close

Lingkungan

Lingkungan

Selamatkan hulu Kali Kupang, Forum Kolaborasi Pengelolaan Hutan Petungkriyono gelar aksi konservasi

petung

Petungkriyono, Wartadesa. – Perhutani KPH Pekalongan Timur, Cabang Dinas Kehutanan 4 Jawa Tengah dan SwaraOwa, menginisiasi aksi konservasi hutan dengan menanam pohon di Dusun Lindon, Desa Tlogohendro, Petungkriyono. Para pihak yang terkait dan peduli pembangunan dan kelestarian hutan Petungkriyono berkolaborasi dalam Forum Kolaborasi Pengelolaan Hutan Petungkriyono.

Gelaran acara bertema “Penyelamatan hulu Sungai Kupang, untuk Pencegahan Banjir dan Longsor” juga merupakan bentuk kampanye penyadar-tahuan tentang pentingnya kawasan hulu sungai Petungkriyono sebagai Kawasan tankapan air untuk wilayah dibawah, dan sarana edukasi untuk mengajak siapapun untuk menanam dan merestorasi kawasan hutan. Pohon-pohon penting secara ekologis untuk melindungi tanah dan air, menyediaka pilihan-pilihan komoditas ekonomi, dan juga tempat berlindung bagi berbagai hidupan liar.

Aksi penanaman pohon di hulu Kali Kupang, Dusun Lindon ini membutuhkan effort yang luar biasa. Karena geografis yang bergunung, dan jalan berliku yang kanan-kirinya jurang dan tebing batu. Menjadi semangat semua perserta yang belum pernah berkunjung ke desa di pelosok pegunungan Kabupaten Pekalongan.

Selain menanam pohon, forum mempertemukan seluruh anggota dan warga desa Tlogohendro, setidaknya untuk mengenalkan personal dan juga selanjutnya dapat mengkomunikasikan kebijakan masing-masing lembaga dalam mensinergikan tata kelola hutan yang menjadi habitat Owa Jawa, dan satwa-satwa endemik Jawa lainnya.

Acara dihelat pada 4 Maret 2021 dengan diikuti oleh 120 orang. Sebagian besar  warga Desa Tlogohendro, dan tamu undangan dari anggota forum kolaborasi pengelolaan hutan Petungkriyono.

Acara dibuka oleh Kaslam, Kepala Desa Tlogohendro. Ia mengajak warga Tlogohendro khususnya untuk terus menjaga alam, karena alam juga sudah memberikan manfaatnya untuk kita sehari-hari, seperti udara bersih, menjaga dari bencana, dan tidak menebang pohon-pohon yang ada di hutan. “Kegiatan seperti ini harusnya dapat di teruskan atau dapat di lakukan secara berkelanjutan, agar hutan juga terus lestari dan aman”, harap Kaslam.

Sementara itu, Sugiharto dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah berharap kegiatan tersebut menjadi  momentum untuk melestarikan fungsi penting DAS Kupang. Ia mengajak warga sekitar menjadi bagian penting dalam menjaga kawasan penting di Petungkriyono.

Sedikitnya 1.250 batang pohon ditanam dalam gelaran tersebut, terdiri dari Bambu petung, dan Aren, yang secara ekologis penting untuk pelestarian tanah dan air, namun juga dari sisi ekonomi sangat berarti bagi warga Petungkriyono. Jenis yang lain adalah tanman buah Nangka, Sirsak, dan Petai dan Jengkol.

Pemilihan jenis pohon yang di tanam sudah melalui survey awal terhadap lokasi tanam, berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut, kondisi tegakan yang masih hidup, keinginan warga dan fungsi ekologis tanaman itu sendiri. Bambu Petung ( Dendrocalamus asper) merupakan tanaman pencegah longsor yang baik, bambu petung ini biasanya tumbuh di tepi-tepi sungai kecil yang berkontur curam.

Bambu petung juga merupakan komoditas bahan pangan yang memanfaatkan rebungnya. Untuk bahan konstruksi dan kebutuhan penanaman sayuran ( ajir), juga sudah banyak di manfaatkan oleh petani-petani di bagian atas Petungkriyono, khususnya Tlogohendro.

Nangka ( Arthocarpus heterophyllus), merupakan komoditas bahan pangan yang utama untuk di Pekalongan, karena nasi megono, kuliner khas Pekalongan ini menggunakan nangka muda sebagai bahan bakunya. Meskipun belum ada data mengenai kebutuhan nangka untuk megono, namun produsen nangka untuk megono ini salah satunya berasal dari Kecamatan Petungkriyono.

Jenis-jenis tanaman buah yang di tanam juga merupakan komoditas tanaman pangan sekaligus untuk fungsi ekologis tutupan hutan dan perbaikan habitat satwaliar.

Kopi Arabica Jawa, varian typica dan pohon Aren (Arenga pinnata) menjadi salah satu komoditas unggulan warga di Tlogohendro dan umumnya warga di Petungkriyono, dan menjadi keinginan warga untuk memperbanyak tegakan kopi muda yang di tanam di lahan-lahan milik warga.

Pohon aren selain berfungsi untuk mencegah longsor dan vegetasi penahan air hujan, aren ini menjadi sumber bahan baku untuk Gula aren dan Kolang-kaling yang sudah sejak dahulu di kelola warga di Petungkriyono.

