close
balon tambat
Ujicoba balon udara tambat di Lapangan Mataram Pekalongan, Selasa (05/06)

Pekalongan Kota, Wartadesa. – Walikota Pekalongan, pagi tadi, Selasa (05/05) melihat ujicoba balon udara yang ditambatkan dalam rangka persiapan festival balon yang akan diselenggarakan oleh AirNav pada 21-23 Juni Mendatang.

Beberapa hari sebelumnya, AirNav juga menggandeng Ormas Islam untuk mensosialisasikan balon tambat. Seperti diketahui bahwa balon udara yang dilepaskan warga Pekalongan saat Syawalan (satu minggu setelah Idul Fitri) dianggap berbahaya bagi penerbangan.

“Adanya balon udara sampai ke jalur penerbangan tersebut sangat membahayakan penerbangan pesawat. Pihak kami sendiri sering mendapatkan laporan dari para pilot mengenai balon yang masuk ke jalur penerbangan.” Tutur Dadun, Kepala Otoritas Bandara Wilayah III.

Terkait berbahanyanya balon udara yang terbang hingga ketinggian pesawat komersial tersebut, AirNav bersama Pemkot Pekalongan menyelenggarakan lomba balon tambat dalam sebuah festival.

“Pada hari ini, kami Ainav Indonesia melaksanakan uji coba penerbangan balon sesuai dengan standar PM (Peraturan Menteri Perhubungan No 40 2018), tentang penggunaan balon udara pada kegiatan budaya masyarakat,” kata Kristianto Petugas Ainav Indonesia.

Terkena ledakan mercon balon udara, atap rumah rusak

Meski disweeping kemarin, hari ini langit Pekalongan dipenuhi balon udara

Menerbangkan balon udara akan didenda setengah milyar

Tradisi Syawalan, pemuda Capgawen Selatan terbangkan balon

Tradisi puluhan tahun, Alek minta warga Pekalongan hentikan ‘ngeburke’ balon

Kristanto menambahkan bahwa standar balon dalam peraturan menteri tersebut berukuran lebar 4 meter, tinggi 7 meter dan dilepas dengan tali sepanjang 15 meter.

“Ini merupakan kegiatan budaya balon udara tradisional yang pertama yang ditambatkan di Indonesia. Harapan kami bisa melakukan peningkatan pelayanan penerbangan di jalur ini,” lanjut Kristanto.

Tradisi melepas balon diudara pada Syawalan sudah dilakukan sejak lama oleh warga Kota dan Kabupaten Pekalongan. Tradisi tersebut merupakan tradisi turun temurun sejak jaman penjajahan Belanda. Biasanya balon yang dilepaskan ke udara disertai dengan petasan. Bunyi petasan yang dipasang pada balon, menjadi tontonan menarik bagi warga.

Karena tradisi tersebut berbahaya bagi penerbangan, Walikota Pekalongan pada tahun ini mencoba untuk mengganti tradisi melepas balon dengan menambatkan balon.

“Untuk itu, kita coba balon udara yang ditambatkan ini. Dengan demikian tentu saja kita masih bisa mempertahankan tradisi lebaran sekaligus untuk keselamatan (penerbanga). Kita harus sesuai dengan peratuan pemerintah,” tutur Saelani, Walikota Pekalongan.

Sementara itu, Aminudin, salah seorang warga mengungkapkan bahwa untuk menghilangkan tradisi melepaskan balon di Pekalongan, sangat sulit.  “Itu sudah jadi tradisi turun-temurun warga, jadi sangat sulit untuk menghilangkan kebiasaan tersebut,” tuturnya.

Menurut Aminudin, kebiasaan warga tidak bisa hilang secara serta-merta. “Dengan adanya festival balon, mungkin sedikit demi sedikit akan mengubah tradisi dari balon lepas menjadi balon tambat.” Lanjutnya.

Tahun sebelumnya, pihak pemkot dan kepolisian setempat  melakukan sweeping balon udara di tiap kelurahan. Sweeping dilakukan untuk mencegah warga melakukan tradisi meluncurkan balon. Namun saat tradisi Syawalan tahun lalu, ribuan balon masih menghiasi langit di Pekalongan dan sekitarnya.

Hal tersebut mendorong Walikota Pekalongan sebelumnya,  Achmad Alf Arslan Djunaid (alm), mewacanakan lomba balon tambat sejak tahun lalu.  (Eva Abdullah)

Tags : balon tambatbalon udarasyawalantradisi balon udara