close

Layanan Publik

Layanan Publik

Ironi di Kota Santri: Rakyat ‘Ngopi’ Debu Jalanan, Pejabat Bangun Coffee Shop Ratusan Juta

template berita foto warta desa(8)

KAJEN, WARTA DESA (15 Mei 2026) – Di saat rakyat Kabupaten Pekalongan harus berjuang melewati jalan rusak yang gelap gulita, Pemerintah Kabupaten Pekalongan sempat merencanakan kebijakan yang melukai hati nurani publik. Fasilitas mewah berupa coffee shop sempat masuk dalam daftar pembangunan di lingkungan Rumah Dinas (Rumdin) Bupati Pekalongan. (

Berdasarkan data yang dihimpun dari sistem pengadaan resmi (LPSE), proyek bertajuk “Pembangunan Coffe Shop Rumdin Bupati” tersebut awalnya dianggarkan sebesar Rp195.000.000. Angka ini belum termasuk pengadaan perlengkapan mesin dan peralatan pendukung lainnya yang juga direncanakan menyedot dana puluhan hingga ratusan juta rupiah dari APBD.

Fasilitas Mewah di Tengah APBD yang ‘Sakit’

Rencana pengadaan tempat nongkrong eksklusif ini terasa sangat ironis mengingat kondisi keuangan daerah yang sedang tidak sehat. APBD Kabupaten Pekalongan tahun 2026 mengalami defisit sebesar Rp100,87 miliar, yang memaksa pemerintah daerah melakukan pinjaman daerah (utang) sebesar Rp80 miliar untuk menambal lubang anggaran.

“Ibarat sebuah keluarga yang sedang punya utang menumpuk dan atap rumahnya bocor, tapi sempat terpikir untuk beli mesin kopi mahal dan bangun ruang santai pribadi. Ini sangat tidak peka,” ujar salah satu warga yang menyoroti ketimpangan prioritas ini.

Klarifikasi Plt Bupati: “Saya Jamin Nggak Dilaksanakan”

Menanggapi polemik yang mulai memanas di tengah masyarakat, Plt Bupati Pekalongan, Sukirman, akhirnya angkat bicara. Saat dikonfirmasi mengenai status proyek tempat ngopi tersebut, ia memastikan bahwa fasilitas itu tidak akan direalisasikan.

“Yaaa memang belum berjalan. Yang penting saya jamin nggak dilaksanakan,” tegas Sukirman memberikan kepastian terkait pembatalan operasional atau pembangunan fasilitas tersebut.

Meski sudah ada jaminan pembatalan, munculnya nomenklatur proyek ini dalam sistem pengadaan tetap menyisakan pertanyaan besar di benak publik mengenai bagaimana perencanaan anggaran di tingkat atas dilakukan di tengah krisis.

Prioritas untuk Rakyat Lebih Mendesak

Publik berharap, pembatalan proyek coffee shop ini dibarengi dengan pengalihan fokus anggaran ke sektor yang lebih mendesak. Dana ratusan juta tersebut sebenarnya sangat berarti jika dialokasikan untuk:

  • Perbaikan puluhan titik Penerangan Jalan Umum (PJU) yang mati di wilayah selatan jembatan hingga Pasar Pakis Putih.

  • Perbaikan darurat di ruas jalan rusak parah seperti Jl. KH Ahmad Dahlan Tirto yang kerap memakan korban.

Rakyat kini menunggu langkah nyata dari pemerintah daerah. Apakah “jaminan” dari Plt Bupati ini akan diikuti dengan pengalihan anggaran yang benar-benar berpihak pada kebutuhan dasar masyarakat, ataukah sekadar upaya meredam gejolak sesaat?

Rakyat tidak butuh pejabat yang pandai meracik kopi, rakyat butuh pejabat yang pandai meracik solusi bagi jalan yang rusak dan lampu yang padam. (Red, Andi Purwandi)


Catatan Redaksi: Warta Desa akan terus memantau apakah komitmen pembatalan ini tercermin dalam perubahan postur anggaran daerah demi kepentingan akar rumput.

Terkait
Gerimis warnai bukaan Gembiro

Ngiyup. Warga yang memadati bukaan bendung Gembiro terlihat berteduh karena gerimis. (1/11). Foto: Eva Abdullah Ajis/wartadesa Read more

Kebakaran di Binagriya hanguskan rumah

Pekalongan Barat, Wartadesa. -Rumah Rofi yang berada di Jalan Pesona Raya No. 510-511 komplek perumahan Bina Griya, Pekalongan Barat, hangus Read more

Desa bersih akan diberi tambahan ADD 10 persen

Kajen, Wartadesa. - Bagi desa-desa/kelurahan di Kabupaten Pekalongan dengan kondisi lingkungan yang bersih, Bupati akan memberikan penghargaan berupa penambahan 10 Read more

Kunci sukses UPK, bangun komunikasi dan saling percaya

Kedungwuni, Wartadesa. - Suksesnya program pinjaman bergulir tanpa agunan bagi warga miskin di Desa Tangkilkulon Kecamatan Kedungwuni Kabupaten Pekalongan ternyata Read more

selengkapnya
Berita DesaLayanan Publik

Hak Rakyat Terabaikan: Jalan Penghubung Garungwiyoro Rusak Parah, Pemkab Pekalongan Diminta Tak Tutup Mata

template berita foto warta desa

KANDANGSERANG, Warta Desa. – Jalan utama yang melintasi Dukuh Cangkring, Desa Garungwiyoro, Kecamatan Kandangserang, mengalami kerusakan parah dan membahayakan keselamatan warga. Jalan tersebut merupakan akses vital yang menghubungkan sejumlah desa, di antaranya Sukoharjo, Trajumas, Karanggondang, Gambong, Bodas, hingga Klesem.

Kondisi jalan yang rusak ini sudah berlangsung cukup lama dan hingga kini belum mendapatkan penanganan serius dari pihak terkait. Padahal, jalan tersebut setiap hari digunakan oleh berbagai kalangan, mulai dari pelajar, tenaga pengajar, hingga masyarakat umum untuk aktivitas ekonomi dan sosial.