Tasbin, Ketua LMDH Tlogohendro, mengungkapkan kalau potensi kopi di Desa Tloghendro ini sangat besar, namun masih belum dikelola dengan baik, tanaman-tanaman kopi sudah banyak yang tua dan kurang produktif. Dengan adanya regenerasi tanaman kopi ini, diharapkan dapat menyediakan kopi-kopi istimewa dalam waktu 4 tahun mendatang.

Salah satu program pemberdayaan yang dilakukan oleh tim Swaraowa juga telah membuat semai kopi dan aren  di dusun Sokokembang. Bersama warga khusunya ibu-ibu di Sokokembang, tahun ini telah berhasil memproduksi kuranglebih 15.000 batang bibit kopi arabica dan 500 batang bibit aren. Bibit siap tanam dari kebun bibit di dusun, Sokokembang ini yang digunakan untuk penanaman di hulu Sungai Kupang. (Sumber: Swaraowa)

Terkait
Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

Dua cucian jins di Pegaden Tengah ditutup Satpol PP

Wonopringgo, Wartadesa. - Dua tempat pencucian jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ditutup oleh Satpol PP, hari Read more

Nasib galian C Pododadi Karanganyar ditentukan Senin depan

Wiradesa, Wartadesa. - Paska unjuk rasa yang dilakukan oleh warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongam, Kamis (11/01) kemarin dan Read more

Laut pasang, Pantaisari terendam

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Kondisi laut pasang (rob) yang tinggi merendam jalan WR Supratman depan Tempat Pelelangan Ikan (TPI/PPNP) hingga Read more

selengkapnya
Lingkungan

Pemkab Pemalang akan ubah sampah jadi listrik

sampah jadi listrik

Pemalang, Wartadesa. – Sampah memang menjadi masalah bagi sebagian orang. Namun, bagi sebagian lainnya, sampah diolah menjadi beragam manfaat. Seperti untuk barang kerajinan, pupuk cair dan kompos, pakan ternak, bahkan listrik.

Mengolah sampah menjadi barang berharga, sebelumnya pernah disosialisasikan oleh Imam Nurhuda, penggiat lingkungan asal Pekalongan, di beberapa desa di Kota Iklhas.

Embrio, mengurai masalah sampah jadi solusi kemandirian pangan dan energi

Data dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pemalang, sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA) Pegongsoran yang menampung seluruh produksi sampah dari berbagai wilayah di Pemalang. Jumlah produksinya   jika dihitung rata-rata mencapai 200 ton perhari.

Hal tersebut membuat Bupati Pemalang, Mukti Agung Wibowo melirik potensi sampah yang dibawa ke TPA tersebut menjadi energi listrik. “Artinya olahan, nanti diolah untuk kompos. Nanti juga yang an-organik Kita bisa jadikan bahan recycle, bahkan sampah-sampah itu nantinya bisa menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTS).” Ujar Agung saat meninjau TPA Pegongsoran, Sabtu (06/03).

Metode Pengolahan Sampah jadi Listrik

Metode yang saat ini dipakai di beberapa tempat untuk mengolah sampah menjadi listrik terbarukan adalah dengan Incinerator atau pembakaran. Metode ini hanya menyisakan 10% dari sampah yang dibakar. Panas yang dihasilkan dari pembakaran dialirkan untuk memanaskan boiler untuk menghasilkan uap. Uap tersebut digunakan untuk menggerakkan turbin yang akan menghasilkan listrik. Listrik inilah yang nanti akan didistribusikan atau dijual ke PLN.

Hambatan penggunaan teknologi ini adalah jenis sampah  sampah rumah tangga Indonesia yang cenderung basah sehingga nilai kalorinya rendah dan membutuhkan lebih banyak tambahan batubara untuk membakar sampah.

Jika kadar airnya tinggi, saat dimasukkan ke ruang bakar, suhunya akan turun, sehingga dibutuhkan pengeringan untuk menurunkan kadar air sampah tersebut. Implikasinya, pemerintah harus mulai memikirkan penggunaan truk-truk sampah yang bisa melakukan pemampatan sampah dan mengurangi kadar air sebelum sampai ke tempat pembuangan sampah akhir.

Solusi lain, jika tidak dikeringkan, maka untuk tetap menjaga suhu ruang bakar tetap tinggi, harus dilakukan penambahan bahan bakar. Langkah ini bukannya menjadi solusi, malah justru menambah masalah, terutama soal biaya.

Metode kedua adalah menggunakan penangkapan gas metan. Namun  energi yang dihasilkan dari sampah lewat penangkapan gas metan akan lebih sedikit dibandingkan lewat sistem thermal atau pembakaran.

Dengan metode penangkapan metan, dari 1000 ton sampah hanya bisa menjadi 0,5-1 megawatt listrik, sedangkan lewat incinerator, 1000 ton sampah bisa menghasilkan sampai 12 megawatt.

Jika metode ini diambil, maka harus diasumsikan bahwa pengolahan sampah menjadi energi listrik merupakan bonus tambahan, setelah pengolahan menjadi barang berharga lain, seperti kerajinan, pupuk dan pakan ternak.

Metode lainnya adalah dengan metode teknik peyeumisasi. Suatu cara yang sederhana untuk mempercepat pembusukan alias melakukan fermentasi sampah dengan menggunakan bio aktivator.

