close

Bencana

Bencana

3.700 warga Kabupaten Pekalongan dan 2.351 warga Kota Pekalongan masih bertahan di pengungsian

api-api

Pekalongan, Wartadesa. – Sedikitnya 3.700 warga terdampak banjir di Kabupaten Pekalongan dan 2.351 warga Kota Pekalongan masih bertahan di beberapa titik pengungsian, akibat banjir yang merendam hampir tiga pekan.

“Saat ini total pengungsi sudah berkurang, namun jumlahnya masih 3.700 lebih. Kondisi mereka baik dan logistik terpenuhi. Pemkab Pekalongan sudah menyiapkan periode kedua tanggap darurat karena melihat kondisi masih belum memungkinkan,” ujar Asip Kholbihi, Bupati Pekalongan saat meninjau rumah pompa di Pecakaran dan tanggul Wonokerto, Selasa (23/02).

Meski pintu  dan tanggul Sungai Mrican telah dibuka pada Senin lalu, kondisi air hingga Selasa setinggi 50 centimeter. Masih tingginya air yang menggenang disebabkan oleh kekurangan pompa air yang beroperasi akibat rusak.

“kita juga mengecek pompa yang ada di Desa Pecakaran dan hasilnya dari tiga pompa, namun yang berfungsi cuma satu sedangkan dua lainya rusak. Tapi kita sudah menghubungi BBWS agar segera ada perbaikan,” lanjut Asip.

Menurut Asip, jika air yang ada di longstorage (bangunan penahan air yang berfungsi menyimpan air di dalam sungai, kanal dan atau parit pada lahan yang relatif datar dengan cara menahan aliran untuk menaikkan permukaan air sehingga cadangan air irigasi meningkat_red.) dipompa ke Sungai Sengkarang, kemudian ketinggian dibawah air yang di Selatan tanggul, yakni pemukinan maka juga akan berpengaruh dengan situasi digenangan.

Kedepan, lanjut Asip, Pemkab sudah melakukan kajian matang, untuk bagaimana mengantisipasi supaya tidak terjadi banjir terutama dalam menghadapi musim hujan yang ekstrim. “pengerjaan tanggul darurat belum selesai 100 %, tinggal menunggu pembangunaa pintu di Sungai Mrican, jadi masih ada beberapa kendala teknis,” jelasnya

Sementara itu, jumlah pengungsi di Kota Pekalongan yang masih bertahan sebanyak 2.351 jiwa yang tersebar di 21 lokasi pengungsian di wilayah Kecamatan Pekalongan Barat dan 18 lokasi pengungsian di wilayah Kecamatan Pekalongan Utara.

Untuk wilayah Pekalongan Barat,  berada di aula Kecamatan Pekalongan Barat. Jumlahnya masih 260 jiwa.  Masjid Al Karomah (200 jiwa), aula SMK 2 (264 jiwa), dan aula SMK 3 (220 jiwa).

Sedangkan di Kecamatan Pekalongan Utara, para pengungsi masih bertahan di GOR Jetayu (166 jiwa), aula Melati Kelurahan Kandang Panjang (116 jiwa) dan Mushola Al Karim Bandengan (137 jiwa).

Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan pada BPBD Kota Pekalongan Dimas Arga Yudha menuturkan, wilayah terdampak banjir berkurang. “Untuk wilayah terdampak sudah berkurang, kini jadi sembilan kelurahan di dua kecamatan, Kecamatan Pekalongan Barat dan Pekalongan Utara,”  tuturnya.

Dimas menambahkan, ketinggian air di Kelurahan  Pasirkratonkramat dan Tirto 40-60 cm. Sementara di Kecamatan Pekalongan Utara masih ada tujuh kelurahan terdampak, meliputi Kelurahan Panjang Wetan, Panjang Baru, Kandang Panjang, Padukuhan Kraton, Krapyak, dan Degayu. Banjir masih menggenangi wilayah-wilayah tersebut setinggi 20-40 cm.

Pemerintah Kota Pekalongan telah memutuskan untuk memperpanjang status tanggap darurat banjir, dari yang semula berakhir pada 20 Februari 2021, diperpanjang 14 hari sampai 6 Maret 2021. (Bono)

Terkait
Sejak Ramadhan lalu warga Gunungsari Pemalang kekurangan Air

Pemalang, Wartadesa. - Warga Desa Gunungsari Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sejak bulan Ramadhan lalu kekurangan air bersih. Biasanya Read more

Kekurangan air bersih, droping air ke Pulosari dan Belik akan ditambah

Pemalang, Wartadesa. - Kekurangan air bersih di wilayah Kecamatan Polosari akibat debit air Gunung Slamet yang terus mengecil ditanggapi oleh Read more

Anggaran pembangunan tanggul rob dialihkan untuk exit tol Pekalongan

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Penanganan rob itu bukan hanya membangun tanggul saja, namun juga pembangunan lainnya. Kasihan, masyarakat sudah menderita Read more

Abrasi, puluhan tambak di Pemalang jebol

Pemalang, Wartadesa. -  Air laut pasang (rob) dan abrasi pantai yang parah di wilayah Pantai Utara (Pantura) Kabupaten Pemalang menyebabkan Read more

selengkapnya
BencanaSosial Budaya

Alih fungsi lahan dan banjir Pekalongan

banjir pekalongan 2020

Kota Pekalongan dikategorikan sebagai kota yang tidak rentan terhadap banjir pada tahun 2011, namun pada tahun 2017, seluruh desa/kelurahan di Pekalongan Utara tergenang banjir seluas 1.249.420 Ha.

Alih fungsi lahan dan curah hujan sangat berpengaruh terhadap luasan banjir di Pekalongan. Penelitian yang dilakukan oleh Gardena Smoro Lasksmi, lulusan Magister Ilmu Lingkungan, Sekolah Pascasarjana Universitas Diponegoro, Semarang yang dipublikasikan dalam Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal ke-8 Tahun 2020, di Palembang 20 Oktober 2020,  membuktikan hal tersebut.