Kondisi Membahayakan Nyawa Warga

Selain rusak, kondisi jalan juga dipenuhi lubang yang kerap tergenang air saat hujan. Hal ini membuat pengendara semakin kesulitan menentukan bagian jalan mana yang aman untuk dilalui kendaraan bermotor, sehingga meningkatkan risiko kecelakaan.

Munir (56), warga Desa Karanggondang, mengungkapkan keprihatinannya saat melintas di lokasi. Ia menilai kondisi jalan sangat memprihatinkan dan membahayakan pengguna.

“Jalan sudah rusak parah sejak lama, tapi belum juga diperbaiki. Kasihan anak-anak sekolah yang harus melewati jalan seperti ini setiap hari,” ujarnya.

Keluhan serupa juga disampaikan oleh Tohir (60), warga Garungwiyoro. Ia mengaku kesulitan saat melintasi jalan tersebut, terutama ketika membawa muatan.

“Jalannya sudah hancur, sangat sulit dilalui. Kalau bawa rumput banyak, hampir jatuh saat lewat,” ungkapnya.

Pemerintah Daerah Wajib Sediakan Infrastruktur Jalan

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan, pemerintah daerah memiliki kewajiban konstitusional untuk menyediakan dan memelihara infrastruktur jalan di wilayahnya. Pasal 25 UU tersebut secara tegas menyatakan bahwa penyelenggaraan jalan kabupaten menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten.

Lebih lanjut, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pada Pasal 24 ayat (1) mengamanatkan bahwa pemerintah daerah wajib menjamin tersedianya fasilitas dan perlengkapan jalan yang memadai, termasuk kondisi jalan yang layak dan aman bagi pengguna.

Ancaman Sanksi Pidana dan Perdata

Kelalaian pemerintah daerah dalam memelihara jalan dapat berakibat serius, baik secara hukum maupun kemanusiaan. Jika terjadi kecelakaan yang mengakibatkan korban jiwa atau luka-luka akibat kondisi jalan yang rusak, pemerintah daerah dapat digugat secara perdata berdasarkan prinsip perbuatan melawan hukum (onrechtmatige overheidsdaad) sebagaimana diatur dalam Pasal 1365 KUH Perdata.

Selain itu, Pasal 273 KUHP mengatur sanksi pidana bagi pihak yang dengan sengaja membiarkan kondisi berbahaya pada jalan umum yang dapat mengancam keselamatan orang lain. Pejabat yang lalai dalam menjalankan kewajibannya juga dapat dijerat dengan Pasal 15 UU Nomor 31 Tahun 1999 jo. UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, apabila terbukti anggaran pemeliharaan jalan tidak digunakan sebagaimana mestinya.

Dalam beberapa kasus di Indonesia, korban kecelakaan akibat jalan rusak telah berhasil menggugat pemerintah daerah dan memperoleh ganti rugi. Hal ini menegaskan bahwa negara tidak boleh lepas tangan dari tanggung jawab melindungi keselamatan warganya.

Warga Berharap Tindakan Nyata

Meski demikian, masyarakat tetap berupaya menyampaikan aspirasi secara santun dan berharap adanya perhatian dari pemerintah daerah. Warga berharap perbaikan jalan segera dilakukan mengingat pentingnya akses tersebut bagi mobilitas dan keselamatan masyarakat, terutama anak-anak sekolah yang setiap hari harus melewati jalan berbahaya tersebut.

“Kami tidak minta yang muluk-muluk, hanya minta jalan yang layak dan aman. Ini hak dasar kami sebagai warga negara,” tegas Munir.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten terkait rencana perbaikan jalan tersebut. Warga berharap pihak berwenang segera turun ke lapangan dan mengambil tindakan konkret sebelum jatuh korban jiwa akibat kelalaian ini. (Andi Purwandi)

Redaksi mengimbau Pemerintah Kabupaten untuk segera merespons keluhan warga dan memenuhi kewajiban konstitusionalnya dalam menyediakan infrastruktur jalan yang layak dan aman bagi seluruh masyarakat.

Terkait
Menikmati golden sunrise di bukit Pawuluhan Kandangserang

Wartadesa. - Satu lagi tempat wisata di Kabupaten Pekalongan yang menarik untuk dikunjungi yaitu bukit Pawuluhan Kecamatan Kandangserang Kabupaten Pekalongan Read more

Protes jalan rusak, warga tanam drum

Sragi, Wartadesa. - Ada pemandangan yang berbeda ketika lewat Jalan Kalijambe-Sragi Kecamatan Sragi Kabupaten Pekalongan. Kalau biasanya pemandangan 'obyek wisata Read more

Pengembang tol sepakati perbaikan jalan secara tambal sulam

Kajen, Wartadesa. - Pengembang jalan tol ruas Pemalang-Batang  sepakat untuk memperbaiki jalan yang rusak akibat mobilisasi dump-truck pembangunan jalan tol Read more

Warga kecewa, akses jalan ke pemakaman rusak akibat alat berat proyek tol

Sragi, Wartadesa. - Sekitar pukul 12.00 siang warga dukuh Tegalpacing Desa Bulakpelem Kecatan Sragi Kabupaten Pekalongan geger, lantaran akses jalan Read more

selengkapnya
Berita DesaLayanan Publik

WARGA SEMBUNGJAMBU SOROTI PAMSIMAS TAK SAMPAIKAN LAPORAN SELAMA 2 TAHUN, TRANSPARANSI DIPERTANYAKAN

template berita foto warta desa(1)

Bojong, Pekalongan, Warta Desa. – Keresahan warga Desa Sembungjambu, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan, kian memuncak. Selama dua tahun terakhir, pengurus Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) di desa tersebut tidak pernah menyampaikan laporan bulanan maupun laporan tahunan dalam forum musyawarah desa. Kewajiban pelaporan yang seharusnya menjadi ruang kontrol sosial masyarakat pun diabaikan begitu saja.

Kondisi ini bukan sekadar kelalaian administratif. Bagi warga yang menggantungkan kebutuhan air bersih dari program ini, ketiadaan transparansi adalah bentuk pengabaian terhadap hak mereka untuk mengetahui bagaimana dana publik dikelola.

Dugaan Ketidaksesuaian Data di Lapangan

Salah satu warga yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan adanya dugaan ketidaksesuaian antara jumlah instalasi yang terpasang di lapangan dengan data yang dilaporkan pengurus.

