close

Lingkungan

LingkunganSosial Budaya

Telat Sedikit Kebun Ludes, Untung Warga Sigap

kebakaran

Wartadesa, Kendal. – Hampir saja kebakaran bakal meludeskan sebuah kebun di tepi jalan Parakan-Sukorejo KM 03, Dusun Bungkaran Pagersari, Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal, Senin (25/09/2023). Beruntung kejadian tersebut dapat diantisipasi.

Pantauan di lokasi kejadian, awal muncul api yang membakar rerumputan dan pepohonan di ruas jalan tersebut, berasal dari tumpukan sampah yang dibakar.

Api dari tumpukan sampah sempat dipadamkan oleh warga dengan ranting kayu dan air dari ember. Warga mengira api sudah padam, namun kemudian api mulai merembet.

Karena nyalanya tidak terlalu besar kemudian dipadamkan oleh warga menggunakan peralatan seadanya. Tadinya sempat ditinggal karena dikira api sudah padam, ternyata api cepat membesar dan membakar pepohonan di sekitarnya tak terkecuali kabel Telkom yang ada di atasnya,” tutur Suhari, salah seorang warga setempat.

Musim kemarau dan tiupan angin yang cukup kencang saat kejadian, membuat api susah dipadamkan.  Api menyambar ujung pohon hingga kobaran api makin membesar.

Lantaran kobaran api tidak terjangkau  warga untuk dipadamkan. Warga menghubungi pihak pemadam kebakaran setempat.

Damkar Unit Sukorejo kemudian meluncur  segera dan berhasil mencapai lokasi dalam beberapa menit. Api dapat dipadamkan selang beberapa menit kemudian. 

Aman Wahyudi, petugas Pemadam Kebakaran Unit Sukorejo di lokasi kejadian menyampaikan himbauan agar warga tidak membakar sampah saat musim kemarau.

“Kepada masyarakat untuk tidak membakar sampah ataupun melakukan pembersihan lahan dengan membakar, apalagi kondisi sekitar sangat rawan ikut terbakar. Bagi masyarakat yang mengetahui adanya kebakaran untuk segera menghubungi Damkar terdekat.” Pungkas Wahyudi.  (Andi Gunawan)

Terkait
Pantai Depok, Nasibmu Kini

Meski sudah ada pemecah ombak, abrasi terus menggerus Pantai Depok Pekalongan (12/10)

Rusak, warga rehab Mushola “Pasar Kebo”

Warga sekitar Mushola Pasar Kebo - Kajen merehab Mushola, Jum'at (14/10). Foto : Eva Abdullah/wartadesa Kajen, Read more

[Video] Pantai Siwalan Nasibmu Kini

https://youtu.be/-ifv0wgTxAM Pesisir pantai siwalan hingga wonokerto Kab. Pekalongan terus terkikis, Pemukiman warga terus terancam hilang. Sebagian rumah warga  sudah tidak Read more

Meneruskan estafet kepemimpinan rating IPPNU Pecakaran

Pelantikan Pimpinan Ranting IPNU IPPNU Pecakaran, Wonokerto - Pekalongan berlangsung khidmad. (14/10) Foto : Wahidatul Maghfiroh/wartadesa. Read more

selengkapnya
LingkunganSosial Budaya

Muhammadiyah Kabupaten Pekalongan Distribusikan Air ke Terdampak Kekeringan

mdmc

Wartadesa, Kajen – Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dan Lazismu Kabupaten Pekalongan bekerjasama dengan Badan Penganggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pekalongan mendistribusikan air bersih ke masyarakat terdampak kekeringan.

Berdasarkan koordinasi dengan Badan Penganggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pekalongan bahwa ada beberapa wilayah desa di kabupaten Pekalongan yang terdampak kekeringan hingga kekurangan air bersih akibat musim kemarau untuk itu pada Selasa, 12 September 2023 Lazismu dan MDMC Kabupaten Pekalongan menyerahkan bantuan guna mendistribusikan air bersih ke wilayah terdampak.

Distribusi air bersih dilaksanakan selama dua hari, pada hari jum’at 15 September 2023 Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dan Badan Penganggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pekalongan dilaksanakan distribubusi untuk tiga desa terdampakn yaitu desaSastrodirjan Kecamatan Wonopringgo , Desa Wonosari Kecamatan Karanganyar dan Desa Sambiroto Kecamatan Kajen.

Kemudian hari sabtu, 16 September 2023 terlaksana distribusi air bersih untuk Desa Kedungkebo dan Desa Kaligawe kecamatan Kerangdadap serta Desa Jetak Kidul Kecamatan Wonopringgo..

Wiharyono Kepada Dusun Desa Sambiroto kecamatan Kajen mengatakan “Desa kami yang mengalami kekeringan dan kekuarangan air bersih terdapat beberapa wilayah yaitu RT. 01 sampai RT. 05 , kurang lebih dampak dari musim kemarau ini kami rasakan sudah 5 minggu ini, Alhamdulillah hari ini dapat bantuan air bersih dari Muhammadiyah, kami mengucapkan terimakasih”

Warga RT. 05 Desa Sambiroto bernama Bapak Korep menuturkan “kami merasa sangat terbantu dengan adanya bantuan air bersih ini , rencana air akan saya gunakan untuk keperluan air minum dan cuci pakaian selama 1 hari , harapan kami untuk rutin dilaksanakan kegiatan distribusi air bersih ini untuk mencukupi kebutuhan kamis sehari-hari”