Penelitian berjudul Dampak Alih Fungsi Lahan dan Curah Hujan terhadap Banjir di Kota Pekalongan, Jawa Tengah menunjukkan data bahwa terjadi alih fungsi lahan yang sangat masif. Laksmi mengambil rentang data 10 tahun, yakni 2010-2020.

Tabel 1. Perubahan penggunaan lahan kota pekalongan tahun 1999 – 2010 oleh Gardena Smoro Laksmi
Tabel 2. Perubahan penggunaan lahan kota pekalongan tahun 2011 – 2018 oleh Gardena Smoro Laksmi

Masifnya alih fungsi lahan di Pekalongan terjadi lantaran letak geografis yang berada di jalur utama Pulau Jawa, menjadikan Kota Pekalongan memiliki potensi strategis pada sektor industri. Kondisi tersebut menyebabkan Kota Pekalongan menjadi daerah dengan nilai urbanisasi demografi paling tinggi pada tahun 2006 di Jawa Tengah dan mendorong terjadinya perubahan tutupan lahan.

Perubahan penggunaan lahan memberikan dampak negatif jika tidak terkendali yaitu berkurangnya area resapan, terlebih jika curah hujan tinggi.  Semakin berkurangnya daerah resapan air menyebabkan indeks banjir semakin meningkat. Kota Pekalongan dikategorikan sebagai kota yang tidak rentan terhadap banjir pada tahun 2011, namun pada tahun 2017, seluruh desa/kelurahan di Pekalongan Utara tergenang banjir seluas 1.249.420 Ha.

Data penelitian Laksmi menunjukkan bahwa analisis per-kecamatan maupun per-DAS, kondisi daerah resapan air di Kota Pekalongan pada tahun 2011 tergolong mulai kritis. Pada tahun 2012, Kota Pekalongan digolongkan menjadi daerah yang rawan terhadap kejadian bencana banjir.

Pada 6 Mei 2012, banjir merendam delapan kelurahan di Kota Pekalongan yang mengakibatkan kelumpuhan pelabuhan, kerusakan permukiman dan kerusakan areal permukiman. Rata-rata ketinggian banjir yaitu 10-50 cm dan ketinggian maksimal 70 cm. Banjir di Pekalongan hampir terjadi setiap hari ketika air laut pasang (rob).

Fenomena banjir ini terjadi sejak 10 tahun terakhir. Kejadian banjir ini terutama melanda
kelurahan yang berbatasan dengan laut. Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan,
pasang tertinggi di Pekalongan adalah 1,1 meter. Luas area yang tergenang mencapai 51 %
dari total luas Kota Pekalongan.

Genangan banjir terluas terjadi pada tahun 2014 di Kelurahan Bandengan, Kecamatan
Pekalongan Utara dengan luas 1.209.753 m2 atau sebesar 60,12% dari total luas administrasi Kelurahan Bandengan. Sedangkan, genangan banjir paling sedikit terjadi di Kelurahan Panjang Wetan dengan luas 58.236 m2 atau sebesar 3,33% dari total luas administrasi Kelurahan Panjang Wetan.

Tabel 4. Luas genangan banjir tahun 2014

Genangan banjir terluas tahun 2018 di Kecamatan Pekalongan Utara terjadi di Kelurahan Bandengan dengan luas 1.522.443 m2 atau sebesar 75,67% dari total luas administrasi Kelurahan Bandengan. Sedangkan, genangan banjir paling sedikit terjadi di Kelurahan Panjang Wetan dengan luas 84.145 m2 atau sebesar 4,81% dari total luas administrasi Kelurahan Panjang Wetan.

Genangan banjir di Kecamatan Pekalongan Utara bertambah seluas 1.181.052 m2. Perubahan luasan genangan banjir terbesar terjadi di Kelurahan Kandang Panjang dengan luas perubahan genangan sebesar 428.486 m2 atau sebesar 149,48% dari total luas genangan banjir di Kelurahan Kandang Panjang Tahun 2014. Sedangkan, perubahan luasan genangan banjir paling sedikit terjadi di Kelurahan Bandengan dengan luas perubahan 312.690 m2 atau sebesar 25,85% dari total luas genangan banjir di Kelurahan Bandengan tahun 2014.

Tabel 5. Luas genangan banjir tahun 2018

Pada tahun 2017, seluruh desa di Kabupaten Pekalongan Utara tergenang banjir seluas 1.249.420 hektar. Banjir di Kabupaten Pekalongan sejak Januari 2020 terjadi di delapan belas desa. Sungai tidak dapat menampung curah hujan dengan intensitas tinggi dan menyebabkan genangan air sepanjang 20-30 cm.

Kondisi banjir di Pekalongan Tahun 2020

Berdasarkan peta potensi bencana yang dikeluarkan oleh BPBD Kabupaten Pekalongan tahun 2020, Bojong, Buaran, Kedungwuni, Siwalan, Sragi, Tirto, Wiradesa, Wonokerto, dan Wonopringgo termasuk dalam kategori rawan banjir, padahal tahun 2010 wilayah tersebut masih ditetapkan sebagai kawasan industri atau permukiman. (Buono)

 

Terkait
Pantai Depok, Nasibmu Kini

Meski sudah ada pemecah ombak, abrasi terus menggerus Pantai Depok Pekalongan (12/10)

Rusak, warga rehab Mushola “Pasar Kebo”

Warga sekitar Mushola Pasar Kebo - Kajen merehab Mushola, Jum'at (14/10). Foto : Eva Abdullah/wartadesa Kajen, Read more

[Video] Pantai Siwalan Nasibmu Kini

https://youtu.be/-ifv0wgTxAM Pesisir pantai siwalan hingga wonokerto Kab. Pekalongan terus terkikis, Pemukiman warga terus terancam hilang. Sebagian rumah warga  sudah tidak Read more

Meneruskan estafet kepemimpinan rating IPPNU Pecakaran

Pelantikan Pimpinan Ranting IPNU IPPNU Pecakaran, Wonokerto - Pekalongan berlangsung khidmad. (14/10) Foto : Wahidatul Maghfiroh/wartadesa. Read more

selengkapnya
BencanaSosial Budaya

25 warga Desa Samong masih bertahan di pengungsian

banjir samong

Pemalang, Wartadesa. – Sudah tiga hari banjir menggenangi Desa Samong, Kecamatan Ulujami, Pemalang. Puluhan warga masih bertahan di pengungsian, lantaran air tak kunjung surut.

