close

Jalan-jalan

EkonomiJalan-jalanSeni BudayaSosial Budaya

Pengrajin gerabah Desa Wonorejo butuh mesin pengolah tanah

gambar sumarni

Wonopringgo, Wartadesa. – Kerajinan gerabah di Dukuh Lengkong, Desa Wonorejo, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan mulai menggeliat. Kerajinan “usaha lemah” yang merupakan usaha turun-temurun warga ini awalnya sempat meredup. Dari ratusan pengrajin di pedukuhan teresebut, kini tingal puluhan pengrajin yang tinggal.

Beragam permasalahan pengrajin dilontarkan ketika Warta Desa menyambangi mereka Sabtu (02/02) di sekretariat Desa Wisata Edukasi Gerabah. Bersamaan dengan kunjungan dari TK dan PAUD Islam Futuhiyah, Doro.

Sumarni (65), pengrajin gerabah desa setempat menuturkan bahwa punahnya kerajinan di desanya lantaran anak-anak muda mulai tidak mengyukai kerajinan tersebut. “Kerajinan gerabah mulai punah, anak-anak muda tidak menyukai kerajinan tersebut karena penghasilan yang tidak menjanjikan, proses pembuatan yang lama, apalagi ketika musim hujan.
Sehari ambil tanah, tiga hari diproses diijek-injek/diuleni, baru kemudian dibuat, dijemur dan dibakar,” tuturnya.

Menurut Sumarni, jika harga gerabah maupun bentuk gerabah di desanya bervariasi mungkin anak-anak muda akan menyukainya. Dia berharap agar kerajinan gerabah yang merupakan warisan turun-temurun tidak punah. Harus ada usaha untuk menumbuhkan kecintaan para remaja dan pemuda pada kerajinan gerabah.

Ibu paruh baya yang pernah melakukan studi banding ke Gunungkidul, Yogyakarta untuk belajar pembuatan gerabah tersebut mengungkapkan bahwa di sana jenis, bentuk dan model gerabah beraneka macam dan pengrajinnya merupakan anak-anak muda. Sumarni berharap agar gerabah produksi di desanya bisa bervariasi seperti pengrajin di Gunungkidul.

Permasalahannya para pengrajin di desanya, yang nota bene sudah tua-tua tidak tahu cara membuat gerabah modern. Alat yang saat ini masih manual menjadi kendala. “Belum pernah membuat kerajinan yang modern seperti yang di Jogja. Selain itu jenis tanah di Jogja berbeda dengan kondisi di Wonorejo,” lanjutnya.

“Pengolahan tanahnya menggunakan mesin, sehingga tidak banyak menggunakan air. Mesin ini menjadi kebutuhan utama para pengrajin, untuk membuat kerajinan gerabah yang modern,” ujar Sumarni.

Menurut Sumarni, dengan mesin pengolah tanah tersebut, uletan tanah lebih kenyal dan merata, sehinga hasilnya lebih baik.

Selain bantuan mesin pengolah tanah untuk kerajinan gerabah, pengrajin desa setempat juga membutuhkan instruktur gerabah modern dari Jogja untuk menerapkan seni gerabah modern di desanya. “Ya … selain bantuan mesin pengolah tanah, kalo bisa ada instruktur atau guru yang mengajari warga untuk membuat gerabah modern,” harap Sumarni.

Desa Wonorejo saat ini sering dikunjungi oleh lembaga pendidikan untuk melakukan wisata edukasi pembuatan gerabah. Beberapa tahun terakhir ini sering dijadikan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk praktik Kuliah Kerja Nyata (KKN), bahkan Bupapi Pekalongan, Asip Kholbihi pernah datang ke desa tersebut untuk melihat langsung kerajinan warga tersebut. (WD)

selengkapnya
Jalan-jalanSosial Budaya

Festival Durian Lolong akan dihelat 9 Februari mendatang

fes;tival duren lolong

Karanganyar, Wartadesa. – Festival durian Lolong akan dihelat pada 9 Februari mendatang. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya festival durian akan digelar di Obyek Wisata Desa Lolong Kecamatan Karangannyar Kabupaten Pekalongan.

Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga dan Pariwisata (Dinporapar) Kabupaten Pekalongan Bambang Irianto, menuturkan pengunjung tidak dikenakan biaya tiket masuk ke festival. “Festival akan dibuka pukul 07.00 WIB dengan kirab 10 gunungan durian dari 10 kecamatan penghasil durian di Kabupaten Pekalongan,” tuturnya.

Bambang menambahkan akan ada kontes durian, yang akan di tempatkan di Bumi Perkemahan Lolong. “Kami menargetkan pengunjung yang datang mencapai 15 ribu, selain bisa menikmati durian pengunjung juga bisa berwisata dengan berbagai wahana seperti arum jeram,” imbuhnya.

Sementara itu, Mujahidin satu di antara panitia festival menerangkan, nantinya sekitar 1.000 buah durian dari petani Desa Lolong akan dibagikan kepada pengunjung. “Pedagang durian juga menyediakan paket buah durian yang bisa dibeli dengan harga Rp 100 ribu yang berisi 3 hingga 4 buah durian,” jelasnya,

Ia menambahkan, pihak panitia menyediakan 5.000 durian yang digelar dalam bazar. “Pengalaman tahun lalu 2.000 durian dari pedagang habis diborong pengunjung,” katanya. (Humas Kab. Pekalongan)

selengkapnya
EkonomiJalan-jalanSosial Budaya

Februari, Festival Durian Lolong bakal digelar

festival durian lolong_foto alvian

Karanganyar, Wartadesa. – Gelaran Festival Durian Lolong bakal digelar Februari 2019 mendatang. Acara yang akan dihelat di Bumi Perkemahan (Buper) Lolong, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan tersebut akan dimeriahkan dengan beragam acara.

Miftakhul, warga desa setempat mengungkapkan bahwa festival akan dilaksanakan pada Ahad, 3 Februari 2019. Dalam acara tersebut akan dibagikan tumpengan durian setelah diarak dan dinilai oleh dewan juri. Pun, panitia bersama Dinas Pariwisata Kabupaten Pekalongan akan memeriahkan gelaran tersebut dengan berbagai hiburan rakyat.

Abdul Rohman, warga desa setempat mengungkapkan bahwa saat ini warga sedang mempersiapkan penyelenggaraan festival tersebut. Dinas Pariwisata Kabupaten Pekalongan bersama pemuda Lolong dan Sampel Lolong, remaja masjid dan berbagai elemen organisasi warga sedang menyiapkan acara.

Menurut Rohman, adanya festival durian di desanya membawa dampak positif bagi peningkatan pendapatan warga, “Adanya Festival Durian ini dari tahun ke tahun semakin ramai. Banyak pecinta durian yang datang dari luar kota, otomatis penjualan durian semakin meningkat dan menambah pendapatan petani durian.” Ujarnya, Jum’at (11/01/2019).

Sejak musim liburan sekolah pada Desember 2018 pecinta durian dari luar Kabupaten Pekalongan sudah datang ke Lolong untuk menikmati durian langsung dari petani. “Hal tersebut membawa berkah bagi warga karena banyak yang menjual durian,” lanjut Rohman.

Sementara itu, Wakil Bupati Pekalongan, Arini Harimurti mengungkapkan bahwa Februari merupakan panen raya bagi petani durian di Desa Lolong.
“Selain di Lolong, ada juga rangkaian festival durian di Rogoselo dan Lemah Abang. “Namun puncaknya ada di Lolong,” tuturnya.

Arini berharap dengan berbagai festival durian di Kabupaten Pekalongan akan menarik wisatawan dan mempopulerkan Kota Santri sebagai sentra durian. “Kami berharap dengan festival yang ada dapat menarik wisatawan. Karena selain buah durian nantinya dalam festival akan ada gunungan durian, lapak durian serta seni tradisi khas Kabupaten Pekalongan,” tambahnya. (WD)

selengkapnya
Jalan-jalanSosial Budaya

Beberapa distorsi tentang Apem

apem

Kata Apem, beberapa hari terakhir ini menjadi perbincangan banyak orang. Media sosial maupun warung kopi tak lepas dari pembicaraan kue yang terbuat dari tepung beras, berbentuk bulat, memiliki tekstur yang empuk dan legit rasanya –di Pekalongan apem Kesesi, pembuatannya ditambahkan gula jawa atau gula aren– ini. Apem 80 juta saat ini jadi perbincangan.

