangi kerontokan, serta merangsang pertumbuhan rambut. Formula hair tonic yang dihasilkan juga memiliki stabilitas yang baik dan dapat ditoleransi dengan aman oleh pengguna. Dengan dukungan bukti ilmiah dan pemanfaatan bahan alam lokal, hair tonic herbal ini berpeluang menjadi alternatif inovatif dalam industri kosmetik berbasis herbal serta mendukung pengembangan produk kesehatan yang berkelanjutan. ***

Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Farmasi, Program Studi Doktoral Farmasi Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta

Terkait
Dua cucian jins di Pegaden Tengah ditutup Satpol PP

Wonopringgo, Wartadesa. - Dua tempat pencucian jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ditutup oleh Satpol PP, hari Read more

Puskesmas tak jadi naik 400 persen, ditunda Bupati Pekalongan

Kajen, Wartadesa. - Kenaikan tarif pelayanan Puskesmas di Kabupaten Pekalongan sebesar 400 persen sejak tanggal 1 Februari 2018, mulai hari Read more

Masuk 10 besar wilayah rawan narkoba Jateng, Saelany akan bentuk BNNK

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Tingginya kasus pelanggaran kasus narkoba di Kota Pekalongan, membuat wilayah ini masuk dalam 10 besar wilayah Read more

Pekalongan ‘darurat’ gizi buruk

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Kota Pekalongan 'darurat' gizi buruk, setidaknya 13 balita di Kota Batik menderita gizi buruk dengan penyakit Read more

selengkapnya
KesehatanOpiniPendidikan

INTEGRASI TEKNOLOGI MODERN DALAM PENGEMBANGAN PENGOBATAN TRADISIONAL BERBASIS BUKTI ILMIAH

foto tulisan

Oleh : Dewi Gulyla Hari

Pengobatan tradisional merujuk pada sistem perawatan kesehatan dan kesejahteraan yang terkodifikasi atau tidak terkodifikasi, yang meliputi praktik, keterampilan, pengetahuan, dan filosofi yang berasal dari berbagai konteks sejarah dan budaya, yang berbeda dari dan mendahului biomedis, berkembang seiring dengan ilmu pengetahuan untuk penggunaan saat ini dari asal yang berbasis pengalaman. Pengobatan tradisional menekankan pengunaan tanaman obat berbasis bahan alam dengan pendekatan yang menyeluruh dalam rangka menjaga keseimbangan jasmani, rohani, dan lingkungan sekitar.

Pengobatan menggunakan tanaman obat sudah sejak dahulu digunakan oleh para nenek moyang kita hampir di seluruh belahan dunia. Menurut data dari World Health Organization (WHO) sudah 170 dari 194 negara melaporkan penggunaan obat herbal, akupunktur, yoga dan sistem pengobatan tradisional lainnya. Banyak negara sekarang memahami bahwa pengobatan berbahan dasar bahan alam berpotensi untuk dibuatkan regulasinya sehingga bisa diintegrasikan ke dalan sistem kesehatan nasional. Saat ini, pengobatan tradisional telah menjadi fenomena global; permintaannya terus meningkat, dengan kesadaran pasien yang makin meningkat akan kesehatan jiwa dan raga mereka sehingga akan serta merta mencari perawatan kesehatan yang lebih holistik dan personal. Bagi jutaan orang, terutama penduduk yang berada jauh dari kota dan pusat pengobatan medis, bisa dipahami mengapa terapi alternatif seperti penggunaan obat herbal, akupuntur, yoga, dan lain-lainnya masih digunakan untuk kesehatan dan kesejahteraan, menawarkan perawatan yang dapat diterima secara budaya, tersedia, dan terjangkau. Namun, kurang dari 1% pendanaan penelitian kesehatan global saat ini didedikasikan untuk pengobatan tradisional. Kurangnya investasi dalam penelitian melemahkan upaya untuk membangun basis bukti yang kuat. Pekerjaan WHO tentang pengobatan tradisional merupakan respons terhadap permintaan dari berbagai negara untuk bukti dan data guna menginformasikan kebijakan dan praktik, standar global, dan peraturan untuk memastikan keamanan, kualitas, dan akses yang adil.