Anggota Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Kabupaten Pekalongan Fahri Diky menjelaskan “Muhammadiyah berkomitmen untuk selalu hadir membantu masyarakat, salah satu kegiatan hari ini adalah distribusi air bersih untuk warga kabupaten Pekalongan yang terdampak kekeringan akibat musim kemarau dengan berkolaborasi dengan Badan Penganggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pekalongan agar distribusi merata dan tepat sasaran”. (Fahrudin)

Terkait
Pantai Depok, Nasibmu Kini

Meski sudah ada pemecah ombak, abrasi terus menggerus Pantai Depok Pekalongan (12/10)

Rusak, warga rehab Mushola “Pasar Kebo”

Warga sekitar Mushola Pasar Kebo - Kajen merehab Mushola, Jum'at (14/10). Foto : Eva Abdullah/wartadesa Kajen, Read more

[Video] Pantai Siwalan Nasibmu Kini

https://youtu.be/-ifv0wgTxAM Pesisir pantai siwalan hingga wonokerto Kab. Pekalongan terus terkikis, Pemukiman warga terus terancam hilang. Sebagian rumah warga  sudah tidak Read more

Meneruskan estafet kepemimpinan rating IPPNU Pecakaran

Pelantikan Pimpinan Ranting IPNU IPPNU Pecakaran, Wonokerto - Pekalongan berlangsung khidmad. (14/10) Foto : Wahidatul Maghfiroh/wartadesa. Read more

selengkapnya
Lingkungan

Keren Banget! Mancing Sekaligus Beramal

lomba mancing

Wartadesa, Kendal. – Aksi yang digalang oleh Wader & Ucenger’s Mania Sukorejo (WUM’S) berkolaborasi dengan Komunitas Mancing Mania Sukorejo (KMMS) ini sungguh keren banget. Bagaimana tidak! Ratusan penghobi mancing dari Kendal, Temanggung dan Batang memadati Sungai Teguru di perbatasan Kabupaten Kendal-Temanggung pada Ahad, 10 September 2023. Selain aksi berburu ikan dengan kail, mereka juga beramal pada pembangunan Masjid di wilayah tersebut.

Kemeriahan Lomba Mancing yang bertajuk Micro Fishing Part 1 dengan target ikan Uceng terpanjang. Ikan uceng adalah spesies ikan bersirip pari, tergolong kedalam famili Balitoridae dan genus Nemacheilus. Ikan ini hidup di sungai yang airnya mengalir agak deras dengan dasar bebatuan sebagai tempat perlindungannya. Ukuran tubuhnya kecil, panjang maksimalnya hanya mencapai 10 cm saja.

Teguru merupakan habitat ikan Uceng, meskipun populasinya semakin sedikit. Sungai Teguru yang berhulu di Gunung Prau dan mengalir hingga Sungai Bodri di Kabupaten Kendal ini debitnya terlihat menurun saat musim kemarau seperti sekarang. Banyaknya sampah yang dibuang warga ke sungai menambah ancaman bagi kelestarian ekosistem sungai tersebut. Sebelumnya, batuan di sungai ini juga diambil masyarakat namun sekarang sudah tidak lagi.

Kampanye untuk melestarikan ikan endemik terus dilakukan berbagai kalangan, tentunya akibat maraknya ilegal fishing yang mengancam populasi ikan-ikan tersebut. Teguru juga masuk dalam Sub DAS Bodri yang merupakan sungai terpanjang di Kendal. Luas DAS nya 599, 90 Km² dengan panjang sungai mencapai 171 Km, sungai ini juga menjadi penyumbang kerawanan banjir untuk daerah hilir.

“Dengan menggelar kegiatan mancing amal ini panitia juga bermaksud menyisipkan kampanye untuk sesama penghobi mancing agar turut menjaga kelestarian ekosistem sungai” tutur Nur Hamid, perwakilan dari WUM’s. Ia juga menambahkan, “Kita mancing kan tujuanya agar mendapat ikan, kalau sungainya tercemar dan ikanya habis oleh ilegal fishing tentunya itu membuat kita tidak nyaman”. Gelaran event mancing ini tentunya banyak mengurangi jumlah ikan, maka dari itu setelah acara ini akan ada kegiatan tebar benih ikan di Sungai Teguru juga bersih sampah dan pemasangan spanduk larangan membuang sampah di sungai.

Mancing Amal yang dihadiri 550 peserta ini sebagian keuntunganya akan didonasikan untuk pembangunan Masjid Miftahul Huda di Dusun Tamansari, Desa Tamanrejo, Kecamatan Sukorejo Kendal. Solikhun sebagai salah satu peserta yang juga merupakan warga asli Tamansari menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh panitia dan peserta karena sudah membantu pembangunan masjid di desanya melalui donasi mancing amal tersebut. Warga Tamansari yang mengikuti acara ini sebanyak tujuh puluh lima orang, sebagian berkontribusi dengan membeli tiket yang terjual lebih dari 200 tiket. “Untuk temen-temen mancing semoga bisa memberi motivasi terutama bagi warga Tamanrejo sendiri untuk beramal baik dalam ajang mancing atau ajang apa saja dan dari pemuda Tamansari juga banyak menyampaikan terimakasih kepada panitia”.

