close

Layanan Publik

EkonomiLayanan Publik

RTM bibit ayam bakal peroleh kambing, bila berhasil

pitik

Batang, Wartadesa. –  Rumah tangga miskin (RTM) di Kabupaten Batang yang menerima bantuan bibit ayam (DOC–day of chicken) yang berhasil mengembangkan usahanya, akan mendapatkan hadiah (reward) berupa kambing.  Demikian disampaikan Bupati Batang, Wihaji dalam pembukaan bimbingan teknis Kampung Unggulan Balitbangtan di Desa Soka, Kecamatan Bawang, Batang, Senin (02/09).

“Bantuan bibit ayam kita harapkan bisa sukses mencapai 80%. Untuk 5 bulan kedepan, akan kita pilih 3 RTM yang hasil ternaknya bagus akan mendapatkan Kambing,” kata Wihaji dalam sambutannya.

Menurut Wihaji,  ada 2 kecamatan yang menerima bantuan bibit ayam, yakni Bawang dan Reban, dengan total bantuanya mencapai 22 milyar berupa DOC (day old chicken), pakan 5 sak dan kandang permanen serta vaksinasi.

Wihaji meminta agar bantuan yang diberikan pemerintah tidak dijual. “Saya ingin tahu program dilaksanakan dengan serius, jangan sampai curang, laporkan kebeberhasilan yang nyata dan jangan ada rekayasa,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Paska Panen Kementerian Pertanian, Proyadi Syamsuri mengatakan, program Bekerja (Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera) bertujuan untuk melepaskan kemiskinan di pedesaan dengan bertenak ayam.

Diketahui, Kementrian Pertanian dalam melaksanakan program Bekerja di seluruh Indonesia ada 1 juta penerima RTM, dan di Kabupaten Batang hanya dua Kecamatan yakni Bawang dan Reban.

Proyadi mengatakan bahwa RTM akan mendapatkan 50 ekor pitik (anak ayam) yang brumur satu hari, pakan sebanyak 50 Kg untuk lima lima bulan dan bantuan kandang yang diuangkan dengan nominal Rp. 500 ribu.

“Jumlah total penerima di Kabupaten Batang sejumlah 7519 RTM untuk Kecamatan Bawang ada 20 desa dengan jumlah penerima 3461 RTM dan Kecamatan Reban 19 Desa total penerima 4058 RTM namuan baru 1500 RTM yang menerima, bantuan tersebut telah diseleksi oleh pendamping PKH, PPL, TKSK, dan Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan Kabupaten Batang,” pungkas Proyadi. (Humas Pemkab Batang)

selengkapnya
Layanan PublikLingkungan

Pemkab Pekalongan hentikan pendirian sumur dalam

pamsimas

Kajen, Wartadesa. – Pemerintah Kota Santri bakal menghentikan penambahan sumur dalam baru di Kabupaten Pekalongan. Sumur dalam ditengarai sebagai penyebab merosotnya muka air tanah di Pekalongan. Berdasarkan hasil penelitian Institut Teknologi Bandung (ITB) Pekalongan mengalami penurunan tanah rata-rata 10-20 centimeter pertahun.

Kasubbid Infrastruktur Bapppeda dan Litbang Kabupaten Pekalongan, Ismail, Rabu (28/08) kemarin mengungkapkan bahwa penurunan muka tanah di Pekalongan terjadi lantaran eksploitasi air tanah dengan maraknya sumur bor.

“Penyebabnya adalah eksploitasi air tanah dalam dengan banyaknya sumur bor. Kemudian jenis tanah di wilayah pesisir, yakni tanah jenis aluvial,tanah jenis ini tergolong berusia muda karena terbentuk dari proses sedimentasi sungai selama ratusan tahun, sehingga strukturnya belum kuat atau matang,” ujar Ismail.

Ismail tidak menepis bahwa di Kota Santri, sumur dalam (sumur bor) terbanyak dari PDAM Kota Pekalongan yang berada di Kabupaten Pekalongan dan sumur bor Program Pamsimas. Diketahui, program Pamsimas ini dilakukan di banyak desa/kelurahan di Kabupaten Pekalongan.

“Regenerasi air dalam ini tidak mudah, lama ngisinya lagi, maka growong. Selain tadi tanah baru dan growong, sehingga terjadi penurunan tanah.Guna menekan laju penurunan tanah pemkab akan menghentikan (moratorium) pembangunan sumur dalam baru, sehingga ke depannya jumlah sumur dalam tidak terus bertambah,” lanjut Ismail.

Ismail menyebut bahwa kewenangan penghentian pendirian sumur dalam, saat ini berada di ESDM Provinsi Jawa Tengah. Jika Kota Santri ingin menutup ijin pendirian sumur dalam baru, berarti pihaknya harus menyediakan sumur permukaan berupa waduk untuk warga pesisir.

“Saya berkali-kali soundingkan agar Kabupaten Pekalongan dibantu untuk didibangunkan waduk atau bendungan yang besar,karena ketika musim penghujan yaitu bulan november sampai april debit air disungai luar biasa dan terbuang begitu saja ke laut,sedangkan mei sampai november sangat minim,untuk irigasi saja kekurangan apalagi untuk air minum,”ungkapnya.