Apem Comal menjadi distorsi pertama penyebutan kue apem di Pekalongan dan sekitarnya. Sebetulnya kue apem Pekalongan berasal dari Kecamatan Kesesi Kabupaten Pekalongan, namun karena tempat menjajakan kue ini ramai di Pasar Comal, warga lebih mengenal apem Kesesi sebagai apem Comal.

Apem Kesesi yang enak, menurut penuturan banyak warga, hanya bisa ditemui pada pengrajin kue apem di Dukuh Bantul, Kesesi. Pengrajin apem di pedukuhan tersebut dapat membuat kue apem dengan sempurna dengan kualitas yang baik dan enak. Air yang bagus dan cocok dianggap warga menjadi pembeda kualitas dan rasa apem dari Dukuh Bantul dengan pedukuhan lainnya di Kesesi.

Selanjutnya, pendistorsian makna apem yang berupa kuliner menjadi alat kelamin perempuan. Akibatnya, di beberapa tempat, generasi sekarang tidak berani menyebut kata apem. Mereka mengubahnya menjadi serabi. Padahal serabi dan apem adalah kuliner yang berbeda.

Distorsi ini muncul akibat penyebutan kelamin laki-laki maupun perempuan secara gamblang kerap dianggap jorok. Makanya orang suka menggunakan kata lain untuk menyebutkan atau menggambarkan kedua kelamin tersebut. Biasanya kata yang dipilih itu adalah sebuah hal yang terlihat mirip dengan bentuk kedua kelamin tersebut.

Selain dua distorsi makna (kata) apem diatas, dikemudian hari sepertinya akan kita dapati distorsi lainnya yang berkaitan dengan apem ini.

Untuk mengembalikan apem Kesesi sebagai ikon kuliner khas Pekalongan, Pemkab Pekalongan menggelar acara pemecahan rekor MURI sajian apem terbanyak bulan November 2018 lalu. Acara yang dihelat dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Korpri ke 47 tersebut memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia dengan urutan 8.762.

Proses pembuatan apem Kesesi. Foto: Kaskus

Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat apem Kesesi adalah tepung beras, gula merah/gula jawa/gula aren. Sedang peralatan yang digunakan untuk membuatnya adalah dandang, anyaman, sarangan dan daun. Anyaman dan sarangan dibuat dari bambu yang dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat mencetak apem Kesesi.

Beras dicuci bersih, lalu direndam selama dua malam, kemudian digiling sampai menjadi tepung, setelah itu tepung diuleni / diaduk rata sampai berbentuk adonan. Gula merah dicairkan lalu adonan dicampurkan menjadi satu dan dicetak. Setelah dicetak lalu dikukus selama 10 menit.

Apem yang baik, kalau dimakan enak, tidak “nggedabel” (bahasa Pekalongan) atau agak lengket di mulut. Kalau dilihat warnanya terang, tidak kusam, kelihatan tidak halus tapi seperti ada gelembung-gelembung udaranya. Untuk lebih gurih, kadang ada pedagang yang sengaja menaruh irisan kelapa (bukan parutan) di atas apem. (WD, diolah dari berbagai sumber)

selengkapnya
Jalan-jalan

Legitnya Duren Boyo sembari menikmati sejuknya alam

duren boyo_foto syukron sahara1

Doro, Wartadesa. – Tak salah bisa Kecamatan Doro menjadikan durian sebagai landmarknya. Nyatanya hingga kini, warga Pekalongan dan sekitarnya berduyun-duyun untuk menikmati aneka jenis durian, ketika musim tiba. Saat ini, Duren Boyo, menjadi vaforit pengunjung untuk menikmati durian berwarna kuning dengan daging tebal, rasa manis, legit, enak, wanginya harum serta kulitnya tidak mudah merekah.