Acara mancing berakhir pukul 12.00 WIB dan dimenangkan oleh peserta yang mendapatkan ikan uceng terpanjang yaitu sepanjang 9,1 cm lima menit sebelum penilaian lomba ditutup dan membawa pulang hadiah sebesar Rp 2 juta . Juara ke dua dengan panjang 8,8 cm, dan juara ke tiga 8,5 cm. Selain itu ada juga satu pemenang kategori penilaian untuk peserta yang mendapat ikan mahseer tercepat yaitu enam belas menit setelah acara dibuka pada pukul 09.16 WIB.  (Andi Gunawan)

Terkait
Pasien miskin yang dipulangkan RSUD Soewondo akhirnya meninggal

Kendal, Wartadesa. - Toha (60),  pasien miskin, pemegang Kartu Indonesia Sehat, warga Rt. 05 Rw. 03 Dusun Wonokerto, Desa Sendangdawung Read more

Terpeleset saat memancing, Khaerudin tenggelam

Tirto, Wartadesa. - Nasib naas menimpa pemuda warga Desa Karangjompo Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan, saat hendak memanfaatkan faktu luangnya dengan Read more

Kabupaten Pekalongan raih Adipura, setelah penantian panjang

Jakarta, Wartadesa. - Kabupaten Pekalongan dinobatkan sebagai penerima penghargaan Adipura Tahun 2017. Penghargaan tersebut diberikan kepada daerah paling bersih tingkat Read more

Ribuan warga Pekalongan tumpah ruah, meriahkan pawai Adipura

Kajen, Wartadesa. - Ribuan warga Kota Santri tumpah ruah memenuhi sepanjang jalan sekitar Kajen. Mereka tampak antusias melihat arak-arakan (pawai) Read more

selengkapnya
Lingkungan

Sumur Bor Jadi Jawaban Kekeringan di Sendang Curugsewu?

foto berita

Wartadesa, Kendal, – Bencana kekeringan yang terjadi di Desa Curugsewu sudah mengetuk pintu berbagai pihak, salah satunya dari Komisi D DPRD Jateng. Intervensi yang di tujukan ke Dinas ESDM Jateng, oleh Komisi D memunculkan satu kegiatan Sosialisasi Mitigasi Bencana Kekeringan di Desa Curugsewu Kecamatan Patean, Kendal.

Hadir sebagai Narasumber  . Agus Azis, ST.M.Si Seksi Geologi, Mineral, dan Batubara lalu dari Komisi D DPRD Jateng   H. Benny Karnadi, S.Ag dan  Danie Budi Tjahyono. Acara yang dilaksanakan Rabu, 30 Agustus 2023 tersebut juga mengundang tokoh masyarakat dusun terdampak dan beberapa pemerhati lingkungan di daerah Kendal Selatan.

Sendang yang sebagian masyarakat kenal adalah sebagai tempat air, tapi tidak dengan dusun di Curugsewu ini. “Baru tahun ini dusun Sendang mengalami kekeringan, kalau dusun Robyong memang setiap tahun lengganan” ujar Bp. Kaeri selaku Kades Curugsewu. Sampai saat ini kebutuhan air bersih di Sendang dan Robyong mengandalkan kiriman dari BPBD Kendal, jelas tidak selamanya mengandalkan hal tersebut, perlu ada langkah kongkrit untuk menghindari kondisi serupa di masa depan. Masih satu dukuhan dengan Robyong, warga di Regeng juga mengeluhkan hal serupa sehingga ada tiga Dusun yang terdampak saat ini.

Degradasi lahan yang terjadi di sebagian besar wilayah Kendal juga harus mulai diperhatikan pemerintah daerah. Penuturan beberapa warga bahwa saat ini banyak mata air yang mati di sekitar Curugsewu, tentunya bukan suatu kebetulan. Dulu banyak terdapat pohon-pohon besar dan sekarang pohon-pohon tersebut perlahan mulai hilang ini bisa jadi satu perhatian untuk kita semua. Fungsi pohon sebagai penyimpan cadangan air perlu kita kembalikan lagi, meskipun butuh waktu puluhan tahun tetapi itu wajib dilakukan.

Air terjun Curugsewu yang merupakan Ikon Wisata Kabupaten Kendal ketika musim kemarau juga terlihat menurun debitnya. Masih satu aliran dengan Sungai Blukar yang di daerah hulunya sekarang mengalami penurunan fungsi, yaitu fungsi resapan karena banyak lahan gundul yang diakibatkan kegiatan perambahan hutan maupun aktifitas perusakan lain yang tidak terkendali.

Keresahan masyarakat sementara ini terjawab oleh bantuan dari Pemprov Jateng berupa sumur bor, yang nantinya akan di buat di Dusun Sendang dan Dusun Regeng. Namun, untuk Dusun sendang masih akan dimusyawarahkan lagi karena ada pro dan kontra. Sedangkan di Dusun Regeng, proyek tersebut tidak mendapat hambatan dan bisa segera dilaksanakan.

Apakah Sumur Bor satu-satunya solusi? Tentu tidak, masyarakat harus memikirkan juga dampak negatif jangka panjang proyek tersebut. Selain rusaknya permukaan tanah, dampak yang paling berbahaya dari penggunaan sumur bor yaitu adanya rongga di bawah tanah yang terjadi karena eksploitasi air tanah berlebih. Rongga ini tercipta akibat berkurangnya air tanah lebih cepat dari pengisian kembali. Maka dari itu perlu diimbangi dengan kegiatan lain yang bisa menambah debit air yang terserap ke tanah.

Jika dalam jumlah sedikit mungkin tidak terasa dampaknya namun, ketika itu dibuat dalam jumlah yang banyak maka akan menjadi masalah dikemudian hari. Rongga di bawah tanah tersebut menyebabkan tekanan tanah menjadi tidak seimbang, karena cadangan air yang berguna untuk menyeimbangkan kontur tanah habis di eksploitasi, akibatnya terjadi longsor dan bergesernya batuan yang menyanggah tanah sehingga terjadi amblas. Amblasnya permukaan tanah membuat ketinggian tanah menjadi semakin rendah, jika ketinggian tanah semakin rendah, dampak yang akan terjadi yaitu seringnya banjir di tempat-tempat tertentu.