Namun, menurut Ismail, untuk membangun waduk, Kabupaten Pekalongan tehambat oleh kondisi keuangan.  “Namun,kondisi fiskal kita kurang memungkinkan karena mungkin butuh bertriliyun-triliyun.Kalau sumur resapan kurang begitu ngefek sebetulnya karena sumur resapan hanya beberapa meter, untuk mengisi air dalam harus meresapnya dihulu kalau ada waduk dihulu bisa meresap.ada beberapa ahli mengatakan bahwa kalau sumur resapan dipesisir kurang begitu ngefek karena tanahnya saja sudah jenuh,” tandas Ismail. (Eva Abdullah/Redaksi)

Berita terkait:

Jika tidak segera diatasi Pekalongan akan alami krisis air bawah

Pembangunan tanggul raksasa jadi solusi sementara tanggulangi rob

 

selengkapnya
Layanan PublikSosial Budaya

Jalur satu arah Jalan Sutomo dan Katamso Batang dicabut

tolak satu arah

Batang, Wartadesa. – Aksi penolakan kebijakan sistem satu arah di beberapa ruas jalan oleh warga Kabupaten Batang, membuat Pemkab setempat menghapus aturan tersebut di ruas jalan Dr. Sutomo dan jalan Brigjen Katamso.

“Ya, benar. Pemkab Batang melalui Dishub sudah mengeluarkan surat pernyataan, bahwasannya penerapan SSA (sistem satu arah) di Jalur Brigjen Katamso telah dicabut,” ungkap Bupati Batang, Wihaji, Jumat (23/08).

Penghapusan SSA ruas jalan Dr Sutomo dengan mempertimbangkan akses ke RSUD Kalisari, sementara pencabutan SSA di Brigjen Katamso lantaran maraknya aksi penolakan warga dengan beragam spanduk yang dipasang.

Diberitakan Warta Desa kemarin, Bupati Batang, Wihaji akan mengkaji ulang dan melakukan evaluasi terkait penerapan jalur satu arah di beberapa ruas jalan di Kota Berkembang, setelah sebelumnya, sejak 9 Agustus 2019 aksi penolakan warga terhadap kebijakan tersebut gencar digaungkan di media sosial. Terakhir, dua hari lalu, warga memasang beberapa spanduk penolakan penerapan jalur satu arah, di beberapa titik.

“Penetapan sistem satu arah masih dalam uji coba, jadi kita sangat terbuka dengan kritik dan saran. Kalaupun hari ini (kemarin–red) ada spanduk penolakan sistem satu arah tidak ada masalah , karena ini bagian dari aspirasi masyarakat yang tentunya kita tanggapi dan evalusi.” Ujar Bupati Batang, Wihaji (23/08).

Menurut Wihaji, penerapan sistem satu arah telah melewati berkali-kali kajian dan rapat, jika dianggap warga belum diperlukan, pihaknya siap untuk mencabut aturan tersebut. “Sistem satu arah sudah melalui kajian dan berkali-kali kita rapatkan, namun barangkali belum signifikan yo akan kita cabut kembali,”  lanjutnya.

Menurut Wihaji, tujuan diterapkannya sistem satu arah, merupakan upaya untuk menertibkan pengguna jalan yang melewati ruas jalan dan mengenalkan pusat wisata perkotaan, kuliner dan aktivitas khusus lainnya.

Diketahui ruas jalan yang diberlakukan sistem satu arah meliputi,  Jalan Diponegoro, Jalan A. Yani (dari rumah dinas Bupati ke arah Utara seperti kondisi eksisting ditambah ke arah Selatan sampai perempatan bersinyal Ahmad Dahlan-A.yani-Wahid Hasyim).

Selanjutnya, ruas jalan Ahmad Dahlan (ke arah timur sampai simpang 3 Ahmad Dahlan-Brigjend. Katamso). Ruas jalan Brigjend Katamso (ke arah Utara sampai Kantor Cabang BRI batang), ruas jalan Dr. Soetomo (perempatan bersinyal RSUD Batang sampai simpang 4 bersinyal Kalisari).

Khusus Pada ruas jalan Ahmad Dahlan mulai pukul 16.00-24.00  WIB ada Pandawa street food, lalu lintas dari ruas Jalan Gajahmada dilarang masuk ke ruas Jalan Ahmad Dahlan.

Diberitakan Warta Desa sebelumnya, rencana Pemkab Batang untuk menerapkan ruas satu arah bagi pengguna jalan di Jalan Diponegoro,   Ahmad Yani, Ahmad Dahlan, Brigjend Katamso, Dr. Soetomo menuai polemik dikalangan warganet Batang. Menurut warga, kebijakan (penerapan satu arah) tersebut belum perlu diterapkan di Kota Berkembang saat ini.

Diketahui, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Batang Murdiono, Kamis (08/08) mengumumkan uji coba jalur satu arah pada ruas tersebut diatas. Menurutnya, dengan sistem satu arah, pengguna jalan akan melewati ruas jalan yang ditata pemerintah secara khusus sebagai pengenalan kepada pengguna jalan seperti pusat wisata perkotaan, kuliner dan aktivitas khusus lainnya.

Penerapan jalur satu arah dilakukan pada  jalan Diponegoro, jalan A. Yani, Jalan Ahmad Dahlan, jalan Brigjend Katamso, Jalan Dr. Soetomo. Khusus di Jalan Ahmad Dahlan mulai pukul 16.00-24.00 ada pandawa street food. Sehingga lalu lintas dari ruas jalan Gajahmada dilarang masuk ke Jalan Ahmad Dahlan.

“Uji coba penerapan sistem dimulai hari Jumat tanggal 9 Agustus 2019 Pukul 06.00 WIB,” tutur Murdiono.

Kontan saja, pengumuman tersebut menuai banyak kecaman dikalangan warga Batang. Mereka meluapkan ketidak setujuannya pada grup media sosial maupun pada postingan pribadi mereka.