Traditional, Complementary and Integrative Medicine (TCIM) dalam sistem kesehatan nasional harus dilakukan dengan tepat, efektif, dan aman berdasarkan bukti ilmiah terbaru. WHO mendukung negara-negara yang ingin menerapkan praktik pengobatan tradisional untuk melakukannya dengan cara berbasis sains guna menghindari bahaya bagi pasien dan memastikan perawatan kesehatan yang aman, efektif, dan berkualitas. Pendekatan berbasis bukti terhadap pengobatan tradisional, yang menetapkan kemanjuran dan keamanan melalui validasi ilmiah yang ketat, sangat penting, bahkan jika pun hal tersebut telah digunakan secara turun temurun. Tujuannya tidak hanya menjamin bahwa pengobatan efektif dan aman, tetapi juga memberikan bukti ketat yang dibutuhkan untuk rekomendasi pengobatan tradisional dalam pedoman WHO. Terapi non-medisinal (misalnya yoga dan akupuntur) menghadirkan tantangan tambahan karena jelas terdapat variabilitas yang luas dalam praktiknya dan melakukan uji klinis terkontrol secara acak sangat sulit, bahkan mungkin mustahil. Upaya bersama untuk mengembangkan metodologi baru yang memberikan bukti yang kredibel dan kuat untuk merekomendasikan penggunaannya untuk kondisi kesehatan tertentu sangat dibutuhkan.

WHO mendukung negara-negara dalam mempromosikan penggunaan TCIM yang aman, efektif, dan berpusat pada masyarakat sebagai bagian dari upaya untuk mencapai cakupan kesehatan universal dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Strategi Pengobatan Tradisional Global: 2025–2034 memandu pekerjaan ini, dengan fokus pada penguatan kualitas, keamanan, penggunaan yang tepat, dan integrasi TCIM berdasarkan bukti, inovasi, dan penghormatan terhadap keragaman budaya dan keanekaragaman hayati. Dalam rangka mendukung program ini, pada tahun 2022 di negara India didirikanlah Pusat Pengobatan Tradisional Global oleh WHO.

Upaya WHO dalam bidang Pengobatan Tradisional dan Komplementer (TCIM) terstruktur di sekitar empat area utama:

  1. kepemimpinan: memberikan arahan global melalui Strategi Pengobatan Tradisional Global WHO 2025–2034, menetapkan visi dan prioritas bagi negara-negara anggota;

  2. penelitian dan data: menetapkan prioritas penelitian, meninjau bukti, dan menggunakan teknologi canggih untuk menghasilkan data yang kuat untuk pengambilan keputusan berdasarkan bukti;

  3. norma, standar, regulasi, dan integrasi: mengembangkan standar internasional untuk terminologi, kualitas, dan keamanan produk, praktik, dan praktisi TCIM; mendukung negara-negara dalam membangun sistem regulasi dan mengintegrasikan TCIM ke dalam sistem kesehatan; dan

  4. kemitraan: mendorong kolaborasi dengan para pemangku kepentingan untuk memajukan TCIM dalam agenda kesehatan global, memobilisasi sumber daya, dan memperkuat komitmen politik terhadap tujuan bersama.

Melalui bidang-bidang ini, WHO membantu negara-negara di dunia agar dapat mengintegrasikan TCIM secara efektif dan aman, berkontribusi pada hasil kesehatan yang lebih baik dan perawatan yang lebih inklusif serta responsif secara budaya. Dalam sistem perawatan kesehatan, hasil keselamatan bergantung pada kombinasi faktor-faktor seperti kompetensi praktisi, kualitas produk, komunikasi yang efektif, dan dukungan regulasi yang kuat. Kejadian buruk, kesalahan pengobatan, atau kualitas produk yang terganggu dapat terjadi di bidang perawatan kesehatan mana pun, bukan karena sistem itu sendiri tidak aman, tetapi karena keselamatan bergantung pada bagaimana perawatan diberikan. Baik pengobatan tradisional maupun biomedis memiliki pendekatan yang mapan untuk mempromosikan keselamatan. Ketika didukung oleh pelatihan yang tepat, jaminan kualitas, dan kerangka kerja praktik yang jelas, pengobatan tradisional biasanya merupakan sumber penyembuhan yang aman dan terpercaya.

Seperti halnya dalam biomedik, penguatan keselamatan pasien dalam pengobatan tradisional juga melibatkan peningkatan lingkungan perawatan kesehatan yang lebih luas di sekitarnya. Ini dapat mencakup peningkatan dokumentasi, dukungan terhadap penelitian, memastikan standar kualitas yang konsisten, dan membangun sistem regulasi yang melindungi baik praktisi maupun pasien. Dengan berfokus pada faktor-faktor pendukung ini, pengobatan tradisional dapat terus berkontribusi secara aman dan efektif terhadap kesehatan masyarakat.