Perangkat Desa Samong Adi Supriyanto mengatakan, sudah tiga hari banjir menggenangi wilayahnya. Kondisi banjir yang paling parah terutama dialami warga yang tinggal di Dusun Srengas. Aktivitas warga pun terkendala karena genangan air.

Adi menyebut sekitar seratus rumah terdampak banjir, “beberapa warga bertahan di rumah menunggu air surut, dan ada juga yang memilih mengungsi ke tempat yang sudah kita sediakan,” katanya dilansir dari Radar Tegal, Sabtu (20/2).

Pemerintah desa setempat menggunakan Madrasah Ar-Rohmah sebagai tempat mengungsi dan membuka dapur umum.  Selama tiga hari bertahan di pengungsian, kebutuhan makanan dibantu warga dari dusun lain yang tidak terkena banjir.

Sementara itu, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Pemalang Suyanto mengatakan, ada sekitar 25 warga Desa Samong yang masih bertahan di pengungsian.

“Banjir di wilayah ini terjadi tahunan. Selain hujan juga rob,” kata Suyanto saat menyalurkan bantuan logistik ke lokasi pengungsian.

Suyanto berharap aktivitas dapur umum dapat berjalan maksimal untuk memenuhi kebutuhan warga.  (sumber: Radar Tegal)

Terkait
Pantai Depok, Nasibmu Kini

Meski sudah ada pemecah ombak, abrasi terus menggerus Pantai Depok Pekalongan (12/10)

Rusak, warga rehab Mushola “Pasar Kebo”

Warga sekitar Mushola Pasar Kebo - Kajen merehab Mushola, Jum'at (14/10). Foto : Eva Abdullah/wartadesa Kajen, Read more

[Video] Pantai Siwalan Nasibmu Kini

https://youtu.be/-ifv0wgTxAM Pesisir pantai siwalan hingga wonokerto Kab. Pekalongan terus terkikis, Pemukiman warga terus terancam hilang. Sebagian rumah warga  sudah tidak Read more

Meneruskan estafet kepemimpinan rating IPPNU Pecakaran

Pelantikan Pimpinan Ranting IPNU IPPNU Pecakaran, Wonokerto - Pekalongan berlangsung khidmad. (14/10) Foto : Wahidatul Maghfiroh/wartadesa. Read more

selengkapnya
BencanaSosial Budaya

Dua pekan banjir Pekalongan, 3500 jiwa mengungsi

tanggul dijebol

Wonokerto, Wartadesa. – Hingga Sabtu (20/02), dua pekan banjir yang merendam Kabupaten Pekalongan, sedikitnya 3.500 jiwa mengungsi dan tersebar di 22 titik pengungsian. Empat kecamatan terendam meliputi Kecamatan Tirto, Wonokerto, sebagian Siwalan dan Wiradesa. Demikian terungkap saat kunjungan Bupati Pekalongan di Dapur Umum Wonokerto.

“Hampir dua minggu banjir belum surut, karena menurut BMKG curah hujan di Wilayah Pekalongan juga masih tinggi,” tutur Asip Kholbihi,  Sabtu (20/02).

Menjawab pertanyaan warga tentang bagaimana solusi pemerintah daerah, Bupati menuturkan, untuk mengatasi banjir dalam kondisi darurat seperti saat ini, salah satunya adalah dengan membuka pintu Sungai Mrican, kemudian yang daerah Tirto dengan mengaktifkan pompa. “Itu merupakan solusi jangka pendek, nanti untuk jangka menengah sudah ada, dan jangka panjang juga sudah disiapkan,” ujarnya.

Dan yang paling penting, tambah bupati, solusi penanganan banjir jangka pendek di Kecamatan Wonokerto adalah dengan memperlebar arus di Muara Sungai Mrican. “meski ada pengerjaan pintu buka tutup untuk penanganan rob, tapi kita sudah berkoordinasi dengan BBWS agar aspek sosial didahulukan, nanti aspek teknis menyusul. Yang terpenting warga tidk terlalu lama tergenang banjir,” jelas Asip.

“karena kita tahu di Sungai Mrican saat ini sedang ada pengerjaan pintu buka tutup untuk mengatasi persoalan rob, menggenangi hampir seluruh wilayah wonokerto, maka pekerjaan pendahuluan untuk pembuatan pintu ini dibenahi lagi, merobohkan sementara bangunan yang sudah terpasang,” lanjut Asip.

Menurut Asip, selain pintu air, sebagian tanggul dibuka kembali tapi khusus di muara pintu sungai Mrican. “Malam ini bisa diperlebar meski tadi sudah dibuka, sehingga genangan di sekitar Kecamatan Wonokerto bisa surut,” jelasnya.

Bupati meminta warga untuk bersabar, karena Pemkab sudah punya solusi jangka pendek untuk mengatasi banjir yang disebabkan curah hujan yang tinggi. “khusus di Kecamatan Tirto kita akan mengaktifkan pompa, yang insyaAllah akan datang hari Senin. Kita akan pompa air ke sungai Meduri. Untuk saat ini kita masih dalam tahap penataan, baik sungai Meduri maupun Sungai Mrican,” ungkapnya. (Bono)

Terkait
Pantai Depok, Nasibmu Kini

Meski sudah ada pemecah ombak, abrasi terus menggerus Pantai Depok Pekalongan (12/10)

Rusak, warga rehab Mushola “Pasar Kebo”

Warga sekitar Mushola Pasar Kebo - Kajen merehab Mushola, Jum'at (14/10). Foto : Eva Abdullah/wartadesa Kajen, Read more

[Video] Pantai Siwalan Nasibmu Kini

https://youtu.be/-ifv0wgTxAM Pesisir pantai siwalan hingga wonokerto Kab. Pekalongan terus terkikis, Pemukiman warga terus terancam hilang. Sebagian rumah warga  sudah tidak Read more

Meneruskan estafet kepemimpinan rating IPPNU Pecakaran

Pelantikan Pimpinan Ranting IPNU IPPNU Pecakaran, Wonokerto - Pekalongan berlangsung khidmad. (14/10) Foto : Wahidatul Maghfiroh/wartadesa. Read more

selengkapnya
BencanaSosial Budaya

Ini suara warga tentang banjir Pekalongan

banjir pekalongan

Pekalongan, Wartadesa. – Banjir dan rob di Pekalongan –kota dan kabupaten– tengah merendam warga dua pekan terakhir ini. Bahkan di Clumprit, Degayu, Kota Pekalongan, dua bulan lebih, warga setempat belum sempat melihat daratan.

