close

Jalan-jalan

Jalan-jalanLayanan PublikSeni BudayaSosial Budaya

Belasan Cagar Budaya di Pekalongan jadi tempat usaha

museum-batik_1

Pekalongan Kota, Wartadesa. – Belasan bangunan yang menjadi Cagar Budaya di Kota Pekalongan beralih fungsi menjadi tempat usaha. Hal tersebut membuat pegiat sejarah Pekalongan Heritage Community Mohammad Dirhamsyah prihatin.

Mohammad Dirhamsyah mengungkapkan bahwa saat ini lebih dari seratusan bangunan cagar budaya berada di Kota Pekalongan, namun sebagian sudah beralih fungsi. “Oleh karena itu, kami berharap pada Pemerintah Kota Pekalongan melakukan langkah antisipasi penyelamatan terhadap bangunan cagar budaya yang memiliki nilai sejarah itu,” katanya dilansir dari Antara Jateng, Rabu (20/02).

Dirhamsyah menambahkan bahwa alih fungsi bagunan cagar budaya milik pemerintah dan swasta diantaranya menjadi perkantoran. “Saat ini sebagian besar bangunan cagar budaya milik pemerintah tersebut dimanfaatkan untuk aktivitas perkantoran dan lembaga pendidikan. Adapun bagi bangunan cagar budaya yang dimiliki swasta yang sudah beralih fungsi seperti bekas gedung bioskop Rahayu dan rumah Bupati Pekalongan yang berada di Jalan Nusantara Kota Pekalongan,” katanya.

Menurut Dirhamsyah ratusan bangunan cagar budaya di Kota Pekalongan tersebut terdiri atas bangunan rumah kuno milik warga, 23 bangunan cagar milik Pemkot Pekalongan dan Pemprov Jateng, dua bangunan milik PT Kereta Api Indonesia, dan PT Pertani yang berada di kawasan budaya di Jalan Jetayu.

Adapun sebanyak 23 bangunan cagar budaya milik pemkot, kata dia, sebagian besar berada di kawasan budaya di Jalan Jetayu, antara lain Museum Batik Nasional, eks-Bakorwil Pekalongan, kantor pos, pengadilan negeri, rumah tahanan (rutan) dan lembaga pemasyarakatan (lapas), serta kantor Perum Perikanan Indonesia Pekalongan.

Dirhamsyah berharap agar pemerintah membentuk tim ahli cagar budaya untuk menyelamatkan warisan budaya tersebut. Saat ini bangunan cagar budaya yang dimiliki oleh swasta beralih fungsi menjadi toko moderen dan sektor perdagangan.

“Oleh karena itu, kami berharap pemerintah membentuk tim ahli cagar budaya dan tim ahli bangunan cagar budaya sebagai upaya melestarikan dan menetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Bangunan cagar budaya tidak boleh sembarangan diubah bentuknya dengan menghilangkan keasliannya,” ujar Dirhamsyah.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Kota Pekalongan Ninik Murniasih mengatakan pemkot sudah mengirimkan registrasi usulan pelestarian bangunan cagar budaya ke pemerintah pusat yang akan ditindaklanjuti dengan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) dan Tim Ahli Bangunan Cagar Budaya (BCB) Provinsi Jateng.

“Setelah dikirim ke TACB dan BCB kami menunggu rekomendasi atau kajian apakah disahkan atau tidak. Saat ini, kami masih menunggu karena masih diproses,” kata Ninik.

Sementara itu, Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah menilai potensi cagar budaya di Kota Pekalongan akan menguatkan rasa nasionalisme dan jati diri masyarakat sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Koordinator Publikasi dan Pemanfaatan Balai Cagar Budaya Jawa Tengah, Wahyu Kristanto di Pekalongan, Selasa(19/02), mengatakan Kota Pekalongan telah menjadi jalur strategis perdagangan dan perkebunan pada masa kolonial Hindia Belanda.

Selain itu, kata dia, banyak pula orang Indo-Eropa yang berdomisili di Kota Pekalongan dan meninggalkan tempat yang menjadi cagar budaya seperi Kampung Arab Pecinan dan kawasan kolonial lainnya.