Pada daerah dataran rendah, dampak yang paling parah dari eksploitasi air tanah besar-besaran yaitu air laut yang lebih tinggi dari permukaan, karena ketinggian tanah yang terus menurun akibat tidak adanya air tanah sebagai penyeimbang. Kota-kota besar di pesisir utara Jawa sudah menjadi contoh dampak eksploitasi air tanah, akibatnya beberapa daerah di Pantura “tenggelam” oleh air laut yang lebih tinggi dari tanah selain itu, minimnya daerah resapan air juga mempercepat “tenggelamnya” sebagian Pesisir Pantura. (Andi Gunawan)

Terkait
Pasien miskin yang dipulangkan RSUD Soewondo akhirnya meninggal

Kendal, Wartadesa. - Toha (60),  pasien miskin, pemegang Kartu Indonesia Sehat, warga Rt. 05 Rw. 03 Dusun Wonokerto, Desa Sendangdawung Read more

27 Desa di Pekalongan alami kekeringan

Kajen, Wartadesa. - Sedikitnya 27 Desa di Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah mengalami kekeringan saat musim kemarau. Tersebar di 12 Kecamatan. Read more

Kekurangan air bersih, droping air ke Pulosari dan Belik akan ditambah

Pemalang, Wartadesa. - Kekurangan air bersih di wilayah Kecamatan Polosari akibat debit air Gunung Slamet yang terus mengecil ditanggapi oleh Read more

Kabupaten Pekalongan raih Adipura, setelah penantian panjang

Jakarta, Wartadesa. - Kabupaten Pekalongan dinobatkan sebagai penerima penghargaan Adipura Tahun 2017. Penghargaan tersebut diberikan kepada daerah paling bersih tingkat Read more

selengkapnya
Lingkungan

Damkar Kendal Sektor Sukorejo Evakuasi Burung Hantu Tyto Alba

burung hantu

Kendal, Wartadesa.Selasa pagi, 15 Agustus 2023 Pemadam Kebakaran Sektor Sukorejo menyelamatkan burung hantu berjenis Tyto alba atau Serak Jawa. Didapati burung tersebut tersangkut benang layangan di antara pohon rambutan dan pohon nangka, di kebun kantor pegadaian Sukorejo. Sayap kanan terjerat benang layangan yang membentang membuat burung hantu tersebut tak berkutik. Saksi pertama melihatnya sekitar pukul 07.00 WIB, karena pada pukul 06.00 belum terlihat ada burung di situ, diduga burung tersangkut setelah pukul 06.00 yang berarti hampir tiga jam Serak jawa itu sayap kanannya terjerat benang.

Proses penyelamatan dilakukan dengan memanjat pohon, dan dengan bara yang diletakkan di ujung bambu, benang tersebut disulut hingga putus, sehingga burung hantu tersebut jatuh dan bisa langsung di amankan. Benang yang melilit sayap kanannya cukup panjang dan menimbulkan luka.

Selesai proses evakuasi, burung kemudian diamankan di dalam kardus setelah sebelumnya dilakukan pengecekan dasar. Sayap kanannya lemas, khawatir tidak bisa terbang, sementara burung tersebut akan diamankan dan dirawat sebelum kemudian dilepas liarkan kembali ke alam.

Serak Jawa dengan nama ilmiah Tyto alba merupakan burung predator nokturnal, artinya dia beraktifitas di malam hari. Siang hari burung itu akan kembali ke sarang atau tempat-tempat gelap untuk tidur. Selain itu, Tyto alba mempunyai kemampuan mencari mangsa lebih baik dibandingkan jenis pemangsa lainnya, memiliki penglihatan dan pendengaran yang sangat tajam di malam hari, tidak bersuara saat terbang, daya jelajah tinggi, perkembangbiakannya cepat, setia pada sarangnya dan mampu hidup lebih dari 5 tahun.

Bagi petani, Tyto alba adalah salah satu solusi untuk mengendalikan hama tikus di sawah, maka mulai banyak kelompok-kelompok tani yang mendaya gunakan burung itu untuk menjaga sawah mereka dengan menyediakan rubuha atau rumah burung hantu di tengah sawah.

Meski populasinya masih cukup banyak sebaran burung jenis ini juga termasuk luas, masyarakat diharapkan tidak menjadikanya hewan peliharaan apalagi hewan buruan untuk dikonsumsi. Akan lebih bijak kita menyerahkan tugas pengendalian hama tikus pada burung tersebut dengan membiarkanya terbang bebas di langit-langit Indonesia. (Andi Gunawan)

Terkait
Pasien miskin yang dipulangkan RSUD Soewondo akhirnya meninggal

Kendal, Wartadesa. - Toha (60),  pasien miskin, pemegang Kartu Indonesia Sehat, warga Rt. 05 Rw. 03 Dusun Wonokerto, Desa Sendangdawung Read more

Kabupaten Pekalongan raih Adipura, setelah penantian panjang

Jakarta, Wartadesa. - Kabupaten Pekalongan dinobatkan sebagai penerima penghargaan Adipura Tahun 2017. Penghargaan tersebut diberikan kepada daerah paling bersih tingkat Read more

Ribuan warga Pekalongan tumpah ruah, meriahkan pawai Adipura

Kajen, Wartadesa. - Ribuan warga Kota Santri tumpah ruah memenuhi sepanjang jalan sekitar Kajen. Mereka tampak antusias melihat arak-arakan (pawai) Read more

Dua Kelurahan kekeringan, Kota Pekalongan darurat bencana kekeringan

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Pemerintah Kota Pekalongan menetapkan darurat bencana kekeringan mulai 1 Juli hingga 31 Oktober 2017. Penetapan tersebut Read more

selengkapnya
Lingkungan

Dua Dusun di Patean Kekurangan Air Bersih

dropping air kendal

Kendal, Wartadesa. – Memasuki musim kemarau, dua dusun di Kecamatan Patean Kabupaten Kendal alami kekurangan air bersih. Dusun Ngrombyong dan Dusun Sendang Desa Curugsewu bergantung pada droping air bersih dari BPBD sejak pertengahan Juli 2023.