Keluh kesah warga Pekalongan, umumnya, dicurahkan dalam grup media sosial Facebook. Kami menelurusuri cuitan warga dalam beberapa hari terakhir dalam grup Opek (Orang Pekalongan) dan PEKALONGAN INFO. Berikut sedikit dokomentasi cuitan warga,

“Desa Clumprit Kel Degayu banjir sudah±2 bulan belum surut.” Tulis Hermanto Herman dalam grup PEKALONGAN INFO, Rabu (17/02).

Foto unggahan Hermanto Herman dalam grup Facebook PEKALONGAN INFO (17/02/2021)

Dalam grup yang sama, Endi Adzkhan menulis, “Mohon maaf sebelumnya kalo ada yg posting menanyakan daerah mana saja yg belum mendapat bantuan bencana banjir??? Saya jawab desa saya Boyongsari dan sekitarnya. Bantuan hanya berupa nasi bungkus 1 /rumah setiap harinya. Padahal banjir sdh terjadi sejak tgl 3 Februari 2021 sampai sekarang air belum surut malah setiap harinya tambah tinggi. Jika sudah terjadi hujan.

Kalo ada saudara² digrup ini yg berkenan memberi bantuan pangan atau yg lainnya yg sangat bermanfaat bagi warga di Pekalongan Utara. Tentunya kami disini sangat senang dan menerima nya dengan tangan terbuka… Terimakasih,”

Sementara itu, dalam grup Facebook Opek (Orang Pekalongan) beberapa warga memposting tulisan terkait perlunya segera menangani banjir dan rob yang telah menjadi bencana tahunan yang sudah berlangsung puluhan tahun lamanya.

Seperti ditulis oleh Slamet Jajuli dalam grup Opek, Permasalahan Banjir Di Kota Pekalongan sudah berlangsung hampir tiap tahun baik karena Rob maupun musim hujan. Jangan saling menyalahkan apalagi menyalahkan pemerintah. Yang terpenting dari masalah banjir sekarang adalah mengatasi permasalahan dampak banjir terlebih dahulu. Masyarakat yang terkena dampak banjir segera mungkin ditangani. Dengan segera bersama sama memberikan bantuan apa yang korban banjir butuhkan. Selesaikan dahulu korban banjir , korban yang jelas jelas sudah ada. Fakta banjir sudah ada , korban banjir sudah ada. Pertolongan kepada korban banjirlah yang harus ditangani secepat mungkin. Dampak kesehatan , ekonomi sosial bagi korban banjir ini perlu seger ditangani, jika sudah tertangani dengan baik oleh pihak pihak yang terkait barulah berpikir bagaimana ditahun tahun mendatang kota Pekalongan berbenah mencegah banjir. Upaya pencegahan banjir agar tidak terjadi lagi ini merupakan peran bersama dari masyarakat dan pemerintah untuk membuat aksi yang nyata agar wilayah Pekalongan terbebas dari banjir.
Untuk saat ini yang diperlukan ya pertolongan bagi korban banjir dulu. Demikian. Tulisnya, Kamis (18/02).

Mas Yoko, dalam grup yang sama meminta Pemkot Pekalongan untuk memprioritaskan penanganan banjir.

“Masalah banjir di pekalongan jadi PR utk pemimpin kota pekalongan sekarang terutama utk pemimpin kota pakalongan yg baru nanti,,harus diprioritaskan penangananya dr segi tehnis ataupun sosialisasi pada masyarakat agar ikut serta membantu masalah penanganan banjir wajib hukumnya,,walikota yg sekarang harus lebih baik dari yg dulu,,walikota yg akan datang harus lebih baik dari yg sekarang….jangan sampai malah tambah buruk dr yg walkota yg sebelumnya sebelumnya…..eman eman yakin….”

Sementara, Arief Rachman mencoba menganalisis program dan kebijakan Pemkot Pekalongan dalam menangani banjir, dari segi warga–ia menyebutnya dari kacamata awam–,

“Saya Coba melakukan analisa awam terhadap situasi Kota Pekalongan saat ini. Banjir yang terjadi akhir akhir ini disebabkan oleh curah hujan tinggi. Berdasar data BMKG stasiun klimatologi semarang bahwa curah hujan berkisar 300-500mm. Hal ini lebih tinggi 40-80% dibandingkan curah hujan di periode tahun 2020. Peningkatan ini terjadi juga dipengaruhi fenomena iklim global la nina yang sudah terjadi sejak periode oktober 2020. Yang patut disayangkan adalah antisipasi terhadap dampak yang terjadi akibat fenomena ini. Pada akhirnya air bah tidak terbendung dan menimbulkan dampak luas serta waktu yang panjang hingga hari ini. Saya mencatat hal yang memperburuk bencana banjir ini: – jumlah titik resapan yang minim. Kota Pekalongan tidak memiliki titik resapan seperti danau. Bahkan program biopori juga tidak berjalan semestinya. Saat ini Semua jalan termasuk jalan kampung didominasi dengan aspal atau beton. Rumah sudah diplester dan tidak ada tanah yang mampu meresap air. – penurunan permukaan tanah Air yang harusnya mencari tempat yang lebih rendah saat ini berhenti di pemukiman yang mana permukaan tanah pemukiman sudah lebih rendah dibandingkan permukaan laut. Salah satu yang menyebabkan penurunan muka tanah adalah penyedotan air dalam tanah baik oleh industri maupun oleh masyarakat (misal: pamsimas) – drainase yang buruk. Selama ini Pemkot memprioritaskan pembangunan peninggian jalan beton/aspal dibandingkan pembangunan drainase yang baik. Bisa kita lihat di lingkunan kita sendiri banyak saluran air yang mampet oleh sampah dan tanah. Saya mencatat ada dua got besar yaitu di bawah sepanjang jalan teratai dan jalan wahid hasyim yang saat ini sudah tidak berfungsi. Entah got besar lainnya. Sungai juga sudah lama tidak dikeruk. Pendangkalan sungai memperburuk bencana ini. – sistem komunikasi bencana Di hulu sudah ada beberapa bendungan dimana menjadi alat kontrol terhadap volume air. Sayangnya komunikasi peningkatan volume air tidak tersampaikan dengan baik kepada masyarakat terutama di hilir yaitu kota pekalongan. Termasuk memberikan edukasi kepada masyarakt terkait prosedur tanggap bencana. Perlu dilakukan pembenahan sesegera dan seserius mungkin yang dikomando pemkot dengan melibatkan tokoh masyarakat (ulama dsb), elemen akademisi serta masyarakat (melalui organisasi kemasyarakatan dan LSM). Jika tidak maka prediksi kota pekalongan akan tenggelam sudah di depan mata. Monggo yang mau menanggapi, tetap jaga kesopanan dalam menyanpaikan pendapat ya. Maturnuwun. 🙏🙏🙏”