“Oleh karena, dengan banyaknya potensi cagar budaya yang dimiliki Kota Pekalongan maka akan menguatkan rasa nasionalisme dan jati diri masyarakat di daerah ini sebagai bagian dari bangsa Indonesia,” katanya saat mengikuti kegiatan “Pameran Cinta Cagar Budaya”.

Ia mengatakan benda atau bangunan dapat disebut sebagai cagar budaya harus memiliki empat kriteria antara lain memiliki usia minimal dan gaya berumur 50 tahun, mempunyai nilai penting bagi sejarah dan kebudayaan, serta bisa menguatkan kepribadian bangsa.

“Oleh karena, kami mengajak para pelajar dan masyarakat dapat melestarikan cagar budaya yang ada di daerah ini. Cagar budaya di Kota Pekalongan cukup banyak, salah satunya adalah batik dan bangunan kuno,” katanya.

Wahyu Kristanto mengatakan dengan berkunjung dan mengikuti sejumlah kegiatan dalam Pameran Cinta Cagar Budaya, pelajar dan masyarakat dapat melihat keterangan gambar atau replika untuk mengenal cagar budaya.?

“Kami berharap para pelajar dan masyarakat dapat memanfaatkan kegiatan pameran ini agar dapat mengetahui cagar budaya,” katanya. (Antara)

selengkapnya
Jalan-jalanSeni BudayaSosial Budaya

Batik Pekalongan digemari dalam ajang @Yala Thailand

Pengunjung Paviliun Indonesia di Melayu Day @Yala © Sumber: Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Jakarta, Wartadesa. – Pavilium Indonesia dalam gelaran Hari Melayu Tahunan keenam @Yala 2019 Thailand yang dibuka sejak Jum’at hingga Ahad (08-10/02) ramai dikunjungi pengunjung. Bahkan Farida, penggila batik Thailand tiap hari datang ke Pavilium Indonesia untuk membeli batik.

Farida kepada The Jakarta Post mengungkapkan dia menyukai batik Indonesia. “Saya suka batik dan saya punya koleksi, termasuk beberapa [tekstil] dari Indonesia. Saya suka motif dan desain batik Indonesia, “kata Farida.

Paviliun Indonesia di @Yala dikelola oleh vendor Estu Batik Pekalongan, Roemah Srikandi dan Kasturi Fashion telah menjadi stan yang paling banyak dikunjungi.

“Alhamdulillah, batik masih punya banyak penggemar di sini,” kata Azka, pemilik Estu Batik Pekalongan.

Bagi warga Pekalongan Estu Batik yang beralamatkan di Jalan Keputran Ledok I, Kauman, Kecamatan Pekalongan Timur, Kota Pekalongan tentu banyak yang mengenal.

Selain menampilkan beragam kerajinan batik dan tekstil, Paviliun Indonesia di @Yala 2019 juga menyuguhkan beragam produk lokal dan menawarkan paket wisata. Pengunjung juga dapat membeli produk kreatif dari UKM dan pengrajin Indonesia yang dikuratori khusus untuk festival, serta mencicipi berbagai hidangan dari seluruh nusantara.

“Selama tiga hari [festival], kami memperkenalkan kelezatan kuliner seperti soto Padang [sup daging sapi], rendang [daging sapi direbus dengan santan dan rempah-rempah], bakso, nasi tumpeng [nasi kuning berbentuk kerucut dengan lauk pauk, bakwan , dan lauk lainnya yang bisa dinikmati pengunjung secara gratis, “kata Konsul Jendral Indonesia di Songkhla Fachry Sulaiman.

Fachry menambahkan beberapa universitas di Indonesia mempromosikan kesempatan belajar berkelanjutan bagi siswa Thailand dalam ajang festival tahunan tersebut.

“Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan kami karena diundang oleh pemerintah kota Yala dari tahun ke tahun untuk berpartisipasi dan menjadi mitra dalam salah satu festival budaya Melayu terbesar di Thailand. Selama tiga hari dari Hari Melayu 2019 @Yala, Konsulat Indonesia di Songkhla berpartisipasi dalam menampilkan seni dan budaya Indonesia melalui menyoroti budaya Melayu dengan karakteristik Indonesia, dengan dukungan dari pemerintah kota Binjai dan Medan.” kata Fachry. (The Jakarta Post)

selengkapnya
Jalan-jalanPendidikanSeni BudayaTekno

Komunitas Lubang Jarum Indonesia dari tiga provinsi bakal hunting bareng di Pekalongan

buku jejak langkah telinga panjang_istagram

Pekalongan Kota, Wartadesa. – Anggota Komunitas Lubang Jarum Indonesia (KLJI) dari tiga provinsi akan meggelar aksi hunting (memotret) bareng dengan kamera lubang jarum dan membedah buku Jejak Langkah Telinga Panjang karya Ati Bachtiar, Ahad (17/02) di Museum Batik Pekalongan.

Buku bertajuk Jejak Langkah Telinga Panjang ini merupakan proyek dokumentasi fotografi di pesisir Kalimantan Timur hingga Kalimantan Utara.

Ati Bachtiar dibantu oleh beberapa kontributor, Chris Djoka, Ganecha Yudistira, Novi Balan dan Ray Bachtiar, menyusur pesisir Kaltim hingga Kaltara, menembus perkebunan sawit, area pertambangan, berpapasan dengan keajaiban alam, dan menjadi bagian dari upacara tradisi suku Dayak . Mendokumetasikan 38 wanita Dayak dari suku Bahau, Kenyah, Kayan, Wehea, Gaay dan Punan.

“Tiga Wadyabalad (panggilan anggota komunitas KLJI) dari Provinsi Jawa Barat yakni KLJI Cirebon, KLJI Semarang Jawa Tengah dan KLJI Yogyakarta akan berkumpul membedah buku karya Ati Bachtiar dan hunting bareng,” tutur Muhammad Benbella, penggiat KLJI Pekalongan, Ahad (10/02).

Pria yang akrab disapa Beng Beng ini mengungkapkan bahwa helatan acara tersebut merupakan upaya mengenalkan fotografi lubang jarum di Pekalongan, “Komunitas Lubang Jarum Indonesia sebagai wadah kreasi penggiat fotografi lubang jarum seluruh nusantara terus mengupayakan agar seni proses ini semakin dikenal oleh masyarakat. Sebagai sebuah kegiatan yang positif tentu bukan hanya diketahui, tapi juga bisa dilakukan oleh masyarakat umum, bukan melulu untuk yang suka fotografi, tapi juga untuk semua kalangan.” Tambahnya.

Menurut Benbella, fotografi lubang jarum ini banyak yang bisa dipelajari, melatih kesabaran dan mengasah naluri merupakan salah satunya. “Karena banyak hal yang bisa dipelajari dari genre fotografi ini. Melatih kesabaran dan mengasah naluri adalah salah satu dari sekian banyak manfaat yang bisa diperoleh.” Tutur penggila beragam bahan bacaan ini.

KLJI Pekalongan juga berharap perhelatan yang akan digelar menjadi pemicu munculnya wajah-wajah baru pengiat KLJI. “Dengan beragam hal positif di atas, kami juga ingin menunjukkan bahwa keberadaan komunitas ini sudah menyebar di berbagai kota di Indonesia. Bersama para penggiat dari luar daerah ini setidaknya bisa menjadi pemicu munculnya wajah-wajah baru penggiat KLJ, agar seni proses ini bisa terus berkelanjutan prosesnya mewarnai pembangunan karakter anak bangsa.” Harapnya penuh semangat.

Terkait acara bedah buku yang akan digelar, Benbella mengungkapkan bahwa bedah buku Jejak Langkah Telinga Panjang yang akan disampaikan oleh penulisnya sendiri yaitu ambu Ati Bachtiar, bertujuan memantik kesadaran masyarakat untuk melestarikan kebudayaan yang ada di daerah masing-masing melalui media fotografi. “Agar suatu saat ketika budaya tersebut hilang dari sebuah masyarakat, anak cucu kita masih bisa mengenal dan melihatnya walaupun dalam bentuk cetakan foto.” Paparnya. (WD)

selengkapnya
Jalan-jalanPendidikanSosial Budaya

Tanamkan rasa menghargai apa yang dipunya, PAUD-TK Islam Futuhiyah kunjungi Desa Wisata Edukasi Gerabah

gambar guru tk

Wonopringgo, Wartadesa. – Menanamkan rasa memiliki dan menghargai apa yang dipunyai, sudah seharusnya dilakukan sejak dini. Seperti dilakukan oleh PAUD dan TK Islam Futuhiyah, Desa/Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan dalam kegiatan outingclass (belajar di luar kelas), Sabtu (02/02) dengan mengunjungi Desa Wisata Edukasi Gerabah Wonorejo, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan.