Konsep peyeumisasi telah diujicoba oleh dua peneliti Sekolah Tinggi Teknologi (STT) PLN, Supriadi Legino, dan Sony Jatmika Sunda Jaya. Keduanya sudah membuat konsep pada 2002 kemudian dilakukan berbagai uji coba. Sampai pada 2015, ketika STT PLN ingin menciptakan temuan listrik kerakyatan dengan membuat pembangkit listrik skala kecil untuk membantu target pemeritah menyediakan listrik 35.000 MW.

Proses peyeumisasi dilakukan dengan  menempatkan sampah pada boks berukuran 1x1x2. Kemudian, dilakukan penaburan bio aktivator yang disebut A-TOSS. Komposisisnya untuk 1 ton sampah cukup 1 liter A-TOSS yang dicampur dengan 40 liter air. Campuran ini disiramkan ke masing-masing kotak.

Secara konseptual dibutuhkan 10 hari untuk bisa mengolah sampah lebih lanjut. Namun jika kebanyakan sampah yang ditampung merupakan sampah organik, waktu yang diperlukan hanya tiga hari.

Pada proses itu, terjadi pengumpulan energi dari gas-gas seperti metana dan penurunan kadar air 30-50 persen. Warna sampah pun menghitam dan bau busuk menghilang. Sampah  siap dipanen, kemudian dicacah dah diubah menjadi pelet.  Pelet yang berupa bulatan-bulatan kecil mengandung kalori 3400 kcal/kg yang kemudian bisa dimanfaatkan dengan tiga cara.

Pertama, langsung dimanfaatkan sebagai bahan pembakaran layaknya arang. Kedua, untuk diubah menjadi gas (gasifier-red) dan kemudian digunakan untuk pembangkit listrik skala kecil. Ketiga, untuk pembangkitan listrik skala besar yang dicampur dengan batubara.

Metode peyeumisasi ini telah diterapkan di Kabupaten Klungkung, Bali. Dengan  50 kg pelet bisa digunakan untuk menghidupkan listrik selama 1 jam dengan kekuatan 50 Kw. Instalasi pengolahan sampah terpadu membutuhkan biaya Rp 100 juta, yakni untuk keperluan pembuatan boks sampah, mesin pencacah serta bio- aktivatornya. Adapun untuk operasional harian sektar Rp 100 ribu dengan melibatkan 10 orang pekerja. (Bono, dengan sumber tambahan kanalbali/RFH)

Terkait
Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

Dua cucian jins di Pegaden Tengah ditutup Satpol PP

Wonopringgo, Wartadesa. - Dua tempat pencucian jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ditutup oleh Satpol PP, hari Read more

Nasib galian C Pododadi Karanganyar ditentukan Senin depan

Wiradesa, Wartadesa. - Paska unjuk rasa yang dilakukan oleh warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongam, Kamis (11/01) kemarin dan Read more

Laut pasang, Pantaisari terendam

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Kondisi laut pasang (rob) yang tinggi merendam jalan WR Supratman depan Tempat Pelelangan Ikan (TPI/PPNP) hingga Read more

selengkapnya
KesehatanLingkungan

Ribuan ikan di Kali Pencongan mati, ini kata penggiat kali Pekalongan

ikan pencongan mati

Tirto, Wartadesa. – Ribuan ikan di Kali Sengkarang, Pencongan, Wiradesa, Pekalongan mengambang, mati. Diduga matinya ribuan ikan berbagai jenis seperti nila, wader, maupun keting tersebut akibat pencemaran limbah cair yang masuk ke kali. Warga mendapati fenomena matinya ribuan ikan tersebut pada Senin  (01/03).

Titik Nuraini, penggiat Komunitas Peduli Kali Loji (KPKL) yang intens menyoroti pencemaran kali di Pekalongan mengungkapkan bahwa pencemaran limbah sudah meresahkan warga dan berdampak buruk bagi lingkungan.

Pencemaran ini benar-benar sudah meresahkan dan berdampak buruk terhadap lingkungan dan makhluk hidup lainnya, terutama biota sungai dan air bersih di rumah penduduk,” tuturnya ketika dihubungi kontributor Wartadesa, Selasa (02/03).

Titik meminta pemerintah bertindak segera mengatasi pencemaran limbah cair dan menindak pelakunya. “Pemerintah harus segera mengatasi hal ini, dan menindak dengan memberi solusi yang cepat dan tepat.” Lanjutnya.

Menurut Titik, industri yang ada di Pekalongan harus menyediakan instalasi pengolah limbah (IPAL) maupun Ipal Komunal. “Industri memang sebagai penopang ekonomi tetapi harus bisa menjaga agar lingkungan tidak rusak. Ipal adalah sebuah keharusan dan tidak bisa ditawar-tawar, karena dampaknya adalah ke manusia sangat fatal, tidak dirasakam saat ini tapi beberapa tahun kemudian. Dan ini harus menjadi prioritas dalam agenda kerja pemerintah yang baru dan bersinergi dengan Kota Pekalongan.” Ujarnya.

Diketahui bahwa warga Spacar di sekitar Kali Pencongan mendapati ribuan ikan mati pada Senin kemarin, namun hal tersebut telah terjadi beberapa hari sebelumnya. Puncaknya pada Senin pagi kemarin.