Banyak negara memiliki warisan pengobatan tradisional yang panjang dan kaya dan telah mengintegrasikannya ke dalam sistem pelayanan kesehatan nasional mereka dengan berbagai tingkat. Tantangan umum adalah memantau keamanan produk pengobatan tradisional, terutama pembentukan sistem farmakovigilans untuk produk pengobatan tradisional. Mengingat luasnya penggunaan pengobatan tradisional di seluruh dunia, pemantauan keamanannya merupakan bidang kerja yang penting dan diprioritaskan. WHO mendorong negara-negara yang belum memilikinya untuk membangun sistem farmakovigilans terintegrasi untuk obat-obatan konvensional dan produk TCIM. Secara umum, produk dan praktik TCIM tunduk pada pengawasan yang sama (regulasi, keamanan, dan kontrol kualitas) seperti obat-obatan; 124 Negara Anggota WHO telah mengesahkan undang-undang atau peraturan untuk obat-obatan herbal.

Untuk mendukung berbagai negara, WHO telah menerbitkan pedoman tentang kualitas, keamanan, dan khasiat obat herbal, termasuk:

  1. Pedoman WHO tentang pemilihan zat asal herbal untuk pengendalian mutu obat herbal

  2. Metode pengendalian mutu untuk bahan herbal

  3. Pedoman WHO tentang penilaian mutu obat herbal dengan mengacu pada kontaminan dan residu

  4. Pedoman WHO tentang praktik manufaktur yang baik untuk obat herbal

  5. Pedoman WHO tentang praktik pertanian dan pengumpulan yang baik untuk tanaman obat

Sekitar 40% produk farmasi saat ini berbasis produk alami, dan obat-obatan terobosan berasal dari pengobatan tradisional. Tanaman obat telah memberikan sumbangan yang signifikan dengan ditemukannya obat medis yang inovatif. Contohnya adalah penemuan aspirin bersumber dari formulasi pengobatan tradisional yang berasal dari kulit pohon willow. Penelitian pemenang Nobel mengenai artemisinin untuk pengobatan malaria berawal dari peninjauan manuskrip kuno pengobatan Tiongkok. Penemuan vaksin cacar telah menyebabkan pemberantasan penyakit tersebut, terinspirasi oleh praktik inokulasi kuno oleh masyarakat di seluruh dunia. Modernisasi yang luar biasa dan cepat dalam cara mempelajari pengobatan tradisional dapat membantu mewujudkan potensi dan janji pengobatan tradisional dan pengetahuan tradisional, untuk kesehatan dan kesejahteraan. Dengan mengambil petunjuk dari penggunaan tradisional, obat-obatan baru yang efektif secara klinis dapat diidentifikasi melalui penelitian seperti etnofarmakologi dan farmakologi terbalik.

Penggunaan aplikasi berbasis teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam bidang kesehatan tidak dapat dipungkiri telah mengubah cakrawala pengetahuan baru dalam berbagai aspeknya. AI memegang peranan penting dalam merevolusi studi dan praktik sistem penyembuhan tradisional. Algoritma canggih dan kemampuan pembelajaran mesin AI dapat memungkinkan para peneliti untuk mengeksplorasi pengetahuan medis tradisional yang luas, memetakan bukti, dan mengidentifikasi tren yang sebelumnya sulit dipahami.

(Sumber : World Health Organization 2025)

Penulis adalah adalah Mahasiswa Program Doktoral UAD

Terkait
PKS Kota Santri serahkan bantuan al-Quran

Kedungwuni, Waradesa. - Jajaran Pengurus Dewan Pimpinan Daerah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Pekalongan, Kamis (05/01) mendatangi komplek Ponpes Miftakhul Read more

Ratusan penjaga sekolah di Batang tuntut kesejahteraan

Batang, Wartadesa. - Kecilnya honor bagi penjaga sekolah di wilayah Batang, semetara tanggung jawab mereka yang besar, seperti harus bertanggung Read more

SMP Trensains gelar workshop guru profesional

Pekalongan Kota, Wartadesa. - SMP Trensain Pekalongan menggelar workshop (pelatihan) guru profesional yang diikuti oleh seluruh guru dan tamu undangan, Read more

Dua cucian jins di Pegaden Tengah ditutup Satpol PP

Wonopringgo, Wartadesa. - Dua tempat pencucian jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ditutup oleh Satpol PP, hari Read more

selengkapnya
KesehatanOpini

Harta Karun Tersembunyi dari Laut Lombok: Spons Laut dan Harapan Baru Terapi Kanker Payudara

abdul rahman

Oleh : Abdul Rahman Wahid 

Kanker payudara masih menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar bagi perempuan di dunia, termasuk di Indonesia. Angka kejadiannya terus meningkat setiap tahun, sementara biaya pengobatan yang mahal dan efek samping terapi konvensional sering menjadi beban berat bagi pasien. Kondisi ini mendorong para ilmuwan untuk terus mencari sumber obat baru yang lebih efektif dan aman, salah satunya dari alam—termasuk dari laut Indonesia.

Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan dengan kekayaan biodiversitas laut yang luar biasa. Namun, potensi ini belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk pengembangan obat. Salah satu biota laut yang menarik perhatian para peneliti adalah spons laut, organisme sederhana yang hidup menempel di dasar laut. Meskipun terlihat sederhana, spons laut ternyata memproduksi berbagai senyawa kimia unik untuk bertahan hidup di lingkungan yang keras. Senyawa inilah yang berpotensi dimanfaatkan sebagai obat, termasuk obat antikanker.

Salah satu jenis spons yang banyak ditemukan di perairan Sekotong, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, adalah spons Callyspongia sp. Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa spons dari genus ini mengandung senyawa bioaktif seperti alkaloid, terpenoid, steroid, dan peptida siklik yang mampu menghambat pertumbuhan sel kanker. Sayangnya, potensi besar ini masih jarang dieksplorasi secara mendalam, khususnya yang berasal dari perairan Lombok.

Penelitian disertasi ini bertujuan untuk menggali potensi senyawa antikanker dari spons Callyspongia sp. dengan pendekatan ilmiah modern. Spons laut diekstraksi dan dipisahkan menjadi beberapa fraksi, kemudian diuji terhadap sel kanker payudara T47D di laboratorium. Fraksi yang paling aktif selanjutnya dimurnikan untuk mengetahui struktur kimianya serta cara kerjanya dalam membunuh sel kanker.

Yang menarik, penelitian ini tidak hanya melihat apakah senyawa tersebut mampu membunuh sel kanker, tetapi juga menelusuri mekanisme molekulernya. Fokus utama diarahkan pada gen p53 dan caspase-3, dua komponen penting yang berperan dalam proses kematian sel terprogram (apoptosis). Dengan memahami mekanisme ini, peluang pengembangan obat yang lebih tepat sasaran menjadi semakin besar.

Lebih dari sekadar penelitian laboratorium, studi ini juga membawa pesan penting bagi masyarakat pesisir: kekayaan laut bukan hanya sumber pangan, tetapi juga sumber harapan bagi kesehatan manusia. Jika dikelola dengan bijak dan berkelanjutan, biota laut seperti spons Callyspongia sp. dapat menjadi kandidat bahan baku obat antikanker di masa depan.

Penelitian ini diharapkan menjadi langkah awal menuju pemanfaatan sumber daya laut Indonesia secara ilmiah, berkelanjutan, dan bernilai tinggi—demi kesehatan dan kesejahteraan generasi mendatang. ***

Penulis adalah Mahasiswa Doktor Ilmu Farmasi Universitas Ahmad Dahlan / Akadmisi Universitas Muhammadiyah Mataram

 

Terkait
Dua cucian jins di Pegaden Tengah ditutup Satpol PP

Wonopringgo, Wartadesa. - Dua tempat pencucian jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ditutup oleh Satpol PP, hari Read more

Puskesmas tak jadi naik 400 persen, ditunda Bupati Pekalongan

Kajen, Wartadesa. - Kenaikan tarif pelayanan Puskesmas di Kabupaten Pekalongan sebesar 400 persen sejak tanggal 1 Februari 2018, mulai hari Read more

Masuk 10 besar wilayah rawan narkoba Jateng, Saelany akan bentuk BNNK

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Tingginya kasus pelanggaran kasus narkoba di Kota Pekalongan, membuat wilayah ini masuk dalam 10 besar wilayah Read more

Pekalongan ‘darurat’ gizi buruk

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Kota Pekalongan 'darurat' gizi buruk, setidaknya 13 balita di Kota Batik menderita gizi buruk dengan penyakit Read more

selengkapnya
KesehatanOpini

Lebih dari Sekadar Buah Manis: Sawo Duren dan Rahasia Antioksidannya

fadilah

Oleh: Fadillah Maryam

Sawo duren kerap hadir tanpa banyak sorotan. Ia tumbuh di pekarangan, dijajakan di pasar lokal, dan dinikmati sebagai buah musiman dengan rasa manis yang khas. Dalam keseharian masyarakat, sawo duren lebih dikenal sebagai pangan tradisional, bukan sebagai objek sains. Namun, perkembangan ilmu pengetahuan modern menunjukkan bahwa buah ini menyimpan potensi biologis yang jauh melampaui kesan sederhananya.