Hanifatussoliha, guru TK Futuhiyah mengungkapkan bahwa kegiatan outingclass di lembaganya merupakan helatan tahunan untuk mengajak anak didik belajar di luar kelas, sekaligus membekali dengan ilmu yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut perempuan yang biasa disapa Hani tersebut, karya wisata yang dilakukan kali ini merupakan ajang anak-anak didiknya mengerti bagaimana membuat gerabah berupa celengan, lemper (tempat makan), kendi (tempat minum), dan lain sebagainya langsung dari pengrajin.

Selama ini anak-anak biasa pergi ke pasar, membeli kebutuhan maupun mainan mereka tanpa mengetahui proses pembuatannya, “Anak-anak biasanya pergi ke pasar beli mainan maupun kebutuhan mereka tanpa tahu proses membuantnya. Dengan karya wisata ini, anak-anak akan lebih bisa menghargai apa yang mereka punya, dan beli … tidak lagsung dibuang.” Lanjut Hani.

Selain itu, lanjut Hani, anak-anak akan lebih menghargai apa yang ia punya dan ia beli, manakala ia mengetahui bahkan turut langsung melakukan proses pembuatan barang-barang kesukaanya, seperti gerabah yang saat ini mereka buat dan pelajari. Lanjutnya.

“Kami mendidik anak-anak di PAUD dan TK Islam Futuhiyah dengan menanamkan tanggung jawab terhadap barang-barang yang mereka punya. Harapannya dengan belajar di Kampung Gerabah Wonorejo, anak-anak mendapatkan ilmu yang bemanfaat di kehidupan sehari-hari,” Pungkas Hani. (WD)

selengkapnya
EkonomiJalan-jalanPendidikanSosial Budaya

Butuh dukungan Pemkab Pekalongan untuk wujudkan regenerasi pengrajin gerabah di Wonorejo

gambar ketua karangtaruna

Wonopringgo, Wartadesa. – Minimnya minat kaum milenial untuk menekuni usaha kerajinan gerabah di Desa Wonorejo, Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan membutuhkan dorongan dan pendampingan dari pihak terkait, khususnya pengambil kebijakan di Pemkab Pekalongan. Demikian disampaikan oleh Sigit Rohmatullah, Ketua Karangtaruna desa setempat disela-sela kunjungan wisata edukasi Kampung Gerabah, Sabtu (02/02).

Sigit menyebut, kerajinan gerabah di desanya mulai bergeliat sejak pertengahan tahun 2018 lalu. “Geliat kerajinan gerabah di Desa Wonorejo mulai bergairah sejak pertengahan tahun 2018 lalu. Dari pelatihan kerajinan gerabah yang kami selenggarakan kemudian dibentuk desa wisata edukasi kerajinan gerabah, respon dari warga sangat memuaskan,” tuturnya.

Saat ini banyak warga dari desa lain dan lembaga pendidikan setingkat PAUD, TK, SD, SMP bahkan SMA datang untuk belajar bersama proses pembuatan gerabah. Menurut Sigit, dengan makin dikenalnya Desa Wonorejo sebagai Kampung Gerabah di Kabupaten Pekalongan akan meningkatkan animo para pemuda desa setempat menekuni kerajinan yang hampir punah tersebut.

“Agar kerajinan gerabah tidak punah … kami mencoba berbagai cara agar para pemuda desa setempat mulai tertarik dengan usaha gerabah. Karena kondisi saat ini semakin menurun minat pemuda untuk menekuni kerajinan gerabah.” Ujar Sigit.