Air Kali Sengkarang tampak berwarna merah hingga kecoklatan. Beberapa ikan masih ada yang terlihat aktif melompat-lompat di sungai tapi sisanya banyak juga yang mati mengambang.

Bangkai ikan itu banyak ditemukan di pintu sungai yang menjadi muara Sungai Sengkarang sebelum menuju ke Sungai Pencongan. Ribuan ikan yang mati itu juga sempat menyumbat pompa air yang digunakan untuk mengalirkan air menuju ke Sungai Pencongan.

Warga kemudian membersihkan bangkai ikan dengan bergotong-royong. Wahyu Kurniawan (36), warga setempat mengungkapkan  banyak ikan mati di Sungai Sengkarang terjadi usai banjir yang merendam Kabupaten Pekalongan.

Menurut Wahyu, limbah cair yang dibuang ke kali mengganggu lingkungan. “Kalau limbahnya sering terjadi mengganggu lingkungan. Limbah dari industri pencucian jin ada juga batik, yang datang dari hulu,” terang Wahyu.

Selain mematikan ribuan ikan, air sumur warga turut terdampak. Air berbau ‘banger’ seperti bangkai. Wahyu menyebut warga dan pihak desa sudah mengadukan hal ini ke pemilik usaha karena kerap tercemar limbah. Wahyu menyebut warga sudah mengingatkan pemilik usaha untuk tidak membuang limbah ke sungai.

“Warga sudah berkoordinasi dengan pihak desa dan pemilik usaha, sudah kita ingatkan sejak lama. Kita akan ambil sikap, yang intinya, jika pengusaha tetap membuang limbah industri yang beracun ke sungai, kita sama pihak desa akan ambil sikap tegas, tutup paksa saluran pembuangan limbah. Tidak cuma ikan yang keracunan, sumur warga juga yang dekat dengan sungai baunya banget,” jelas dia.

Kapolsek Tirto AKP Suparmono, mengatakan pihaknya telah menerima adanya laporan warga terkait banyaknya ikan yang mati di Sungai Sengkarang. (Imam Nurhuda)

Terkait
Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

Dua cucian jins di Pegaden Tengah ditutup Satpol PP

Wonopringgo, Wartadesa. - Dua tempat pencucian jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ditutup oleh Satpol PP, hari Read more

Nasib galian C Pododadi Karanganyar ditentukan Senin depan

Wiradesa, Wartadesa. - Paska unjuk rasa yang dilakukan oleh warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongam, Kamis (11/01) kemarin dan Read more

Laut pasang, Pantaisari terendam

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Kondisi laut pasang (rob) yang tinggi merendam jalan WR Supratman depan Tempat Pelelangan Ikan (TPI/PPNP) hingga Read more

selengkapnya
Lingkungan

Ini tanggapan Wihaji terkait nelayan tangkap ikan “Batu Bara”

bersihkan indonesia

BATANG, WARTADESA. – Kabar tentang nelayan Roban Timur, Desa Sengon, Subah, Batang yang melaut dan menangkap ikan “Batu Bara” akhirnya sampai juga ke orang nomor satu di Kota Batang Berkembang, Wihaji, Senin (21/12) kemarin.

Sebelumnya, akun media sosial Bersihkan Indonesia pada tanggal 19 Desember 2020 memposting foto dengan caption, Kamis 17 Desember 2020 pagi kepada serat.id Munanto mengeluh soal tangkapan ikan para nelayan di Roban Timur, Kelurahan Sengon, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Seperti biasa mereka melaut untuk mencari ikan pagi itu. Namun setelah mereka mengangkat “payang” (jala), bukan hanya ikan yang didapat, tapi batu bara juga terjaring. #BersihkanIndonesia.

Pada foto kedua, Bersihkan Indonesia menulis caption, Kalau batu bara yang tersangkut jala kecil-kecil bisa diangkat, tapi kalau besar ya gak bisa, pasti rusak,” ujar Munanto. Dia menjelaskan, untuk biaya perbaikan jala yang rusak itu antara Rp 300 ribu hingga Rp 1,5 juta.

Postingan tentang ikan “Batu-Bara” juga diungga akun media sosial Batang Update dalam unggahan video, postingan tersebut dibagikan 78 kali dengan 111 kometar dan 3000 tanggapan.

Bupati Batang, Wihaji mengungkapkan, pihaknya telah memerintahkan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Batang untuk melakukan kroscek.

“Saya baru dapat kabar dari medsos kemarin sore, (Senin, 21/12), lalu saya panggil Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan untuk berkoordinasi hal tersebut,” kata Wihaji.

Orang nomor satu di Batang tersebut menambahkan bahwa ia membela nelayan Batang. “Saya membela nelayan kabupaten Batang. Persoalannya itu dari mana siapa yang mebuang atau tercecer kita cek, adakah hubungan dengan uji coba PLTU Batang atau tidak,” lanjutnya.