Satu daerah penghasil Duren Boyo di wilayah kecamatan Doro yakni di Dukuh Doromantek, Desa Dororejo, Kecamatan Doro Kabupaten Pekalongan. Warga setempat, menjadikan pedukuhannya menjadi tempat wisata sekaligus surga bagi pecinta durian.

Duren Boyo menjadi incaran penikmat durian di Kabupaten Pekalongan, Foto: Republika

Video unggahan Isa Anshori 11 bulan lalu menceritakan warga Dukuh Doromantek, Desa Dororejo mengadakan rembug warga rencana pembuatan wisata Duren Boyo pada Februari 2018 lalu. Warga sepakat dalam kawasan wisata Duren Boyo dibuat kolam renang, pemancingan, permainan flying fox, gardu pandang Duren Boyo beserta lapak-lapak durian.

Pengunjung yang datang untuk menikmati durian unggulan Kabupaten Pekalongan, bisa dilakukan sembari menikmati sejuknya alam. Berendam kaki di kolam renang, memancing, bermain maupun berfoto bersama keluarga.

Gardu Pandang Duren Boyo, Dukuh Doromantek, Desa Dororejo, Kecamatan Doro. Foto: Syukron Sahara

Masa panen Duren Boyo dimulai Januari sampai Maret, berlokasi di Dukuh Doromantek, desa Dororejo, kecamatan Doro, kabupaten Pekalongan. Pada saat panen raya, durian tersebut dapat menghasilkan 600 sampai dengan 1.000 butir per pohon. Dengan harga Rp 50 ribu per buah untuk ukuran sedang dan Rp 60 ribu hingga Rp 150 ribu per buah untuk ukuran besar membantu meningkatkan pendapatan petani.

Duren Boyo merupakan salah satu komoditas buah unggulan. Varietas khas daerah ini menjadi kebanggaan masyarakat karena telah berhasil memenangkan kontes durian di kabupaten Pekalongan 2014 lalu. Sejak saat itu, durian ini menjadi daya tarik warga Pekalongan dan sekitarnya untuk berbondong-bondong menikmatinya.

Duren Boyo berhasil menjadi pemenang pertama Kontes Durian Unggulan dalam rangka Festival Durian Lolong 2014 yang digelar Ahad (16/2/14) di Desa Lolong Kecamatan Karanganyar. Durian dengan nomor urut peserta 13 ini sukses memikat para juri dengan kualitas aroma, rasa dan teksturnya. Durian ini mempuyai keistimewaan rasa yang nikmat, kering, dan tebal.

Ingin menikmati legitnya Duren Boyo sembari bersendagurau dengan alam sekitar, tak ada salahnya untuk mampir. (WD)

selengkapnya
Jalan-jalanSosial Budaya

Ini ragam perayaan malam tahun baru di Pemalang, Pekalongan dan Batang

sinden hongaria

Batang, Wartadesa. – Beragam acara telah disiapkan untuk merayakan malam pergantian tahun. Mulai dari Pemkab Pemalang yang akan merayakan secara sederhana. Pemkab Pekalongan yang akan menggelar istighotsah dan do’a bersama serta hadirnya dalang Ki Bayu Aji putra Ki Anom Suroto besama sinden dari Hongaria serta pesta kembang api di Alun-Alun Batang.

Perayaan malam pergantian tahun, nanti malam di Batang, dipusatkan di dua lokasi, yakni di Pendopo Rumah Dinas Bupati, Alun-Alun Kota Batang dan Alun-Alun Limpung.

Kemeriahan pesta kembang api akan digelar di Alun-Alun Batang. Selain itu Pemkab Batang akan menyajikan hiburan wayang kulit dengan dalang Ki Bayu Aji putra Ki Anom Suroto dengan lakon Pandowo Bangun Projo.
Yang spesial dalam pagelaran wayang kulit nanti, dimeriahkan bintang tamu Sinden Agnez Sarfozo dari Hongaria dan Joleno dari Solo.

“Ya nanti ada sinden cantik dari luar negeri, Hungaria yang akan menemani dalang Ki Bayu Aji putra Ki Anom Suroto,” tutur Kepala Bagian Humas Setda Batang, Triossy Yuniarto.