Kades Curugsewu menyebutkan bahwa Dusun Ngrombyong memang setiap musim kemarau memang mengalami kekeringan “Kalau Dusun Ngrombyong memang setiap musim kemarau pasti mengalami kekeringan, tapi untuk Dusun Sendang baru tahun ini mengalami kekeringan”. Setelah menerima keluhan warga, pemdes Curugsewu melalui Kadus wilayah terdampak kemudian menindaklanjuti dengan menyurati BPBD Kabupaten Kendal.

“Sudah jadi langganan memang untuk Dusun Ngrombyong setiap tahun kami droping air bersih, tapi untuk Dusun Sendang memang baru kali ini”, tutur Yoga Saputro petugas BPBD yang melakukan pendistribusian air bersih. Yoga menambahkan, sudah ada beberapa Dusun yang mengabarkan kondisi kekeringan namun belum memberitahu secara resmi ke kantor BPBD.

BPBD sudah mengantisipasi dengan menyiapkan sebanyak 300 tangki nantinya guna mencukupi kebutuhan air bersih di wilayah Kendal, namun saat ini baru terpakai 30 sampai 40 tangki. “Apabila ada masyarakat yang memerlukan bantuan air bersih bisa langsung melapor ke kadus ataupun kades untuk diteruskan ke kantor BPBD, sehingga bisa dilakukan pendistribusian ke wilayah tersebut.

Kepala Desa Curugsewu mengajak masyarakat untuk lebih berhemat dalam menggunaan air bersih selama musim kemarau, “karena ini air bantuan, diharapkan agar masyarakat bisa sehemat mungkin dalam  menggunakannya” tutur Kaeri. Pemerintah desa juga akan mengupayakan perbaikan mata air dengan melakukan reboisasi di wilayah Curugsewu, akan tetapi ke depanya tetap membutuhkan bantuan dari pemerintah pusat untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan akibat kekeringan. (Andi Gunawan)

 

Terkait
Pasien miskin yang dipulangkan RSUD Soewondo akhirnya meninggal

Kendal, Wartadesa. - Toha (60),  pasien miskin, pemegang Kartu Indonesia Sehat, warga Rt. 05 Rw. 03 Dusun Wonokerto, Desa Sendangdawung Read more

Sejak Ramadhan lalu warga Gunungsari Pemalang kekurangan Air

Pemalang, Wartadesa. - Warga Desa Gunungsari Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sejak bulan Ramadhan lalu kekurangan air bersih. Biasanya Read more

Kabupaten Pekalongan raih Adipura, setelah penantian panjang

Jakarta, Wartadesa. - Kabupaten Pekalongan dinobatkan sebagai penerima penghargaan Adipura Tahun 2017. Penghargaan tersebut diberikan kepada daerah paling bersih tingkat Read more

Ribuan warga Pekalongan tumpah ruah, meriahkan pawai Adipura

Kajen, Wartadesa. - Ribuan warga Kota Santri tumpah ruah memenuhi sepanjang jalan sekitar Kajen. Mereka tampak antusias melihat arak-arakan (pawai) Read more

selengkapnya
Lingkungan

Beredar Spanduk Warga Gentinggunung Tolak Eksploitasi Hutan Gunung Prau

tolak

KENDAL, WARTADESA. – Beredar spanduk penolakan warga terhadap eksploitasi hutan Gunung Prau di Desa Gentinggunung, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal, di bebeapa titik wilayah. Rabu (02/08/2023).

Reaksi penolakan warga akibat eksploitasi sumber mata air, alih fungsi lahan hutan menjadi lahan pertanian, penebangan pohon (ilegal logging), perburuan satwa yang dilindungi, dan tindakan yang merusak kelestarian hutan lainnya.

Narasumber Warta Desa mengungkapkan bahwa   rusaknya hutan Gunung Prau menyebabkan beberapa sumber mata air hilang di Gentinggunung. Bukan tanpa sebab, sejak diberlakukanya kerjasama antara Perhutani dan LMDH, perambahan hutan marak terjadi. Salah satunya alih fungsi tanaman hutan menjadi tanaman perkebunan yaitu kopi.

Pembukaan lahan guna ditanami kopi kerap menimbulkan masalah baru, sebab penggarap biasanya melakukan pembersihan dengan membakar lahan yang berakibat kebakaran meluas masuk ke hutan.

Pada tahun 2014 sempat terjadi kebakaran di hutan wilayah Gentinggunung, di kawasan Hutan Produksi Terbatas. Tahun dimana dimulainya kerjasama antara Perhutani dan LMDH. Tidak cukup di situ, hampir setiap tahun di musim kemarau ada saja ulah oknum yang membersihkan lahan dengan membakar, tidak sedikit pohon keras mati karenanya. Produktifitas yang tinggi dari penanaman kopi tentu menjadi target dari penggarap. Mayoritas pemahaman masyarakat akan kecukupan sinar matahari untuk tanaman memperburuk proses pembukaan lahan, akhirnya pohon-pohon yang menaungi tanaman mereka perlahan dimatikan.