Seperti diungkapkan oleh Sri Marti Ny, pada laman grup media sosial Pigura Warga Batang. Menurutnya kebijakan tersebut membuat warga tidak nyaman, lantaran rute yang ditempuh warga ‘mbulet’ (berputar-putar).

“Kebijakan itu dibuat agar kita nyaman pak,,,, ini kita dah nyaman kok mau di buat gak nyaman,,,, rutene mbulet, sebagai gojek dan mungkin pengguna jalan lainnya,,saran saya mending jl yos ke selatan setelah rel kereta satu ke arah kiri/timur,,karena pas di lampu merah toko yok selalu bentur yg dari barat,,mohon di loloskan min,” tulis Sri Marti Ny, 7 Agustus pukul 11.42 WIB.

Warganet lainnya, Ellena Sahara, mengungkapkan bahwa seharusnya kebijakan tersebut melibatkan warga dan tidak tepat diterapkan di Batang yang notabene merupakan kota kecil yang tidak mengalami kemacetan.

“Nk sdo didemo ae..moso gwe aturan ora di pikir ndisek..mentingke awak.e dwe tok..ora mikirke rakyate nk koyo kui..sg di tiru kota sg gedi….sisan ae kae jl pemuda di gwe 1 arah ngidul kabeh…mgko nk yen wong sg wisata ng pagilaran men raiso bali….,” tulis Ellena Sahara.

Menurut Ellena, kebijakan Pemkab Batang tersebut merupakan ‘test case‘ untuk melihat respon warga Batang. “Mungkin itu hanya semacam test public aja. Disebarkan informasi utk melihat respon dan reaksi publik.. nanti kl pd nolak kan jawabe dr dinas terkait enak… (Ahh itu kan hanya wacana saja), lanjut Ellena.

Ungkapan senada disampaikan Hardian Hdpi dan Nglaras Roso, menurut mereka kondisi di Batang belum macet dan rute yang diujicobakan membingungkan. “Makane kui malah dadi bingungi dan juga masih kondusif jalannya gk macet kyk pekalongan😂😂😂😂,” tulis Hardian.

Pun halnya yang diungkapkan oleh Nglaras Roso, “Emang jalur batang sampun full n macet nopo Njih…. Perasaan jalur full n agak macet itu kalo da acara di alun 2 saja… Selain itu ya aman lancar semua…. Jl gajah mada cenderung lengang,”

Sementara Susan Law menyayangkan ruas jalur ke RSUD Kalisari yang jika diterapkan satu arah akan merepotkan pasien rumah sakit, apalagi dalam kondisi gawat darurat, “sy fokus ke jl dr Sutomo, jalur RSUD harusnya bisa diakses dari semua arah mengingat fungsional IGD,” tulis Susan.

Ramainya perbincangan warganet menolak penerapan jalur satu arah tersebut ditanggapi oleh Humas setempat.

Tanggapan Humas Batang terkait pemberlakuan jalur satu arah di beberapa ruas.

Di jalan Ahmad Dahlan sendiri, nanti malam, Jum’at (09/08) mulai diluncurkan Pandawa Street Food (PSF). Pusat kuliner yang ditata menyerupai Jalan Malioboro Jogjakarta tersebut disulap menjadi panggonan pangananan lan wedangan dengan konsep street food atau berbagai kuliner pinggir jalan dari makanan ringan hingga makanan berat. Tutur Bupati Batang, Wihaji.

Wihaji menambahkan,  Pandawa Street Food akan menjadi pusat kuliner serta pemecah keramaian di Alun-alun Batang. “Kita akan sulap sebagus mungkin, dengan lampu-lampu hias dan ornamen lainnya, beragam sajian kuliner yang menggugah selera dari makanan ringan sampai makanan berat, juga ada permainan anak-anak,” jelas wihaji .

Grand launching akan berlangsung malam nanti mulai pukul 19.30 WIB yang akan dibuka oleh Bupati Batang Wihaji dan akan dimeriahkan dengan tarian tradisional asli Batang, Tari Kalibeluk, serta Pandawa Akustik, dan band lokal lainnya. (Eva Abdullah)

selengkapnya
Layanan PublikSosial Budaya

Ditolak warga, jalur satu arah Batang akan dievaluasi

tolak satu arah

Batang, Wartadesa. – Bupati Batang, Wihaji akan mengkaji ulang dan melakukan evaluasi terkait penerapan jalur satu arah di beberapa ruas jalan di Kota Berkembang, setelah sebelumnya, sejak 9 Agustus 2019 aksi penolakan warga terhadap kebijakan tersebut gencar digaungkan di media sosial. Terakhir, dua hari lalu, warga memasang beberapa spanduk penolakan penerapan jalur satu arah, di beberapa titik.

“Penetapan sistem satu arah masih dalam uji coba, jadi kita sangat terbuka dengan kritik dan saran. Kalaupun hari ini (kemarin–red) ada spanduk penolakan sistem satu arah tidak ada masalah , karena ini bagian dari aspirasi masyarakat yang tentunya kita tanggapi dan evalusi.” Ujar Bupati Batang, Wihaji (23/08).

Menurut Wihaji, penerapan sistem satu arah telah melewati berkali-kali kajian dan rapat, jika dianggap warga belum diperlukan, pihaknya siap untuk mencabut aturan tersebut. “Sistem satu arah sudah melalui kajian dan berkali-kali kita rapatkan, namun barangkali belum signifikan yo akan kita cabut kembali,”  lanjutnya.

Menurut Wihaji, tujuan diterapkannya sistem satu arah, merupakan upaya untuk menertibkan pengguna jalan yang melewati ruas jalan dan mengenalkan pusat wisata perkotaan, kuliner dan aktivitas khusus lainnya.