“Ada selisih antara data yang dilaporkan dengan kondisi nyata di lapangan. Ini yang membuat masyarakat semakin curiga,” ujarnya dengan nada prihatin.

Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Dalam program berbasis masyarakat seperti Pansimas, kepercayaan adalah modal utama. Ketika laporan tidak disampaikan, pertanyaan pun bermunculan: ke mana iuran warga mengalir? Apakah pengelolaan dilakukan sesuai aturan? Siapa yang bertanggung jawab jika terjadi penyimpangan?

Aturan Jelas, Pelaksanaan Diabaikan

Berdasarkan Pedoman Umum Program Pamsimas dari Kementerian PUPR, pengelolaan harus dilakukan secara partisipatif, transparan, dan akuntabel oleh Kelompok Pengelola Sistem Penyediaan Air Minum dan Sanitasi (KPSPAMS).

Secara teknis, pengurus wajib menyampaikan:

  • Laporan bulanan yang mencakup aspek teknis, keuangan, dan penggunaan air kepada Kepala Desa, BPD, dan koordinator tingkat kecamatan/kabupaten.
  • Laporan tahunan atau LPJ yang dipaparkan dalam musyawarah desa sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada masyarakat.
  • Laporan insidental yang dilakukan oleh ketua kelompok pengelola, yang dapat diperiksa sewaktu-waktu oleh Koordinator LKM dan Kepala Desa.

Aturan ini sejalan dengan semangat Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dan Permendagri Nomor 20 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Keuangan Desa, yang menekankan prinsip transparansi, partisipatif, dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana publik.

Namun, aturan yang jelas ini seolah hanya menjadi formalitas di atas kertas. Di lapangan, warga justru dibiarkan dalam ketidakpastian.

Tuntutan Warga: Hak, Bukan Permintaan

Warga Desa Sembungjanbu kini mendesak tiga hal mendasar:

  1. Pengurus Pansimas segera menyampaikan laporan bulanan dan laporan tahunan sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada masyarakat yang menjadi pemilik sah program ini.
  2. Dilakukan audit atau pemeriksaan menyeluruh terhadap pengelolaan keuangan untuk memastikan tidak ada penyimpangan.
  3. Pemerintah desa dan dinas terkait memberikan pendampingan serta pengawasan ketat, agar program yang dibiayai dari kantong rakyat ini benar-benar bermanfaat bagi rakyat.

Ini bukan tuntutan berlebihan. Ini adalah hak dasar warga untuk mendapatkan informasi dan memastikan uang mereka dikelola dengan benar.

Ketua Pamsimas Bungkam, Kepala Desa Konfirmasi

Saat dikonfirmasi melalui pesan singkat WhatsApp, Ketua Pamsimas Masjuri tidak memberikan keterangan apa pun terkait persoalan ini. Keheningan ini justru menambah kecurigaan publik.

Sementara itu, Kepala Desa Sembungjanbu membenarkan bahwa Pamsimas adalah aset milik desa yang dikelola oleh KPSPAMS. Namun hingga berita ini diturunkan, ketua kelompok pengelola tetap tidak memberikan respons.

Transparansi Bukan Pilihan, Tapi Kewajiban

Program Pamsimas lahir dari semangat pemberdayaan masyarakat. Namun, tanpa transparansi dan akuntabilitas, program ini justru berpotensi menjadi sumber ketidakadilan baru di tingkat desa.

Warga Sembungjanbu berhak mendapatkan jawaban. Mereka berhak tahu ke mana uang mereka pergi, bagaimana air yang mereka minum dikelola, dan siapa yang bertanggung jawab jika ada masalah.

Masyarakat berharap polemik ini segera mendapat kejelasan, bukan hanya demi pemulihan kepercayaan, tetapi juga demi tegaknya prinsip keadilan di tingkat paling dasar: desa. (Andi Purwandi)

Warta Desa | www.wartadesa.net
Kabar Desa, Suara Rakyat

Terkait
Besok buruh konveksi di wilayah ini libur

Kedungwuni, Wartadesa. - Selasa (21/11) besok, buruh konveksi di wilayah Pandanarum, Wuled, Ngalian Tirto, Karangjati Wiradesa, Tangkiltengah, Tangkilkulon Kedungwuni libur, Read more

Warga: Kalau bikin SIM Jangan dipersulit

Kajen, Wartadesa. - Surat Ijin Mengemudi (SIM) bagi warga Kota Santri sudah menjadi barang penting. Mereka menganggap bahwa surat-surat kendaraan, Read more

Meski UMR Kota Santri Naik, namun belum penuhi KHL

Kedungwuni, Wartadesa. - Naiknya Upah Minumum Regional (UMR) Kota Santri dari sebelumnya Rp. 1.583.697 menjadi Rp. 1.721.637 atau naik sebesar Read more

Wisatawan keluhkan sampah di Pantai Widuri

Pemalang, Wartadesa. - Kondisi Pantai Widuri di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah yang penuh dengan sampah dan kotoran manusia dikeluhkan oleh Read more

selengkapnya
Berita DesaLayanan Publik

Kunjungan Mendadak Plt Bupati Pekalongan ke Jalan Rusak Desa Windurojo Tuai Kekecewaan Warga

template berita foto warta desa(1)

Kesesi, Windurojo, Warta Desa. – Senin, 4 Mei 2026. Kunjungan mendadak Plt Bupati Pekalongan, Sukirman, ke lokasi jalan rusak di Desa Windurojo, Kecamatan Kesesi, justru menuai kekecewaan dari warga setempat. Jalan yang sebelumnya rusak parah tersebut telah lebih dulu diperbaiki secara swadaya oleh masyarakat tanpa bantuan anggaran dari pemerintah daerah.

Warga menilai kehadiran orang nomor satu di Kabupaten Pekalongan itu terkesan terlambat dan tidak tepat sasaran. Mereka telah bergotong royong memperbaiki akses jalan demi kelancaran aktivitas sehari-hari, setelah sekian lama menunggu perhatian dari pemerintah yang tak kunjung datang.

“Ya sangat disayangkan, beliau datang sekarang setelah jalan sudah kami perbaiki sendiri dengan gotong royong,” ungkap salah satu warga di lokasi dengan nada kecewa.