Wihaji akan mengkonfirmasikan temuan nelayan tersebut dengan pihak PLTU Batang. “Kita akan cek juga PLTU karena asusmsinya PLTU Batang bahan bakunya dari batu bara,” pungkasnya. (Bono)

Terkait
Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

Dua cucian jins di Pegaden Tengah ditutup Satpol PP

Wonopringgo, Wartadesa. - Dua tempat pencucian jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ditutup oleh Satpol PP, hari Read more

Nasib galian C Pododadi Karanganyar ditentukan Senin depan

Wiradesa, Wartadesa. - Paska unjuk rasa yang dilakukan oleh warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongam, Kamis (11/01) kemarin dan Read more

Laut pasang, Pantaisari terendam

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Kondisi laut pasang (rob) yang tinggi merendam jalan WR Supratman depan Tempat Pelelangan Ikan (TPI/PPNP) hingga Read more

selengkapnya
LingkunganSosial Budaya

Warga Surajaya bikin makam, protes penutupan Galian C

demo surajaya1

PEMALANG, WARTADESA. – Warga Desa Surajaya kembali menggelar demo menolak beroperasinya tambang Galian C. Warga membuat puluhan makam di lokasi sebagai bentuk protes atas matinya hati nurani pemerintah desa setempat yang tidak menutup tambang pasir tersebut, usai demo sebelumnya.

Menurut Bambang (60) aksi dilakukan karena warga menolak beroperasinya Galian C yang tidak direspon oleh pemerintah desa setempat. Selain itu, Galian C akan merusak lingkungan yang merupakan situs purbakala dan menghilangkan mata air yang menjadi sumber utama warga.

“Makam ini bagian dari simbol protes kami, kami tidak ingin alam yang sudah diciptakan untuk kelangsungan hidup orang banyak dirusak oleh segelintir orang demi keuntungan, sebab, lokasi galian merupakan sejarah dan terdapat mata air untuk digunakan juga lahan pertanian,” kata Bambang.

Dengan melantunkan Sholawat, tasbih, tahmid dan tahlil, warga membuat makam. Bahkan beberapa dari mereka menangis melihat tebing yang merupakan sumber mata air warga dikeduk untuk Galian C.

Diberitakan sebelumnya, aktivitas tambang Galian C di Desa Surajaya, Pemalang ditutup paksa oleh ratusan warga desa setempat. Padahal tambang pasir ini belum lama beroperasi. Mereka menutup tambang lantaran dianggap merusak lingkungan blok Makam Purbaya dan mengurangi debit air.

Video demo warga diunggah oleh akun Krungu Krungu dan Ngapaks dalam posting di media sosial Facebook, Senin (23/11). Terlihat ratusan warga, laki-laki dan perempuan mendatangi lokasi galian pasir tersebut.

Warga berdiri mengelilingi kubangan bekas galian. Sementara di bagian bawah, atau persis di kubangan itu, warga lain menancapkan spanduk yang tampak bertuliskan Galian Pasir Ditutup dan disambut riuh tepuk tangan.

Video yang diunggah oleh akun Ngapaks, terlihat Kepala Desa Surajaya, Wasno mengatakan bahwa pihak desa belum menerima uang sewa Galian C tersebut, dan pihaknya belum menerima kuitansi maupun uang pengadaan galian pasir tersebut.

Wasno menambahkan, bahwa pihaknya akan meneruskan tuntutan warga kepada pihak-pihak terkait. “Penutupan itu tidak bisa dilakukan sepihak karena harus melewati kajian-kajian dari dinas terkait yang membidangi,”

Menurut Wasno, galian pasir tersebut baru seminggu beroperasi tapi warga menolak. Awalnya dilakukan audiensi, tapi setelah itu warga mendatangi lokasi dan menutup galian.

Dalam audiensi, warga membawa surat perjajian kerjasama antara pihak desa dan pengusaha tambang Galian C. Mereka mengaku mengetahui ada alokasi anggaran kepada lembaga desa dari hasil galian tersebut. (Eva Abdullah/Bono)

 

Terkait
Terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, dua anak meninggal

Tirto, Wartadesa. - Dua saudara sepupu terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, Senin (01/01) sekitar pukul 11.35 WIB. Kedua bucah Read more

Gudang oven pabrik kayu lapis di Karanganyar ludes terbakar

Karanganyar, Wartadesa. - Gudang Oven Kayu Lapis PT Duta Albasy di Jalan Raya Kulu Asri, Desa Kulu Kecamatan Karanganyar Kab. Read more

Rusak, Jalan Raya Ketitang-Sedayu dikeluhkan warga

Bojong, Wartadesa. - Kerusakan Jalan Raya Ketitang (Bojong) - Sedayu (Wonopronggo) dibeberapa titik dikeluhkan warga, musim penghujan menambah kondisi jalan Read more

Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

selengkapnya
LingkunganSosial Budaya

Warga Surajaya tutup paksa tambang Galian C

demo surajaya

Pemalang, WartaDesa. – Aktivitas tambang Galian C di Desa Surajaya, Pemalang ditutup paksa oleh ratusan warga desa setempat. Padahal tambang pasir ini belum lama beroperasi. Mereka menutup tambang lantaran dianggap merusak lingkungan blok Makam Purbaya dan mengurangi debit air.

Video demo warga diunggah oleh akun Krungu Krungu dan Ngapaks dalam posting di media sosial Facebook, Senin (23/11). Terlihat ratusan warga, laki-laki dan perempuan mendatangi lokasi galian pasir tersebut.

Warga berdiri mengelilingi kubangan bekas galian. Sementara di bagian bawah, atau persis di kubangan itu, warga lain menancapkan spanduk yang tampak bertuliskan Galian Pasir Ditutup dan disambut riuh tepuk tangan.