Diketahui ruas jalan yang diberlakukan sistem satu arah meliputi,  Jalan Diponegoro, Jalan A. Yani (dari rumah dinas Bupati ke arah Utara seperti kondisi eksisting ditambah ke arah Selatan sampai perempatan bersinyal Ahmad Dahlan-A.yani-Wahid Hasyim).

Selanjutnya, ruas jalan Ahmad Dahlan (ke arah timur sampai simpang 3 Ahmad Dahlan-Brigjend. Katamso). Ruas jalan Brigjend Katamso (ke arah Utara sampai Kantor Cabang BRI batang), ruas jalan Dr. Soetomo (perempatan bersinyal RSUD Batang sampai simpang 4 bersinyal Kalisari).

Khusus Pada ruas jalan Ahmad Dahlan mulai pukul 16.00-24.00  WIB ada Pandawa street food, lalu lintas dari ruas Jalan Gajahmada dilarang masuk ke ruas Jalan Ahmad Dahlan.

Diberitakan Warta Desa sebelumnya, rencana Pemkab Batang untuk menerapkan ruas satu arah bagi pengguna jalan di Jalan Diponegoro,   Ahmad Yani, Ahmad Dahlan, Brigjend Katamso, Dr. Soetomo menuai polemik dikalangan warganet Batang. Menurut warga, kebijakan (penerapan satu arah) tersebut belum perlu diterapkan di Kota Berkembang saat ini.

Diketahui, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Batang Murdiono, Kamis (08/08) mengumumkan uji coba jalur satu arah pada ruas tersebut diatas. Menurutnya, dengan sistem satu arah, pengguna jalan akan melewati ruas jalan yang ditata pemerintah secara khusus sebagai pengenalan kepada pengguna jalan seperti pusat wisata perkotaan, kuliner dan aktivitas khusus lainnya.

Penerapan jalur satu arah dilakukan pada  jalan Diponegoro, jalan A. Yani, Jalan Ahmad Dahlan, jalan Brigjend Katamso, Jalan Dr. Soetomo. Khusus di Jalan Ahmad Dahlan mulai pukul 16.00-24.00 ada pandawa street food. Sehingga lalu lintas dari ruas jalan Gajahmada dilarang masuk ke Jalan Ahmad Dahlan.

“Uji coba penerapan sistem dimulai hari Jumat tanggal 9 Agustus 2019 Pukul 06.00 WIB,” tutur Murdiono.

Kontan saja, pengumuman tersebut menuai banyak kecaman dikalangan warga Batang. Mereka meluapkan ketidak setujuannya pada grup media sosial maupun pada postingan pribadi mereka.

Seperti diungkapkan oleh Sri Marti Ny, pada laman grup media sosial Pigura Warga Batang. Menurutnya kebijakan tersebut membuat warga tidak nyaman, lantaran rute yang ditempuh warga ‘mbulet’ (berputar-putar).

“Kebijakan itu dibuat agar kita nyaman pak,,,, ini kita dah nyaman kok mau di buat gak nyaman,,,, rutene mbulet, sebagai gojek dan mungkin pengguna jalan lainnya,,saran saya mending jl yos ke selatan setelah rel kereta satu ke arah kiri/timur,,karena pas di lampu merah toko yok selalu bentur yg dari barat,,mohon di loloskan min,” tulis Sri Marti Ny, 7 Agustus pukul 11.42 WIB.

Warganet lainnya, Ellena Sahara, mengungkapkan bahwa seharusnya kebijakan tersebut melibatkan warga dan tidak tepat diterapkan di Batang yang notabene merupakan kota kecil yang tidak mengalami kemacetan.

“Nk sdo didemo ae..moso gwe aturan ora di pikir ndisek..mentingke awak.e dwe tok..ora mikirke rakyate nk koyo kui..sg di tiru kota sg gedi….sisan ae kae jl pemuda di gwe 1 arah ngidul kabeh…mgko nk yen wong sg wisata ng pagilaran men raiso bali….,” tulis Ellena Sahara.

Menurut Ellena, kebijakan Pemkab Batang tersebut merupakan ‘test case‘ untuk melihat respon warga Batang. “Mungkin itu hanya semacam test public aja. Disebarkan informasi utk melihat respon dan reaksi publik.. nanti kl pd nolak kan jawabe dr dinas terkait enak… (Ahh itu kan hanya wacana saja), lanjut Ellena.

Ungkapan senada disampaikan Hardian Hdpi dan Nglaras Roso, menurut mereka kondisi di Batang belum macet dan rute yang diujicobakan membingungkan. “Makane kui malah dadi bingungi dan juga masih kondusif jalannya gk macet kyk pekalongan😂😂😂😂,” tulis Hardian.

Pun halnya yang diungkapkan oleh Nglaras Roso, “Emang jalur batang sampun full n macet nopo Njih…. Perasaan jalur full n agak macet itu kalo da acara di alun 2 saja… Selain itu ya aman lancar semua…. Jl gajah mada cenderung lengang,”

Sementara Susan Law menyayangkan ruas jalur ke RSUD Kalisari yang jika diterapkan satu arah akan merepotkan pasien rumah sakit, apalagi dalam kondisi gawat darurat, “sy fokus ke jl dr Sutomo, jalur RSUD harusnya bisa diakses dari semua arah mengingat fungsional IGD,” tulis Susan.

Ramainya perbincangan warganet menolak penerapan jalur satu arah tersebut ditanggapi oleh Humas setempat.