Informasi dari pihak pemerintah desa menyebutkan bahwa dalam kunjungan tersebut, Sukirman hanya menyampaikan janji akan melakukan pembangunan, namun tanpa kejelasan waktu pelaksanaan. Hal ini semakin menambah keraguan masyarakat terhadap komitmen pemerintah daerah.

Bahkan, menurut sumber dari perangkat desa, dalam dialog singkatnya Plt Bupati sempat mengatakan, “Tenang Pak Lurah, nanti kita bangun, yang penting jangan ramai,” yang kemudian memicu beragam tanggapan dari warga. Pernyataan tersebut dinilai kurang mencerminkan transparansi dan keseriusan dalam merespons kebutuhan masyarakat.

Warga berharap ke depan pemerintah daerah tidak hanya hadir secara simbolis, tetapi juga mampu memberikan solusi nyata dan tepat waktu terhadap persoalan infrastruktur yang mereka hadapi. Kondisi ini sekaligus menjadi cerminan kuatnya semangat gotong royong masyarakat desa, namun di sisi lain juga menjadi catatan kritis bagi pemerintah agar lebih responsif dan hadir sebelum masyarakat terpaksa bergerak sendiri.

Gotong Royong Warga Windurojo: Bukti Ketahanan Akar Rumput

Sebelumnya, warga bersama Pemerintah Desa (Pemdes) Windurojo telah memperbaiki jalan rusak secara mandiri pada Jumat (24/4/2026). Keputusan ini diambil setelah bertahun-tahun menunggu janji perbaikan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pekalongan yang tak kunjung terealisasi.

Kondisi jalan yang dipenuhi lubang besar dan permukaan tidak rata telah lama menghambat aktivitas ekonomi warga. Selain itu, kerusakan jalan sering menjadi penyebab kecelakaan, terutama bagi pengendara motor saat musim hujan. Melihat kondisi tersebut, warga akhirnya berinisiatif mengumpulkan iuran sukarela untuk membeli material berupa batu dan semen.

“Kalau menunggu terlalu lama, jalan semakin rusak dan membahayakan. Jadi kami sepakat untuk memperbaiki bersama-sama,” ujar salah satu warga di lokasi pengerjaan.

Pengerjaan dilakukan secara manual dengan dua tahap utama: pemasangan batu belah sebagai fondasi dasar dan pengecoran manual agar permukaan jalan lebih rata dan tahan lama. Aksi ini menjadi bukti nyata bahwa masyarakat akar rumput mampu bergerak mandiri ketika kebutuhan dasar mereka diabaikan.

Kewajiban Pemerintah Daerah: Menjamin Infrastruktur Dasar yang Layak

Menurut ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, penyediaan infrastruktur dasar seperti jalan yang layak dan mudah diakses merupakan tanggung jawab pemerintah daerah. Jalan desa bukan sekadar sarana transportasi, tetapi juga urat nadi ekonomi dan sosial masyarakat. Ketika akses jalan rusak dibiarkan terlalu lama, dampaknya langsung dirasakan oleh warga kecil—petani, pedagang, dan pelajar—yang bergantung pada kelancaran mobilitas harian.

Keterlambatan pemerintah dalam memenuhi kewajiban ini menunjukkan lemahnya perencanaan dan pengawasan pembangunan di tingkat daerah. Pemerintah seharusnya hadir lebih awal, bukan setelah masyarakat terpaksa menanggung beban sendiri. Transparansi, partisipasi publik, dan kecepatan tanggap menjadi kunci agar pelayanan dasar benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Catatan Kritis untuk Pemerintah Daerah

Kisah warga Windurojo menjadi potret nyata ketimpangan antara janji pembangunan dan realitas di lapangan. Di tengah keterbatasan, masyarakat tetap menunjukkan semangat gotong royong dan solidaritas sosial yang tinggi. Namun, semangat ini tidak boleh dijadikan alasan bagi pemerintah untuk lepas tangan dari tanggung jawabnya.

Pemerintah daerah wajib memastikan setiap desa memiliki akses jalan yang aman, kuat, dan layak digunakan. Bukan hanya untuk kepentingan politik sesaat, tetapi sebagai bentuk nyata pelayanan publik yang berkeadilan. Warga Windurojo telah menunjukkan keteladanan dalam kemandirian, kini giliran pemerintah untuk menunjukkan keberpihakan nyata kepada rakyatnya. (Andi Purwadi)

Terkait
Warga Kesesi tunggu kali asat

Warga sekitar jembatan Jagung memanfaatkan peristiwa dibukanya bendung Gembiro untuk mencari ikan (1/11). Foto: Eva Abdullah Read more

Mayat ditemukan di Ponolawen Kesesi

Kesesi, Wartadesa. - Sesosok mayat ditemukan di Desa Ponolawen Kecamatan Kesesi Kabupaten Pekalongan pagi tadi, Selasa (8/11). Korban ditemukan subuh, Read more

Baru beli motor, Sumarti diduga dibegal

Pembunuhan pensiunan guru di Ponolawen Kesesi, Wartadesa. - Kasus penemuan mayat di Ponolawen Kecamatan Kesesi Kabupaten Pekalongan masih menyisakan kisah Read more

Polisi kantongi nama tersangka pembunuhan Kesesi

Kesesi, Wartadesa. - Pihak Polres Kajen telah mengantongi nama tersangka pembunuhan pensiunan guru Desa Sidosari Kecamatan Kesesi Kabupaten Pekalongan. Demikian Read more

selengkapnya
Layanan Publik

Tumpahan Solar di Jalan Sidamulya Kandangserang: Puluhan Pengendara Terjatuh, Warga Turun Tangan

Selection_001

KANDANGSERANG, WARTADESA – Insiden tumpahan bahan bakar jenis solar terjadi di ruas Jalan Sidamulya, Desa Bojongkoneng, Kecamatan Kandangserang pada Senin pagi (20/4/2026). Kejadian ini mengakibatkan akses jalan menjadi sangat licin dan memicu rentetan kecelakaan bagi para pengguna jalan.

Kronologi dan Dampak Kejadian

Tumpahan solar yang membasahi aspal di jalur menurun tersebut memakan banyak korban, terutama pengendara sepeda motor. Berdasarkan pantauan di lapangan, korban berasal dari berbagai kalangan yang tengah memulai aktivitas pagi, mulai dari warga setempat, pelajar, hingga guru.