Demikian beberapa cuitan warga yang dituangkan dalam media sosial. Semoga ada langkah kongkrit dari stakeholder (para pengambil kebijakan) di Pekalongan untuk mengatasi bencana tahunan tersebut.

Penulis Buono

Terkait
Pantai Depok, Nasibmu Kini

Meski sudah ada pemecah ombak, abrasi terus menggerus Pantai Depok Pekalongan (12/10)

Rusak, warga rehab Mushola “Pasar Kebo”

Warga sekitar Mushola Pasar Kebo - Kajen merehab Mushola, Jum'at (14/10). Foto : Eva Abdullah/wartadesa Kajen, Read more

[Video] Pantai Siwalan Nasibmu Kini

https://youtu.be/-ifv0wgTxAM Pesisir pantai siwalan hingga wonokerto Kab. Pekalongan terus terkikis, Pemukiman warga terus terancam hilang. Sebagian rumah warga  sudah tidak Read more

Meneruskan estafet kepemimpinan rating IPPNU Pecakaran

Pelantikan Pimpinan Ranting IPNU IPPNU Pecakaran, Wonokerto - Pekalongan berlangsung khidmad. (14/10) Foto : Wahidatul Maghfiroh/wartadesa. Read more

selengkapnya
BencanaSosial Budaya

2019 lalu warga Pekalongan buat Petisi Online banjir dan rob, apa kabarnya?

petisi online adji

Pekalongan, Wartadesa. – Adji, warga Kota Pekalongan pernah membuat petisi online “Banjir dan Rob Pekalongan” pada tahun 2019 lalu. Petisi yang dibuat dalam laman https://www.petisionline.net/banjir__rob_pekalonga  tersebut membuat akun twitternya sempat disuspend. Demikian diungkapkan Adji dalam postingannya di grup media sosial Facebook OPEK (Orang Pekalongan), Kamis 18/02).

“Sy buat tahun 2019 (akun Twitter sy pernah kena suspend gara gara blow up kencang ini).Sptnya banjir dan rob semakin parah. Berharap ini menjadi perhatian di tingkat NASIONAL.Mengingat APBD kota Pekalongan yg kecil. Sudah banyak studi kasus dibahas soal rob dan banjir Pekalongan ini.Semoga segera ada ACTION yg fokus thd masalah ini. 🙏🙏🙏,” tulis Adji.

Berikut, isi petisi yang dibuat oleh Adji,

Kepada Yth,
1.Presiden RI
2.DPR RI
3.Gubernur Jateng
4.DPRD Jateng
5.Bupati Pekalongan
6.DPRD Kabupaten Pekalongan
7.Walikota Pekalongan
8.DPRD Kota Pekalongan

BANJIR & ROB PEKALONGAN
1-5 Februari 2016 > P=Parah
1-3 Desember 2017 > P=Parah
22-31 Mei 2018 > P=Parah
27-31 Januari 2019 > MP=Makin Parah

KOTA PEKALONGAN

Banjir besar melanda wilayah pantura, tidak terkecuali Kota Pekalongan. Hujan deras sejak Sabtu (26/1) sore hingga Minggu (27/1) pagi menyebabkan 70 persen luas wilayah Kota Pekalongan tergenang.

Banjir terjadi hampir merata di empat kecamatan se-Kota Pekalongan dengan ketinggian genangan antara hingga 1 meter. Sebanyak 3.183 warga mengungsi di sejumlah lokasi pengungsian.

Kelurahan Tirto terdampak banjir paling parah. Kelurahan ini berlokasi di antara Sungai Meduri dan Sungai Bremi. ‘’Banjir kali ini sangat besar karena luapan dari dua sungai bertemu di sini. Ditambah hujan deras yang tidak kunjung henti sejak Sabtu,’’ kata Sunaryo, warga Kelurahan Tirto.

Berdasarkan data BPBD Kota Pekalongan, banjir menggenangi 70 persen dari luas wilayah Kota Pekalongan 45,25 kilometer persegi. Banjir terjadi merata di empat kecamatan.

‘’Banjir kali ini banjir yang besar. Hampir menyeluruh Kota Pekalongan tergenang banjir,’’ terang Wali Kota Pekalongan Mochammad Saelany Machfudz usai meninjau pengungsi dan mendistribusikan bantuan kepada pengungsi di Masjid Al Karomah dan Gedung Olahraga (GOR) dan Kesenian Jetayu.

Dari laporan camat dan lurah dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Banjir yang dipimpin Wali Kota Pekalongan di Ruang Kresna Setda Kota Pekalongan, Minggu (27/1) disampaikan, dari 27 kelurahan di empat kecamatan, hanya dua kelurahan yang tidak tergenang banjir.