Tanggapan Humas Batang terkait pemberlakuan jalur satu arah di beberapa ruas.

Di jalan Ahmad Dahlan sendiri, nanti malam, Jum’at (09/08) mulai diluncurkan Pandawa Street Food (PSF). Pusat kuliner yang ditata menyerupai Jalan Malioboro Jogjakarta tersebut disulap menjadi panggonan pangananan lan wedangan dengan konsep street food atau berbagai kuliner pinggir jalan dari makanan ringan hingga makanan berat. Tutur Bupati Batang, Wihaji.

Wihaji menambahkan,  Pandawa Street Food akan menjadi pusat kuliner serta pemecah keramaian di Alun-alun Batang. “Kita akan sulap sebagus mungkin, dengan lampu-lampu hias dan ornamen lainnya, beragam sajian kuliner yang menggugah selera dari makanan ringan sampai makanan berat, juga ada permainan anak-anak,” jelas wihaji .

Grand launching akan berlangsung malam nanti mulai pukul 19.30 WIB yang akan dibuka oleh Bupati Batang Wihaji dan akan dimeriahkan dengan tarian tradisional asli Batang, Tari Kalibeluk, serta Pandawa Akustik, dan band lokal lainnya. (Eva Abdullah)

selengkapnya
BencanaLayanan PublikLingkunganSeni BudayaSosial Budaya

Sinden asal Hongaria meriahkan peringatan HUT RI ditengah banjir rob

sinden

Tirto, Wartadesa. – Sinden Agnes Serfozo asal Hongaria bersama Ki Dalang Wiwit Sri Kuncoro memeriahkan HUT RI Ke-74 di Desa Jeruksari, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan dalam pagelaran wayang santri bertajuk Semar Tambak, Sabtu (17/08) malam di balai desa setempat.

Gelaran acara yang dimulai sehabis sholat Isya tersebut merupakan kerjasama Pemerintah Desa Jeruksari bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pekalongan dalam sosialisasi sadar bencana melalui budaya.

Agnes Serfozo menjadi daya tarik tersendiri bagi warga sekitar. Ribuan warga berduyun-duyun mendatangi lokasi wayang santri. Termasuk bagi Sastro (65), warga Jeruksari, ia mengungkapkan bahwa selama ini ia hanya menonton sinden Agnes Serfoyo melalui keping DVD. “Ya … selama ini saya hanya menonton lewat video, sekarang bisa langsung melihat dengan mata secara langsung,” tuturnya, Ahad (18/08).

Menurut Sastro, sosialisasi yang dilakukan dengan cara gelar budaya, menarik bagi warga. “Hampir semua warga keluar mas … untuk menonton, bahkan warga desa disekitar juga ikut berbondong-bondong menonton acara,” lanjutnya.

Ki Dalang Wiwit Sri Kuncoro menyentil kondisi rob di Pekalongan yang berlangsung lebih dari lima tahun, dalam pementasannya. Ia mengungkapkan bahwa kondisi rob di wilayah Jeruksari dan sekitarnya merupakan bencana yang merenggut nilai-nilai sosial, ekonomi warga. Banyak kehidupan sosial dan ekonomi warga yang tercerabut ketika rob semakin lama menggenangi warga Jeruksari.

Dengan pagelaran wayang santri bertajuk Semar Tambak, Ki Wiwit berharap warga tanggap akan bencana alam disekelilingnya, diharapkan warga bersama pemerintah bahu-membahu mengatasi rob yang makin ‘menggila’ di wilayah tersebut.

Lakon pewayangan Semar Tambak, menceritakan kisah Semar yang berada di Dukuh Klampisireng, pada suatu hari sedang duduk di pendapa dihadap Gareng, Petruk dan Bagong. Dalam pertemuan itu dibicarakan mengenai kesejahteraan rakyat Klampisireng, yang akhir-akhir ini terus merosot. Maka Semar mempunyai ide untuk membangun dam atau bendungan untuk mengairi sawah dan lahan pertanian penduduk. Untuk itu Semar mengutus Petruk pergi ke Amarta guna meminta dukungan moral maupun pembiayaan.

Setelah tiba di Amarta, Petruk melaporkan apa yang direncanakan Kyai Semar dan para Pandawa mendukung rencana itu serta memberikan dukungan dana. Sementara Prabu Suyudana yang dihadap Patih Sengkuni, Karna, Drona dan Kartamarma, mendengar rencana Semar akan membangun bendungan di Klampisireng merasa khawatir, sebab bilamana rakyat Klampisireng makmur berarti akan menambah kekuatan Pandawa dan kelak dalam perang Baratayuda akan menambah barisan perang pihak Pandawa.

Untuk itu ia memerintahkan Karna dan Kurawa agar mengacau serta menggagalkan rencana Semar itu. Niat Kurawa itu mendapat perlawanan rakyat Klampisireng yang dipimpin Petruk serta dibantu Pandawa. Walaupun mendapat gangguan dan rintangan dari pihak Kurawa akhirnya bendungan terwujud dan akan meningkatkan kesejahteraan penduduk Klampisireng. (Eva Abdullah)

selengkapnya
Layanan PublikSosial Budaya

Pemkab Pemalang siap-siap ungsikan warga lereng Gunung Slamet

gunung slamet

Pemalang, Wartadesa. – Meningkatnya status Gunung Slamet membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pemalang bersiap mengungsikan warga di radius berbahaya di wilayah lereng Gunung Slamet.