Diduga kuat, ceceran solar tersebut berasal dari kendaraan rombongan grup wayang yang melintas usai menggelar pertunjukan. Kendaraan tersebut diketahui membawa mesin genset yang diduga mengalami kebocoran, sehingga solar tumpah tanpa disadari di sepanjang jalan.

Aksi Cepat Warga

Kondisi jalan yang beraspal dan menurun membuat cairan solar cepat menyebar, meningkatkan risiko fatalitas. Melihat banyaknya pengendara yang tergelincir, warga sekitar berinisiatif melakukan penanganan darurat.

“Banyak yang jatuh, terutama anak sekolah. Kami langsung berinisiatif menaburkan bubuk kayu di sepanjang titik yang terkena solar agar tidak terlalu licin,” ujar salah satu warga di lokasi.

Taburan bubuk kayu tersebut diharapkan dapat menyerap cairan solar sehingga daya cengkeram ban kendaraan kembali normal.

Imbauan Bagi Pengguna Jalan

Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai total jumlah korban luka maupun langkah hukum terhadap pihak pemilik kendaraan. Namun, masyarakat yang hendak melintasi jalur Sidamulya diimbau untuk tetap waspada dan mengurangi kecepatan, mengingat proses pembersihan jalan masih berlangsung secara swadaya.

Peristiwa ini menjadi peringatan keras bagi para pemilik kendaraan, khususnya yang mengangkut peralatan berat atau bahan bakar, untuk selalu memastikan kelaikan kendaraan demi keselamatan bersama di jalan raya.

Laporan: Andi Purwandi

Terkait
Menikmati golden sunrise di bukit Pawuluhan Kandangserang

Wartadesa. - Satu lagi tempat wisata di Kabupaten Pekalongan yang menarik untuk dikunjungi yaitu bukit Pawuluhan Kecamatan Kandangserang Kabupaten Pekalongan Read more

Longsor, Desa Wangkelang Kandangserang terisolasi

Kandangserang, Wartadesa. - Longsor yang terjadi di Desa Wangkelang Kecamatan Kandangserang Kabupaten Pekalongan akibat dari hujan deras kemarin menjadikan Desa Read more

Warga Lambur edarkan ‘kardus’ donasi untuk korban kebakaran

Kandangserang, Wartadesa. - Warga Desa Lambur Kecamatan Kandangserang Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah mengedarkan kardus bertuliskan 'Mohon Bantuan Kebakaran Lambur" di Read more

Besok buruh konveksi di wilayah ini libur

Kedungwuni, Wartadesa. - Selasa (21/11) besok, buruh konveksi di wilayah Pandanarum, Wuled, Ngalian Tirto, Karangjati Wiradesa, Tangkiltengah, Tangkilkulon Kedungwuni libur, Read more

selengkapnya
Hukum & KriminalKesehatanLayanan Publik

Diserbu Ribuan Lalat, Warga Jambangan Desak Pemilik Kandang Ayam Jaga Kebersihan Lingkungan

template berita foto warta desa(2)

PEKALONGAN, WARTADESA. – Warga Dukuh Jambangan, Desa Batursari, Kecamatan Talun, akhirnya bernapas lega setelah keluhan mereka terkait serbuan lalat yang meresahkan mendapat respons. Ribuan lalat yang diduga berasal dari kandang ayam petelur di lingkungan mereka kini menjadi sorotan tajam setelah warga melaporkan gangguan tersebut pada Jumat (17/4/2026).

Keresahan warga dipicu oleh populasi sekitar 9.000 ekor ayam milik Harjo yang kotorannya jarang dibersihkan. Akibatnya, pemukiman warga dikepung lalat hingga mengganggu kenyamanan dan kesehatan lingkungan.

Merespons kondisi tersebut, Kapolsek Talun, Heru Santoso, bersama jajaran kepolisian dan Kepala Desa Batursari, Titik Sumarlin, turun langsung ke lokasi untuk memfasilitasi mediasi antara warga dan pemilik kandang.

Dalam pertemuan yang digelar di rumah salah satu warga bernama Subiyanto alias Kasbek, terungkap bahwa sumber utama masalah adalah keterlambatan pembersihan kotoran ayam yang memicu ledakan populasi lalat.

Warga Beri Peringatan Keras

Meski mediasi berakhir dengan kesepakatan musyawarah, warga Jambangan memberikan catatan tegas. Pasalnya, persoalan serupa ternyata pernah terjadi pada Desember 2025 lalu.

Warga menegaskan tidak berniat menghalangi orang mencari rezeki melalui usaha peternakan. Namun, mereka menuntut hak atas lingkungan yang bersih dan sehat dipenuhi. Jika gangguan lalat kembali terulang di masa mendatang, warga tidak segan-segan meminta agar usaha kandang ayam tersebut ditutup permanen.

Pemilik Kandang Janji Benahi Kebersihan

Menanggapi tuntutan warga, pemilik kandang menyatakan kesanggupannya untuk melakukan pembenahan total, di antaranya:

  • Pembersihan Rutin: Menjamin pembersihan kotoran ayam setiap empat hari hingga maksimal satu minggu sekali.

  • Tambah Personel: Menambah dua karyawan khusus yang fokus menangani kebersihan kandang.

  • Penyemprotan: Melakukan penyemprotan obat pembasmi lalat secara berkala di area peternakan.

Kapolsek Talun, Heru Santoso, menegaskan bahwa kehadiran petugas bertujuan untuk memastikan aspirasi masyarakat didengar dan dicarikan jalan keluar secara dialogis guna menjaga kondusifitas wilayah.

Warga kini berharap komitmen yang tertuang dalam kesepakatan tersebut benar-benar dijalankan, sehingga kenyamanan di Dukuh Jambangan tidak lagi terusik oleh bau dan serbuan lalat. (,*.)