Video yang diunggah oleh akun Ngapaks, terlihat Kepala Desa Surajaya, Wasno mengatakan bahwa pihak desa belum menerima uang sewa Galian C tersebut, dan pihaknya belum menerima kuitansi maupun uang pengadaan galian pasir tersebut.

Wasno menambahkan, bahwa pihaknya akan meneruskan tuntutan warga kepada pihak-pihak terkait. “Penutupan itu tidak bisa dilakukan sepihak karena harus melewati kajian-kajian dari dinas terkait yang membidangi,”

Menurut Wasno, galian pasir tersebut baru seminggu beroperasi tapi warga menolak. Awalnya dilakukan audiensi, tapi setelah itu warga mendatangi lokasi dan menutup galian.

Dalam audiensi, warga membawa surat perjajian kerjasama antara pihak desa dan pengusaha tambang Galian C. Mereka mengaku mengetahui ada alokasi anggaran kepada lembaga desa dari hasil galian tersebut. (Eva Abdullah/Bono)

Terkait
Terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, dua anak meninggal

Tirto, Wartadesa. - Dua saudara sepupu terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, Senin (01/01) sekitar pukul 11.35 WIB. Kedua bucah Read more

Gudang oven pabrik kayu lapis di Karanganyar ludes terbakar

Karanganyar, Wartadesa. - Gudang Oven Kayu Lapis PT Duta Albasy di Jalan Raya Kulu Asri, Desa Kulu Kecamatan Karanganyar Kab. Read more

Rusak, Jalan Raya Ketitang-Sedayu dikeluhkan warga

Bojong, Wartadesa. - Kerusakan Jalan Raya Ketitang (Bojong) - Sedayu (Wonopronggo) dibeberapa titik dikeluhkan warga, musim penghujan menambah kondisi jalan Read more

Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

selengkapnya
BencanaLingkunganSosial Budaya

Warga Kandang bergotong-royong bikin trucuk

trucuk

Pemalang, WartaDesa. – Banyak cara dilakukan warga secara swadaya untuk menanggulangi bahaya banjir, saat musim penghujan. Seperti dilakukan oleh puluhan warga Desa Kandang, Kecamatan Comal, Pemalang. Mereka bergotong-royong membangun trucuk (senderan) di bantaran Kali Comal untuk mencegah luapan air sungai meluap ke permukiman.

Para lelaki bahu-membahu memasang trucuk dari bambu di sepanjang kali Desa Kandang, sementara kaum perempuan menyiapkan makanan dan minuman untuk rasum para pekerja.

Mutahdin, Kepala Desa Kandang mengatakan bahwa kerja bakti yang dilakukan warganya merupakan antisipasi mencegah luapan air Kali Comal yang saat hujan besar airnya meluap ke permukiman warga.  Ia mengatakan bahwa pihaknya menaruh perhatian kepada warga yang tinggal di dekat bantaran Kali Comal.

“Kami menaruh perhatian khusus kepada warga yang tinggal di bantaran Kali Comal, dengan  guyup dan saling bahu membahu untuk mencegah meluapnya debet air Kali Comal pada musim penghujan. Karena tanggul yang sekaligus juga digunakan sebagai ruas jalan, saat ini kondisinya amblas akibat musim hujan pada tahun lalu dan berpotensi jebol apabila musim penghujan kembali datang.” Ujar Mutahdin.

Muhtadin berharap pemerintah daerah secepatnya menangani masalah amblasnya tanggul Kali Comal tersebut. “Pasalnya tanggul tersebut berfungsi sebagai penahan debet air ketika sungai Comal meluap,” pungkasnya. (Bono)

Terkait
59 rumah tersapu angin puting beliung di Bojongnangka Pemalang

Pemalang, Wartadesa. -  59 rumah di Desa Bojongnangka Kec/Kab. Pemalang, Jawa Tengah rusak ringan hingga parah akibat tersapu angin puting Read more

Terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, dua anak meninggal

Tirto, Wartadesa. - Dua saudara sepupu terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, Senin (01/01) sekitar pukul 11.35 WIB. Kedua bucah Read more

Gudang oven pabrik kayu lapis di Karanganyar ludes terbakar

Karanganyar, Wartadesa. - Gudang Oven Kayu Lapis PT Duta Albasy di Jalan Raya Kulu Asri, Desa Kulu Kecamatan Karanganyar Kab. Read more

Rusak, Jalan Raya Ketitang-Sedayu dikeluhkan warga

Bojong, Wartadesa. - Kerusakan Jalan Raya Ketitang (Bojong) - Sedayu (Wonopronggo) dibeberapa titik dikeluhkan warga, musim penghujan menambah kondisi jalan Read more

selengkapnya
BencanaLingkungan

Warga diminta cepat membaca perubahan alam saat musim hujan

longsor pemalang

Pemalang, WartaDesa. – Warga yang tinggal di daerah rawan bencana, diminta untuk cepat membaca perubahan alam, saat musim penghujan saat ini. Dimana kecepatan membaca perubahan tersebut berfungsi untuk meningkatkan kewaspadaan warga sekitar dalam penanganan bencana alam yang kerap mucul saat curah hujan tinggi. Demikian disampaikan oleh Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan, BPBD Kabupaten Pemalang, Bambang Ali Nuryanto.