Menurut Sigit, saat ini pihaknya sedang menginisiasi regenerasi dari kalangan kaum muda untuk menekuni kerajinan gerabah. “Regenerasi dari pemuda terus kita lakukan agar tergugah untuk melanjutkan pembuatan gerabah di Wonorejo, dengan melakukan inovasi bentuk-bentuk baru.” Lanjutnya.

Upaya untuk menumbuhkembangkan kecintaan kaum milenial desa setempat sempat dilakukan Karangtaruna dengan menggelar pelatihan pembuatan gerabah dengan mendatangkan instruktur dari Kasongan, Bantul Jogja beberapa waktu lalu.

“Ada 50 orang yang mengikuti pelatihan, sejak pelatihan tersebut, didapatkan ilmu baru, tidak hanya menggunakan alat manual untuk pembuatan geraah, tetapi sudah bisa menggunakan mesin cetak dengan bentuk bentuk baru seperti hello kitty dll,” lanjut Sigit.

Agar para pemuda di desanya tertarik dengan kegiatan wisata edukasi pembuatan gerabah, Sigit mengungkapkan, pihaknya membuka kesempatan seluas-luasnya kepada para pemuda desa untuk belajar pembuatan gerabah.

Sigit juga berharap bahwa pihak Pemkab Pekalongan, khususnya Bupati Asip Kholbihi berkenan memfasilitasi pengrajin gerabah agar lebih berkembang demi pengembangan Desa Wonorejo menjadi Desa Wisata Edukasi Gerabah.

“Sebelumnya Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi merespon dengan memberikan los di UMKM Centre yang sedang dibangun, tempat tersebut akan digunakan untuk mempermudah pemasaran hasil pengrajin di Wonorejo, pusat pelatihan, dan sekretariat pengrajin gerabah.” Pungkas Sigit. (WD)

selengkapnya
EkonomiJalan-jalanPendidikanSeni BudayaSosial Budaya

KKN Undip di Wonorejo dongkrak pemasaran gerabah lewat online

gambar mahasiswi

Wonopringgo, Wartadesa. – Kerajinan gerabah di Desa Wonorejo Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan saat ini masih dilakukan secara langsung. Pembeli dari berbagai wilayah di Tegal, Pemalang, Comal, Batang, Limpung dan daerah lain, biasanya datang langsung ke pengrajin gerabah untuk dijual lagi di wilayah mereka. Ragam dan jenis gerabah yang masih tradisional turut menurunkan minat remaja dan pemuda desa setempat untuk menggeluti usaha turun-temurun di desanya.

Untuk mendongkrak sekaligus mengenalkan gerabah asli Wonorejo, Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang menggandeng Karangtaruna dan pemuda desa setempat untuk mencintai dan memasarkan gerabah melalui media online.

“Pendampingan yang kami lakukan di Desa Wonorejo yakni dengan membantu warga dan generasimuda melalui pemasaran online, melalui platform e-comercee pada marketplace yang ada seperti Lazada, Bukalapak dan marketplace lainnya maupun media sosial,” ujar Titi Marfiyah, salah seorang anggota Tim KKN Undip, Sabtu (02/02) disela-sela mendampingi Karangtaruna desa setempat saat kunjungan wisata edukasi Kampung Gerabah dari TK dan PAUD Islam Futuhiyah Doro.

Menurut Titi, pihaknya juga melakukan pendampingan warga pengrajin gerabah, pembekalan kepada para remaja dan pemuda tentang pemasaran, potensi usaha secara online. “Karena dengan pemasaran secara online, akan lebih efektif, cepat dan mudah dilakukan,” lanjutnya.

Selama ini, menurut Titi, kerajinan gerabah hanya dilakukan oleh para orang tua, “kedepan … melalui Karangtaruna kami turut berkontribusi membina remaja untuk menjadi pengrajin gerabah, agar kerajinan tersebut menjadi ikon Desa Wonorejo,” tutur gadis cantik berkerudung tersebut.

Singkatnya waktu KKN di Desa Wonorejo menjadikan timnya, masih menurut Titi, tidak mendampingi warga membuat aneka gerabah modern. Bentuk gerabah tradisional berupa lemper (tempat makan), celengan, teko dan lain sebagainya masih tetap dipertahankan, timnya hanya memberikan inovasi berupa pengecatan dengan cat tembok maupun cat lainnya sesuai dengan keinginan pasar.