Terkait
GP Ansor Kab. Pekalongan serukan warga tak ikut demo

GP Ansor Kab. Pekalongan menghimbau agar warga NU Kab. Pekalongan tidak ikut-ikutan melakukan aksi demo ke Jakarta tanggal 4 Nopember Read more

Operasi Zebra akan digelar serentak November ini

Pekalongan, Wartadesa. - Seluruh jajaran Polsek, Polres dan Polda di Indonesia akan menggelar operasi zebra, terhitung mulai tanggal 16 hingga Read more

Awas penipuan berkedok pengiriman data guru

Pekalongan, Wartadesa. Hati-hati terhadap email yang dikirim dari Hamid Muhammad dengan alamat email humasdikdasmen@gmail.com, email  berupa permintaan data guru dan Read more

Mayat ditemukan di Ponolawen Kesesi

Kesesi, Wartadesa. - Sesosok mayat ditemukan di Desa Ponolawen Kecamatan Kesesi Kabupaten Pekalongan pagi tadi, Selasa (8/11). Korban ditemukan subuh, Read more

selengkapnya
Layanan Publik

Gelagar Patah dan Amblas 30 CM, Jembatan Sitanggal Brebes Ancam Keselamatan Pengendara

template berita foto warta desa

BREBES, WARTADESA – Kondisi infrastruktur di jalur provinsi yang menghubungkan Jatibarang-Ketanggungan kini dalam status darurat. Jembatan yang berlokasi di Desa Sitanggal, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, mengalami kerusakan parah berupa gelagar patah yang menyebabkan badan jalan amblas sedalam 30 sentimeter.

Pantauan di lokasi pada Sabtu (18/4/2026) menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Para pengendara, khususnya roda dua, harus ekstra waspada saat melintas. Kerusakan ini disinyalir terjadi akibat beban berlebih dari kendaraan berat yang sempat dialihkan ke jalur ini selama proses perbaikan jalan nasional Ketanggungan-Purwokerto beberapa bulan lalu.

Sistem Buka-Tutup dan Inisiatif Warga

Akibat kerusakan tersebut, arus lalu lintas di atas jembatan terpaksa dibatasi. Kendaraan berat kini hanya bisa melintas di lajur sisi utara secara bergantian.

  • Rekayasa Lintas: Diberlakukan sistem buka-tutup untuk menghindari beban berlebih yang berisiko merobohkan jembatan.

  • Peran Masyarakat: Warga setempat berinisiatif mengatur lalu lintas secara swadaya demi mencegah kemacetan panjang dan kecelakaan.

Keluhan Pengendara: “Lamban dan Memakan Korban”

Kritik tajam datang dari para pengguna jalan yang menilai Pemerintah Provinsi Jawa Tengah lamban dalam menangani kerusakan permanen. Salah seorang pengendara, Untung, mengungkapkan bahwa lokasi tersebut sering memakan korban.

“Jembatan amblas dan penerangan minim di malam hari sering memicu kecelakaan. Sudah beberapa kali ada yang jatuh di sini,” ujar Untung, Sabtu (18/4).

Hal senada disampaikan Kholidin (42). Ia menyebutkan bahwa meski tim dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) Jawa Tengah sudah melakukan survei, aksi nyata di lapangan belum terlihat. “Sudah lama disurvei, tapi sampai sekarang tidak ada penanganan. Lamban sekali, padahal amblasnya sudah 30 cm. Kalau yang tidak tahu medan pasti celaka,” tandasnya.

Hanya Tambal Sulam

Sebelumnya, pihak Bina Marga Provinsi Jawa Tengah sempat melakukan intervensi beberapa pekan lalu. Namun, penanganan tersebut dinilai hanya sebatas tambal sulam aspal pada lubang-lubang di permukaan, tanpa menyentuh akar permasalahan yakni struktur gelagar yang sudah patah.

Secara teknis, jembatan ini seharusnya memerlukan rehabilitasi total atau minimal rehabilitasi sebagian pada struktur bawahnya. Namun, mengingat waktu yang semakin mendekati arus mudik Lebaran, perbaikan menyeluruh diprediksi tidak akan cukup waktu.

Warga kini mendesak adanya penanganan darurat yang lebih kokoh serta rekayasa lalu lintas yang lebih formal dari pihak terkait untuk menjamin keselamatan warga sebelum jatuh lebih banyak korban. (*.*)

Sumber: radartegal

Terkait
Besok buruh konveksi di wilayah ini libur

Kedungwuni, Wartadesa. - Selasa (21/11) besok, buruh konveksi di wilayah Pandanarum, Wuled, Ngalian Tirto, Karangjati Wiradesa, Tangkiltengah, Tangkilkulon Kedungwuni libur, Read more

Warga: Kalau bikin SIM Jangan dipersulit

Kajen, Wartadesa. - Surat Ijin Mengemudi (SIM) bagi warga Kota Santri sudah menjadi barang penting. Mereka menganggap bahwa surat-surat kendaraan, Read more

Meski UMR Kota Santri Naik, namun belum penuhi KHL

Kedungwuni, Wartadesa. - Naiknya Upah Minumum Regional (UMR) Kota Santri dari sebelumnya Rp. 1.583.697 menjadi Rp. 1.721.637 atau naik sebesar Read more

Wisatawan keluhkan sampah di Pantai Widuri

Pemalang, Wartadesa. - Kondisi Pantai Widuri di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah yang penuh dengan sampah dan kotoran manusia dikeluhkan oleh Read more

selengkapnya
Layanan Publik

Mobil Listrik vs Jalan “Bopeng”: Menakar Empati Pemkab Pemalang di Tengah Jeritan Akar Rumput

template berita foto warta desa

PEMALANG, WARTADESA. – Rencana pengadaan mobil listrik untuk pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Pemalang kini tengah menjadi sorotan tajam. Kebijakan yang diklaim demi “efisiensi” ini dianggap kontras dengan realitas infrastruktur jalan kabupaten yang masih dipenuhi lubang dan keluhan warga yang tak kunjung usai.

Narasi Efisiensi vs Realitas Lapangan

Bupati Pemalang, Anom Widiyantoro, menegaskan bahwa pengadaan ini bukan sekadar gaya hidup, melainkan langkah transisi energi.

“Penggunaan mobil listrik ini untuk penghematan energi dan biaya operasional. Ke depan, penggunaan bahan bakar fosil diarahkan beralih ke energi listrik,” ujarnya, Rabu (15/4/2026).