Tujuh kelurahan di Kecamatan Pekalongan Utara, semua tergenang banjir. Begitu juga tujuh kelurahan masing-masing di Kecamatan Pekalongan Timur dan Kecamatan Pekalongan Barat, juga tergenang.

Sementara di Kecamatan Pekalongan Selatan, dari enam kelurahan, hanya dua kelurahan bebas banjir. Selain Kelurahan Tirto, kelurahan terdampak banjir cukup parah lainnya yakni Kelurahan Pasirkratonkramat (Kecamatan Pekalongan Barat), Sampangan, Kelurahan Kauman dan Poncol (Kecamatan Pekalongan Timur), serta Bugisan Kelurahan Panjang Wetan dan Pabean Kelurahan Padukuhankraton (Kecamatan Pekalongan Utara.

Jumlah pengungsi 3.183 jiwa, tersebar di 19 lokasi. Di antaranya Masjid Al Karomah, GOR Jetayu, markas Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Pekalongan, Masjid Jami Setono, Stadion Hoegeng dan Mushala Assunah Krapyak Kidul.

Selain itu, Aula Kecamatan Tirto, Mushala Baitul Makmur Degayu dan Kelurahan Sampangan. Sementara sebagian warga lain yang terdampak banjir bertahan di rumah masing-masing. ( https://www.suaramerdeka.com/news/baca/163416/70-persen-wilayah-kota-pekalongan-tergenang )

KABUPATEN PEKALONGAN

3 kecamatan yang jadi langganan banjir dan rob yaitu Kecamatan Tirto meliputi Desa Jeruksari, Tegaldowo, dan Karangjompo. Kecamatan Wiradesa di Kelurahan Bener. Sementara Kecamatan Wonokerto yang terdampak adalah Desa Pecakaran, Api Api, Wonokerto Wetan, Wonokerto Kulon, Tratebang, dan Pesanggrahan.

( https://www.merdeka.com/peristiwa/10-desa-terendam-banjir-rob-800-warga-mengungsi.html )

KENAPA PETISI INI DI BUAT

Penurunan permukaan tanah di Kota Pekalongan sangat mengkhawatirkan. Setiap tahun, permukaan tanah di sejumlah kelurahan di Kota Pekalongan mengalami penurunan antara 25 hingga 34 sentimeter (cm).

Hal ini disampaikan Peneliti Lembaga Kemitraan bagi Tata Kelola Pemerintahan, Arif Nurdiansyah pada workshop partisipatif dengan tema Peningkatan Kapasitas Menulis, Membuat Film dan Mengolah Data menjadi Alat Kampanye Lingkungan Bersama di Hotel Nirwana, Sabtu (16/9).

Arif mengatakan, data tersebut berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Lembaga Kemitraan bagi Tata Kelola Pemerintahan menggunakan citra satelit sentinel dalam kurun waktu 2016 dan 2017. Sentinel merupakan data citra satelit yang dapat diperoleh dengan tanpa biaya.

‘’Penurunan permukaan tanah di Kota Pekalongan harus benar-benar menjadi perhatian serius. Pada sejumlah kelurahan di Kota Pekalongan, penurunan permukaan tanah mencapai 25-34 cm per tahun. Sementara jika dibandingkan dengan DKI Jakarta, penurunan permukaan tanah (Kota Pekalongan) 20 cm per tahun,’’ terangnya.

Kondisi tersebut menyebabkan banjir rob di Kota Pekalongan cenderung lebih parah dibandingkan daerah lainnya. Di Kecamatan Pekalongan Utara, kelurahan paling parah terdampak rob di antaranya Kelurahan Bandengan, Kandang Panjang, Panjang Wetan dan Padukuhankraton. Selain itu, Kelurahan Pasirkratonkramat yang berada di Kecamatan Pekalongan Barat, juga terdampak rob.

‘’Bahkan, Kelurahan Tegalrejo yang lokasinya cukup jauh dari bibir pantai, juga terdampak,’’sambungnya. Menurut Arif, penurunan permukaan tanah tersebut terjadi karena penggunaan air tanah yang berlebihan. Karena itu, lanjut dia, dibutuhkan keterlibatan semua pihak. Pemkot Pekalongan diharapkan dapat mengeluarkan perda untuk mengatur penggunaan air tanah.

Sementara Pemprov Jateng diharapkan dapat menormalisasi Daerah Aliran Sungai (DAS), mengingat kondisi lima sungai di Kota Pekalongan sudah memprihatinkan, baik dari sisi sedimentasi maupun pencemaran limbahnya. Adapun masyarakat dapat membuat sumur resapan dan menanam pohon untuk mengoptimalisasi penyerapan air tanah.

Arif juga mengingatkan perusahaan-perusahaan untuk ikut terlibat aktif dalam mengatasi masalah ini. Di antaranya melalui dana corporate social responsibility (CSR) dalam gerakan meminimalisasi tingkat penurunan permukaan tanah dan penanggulangan banjir rob.

Adapun workshop tersebut menghadirkan penulis buku, Ashad Kusumadjaya dari Yogjakarta dan sutradara film dokumenter, Lexy Rambadeta. Acara dihadiri 22 komunitas yang memiliki kepedulian dalam penanggulangan rob di Kota Pekalongan ( https://www.suaramerdeka.com/smcetak/baca/126196/permukaan-tanah-turun-25-34-cm-per-tahun )

# Pembuatan tanggul raksasa perlu dipercepat , apalagi tanggul raksasa yang wilayah kabupaten pekalongan masih terkendala pembebasan lahan

( http://jateng.tribunnews.com/2018/05/02/pembangunan-tanggul-raksasa-penahan-rob-kota-pekalongan-terkedala-cuaca )

# Dari 10 pompa yang dijanjikan yang ada di lokasi banjir rob baru 2 itupun yg berfungsi baru 1 pompa

( http://jateng.tribunnews.com/2019/01/09/bbws-pemali-juwana-akan-pasang-10-pompa-di-tanggul-raksasa-penahan-rob-kota-pekalongan )

Sudah bertahun-tahun sampai th 2019 ini tidak ada langkah yang jelas terkait upaya penanggulangan masalah rob dan bajir di pekalongan ini

 

banjir9.jpg

kris9.jpg

kris5.jpg

kris4.jpg

kris2.jpg

 

Adji    Hubungi penulis petisi

Kini banjir dan rob di Kota dan Kabupaten Pekalongan pada Pebruari 2021 mencapai puncaknya ditengah cuaca ekstrim yang melanda berbagi wilayah di Indonesia. Warga terendam selama dua pekan hingga satu bulan lebih dan belum ada langkah darurat menyeluruh dari para pengambil kebijakan.