Saat perayaan pergantian tahun, akan diluncurkan acara “Ngombe Kopi” oleh Bupati Batang, Wihaji. “Kita akan sekaligus meluncurkan program yang akan menjadi terobosan baru di Tahun 2019, yaitu Ngombe Kopi atau dari singkatan “Ngomong bebas karo Wihaji dan Suyono”, selain itu juga dari kalender event selama tahun 2019 berisi semua agenda event dari komunitas yang bekerjasama dengan Disparpora,” tutur Bupati Wihaji, Senin (31/12).

Perayaan malam tahun baru di Alun-Alun Limpung akan menyuguhkan gelaran pesta kembang api dan pagelaran musik. “Saat menunggu malam pergantian baru atau pesta kembang api yang menjadi puncaknya, kami juga akan suguhkan hiburan musik persembahan musik kekinian hingga tembang kenangan dari band-band lokal,” ujar Camat Limpung, Windu.

Perayaan Tahun Baru di Pekalongan

Perayaan malam tahun baru di Kabupaten Pekalongan akan diisi dengan doa bersama atau istighotsah untuk mendoakan kelancaran pembangunan daerah, dan kesejahteraan serta keselamatan masyarakat, agar pada 2019 diberikan keberkahan juga kesuksesan.

Doa bersama juga ditujukan kepada keselamatan bangsa, agar terhindar dari segala macam musibah. Kemudian mendoakan daerah-daerah yang terkena musibah supaya dapatsegerabangkit, dantidakadabencana- bencana susulan lain. Hal tersebut disampaikan Bupati Pekalongan Asip Kholbihi menyikapi kegiatan malam pergantian tahun yang akan digelar Pemkab Pekalongan.

“Kami tetap akan melakukan perayaan malam pergantian tahun secara meriah bersama masyarakat. Tapi dengan melakukan doa bersama,” katanya. Disebutkan, pada situasi munculnya bencana di berbagai daerah, sangat tidak memungkinkan dan sangat bertentangan apabila pemerintah justru melakukan kegiatankegiatan hiburan pada perayaan malam tahun baru.

Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi juga memerintahkan untuk membatalkan pagelaran hiburan yang digelar oleh event organizer (EO) di Kota Santri. “Ini agar kita semua tidak menyakiti perasaan saudara-saudara kita yang ada di luar daerah sana, yang sedang tertimpa musibah bencana. Sehingga hiburan malam tahun baru saya hentikan dan dipindahkan waktunya siang sampai sore,” kata Asip.

Pemalang Rayakan Pergantian Tahun Secara Sederhana

Pemerintah Kabupaten Pemalang mengimbau pada seluruh masyarakat dan para pemangku kepentingan agar tidak berlebihan menyambut perayaan tahun baru. Perayaan tidak perlu menyalakan kembang api dan petasan serta tidak menggelar acara hingga lewat tengah malam.

Meski tidak ada acara khusus pada malam pergantian tahun di Pemalang, namun pada siang hari, tanggal 1 Januari 2019 di Pantai Widuri akan digelar hiburan dangdut.

‘’Kami akan laksanakan sesuai petunjuk dalam surat himbauan. Dalam surat tersebut juga dilarang menyalakan kembang api dan petasan, pada saat merayakan pergantian tahun, sebab bisa membahayakan orang lain,” ujar Kepala , Dinas Pariwisata Pemuda dan Olah Raga Pemalang, Sapardi. (WD, dirangkum dari berbagai sumber)

selengkapnya
Jalan-jalanSosial Budaya

Berenang di Pantai Pasir Kencana, mahasiswi nyaris tenggelam

tenggelam di pasir kencana

Pekalongan Kota, Wartadesa. – Bagi wisatawan yang sedang berlibur di pantai, hendanya mematuhi himbauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk tidak berenang di pantai, lantaran hingga tanggal 1 Januari 2019, BMKG Jawa Tengah mengeluarkan peringatan dini gelombang di Pantai Utara Jawa mencapai 4 meter dan gelombang di Pantai Selatan Jawa Mencapai 6 meter.