Namun, klaim efisiensi ini terasa “hambar” di telinga warga yang setiap hari harus bertaruh nyawa di jalanan rusak. Jika anggaran tersedia untuk unit kendaraan listrik baru yang harganya mencapai ratusan juta rupiah per unit, mengapa perbaikan jalan terasa sangat lambat?

Jejak Jalan Rusak: Dari Viral hingga Janji yang Ditagih

Kondisi infrastruktur di Pemalang memang sedang dalam fase kritis. Berdasarkan data dan pantauan terkini:

  • Media Lokal: Laporan dari Mediakita.co mencatat bahwa Pemkab Pemalang memang merencanakan perbaikan pada 103 ruas jalan di tahun 2026. Namun, realisasi di lapangan seringkali dianggap terlambat. Ruas jalan seperti Bumirejo – Ulujami dikabarkan sempat mengalami kerusakan kembali meski baru saja diperbaiki (Erapos).

  • Keluhan Media Sosial: Di jagat maya, kritik masyarakat semakin pedas. Melalui akun TikTok @wongrivew_17 dan berbagai grup Facebook warga Pemalang, netizen terus menagih janji kampanye “Jalan Halus Merata”. Warga desa seperti Nyamplungsari, Kecamatan Petarukan, secara terbuka mengeluhkan jalan yang rusak parah dan membahayakan pengguna jalan (Mattaneews).

  • Aksi Simbolik: Memori publik juga masih segar dengan aksi protes unik seniman lokal yang menggelar “konser musik” di tengah kubangan jalan sebagai bentuk sindiran atas lambannya penanganan infrastruktur (Detikcom).

Kritik Efisiensi: Mewah di Atas, Perih di Bawah

Pengadaan mobil listrik di saat infrastruktur dasar belum mumpuni memicu tiga kritik utama terkait efisiensi:

  1. Prioritas Anggaran: Biaya pengadaan satu mobil listrik bisa setara dengan pengaspalan ratusan meter jalan desa. Bagi rakyat, manfaat jalan mulus jauh lebih terasa secara ekonomi dibanding penghematan bensin mobil dinas.

  2. Kecocokan Medan: Mobil listrik dengan profil rendah berisiko tinggi jika dipaksa melintasi jalanan kabupaten yang masih berlubang dan rawan genangan air/rob di wilayah utara.

  3. Beban Baru: Pembangunan infrastruktur pengisian daya (SPKLU) di kantor pemerintahan justru akan menambah pos pengeluaran baru yang tidak sedikit.

Kesimpulan: Dahulukan Hak Rakyat

Transformasi energi memang penting, namun empati terhadap kondisi ekonomi masyarakat jauh lebih mendesak. Rakyat Pemalang tidak butuh melihat pejabatnya meluncur senyap tanpa suara mesin; mereka butuh berkendara dengan tenang tanpa rasa takut terperosok lubang.

Publik kini menunggu: apakah Pemkab akan tetap melaju dengan kemewahan listriknya, atau memilih menginjak rem sejenak untuk memastikan roda ekonomi rakyat di tingkat akar rumput bisa berputar lebih lancar di atas jalan yang mulus? (Redaksi)

Terkait
Warga Pemalang jadi korban pembunuhan sadis di Pulomas

Bantarbolang, Wartadesa. - Sugianto (48), warga Desa Pegiringan Kecamatan Bantarbolang Kabupaten Pemalang turut menjadi korban pembunuhan sadis di Jl Pulomas Utara Read more

Warga buka segel kantor Desa Ampelgading

Dampak warga tuntut dua oknum perangkat desa dipecat Pemalang, Wartadesa. - Kapolsek Ampelgading, AKP Heriyadi Noor bersama Camat, Kepala Desa dan Read more

Protes jalan rusak, warga tanam drum

Sragi, Wartadesa. - Ada pemandangan yang berbeda ketika lewat Jalan Kalijambe-Sragi Kecamatan Sragi Kabupaten Pekalongan. Kalau biasanya pemandangan 'obyek wisata Read more

Pengembang tol sepakati perbaikan jalan secara tambal sulam

Kajen, Wartadesa. - Pengembang jalan tol ruas Pemalang-Batang  sepakat untuk memperbaiki jalan yang rusak akibat mobilisasi dump-truck pembangunan jalan tol Read more

selengkapnya
KesehatanLayanan Publik

Medan Ekstrem dan Jalan Rusak Warnai Perjuangan Petugas PMI Antar Jenazah ke Trajumas

template berita foto warta desa(2)

Kandangserang, Pekalongan, Warta Desa.  — Dedikasi tanpa batas kembali ditunjukkan oleh petugas Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Pekalongan. Dalam sebuah misi kemanusiaan baru-baru ini, petugas harus berjibaku melawan medan ekstrem demi mengantarkan jenazah menuju Desa Trajumas, Kecamatan Kandangserang.

Bukan sekadar jarak, tantangan utama yang dihadapi adalah infrastruktur jalan yang rusak parah serta kondisi geografis yang didominasi tanjakan dan turunan curam.

Akses Terputus: Jembatan Rusak dan Jalan Berlubang

Kondisi jalur penghubung antara Desa Sukoharjo dan Desa Trajumas dilaporkan sangat memprihatinkan. Berikut adalah beberapa poin utama yang menjadi kendala di lapangan:

  • Jalan Utama Rusak Parah: Aspal yang mengelupas meninggalkan lubang dalam dan kondisi jalan yang licin, terutama saat diguyur hujan.

  • Lumpuhnya Jembatan Kali Jamban: Jembatan vital ini merupakan akses satu-satunya yang menghubungkan Sukoharjo dan Trajumas. Saat ini, kondisinya dianggap tidak lagi layak dan membahayakan keselamatan pelintas.

  • Upaya Swadaya Terbatas: Meski warga sempat bergotong-royong memperbaiki jalan secara mandiri, keterbatasan dana membuat hasil perbaikan tidak bertahan lama.

Harapan Warga dan Keselamatan Pelajar

Keluhan mengenai buruknya akses jalan ini bukan tanpa alasan. Selain menghambat layanan darurat seperti ambulans PMI, jalur ini merupakan urat nadi bagi aktivitas pendidikan di wilayah tersebut.

“Kami berharap pemerintah segera membangun jalan dan jembatan ini dengan layak. Jalur ini setiap hari dilalui siswa-siswi kami untuk berangkat dan pulang sekolah,” ujar Ridho, salah satu perangkat Desa Trajumas.