Bercermin dari kejadian tersebut, warga akhirnya bersepakat untuk mengembalikan fungsi hutan sebagaimana mestinya. Masyarakat Gentinggunung sangat bergantung terhadap kelestarian hutan di wilayah Gunung Prau. Masukan dari berbagai tokoh masyarakat dan pemuda, membuahkan keputusan yang cukup sensitif yang diambil pemerintah desa. Salah satunya penerbitan Perdes (Peraturan Desa) tentang perlindungan lingkungan hidup dan kawasan hutan.

Perdes tentang lingkungan, berisi larangan mencemari sungai, larangan berburu, dan larangan perusakan kawasan hutan.  Gebrakan terus dilakukan guna menguatkan Perdes tersebut, apalagi akhir-akhir ini kekawatiran tentang menurunya debit air Kali Terong menghantui masyarakat desa.

Kali Terong merupakan ikon yang lama melekat di desa tersebut. Ada curug di bagian hulu, namun semakin tahun debitnya mengecil. Ketergantungan terhadap Kali Terong mendorong warga melakukan berbagai upaya untuk menjaga kelestarianya. (Buono/AG)

Terkait
Kabupaten Pekalongan raih Adipura, setelah penantian panjang

Jakarta, Wartadesa. - Kabupaten Pekalongan dinobatkan sebagai penerima penghargaan Adipura Tahun 2017. Penghargaan tersebut diberikan kepada daerah paling bersih tingkat Read more

Ribuan warga Pekalongan tumpah ruah, meriahkan pawai Adipura

Kajen, Wartadesa. - Ribuan warga Kota Santri tumpah ruah memenuhi sepanjang jalan sekitar Kajen. Mereka tampak antusias melihat arak-arakan (pawai) Read more

Dua Kelurahan kekeringan, Kota Pekalongan darurat bencana kekeringan

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Pemerintah Kota Pekalongan menetapkan darurat bencana kekeringan mulai 1 Juli hingga 31 Oktober 2017. Penetapan tersebut Read more

Kondisi kali di Pekalongan dikeluhkan warga

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Pekalongan itu kalau kalinya keruh, berwarna, bau, dan kotor, itu menandakan geliat ekonominya sedang naik. Sebaliknya Read more

selengkapnya
Lingkungan

Cegah Konflik, Perhutani Undang Beberapa Desa Untuk Perjelas Masalah PKS

Screenshot from 2023-07-18 11-02-58

Temanggung, Wartadesa. – Senin 17 Juli 2023 telah diadakan pertemuan di kantor BKPH Candiroto KPH Kedu Utara terkait PKS mata air atau Perjanjian Kerjasama desa-desa yang memanfaatkan mata air dari gunung Prau

Hadir pada pertemuan tersebut adalah Kepala Desa Genting gunung Kecamatan Sukorejo Kendal, Kepala Desa Tamanrejo Kecamatan Sukorejo, Kepala Dusun Bringin sari Kecamatan Sukorejo, Kepala Desa Igir Mranak Kecamatan Kejajar Wonosobo, Pengelola Pamsimas Banyu Aji Desa Patak Banteng Kecamatan Kejajar, Kepala Desa Wates Kecamatan Wonoboyo Temanggung, turut hadir juga tokoh-tokoh masyarakat dari beberapa desa tersebut, beserta anggota pencinta alam di sekitar Gunung Prau.


Pertemuan yang dibuka oleh (Asper) / Kepala BKPH Candiroto Joko Supriyanto, kemudian dilanjutkan oleh Kepala RPH Kenjuran Dwiyanto Himawan dengan menyampaikan catatan kondisi lapangan di wilayah kerja beliau. Diskusi dilanjutkan tanggapan oleh para hadirin, yang pertama dari Kepala Desa Gentinggunung. Beliau menyampaikan selama ini pemanfaatan air di Gunung Prau oleh daerah lain sudah berlangsung lama, namun masyarakat Gentinggunung sendiri belum ada yang menyetujui. Jadi kesimpulan dari yang beliau sampaikan adalah agar dilakukan evaluasi terhadap pemanfaatan air yang sudah ber PKS dan menertibkan pemanfaat air lain yang tidak ber PKS karena beliau membawa aspirasi warganya yang menolak pengambilan mata air padahal mereka sendiri juga mengalami kekurangan air di musim kemarau.

Warga Desa Genting gunung sebagai daerah yang secara alami teraliri air dari hulu kali terong juga pernah melakukan protes dengan pengerahan masa hampir 200 orang naik ke puncak gunung, di titik pengambilan mata air pada saat proses pemasangan pipa oleh Desa Patak Banteng, karena saat itu pemasangan pipa belum mendapatkan ijin dari manapun.

Kepala Desa Tamanrejo juga menyampaikan apa yang menjadi permasalahan di wilayahnya. Saat ini Desa Tamanrejo telah menerima Dana Alokasi khusus sebesar 1,8 Miliar untuk pengusahaan penyaluran air bersih ke daerahnya, akan tetapi sampai saat ini belum ada mata air yang bisa diambil untuk dialirkan ke Desa Tamanrejo meskipun dana sebesar itu sudah turun dari pemerintah pusat.