“Antisipasi yang dilakukan masyarakat terhadap bencana tanah longsor, harus segera membaca perubahan alam. Ketika hujan besar, terus terjadi pergerakan tanah, kemudian segera keluar, dan mengingatkan kepada semua masyarakat,”  ujar Bambang, Sabtu (31/10).

Bambang juga meminta warga rawan bencana untuk ramah lingkungan, dengan cara tidak melakukan penebangan pohon semena-mena dan tidak membendung sungai, jembatan, atau gorong-gorong hingga menyebabkan banjir.

BPBD setempat telah memetakan wialayah rawan bencana di Pemalang, yakni wilayah Moga, Bodeh, Watukumpul, Belik, “Kecamatan Watukumpul paling rawan longsor, karena bentuk permukaan bumi (topografi) wilayah tersebut merupakan daerah perbukitan. Ditambah, kini perbukitan tersebut mulai gundul, sehingga manakala terjadi hujan besar bisa menyebabkan longsor dan menimpa bangunan dibawahnya.” Ujarnya.

Pihak BPBD Pemalang juga telah memasang deteksi dini bencana (early warning system/EWS) di lima titik sekitar Watukumpul, yakni Desa Bodas, Cibongas, dan Telagasana.

EWS akan mengeluarkan sirine  saat terjadi gerakan tanah, alat tersebut secara otomatis. Ujar Bambang. Ia menambahkan, di daerah rawan bencana telah terbentuk relawan yang telah dibekali dengan pelatihan dan pembentukan desa tangguh bencana.   (Bono)

Terkait
59 rumah tersapu angin puting beliung di Bojongnangka Pemalang

Pemalang, Wartadesa. -  59 rumah di Desa Bojongnangka Kec/Kab. Pemalang, Jawa Tengah rusak ringan hingga parah akibat tersapu angin puting Read more

Gudang oven pabrik kayu lapis di Karanganyar ludes terbakar

Karanganyar, Wartadesa. - Gudang Oven Kayu Lapis PT Duta Albasy di Jalan Raya Kulu Asri, Desa Kulu Kecamatan Karanganyar Kab. Read more

Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

Longsor, ruas jalan Lebakbarang-Karanganyar tertutup batu

Lebakbarang, Wartadesa. - Akibat hujan yang mengguyur wilayah Lebakbarang, ruas jalan Lebakbarang-Karanganyar, terjadi longsor yang menutup ruas jalan di dua Read more

selengkapnya
Layanan PublikLingkunganSosial Budaya

Duh! Tiga alat pendeteksi dini bencana di Pekalongan rusak

ews rusak_tribun

Kajen, WartaDesa. – Tiga dari tujuh alat deteksi peringatan dini bencana atau Early Warning System (EWS) yang dipasang di wilayah rawan bencana Kabupaten Pekalongan rusak. Pada Januari 2020 lalu, BPBD setempat menyebut satu EWS  rusak sebelum dipasang. Padahal biaya pengadaan satu paket alat EWS tanah bergerak/longsor cukup mahal yakni senilai Rp118,35 juta

“Dari tujuh yang terpasang di titik-titik rawan longsor, ada tiga alat EWS rusak. tiga alat tersebut berada di Kecamatan Kandangserang,” kata Kepala BPBD Kabupaten Pekalongan budi Raharjo, Kamis (29/10) dilansir dari Tribun.

Kerusakan EWS menurut Budi disebabkan karena faktor alam. “Semua alat EWS bantuan dari provinsi dan satu buah alat tersebut harganya sangat mahal sekali,” ujarnya.

Diketahui bahwa EWS dipasang di Desa Curugmuncar, Kecamatan Petungkriyono, Desa Kaliombo dan Desa Werdi di Kecamatan Paninggaran, serta Desa Bojongkoneng, Desa Luragung, dan Desa Wangkelang di Kecamatan Kandangserang.

Sebelumnya WartaDesa menulis alat (alarm) peringatan dini bencana  (Early Warning System –EWS) yang merupakan alat untuk mendeteksi dini ancaman tanah bergerak di Wangkelang, Kandangserang, Kabupaten Pekalongan rusak. Demikian disampaikan oleh Kepala BPBD Kabupaten Pekalongan Budi Raharjo, Kamis (09/01) kemarin.

Budi Raharjo mengatakan bahwa Kota Santri memiliki enam EWS di beberapa wilayah, namun saat pengecekan didapati satu EWS yang rusak. “Ada enam EWS,yang masing-masing terpasang di Desa Curugmuncar, Kecamatan Petungkriyono, Desa Kaliombo dan Desa Werdi di Kecamatan Paninggaran, serta Desa Bojongkoneng, Desa Luragung, dan Desa Wangkelang di Kecamatan Kandangserang,” ujarnya.

Budi menyebut alat berharga mahal tersebut rusak karena faktor alam. “Enam EWS merupakan bantuan dari provinsi dan satu buah EWS harganya mahal. Jadi, EWS yang rusak masih berada di lokasi. BPBD belum menganggarkan mengenai pengadaan EWS,” ungkapnya.

Dilansir dari Gatra, harga satu unit EWS mencapai ratusan juta rupiah. “Biaya pengadaan satu paket alat EWS tanah bergerak/longsor cukup mahal yakni senilai Rp118,35 juta,” tutur Kepala Seksi Kesiapsiagaan BPBD Jawa Tengah, Wahjoedi Fajar.