Ia menekankan bahwa perbaikan infrastruktur harus segera dilakukan secara konkret oleh pemerintah daerah untuk mencegah terjadinya kecelakaan yang tidak diinginkan di masa depan.

Urgensi Infrastruktur Layak

Peristiwa pengantaran jenazah oleh PMI ini menjadi pengingat nyata bahwa infrastruktur yang memadai adalah kebutuhan mendasar, bukan sekadar fasilitas penunjang. Bagi warga Trajumas, jalan yang layak adalah soal keselamatan, akses kesehatan, dan masa depan generasi muda.

Hingga berita ini diturunkan, masyarakat Desa Trajumas masih menaruh harapan besar agar dinas terkait segera turun tangan melakukan perbaikan menyeluruh pada akses jalan dan Jembatan Kali Jamban. (Andi Purwandi)

Terkait
Warga Desa Menjangan Ditemukan Meninggal di Belakang Rumah, Diduga Jatuh Saat Petik Nangka

Wartadesa. Seorang warga Desa Menjangan, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan, ditemukan meninggal dunia di area belakang rumahnya, Minggu (07/09/2025) siang. Korban Read more

BPJS/KIS Mendadak Nonaktif, Pasien di Puskesmas Kandangserang Mengeluh Kesulitan Biaya Berobat

PEKALONGAN, WartaDesa – Sejumlah warga di wilayah Kecamatan Kandangserang, Kabupaten Pekalongan, mengeluhkan status kepesertaan BPJS Kesehatan/Kartu Indonesia Sehat (KIS) mereka Read more

Jelang Ramadan, Harga “Cabai Setan” di Pasar Kandangserang Tembus Rp100.000/Kg

WARTA DESA, KANDANGSERANG, PEKALONGAN – Memasuki pertengahan Februari 2026, warga di wilayah pegunungan Kabupaten Pekalongan mulai mengeluhkan lonjakan harga kebutuhan Read more

Musrenbangcam Kandangserang 2026: Rakyat Bosan Janji, Tuntut Perbaikan Jalan Desa Trajumas yang Terabaikan

WARTA DESA, KANDANGSERANG, PEKALONGAN – Pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kecamatan (Musrenbangcam) Kandangserang untuk tahun anggaran 2026 yang digelar Rabu (11/2), Read more

selengkapnya
Layanan Publik

Kecewa Jalan Rusak Tak Kunjung Diperbaiki, Warga Karangjati Tanam Pohon Pisang dan Sindir “Kolam Pancing”

template berita foto warta desa(3)

WIRADESA, WARTA DESA. – Aksi protes unik sekaligus memprihatinkan dilakukan oleh warga Desa Karangjati, Kecamatan Wiradesa pada Senin, 6 April 2026. Sebagai bentuk luapan kekecewaan atas kondisi infrastruktur yang terbengkalai, sejumlah warga nekat menanami lubang-lubang di jalan rusak dengan pohon pisang. Langkah ini diambil bukan tanpa alasan, melainkan sebagai peringatan visual bagi para pengguna jalan sekaligus sindiran keras kepada pihak berwenang.

Kondisi jalan yang rusak parah di wilayah tersebut dinilai sudah pada tahap membahayakan. Menurut penuturan warga sekitar, lubang-lubang besar yang menghiasi jalan seringkali menjadi penyebab utama kecelakaan, khususnya bagi pengendara sepeda motor yang melintas, terlebih saat hujan turun dan lubang tertutup genangan air.

Rohim, salah satu warga Desa Karangjati yang ikut dalam aksi tersebut, mengungkapkan bahwa penanaman pohon pisang ini bertujuan agar titik-titik kerusakan terlihat jelas oleh pengendara sehingga mereka tidak terjatuh. Ia menegaskan bahwa aksi ini dipicu oleh rasa jengah karena kerusakan jalan tersebut tak kunjung mendapat perhatian serius dari pemerintah, meski kecelakaan terus terjadi berulang kali di lokasi yang sama.

Kekecewaan warga tidak hanya ditujukan kepada pemerintah daerah, tetapi juga menyasar kinerja Pemerintah Desa Karangjati serta para wakil rakyat di DPRD. Rohim secara terbuka melontarkan kritik kepada anggota dewan, termasuk dari Fraksi PKB dan PPP yang berasal dari daerah pemilihan setempat, karena dinilai belum memberikan solusi nyata bagi konstituennya. Sebagai bentuk sindiran tambahan, warga juga menuliskan kata “kolam pancing” di sekitar lokasi kerusakan untuk menggambarkan betapa dalamnya lubang yang tergenang air tersebut.

Melalui aksi protes ini, masyarakat Desa Karangjati menuntut adanya tindakan nyata dan cepat dari pihak terkait. Mereka berharap pemerintah tidak menunggu jatuhnya korban jiwa lebih banyak lagi sebelum memutuskan untuk melakukan perbaikan. Keamanan dan keselamatan pengguna jalan harus menjadi prioritas utama agar mobilitas warga dapat kembali berjalan dengan normal dan tanpa rasa takut akan kecelakaan.

Pewarta: Andi Purwandi

Editor: Buono

Terkait
Gerimis warnai bukaan Gembiro

Ngiyup. Warga yang memadati bukaan bendung Gembiro terlihat berteduh karena gerimis. (1/11). Foto: Eva Abdullah Ajis/wartadesa Read more

Kebakaran di Binagriya hanguskan rumah

Pekalongan Barat, Wartadesa. -Rumah Rofi yang berada di Jalan Pesona Raya No. 510-511 komplek perumahan Bina Griya, Pekalongan Barat, hangus Read more

Desa bersih akan diberi tambahan ADD 10 persen

Kajen, Wartadesa. - Bagi desa-desa/kelurahan di Kabupaten Pekalongan dengan kondisi lingkungan yang bersih, Bupati akan memberikan penghargaan berupa penambahan 10 Read more

Kunci sukses UPK, bangun komunikasi dan saling percaya

Kedungwuni, Wartadesa. - Suksesnya program pinjaman bergulir tanpa agunan bagi warga miskin di Desa Tangkilkulon Kecamatan Kedungwuni Kabupaten Pekalongan ternyata Read more

selengkapnya