“Kalau status dinaikkan jadi siaga tentu jarak radius (bahaya) bertambah. Kalau memenuhi jarak radius nanti kita ungsikan. Jadi tidak terjadi hal-hal yang bahaya‎,” ujar Junaedi, Bupati Pemalang saat berada di Pos Pengamanan Gunung Api Slamet di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Pemalang, Ahad (11/08).

Junaedi menambahkan, pihaknya sudah menyiapkan jalur evakuasi di desa-desa yang berada di wilayah terdampak Gunung Slamet. Jalur tersebut difungsikan untuk memudahkan warga mengungsi ke tempat lebih aman jika sewaktu-waktu terjadi erupsi.

“Pelatihan evakuasi juga sudah dilakukan sehingga masyarakat tidak kagetan dan gumunan kalau ada bencana. Mereka siap antisipasinya bagaimana. Kalau logistik sifatnya darurat, jadi sudah stand by untuk antisipasi kedaruratan‎,” lanjut Junaedi.

Menurut Junaedi, desa di wilayah Kabupaten Pemalang yang terdekat dengan puncak Gunung Slamet berjarak 3,9 kilometer. Sehingga warga di desa setempat masih berada di luar radius bahaya yang ditetapkan. “Desa terdekat 3,9 kilometer. Jadi masih aman. Warganya sudah biasa karena peningkatan aktivitas Gunung Slamet ini siklus. Kesiapsiagaannya sudah bagus,” lanjutnya.

Junaedi menghimbau warga tetap waspada saat beraktivitas sehari-hari. Sebab aktivitas vulkanik Gunung Slamet bisa sewaktu-waktu mengalami peningkatan dan statusnya dinaikkan menjadi siaga (level III). “Saat ini status masih waspada. Masyarakat tetap beraktivitas tapi waspada. Tidak boleh mendekati radius dua kilometer dari puncak,” ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan pengamatan di Pos Pengamatan Gunung Api Slamet Desa Gambuhan Minggu 11 Agustus 2019 dari pukul 12.00-18.00, Gunung Slamet terekam mengalami gempa tremor terus menerus dengan amplitudo 0,5-3 milimeter dan 42 kali gempa hembusan dengan amplitudo 2-13 milimeter.

Sedangkan pengamatan secara visual pada kurun waktu yang sama, ‎puncak gunung terpantau mengeluarkan asap berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi 25-50 m di atas puncak kawah.

‎Petugas pengamat di pos pengamatan, Rusdi mengatakan, berdasarkan hasil pengamatan, aktivitas vulkanik Gunung Slamet terpantau mengalami peningkatan dibandingkan pada Sabtu 10 Agustus 2019. “Amplitudo gempa tremornya membesar. Dari yang dominan satu milimeter sekarang menjadi dua milimeter. Untuk status, masih waspada atau level II,” ujarnya. (Eva Abdullah)

selengkapnya
Layanan PublikSosial Budaya

Ujicoba jalur satu arah di Batang jadi polemik warga

pandawa

Batang, Wartadesa. – Rencana Pemkab Batang untuk menerapkan ruas satu arah bagi pengguna jalan di Jalan Diponegoro,   Ahmad Yani, Ahmad Dahlan, Brigjend Katamso, Dr. Soetomo menuai polemik dikalangan warganet Batang. Menurut warga, kebijakan (penerapan satu arah) tersebut belum perlu diterapkan di Kota Berkembang saat ini.

Diketahui, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Batang Murdiono, Kamis (08/08) mengumumkan uji coba jalur satu arah pada ruas tersebut diatas. Menurutnya, dengan sistem satu arah, pengguna jalan akan melewati ruas jalan yang ditata pemerintah secara khusus sebagai pengenalan kepada pengguna jalan seperti pusat wisata perkotaan, kuliner dan aktivitas khusus lainnya.

Penerapan jalur satu arah dilakukan pada  jalan Diponegoro, jalan A. Yani, Jalan Ahmad Dahlan, jalan Brigjend Katamso, Jalan Dr. Soetomo. Khusus di Jalan Ahmad Dahlan mulai pukul 16.00-24.00 ada pandawa street food. Sehingga lalu lintas dari ruas jalan Gajahmada dilarang masuk ke Jalan Ahmad Dahlan.

“Uji coba penerapan sistem dimulai hari Jumat tanggal 9 Agustus 2019 Pukul 06.00 WIB,” tutur Murdiono.

Kontan saja, pengumuman tersebut menuai banyak kecaman dikalangan warga Batang. Mereka meluapkan ketidak setujuannya pada grup media sosial maupun pada postingan pribadi mereka.

Seperti diungkapkan oleh Sri Marti Ny, pada laman grup media sosial Pigura Warga Batang. Menurutnya kebijakan tersebut membuat warga tidak nyaman, lantaran rute yang ditempuh warga ‘mbulet’ (berputar-putar).

“Kebijakan itu dibuat agar kita nyaman pak,,,, ini kita dah nyaman kok mau di buat gak nyaman,,,, rutene mbulet, sebagai gojek dan mungkin pengguna jalan lainnya,,saran saya mending jl yos ke selatan setelah rel kereta satu ke arah kiri/timur,,karena pas di lampu merah toko yok selalu bentur yg dari barat,,mohon di loloskan min,” tulis Sri Marti Ny, 7 Agustus pukul 11.42 WIB.

Warganet lainnya, Ellena Sahara, mengungkapkan bahwa seharusnya kebijakan tersebut melibatkan warga dan tidak tepat diterapkan di Batang yang notabene merupakan kota kecil yang tidak mengalami kemacetan.