EWS tidaklah selalu mahal

Seorang rugu Fisika SMK Negeri 2 Bawang, Banjarnegara, Wasis Sucipto mengembangkan teknologi alat peringatan dini longsor (EWS) yang canggih dengan biaya murah. Alat buatannya mampu mendeteksi bencana longsor dan mengirimkan sinyal ke sirine. Sinyal dari gelombang FM ini dapat dikirimkan secara massal kepada seluruh penduduk yang berada di wilayah longsor.

Melalui sebuah antena yang terpasang, gelombang tersebut mengirimkan sinyal ke semua lokasi searah daya pancar antena. Sirine pun berbunyi keras sebagai peringatan bahaya longsor. “Dari pemancar FM itu nanti diterima pesawat radio FM,” ucapnya, Kamis, 6 Desember 2018, dikutip dari liputan enam.

Sinyal peringatan dini gerakan tanah ini pun langsung dapat dipantau melalui ponsel atau radio yang memiliki fasilitas FM. Jika terlalu repot harus selalu mengakses radio, warga pun bisa memasang alat peringatan dini longsor yang juga dilengkapi sirine. Perangkat ini bisa dipasang di lokasi strategis agar seluruh warga yang terancam bisa mendengarnya dengan jelas.

Sirine itu akan berbunyi saat terjadi pergerakan tanah yang membuat alat itu otomatis bekerja. Masyarakat yang menangkap sinyal bahaya dari sirine itu dengan demikian bisa cepat untuk menyelamatkan diri.

Wasis mengklaim, perangkat alat peringatan dini longsor ini mudah ditemukan di toko-toko elektronik dengan harga terjangkau. Perawatannya juga mudah. Tak perlu teknisi khusus untuk memperbaiki alat ini jika sewaktu-waktu mengalami kerusakan. Bahkan, tukang servis radio pun pasti bisa memperbaiki alat ini. (Bono, Eva Abdullah, dengan tambahan sumber tercantum)

Terkait
Terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, dua anak meninggal

Tirto, Wartadesa. - Dua saudara sepupu terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, Senin (01/01) sekitar pukul 11.35 WIB. Kedua bucah Read more

Gudang oven pabrik kayu lapis di Karanganyar ludes terbakar

Karanganyar, Wartadesa. - Gudang Oven Kayu Lapis PT Duta Albasy di Jalan Raya Kulu Asri, Desa Kulu Kecamatan Karanganyar Kab. Read more

Rusak, Jalan Raya Ketitang-Sedayu dikeluhkan warga

Bojong, Wartadesa. - Kerusakan Jalan Raya Ketitang (Bojong) - Sedayu (Wonopronggo) dibeberapa titik dikeluhkan warga, musim penghujan menambah kondisi jalan Read more

Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

selengkapnya
LingkunganSosial Budaya

Masuk musim penghujan, ini pemetaan wilayah rawan longsor dan banjir di Pekalongan

longsor

Kajen, WartaDesa. – Masuknya musim penghujan di Kota Santri membuat Pemerintah Kabupaten Pekalongan menghimbau warga untuk waspada terhadap bencana longsor dan banjir. Pemkab memetakan sejumlah wilayah kecamatan yang rawan longsor, antara lain Kecamatan Kandangserang, Paninggaran, Lebakbarang, dan Doro, sedangkan daerah rawan banjir, seperti Kecamatan Kajen, Wiradesa, dan Wonokerto, dan Bojong.

Untuk mengantisipasi rawan bencana tersebut, Pemkab bersama TNI tengah menyiapkan sarana, prasarana, dan personel untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana alam. Hal tersebut diungkapkan oleh Pelaksana Tugas Bupati Pekalongan Arini Harimurti, Kamis (29/10).

“Kami meminta seluruh masyarakat berhati-hati dan siaga apabila hujan deras mengguyur di wilayahnya,” tutur Arini.

Arini menyebut wilayah yang rawan longsor meliputi Kecamatan Kandangserang, Paninggaran, Lebakbarang dan Doro. Sedang wilayah rawan banjir meliputi Kajen, Wiradesa, Wonokerto dan Bojong.

Sementara itu,  Komandan Kodim 0710/Pekalongan Letkol CZI Hamonangan Lumban Toruan  mengungkapkan bahwa sejumlah personel Polri, PMI, dan mahasiswa sudah disiapkan dalam penanggulangan bencana.

“Kita akan melibatkan unsur Polri, Palang Merah Indonesia (PMI) dan mahasiswa dalam kesiapsiagaan bencana atau penanggulangan bencana alam,” tuturnya. (Bono)

Terkait
Terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, dua anak meninggal

Tirto, Wartadesa. - Dua saudara sepupu terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, Senin (01/01) sekitar pukul 11.35 WIB. Kedua bucah Read more

Gudang oven pabrik kayu lapis di Karanganyar ludes terbakar

Karanganyar, Wartadesa. - Gudang Oven Kayu Lapis PT Duta Albasy di Jalan Raya Kulu Asri, Desa Kulu Kecamatan Karanganyar Kab. Read more

Rusak, Jalan Raya Ketitang-Sedayu dikeluhkan warga

Bojong, Wartadesa. - Kerusakan Jalan Raya Ketitang (Bojong) - Sedayu (Wonopronggo) dibeberapa titik dikeluhkan warga, musim penghujan menambah kondisi jalan Read more

Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

selengkapnya