Sawo duren atau Chrysophyllum cainito L. telah lama dimanfaatkan dalam praktik pengobatan tradisional. Daun dan kulit batangnya digunakan untuk berbagai keluhan kesehatan, sementara buahnya dipercaya membantu menjaga kebugaran tubuh. Pengetahuan ini diwariskan lintas generasi, meskipun belum seluruhnya dijelaskan melalui pendekatan ilmiah yang sistematis. Di sinilah riset farmasi modern mengambil peran penting.

Antioksidan dan Tantangan Kesehatan Modern

Tubuh manusia secara alami menghasilkan oksidan sebagai hasil metabolisme. Namun, gaya hidup modern—polusi udara, paparan radiasi, stres, dan pola makan tidak seimbang—meningkatkan beban oksidatif secara signifikan. Ketidakseimbangan antara oksidan dan antioksidan memicu stres oksidatif, kondisi yang berkontribusi terhadap penuaan dini dan berbagai penyakit degeneratif.

Selama ini, antioksidan sintetis banyak digunakan untuk menekan dampak tersebut. Meski efektif, penggunaannya memunculkan pertanyaan terkait keamanan jangka panjang. Kondisi ini mendorong pencarian sumber antioksidan alami yang lebih aman dan berkelanjutan, termasuk dari buah-buahan lokal seperti sawo duren.

Metabolomik: Pendekatan Baru dalam Riset Bahan Alam

Penelitian bahan alam tidak lagi cukup hanya mengukur satu atau dua senyawa aktif. Pendekatan metabolomik memungkinkan pemetaan menyeluruh metabolit dalam suatu ekstrak tanaman. Melalui teknologi analitik canggih, aktivitas antioksidan dipahami sebagai hasil interaksi kompleks berbagai senyawa bioaktif, seperti polifenol dan flavonoid, yang bekerja secara sinergis.

Dalam konteks sawo duren, pendekatan ini membuka pemahaman baru bahwa kekuatan antioksidan buah tersebut bukan berasal dari satu komponen tunggal, melainkan dari jaringan metabolit yang saling berinteraksi. Cara pandang ini lebih mencerminkan mekanisme biologis yang terjadi di dalam tubuh manusia.

Implikasi bagi Pengembangan Farmasi dan Pangan Fungsional

Hasil riset metabolomik tidak berhenti pada tataran akademik. Potensi sawo duren sebagai sumber antioksidan alami membuka peluang pengembangan produk pangan fungsional dan bahan baku sediaan kesehatan berbasis alam. Bagi Indonesia, ini merupakan langkah strategis untuk memanfaatkan biodiversitas secara ilmiah sekaligus berkelanjutan.

Pengembangan tersebut perlu disertai kebijakan yang berpihak pada pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat lokal. Dengan demikian, nilai tambah tidak hanya dinikmati oleh industri, tetapi juga oleh daerah penghasil dan ekosistem tempat tanaman ini tumbuh.

Refleksi dari Dunia Akademik

Sebagai bagian dari komunitas akademik farmasi, saya memandang riset sawo duren sebagai contoh nyata bagaimana sains modern dapat memperkuat pengetahuan tradisional. Metabolomik bukan sekadar alat analisis, melainkan jembatan yang menghubungkan kearifan lokal dengan bukti ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Lebih dari sekadar buah manis, sawo duren merepresentasikan potensi besar bahan alam Indonesia. Ketika diteliti dengan pendekatan yang tepat, buah lokal ini tidak hanya relevan bagi kesehatan masyarakat, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan kemandirian bangsa di bidang farmasi dan kesehatan.***

Penulis adalah Mahasiswi Program Doktoral Farmasi, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

Terkait
Dua cucian jins di Pegaden Tengah ditutup Satpol PP

Wonopringgo, Wartadesa. - Dua tempat pencucian jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ditutup oleh Satpol PP, hari Read more

Puskesmas tak jadi naik 400 persen, ditunda Bupati Pekalongan

Kajen, Wartadesa. - Kenaikan tarif pelayanan Puskesmas di Kabupaten Pekalongan sebesar 400 persen sejak tanggal 1 Februari 2018, mulai hari Read more

Masuk 10 besar wilayah rawan narkoba Jateng, Saelany akan bentuk BNNK

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Tingginya kasus pelanggaran kasus narkoba di Kota Pekalongan, membuat wilayah ini masuk dalam 10 besar wilayah Read more

Pekalongan ‘darurat’ gizi buruk

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Kota Pekalongan 'darurat' gizi buruk, setidaknya 13 balita di Kota Batik menderita gizi buruk dengan penyakit Read more

selengkapnya