Mantan Kepala Desa Gentinggunung, Suyitno menjelaskan, bahwa upaya pengajuan dana itu juga salah satu peranya. Suyitno yang juga menjabat sebagai ketua LMDH menyampaikan pula tentang latar belakang kenapa realisasi perjanjian kerjasama dengan daerah-daerah lain tersebut bisa terjadi. Beliau menyampaikan bahwa atas rasa kemanusiaan akhirnya mengijinkan mata air yang mengalir ke Desa Gentinggunung dialirkan ke Desa Patak Banteng dan desa lain di luar wilayah Gentinggunung, akan tetapi masyarakat Gentinggunung sendiri juga banyak yang mengeluhkan bahwa pada musim kemarau mereka kekurangan air. Tidak hanya itu, beberapa desa lain di lereng Prau yang berada di DAS kali Terong tidak kalah memprihatinkan karena mereka juga kekurangan air bersih bahkan ada desa yang sampai memanfaatkan air limbah di sungai untuk dikonsumsi.

Banyaknya penolakan dari warga Desa Gentinggunung perjanjian kerjasama itu akhirnya ditangguhkan, dan untuk perjanjian kerjasama yang sudah terbit sebagai PKS percobaan selama dua tahun yang berakhir pada bulan Oktober 2023 akan dievaluasi kembali. Manakala Desa Gentinggunung sebagai yang memiliki hak atas DAS tersebut kekurangan air.

Kepala Desa Wates juga menyampaikan bahwasanya daerah mereka juga mengambil air dari kali Terong dengan menggunakan pipa sebesar 1,25 inci, namun beliau menyampaikan juga komitmen untuk memperbaiki kawasan hutan supaya ke depan tidak ketergantungan lagi dengan mata air dari daerah lain. Keprihatinan ini menyulut respon dari para pencinta alam, beberapa Desa di Gunung Prau selama ini sangat masif memanfaatkan kawasan hutan sebagai obyek wisata pendakian, sedangkan apa yang terlihat saat ini adalah menurunya kualitas daerah resapan di Gunung Prau terutama puncak. Mendesak agar supaya pemulihan kawasan hutan ini menjadi perhatian bersama terutama pihak-pihak yang telah lama “memanen” hasil dari Gunung Prau.

Kondisi hutan yang mulai kritis, pohon-pohon besar berkurang berganti tanaman perkebunan maupun pertanian, puncak Gunung Prau juga semakin tandus, menyebabkan daerah atas sulit untuk dilakukan reboisasi. Perlu menjadi bahan evaluasi kembali oleh Perhutani dan pengelola basecamp pendakian, harus ada pembatasan kuota juga area-area yang digunakan untuk kawasan pemanfaatan perlu dipersempit agar kawasan perlindungan bisa bertambah.Ketua Fordas bodri, Hernowo juga berpendapat tentang perlunya dilakukan evaluasi di berbagai hal terkait regulasi maupun kegiatan-kegiatan yang merugikan daerah resapan di Gunung Prau.

Berakhirnya pertemuan pada hari itu menghasilkan kesepakatan sementara berupa penundaan diterbitkannya PKS untuk Desa Tamanrejo, persiapan evaluasi kembali PKS yang sudah terbit dengan dilakukan pengecekan lapangan di puncak musim kemarau tahun ini. Perhutani akan membuat tim yang akan didampingi oleh masyarakat Gentinggunung dan orang-orang Yang tahu betul kondisi lapangan.

Dari kejadian tersebut bisa dipetik bahwa air merupakan sumber kehidupan, juga sumber masalah apabila kita tidak bijak terhadapnya. Mata air di gunung Prau memang banyak yang mulai kering dikuatkan oleh bukti-bukti visual. Jika ini dibiarkan mungkin saja 5 tahun ke depan bukan hanya desa-desa ini saja yang kehilangan mata air, akan tetapi desa-desa lain di sepanjang penyangga gunung Prau juga akan mengalami kekeringan karena kondisi daerah resapan yang sudah kritis. (Andi Gunawan)

Terkait
Pasien miskin yang dipulangkan RSUD Soewondo akhirnya meninggal

Kendal, Wartadesa. - Toha (60),  pasien miskin, pemegang Kartu Indonesia Sehat, warga Rt. 05 Rw. 03 Dusun Wonokerto, Desa Sendangdawung Read more

PKS Kab. Pekalongan targetkan lima kursi dewan Tahun 2019

Karanganyar, Wartadesa. - Dewan Pimpinan Daerah Partai Keadilan Sejahtera (DPD PKS) Kabupaten Pekalongan menargetkan lima kursi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Read more

Gelar pengajian, DPD PKS berkhidmad pada pelayanan masyarakat

Kesesi, Wartadesa. - Dewan Pimpinan Daerah Partai Keadilan Sejahtera (DPD PKS) Kabupaten Pekalongan menggelar pengajian umum dalam rangka menyambut bulan Read more

Sehari bersama al-Qur’an bareng Bidang Perempuan DPD PKS Kab. Pekalongan

Kajen, Wartadesa. - Bidang Perempan Dewan Pimpinan Daerah Partai Keadilan Sejahtera (DPD PKS) menggelar acara bertajuk sehari bersama al-Qur'an. Acara Read more

selengkapnya
EducationEkonomiLingkungan

Kelompok Tani Jaya Tawarkan Agrowisata Petik Kelengkeng

walkot-petik-kelengkeng.jpg

Kota Pekalongan, Wartadesa. – Ada obyek agrowisata baru yang ditawarkan di Kota Batik, yakni petik buah kelengkeng yang ditanam oleh Kelompok Tani Jaya Kelurahan Soko Duwet, Kecamatan Pekalongan Selatan pada wisatawan.

“Agrowisata petik kelengkeng ini sudah kami luncurkan agar bisa menjadi tempat kunjungan wisata sekaligus sebagai tempat mengedukasi masyarakat dan pelajar,” Wali Kota Pekalogan, Afzan Arslan Djunaid, Senin (20/03/2023) saat mengunjungi agrowisata tersebut.