“Kami tidak melakukan pendampingan pruduk baru, karena mereka harus belajar dari nol lagi untuk belajar yang baru, inovasinya dilakukan dengan pengecatan sesuai dengan keinginan seperti cat tembok, atau cat lainnya,” ujar Titi.

Titi dan tim KKNnya juga turut mendorong warga di Pekalongan dan sekitarnya untuk datang ke Desa Wonorejo dengan belajar sambil berwisata di wisata edukasi Kampung Gerabah, “silakan datang ke Desa Wonorejo, sambil wisata edukasi gerabah,” pungkasnya. (WD)

selengkapnya
EkonomiJalan-jalanSeni BudayaSosial Budaya

Pengrajin gerabah Desa Wonorejo butuh mesin pengolah tanah

gambar sumarni

Wonopringgo, Wartadesa. – Kerajinan gerabah di Dukuh Lengkong, Desa Wonorejo, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan mulai menggeliat. Kerajinan “usaha lemah” yang merupakan usaha turun-temurun warga ini awalnya sempat meredup. Dari ratusan pengrajin di pedukuhan teresebut, kini tingal puluhan pengrajin yang tinggal.

Beragam permasalahan pengrajin dilontarkan ketika Warta Desa menyambangi mereka Sabtu (02/02) di sekretariat Desa Wisata Edukasi Gerabah. Bersamaan dengan kunjungan dari TK dan PAUD Islam Futuhiyah, Doro.

Sumarni (65), pengrajin gerabah desa setempat menuturkan bahwa punahnya kerajinan di desanya lantaran anak-anak muda mulai tidak mengyukai kerajinan tersebut. “Kerajinan gerabah mulai punah, anak-anak muda tidak menyukai kerajinan tersebut karena penghasilan yang tidak menjanjikan, proses pembuatan yang lama, apalagi ketika musim hujan.
Sehari ambil tanah, tiga hari diproses diijek-injek/diuleni, baru kemudian dibuat, dijemur dan dibakar,” tuturnya.

Menurut Sumarni, jika harga gerabah maupun bentuk gerabah di desanya bervariasi mungkin anak-anak muda akan menyukainya. Dia berharap agar kerajinan gerabah yang merupakan warisan turun-temurun tidak punah. Harus ada usaha untuk menumbuhkan kecintaan para remaja dan pemuda pada kerajinan gerabah.

Ibu paruh baya yang pernah melakukan studi banding ke Gunungkidul, Yogyakarta untuk belajar pembuatan gerabah tersebut mengungkapkan bahwa di sana jenis, bentuk dan model gerabah beraneka macam dan pengrajinnya merupakan anak-anak muda. Sumarni berharap agar gerabah produksi di desanya bisa bervariasi seperti pengrajin di Gunungkidul.

Permasalahannya para pengrajin di desanya, yang nota bene sudah tua-tua tidak tahu cara membuat gerabah modern. Alat yang saat ini masih manual menjadi kendala. “Belum pernah membuat kerajinan yang modern seperti yang di Jogja. Selain itu jenis tanah di Jogja berbeda dengan kondisi di Wonorejo,” lanjutnya.

“Pengolahan tanahnya menggunakan mesin, sehingga tidak banyak menggunakan air. Mesin ini menjadi kebutuhan utama para pengrajin, untuk membuat kerajinan gerabah yang modern,” ujar Sumarni.

Menurut Sumarni, dengan mesin pengolah tanah tersebut, uletan tanah lebih kenyal dan merata, sehinga hasilnya lebih baik.

Selain bantuan mesin pengolah tanah untuk kerajinan gerabah, pengrajin desa setempat juga membutuhkan instruktur gerabah modern dari Jogja untuk menerapkan seni gerabah modern di desanya. “Ya … selain bantuan mesin pengolah tanah, kalo bisa ada instruktur atau guru yang mengajari warga untuk membuat gerabah modern,” harap Sumarni.