Seperti yang terjadi di Pantai Pasir Kencana, Pekalongan Utara, pagi tadi. Seorang mahasiswi IAIN Pekalongan, Fajariah (18), mahasiswa asal Salatiga ini nyaris tenggelam saat ‘nyemplung’ di pantai dan berenang ketengah. Dia terseret arus semakin ke tengah hingga nyaris tenggelam. Kejadian sekitar pukul 09.20 WIB (30/12).

Menurut penuturan warga, saat itu Fajariyah berjalan menuju ke arah pantai menuju ke tengah laut. Para pengunjung yang melihat, langsung mengingatkan untuk tidak ketengah laut. Namun, karena terseret arus, dia terus ke tengah laut hingga nyaris tenggelam.

Pengunjung pantai yang melihat kejadian tersebut, langsung menghubungi SAR Jogo Samudro untuk menyelamatkan korban. Tim SAR dibantu Tim Damkar Kota Pekalongan berhasil mengevakuasi korban dengan armada, kemudian dibawa ke RS Budi Rahayu.

“Rekan-rekan dari Jogo Samudro langsung ke TKP dan melihat korban menjauhi pantai menuju laut. Mereka langsung melakukan evakuasi dan meminta kami untuk sediakan armada,” ujar Yudha Wijaya.

Korban selamat namun kondisi korban saat ini masih linglung dan trauma atas kejadian tersebut. Pihak SAR sudah menghubungi pihak keluarga korban di Salatiga.

Tim SAR menghimbau pengunjung Pantai Pasir Kencana untuk tidak mandi di pantai lantaran prediksi gelombang tinggi yang dikeluarkan BMKG hingga awal Januari mendatang. (WD)

selengkapnya
Jalan-jalanSosial Budaya

VLOC chapter Pekalongan rayakan milad

batang vios

Batang, Wartadesa. – Vios Limo Owner Community (VLOC) Chapter Pekalongan merayakan ulang tahunnya yang ke-3, bertempat di Wisata Alam Pagilaran Batang ini dilaksanakan 8-9 Desember 2018. Milad ketiga dihadiri langsung oleh Ketua VLOC Nusantara Pusat, dari Jakarta.

Komunitas Mobil yang sudah terbentuk 3 tahun lalu ini terdiri dari beberapa wilayah. Untuk VLOC chapter Pekalongan sendiri terdiri dari 4 Kabupaten, yaitu Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Batang, dan Kabupaten Pemalang.

Ketua VLOC chapter Pekalongan Ujang menuturkan bahwa komunitas ini merupakan para pemilik mobil Toyota Vios Limo, sampai saat ini di chapter Pekalongan sendiri kurang lebih ada 50 anggota.

Lebih lanjut Ujang menyampaikan bahwa dalam aniversarry yang ke-3 ini, dihadiri oleh chapter dari berbagai wilayah, ada dari Surabaya, Madura, Semarang, Slawi, Purwokerto, Cilengsi, dan Bogor. Dan yang paling lebih membahagiakan dan membanggakan dihadiri langsung oleh Ketua VLOC Nusantara dari Jakarta.

Sementara itu Ketua VLOC Nusantara Fajar menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya atas sambutannya, dan acara aniversarry nya sukses luar biasa.

Harapannya VLOC chapter Pekalongan semakin solid dan kompak serta untuk VLOC wilayah lainnya juga bisa tetap kompak tutup fajar. (WD)

selengkapnya
EkonomiJalan-jalanLayanan Publik

Menengok surga pecinta burung di Pemalang

pasar burung pemalang

Pemalang, Wartadesa. – Bagi pecinta kicau mania di Kabupaten Pemalang, Pasar Burung Pemalang yang berada di depan pasar pagi, tentu sudah tidak asing lagi. Tempat ini menjadi surga bagi pecinta burung di wilayah Pemalang, Pekalongan, Tegal dan sekitarnya.

Pasar yang buka tiap hari, mulai pukul 07.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB ini juga menjadi rujukan utama pecinta burung dari berbagai wilayah di kecamatan Pemalang.