“Nk sdo didemo ae..moso gwe aturan ora di pikir ndisek..mentingke awak.e dwe tok..ora mikirke rakyate nk koyo kui..sg di tiru kota sg gedi….sisan ae kae jl pemuda di gwe 1 arah ngidul kabeh…mgko nk yen wong sg wisata ng pagilaran men raiso bali….,” tulis Ellena Sahara.

Menurut Ellena, kebijakan Pemkab Batang tersebut merupakan ‘test case‘ untuk melihat respon warga Batang. “Mungkin itu hanya semacam test public aja. Disebarkan informasi utk melihat respon dan reaksi publik.. nanti kl pd nolak kan jawabe dr dinas terkait enak… (Ahh itu kan hanya wacana saja), lanjut Ellena.

Ungkapan senada disampaikan Hardian Hdpi dan Nglaras Roso, menurut mereka kondisi di Batang belum macet dan rute yang diujicobakan membingungkan. “Makane kui malah dadi bingungi dan juga masih kondusif jalannya gk macet kyk pekalongan😂😂😂😂,” tulis Hardian.

Pun halnya yang diungkapkan oleh Nglaras Roso, “Emang jalur batang sampun full n macet nopo Njih…. Perasaan jalur full n agak macet itu kalo da acara di alun 2 saja… Selain itu ya aman lancar semua…. Jl gajah mada cenderung lengang,”

Sementara Susan Law menyayangkan ruas jalur ke RSUD Kalisari yang jika diterapkan satu arah akan merepotkan pasien rumah sakit, apalagi dalam kondisi gawat darurat, “sy fokus ke jl dr Sutomo, jalur RSUD harusnya bisa diakses dari semua arah mengingat fungsional IGD,” tulis Susan.

Ramainya perbincangan warganet menolak penerapan jalur satu arah tersebut ditanggapi oleh Humas setempat.

Tanggapan Humas Batang terkait pemberlakuan jalur satu arah di beberapa ruas.

Di jalan Ahmad Dahlan sendiri, nanti malam, Jum’at (09/08) mulai diluncurkan Pandawa Street Food (PSF). Pusat kuliner yang ditata menyerupai Jalan Malioboro Jogjakarta tersebut disulap menjadi panggonan pangananan lan wedangan dengan konsep street food atau berbagai kuliner pinggir jalan dari makanan ringan hingga makanan berat. Tutur Bupati Batang, Wihaji.

Wihaji menambahkan,  Pandawa Street Food akan menjadi pusat kuliner serta pemecah keramaian di Alun-alun Batang. “Kita akan sulap sebagus mungkin, dengan lampu-lampu hias dan ornamen lainnya, beragam sajian kuliner yang menggugah selera dari makanan ringan sampai makanan berat, juga ada permainan anak-anak,” jelas wihaji .

Grand launching akan berlangsung malam nanti mulai pukul 19.30 WIB yang akan dibuka oleh Bupati Batang Wihaji dan akan dimeriahkan dengan tarian tradisional asli Batang, Tari Kalibeluk, serta Pandawa Akustik, dan band lokal lainnya. (Eva Abdullah)

selengkapnya
Layanan PublikLingkunganSosial Budaya

Kelola air bersih, warga Pekiringan Ageng mampu sisihkan saldo puluhan juta

air bersih

Kajen, Wartadesa. – Potensi desa jika dikelola dengan baik dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi warganya. Seperti yang dilakukan oleh pemuda Desa Pekiringan Ageng, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan. Potensi desa berupa sumber air bersih di tengah hutan warga, saat ini mampu menghasilkan saldo sebesar Rp. 27 juta.

Muhammad Markus, salah seorang pemuda penggerak desa, sekaligus perangkat desa setempat mengungkapkan bahwa Desa Pekiringan Ageng mempunyai tipologi (teritorial desa) di daerah pegunungan dengan sumber daya alam yang beragam, seperti hutan lindung, hutan karet, tanaman musiman dan lain sebagainya.

Beragam dan melimpahnya sumber daya alam di Pekiringan Ageng, tersebut, terkendala dengan permasalahan kebutuhan dasar air bersih. Lanjut Markus saat wawancara, Kamis (01/08).

“Saat itu, sebelum tahun 2015, permasalahan pemenuhan air bersih bagi warga terkendala. Warga masih menggunakan sumber air bersih dengan mata air yang debitnya belum bisa dinikmati oleh seluruh warga,” ujar Markus.

Selain debit air pada mata air yang berada di hutan masyarakat yang naik turun, sesuai kondisi musim. Kendala lainnya adalah keterbatasan anggaran untuk membuat bak penampung air untuk kemudian disalurkan dengan pipa ke rumah warga.

“Ketika musim penghujan, debit air naik, sebaliknya saat musim kemarau debit air menyusut. Tentu hal ini menjadi permasalahan warga, mereka harus berebut air bersih untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Dan saat itu kita terkendala dengan anggaran untuk membuat bak penampung air dan sambungan saluran ke rumah warga,” lanjut Markus.

Pada tahun 2015, warga melakukan pemetaan swadaya, mereka menyusun potensi dan masalah yang ada di Desa Pekiringan Ageng. Warga menyimpulkan perlunya pembangunan sarana air bersih, yang kemudian dituangkan dalam RPJMDes (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa). Tutur pemuda jebolan STAIKAP Pekalongan ini.

“Pembangunan sarana air bersih dimulai sejak tahun 2015 hingga tahun 2017. Alhamdulillah setelah pembangunan selesai, pengelolaan air bersih kemudian dikelola oleh warga. Dan saat ini hasil dari pengelolaan air bersih sudah terkumpul saldo Rp. 27 juta,” tutur Markus.

Kini mata air tersebut sudah memiliki 135 sambungan rumah tangga dan fasilitas umum.