Dibutuhkan dukungan dari seluruh warga Pekalongan untuk mendukung petisi ini, apakah masih relevan untuk terus diperjuangkan?

Penulis : Buono

Terkait
Pantai Depok, Nasibmu Kini

Meski sudah ada pemecah ombak, abrasi terus menggerus Pantai Depok Pekalongan (12/10)

Rusak, warga rehab Mushola “Pasar Kebo”

Warga sekitar Mushola Pasar Kebo - Kajen merehab Mushola, Jum'at (14/10). Foto : Eva Abdullah/wartadesa Kajen, Read more

[Video] Pantai Siwalan Nasibmu Kini

https://youtu.be/-ifv0wgTxAM Pesisir pantai siwalan hingga wonokerto Kab. Pekalongan terus terkikis, Pemukiman warga terus terancam hilang. Sebagian rumah warga  sudah tidak Read more

Meneruskan estafet kepemimpinan rating IPPNU Pecakaran

Pelantikan Pimpinan Ranting IPNU IPPNU Pecakaran, Wonokerto - Pekalongan berlangsung khidmad. (14/10) Foto : Wahidatul Maghfiroh/wartadesa. Read more

selengkapnya
Bencana

Swadaya, warga Simonet bikin tanggul antisipasi genangan rob

simonet

Wonokerto, Wartadesa. – Warga Dusun Simonet, Desa Semut, Wonokerto, Pekalongan secara swadaya membangun tanggul darurat. Mereka bergotong-royong dengan material dan peralatan seadanya untuk menyelamatkan permukiman yang tinggal sedikit, sementara sebagian besar permukiman terendam air rob dan banjir sejak satu pekan terakhir.

Abrasi di Simonet terhitung sangat parah, hingga beberapa bulan sebelumnya, Pemkab Pekalongan menyediakan opsi bagi seluruh warga Simonet untuk bedol desa, pindah ke wilayah yang tidak terendam rob.

Kapolres Pekalongan AKBP Darno,  bersama dengan Dandim 0710 Pekalongan Letkol CZI Hamonangan Lumban Toruan mendampingi Bupati Pekalongan Asip Kholbihi,   melakukan kegiatan pengecekan tanggul yang berada di Desa Wonokerto Kulon Kecamatan Wonokerto Kabupaten Pekalongan.

Turut hadir dalam rombongan Ketua DPRD Kab Pekalongan   Hindun,   PJ Sekda  Bambang Irianto, Camat Wonokerto Esy Pusiana, Kapolsek Wiradesa AKP Aris Suharsono,  dan Danramil Wiradesa Kapten Cpm A. Khamim.

Kapolres Pekalongan mengatakan, banjir rob atau naiknya air laut ke pemukiman warga di pesisir Kabupaten Pekalongan terus terjadi sejak beberapa tahun lalu. Namun diharapkan hal itu tidak akan terjadi lagi setelah proyek pembangunan tanggul raksasa selesai dikerjakan.

“Pemerintah Kabupaten Pekalongan tengah melakukan pembangunan tanggul di kawasan pesisir Kabupaten Pekalongan. Adanya tanggul raksasa tersebut nantinya diharapkan akan meminimalkan banjir rob yang disebabkan tingginya volume air Sungai yang meluap ke pemukiman, “ ucapnya, Rabu (10/2/2021)

Kapolres berharap, dengan selesainya proyek pembangunan tanggul raksasa nantinya mampu menanggulangi rob banjir di dua kecamatan yang meliputi enam desa, yaitu Kecamatan Wonokerto dan Kecamatan Tirto. Adapun di Kecamatan Wonokerto meliputi Desa Wonokerto Wetan dan Wonokerto Kulon. Sedangkan di Kecamatan Tirto meliputi Desa Mulyorejo, Jeruksari, Tegaldowo dan Desa Karangjompo, ujar AKBP Darno. (Bono)

Terkait
Pantai Depok, Nasibmu Kini

Meski sudah ada pemecah ombak, abrasi terus menggerus Pantai Depok Pekalongan (12/10)

Rutin, Polsek Sragi beri pengamanan di sekolah

Polsek Sragi membantu mengatur lalu lintas di depan SMA Negeri 1 Sragi, Jum'at (14/10). Foto : Read more

[Video] Pantai Siwalan Nasibmu Kini

https://youtu.be/-ifv0wgTxAM Pesisir pantai siwalan hingga wonokerto Kab. Pekalongan terus terkikis, Pemukiman warga terus terancam hilang. Sebagian rumah warga  sudah tidak Read more

SDN Tangkilkulon raih juara 1 lomba MAPSI

Kedungwuni, Wartadesa. - SD Negeri Tangkilkulon, Kecamatan Kedungwuni - Pekalongan meraih juara pertama dalam lomba  Mata Pelajaran Agama Islam dan Read more

selengkapnya
BencanaSosial Budaya

15 rumah di Mejagong rusak diterjang puting beliung

puting beliung mejagong

Pemalang, Wartadesa. – Sedikitnya 15 rumah di Desa Mejagong, Randudongkal, Pemalang, rusak akibat diterjang angin puting beliung, Senin (01/02) sore.  Angin menerjang belasan rumah di RT 01 hingga RT 04 dan merobohkan pohon.

Meski tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, kerugian material yang diderita warga mencapai Rp 26,5 juta.

Kabid Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemalang, Suyanto  mengatakan bahwa bencana tersebut sudah ditangani oleh Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB). Bersama warga, mereka membersihkan dan menyingkirkan material rumah yang rusak.