Sebagai surganya para pecinta burung. Penikmat, pecinta kicau mania dapat menemukan beragam jenis burung, seperti Kacer, Kenari, Murai Batu, Anis Bata, Cucak Ijo, Perkutut. Bahkan para pedagang menyediakan berbagai jenis sangkar burung dan siap melayani konsultasi perawatan burung.

Salah seorang pecinta kicau mania, Tarno, warga Comal yang ditemui Warta Desa mengungkapkan dia tiap dua hari sekali datang ke pasar tersebut. “Ya mas … Saya hampir tiap dua hari sekali ke sini untuk beli pakan dan konsultasi ke para pedagang burung di sini.” Ujar tarno, Sabtu (08/12).

Sayang, ramainya pasar burung dengan banyaknya pecinta kicau mania yang datang untuk melakukan transaksi jual beli maupun konsultasi tersebut, belum diimbangi dengan sarana dan prasarana yang nyaman. Jalan pada area pasar becek saat hujan. Selain itu penataan pedagang belum tertata rapi karena lokasi yang sempit dan fasilitas pasar yang tidak memadai.

Keluhan tersebut diungkapkan oleh Tarno, dia berharap agar Pemerintah Kabupaten Pemalang, memperhatikan kondisi Pasar Burung Pemalang. “Seharusnya, pemerintah setempat segera menata para pedangang mas … Selain itu juga pasar sangat sempit dan kalau hujan … becek, jadi pengunjung pasar burung kurang nyaman.” Lanjutnya.

Pedagang Pasar Burung Pemalang pun mengiyakan, “Keinginan pedagang supaya direnovasi dan menjadi nyaman untuk berdagang … kita nyaman berjualan … pembelipun nyaman saat melihat-lihat burung kesayangan mereka,” tutur Suharyono, salah seorang pedagang.

Fahmi, pedagang lainnya mengungkapkan hal senada, “semoga pihak Pemkab Pemalang bisa segera merenovasi dan memperluas pasar burung kebanggaan masyarakat Pemalang ini,” pungkasnya. (Eky Diantara)

selengkapnya
Jalan-jalanLingkunganSosial Budaya

Lomba mancing Barramundi dan peluncuran Baper digelar di PPNP Pekalongan

lomba mancing baramundi

Pekalongan Kota, Wartadesa. – Komunitas Batik Angler Perjuangan (BAPER) bersama pengelola Obyek Wisata Bahari PPNP Kota Pekalongan menggelar lomba mancing Strike Barramundi sekaligus peluncuran Baper. Perhelatan tersebut dilaksanakan pada Ahad  (25/11) di  Wisata Bahari PPNP kota Pekalongan.

Ubaidillah, panitia yang dihubungi oleh Warta Desa mengungkapkan bahwa kegiatan ini diikuti oleh puluhan pecinta mancing mania dari Pekalongan dan luar kota.

“Kegiatan yang diikuti oleh pemancing atau angler se Pekalongan, komunitas mancing mania Pemalang, Batang, Semarang, Brebes, Demak, Kendal, Jepara, Indramayu, Cilacap, Jakarta, Tuban, Tegal dan Bekasi.” Ujar pria yang sering disapa Kang Obek.

Menurut Ubaidillah, kegiatan tersebut  memperebutkan hadiah utama  dua unit sepeda motor Beat dan hadiah lain, memperebutkan trophy, medali dan piagam.

“Selain pemenang lomba dengan kategori terberat ikan Barramundi, peserta yang lain tetap mempunyai kesempatan mendapatkan hadiah doorprize utama sepeda motor dan hadiah menarik lainnya.” Lanjut Obek.

Selain kegiatan mancing, acara juga dimeriahkan dengan  makan olahan ikan bersama sebagai wujud program kementerian Kelautan dan Perikanan untuk menciptakan budaya gemar makan ikan bagi warga untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat.

Dion, Ketua Pelaksana mengungkapkan ucapan terimakasihnya kepada seluruh panitia dan pihak yang mendukung acara tersebut. “Harapan kedepan kegiatan ini bisa berkelanjutan sebagai silaturahmi dan komunikasi dari berbagai komunitas mancing mania.” Pungkasnya. (WD)

selengkapnya