Batang, Wartadesa. – Krisis buta aksara moral di Indonesia kian merajalela, bahkan menimpa kalangan terdidik, hal tersebut membuat Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Samsudin, mengelus dada prihatin. “Kami `mengelus dada` karena ternyata di Negara Repbulik Indonesia masih merajalela krisis aksara moral. Ini berbahaya jika tidak bisa dicegah,” ujarnya disela-sela acara peletakan batu pertama pembangunan RSI Muhammadiyah Batang, Ahad (26/11).
Menurut Pimpinan Ranting Muhammadiyah Ponduk Labu ini, buta aksara latin maupun huruf hija’iyah masih bisa dientaskan, akan tetapi buta aksara moral, ini berbahaya. “Akan tetapi, jika buta aksara moral bagi seseorang yang buta aksara moral menimpa pada orang terdidik dengan status gelar akademis sarjana 1, sarjana 2 (magister), dan sarjana 3 (doktor), bahkan profesor maka akan berbahaya,” ujarnya.
Mantan Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini menambahkan bahwa organisasi Muhammadiyah akan mendorong Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) konsekuen untuk tidak tebang pilih dalam menangani kasus korupsi di negara Indonesia ini.
“Sebenarnya, etika saya tidak mau mengomentari orang-orang (melakukan tindak korupsi). Hanya saja, kami mendorong KPK dan konsekuen jangan tebang pilih menangani kasus,” lanjut Din.
Din Samsudin menambahkan bahwa Muhammadiyah tidak berpolitik praktis, namun dalam memilih calon kepala daerah Muhammadiyah akan mengarahkan anggotanya untuk memilih calon yang memiliki integritas, amanah, dan dekat dengan Muhammadiyah.
“Akan tetapi, organisasi Muhammadiyah akan memberikan arahan anggotanya untuk ikut aktif memilih calon yang memiliki integritas, amanah, dan dekat dengan muhammadiyah,” pungkas Din Samsudin. (Eva Abdullah)