Desa Wonorejo saat ini sering dikunjungi oleh lembaga pendidikan untuk melakukan wisata edukasi pembuatan gerabah. Beberapa tahun terakhir ini sering dijadikan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk praktik Kuliah Kerja Nyata (KKN), bahkan Bupapi Pekalongan, Asip Kholbihi pernah datang ke desa tersebut untuk melihat langsung kerajinan warga tersebut. (WD)

selengkapnya
Jalan-jalanSosial Budaya

Festival Durian Lolong akan dihelat 9 Februari mendatang

fes;tival duren lolong

Karanganyar, Wartadesa. – Festival durian Lolong akan dihelat pada 9 Februari mendatang. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya festival durian akan digelar di Obyek Wisata Desa Lolong Kecamatan Karangannyar Kabupaten Pekalongan.

Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga dan Pariwisata (Dinporapar) Kabupaten Pekalongan Bambang Irianto, menuturkan pengunjung tidak dikenakan biaya tiket masuk ke festival. “Festival akan dibuka pukul 07.00 WIB dengan kirab 10 gunungan durian dari 10 kecamatan penghasil durian di Kabupaten Pekalongan,” tuturnya.

Bambang menambahkan akan ada kontes durian, yang akan di tempatkan di Bumi Perkemahan Lolong. “Kami menargetkan pengunjung yang datang mencapai 15 ribu, selain bisa menikmati durian pengunjung juga bisa berwisata dengan berbagai wahana seperti arum jeram,” imbuhnya.

Sementara itu, Mujahidin satu di antara panitia festival menerangkan, nantinya sekitar 1.000 buah durian dari petani Desa Lolong akan dibagikan kepada pengunjung. “Pedagang durian juga menyediakan paket buah durian yang bisa dibeli dengan harga Rp 100 ribu yang berisi 3 hingga 4 buah durian,” jelasnya,

Ia menambahkan, pihak panitia menyediakan 5.000 durian yang digelar dalam bazar. “Pengalaman tahun lalu 2.000 durian dari pedagang habis diborong pengunjung,” katanya. (Humas Kab. Pekalongan)

selengkapnya
EkonomiJalan-jalanSosial Budaya

Februari, Festival Durian Lolong bakal digelar

festival durian lolong_foto alvian

Karanganyar, Wartadesa. – Gelaran Festival Durian Lolong bakal digelar Februari 2019 mendatang. Acara yang akan dihelat di Bumi Perkemahan (Buper) Lolong, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan tersebut akan dimeriahkan dengan beragam acara.

Miftakhul, warga desa setempat mengungkapkan bahwa festival akan dilaksanakan pada Ahad, 3 Februari 2019. Dalam acara tersebut akan dibagikan tumpengan durian setelah diarak dan dinilai oleh dewan juri. Pun, panitia bersama Dinas Pariwisata Kabupaten Pekalongan akan memeriahkan gelaran tersebut dengan berbagai hiburan rakyat.

Abdul Rohman, warga desa setempat mengungkapkan bahwa saat ini warga sedang mempersiapkan penyelenggaraan festival tersebut. Dinas Pariwisata Kabupaten Pekalongan bersama pemuda Lolong dan Sampel Lolong, remaja masjid dan berbagai elemen organisasi warga sedang menyiapkan acara.

Menurut Rohman, adanya festival durian di desanya membawa dampak positif bagi peningkatan pendapatan warga, “Adanya Festival Durian ini dari tahun ke tahun semakin ramai. Banyak pecinta durian yang datang dari luar kota, otomatis penjualan durian semakin meningkat dan menambah pendapatan petani durian.” Ujarnya, Jum’at (11/01/2019).

Sejak musim liburan sekolah pada Desember 2018 pecinta durian dari luar Kabupaten Pekalongan sudah datang ke Lolong untuk menikmati durian langsung dari petani. “Hal tersebut membawa berkah bagi warga karena banyak yang menjual durian,” lanjut Rohman.

Sementara itu, Wakil Bupati Pekalongan, Arini Harimurti mengungkapkan bahwa Februari merupakan panen raya bagi petani durian di Desa Lolong.
“Selain di Lolong, ada juga rangkaian festival durian di Rogoselo dan Lemah Abang. “Namun puncaknya ada di Lolong,” tuturnya.