Afzan Arslan Djunaid mengajak masyarakat bersama TNI dan Polri “guyub rukun” untuk mengelola potensi agrowisata petik kelengkeng menjadi inspirasi kelurahan lainnya.

“Saya sempat mencicipi daging buah ini, rasanya manis dan buahnya tebal serta bijinya kecil. Oleh karena itu, kami mengajak warga bisa terus merawat agrowisata itu dengan baik,” katanya.

Camat Pekalongan Selatan Rusmani Budiharjo mengatakan bahwa pemkot telah menyerahkan 40 bibit kelengkeng jenis kristal baru yang ditanam di agrowisata itu.

Agrowisata milik lahan Pemkot Pekalongan seluas 248 meter persegi ini, lanjut dia, dipinjamkan pada Kelurahan Soko Duwet untuk pemberdayaan masyarakat.

“Kami berharap sinergisitas yang baru dibangun tersebut tidak kendor dan terus semangat dalam memelihara pohon yang sudah ditanam agar dapat berkembang dan menjadi sentra kelengkeng di dataran rendah,” katanya. *.*

Terkait
Pantai Depok, Nasibmu Kini

Meski sudah ada pemecah ombak, abrasi terus menggerus Pantai Depok Pekalongan (12/10)

Rutin, Polsek Sragi beri pengamanan di sekolah

Polsek Sragi membantu mengatur lalu lintas di depan SMA Negeri 1 Sragi, Jum'at (14/10). Foto : Read more

[Video] Pantai Siwalan Nasibmu Kini

https://youtu.be/-ifv0wgTxAM Pesisir pantai siwalan hingga wonokerto Kab. Pekalongan terus terkikis, Pemukiman warga terus terancam hilang. Sebagian rumah warga  sudah tidak Read more

Warga terdampak tol mulai pindah

Warga terdampak tol di desa Bulakpelem, Sragi ini mulai membongkar rumahnya secara swadaya. (15/10) Foto : Read more

selengkapnya
Lingkungan

Incinerator Murah ala Kelompok Tani Sokoduwet

incinerator

Kota Pekalongan,  – Pemuda Kelompok Tani Jaya, Kelurahan Sokoduwet  melakukan inovasi penanganan sampah anorganik dengan memanfaatkan barang bekas. Hingga alat yang dibuat tergolong sangat murah, kurang lebih Rp500 ribu.

Sarwedi mengungkapan bahwa inovasi berangkat dari keprihatinan volume sampah di Kota Pekalongan, “Setiap harinya tiap rumah pasti menghasilkan sampah, sedangkan proses penguraian sampah plastik cukup lama butuh puluhan tahun baru bisa terurai dengan tanah,” kata Bhabinkamtibmas Sokoduwet.

Sarwedi bersama dengan anggotanya membuat incinerator alias pembakar sampah ramah lingkungan dibuat dengan barang bekas dengan harga relatif murah, “Biaya pembuatan kurang lebih 500 ribu rupiah seperti drum bekas, tabung bekas freon AC, oli bekas dan besi bekas,” ungkapnya.

Pembakar sampah mengandalkan uap air akan mendorong api yang ada di bawah untuk naik, semburannya seperti gas tetapi menggunakan kekuatan uap air, “Kurang lebih 25 kg untuk sekali pembakaran, membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam, kalau dibakar biasa dibutuhkan waktu yang cukup lama dan menimbulkan banyak asap yang sangat mengganggu lingkungan,” terang Sarwedi.

Sementara itu, ia juga mengajak warga untuk melakukan pilah sampah dari rumah, agar sampah anorganik dapat langsung diproses incinerator dan organik bisa dijadikan pupuk kompos. Sarwedi akan melakukan koordinasi dengan pihak terkait untuk menyempurnakan inovasi tersebut agar pemanfaatannya semakin luas, “Bahkan hasil dari incinerator berupa abu ini bisa digunakan untuk campuran pupuk menambah kesuburan tanaman, harapannya bermanfaat untuk warga, lingkungan sekitar dan bisa mengurangi sampah yang memang sangat mengkhawatirkan,” lanjutnya.

M. Ardi setiawan, warga Kelurahan Sokoduwet mengangku sangat terbantu, karena sampah rumah tangga tidak menimbulkan tumpukan dan incinerator juga mengurangi asap kepulan yang tinggi, “Rumah sendiri 1 hari biasanya sampahnya sampai 1 plastik besar, semoga inovasi lebih diperbanyak agar kelurahan sokoduwet tidak ada lagi pembakaran sampah yang berlebihan,” pungkasnya. *.*

Terkait
Sampah truk tercecer dijalan, bahayakan pengguna jalan

Bahayakan pengguna jalan. Truk pengangkut sampah ini melaju dengan beban melebihi kapasitas, sehingga sampah yang dibawanya Read more

Kabupaten Pekalongan raih Adipura, setelah penantian panjang

Jakarta, Wartadesa. - Kabupaten Pekalongan dinobatkan sebagai penerima penghargaan Adipura Tahun 2017. Penghargaan tersebut diberikan kepada daerah paling bersih tingkat Read more

Ribuan warga Pekalongan tumpah ruah, meriahkan pawai Adipura

Kajen, Wartadesa. - Ribuan warga Kota Santri tumpah ruah memenuhi sepanjang jalan sekitar Kajen. Mereka tampak antusias melihat arak-arakan (pawai) Read more

Dua Kelurahan kekeringan, Kota Pekalongan darurat bencana kekeringan

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Pemerintah Kota Pekalongan menetapkan darurat bencana kekeringan mulai 1 Juli hingga 31 Oktober 2017. Penetapan tersebut Read more

selengkapnya