Keberhasilan tata kelola air bersih dari warga, untuk warga dan oleh warga ini menjadi kebanggaan bagi seluruh warga desa Pekiringan Ageng. Meski hingga saat ini lembaga pengelola yang bernama Prasarana Air Bersih belum dilembagakan berupa BumDes (Badan Usaha Milik Desa), para pemuda yang tergabung dalam pengelola Prasarana Air Bersih berharap pembentukan BumDes dapat dilakukan segera.  (Bono)

selengkapnya
Hukum & KriminalLayanan PublikSosial Budaya

Pembangunan Masjid LDII ditolak warga

tolak masjid

Pemalang, Wartadesa. – Warga Dusun Karangasem, Desa Bantarbolang, Kecamatan Bantarbolang, Kabupaten Pemalang menolak pembangunan Masjid LDII lantaran belum memiliki surat ijin mendirikan bangunan (IMB) tempat ibadah.

Penolakan warga setempat tersebut membuat Muspika setempat menggelar mediasi di Aula Mapolsek Bantarbolang, Rabu (31/07).

Iptu Heru Irawan, Kapolsek Bantarbolang mengungkapkan bahwa permasalahan muncul akibat penolakan warga pada pembangunan masjid oleh LDII di Dusun Karangasem Desa Bantarbolang yang belum memiliki surat Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) tempat ibadah.

“Masjid dibangun di atas tanah milik ketua PC LDII Bantarbolang H.Taufik Harba, saat ini beliau belum memegang IMB tempat ibadah,” kata Kapolsek.

Sudono, warga setempat mengungkapkan bahwa pada dasarnya, warga tidak melarang pembangunan tempat ibadah. Namun warga meminta agar pihak LDII melengkapi persyaratan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

“Pada prinsipnya kami tidak melarang, karena bila persyaratan belum lengkap, kami khawatir akan terjadi permasalahan di kemudian hari,” tutur Sudono.

Taufiq Harba, pengurus LDII setempat menyanggupi permintaan warga. Ia menyatakan tidak akan meneruskan pembangunan masjid, namun akan dimanfaatkan sebagai gedung pertemuan jamaah. “Bangunan yang sudah ada akan kami alihkan untuk pertemuan jemaah, bukan sebagai Masjid,” terangnya.

Taufiq menambahkan, ia akan melengkapi persyaratan (IMB tempat ibadah) bila dikemudian hari akan melanjutkan pembangunan masjid tersebut.  “Bila kemudian hari akan melanjutkan pembangunan Masjid, kami akan melengkapi persyaratan sesuai peraturan yang berlaku,” imbuhnya. (Eva Abdullah)

selengkapnya
EkonomiHukum & KriminalLayanan PublikSosial Budaya

Ribuan buruh hari ini geruduk Istana Negara, tolak penghapusan pesangon

demo spn

Jakarta, Wartadesa. – Ribuan buruh yang tergabung dalam Serikat Pekerja Nasional (SPN) menggelar aksi demontrasi, menolak penghapusan pesangon yang tertuang dalam Revisi UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Demikian disampaikan oleh Koordinator SPN PT Panamtex Kabupaten Pekalongan, Muhammad Zaenal. Rabu (31/07).

Ribuan buruh mulai berdatangan ke Jakarta sejak Selasa malam dan dilanjutkan dengan aksi hari ini. “Agenda kita hari ini adalah menyampaikan aspirasi kepada Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo di depan Istana Negara.  Kami bersama-sama seluruh anggota SPN seluruh Indonesia bertekat untuk satukan  tekad, Ssatu tujuan menuju Istana Presiden RI,”  ujar Zaenal.

Zaenal menambahkan, anggota SPN Kabupaten Pekalongan yang berkontribusi dalam aksi ini ada 60 peserta. “Saat ini kami sudah bersiap-siap untuk aksi. Dari anggota SPN Kabupaten Pekalongan yang turut serta aksi sebanyak 60 peserta,” lanjutnya.

Tuntutan aksi kali ini, lanjut Zaenal, adalah menolah revisi UU nomor 13 Tahun 2003 yang menghapuskan pesangon bagi buruh. “Kami menuntut agar Presiden Joko Widodo menghapuskan pasal penghapusan pesangon bagi buruh. Bahkan karyawan tetap pun tidak memperoleh pesangon, ini tentu menjadi kemunduran bagi kesejahteraan buruh di Indonesia,” paparnya.

Revisi UU Ketenagakerjaan ditolak kaum buruh lantaran dari hampir 37 pasal yang beredar dianggap merugikan, sehingga buruh menolak. Di antaranya, usulan item pesangon dikurangi dari sembilan menjadi lima, sementara pemerintah mengusulkan tujuh item. Lainnya soal PKWT (perjanjian kerja waktu tertentu) menjadi lima tahun, upah akan ada upah per jam dan upah padat karya yang akan menimbulkan diskriminasi soal perburuhan di Indonesia.

Sementara itu, dilansir dari CNN Indonesia Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani mengatakan aturan ketenagakerjaan di Indonesia masih terlalu kaku atau kurang fleksibel. Oleh karena itu, biaya operasional yang harus dikeluarkan oleh setiap pelaku usaha pun besar.

“Kalau aturan terlalu rigid, biaya perusahaan jadi tinggi. Kalau biaya tinggi biasanya penyerapan tenaga kerja (di sektor formal) menjadi rendah. Harapan kami dibuat lebih netral agar penyerapan lebih besar,” ucap Hariyadi, Selasa (23/7). (Eva Abdullah)

 

selengkapnya