Diketahui angin lisus menerjang belasan rumah sekitar pukul 14.55 WIB. Catatan dari RTC-PB 15 rumah mengalami kerusakan dengan rincian dua rumah rusak berat dan 10 rumah rusak sedang, serta tiga rumah rusak ringan. (Bono)

Terkait
Pantai Depok, Nasibmu Kini

Meski sudah ada pemecah ombak, abrasi terus menggerus Pantai Depok Pekalongan (12/10)

Rusak, warga rehab Mushola “Pasar Kebo”

Warga sekitar Mushola Pasar Kebo - Kajen merehab Mushola, Jum'at (14/10). Foto : Eva Abdullah/wartadesa Kajen, Read more

[Video] Pantai Siwalan Nasibmu Kini

https://youtu.be/-ifv0wgTxAM Pesisir pantai siwalan hingga wonokerto Kab. Pekalongan terus terkikis, Pemukiman warga terus terancam hilang. Sebagian rumah warga  sudah tidak Read more

Meneruskan estafet kepemimpinan rating IPPNU Pecakaran

Pelantikan Pimpinan Ranting IPNU IPPNU Pecakaran, Wonokerto - Pekalongan berlangsung khidmad. (14/10) Foto : Wahidatul Maghfiroh/wartadesa. Read more

selengkapnya
BencanaSosial Budaya

Ruas Cikadu-Bogas tertutup longsor

Longsor-Jalur-Bongas-Cikadu-Watukumpul-2020

Pemalang, Wartadesa. – Material longsor mentutup akses jalan Desa Cikadu – Desa Bongas, Kecamatan Watukumpul, Pemalang. Akibatnya akses warga menuju-ke desa tersebut tidak bisa dilalui dengan kendaraan. Akses warga tertutup, Senin (01/02).

Longsor terjadi akibat guyuran hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut hingga membuat tanjakan sebelum Igir Kendal longsor.

Longsor sebelumnya terjadi pada Jum’at (20/11/2020) di lokasi yang sama. Material tanah menutup jalan dan membuat jalanan licin, susah dilalui kendaraan.

Tertutupnya akses jalan membuat warga Desa Bongas dan Desa Tundagan menuju keluar Watukumpul mapun Kota Pemalang harus memutar melalui Desa Tlagasana.

Sebelumnya, longsor di Kecamatan Watukumpul juga terjadi di Dusun Magangan, Desa Bongas. Jalan penghubung Desa Bongas dan Tundagan, longsor ke jurang, sekitar pukul 16.00 WIB Rabu (1/1/2020) lalu. Jalur tersebut kini tidak bisa dilalui mobil. Hanya sepeda motor yang bisa melintas. Itupun setelah warga setempat memasang pengaman dengan bambu. (Bono)

Terkait
Pantai Depok, Nasibmu Kini

Meski sudah ada pemecah ombak, abrasi terus menggerus Pantai Depok Pekalongan (12/10)

Rusak, warga rehab Mushola “Pasar Kebo”

Warga sekitar Mushola Pasar Kebo - Kajen merehab Mushola, Jum'at (14/10). Foto : Eva Abdullah/wartadesa Kajen, Read more

[Video] Pantai Siwalan Nasibmu Kini

https://youtu.be/-ifv0wgTxAM Pesisir pantai siwalan hingga wonokerto Kab. Pekalongan terus terkikis, Pemukiman warga terus terancam hilang. Sebagian rumah warga  sudah tidak Read more

Meneruskan estafet kepemimpinan rating IPPNU Pecakaran

Pelantikan Pimpinan Ranting IPNU IPPNU Pecakaran, Wonokerto - Pekalongan berlangsung khidmad. (14/10) Foto : Wahidatul Maghfiroh/wartadesa. Read more

selengkapnya
BencanaSosial Budaya

Banjir kembali rendam permukiman di Pemalang

banjir pemalang_kebondalem

Pemalang, Wartadesa. – Banjir kembali merendam beberapa wilayah permukiman warga di Kota Ikhlas.  Ketinggian air mencapai 20-40 centimeter pada Jum’at (22/01) malam, bahkan di Dusun Tunjungsari, Kelurahan Sugihwaras, Kecamatan/Kabupaten Pemalang ketinggian air mencapai pusar orang dewasa.

Air mulai masuk ke rumah warga sejak maghrib, dan ketinggian air terus naik hingga pusar orang dewasa pada pukul 20.00 WIB. Tutur Ahmad Fauzi, warga Tunjungsari.

Untuk menghindari kerusakan barang milik warga, mereka memindahkan peralatan elektronik dan kendaraan bermotor ketempat lebih tinggi.

Selain di Sugihwaras, air juga menggenangi Jalan Sindoro, Kelurahan Mulyoharjo; Jalan Serayu,  Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kelurahan Kebondalem, dan Jalan Mochtar, seputar Alun-Alun Kabupaten Pemalang.

Wahadi, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pemalang mengatakan bahwa banjir diakibatkan oleh buruknya saluran air. Ia berharap agar warga membantu membersihkan saluran air yang mampet.

“Umumnya, wilayah yang tergenang banjir karena buruknya saluran air, sehingga berharap masyarakat dapat membantu membersihkan saluran yang mampet terutama sebelum hujan,” kata Wahadi. (Bono)

 

Terkait
Pantai Depok, Nasibmu Kini

Meski sudah ada pemecah ombak, abrasi terus menggerus Pantai Depok Pekalongan (12/10)

Rusak, warga rehab Mushola “Pasar Kebo”

Warga sekitar Mushola Pasar Kebo - Kajen merehab Mushola, Jum'at (14/10). Foto : Eva Abdullah/wartadesa Kajen, Read more

[Video] Pantai Siwalan Nasibmu Kini

https://youtu.be/-ifv0wgTxAM Pesisir pantai siwalan hingga wonokerto Kab. Pekalongan terus terkikis, Pemukiman warga terus terancam hilang. Sebagian rumah warga  sudah tidak Read more

Meneruskan estafet kepemimpinan rating IPPNU Pecakaran

Pelantikan Pimpinan Ranting IPNU IPPNU Pecakaran, Wonokerto - Pekalongan berlangsung khidmad. (14/10) Foto : Wahidatul Maghfiroh/wartadesa. Read more

selengkapnya