Arini berharap dengan berbagai festival durian di Kabupaten Pekalongan akan menarik wisatawan dan mempopulerkan Kota Santri sebagai sentra durian. “Kami berharap dengan festival yang ada dapat menarik wisatawan. Karena selain buah durian nantinya dalam festival akan ada gunungan durian, lapak durian serta seni tradisi khas Kabupaten Pekalongan,” tambahnya. (WD)

selengkapnya
Jalan-jalanSosial Budaya

Beberapa distorsi tentang Apem

apem

Kata Apem, beberapa hari terakhir ini menjadi perbincangan banyak orang. Media sosial maupun warung kopi tak lepas dari pembicaraan kue yang terbuat dari tepung beras, berbentuk bulat, memiliki tekstur yang empuk dan legit rasanya –di Pekalongan apem Kesesi, pembuatannya ditambahkan gula jawa atau gula aren– ini. Apem 80 juta saat ini jadi perbincangan.

Apem Comal menjadi distorsi pertama penyebutan kue apem di Pekalongan dan sekitarnya. Sebetulnya kue apem Pekalongan berasal dari Kecamatan Kesesi Kabupaten Pekalongan, namun karena tempat menjajakan kue ini ramai di Pasar Comal, warga lebih mengenal apem Kesesi sebagai apem Comal.

Apem Kesesi yang enak, menurut penuturan banyak warga, hanya bisa ditemui pada pengrajin kue apem di Dukuh Bantul, Kesesi. Pengrajin apem di pedukuhan tersebut dapat membuat kue apem dengan sempurna dengan kualitas yang baik dan enak. Air yang bagus dan cocok dianggap warga menjadi pembeda kualitas dan rasa apem dari Dukuh Bantul dengan pedukuhan lainnya di Kesesi.

Selanjutnya, pendistorsian makna apem yang berupa kuliner menjadi alat kelamin perempuan. Akibatnya, di beberapa tempat, generasi sekarang tidak berani menyebut kata apem. Mereka mengubahnya menjadi serabi. Padahal serabi dan apem adalah kuliner yang berbeda.

Distorsi ini muncul akibat penyebutan kelamin laki-laki maupun perempuan secara gamblang kerap dianggap jorok. Makanya orang suka menggunakan kata lain untuk menyebutkan atau menggambarkan kedua kelamin tersebut. Biasanya kata yang dipilih itu adalah sebuah hal yang terlihat mirip dengan bentuk kedua kelamin tersebut.

Selain dua distorsi makna (kata) apem diatas, dikemudian hari sepertinya akan kita dapati distorsi lainnya yang berkaitan dengan apem ini.

Untuk mengembalikan apem Kesesi sebagai ikon kuliner khas Pekalongan, Pemkab Pekalongan menggelar acara pemecahan rekor MURI sajian apem terbanyak bulan November 2018 lalu. Acara yang dihelat dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Korpri ke 47 tersebut memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia dengan urutan 8.762.

Proses pembuatan apem Kesesi. Foto: Kaskus

Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat apem Kesesi adalah tepung beras, gula merah/gula jawa/gula aren. Sedang peralatan yang digunakan untuk membuatnya adalah dandang, anyaman, sarangan dan daun. Anyaman dan sarangan dibuat dari bambu yang dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat mencetak apem Kesesi.

Beras dicuci bersih, lalu direndam selama dua malam, kemudian digiling sampai menjadi tepung, setelah itu tepung diuleni / diaduk rata sampai berbentuk adonan. Gula merah dicairkan lalu adonan dicampurkan menjadi satu dan dicetak. Setelah dicetak lalu dikukus selama 10 menit.

Apem yang baik, kalau dimakan enak, tidak “nggedabel” (bahasa Pekalongan) atau agak lengket di mulut. Kalau dilihat warnanya terang, tidak kusam, kelihatan tidak halus tapi seperti ada gelembung-gelembung udaranya. Untuk lebih gurih, kadang ada pedagang yang sengaja menaruh irisan kelapa (bukan parutan) di atas apem. (WD, diolah dari berbagai sumber)

selengkapnya